Sudah Benarkah Cara Kita Mengatur Keuangan?

Banyak sekali kejadian besar dalam hidup kita yang bisa mempengaruhi cara kita mengatur keuangan pribadi kita. Kematian keluarga, kelahiran anak, mendapatkan pekerjaan, kehilangan pekerjaan adalah kejadian-kejadian yang bisa mempengaruhi kondisi finansial kita.

Karena kejadian-kejadian ini bisa mempengaruhi keuangan kita, kita perlu mengintrospeksi keuangan kita ini secara teratur. Ada banyak manfaat untuk introspeksi kondisi masa depan kita dengan mengevaluasi cara mengatur keuangan kita. Kali ini saya akan menjelaskan beberapa manfaat mengevaluasi melalui financial check up ini.

Mengevaluasi Ulang Penghasilan

Fakta: Kita sering merasa penghasilan kita masih mepet. Karena kita merasa sudah bekerja terlalu keras, iya kan? Lalu kita membandingkan dengan tetangga sebelah, dan mungkin kita akan menemukan bahwa rumput tetangga sebelah lebih hijau.

Tetapi kalau kita mengamati tetangga kita itu lebih cermat, kita akan menemukan bahwa meskipun rumputnya lebih hijau daripada rumput kita, ternyata rumah tetangga kita itu lebih sepi. Sebab, tetangga kita tidak punya “rejeki” alias anak untuk mencabuti rerumputannya.

Jadi biarpun penghasilan kita lebih sedikit daripada orang lain, belum tentu rejeki kita juga lebih sedikit daripada rejeki mereka. (Meskipun faktanya banyak juga tetangga kita yang sudah penghasilannya lebih banyak, rejekinya juga lebih banyak, plus rumahnya lebih banyak rumputnya dan ada kebun bunganya segala.. hahahaha..)

Atau mungkin, memang betul penghasilan kita mepet dan boss kita masih medit dalam menghargai gaji kita. Barangkali ini saatnya kita minta naik gaji atau pindah ke kompetitor. Atau lebih parah lagi, bikin perusahaan sendiri. Berani?

Ini mau mengevaluasi ulang penghasilan atau mau uji nyali?

Mengevaluasi cara mengatur gaji untuk efektivitas pengeluaran

Fakta: Kita sering merasa harus keluar uang banyak untuk ini-itu

Padahal kita mungkin lupa bahwa kita belanja terlalu banyak untuk hal-hal tidak penting, tetapi kita malah medit untuk belanja hal penting.

Misalnya, saya royal kalau belikan Fidel cemilan. Tetapi mau beli salmon untuk Fidel saja saya masih merenung-renung 3-4 kali. Memang repot kalau harga salmon per ons saja masih tiga kali lipatnya harga daging sapi.

Atau, saya masih royal kalau belanja kuota paket data untuk download video anak. Tapi kalau mau streaming video untuk webinar, saya masih lebih rela menunggu wi-fi gratisan dengan ngopi di kafe. Padahal nggak baik juga kalau balita terlalu sering nonton video, kan?

Mengevaluasi apakah belanja kita memang memberi manfaat untuk kita

Fakta: Kita sering tergoda untuk beli smartphone baru, apalagi kalau lihat iklan kecenya nongol tanpa diundang di YouTube.

Padahal mungkin kalau kita mengoptimasi smartphone di tangan kita ini sekarang, barangkali smartphone kita masih bisa bekerja sebagus handphone baru. Misalnya, dengan berinvestasi pada SD card tambahan, membeli layanan cloud, membuang aplikasi yang jelas tidak terpakai, nonton tutorial tentang aplikasi terbaru, tentu lebih efisien daripada beli smartphone baru yang kita sangka mungkin feature-nya lebih canggih.

Mengevaluasi apakah investasi yang kita lakukan masih moncer atau perlu dipindahkan

Fakta: Kita merasa sudah simpan emas bertahun-tahun, tetapi harganya masih segitu-segitu saja. Atau sudah punya saham di perusahaan nikel, tetapi sekarang harganya jeblok.

Barangkali lebih baik emasnya dijual, lalu uangnya dibelikan untuk reksadana yang jelas-jelas nilainya lari pesat meningkat. Barangkali masih lama menunggu harga nikel naik, jadi lebih baik sahamnya dijual dan dibelikan saham perusahaan infrastruktur yang jelas-jelas sekarang sedang diprioritaskan oleh Jokowi.

Mengevaluasi apakah hidup kita tetap tenang biarpun tertimpa musibah

Fakta: Kita sudah sering dengar manfaat asuransi, dan ada sekitar 5% penduduk negeri kita yang sudah terlindungi asuransi. Tetapi belum tentu ikut asuransi jelas membuat kita selalu terlindungi.

Saya ambil contoh saja jenis asuransi yang paling dekat dengan profesi saya, yaitu asuransi kesehatan. Saya pernah dimintai saran oleh pasien saya, apakah dia sebaiknya ambil rider asuransi untuk perawatan penyakit kritis, atau cukup ambil asuransi low cost. Pilihan pertama bermanfaat secara all-in, tetapi preminya mahal. Pilihan kedua itu bermanfaat kalau nasabahnya diopname, tapi hanya sampai limit tertentu, namun preminya murah-meriah. Pasien saya itu baru berumur 26 tahun, coba tebak saya jawab yang mana.

Dan belum tentu juga tidak ikut asuransi lantas tidak membuat kita terlindungi. Saya ambil contoh tetangga saya, janda yang bercucu 10, hidup tenang menumpang rumah anaknya. Kadang-kadang sesekali keluar main mini golf bareng klub lansianya. Dan hidup a la orang Jepang karena cuma makan dengan nasi, lalaban, dan tahu tempe. Andaikan tetangga saya ini ikut BPJS Kesehatan, kira-kira apakah justru akan lebih banyak beban pengeluarannya daripada manfaatnya?

Mengevaluasi adanya penolong jika terjadi bencana ekonomi

Fakta: Sekitar 30% orang Indonesia tidak punya uang simpanan.

Bencana ekonomi adalah musibah ketika sumber penghasilan atau penyangga hidup itu hilang secara mendadak. Misalnya, suami/ayah yang mencari nafkah itu meninggal. Atau dipecat. Atau rumah tempat tinggalnya kebakaran. Atau sakit karena kecelakaan yang intinya menyedot biaya pengobatan yang besar.

Penolong untuk bencana ekonomi ialah dana darurat yang umumnya berjumlah 12 kali lipat jumlah pengeluaran bulanan kita. Kenapa 12 kali? Karena diperkirakan butuh paling lama setahun untuk orang yang semula kena bencana ekonomi sampai bisa beradaptasi dengan keadaan yang baru.

Dana darurat bisa berupa tabungan, deposito, atau reksadana pasar uang, yang bisa dicairkan cepat, dan nilainya tidak jauh menyusut daripada nilai awalnya semula. Maksud dari dana darurat ini ialah supaya kita nggak sampai harus berutang, karena utang malah menambah beban baru untuk keuangan kita.

Ke Mana Mengevaluasi Cara Mengatur Keuangan Kita?

Salah satu website yang bisa membantu kita mengevaluasi cara mengatur keuangan kita adalah website keuangan ini. Website bikinan investor ini bisa membantu kita melakukan perencanaan keuangan melalui langkah-langkah financial check up dalam waktu kurang dari semenit saja.

Saya memeriksakan cara mengelola keuangan saya di sini dengan sederhana. Cukup memasukkan jumlah tabungan, penghasilan bulanan, jumlah investasi, dan jumlah pengeluaran. Sebetulnya mesti memasukkan jumlah utang juga, tetapi saya tidak memasukkannya, karena saya memang tidak punya utang. Website ini akan menganalisa, lalu keluar rasio-rasio yang menunjukkan keadaan keuangan kita dan bagaimana rasio yang seharusnya normal.

Sebagai contoh, Rasio Aset Likuid terhadap Nilai Bersih Kekayaan orang normalnya minimal 15%. Alhamdulillah, rasio aset likuid saya melebihi itu. Artinya, kalau mendadak saya meninggal, tabungan saya cukup untuk menghidupi Fidel.

Atau Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang orang normalnya maksimal 35%. Rasio saya sendiri nol, karena saya memang tidak punya utang.

Tetapi Rasio Perbandingan Nilai Bersih Aset Investasi terhadap Nilai Bersih Kekayaan saya masih 10%, padahal seharusnya minimal 50%. Artinya, meskipun saya sudah berinvestasi di pasar modal tiap bulannya, saya belum bisa disebut merdeka dalam urusan finansial.

Atas dasar ini, website ini memberi saya saran untuk lebih banyak menyisihkan dana untuk investasi.

Ada bagian yang cukup menarik ketika saya mencoba feature financial check up ini. Saya mengisi kuisnya dua kali lho. Kali pertama, seperti yang saya bilang tadi, saya tidak mengisi kolom utang karena saya memang nggak punya utang.

Tetapi kali kedua, saya berpura-pura mengisi kolom utang dengan jumlah yang saya perkirakan untuk mencicil biaya masuk TK-nya Fidel beberapa tahun lagi. Hasilnya, website ini memberi saya nilai bahwa rasio kemampuan pelunasan utang saya tidak normal. Rekomendasinya adalah saya harus melunasi “utang biaya sekolah” ini lebih cepat, andaikan penghasilan saya masih segitu-segitu saja.

Kelihatan kalau anak masuk sekolah itu cukup untuk memaksa kita menata ulang cara pengelolaan keuangan kita.

Website Keuangan yang Bermanfaat

Website ini nggak cuma membantu saya mengevaluasi cara mengatur keuangan keluarga saya. Tetapi banyak juga memuat artikel-artikel tematik perencanaan keuangan yang cukup bermanfaat untuk saya. Contohnya nih, ada artikel tentang “Perlukah Membeli Asuransi” untuk kita yang masih gamang untuk tidak bayar premi mahal.

Untuk Anda yang sudah tahu manfaat investasi, tetapi masih bingung bagaimana memilih reksadana atau saham, bisa scroll menu Artikel Terpopuler. Di sana, kita bisa menemukan artikel “Panduan Investasi Reksadana” dan “Trader atau Long Term Investor”.

Anda yang bahkan masih menjadi mahasiswa pun bisa mulai belajar memanfaatkan dan mengembangkan tabungan Anda lho dengan membaca website ini. Motivasi Anda akan terbangun setelah membaca artikel pendek tentang “10 Cara Menjadi Kaya”. Sebelum orang tua Anda menyaksikan Anda wisuda dan mengharap Anda segera diterima bekerja di perusahaan besar, Anda sudah bisa curi start dengan menambah uang saku Anda, dengan mempelajari artikel “Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan”.

Saya sendiri menyarankan Anda membaca “Cara Membangun Networking dalam Bisnis”. Baik kita adalah pengusaha, atau sekedar karyawan kecil, atau masih mahasiswa magang, saya rasa networking adalah kemampuan yang value-nya masih lebih besar ketimbang cek gaji. Dan networking merupakan kemampuan yang mesti dilatih sedini mungkin, tidak bisa diperoleh instan.

Klien saya yang membayar saya paling besar, justru berasal dari networking saya dengan teman SMP.. hahahaha..

Bagaimana kondisi keuangan Anda sekarang? Coba cek di halaman financial check up yang gampang ini ya. Dan ayo sebarkan ke kawan Anda kalau bermanfaat 🙂

Keterangan gambar teratas: Foto oleh Inayati Nur.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

13 comments

  1. Kartes says:

    Dua kali check up ya.. Yang pertama kesehatan, dan kedua adalah keuangan.

    Paling baik dan sederhana teteppp, pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran dan calon pengeluaran.. Faktanya yang ga keliatan nih bikin repot..

    Makanya bener kata mba, musti punya dana darurat dan berhati hati pilih investasinya.. harus moncer…

  2. karena saya wiraswasta, kondisi keuangan saya sekarang lg pas pasan tante vicky..hehe, tapi alhamdlh cukup klo mau buat sehari-hari yg sederhana..tp pas klo dapat project ya bisa pesta pora hahah..gak ding..

    saya juga selalu mengevaluasi dan berhati-hati, berdoa supaya tidak ada hutang..
    klo investasi kredit cuma satu, yaitu bayar rumah tiap bulan th sekarang gak di tempati..tapi itu kan barang tidak bergerak dan bukan konsumtif..

    terus apa lagi ya..langsung cek tkp finansial cekupppp aja deh..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bagus ya, Mas Dhanang.. nampak kalau mawas diri..
      Semoga rejekinya dimudahkan selalu. Justru kalau wiraswasta itu ulet, malah rejekinya moncer 🙂

  3. Penjaja Kata says:

    Saya masih suka tergoda dengan gadget terbaru, kayaknya memang butuh perencanaan keuangan nih. Makasih infonya ya mbak, saya mau coba buka website nya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *