Penyakit-penyakit yang Bikin Nggak Bisa Naik Haji

Musim haji sudah dekat. Satu per satu saya melihat orang sekitar saya sibuk nyiapin dirinya sendiri atau keluarganya buat pergi berhaji. Lalu kemaren, saya diusik oleh sebuah kampanye yang memprotes seseorang yang dilarang naik haji karena sakit.

Di Indonesia, Haji adalah Orang Kaya

Fenomena naik haji di bumi Nusantara ini sudah dianggap wah bahkan semenjak jaman kerajaan Samudera Pasai masih berdiri. Orang Indonesia kalau mau pergi menunaikan ibadah haji itu memang effort-nya gede banget. Penyebabnya apalagi kalau bukan masalah jarak. Indonesia yang jaraknya bukan main jauhnya dengan bumi Mekkah, membuat transportasi menjadi post yang sangat menguras banyak biaya. Di negara kita, cuman orang yang udah ngumpulin duit banyak sekali yang bisa naik haji. Makanya nggak heran, orang yang bisa naik haji adalah orang yang bisa dibilang sudah kaya. Itu juga kalau definisi kaya adalah orang yang banyak duitnya. Iya kan?

Saking eksklusifnya naik haji itu, orang bisa ngabisin waktu bertahun-tahun untuk bisa ngumpulin duit demi naik haji. Ada yang nabung bertahun-tahun. Ada yang pakai acara jualan sawah. Ada yang jualan kerbau. Jualan rumah. Dan entah jualan apa lagi.

Ketika duitnya sudah terkumpul untuk naik haji, nggak heran banyak orang sorak-sorai. Sebetulnya nggak masalah sih kalau bergembira, yah itu manusiawi. Yang repot itu, kadang-kadang saking senengnya, dia ngoceh ke sana-sini bahwa dia mau naik haji. (Meskipun saya sendiri juga nggak ngerti apa faedahnya bilang-bilang ke sana kemari kalau mau pergi haji. Konon, katanya sebelum naik haji itu kita mesti minta maaf ke semua orang supaya hajinya mabrur. Mudah-mudahan memang ini alasannya kenapa harus ngomong ke sana kemari kalau besok mau naik haji. Bukan buat pamer.)

Kaya yang Tidak Bisa Membeli Kesehatan

Duit untuk naik haji itu sebetulnya bisa dikejar, tetapi yang tidak bisa dikejar itu sebetulnya adalah waktu. Karena waktu juga yang akan menggerogoti umur kita. Dan sayangnya, mengumpulkan uang untuk naik haji itu ekuivalen dengan membuang umur.

Sering banget orang baru dalam keadaan sudah tua untuk naik haji. Padahal, orang yang sudah lansia punya banyak banget problem kesehatan.  Dan repotnya, problem kesehatan ini justru yang bisa menghalangi dia untuk pergi berhaji.

Coba inget-inget kakek-nenek Anda, apa aja penyakit yang hinggap pada badan mereka yang menghalangi kegiatan mereka sehari-hari. Encok. Matanya burem. Napas ngos-ngosan. Nggak bisa makan sembarangan. Apa lagi ya? Oh ya, pikun!

Sekarang bayangin kalau orang-orang macam lansia yang banyak penyakit ini bepergian dari Indonesia ke Arab. Kaki sakit tapi harus jalan dari Safa ke Marwah. Mata burem tapi mesti ngelempar jumroh. Napas ngos-ngosan padahal harus keliling Ka’bah tujuh kali. Di Mekkah kepingin makan kurma, apa daya gigi palsu ketinggalan di hotel. Dan mau jalan balik ke hotel, tapi karena pikun jadi lupa lokasi hotelnya di mana.

Penyakit-penyakit yang Dilarang untuk Naik Haji

Kerajaan Saudi Arabia sudah menduga hal-hal beginian akan terjadi. Makanya mereka memberlakukan aturan ketat tentang siapa-siapa aja yang boleh masuk ke Mekkah untuk naik haji. Karena Mekkah itu secara administratifnya masuk ke wilayah negara Saudi Arabia, maka sudah sewajarnya kerajaan itu merasa diri mereka bertanggung jawab untuk melindungi tamu-tamu Allah yang ingin naik haji.

Melindungi itu termasuk memastikan supaya selama beribadah haji, tamu-tamu Allah ini nggak tertimpa musibah. Termasuk musibah berupa tertimpa penyakit.

Di Mekkah, ketika jemaah jatuh sakit, jemaah ini sebetulnya menjadi tanggungan negara asalnya dan juga sebagai tanggungan pemerintah Saudi Arabia juga. Lepas dari kewajiban pemerintah negaranya selaku ulil amri dan kewajiban pemerintah Arab sebagai tuan rumah, saya ingin meng-highlight bahwa sebetulnya sakit dari jemaah ini memberikan beban kepada orang lain. Baik beban kepada keluarga yang menemaninya, beban kepada pengurus rombongan yang mengawal ibadahnya, juga beban kepada pemerintah Arab itu sendiri.

Soal ini sudah dibicarakan antara pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dan pemerintah Indonesia yang bertugas mengurusi rombongan hajinya. Makanya, terbit aturan bahwa orang yang ingin naik haji harus memenuhi syarat istitha’ah haji, yaitu kemampuan jemaah tersebut untuk melaksanakan ibadah haji.

Dalam kompetensi saya sebagai seorang tenaga kesehatan, saya ingin menceritakan syarat Istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji. Istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji ini adalah kemampuanjemaah haji dari aspek kesehatan, yang meliputi fisik dan mental yang terukur, dengan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga jemaah haji dapat menjalankan ibadahnya sesuai tuntunan agama Islam. Urusan istitha’ah kesehatan jemaah haji ini sudah diatur berupa pembinaan pada jemaah haji yang bersangkutan, semenjak calon jemaah ini mendaftar menjadi jemaah haji, sampai akhirnya mereka diberangkatkan ke Saudi Arabia.

Akhir dari pembinaan istitha’ah kesehatan jemaah haji ini adalah mengklasifikasikan jemaah haji menjadi empat macam jemaah:

1) Jemaah yang memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji

2) Jemaah yang memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji dengan pendampingan,

3) Jemaah yang tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji untuk sementara,

4) Jemaah yang tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji.

Bersyukurlah kita-kita kalau termasuk golongan jemaah 1).

Golongan jemaah 2) mungkin rada kudu diperhatikan. Mereka-mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang berumur 60 tahun atau lebih. Atau menderita penyakit tertentu yang kebetulan nggak masuk ke golongan 3) atau 4).

Golongan jemaah 3) agak sedikit repot. Nggak bisa naik haji selama masalah mereka belum diselesaikan. Mereka ini adalah pasien-pasien yang punya kondisi seperti ini:

  1. Belum divaksin. (dengerin itu, Wahai Golongan Pecinta Bumi Gepeng!)
  2. Sakit TBC (yang dahaknya masih positif mengandung Mycobacterium tuberculosis . Karena bisa nularin orang lain pada saat lagi berdesak-desakan ketika beribadah.
  3. Sakit TBC (yang statusnya nggak mempan terhadap antibiotik isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid. Alasan sama seperti nomer 2).
  4. Sakit diabetes melitus (dan kadar gulanya sedang nggak normal. Diabetes yang gulanya amburadul bisa potensial jadi stroke.)
  5. Sakit gondok (hipertiroid. Hipertiroid yang nggak karuan di tengah puncaknya ibadah haji bisa bikin serangan jantung.)
  6. Mengidap HIV-AIDS (dan rajin diare setiap hari. Lagi tawaf terus diare? Please lah.)
  7. Sedang stroke (yang akut. Karena yang begini bisa setep setiap saat)
  8. Muntah berdarah, pup berdarah.
  9. Sakit anemia gravis.
  10. Mungkin sedang mengidap penyakit yang potensial bikin wabah.
  11. Gangguan jiwa.
  12. Kaki sedang patah tulang, dan nggak boleh digerakkan.
  13. Tulang punggung sedang patah juga
  14. Hamil kurang dari 14 minggu, karena potensial keguguran
  15. Hamil lebih dari 26 minggu, karena sudah potensial waktunya melahirkan

Golongan jemaah 4) adalah golongan yang kesehatannya memang nggak mampu buat naik haji. Mereka ini adalah orang-orang dengan penyakit seperti ini:

  1. Punya penyakit paru obstruksi kronis derajat IV,
  2. Punya penyakit jantung berupa gagal jantung stadium IV,
  3. Punya penyakit gagal ginjal stadium IV yang harus cuci darah teratur,
  4. Dalam status AIDS dan mengidap infeksi oportunistik (misalnya punya TBC juga, atau lagi sakit meningitis),
  5. Sedang stroke dengan jenis stroke perdarahan,
  6. Gangguan jiwa berat (misalnya skizofrenia),
  7. Dementia berat (alias pikun luar biasa),
  8. Cacat mental berat,
  9. Kanker stadium akhir (biasanya stadium IV),
  10. TBC (yang nggak mempan terhadap segala macam antibiotik),
  11. Sakit liver berupa sirosis.

Pasien-pasien seperti ini, kalau sampai diijinkan berhaji, mungkin akan lebih sering mondok di rumah sakit daripada mondok di penginapan. Ketergantungannya luar biasa kepada dokter, setiap saat. Kemungkinan besar bisa tewas di tempat berhaji.

Note: Tulisan ini saya saripatikan dari Permenkes No. 15 Tahun 2016 tentang Istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji. Bukan di-copas mentah-mentah. Saya tulis nama-nama penyakitnya dengan kata-kata yang lebih sederhana supaya pembaca awam bisa mengerti.

Tuhan Bilang, Haji Itu untuk yang Mampu

Saya menulis ini karena paham betapa sulitnya orang Indonesia harus berpacu melawan waktu untuk bisa berhaji, sementara kadang-kadang kondisi fisik tidak mau kompak dengan hati yang sudah ikhlas untuk menyeret kaki ke rumah Tuhan.

Betapa banyak orang Indonesia yang saking ikhlasnya untuk berhaji, mereka sampai rela kalau sampai meninggal di tanah Mekkah. Dan keluarganya yang ditinggalkan di Indonesia juga sudah ikhlas kalau sampai sang calon haji ini meninggal ketika sedang berhaji.

Tapi, berhaji bukan cuma sekedar menunaikan kewajiban untuk berhubungan dengan Allah, tetapi juga berurusan dengan kewajiban yang berkaitan dengan masyarakat. Termasuk, berhaji sebaiknya nggak sampai merepotkan orang lain.

Contoh simpel, kalau orang yang punya gagal ginjal stadium IV ngeyel untuk berhaji, lalu di tengah tawaf tiba-tiba edema paru. Padahal tindakan untuk menolongnya adalah langsung cuci darah, sedangkan jarak dari Masjidil Haram sampai ke rumah sakit terdekat yang punya fasilitas cuci darah itu jauh. Apakah manusiawi kalau orang ini dibiarkan sesak napas ngep-ngepan di tengah lautan manusia di depan Ka’bah hanya karena dia ngeyel ingin berhaji?

Jika kita sendiri yang mengidap penyakit ini, kita sudah tahu bahwa kita ini potensial butuh pertolongan gawat darurat setiap saat, tapi kita tetap ngeyel ingin beribadah dan ikhlas kalau badan tiba-tiba tersungkur tidak berdaya di tengah lautan manusia yang sedang lempar jumroh, apakah lantas ibadah kita itu disukai Allah? Hanya Allah yang tahu.

Saya menulis ini karena ingat samar-samar pelajaran agama yang disampaikan guru saya dulu di kelas 3 SMP. Bu Enung, berkata di depan kelas, “Syarat naik haji itu juga harus mampu fisik dan material. Misalnya, janganlah pergi naik haji, tapi rumah yang ditinggal itu nggak dikunci sehingga bisa kemalingan. Atau pergi naik haji dan ninggalin anaknya di rumah, tapi anaknya nggak ada yang kasih makan.”

Saya menangkapnya, berarti orang kalau mau pergi naik haji, ya nggak boleh egois.

Memaksakan pergi berhaji padahal fisik memang nggak memenuhi syarat, itu juga termasuk egois kan? Egois kepada Tuhan. Oleh Tuhan sudah diberi badan sakit tapi masih boleh berlindung di rumah, tapi maksa menyelipkan diri ke situasi berisiko tinggi bernama ibadah haji. Egois kepada orang lain juga, karena melawan aturan istitha’ah yang sudah disepakati antara Kerajaan Saudi Arabia dan pemerintah Indonesia, padahal aturan itu jelas-jelas dibikin atas nama etika untuk kesejahteraan umat bersama.

Umur memang milik Tuhan. Tapi beribadah haji itu mestinya diniatkan untuk mensukseskan hubungan manusia dengan Tuhan, bukan ditujukan untuk mengakhiri umur di Mekkah.

Jadi ingat selorohnya Dona, kolega saya yang jadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia bertahun-tahun yang lalu. “Ngurusin org yag niat meninggal di sana itu repot lho, Vick. Ada jemaah gw gak mau pulang, gegara pengen meninggal di sana. Alhamdulillah beliau sehat-sehat aja sampe naik pesawat pulang. Di pesawat, sengaja tiduran di selasar pesawat, supaya dibalikin lagi ke tanah suci. Asli repot..” katanya kepada saya sembari ngelap keringat di keningnya..

Saya ngangguk-ngangguk denger ceritanya. Jemaah yang malang. Pingin mati kok gak dikasih. Pakai tiduran di pesawat pulang segala. Gini jelas melanggar kode etik penerbangan dan membahayakan orang banyak..

Keterangan gambar: Foto paling atas diambil dari 4to40.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

  1. Ria AS says:

    itu dia mbak yang bikin kadang dilema di masyarakat kita. Saking inginnya menunaikan kewajiban rukun islam ke-5 trus sampe protes gak jadi berangkat karena alasan kesehatan. Soalnya mereka sudah benar-benar pasrah dan menganggap itu sebagai bagian dari takdir jika memang mereka meninggal di tanah suci 🙁

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Tuhan memerintahkan kita untuk memelihara badan kita sebaik-baiknya. Melemparkan diri sendiri ke situasi yang penuh risiko tinggi padahal kita tahu sendiri bahwa kita ini tidak mampu, itu bukan hal yang disukai Tuhan.

      Dilema terjadi pada masyarakat karena masyarakat kurang pengetahuan. Tulisan kecil ini adalah sedikit pengetahuan yang mudah-mudahan bisa disebarluaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *