Tips Membedakan Model Laptop Asus Seri X, A, B dan N

Kenapa harus dibedakan? Sebab faktanya, biarpun kita setuju bahwa Asus merupakan merk laptop paling laris manis di Indonesia saat ini, tapi belum tentu kita ngeh laptop Asus yang mana ketika kita mau beli di toko komputer.

Tahu sendiri, hal yang paling malu-maluin adalah kalau kita sampai di depan dealer laptop dan bilang kepingin laptop Asus, lalu dealernya balik nanya mau laptop Asus yang (tipe) mana, kita cuman cengok karena nggak tahu mau tipe Asus yang mana.

Ini mah pengalaman keluarga saya, hihihi, sesuatu yang bikin saya kepingin tepok jidat. Jadi salah satu keluarga saya kepingin ganti laptop. Alasannya laptop yang lama sudah lemot. Lalu tanya kepada saya, merk apa yang bagus?

Saya selalu geleng-geleng kalau ditanya merk apa yang bagus. Hari gini beli barang karena reputasi merk? Please deh. Mbok kalau mau beli laptop itu lho mesti tahu mau spesifikasi yang kayak gimana. Supaya kalau mau dipakai presentasi di hadapan klien, lalu kliennya iseng ngomentarin laptop, kita bisa bilang, “Iya kebetulan laptop saya bisa nganu..” bukan bilang, “Iya, ini laptop merk Anu, keluaran negara Anu..”

Anyway, kenapa judul kali ini saya kepingin ngomongin model laptop Asus, adalah tidak lain dan tidak bukan lantaran saat ini Asus adalah merk laptop paling laris di Indonesia. Ini saya kutip dari majalah Selular bulan lalu, “Lembaga riset dunia, IDC telah mengumumkan hasil analisis mereka terhadap pasar perangkat komputasi mobile di Indonesia. Dari laporan per kuartal  berdasarkan data yang berakhir pada bulan Desember 2016 lalu, Asus memperkuat posisi puncak dengan raihan 51,7 persen pasar.” (Kurniawan, 2017).

Artinya kalau seluruh laptop yang terjual sepanjang tahun lalu dijejer, maka bisa dipastikan separuhnya adalah merk bikinan Taiwan ini.

Dilihat dari segi segmen pasar, merk Asus juga terhitung laris di segala segmen, mulai dari segmen biasa-biasa saja (macam mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga), sampai segmen bisnis, bahkan juga segmen gaming yang jelas-jelas butuh power a la kuda. Apakah Anda tahu bahwa sekarang Asus makin gencar merilis model laptop premium? Model laptopnya yang terakhir kali dirilis dua minggu lalu, ROG GX800, hendak dijual di Indonesia dengan harga Rp 95 jutaan. Harga laptop ini sama dengan harga nyicil tahunan apartemen tipe studio.

Kenapa sih orang begitu suka sama Asus sampai-sampai separuh pembeli laptop di Indonesia adalah pembeli Asus? Banyak alasannya, tetapi terutama, untuk orang-orang yang berkantong cekak, laptop Asus yang segmen low-entry terhitung cukup terjangkau dengan spesifikasi yang lumayan bagus. Soal desain laptopnya sih yang kurus langsing itu bisa ditemukan pada merk-merk lain, tetapi melihat kenyataan bahwa semakin banyak orang-orang sekelas CEO saja menggandol Asus premium, pun bikin orang-orang kelas low-entry tetap bangga ikutan membeli Asus biarpun cuman yang seri X saja.

Seri laptop Asus sendiri ada macam-macam, tergantung segmen pasar yang disasar, mulai dari pasar kelas low-entry sampai kelas premium. Kelas ini menentukan bahan yang dipakai (mau yang gampang baret atau yang tetap berkilau biarpun digoresin koin). Juga menentukan processor yang dipakai (mau yang ringan-ringan saja untuk dipakai ngetik dan mendengarkan musik, sampai yang kelas berat untuk dipakai main game). Bahkan kelas laptop juga menentukan ketipisan dimensinya; makin premium pemakainya, pasti makin mobile dirinya, sehingga makin tipis juga laptopnya, supaya gampang dibawa-bawa. Pada akhirnya, semua paramater ini akan menentukan harganya. Hukumnya sih sami mawon, makin mengkilap casingnya, makin canggih processornya, makin tipis harganya, maka harganya pun semakin mahal.

Sekarang ini, kita bisa dengan gampang menemukan ada empat seri laptop Asus yang paling populer dipakai di Indonesia. Dan keempat seri itu akan saya jabarkan perbedaannya berikut ini.

Laptop Asus X Series

Ini kelompok seri paling murah dari seluruh seri laptop Asus. Paling banyak laris, karena sesuai juga dengan demografi pemakai laptop di Indonesia yang rerata masih mahasiswa atau pun pekerja pemula yang dompetnya belum tebal-tebal amat. Processor yang dipakai juga masih cemen-cemen aja, macam processor Bay Trail Dual Core, processor Pentium Quad Core, dan beberapa modelnya sudah mulai memakai processor Core i3.

Sasaran konsumennya juga yang mengerjakan aktivitas cemen-cemen, macam mengetik, internetan, dan kerjaan ringan lainnya. Beberapa model bisa ditambahi feature untuk pasang speaker besar-besar, tetapi hanya untuk konsumsi pribadi, bukan untuk diperdengarkan ke hall besar.

Ukuran layar display-nya macam-macam, bervariasi antara 11 inci sampai 15 inci, untuk menyesuaikan selera pembelinya. Tebalnya minimal 2,5 cm, sementara beratnya rerata 2-2,5 kilogram, meskipun ada juga modelnya yang hanya 1,2 kilogram.

Dan karena konsumennya juga masih low end, maka pilihan warnanya sendiri juga warna-warni, mulai dari biru langit sampai pink gonjreng.

Laptop Asus X550ZE
Laptop Asus X550ZE.
Gambar diambil dari review Asus X550ZE AMD oleh Riko Rahmanto.

Harganya pun murah-meriah, rentang antara Rp 3,2 juta sampai Rp 6,5 juta. Model yang paling sering dicari: Asus X550ZE.

Eh, tapi ada juga lho model X Series yang cukup mahal, yaitu Asus X550JX yang dijual dengan harga sekitar Rp 10,6 juta. Apa pasalnya mahal, sebab model ini memang diciptakan untuk konsumen yang senang main gameGame-nya sih ya masih yang ringan-ringan saja, tetapi dengan harga segitu processor-nya sudah cukup oke, yakni Intel Core i7. Memorinya diberi yang besar, minimal 4 GB, dan bisa di-upgrade sampai 12 GB. Tapi ya masih berat juga membawanya, sekitar 3,2 kilogram. Kenapa saya bilang paling berat, sebab nanti saya kasih tahu laptop gaming Asus yang lebih ringan tapi juga lebih mahal dari ini.

Laptop Asus A Series

A Series ini merupakan seri laptop Asus yang sedikit lebih keren ketimbang X Series. Menyasar segmen konsumen yang sudah sedikit lebih mapan, model-model seri laptop ini mengusung processor yang sudah lebih canggih, yaitu processor Intel Core i3 dan i5. Sepertinya untuk mengakomodasi para konsumennya yang pekerja tukang lembur demi mengejar promosi jabatan.

Ukuran layar display-nya sudah seragam, yakni 15 inci. Mungkin mata konsumennya sudah tidak sanggup lagi berlembur ria kalau ngeyel mau bekerja dengan laptop yang layarnya 11-an inci atau kurang. Tebalnya rerata masih 2,5 cm, namun beratnya sudah maksimal 2,3 kilogram. Meskipun masih ber-casing warna-warni, tapi pilihan warnanya cenderung lebih elegan, cocok dengan karakter orang mapan yang sudah tidak mau lagi kelihatan alay dengan laptop gonjreng.

model laptop Asus A455LB Asus core i5
Laptop Asus A455LB.
Foto diambil dari sebuah blog tekno.

Harganya sudah lebih mahal, yakni antara Rp 5,9 juta sampai Rp 8,2 juta. Model paling sering dicari: Asus A455LB dan Asus A455LF.

Laptop Asus B Series

B Series adalah seri laptop Asus yang sengaja dikhususkan untuk pemirsa korporat yang sering disuruh mobile meeting ke mana-mana. Sering dibeli menggunakan budget kantor, laptop ini digandoli processor canggih-canggih, dengan harga menyesuaikan processor yang diminta. Minimal Intel Core i3 yang dipasang, tetapi ada juga yang model yang dibenamkan processor Intel vPro sekaligus.

Karena diharapkan untuk dibawa-bawa penggunanya ke sana kemari, maka seri ini didesain seringan mungkin. Layar display-nya sengaja dibuat sedikit lebih kecil, yakni 14 inci sampai 12 inci. Tebalnya cuma 2 cm, sedangkan beratnya cuma 1,7 kilogram, bahkan ada model yang hanya tinggal 1,3 kilogram. Warna casing-nya rerata hitam, dan tidak gampang ketumpahan kopi kalau dipakai lembur.

model laptop Asuspro B8430
Asuspro B8430.
Foto diambil dari artikel Nurul Noe tentang review Asuspro B8430.

Perusahaan yang mempekerjakan pengguna laptop ini diharapkan mengeluarkan minimal Rp 10,5 juta untuk laptop ini, atau maksimal Rp 20 jutaan. Model paling sering dicari: Asuspro B8430.

Laptop Asus N Series

Penggemar game maupun kaum desainer pasti suka sekali seri laptop Asus yang terakhir ini. Spesifikasinya memang sangat tinggi, karena memang untuk meladeni kebutuhan konsumen jenis ini yang menghendaki performa laptop yang tidak gampang lemot dengan ukuran file yang jumbo-jumbo. Processor-nya Intel Core i7, dan dipasangi layar 15 inci supaya konsumennya bisa melihat detail yang sedang mereka kerjakan.

Model N Series yang paling murah punya fisik setebal hampir 3 cm, sedangkan yang termahal cukup setebal 2 cm saja. Bobotnya pun cuma 2 kilogram, paling berat ya 2,5 kilogram. Tetapi bahan casing-nya lumayan mewah dari aluminium berwarna keperakan.

model laptop ASUS VivoBook Pro N552VX
Laptop Asus VivoBook Pro N552VX.
Foto diambil dari sebuah blog tekno.

Dengan segala macam performanya yang mirip kuda, harganya jelas dibanderol cukup tinggi: antara Rp 16,3 juta hingga Rp 20 juta. Model paling sering dicari: Asus VivoBook Pro N552VX.


Apakah Anda sedang mencari laptop Asus? Seri mana yang kira-kira Anda sukai?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      *ketawa ngakak*

      Kalau ada laptop kayak gitu sih, saya juga mau :))

      Tapi saya rasa alasan kenapa saya nggak nemu laptop 11″ yang punya spec untuk edit video adalah:
      1) Ukuran layar 11″ itu terlalu kecil untuk manusia yang ngedit video dengan dedikatif. Bisa bikin sakit mata.
      2) Ngedit video kan butuh memori CPU yang tinggi. Memori setinggi ini sulit dibenamkan ke laptop-laptop segmen amatiran, lebih cocok dipasang di laptop segmen profesional. Sedangkan konsumen segmen profesional umumnya lebih suka laptop berukuran 12″ atau lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *