Yang Demen Pakai High Heels Mesti Tahu Ini

Ini bukan so-called-whatever article tentang bahaya pemakaian high heels. Tapi sebagai reminder aja kalau kita masih ngeyel kepingin pakai sepatu seksi itu sampai tua. Siapa sih yang nggak kepingin tetap mondar-mandir pakai Loubotin biarpun uban sudah nongol satu per satu di kepala?
Hantu Bernama Osteoarthritis

Tapi percaya apa enggak, bahkan supermodel pun suatu hari nanti akan berhenti memakai high heels. Apa lagi penyebabnya kalau bukan.. Encok?

(Kami para dokter menyebutnya osteoarthritis. Karena istilah itu belibet di lidah, maka di hadapan orang awam kami menyebutnya penyakit radang sendi. Kalau mereka nggak ngerti juga, kami terjemahkan lagi sebagai “encok”. Kalau sudah disebut begitu, baru mereka bilang, “Ooohh..”)

Encok ini pasti akan datang. Biasanya yang kena ini usia manula. Mau usia 60-an kek, 80-an kek, ujung-ujungnya ya encok jua. Beberapa orang bahkan ketiban encok di umur 50-an. Dan ini memaksa mereka bilang sayonara dengan sepatu high heels mereka, dan menggantinya dengan sendal teplek yang menyedihkan.

Osteoarthritis di Keluarga Saya

Keluarga saya sudah bergiliran kena encok. Sebagian besar yang mengeluh adalah ibu-ibu. Ya ini persis dengan populasi penderita osteoarthritis yang kebanyakan memang perempuan. Meskipun ada juga beberapa dari bapak-bapak yang mulai mengeluh nggak nyaman di tungkainya ketika berjalan.

Ibu saya, contohnya. Sering banget komplain bahwa telapak kakinya sakit kalau berjalan dengan selop tinggi. Rasanya kayak menginjak paku, katanya. Akibatnya, saya sering mergokin ibu saya cari-cari bangku dan diam-diam mencopot selopnya, lalu meremas-remas jari kakinya. Katanya, pegel.

Penyakit radang sendi
Sepatu hak tinggi memaksa kita untuk jinjit.
Pada orang yang kena osteoartritis pada sendi-sendi jari kakinya, jinjit bikin nyeri setengah mati.

Kalau ada saudara ngadain kondangan seharian dan mendaulat ibu saya jadi among tamu, ibu saya puyeng. Lantaran terpaksa pakai selop tinggi dari subuh sampai ashar. Makanya jangan gampang-gampang nodong ibu-ibu jadi pager ayu, karena kalau sudah berdiri kelamaan di pinggir karpet merah, muka mereka berubah menjadi pasukan pager betis.

Waktu itu naluri saya selaku dokter pun bangun. Lalu saya ngajak ibu saya foto gelap-gelapan di laboratorium radiologi dekat rumah. Hasil Rontgen ternyata sesuai kecurigaan saya. Encok yang dikeluhkan ibu saya itu karena osteoarthritis.

Biarkan saya cerita osteoarthritis itu apa, dan bagaimana osteoarthritis bisa menjadi penyebab nyeri sendi.

Kaki kita ini terdiri atas tulang-tulang keras yang bersambungan melalui sendi. Jaringan sendi ini dibangun oleh tulang rawan yang punya fungsi vital: jadi bantalan antara para tulang keras ketika kaki kita bergerak. Mestinya, ketika kita bergerak, sendi kita tidak akan kesakitan.

Tetapi seiring dengan tambah umurnya kita, tulang rawan akan makin menipis, dan nggak ada lagi yang berfungsi jadi bantalan ketika kaki kita bergerak. Akibatnya tulang-tulang keras saling bergesek dan jadilah kesakitan.

Termasuk sakit kaki yang dialami ibu saya ketika pakai high heels. Penyakit sendi yang berupa sendi-sendi mulai aus memaksa tulang kakinya bergesekan tanpa pelumas dan rasanya pun ngilu.

Nggak cuma ibu saya yang nyeri nggak karuan gegara osteoarthritis mulai mengganggu kaki ini ketika berjalan. Almarhum Grandpa saya pun ikutan sengsara gegara penyakit radang sendi ini. Beda dari ibu saya yang kena osteoarthritis di kaki, Grandpa saya kena encok ini di lutut.

Sewaktu di-Rontgen, kelihatan tulang-tulang rawan baru bertumbuhan di sendi lutut, menciptakan sensasi ngilu saban kali Grandpa saya kepingin selonjoran. Sedihnya, Grandpa saya waktu itu hidup tanpa putra-putrinya, sehingga nggak ada yang cukup jeli untuk menyadari bahwa Grandpa cuma bisa tidur dengan lutut ditekuk. Ketika pakde saya datang dan mencoba melarikannya ke dokter, ternyata sudah terlambat. Grandpa saya telah mengalami penyakit radang sendi sampai terjadi pengapuran sendi lutut, akibatnya lutut Grandpa saya tertekuk secara permanen.

Sampai akhir hayatnya (Grandpa saya meninggal karena sakit paru), kami mengafaninya dalam keadaan lutut tidak selonjoran.

Mertua saya sedikit lebih beruntung ketimbang almarhum Grandpa saya. Beliau juga kena pengapuran sendi lutut. Gara-gara itu, dos-q nggak bisa sholat di lantai lantaran nyeri lutut saban kali duduk tahiyat.

Akibatnya mertua saya cuma bisa sholat sambil duduk di kursi. Kalau lagi perjalanan, ke mana-mana mertua saya bawa tongkat. Tongkatnya ada tempat duduknya, jadi bisa dipakai buat sholat kalau mampir mesjid. Kalau sampai itu tongkat ketinggalan, ya wassalam.

Begitulah bagaimana penyakit radang sendi mengganggu kehidupan orang-orang di keluarga saya.

Penyakit sendi
Jika osteoartritis menimpa pergelangan kaki, kadang-kadang pergelangan terpaksa dibebat.
Tertolong Glukosamin dan Kondroitin

Saya pun belajar dari para sesepuh itu. Saya nggak mau hidup saya terusik gegara encok yang menghantui masa tua. Tulang rawan pasti akan menipis pada usia tertentu, dan memang prosesnya seperti itu. Artinya osteoarthritis pasti akan terjadi pada kita, tinggal masalah waktu aja kapan kita dapat giliran.

Tetapi ternyata ilmuwan sudah menemukan kalau penipisan tulang rawan sendi ini bisa dikompensasi dengan memberikan nutrisi sendi. Beberapa di antara nutrien yang manjur untuk menjadi pelumas sendi ini, antara lain adalah glukosamin dan kondroitin.

Baik glukosamin maupun kondroitin sama-sama berfungsi membentuk cairan sinovial yang biasanya berperan untuk melumasi sendi. Juga kedua nutrien ini merangsang pembentukan tulang rawan sendi.

Viostin DS, Suplemen Glukosamin dan Kondroitin untuk Nyeri Sendi

Di negeri kita, glukosamin dan kondroitin dapat ditemukan sekaligus dalam sepaket suplemen sendi bermerk Viostin DS. Viostin DS ini mengandung kekuatan ganda berupa glukosamin 500 mg dan kondroitin 400 mg.

Beberapa tetangga saya, yang sudah mulai berumur 50-an, ternyata saya temukan rajin nenggak Viostin DS sejak mereka mulai merasakan gejala encok itu. Mereka biasa mem-bully kaki mereka setiap hari, mondar-mandir berjalan kaki ke sana kemari dan usia tidak bisa menghindarkan mereka dari osteoarthritis.

Awalnya mereka manut kalau disuruh minum obat pereda nyeri oleh dokter, tapi lama-lama kebosanan sendiri. “Pain-killer itu manjur tapi saya nggak mau bergantung dengan itu. Obat itu cuma meredakan nyeri, tetapi nyerinya akan datang terus karena proses osteoarthritisnya akan terus berlanjut,” kata tacik tetangga saya yang meskipun sudah punya cucu masih sigap mengurus toko gaun pengantinnya. Dos-q akhirnya menerima saran dari dokter internisnya untuk menenggak Viostin DS sehari tiga kali demi mengatasi osteoarthritis yang dos-q derita.

Suplemen sendi mencegah pengapuran sendi lutut
Suplemen sendi Viostin DS mengandung glukosamin 500 mg dan kondroitin 400 mg untuk nutrisi tambahan bagi penderita osteoartritis.

Ternyata setelah rajin minum Viostin DS selama beberapa minggu, encok di pergelangan kakinya mulai mereda. Akibat Viostin DS yang melumasi sendi dengan lebih cepat dan efektif, dos-q pun nggak perlu panik nyetok celecoxib di tas tangannya lagi.

Tetangga saya lainnya, yang juga minum Viostin DS ini, juga senang lantaran suplemen sendi ini nggak bikin nyandu juga. “Saya minum Viostin DS cuma sekitar 2-3 bulan aja kok, habis itu nyeri lutut yang saya alami itu nggak datang-datang lagi. Kayaknya lutut saya udah licin sejak minum itu, hahahaha..” seloroh tetangga saya yang lain yang juga sesama alumni osteoarthritis. Dos-q juga mufakat bahwa suplemen ini aman dikonsumsi penderita diabetes.

Beli Viostin DS pun nggak ribet. Dengan harga yang lumayan terjangkau kantong, Viostin DS bisa dibeli di apotik Century. Malas keluar rumah? Viostin bisa dibeli secara online di sini.

Kalau mendengar cerita-cerita happy-nya tetangga saya yang bebas dari encok setelah minum Viostin DS ini, saya jadi agak sedih. Coba kalau Grandpa saya minum ini semenjak awal-awal kena radang sendi itu, mungkin Grandpa saya akan bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan tidur selonjoran. Grandpa saya akan bisa bebas gerak tanpa kaku di lututnya. Dan kami tidak perlu menguburkannya dalam keadaan tungkai masih tertekuk..

Viostin DS Menolong Kita dari Radang Sendi

Entah kita biasa pakai high heels atau tidak, senang mem-bully kaki atau tidak, suatu saat nanti sendi kita akan menua juga. Perlahan-lahan sendi kita jadi kaku dan radang sendi ini bisa ganggu kegiatan kita. Viostin DS bisa membereskan masalah penyakit radang sendi radang sendi kita ini, dan osteoarthritis nggak akan sampai merusak kualitas hidup kita.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

32 comments

  1. Nining says:

    Osteoarthritis ini cukup menghantui turunan keluargaku mbak, krn dicurigai faktor genetik berpengaruh. Dari eyang putri sampe kmrn sepupu kena, pdhl usianya masih usia cantik eaaaa.
    Apalagi dia stay di pulau keciiiil utara Indo, alhasil kudu rutin berobat ke Jawa. Maklum, jumlah dokter spesialis blm merata hihihi.

    Dan karna kena ”omelan” mertua, sejak nikah aku wes jarang pake high heels.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Nining, bagus banget pengalaman keluargamu. Memang sebetulnya para dokter sudah curiga bahwa osteoartritis ini punya faktor penyebab turunan. Ada mutasi pada gen-gen tertentu yang mengalir pada suatu keluarga, sehingga keluarga ini mengalami kelainan tulang rawan pembentuk sendi.

      Sebetulnya tidak akan jadi masalah sih kalau menimpa usia tua. Tetapi cukup mengganggu kalau penderitanya belum setua usianya. Misalnya karena problem gaya hidup seperti terlalu sering memakai sepatu hak tinggi. 🙂

      Pengobatan macam apa yang sampai harus merepotkan sepupumu?
      Mudah-mudahan kamu nggak sampai kena juga ya..

  2. echaimutenan says:

    Dulu aku selalu pakai ini high heels setiap hari :”)
    Walau dulu gak terlalu ngerti kalau itu nyeri sendi gara-gara pakai ini :”(
    Sekarang untunge ada Viostin ya, bebas gerak gak pakai kaku lagi

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya high heels nggak mengakibatkan nyeri ya.
      Tetapi sendi kita lama-lama akan kekurangan pelemas, dan terasa nyeri jika pakai high heels 🙂

  3. nah, aku ngalamin juga nih soal pemakaian high heels ini dok. Dulu pas usia 20an kan kerja di kantor udah kece banget pake sepatu model gini. Setelah lahiran anak pertama, udah deehh.. ga sanggup lagi pake high heels, langsung sakit looohh.. sungguh cantik yg menyiksa ya hihiii..

  4. Sandra Nova says:

    Udah lama ngga pake high heels krn emang brasa banget sering kecapean & lutut ngga nyaman 😀 tapi tetep kalau abis nyetir pinggang brasa encok, apalagi kl macet banget & kelamaan dijalan 🙁

  5. oRiN says:

    Ish.. saya belum 50, gak pake high heels tapi udah sering osteo, eh… encok. Apalagi sekarang pas harus terawih tiap malam… ngejar imam yang ngebut tiap rokaat itu terasa bagai siksaan.

  6. Rahmi says:

    Aku udah jarang pakai high heels. Paling kondangan doang. Emang cantik ya pakai hihh heels itu tapi efek jangka panjangnya ngeri.

  7. Borusiallagancom says:

    waw, bisa pelajaran buat aku yang suka bnaget pake high heels. Thx infonya

    borusiallagan.com

  8. Liswanti says:

    Ternyata pake highheels ga baik juga ya mba kalau terlalu sering menggunakannya. Apalagi kalau sudah nyeri sendi ga enak banget ya.

  9. Ranny says:

    Sayaaa pecinta high heels, juga Mama hehehe dan emang mbak pakai seharian heels bikin nyeri. Jadi inget cerita Victoria Beckham, karena keseringan pakai heels satu kali dia keseleo atau apa gitu dan sama dokternya disarankan gak boleh pakai heels dulu. Kebayang ya parahnya itu.
    Emang mesti berjaga ya mbak, salah satunya dengan minum suplemen ini

    1. Isni says:

      saya sarankn klo sudah trasa nyeri d lutut sebaiknya jgn pake high heels,saya jg kejadian 3thn k belakang berasa skit ya setelah 1 thn pernikahn dan mw kdua thn pernikahn sakit parah ya,smp tulang lutut saya bergser k ats,dan otot ya ad yg k jepit,hampir”n saja saya klo gk d pijat sma ahli tulang mungkn gkkn bz jln,,krn brhub dr ortopedi ya sdng k luar negeri lagi berobt skt mata,d obtin k ahli pijat,awalnya itu cedera olahrga swaktu sparing olahrga,krn saya notabennya ank or jg,trus saya prh jatuh ke lubang 1 mtr,dan tabrakan mtr,trs kdng” saya pke high heels,bru ke inget prh saya jln”pke high heels tnggi 7cm pas sya plng lngsng saya tdrn smp pg dri isya,skit lemes,cape,skt sgla dari stu syaa pensiun g mw pke lagi,,tolong d jga kshtn sendi ya jgn d pksakn

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Si Victoria itu udah tinggi banget, masih mau pakai high heels pula. Kalau kita berdiri di samping dia, pasti kayak pohon palem dan pohon cabe..

      Semoga dengan keseleo itu memberi dia hikmah untuk mawas diri untuk empati kepada orang-orang yang lebih pendek daripada dia, supaya kita-kita yang mungil ini tidak nampak seperti pohon cabe.. 😀

  10. Lusi says:

    Duuuh kalau yg nulis dokter bawaannya malah pengin konsultasi wkwkwkk. Bantalan kakiku juga dah lamaaa banget nipis tp aku masih oke pake high heels cuma kalau kondangan aja sih. Nah yg daily itu agak berat krn tiap habis nyetir telapak & penggelangan kakiku bisa seharian sakit. Padahal kan tiap hari nyetirnya. Solusi dr dokter sih skrg aku hrs selalu pake sepatu yg bener2 nyaman, empuk & agak tebal. Sekarang sih ada viostin ya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mbak Lusi jadinya sekarang pakai sepatu apa? Penasaran..

      Aku juga punya problem sepatu, Mbak. Sepatuku nggak ada yang awet. Tiap dua tahun, langsung jebol kalau dipakai jalan.. 🙁

  11. Evrinasp says:

    Alhamdulillah saya gak suka pake high hells, pake sepatu datar aja kadang sudah cape, gak mau membebani sendi soalnya, ngeri kalo kena radang

  12. Wah, kalo pake high heels, aku bakal lebih parah nih. Gak pake aja, sendi kaki sering ngilu. Cekot-cekot gitu. Maklum, umur udah mau masuk 40 tahun. Gendong anak semalam suntuk saat demam aja, siangnya lutut sama pinggang sakit banget. Dulu sih cuma dikompres es batu aja. Atau didiemin nunggu sembuh sendiri. Gak tahu obatnya. Dan ngerasa obat sendi cuma buat lansia. Tapi terakhir kali, saat nyeri terasa lagi, aku minum Viostin DS. Bikin nyaman sendi. Gak khawatir lagi deh kalo nyeri sendi. Udah tahu obat yang cocok.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mbak, anak sudah empat orang sih memang sudah waktunya kelelahan. Pasti repot ngawasin ABG yang udah sekolah SMP tapi masih gendong bayi. Semoga repotnya segera hilang ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *