Main di Pesisir Pantai Hotel Watu Dodol

Kali ini saya ingin bagi-bagi cerita tentang liburan saya ke sebuah resort di Banyuwangi beberapa minggu yang lalu. Hotel Watu Dodol yang saya inapi ini bikin saya puas lantaran saya bisa duduk-duduk ngawasin anak saya main sambil memandangi laut lepas.

Suami saya nyetir dari Jember ke Banyuwangi, sekitar tiga jam (rada lelet karena saya keasikan moto ibuk-ibuk nawar-nawar panci di pasar aluminium di Glenmore). Hari sudah sore ketika kami menyelesaikan makan siang kami di sebuah warung-yang-katanya-beken-tapi-ternyata-nggak-nyaman, dan saya merasa nggak komplit kalau kami sudah nyetir jauh-jauh tanpa mengintip pulau Bali.

Jadi kami nyetir dari Banyuwangi ke arah Situbondo, lalu memutar balik setelah sampai di patung Gandrung. Pulau Bali sudah kelihatan di seberang, dan seperempat masyarakat Banyuwangi tumplek blek di bawah patung itu buat piknik. Sebagian besar naik motor, datang buat selfie-selfie ngadep laut atau selfie di bawah patung orang menari gandrung. Sebagian kecil datang dengan colt, lalu menggelar tiker di parkir kemudian botram rame-rame.

Ada sebuah resort kecil sekitar lima menit nyetir dari patung itu, namanya Hotel Watu Dodol, dan kami berhenti sebentar di sana karena saya kepingin bernostalgia. Kebetulan, saya dan suami makan siang di restoran Watu Dodol yang jadi satu dengan kompleks hotel di Banyuwangi itu, dua tahun yang lalu. Itu jadi kenangan penting karena itu pertama kalinya kami membawa bayi kami piknik keluar kota dengan segala kerempongannya (macet, si bayi baru berumur dua bulan, tukang pup dan dia sedikit masuk angin :p)

Saya iseng masuk ke resepsionisnya dan bertanya apakah masih ada kamar. Si resepsionis jawab bahwa kamarnya tinggal satu, dan tanpa ba-bi-bu dia nawarin apakah saya ingin lihat kamarnya. Saya jawab yeah-yeah, lalu resepsionisnya ngajak saya masuk.

Resort itu, yang selama ini cuman saya jual voucher-nya secara online ke orang-orang padahal saya sendiri nggak pernah inepin, tahu-tahu menyuguhi saya pemandangan yang bikin saya terpesona. Itu kompleks super kecil yang cuman terdiri atas 16 kamar bungalow kopel, mengelilingi sebuah kolam renang yang menghadap ke laut. Whoaa..Fidel pasti suka lari-lari di sini!

Ketika resepsionisnya membiarkan saya masuk ke bungalow-nya yang masih kosong, saya langsung suka kamarnya. Ini hotel bintang tiga, tapi kamarnya bersih banget. Kamar plus terasnya sekitar 24 m2-an, belum termasuk kamar mandinya yang kira-kira sekitar 14 m2-an.

Tempat tidurnya berupa spring bed yang bisa diturunin (CATET, wahai keluarga Indonesia! :p), dan kamar mandinya luas punya interior super minimalis. Si resepsionis kasih harga Rp 720k, dan saya nggak bisa nemuin harga yang lebih murah lagi atas resort ini pada Lebaran sore itu, jadi saya langsung ambil.

Jadi saya putusin..malam ini kami tidur di Hotel Watu Dodol, wkwkwkwkwk!

The Playground

Sore itu saya ngajak Fidel main-main di taman resort sembari inspeksi. Hampir setiap kamar dibangun menghadap kolam renang dan taman, dan setiap kamar punya teras kecil buat duduk-duduk sembari ngopi. Kolamnya kecil dan cetek, persis menghadap Selat Bali, dengan view yang langsung bisa melihat pulau Bali di seberang. Kamar-kamar yang paling strategis view-nya sudah di-booked jauh-jauh hari, dan ceunah resepsionisnya, tamu-tamu yang nge-booking bahkan sudah hapal nomer-nomer kamar yang view-nya paling bagus itu: nomer 1, 2, 3, 5, dan 6.

Resortnya sebetulnya bersebelahan dengan restorannya, dan restoran Watu Dodol ini dibuka untuk publik. Cuman akses dari restoran menuju resort lumayan private, sehingga tamu restoran yang nggak ngeh akan keberadaan hotel itu bakalan sungkan kalau masuk ke area resort.

Puas ngajak Fidel jalan-jalan melihat laut, saya berusaha ngajak Fidel main di kolam pasir. Adeuh, siyalan..anaknya rewel nangis-nangis lantaran panik lihat pasir ngelelepin kakinya, wkwkwkwkwk..

Restoran Watu Dodol

Malam ini kami makan di restoran Watu Dodol. Tak ada pilihan lain sih, sebab kalau mau ke restoran yang rada masuk akal kudu ke kota Banyuwangi, sedangkan suami saya kecapekan kalau mesti nyetir ke kota. Lagian ini masih musim Lebaran, di mana service semua restoran langsung turun drastis mutunya karena semua pelayan kan juga butuh berlebaran. Restoran ini jadi penuh dengan waiters yang saya tuduh masih pada magang semua, maka saya pun maklum.

Restoran Watu Dodol sebetulnya jualan masakan Tionghoa dan masakan Barat, tapi saya skip masakan Baratnya karena pelayan magangnya bilang bahwa minggu ini mereka nggak siap dengan western cuisines. Menunya bisa dilihat di videonya yang saya upload nanti.

Kami duduk di meja paling pinggir dengan taman, lalu pesan cap cay sea food, nasi goreng sea food, dan fuyung hai. Pesanan datang sekitar 15 menitan, dan rasanya lumayan acceptable. Kami sendiri nggak terlalu menikmati makan malam ini, karena saya dan suami mesti gantian membuntuti Fidel yang sepertinya lebih semangat main mobil-mobilan sembari jalan-jalan keliling taman ketimbang makan malam, hiks hiks hiks..

Anyway, restorannya cukup rame. Kapasitasnya mungkin sekitar 200-an orang, dengan view langsung menghadap laut. Kebersihan mejanya sih so-so ya, tapi saya lihat waiters magang ini berusaha bekerja secepat kuda dalam melayani meja-meja.

Seperti janji saya, ini lho video singkat saya ketika saya liburan di Hotel Watu Dodol:

What I Dislike from the Resort

Barangkali yang nggak saya sukain adalah pintu kamar bungalow-nya yang nggak terlampau aman. Bisa dikunci sih, tapi kalau ada teroris yang brutal sih ya gampang banget ngejebol pintunya.

Resort-nya sebetulnya sedia wi-fi, tapi koneksinya dodol sedodol nama tempatnya. Saya nggak nyalahin hotelnya sih soal perinternetan ini. Menurut saya memang resort ini ditujukan buat liburan, bukan buat turis bisnis yang butuh internet gesit.

Yang sebenarnya super nggak penting tetapi masih penting buat saya, fasad bangunan depan resort-nya yang masih kalah mentereng ketimbang fasad restorannya. Kucel aja gitu, nggak nampak megah, hihihi. Dan kadang-kadang saya lihat ada sapu taman atau ember tergeletak sembarangan.

Cuman ya masih nanggung aja gitu kalau resort ini mengincar turis-turis liburan, soalnya nggak banyak yang bisa dilakukan di tempat ini selain nongkrong-nongkrong di pinggir kolam renang atau nonton HBO di kamar. Harus rajin-rajin tanya ke resepsionis buat minta paket tour keliling teluk pakai kapal, atau minta paket tour ke kawasan Ijen atau ke cagar alam. Beberapa spot yang saya sering dengar tentang Banyuwangi adalah kawah Ijen dengan blue fire-nya, lalu kampung Osing dengan budayanya yang konon unik itu, dan cagar-cagar alamnya (Meru Betiri dan Alas Purwo), dan tentu saja festival-festival surfing-nya. Sebetulnya kalau mau diniatin ya, orang yang mau liburan di Banyuwangi bisa lho ngabisin sampai 3-4 malam di sini, apalagi sekarang sudah ada pesawat yang direct flight menuju Jakarta.

Sarapan di hotelnya sendiri juga nggak begitu memuaskan meskipun ini hotel bintang tiga. Di brosur menunya tertulis bahwa pengunjung boleh milih antara nasi soto, nasi rawon, nasi pecel, atau mie pangsit; tetapi nyatanya cuman ada nasi soto dan nasi rawon yang boleh saya pilih hari ini. Sepertinya chef yang biasa milihin sayur kacangnya masih lagi pada lebaran :p

Kalau saya mau kemari lagi, mungkin saya ingin datang di luar musim Lebaran supaya saya bisa menghargai resort ini lebih baik 🙂

Anda yang kepengen mencoba tinggal barang 1-2 malam aja di Watu Dodol Resort bisa datang ke alamat ini:

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. Ria AS says:

    Banyuwangi emang menawarkan banyak destinasi wisata yang seru. Aku dua kali eksplore banyuwangi di daerah ijen dan daerah pantai-pantai tapi selama ini cuma nginep di homestay gitu. Baru tahu di banyuwangi ada resort kayak gini. Bolehlah buat referensi kalo ke banyuwangi lagi 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *