Senjata Andalan Anti Lapar

Untuk orang-orang sibuk, manfaat pisang bakalan terasa sekali kalau mereka menyetok pisang banyak-banyak.

Anak yang Sibuk

Saya orangnya sudah sibuk berat semenjak kecil. Ketika saya masih kanak-kanak dulu, kegiatan sekolah saya padat banget. Kerjaan saya itu sekolah dan pulang sekolah langsung belajar. Main pun jarang.

Saya ini tipe anak yang menikmati ketekunan banget. Akibatnya, kalau lagi sibuk jadi males diganggu. Dan saya paling benci kalau dipanggil ibu saya buat makan. Saya ini nggak suka waktu belajar saya terganggu cuma buat makan, hahahaha..

Ibu saya sepertinya paham ini. Alhasil, ibu saya selalu nyediain menu masak yang nggak ribet-ribet buat saya. Kalau perlu, makan malamnya saya bawa ke kamar. Supaya bisa saya makan sambil belajar. Ibu saya ijinkan begitu, asalkan saya janji nggak ada makanan yang tumpah. Sebab kalau tumpah, nanti ngundang semut, hiiii..

Cuman satu yang sering diingetin sama ibu saya, supaya saya jangan lupa makan buah. Cuman buah kan ribet ya, kudu dibelah dulu, dipotongin dulu. Belum lagi kalau buahnya berair; pas dimakan pun airnya netes-netes.

Makanya, ibu saya pun pilihkan pisang untuk buah saya. Lantaran praktis dimakan dengan satu tangan, jadi nggak usah dipotong-potong. Buahnya kering, nggak pakai acara netes-netes segala. Saya pun mufakat.

Kuliah yang Sibuk

Ketika saya beranjak gede, kesibukan saya makin menjadi-jadi. Kuliah kedokteran itu padatnya menggila, kadang-kadang dosennya bahkan mencuri jam makan siang.

Padahal saya nggak konsen kalau kuliah dengan perut keroncongan. Maka ibu saya pun ngingetin saya buat bawa bekal pisang kalau saya kuliah seharian. Jadi kalau saya lapar di tengah pergantian jam kuliah, tapi nggak sempat makan siang, saya pun nyomot pisang dari dalam tas.

Kadang-kadang saya mikir kalau kelakuan saya nggak jauh-jauh beda dari monyet.

Sibuk Bekerja

Belakangan, kebiasaan itu ternyata menyelamatkan diri saya di masa depan.

Ketika saya kerja beneran jadi dokter di unit gawat darurat, pasien seringkali datang membanjir tanpa henti. Baru beres pasien yang satu, sudah datang lagi pasien yang lainnya.

Sering banget saya terlambat makan malam. Pasalnya petugas dapur nganterin makan malamnya ke kamar tidur dokter, padahal dokternya lagi berjibaku di ruang UGD. Kalau lagi sibuk, saya nggak sempat menyelinap ke kamar tidur hanya untuk mencomot makan malam. Meskipun itu barang satu dua suap nasi lho.

Tetapi biarpun sibuk, yang namanya lapar ya tetap lapar. Akhirnya, saya akalin. Saya kalau kerja kan sering bawa tas pinggang. Tas pinggang itu isinya stetoskop, notes, bolpen.. dan pisang.

Kalau UGD sedang gaduh, saya beresin pasien cepat-cepat. Begitu mau ganti pasien, saya menyelinap sebentar ke kamar obat. Di sana saya sembunyi, lalu..saya makan pisang.

(Pernah suatu ketika seorang perawat mergokin saya lagi ngunyah pisang begitu. Dia ketawa meledek saya. Lalu dia keluar, ke pos satpam, dan suruh satpamnya menutup separuh gerbang pintu rumah sakit. Supaya orang jadi mau ragu kalau mau berobat malam-malam. Sehingga perawatnya bisa tidur. Dan akhirnya saya punya kesempatan untuk makan malam.)

Masa Menikah

Setelah menikah, praktis saya mesti nyiapin menu makan sendiri. Menikah bikin saya pusing karena ternyata saya kudu ngurusin menu makan suami saya juga.

Awal-awal kami menikah, kami berdua sama-sama sibuk dengan kerjaan masing-masing. Saya dokter. Sementara suami saya account executive untuk suatu perusahaan software.

Lantaran sibuk, saya jarang sempat memasak di rumah. Padahal kami mesti ngirit kalau terus-menerus makan di luar.

Saya berusaha pilih menu yang nggak butuh waktu lama-lama untuk memasak, tetapi harus tetap bikin kenyang. Tentu saja pisang jadi andalan saya.

Tetapi nyatanya belanja ekonomis itu nggak gampang. Waktu itu, beli pisang mesti sesisir, karena jarang banget kan ada yang single-single gitu. Tapi, kalau beli pisang sesisir, susah ngabisinnya dalam waktu beberapa hari. Padahal sesisir pisang yang nggak segera dimakan, bisa busuk. Sedangkan saya dan suami kan cuma berdua.

Kemudian ibu saya menasehatin saya. Katanya, saya yang mestinya lebih pintar pilih pisangnya. Pilih pisang cavendish aja, soalnya ukurannya kan gede-gede dan manis. Lalu pilih yang jenis cluster supaya ekonomis, tapi jangan yang finger-nya banyak-banyak. Yaa yang sesisirnya 4 sampai 6 finger cocok lah buat suami-istri yang cuma masak berdua.

Saya baru ngeh juga. Pisang cavendish, terutama pisang cavendish Sunpride, memang rata-rata sesisirnya cuman dikit-dikit. Nggak sampai 10 fingers deh. Cukup lah untuk stok makan selama 3-4 hari, karena saya kan belanja groceries dua kali seminggu.

Bandingkan kalau saya beli pisang yang kecil-kecil itu. Kalau mau ngabisin sesisir, kudu balapan sama waktu, karena takut bosok.

Manfaat pisang cavendish Sunpride

Maka jadilah kebiasaan, saya nyelipin sebatang cavendish-nya Sunpride ke tas saya kalau mau berangkat ke rumah sakit. Dan sebatang cavendish lagi ke tas suami saya kalau mau ngantor.

Ketika kami punya anak dan anak kami mulai belajar makan MPASI, pisang juga andalan saya. Fidel saya suapin pisang cavendish yang saya penyet-penyetin semenjak umurnya tujuh bulan.

Kenapa Pilih Pisang Cavendish?

Dan begitulah pisang selalu jadi sahabat terbaik dalam melawan lapar di tengah-tengah kesibukan. Asal pisangnya yang jenis cavendish. Bukan yang kecil-kecil kayak pisang susu gitu.

Kenapa pengganjal perutnya harus pisang? Memang nggak bisa dipungkirin bahwa pisang itu buah praktis sak donyo. Tinggal dibuka, langsung lep. Bisa dimakan sambil jalan.

Bandingkan dengan jeruk, kalau dimakan kan airnya netes-netes jorok. Bandingkan dengan mangga, nggak bisa dimakan sambil lari. Bandingkan dengan salak, sudah masih harus mengupas kulit luarnya, masih harus mengupas kulit arinya pula.

Dan satu hal yang mesti saya highlight gede-gede, makan pisang itu bikin kenyang. Oke, nggak sekenyang makan nasi di restoran padang sih. Tapi faktanya, manfaat pisang yang paling terasa itu ya di kandungan glukosanya. Satu batang pisang cavendish mengandung glukosa sebesar setengah piring nasi. Jadi wajar kalau makan pisang itu bikin wareg.

Kalau sedang di rumah, sedang waktunya makan dan persediaan nasi di magic jar tinggal sedikit, saya lebih suka makan dua batang pisang cavendish daripada memasak nasi baru.

Apakah Pisang Cavendish itu Ekonomis?

Sebetulnya banyak teman saya yang sesama ibu rumah tangga juga, sungkan beli cavendish sering-sering, karena harganya dikira mahal. Saya jawab, ya iyalah mahal, apalagi kalau ujung-ujungnya pisangnya hanya berakhir jadi pisang goreng.

Tapi kalau saya sih ngejar kadar glukosa dari pisang. Kalau mau niat menjadikan pisang sebagai pengganjal perut, saya lebih pilih pisang cavendish. Karena kadar glukosa dalam satu batang cavendish memang lebih banyak ketimbang pisang lainnya. Sebab kalau kadar glukosa darah kita sudah tinggi setelah makan, di situlah kita akan merasa kenyang.

Pisang cavendish Sunpride

Dan kalau saya beli pisang cavendish Sunpride, saya bisa pilih yang finger sedikit-sedikit. Nggak harus beli yang finger-nya banyak. Ini yang membedakan pisang cavendish dari pisang lainnya yang dijual di supermarket atau di pasar buah.

Banyak sih yang jualan pisang cavendish selain Sunpride. Dan kadang-kadang dijual lebih murah pula. Cuman saya rada awas dengan mutu pisang. Soalnya saya ngerti industri perkebunan pisang di Indonesia lumayan rada nyesek juga, thanks to hama.

(Perkebunan pisang di Indonesia, terutama jenis pisang cavendish, pernah merugi berat lantaran penyakit jamur. Dan ini nggak cuman terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lainnya yang menanam cavendish. Makanya banyak petani pisang lebih senang menanam pisang jenis non-cavendish karena pisangnya jarang kena jamur. Tetapi konsekuensinya ya itu, pisangnya kecil-kecil, plus kadar glukosanya juga cukup sedikit. Nggak bikin kenyang. Plus, banyak petani masih harus pakai pestisida untuk menekan biaya maintenance untuk mencegah hama.

Pisang cavendish Sunpride, yang saya tahu, dipanen dari perkebunan pisang unggul di Lampung dengan mutu yang dikontrol ketat. Penanamannya diatur sedemikian rupa supaya nggak sampai jamuran. Tetapi perusahaannya juga nggak main sama pestisida. Buktinya, sertifikat pisang cavendish-nya Sunpride sudah dinyatakan bebas dari organoklorin dan heavy metal.)

Makanya, saya lebih percaya dengan pisang cavendish Sunpride. Sudah free dari pestisida, kadar glukosanya tinggi, dan belinya pun ekonomis.

Kreatif dengan Olahan Pisang

Saya nggak selalu makan pisang begitu aja hanya dengan mengupas kulitnya. Kadang-kadang kalau saya lagi kreatif, ada aja kreasi makanan dari pisang yang saya bikin.

Paling gampang, pisang itu dibikin jadi smoothies. Campurin pisang cavendish dengan buah apa aja, lalu blender dengan susu, dan jadilah minuman sehat. Gini nih resep smoothies pisang saya yang paling simpel:

  1. Pisang cavendish Sunpride dipotong dadu.
  2. Campur dengan potongan buah naga. Masukkan ke blender.
  3. Oplos buahnya dengan yogurt plain. Lalu blend.
  4. Tuangkan ke gelas saji, lalu garnish dengan bubuk cokelat.

Resep saya lainnya, pisang dijadikan salad granola. Caranya begini aja:

  1. Buah naga dipotong-potong, lalu ditata rapi sampai menuh-menuhin mangkok.
  2. Pisang cavendish Sunpride dipotong dadu, tata di atas buah naga.
  3. Tuangkan Greek yoghurt ke atas buah naga. Jangan di atas pisangnya, supaya formasi pisangnya tidak jadi berantakan.
  4. Taburkan biji-bijian granola di sekitar pisang, pada sekujur mangkok sampai menutupi buah naga. Tapi jangan sampai menutupi pisang. Granola hanya sebagai garnish.

Ada lagi olahan pisang saya yang lain, yaitu pisang kacang. Resep ini terinspirasi dari tenant-tenant yang sering saya satronin di pop up market.

  1. Pisang cavendish ditusuk dengan stik es krim.
  2. Sediakan satu wadah es lilin, isi wadahnya dengan cokelat cair.
  3. Masukkan pisangnya ke dalam wadah cokelat ini, lalu angkat dan biarkan cokelatnya menetes-netes.
  4. Sediakan satu wadah isi kacang-kacangan. Gulingkan pisang cokelatnya di dalam wadah kacang ini. Sampai kacangnya menempel semua di badan pisang.

Intinya, kalau untuk keperluan makanan sehari-hari di rumah, saya pakai pisang cavendish Sunpride cluster. Tapi kalau untuk bekal jalan-jalan, saya senang pakai pisang cavendish Sunpride single.

Gimana cara Anda memilih pisang untuk makan? Share dong 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

27 comments

  1. Indira says:

    Ada suatu masa, saya makan obat harus sambil makan pisang Mbak Vicky hahaha..berguna banget ngilangin pahit obat waktu Hamil dulu.

  2. Sabda awal says:

    Sayat tiap minggu hampir selalu belie pisang, sering dikonsumsi malam Hari tuk membantu mengatasi insomnia, Saya suka pisang, buah yg enak

  3. Rahayu Asda says:

    orang banyak menyepelekan pisang, padahal pisang adalah makanan wajib jam istirahat anak-anak sekolah di amerika, benar sekali mbak, sejak saya hamil sering mulai lapar, padahal baru makan, saya suka nyetok pisang dan ngemil pisang, bentuknya juga tidak ribet, dan tidak perlu di kupas dan di potong seperti pepeya , mangga

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Mbak Ayu, terima kasih ya sudah mampir di sini.

      Sewaktu saya bersekolah di Australia, setiap hari ibu angkat saya kasih saya bekal. Bekal sekolah saya berupa snack, isinya pisang. Saya makan bekal itu pada jam istirahat bareng teman-teman saya lainnya. Ternyata mereka juga dibekali ibu mereka dengan pisang.

      Enak bekal kayak gini, memang. Nggak ribet. 🙂

  4. Artha Amalia says:

    Oalah bu dokter doyan pisang sayaaaa…masih mencoba untuk suka dan bisa makannya. Kadang ada rasa ‘jijik’ gitu, kan pisang kayak berlendir berserat gimanaaah gitu bagi saya. Hihi. Jadi masih harus saya olah dikasih tepung, digoreng terus ditaburi susu keju cokelat dulu baru bisa masuk perut. Ribet yah

  5. Bella says:

    Mba yg kulitnya totol hitam kaya gitu yang paling byk mengandung gizinya. Jadi kalo mau tambah sehat sesudah beli di simpan dulu, kalo udh totol hitam baru dimakan

  6. Ivonie says:

    Aku sukaaa banget pisang. Kalau kecil dlu seringnya makan pisang hasil panen nenek.
    Kalau sekarang pas ke spm ya bolehlah beli pisang merk ini.

  7. Ayu says:

    Tapi yang bintik2 gitu katanya yg paling baik buat dimakan, mbak. Paling banyak flavanoidnya (atau apanya gitu). Iya cavendish mah andalan lah kalo buat pisang ambon 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya butuh flavonoid memang diperlukan kalau konteks pisangnya untuk direbus. Sebab flavonoid itu adanya di kulit pisangnya. Tapi kan saya nggak makan kulit pisang, hihihih..

  8. Yeni Sovia says:

    Saya juga penyuka pisang mba. Bahkan setiap saya pulang ke rumah orang tua. Di kamar saya pasti udah disediain pisang di dalam kamar.hihihu

  9. norikoreza says:

    saya tiap hari juga ngebekelin suami 1-2 pisang..
    karena kebetulan suami punya masalah sama lambung dan harus berkala makannya, biar asam lambung nggak sampe naik..
    biasanya sih pisangnya dimakan sekitar jam 9 atau 10, dan efeknya pas jam makan siang makannya nggak dalam kondisi terlalu lapar..
    jadi perutnya lebih nyaman..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Penderita maag memang rada-rada kesulitan ngatur perutnya sendiri. Makan dalam kondisi terlalu lapar itu sangat menyiksa, sedangkan makan dalam kondisi penuh juga nyiksa. Mbak Noriko sudah bikin pilihan yang tepat dengan membekali suaminya pisang. 🙂

  10. utii says:

    kalau saya malah sering dibully. Paling males kalau lagi makan pisang terus diplototin gitu. Lalu dimulai deh, keluar anekdot seputaran pisang. Malesin.
    Tapi saya suka makan pisang

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi..pasti nyebelin nih kalau ngadepin para bullier gitu. Kok nggak ditawarin pisang aja mereka, Mbak? Siapa tahu mereka mem-bully itu sebetulnya karena ngiri kepingin pisang jugak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *