Tantangan Mengajak Anak Piknik

Sebagai pecandu piknik, sudah pasti saya senang banget jalan-jalan. Saya suka banget ke mana aja, terutama tempat-tempat yang bisa bikin saya belajar hal-hal baru.

Dan saya nggak pernah jalan-jalan sendirian. Sedapat mungkin, saya selalu berusaha keras jalan-jalan dengan ngajak si Kecil. Ya iyalah, namanya juga bunda-bunda ya, yang tiap detik pasti mikirin si Kecil, pasti hatinya lebih tenteram kalau si Kecil ikutan dibawa ke mana-mana.

Selalu Lebih Fresh Kalau Jalan-jalan

Nggak peduli tujuan pikniknya, mau keluar kota atau di dalam kota sekalipun, saya selalu merasa indeks happy-meter keluarga lamgsung naik saban kali habis piknik. Terutama kalau pikniknya ke lingkungan outdoor gitu, entah itu ke gunung, ke pantai, atau ke taman kota.

Mungkin lantaran kebiasaan saya adalah selalu melepas si Kecil jalan sendiri semenjak dia lepas dititah. Dia selalu milih jalan di setapak, dengan sepatunya yang berbunyi cuit-cuit saban kali melangkah.

Dia semangat banget kalau jalan sendiri tuh, sambil noleh-noleh kiri-kanan. Lihat orang. Lihat anak-anak. Lihat kucing dan kupu-kupu. Lihat danau, sambil sesekali nunjuk-nunjuk. Dan dia nggak mau berhenti nunjuk-nunjuk, kecuali saya sudah beri tahu apa nama objek yang dia tunjuk. “Nak, itu bebek. Itu ikan. Itu sepeda motor. Itu tukang jualan cireng. Itu tukang jualan siomay yang lapaknya diserobot tukang jualan cireng.”

Tapi memang benar ya kalau playing outside itu adalah proses belajar yang lebih efektif buat si Kecil ketimbang tinggal di rumah. Alam yang luas kan media pembelajaran yang bikin si Kecil jadi terpaksa bergerak lebih bebas. Seluruh badan jadi ikut bekerja, padahal kerja seluruh badan itu diatur oleh otak. Pantas dong kalau playing outside itu merangsang kerja otak banget.

Perkembangan kognitif kemampuan bahasa
Si kecil berjalan-jalan bareng ayah akan memicu kemampuan kognitif dan kemampuan bahasa sekaligus.

Makanya anak-anak yang senang piknik, umumnya memang jadi lebih pintar dan kemampuan kognitif mereka lebih kentara. Kelihatan kalau piknik itu merangsang perkembangan seluruh keterampilan si Kecil. Manuver-manuver yang menimbulkan stimulasi gerak macam jalan, lari, lompat-lompat, pasti merangsang kemampuan psikomotorik. Dalam piknik pasti ada ngomongnya, bukan diam-diam doang, jadi kemampuan bahasa si Kecil pasti ikut naik. Bahkan piknik juga merangsang kemampuan penyelesaian masalah si Kecil; kalau dilarang Bunda lewat jalan setapak karena di situ ada kubangannya, maka nginjak rumput pun jadi!

Tantangan Piknik di Surabaya

Sebagai penghuni kota Surabaya, sebetulnya tinggal di sini itu cukup menyenangkan buat piknik dekat-dekat. Tahu sendiri kalau walikotanya penggemar berat berkebun, jadi praktis bahwa kota ini ditebari taman di segala penjuru.

Makanya kalau saya pingin piknik, preferensi saya nggak jauh-jauh. Tinggal ajak si Kecil aja ke taman kota, dan biarkan dia jalan-jalan di sana sepuasnya. Kebetulan taman kota yang terdekat dengan tempat tinggal saya adalah Danau Kampus Unair dan Kebon Bibit Wonorejo.

Bagian yang terasa pada si Kecil dari sering piknik adalah dia cepat mengasosiasikan objek dengan kenangan yang dia ingat. Saban kali kami pergi ke Danau Kampus Unair, sia selalu berjalan ke tempat yang sama, pinggir danau tempat patung Airlangga besar, di mana anak-anak besar sering pakai tamannya untuk main bola. Kelihatan kalau kemampuan memori si Kecil berkembang pesat, dengan cepat hafal jika sepanjang piknik itu dia diceritakan tentang objek ini-itu.

Yang menarik lagi, juga bagaimana si Kecil bisa nyimak banget kalau lihat anak-anak besar lagi main bola di sana. Kemampuan atensi si Kecil kelihatan sekali di sini, dia ngeliatin bolanya ditendang ke mana-mana. Ikut senang kalau bolanya menggelinding cepat, sehingga gagal dihalau anak besarnya. Dan ikut cemas ketika bola melambung kejauhan, sehingga permainan mesti time out dulu, sampai si anak besar bisa menjemput bolanya kembali.

Keterampilan atensi perkembangan kognitif
Mengajari si kecil untuk mengasah perkembangan kognitif bisa dengan cara memberi makan hewan.
Foto oleh Eddy Fahmi
Panasnya Nggak Ketulungan

Cuman problem klasik piknik di taman kota Surabaya itu nggak sama dengan piknik di kota-kota lain; Surabaya itu panas banget, gilaak. Panasnya itu menyengat dan bisa bikin siapapun nggak waras.

Efeknya cukup nendang buat saya dan si Kecil, apalagi kebetulan si Kecil ini atopi. Kalau sedang kesumukan, praktis si Kecil jadi gatal-gatal lantaran teriritasi keringatnya sendiri. Memang repot kalau si Kecil punya dermatitis atopi begini, alhasil saya jadi mesti siap bawa baju ganti si Kecil ke mana-mana.

Kalau Anda sering lihat saya ke mana-mana pakai tas punggung, itu bukan karena saya nggak feminin. Tapi itu karena di dalam tas saya memanggul baju ganti buat si Kecil kalau dia keringetan. Lha mau saya kan dia aktif ke sana kemari, jadi saya mesti dukung eksplorasinya dong dengan siap sedia payung sebelum hujan, eh..siap sedia baju ganti sebelum keringetan.

Makanya kalau piknik ya saya juga pilih-pilih jam pagi aja gitu, antara jam 6-8. Sebab di Surabaya, setelah jam 8.00, sinar matahari sudah angot.

Eh..lihat video saya lagi piknik bersama si Kecil di sini ya..

 

Dan itu merembet jadi problem kedua, karena..

Jam Pagi Justru Jam Sarapan si Kecil

Kalau mau piknik, yang saya pikirkan pertama ialah gimana sarapan si Kecil? Saya dan Ayah berdua gampang kalau sarapan, tinggal comot nasi bungkus dari penjualnya yang bertebaran di mana-mana. Tapi saya masih seram kalau kasih si Kecil nasi bungkus sembarangan, iya toh? Belum lagi selera si Kecil masih milih-milih, kadang-kadang mood-nya lagi in pada goreng-gorengan, tapi lain waktu dia kepingin makan yang kuah-kuahan.

Makanya kalau saya sedang piknik, saya jadi sibuk lirak-lirik di mana kantin pujasera terdekat. Saya paling senang lihat warung yang pasang spanduk gede-gede bertuliskan Jual Soto Ayam atau Sedia Menu Mie Goreng, karena si Kecil paling demen makan itu. Dan bisa makan sambil duduk di meja makan sembari lihat-lihat pemandangan.

Problem lainnya yang lebih rempong ialah..

Si Kecil Masih Menyusu

Whoaa..pada umur setahun begini, si Kecil masih menyusu dengan kencang. Apalagi kalau habis lari-lari, dia nyedot bisa keras banget.

Makanya, tas punggung saya juga berisi apron. Jadi kalau si Kecil sudah capek begitu, dia memanjat badan saya untuk minta gendong, dan narik-narik kerah baju saya untuk minta minum. Maka saya buru-buru keluarkan apron untuk menutupi badan saya, lalu saya duduk di taman dan si Kecil pun minum dengan lahap. Tahu sendiri kalau ASI ini penuh perlindungan untuk kesehatan tubuh si Kecil.

Sebagian teman saya yang kebetulan sesama bunda tidak seberuntung saya karena ASI-nya jarang dikeluarkan. Makanya mereka bawa bekal susu Dancow dalam tas mereka kalau lagi piknik. Oh ya, sudah tahu kan ya, weekend lalu Nestle merilis satu lagi inovasi baru susu Nestle di Surabaya, yaitu Dancow Advanced Excelnutri+, yang konsentrat probiotiknya lebih banyak daripada varian-varian susu pertumbuhan Dancow sebelumnya. Baca juga daftar harga susu Dancow Advanced Excelnutri+.


Jadi, serempong-rempongnya piknik dengan balita, sebisa mungkin si Kecil itu sering diajak jalan-jalan. Piknik itu mengajari kita banyak hal, terutama mengajari si Kecil dan kita untuk berpikiran terbuka. Efek dari sering piknik itu jelas; bikin pribadi yang bisa menyesuaikan diri di sana-sini, nggak ngeyel untuk jadi perfeksionis.

Lagian kalau terjadi kotor-kotoran akibat si Kecil munyer ke sana kemari sewaktu piknik, saya nggak ngeri si Kecil jadi jatuh sakit. Sebab saya kan sudah kasih imunisasi dan cukup nutrisi untuk lindungi si Petualang Kecil. Makanya besok-besok kalau si Kecil sudah bisa ngomong dan ngajak piknik, saya sih langsung berkata “IYA BOLEH” aja.

“Bunda, kita main ke Danau Angsa yuk?”

“IYA BOLEH!”

“Bunda, hari Minggu nanti kita ke Madakaripura ya?”

“IYA BOLEH!”

“Bunda, nanti liburan kita snorkling di Kenjeran ya?”

“IYA BOL.. hah? Emangnya di Kenjeran bisa snorkling??”

Proses belajar
Proses belajar si Kecil dalam acara Dancow Explore Your World di Surabaya minggu lalu

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. Pokoke, kalo ngajak anak piknik… ekspektasi emaknya kudu disetel di level paling minimum bangeeeett.
    Kalo engga, dijamin, anak dan emak sibuk beradu argumen soal destinasi yg asik dan ga asik. Diiih, Hahahaha #NumpangCurcol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *