Fidel 2 Tahun – Bahagia Digendong Selalu

Kali ini saya mau cerita ringan-ringan aja soal foto saya di atas. Foto ini dijepret suami saya lho, dan saya masih inget momennya. Waktu itu saya lagi asyik-asyik nonton video. Tahu-tahu, Fidel naik ke pangkuan saya dan minta nyusu.

Fidel sudah umur dua tahun ketika foto ini diambil. Dan saya banggaaaa bukan main lantaran bisa berpose macam begini. Suatu kemewahan lho, karena kakak-kakak saya gagal nyusuin anaknysa sampai dua tahun. Padahal mereka sudah punya anak lebih dulu daripada saya.

Saya punya daftar berupa deretan panjang nama teman saya yang udah ngopnamein anak-anak mereka. Catet ya, anak mereka diinepin di rumah sakit bahkan sebelum usianya bahkan satu tahun.

Salah satu teman saya, terpaksa menginapkan gadis kecilnya di Mitra Keluarga lantaran bronkopneumonia. Ini suatu penyakit batuk bonus pilek, yang sampai bikin bocahnya susah bernafas. Dan princess kecil itu baru berumur enam bulan.

Lalu saya punya kawan lain. Dia terpaksa menahan anaknya di rumah sakit karena penyakit hand mouth and nail disease. Anak ini belum umur setahun juga.

Dan ada lagi yang dirawat, karena..mmh..diare? Hah? Separah apa bocah ini mencret sampai nggak mau lagi makan? Umur berapa? Saya lupa. Pokoknya dia belum bisa berdiri.

Saya percaya bahwa yang namanya sakit itu adalah musibah yang datang dari Tuhan. Tapi jujur aja, kalau ada kawan-kawan saya yang bayi-bayinya terpaksa masuk kamar inap rumah sakit pada umur segini, saya tetap takjub.

Kawan-kawan saya bukan orang yang low economic status lho ya. Padahal penyakit-penyakit yang saya sebut di atas itu penyakit akibat ketularan kuman semua.

Jadi kadang-kadang saya memandangi kawan-kawan saya, yang sesama emak-emak. Dan melonginnya itu sambil curious“Girls, itu kira-kira anak-anak ini bisa sakit lantaran ketularan dari mana?”

Kesakitan Fidel yang Jadi Berkah
Save the Children
Foto pertama saya dan suami bersama Fidel, beberapa jam sesudah Fidel lahir.
Untung kami berfoto, karena beberapa jam kemudian Fidel harus diinkubasi sampai berhari-hari kemudian.

Anak saya sendiri, Fidel, bahkan sudah mendapatkan “giliran” opnamenya sebelum imunisasi pertamanya. Fidel lahir dengan inkompatibilitas A-B-O, akibatnya dia kudu ditransfusi transfer. Alhasil dia terpaksa diopname di rumah sakit gegara transfusi itu.

Dan ternyata belum selesai. Urusan ketidakcocokan golongan darah dia itu masih diperpanjang lagi dengan infeksi intrapartum. Totalnya, dia terpaksa diopname dalam 21 hari pertama kehidupannya.

Itu membuat saya  telat mendapatkan hari-hari kerepotan pertama saya sebagai ibu. Mengopnamekan Fidel lama-lama di rumah sakit betul-betul menggampar saya habis-habisan. Saya langsung bersumpah, setelah Fidel keluar, saya nggak mau melepaskan Fidel untuk dipegang orang lain.

Fidel saya asuh sendiri. Saya susuin sendiri. Saya mandiin sendiri. Saya gendong sendiri. Saya tinggal dengan mertua, tapi saya jarang banget ijinkan mertua saya mengasuh dia. Karena saya takut jadi kebiasaan.

Itu ternyata bikin saya jadi ekstra sensitif jika Fidel merasa badannya nggak nyaman. Kalau dia rada kedinginan, saya langsung gendong dia. Saya bahkan menggendong dia sambil memasak atau menyapu. Kalau dia mulai garuk-garuk, saya langsung gantiin bajunya.

Bahkan kalau pupnya rada cair dikit, saya langsung introspeksi apakah saya salah makan. Soalnya kan saya supplier ASI-nya.

Pokoknya hidupnya Fidel stabil terus deh. Jadi ya alhamdulillah, saya nggak pernah ngalamin anak saya jatuh sakit. Nggak seperti kawan-kawan saya.

(Oh ya, saya nulis begini bukan untuk mojokin kawan-kawan yang mengasuhkan anaknya kepada orang lain ya. Saya cuman berbagi pengalaman saya sendiri. Tiap ibu pasti punya alasan sendiri-sendiri kenapa anak-anak mereka tidak selalu bersama mereka 24 jam sehari.)

Lain dari itu semua, mengemong Fidel full time bikin saya sangat bahagia. Memang rempongnya luar biasa, tapi saya nggak pernah sesenang ini sebelum saya punya anak. Menggendong Fidel selalu bikin hati saya lega dan tenang. Perasaan itu, mengobati segala kecapekan saya menghadapi pekerjaan rumah tangga yang menumpuk tak karuan.

Anak-anak Lain

Di negeri ini, ada banyak bayi yang nggak seberuntung Fidel karena nggak bersama ibu mereka. Contoh gampangnya aja, bayi-bayi yang tinggal di panti asuhan. Orang-orang yang menggendong mereka paling-paling ya pengurus pantinya. Itu pun bayi-bayi ini mesti nunggu giliran untuk digendong.

Bahkan di luar panti asuhan pun belum tentu situasinya ideal. Bayi-bayi yang tinggal bersama emaknya pun belum tentu juga selalu digendong ibunya by requestMommy is not always there, misalnya karena ibunya bekerja di luar rumah. Sehingga ibunya terpaksa meninggalkan bayinya dengan pengasuh lain. Pengasuh lain itu, misalnya babysitter bayaran. Atau dengan neneknya, atau dengan tantenya, dan semacamnya.

Bahkan ibu-ibu yang berada di rumah si bayi 24 jam sehari, kadang-kadang juga nggak selalu megang anaknya. Misalnya karena si ibu masih tinggal dengan nenek si bayi. Dan si nenek begitu sotoy ingin mengasuh cucunya terus-terusan.

Absennya kehadiran para ibu ini yang kadang-kadang memicu pola asuh yang defisit kasih sayang pada si bayi. (Saya nggak bilang para nenek itu kurang kasih sayang. Tapi sebesar-besarnya kasih sayang para nenek, pasti kadar kasih sayangnya masih lebih besar ibunya dong.)

Ibu-ibu yang nitipin anaknya kadang-kadang menjadi kurang sensitif kalau ada yang nggak beres dengan si bayi. Sebabnya, ya karena memang dia nggak bersama si bayi terus-terusan untuk hafal akan gestur spesifik si bayi.

Karena kurang sensitif, dampaknya baru terasa kalau ada yang nggak beres dengan si bayi. Si ibu akan terlambat mengenali sinyal. Termasuk sinyal bahwa si bayi mulai sakit. Padahal tanda-tanda penyakit dari si bayi sebetulnya tidak datang mendadak lho. Karena jika bayi merasa kurang enak badan, sebetulnya si bayi sudah bisa kasih sinyal.

Ketika dia terserang infeksi virus dan badannya lesu, dia akan terus-menerus merengek minta digendong. Ketika dia sakit perut, dia cenderung nangis dengan suara melengking.

Ketika dia meradang kulit, dia akan terus-menerus menggaruk badannya. Bahkan dia baru akan berhenti garuk-garuk kalau sudah digantiin bajunya.

Isyarat-isyarat sepele begini ini yang cuma bisa kelihatan oleh ibunya. Dengan syarat, asalkan ibunya selalu berada bersama bayinya.

Bayi-bayi yang sakit berat di Indonesia, proses sebetulnya nggak terjadi mendadak. Bahkan yang sampai akhirnya meninggal pun, prosesnya sebetulnya bisa diramalkan. Kecuali kalau memang penyebab kematian bayi tersebut adalah kecelakaan. Bayi sebetulnya nggak gampang sakit, kalau sistem imun tubuhnya mau bekerja melawan infeksi.

Dan tanda-tanda anak yang tubuhnya punya sistem imun jelek itu sebetulnya gampang kelihatan. Tanda yang paling kelihatan itu, tumbuhkembangnya lelet.

Misalnya, perhatikan deh bayi yang badannya kecil melulu, dan telat berdiri sendiri pada umur seharusnya. Ini sebetulnya sudah merupakan salah satu tanda tumbuh kembang yang terlambat.

Dan coba selidikin betul-betul tentang tumbuh kembang yang terlambat ini. Bisa jadi penyebabnya adalah si bayi punya penyakit tertentu. Dan penyakit ini potensial bisa bikin dia meninggal dengan cepat.

Membuat Bayi Selalu Sehat dengan Langkah-langkah Sederhana

Mengasuh anak bukan sekedar memberi dia ASI dan imunisasi. Bukan juga mengasuh dengan selalu memberi dia lingkungan rumah yang nyaman. Saya rasa sih langkah yang masih sering dilupakan banyak orang adalah, si bayi harus sering-sering disentuh.

Save the Children bayi sehat
Fidel umur 5 bulan, ketawa sehat ke papanya yang megang kamera

Ketika saya menyentuh Fidel yang masih bayi, dia merasakan bahwa saya selalu ada buat dia. Itu membuat kepercayaan diri dia tumbuh. Ternyata upaya saya yang selalu menggendong dia, ikutan andil membentuk kepribadian anak ini.

Saya sendiri rajin mijet dia saban kali sebelum mandi dan sesudah mandi. Ketika saya memijat Fidel, seluruh badan dia terangsang dan dia menjadi ingin bergerak. (Ya iyalah, dipijet kan bikin getek, sehingga dia jadi kepingin berguling). Otot-otot tangan dan kakinya jadi terlatih, sehingga memicu keterampilan motoriknya. Dan itu terbukti. Dokter tumbuhkembangnya Fidel bilang, keterampilan motorik kasar Fidel lebih bagus daripada anak-anak seumurannya.

Saya pun rada pilih-pilih minyak untuk saya pakai memijat Fidel. Saya usahakan minyaknya yang juga berfungsi bikin lembab kulitnya. Kenapa gitu? Kelembaban kulit ini jadi urusan penting karena menjaga lapisan kulit si bayi supaya tetap utuh.

Kulit bayi jelas tiga kali lipat lebih tipis ketimbang kulit orang dewasa.  Apalagi ketika umurnya masih belum 28 hari, ada tugas spesifik yang dipegang oleh kulit bayi. Kulit bayi ini bertugas penting untuk mencegah kuman-kuman pro-infeksi masuk ke dalam tubuhnya. Bisa dibilang, kulit itu pintu gerbangnya sistem imun manusia itu sendiri.

Ketika saya gendong Fidel, saya selalu ngajak dia ngomong. Kadang-kadang saya nyanyiin, sambil pasang ekspresi muka yang lucu. Ternyata Fidel meniru, dia jadi sering ketawa. Dan dia ikut bersuara juga untuk menanggapi komunikasi saya.

Saya mungkin cuma melawak kecil-kecilan. Tapi ternyata manuver saya bikin bocah saya jadi mengembangkan kemampuan komunikasinya.

Itu semua ternyata berperan besar untuk kesehatan Fidel. Banyak bergerak ternyata merangsang otak si bayi ini menjadi mikir. Rangsangan otaknya ini juga termasuk untuk mengaktifkan seluruh sistem imun tubuhnya. Ini sebabnya, kenapa bocah yang senang lari-lari, rata-rata lebih jarang sakit-sakitan. Kalau dibandingkan dengan bocah yang cuma pendiam.

Fidel pun sudah lumayan ekspresif meskipun masih bayi. Dia memberontak kalau badannya merasa panas atau gatal. Dan itu saya manfaatkan sebagai sinyal komunikasi bahwa dia merasa badannya nggak nyaman.

Dia juga bisa memberi tahu kalau saya sudah kasih dia perlakuan yang benar. “Sudah enakan sekarang badanmu, Nak?” Dan bayi ini pun tersenyum.

Hal-hal begini yang kadang-kadang dilupakan oleh para pengasuh konvensional. Atau para ibu yang mengasuh anak mereka hanya separuh hari.

Membuat bayi sehat

Menolong Bayi-bayi yang Jarang Dibelai

Nggak semua bayi seberuntung anak-anak kita, yang sehat, yang bisa kita gendong setiap saat. Dan nggak semua bayi cukup beruntung di mana setiap serabut sarafnya tumbuh dalam belaian ibunya.

Di daerah-daerah yang jauh dari ibukota di Indonesia, masih banyak banget anak-anak yang jatuh sakit. Penyebabnya, bisa karena ibunya miseducated dalam mengenali tanda-tanda anak yang sakit. Atau penyebabnya juga bisa sekedar karena memang kurang gizi. (Dan kurang gizi ini juga karena orangtuanya miseducated juga).

Penyakit paling sering kelihatan adalah bayi-bayi yang batuk pilek dan mencret-mencret. Penyakit ini sebetulnya bisa diselesaikan kalau ibunya mau punya sedikit kebiasaan yang rada higienis. Dan kebiasaan higienis ini semestinya sudah dimulai semenjak bayi itu baru lahir.

Dan repotnya, penyakit sepele begini ternyata juga sering menjadi penyebab kematian bayi sebelum umurnya setahun.

Di balik penyakit-penyakit itu, masih lebih banyak lagi bayi-bayi yang mesti berjuang lagi supaya bisa pintar. Terutama pintar sesuai umur semestinya.

Di banyak Posyandu, kita masih bisa nemu banyak banget bocah yang kurang pintar. Contoh kurang pintar ini, sudah berumur enam bulan, tapi belum bisa membalikkan badannya sendiri. Atau sudah berumur delapan bulan, ternyata belum bisa duduk sendiri.

Setelah bocah-bocah kurang pintar ini diselidikin, ternyata ketahuan mereka memang nggak diajarin ibunya. Ibunya nggak mengajari anaknya hal-hal simpel seperti itu, bisa karena dia sangka si anak akan bisa sendiri. (Padahal anak nggak akan pintar kalau nggak distimulasi alias diajarin). Atau ibunya nggak ngajarin, karena memang ibunya nggak menggendong anaknya sendiri.

Ibu yang miseducated perlu diajarin supaya sering-sering menyentuh bayi mereka. Pelajaran begini nggak disampaikan dalam bentuk kuliah paksaan lho. Tetapi pelajarannya diselipkan dalam acara pembagian sembako, berupa makanan-makanan tambahan untuk bayi.

Ibu-ibu yang anaknya sudah berumur enam bulan diajari gimana nyiapin MPASI untuk bayi. Sedangkan ibu-ibu yang anaknya masih menyusui eksklusif pun, diingetin kembali tentang posisi menyusui yang benar.

Di setiap pelajaran, selalu disampaikan supaya para ibu selalu cuci tangan sebelum memegang bayi. Karena cuci tangan inilah yang punya andil gede supaya bayi mereka nggak kena infeksi. Di Indonesia, infeksi adalah salah satu penyebab kematian bayi sebelum umur mereka setahun.

Kita bisa lho ikutan andil untuk nolongin bayi-bayi yang terpencil dari satelit pengetahuan ini. Ada suatu organisasi non-government bernama Save the Children, punya program health and nutrition. Organisasi ini biasa kasih penyuluhan ke Puskesmas, rumah sakit kabupaten, dan Posyandu.

Salah satu penyuluhannya yang penting ialah memperbaiki sanitasi tempat melahirkan. Penyuluhan lainnya juga berupa pemberian nutrisi kepada para ibu yang masih punya bayi maupun balita.

Save the Children ini disokong oleh perusahaan skin care bayi Johnsons. Ada yang asyik kalau kita membeli produk Johnson’s Baby di Alfamart bulan ini. Sebab, keuntungannya akan disumbangkan sebagian kepada Save the Children.

Kawan-kawan yang punya anak yang masih kecil, yuk kita sering gendong dan pijat bayi kita yuk. Sering memijat bayi bikin bayi jadi punya kepribadian yang positif, bikin otot-ototnya jadi lentur. Akhirnya sering memijat bayi pun bisa bikin badannya jadi sehat.

Jangan lupa mijetnya pakai baby oil dari Johnsons Baby. Sebab produk Johnsons Baby ini sudah terbukti nggak bikin pori kulit jadi tersumbat.

Asyiknya lagi, beli produk apapun dari Johnsons di Alfamart berarti ikut nolongin anak-anak lain juga. Akibatnya anak-anak lain pun dapat pendidikan kesehatan yang lebih baik. Sudah anak kita jadi lebih sehat, kita juga bisa bantuin anak orang lain deh 🙂

Video cara memijat bayi yang sederhana bisa dilihat di sini ya 🙂

“Untuk informasi lebih lanjut tentang campaign ini, silakan cek akun media sosial resmi dari Johnson’s Baby yaitu @johnsonsbaby_id (Instagram), @JohnsonsBaby_ID (Twitter) dan https://www.facebook.com/JohnsonsBabyIndonesia”

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. Aku setuju banget dengan sering menyentuh bayi, maka kita jadi lebih peka. Jangankan aku, suamiku pun karena sering gendong anak pertamaku, dia jadi ikut sensitif misal ada yang kurang beres atau pas Emir sakit. Ternyata efeknya seluar biasa itu ya sentuhan orang tua 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Suamiku juga ikut ngegendong anakku. Dia juga jadi sensitif. Saking kita sama-sama sensitifnya, jadi sering parno bareng kalau anak kami rada nggak beres dikit :))

  2. Rahmi says:

    Aku pas anak pertama selama sebulan bukan aku yg mandiin mba, kaya belum pede, setelah anak kedua baru lebih berani.

  3. Sandra says:

    Fidel saya asuh sendiri. Saya susuin sendiri. Saya mandiin sendiri. Saya gendong sendiri. Saya tinggal dengan mertua, tapi saya jarang banget ijinkan mertua saya mengasuh dia. Karena saya takut jadi kebiasaan.

    Like this banget mbaaa, ini aku banget, makanya kalo ada yang komen aneh2 saya sikat aja toh saya yang ngerawat baby hoho, tfs ya berkat tulisan ini saya akan makin rajin sentuh dan mijat baby^^

  4. Nining says:

    Momen foto bersama yg Fidel berusia 5bln bagus banget mbak, pas banget bidikannya suami 🙂
    Tfs ilmunya, dr kmrn mo mijit belum2 aja haha emak2 cem apa ini. Karna aku mengasuh barengan sama mamaku, gantian ngegendong 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Enak kamu ada mamamu, bisa ada yang gantiin ngegendong selama kamu dipijet nanti. Aku baru bisa pijet setelah Fidel umur hampir 2 tahun. Itu pun pilih salonnya yang tidak jauh dari tempat mainnya Fidel.

      Foto yang umur 5 bulan itu memang foto kesukaanku. Senang banget lihat Fidel bisa ngangkat punggungnya sendiri setinggi itu. Karena sebelumnya aku nunggu dia belajar bolak-balik aja gagal terus.. :))

  5. Ria fasha says:

    Ngerasain banget gimana sedihnya waktu anak sakit mbak, anakku belum satu jam setelah dilahirkan jg harus diinkubasi karena membiru dan kesulitan bernafas, saat dia d rs aku jg janji ama diri sendri akan jagain dia semaksimal mungkin kalau dia sembuh.. Sentuhan dan dekapan kalo kata dokter anak di rs menjadi penyemangat bayi untuk bertahan dan sembuh

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Pasti panik ya melihat bayinya nggak nafas?
      Saya sih nggak lihat anak saya ketika dia asfiksia, karena saya teler kena obat bius pasca Cesar. Bidannya yang kebingungan resusitasi sana-sini.

      Kalau dipikir-pikir sekarang, untung banget ya anak kita kini sehat. Padahal dulu kita hampir kehilangan mereka ya 🙁

  6. Baca pengalamannya mbak vicky ini luar biasa Mommy hebat. Semoga Fidel sehat selalu, tumbuh jadi anak yg membanggakan papa mamanya. Semangat jadi ibu musti setrong ya mbak ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *