Seharian, Mereka Belajar Cara Mendidik Anak Supaya Pintar

Konferensi parenting ini penuh dengan orang-orang tua yang concern mendidik anak jadi pintar. Tetapi anak belum bisa jadi pintar, kalau pengetahuan orang tuanya masih mediocre juga.

Apa sih yang paling sering dikeluhkan orang tua kalau datang ke dokter anak? Ternyata bukan tentang anaknya yang pilek melulu. Atau anaknya yang mencret melulu.

Tapi, yang paling sering mereka tanyakan adalah kenapa anak mereka rasanya kurang daripada anak lain. Kurang tinggi, kurang gemuk, kurang ceria. Dan kadang-kadang, untuk yang masih balita, rada lamban bicara.

Orang tua yang datang ke psikolog anak, punya masalah yang lebih repot lagi. Mereka sering merasa anaknya bodoh di sekolah. Atau anaknya tukang tantrum. Atau anaknya nakal.

Kedengarannya beda dengan permasalahan yang dikeluhkan ke dokter anak, tapi sebetulnya hampir mirip. Ujung keluhannya sama: Ingin mendidik anak, lantaran merasa anaknya kurang cerdas.

Padahal cerdas itu nggak melulu tentang pintar matematika atau pintar menghafal ibukota negara. Cerdas itu juga tentang keterampilan bergaul. Cerdas juga bisa berarti kemauan menuruti aturan. Bahkan cerdas juga termasuk kepandaian untuk mau mandiri memilih bajunya sendiri.

Dan itu yang jadi alasan kenapa sebuah perusahaan susu pertumbuhan bikin acara seminar parenting. Nggak lain ya untuk membahas cara mendidik anak ini.

Rose Mini: Apa Itu Anak Cerdas?

Weekend lalu, waktu saya rada senggang, jadi saya sempatkan datang ke Konferensi Ayah Bunda Platinum. Konferensi ini adalah konferensi parenting yang diadain brand Morinaga, sebuah susu untuk Generasi Platinum. (Sudah tahu kan, kalau Morinaga ini adalah satu brand lain yang moncer dari Kalbe Nutritionals?) Lokasi konferensi ini ada di Grand City Convention Center, dan yang dateng kira-kira ratusan orang tua.

Konferensinya punya tajuk Siapkan Kecerdasan Multitalenta Si Kecil Sejak Dini. Jadi isi penyuluhannya juga nggak jauh-jauh dari urusan cara mendidik anak supaya pintar. Yaa kira-kira seperti yang diinginkan semua orang tua deh. Tapi ternyata, yang diinginkan orang tua, nggak selalu berbanding lurus dengan kebaikan masa depan si anak.

Salah satu pembicaranya, Rose Mini Agoes Salim, mulai dengan mengingatkan orang tua tentang kebiasaan buruk mereka. Antara lain kebiasaan mereka yang sering memforsir anak supaya jadi “anak cerdas menurut pendapat mereka”.

Seminar parenting
Rose Mini Agoes Salim adalah psikolog pendidikan pemilik ESSA Consulting di Jakarta. Saya sendiri hafal dengan psikolog yang satu ini lantaran tenar semenjak acara Akademi Fantasi Indosiar. Acara ini sering saya tonton ketika saya masih kuliah belasan tahun yang lalu. Orang ini tenar dengan nickname Bunda Romi.

Bu Romi cerita bahwa dia sering dapat pasien para orang tua yang mengeluh anaknya nggak cerdas. Bu Romi tanya kepada mereka, apa maksudnya anaknya nggak cerdas? Lalu orangtuanya jawab, di sekolah, nilai matematika anaknya jelek-jelek. Yah, cukup jelek kalau dibandingkan teman sekelasnya.

Belakangan Bu Romi sadar, si anak bukan bodoh dalam urusan matematik. Si anak cuman bosen dengan metode belajarnya. Lagian, orangtuanya juga rada nggak kreatif kalau ngajarin matematik.

Gegara fenomena ini, Bu Romi tampil di Konferensi Ayah Bunda Platinum ini sambil bikin games. Dia suruh para penonton menghafal aturannya: Penonton kudu dengerin dia bacakan cerita. Kalau dengar angka genap, penonton mesti tepuk tangan. Kalau dengar angka ganjil, penonton mesti berdiri.

Seminar parenting
Suasana meriah dalam seminar parenting oleh Rose Mini.
Acara ini bagian dari Konferensi Ayah Bunda Platinum 2017 di Surabaya.

Kedengarannya sepele, tapi ternyata susah. Bu Romi bacakan ceritanya panjang-panjang. Penonton mesti mendengarkan betul-betul kalau mau memenangkan game-nya. Ada penonton yang bersorak ketika dia berdiri pada saat yang benar. Ada juga penonton yang kecele karena dia tepuk tangan pada saat yang salah.

Dari sini, Bu Romi kasih tahu bahwa ngajarin anak nggak perlu ruwet. Bisa pakai game yang dia contohkan barusan.

Terbukti, game barusan menuntut anak untuk belajar berkonsentrasi. Karena anak kan harus dengar angka yang diselipkan dalam cerita. Game-nya juga melatih kemampuan memori anak. Karena anak mesti mengingat, antara kapan ia harus berdiri, kapan ia harus tepuk tangan.

Game ini bahkan bikin anak terpaksa belajar matematik. Soalnya ia harus bisa bedakan, mana angka ganjil dan mana angka genap.

Anak mana yang nggak bakal senang diajakin main beginian? Satu kali game, minimal tiga skill sudah dia dapat. Beginilah salah satu contoh permainan anak yang mendidik.

Mengajari Orang Tua Main

Morinaga memang kayaknya berusaha keras ngajak para orang tua supaya kreatif nemenin anaknya main. Brand yang satu ini sepertinya mengusung value bahwa pada dasarnya semua anak itu cerdas. Saking aja ada anak yang kecerdasannya kelihatan, tapi ada juga anak yang kecerdasannya nggak nampak kasat mata.

Lho, kok bisa? Iya, soalnya Morinaga percaya pada risetnya Howard Gardner. Psikolog pendidikan yang satu ini percaya kalau kecerdasan seseorang itu sebetulnya terdiri dari delapan macam bentuk: kecerdasan dalam musik, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan logika dan angka, kecerdasan gambar dan ruang, kecerdasan bahasa, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi, dan kecerdasan memahami alam. Morinaga bahkan mengkampanyekan satu bentuk kecerdasan lainnya, yaitu kecerdasan moral.

Berangkat dari teori Gardner ini, makanya seorang anak bisa menunjukkan kecerdasannya dalam bentuk yang beda-beda. Seorang anak bisa saja menunjukkan potensi salah satu bentuk kecerdasannya yang menonjol. Sementara potensi bentuk kecerdasannya yang lain malah kelelep.

Makanya lumrah kalau ada anak yang pintar dalam urusan angka, tapi lelet kalau sudah berurusan dengan kecerdasan gerak tubuh. Sebaliknya, ada juga anak yang kecerdasan antarpribadinya menonjol banget, tapi wassalam dalam urusan kecerdasan gambar dan ruang.

Sialnya, orang tua sering nggak paham urusan kecerdasan yang macam-macam bentuknya ini. Makanya di acara seminar ini, orang tua yang datang diajakin mengisi kuesioner dulu. Kuesioner ini untuk menganalisa, kecerdasan apa yang kira-kira menjadi kelebihan anak mereka. Termasuk juga menganalisa di mana potensi kecerdasan yang masih kurang didalami oleh si anak.

Begini nih bentuk analisa kecerdasan salah satu orang tua yang sempat saya pinjam hasil kuesionernya:

cara mendidik anak supaya pintar
Mendidik anak supaya pintar dimulai dengan menganalisa kecerdasan anak tersebut.
Pada gambar ini nampak anak sangat menonjol di bidang kecerdasan moral.
Akan tetapi anak ini masih mengalami kekurangan dalam kecerdasan interpersonal dan kecerdasan visual spasial.
Maka disarankan untuk anak ini lebih banyak distimulasi dengan bermain konstruktif dan bermain peran.

Setelah orang tua paham di sebelah mana potensi kecerdasan anak mereka yang belum terasah, orang tua dan anak diajak ke booth Multiple Intelligence Play Plan. Di sini, orang tua diajari contoh-contoh permainan yang bisa merangsang kecerdasan anaknya. Sebagai contoh, kalau anaknya masih kurang potensial di bidang kecerdasan ruang, anak bisa diajarin bikin prakarya dari benda-benda sederhana. Atau kalau anaknya masih kurang bagus di bidang kecerdasan gerak tubuh, anaknya bisa diajakin main-main dengan berolahraga.

Anda yang nggak bisa hadir di acara seminar ini, tetap bisa lho cari tahu sebelah mana kecerdasan anak Anda yang menonjol atau bahkan yang kurang dioptimalisasikan. Caranya, cukup datang aja ke website www.morinagamiplayplan.com. Isi kuesioner yang ada di sana, dan taraaa..kelihatan deh anak Anda gape atau lelet di sebelah mana.

Dan jangan lupa juga buat membuka menu Rencana Bermain. Sebab di sana juga diajarin tentang permainan apa aja yang bisa merangsang kecerdasan anaknya yang kira-kira belum optimal. Ujung-ujungnya, kalau para ayah dan bunda mencoba segala macam ide bermain di Multiple Intelligence Play Plan ini, kecerdasan anak bisa berkembang di segala sisi. Akhirnya, mereka bisa optimis akan mendapatkan anak mereka punya kecerdasan multitalenta (alias multiple intelligence).

Cerdas Itu Apa?

Bu Romi bilang, cerdas itu nggak melulu tentang matematik, tentang berbakat menjadi penyanyi, dan sebagainya. Cerdas berarti aktif, kreatif, inovatif, dan punya manner.

Tentu saja semua orang tua pasti kepingin anaknya jadi cerdas. Karena mereka mengira cerdas itu akan membawa anak ini jadi orang yang sukses.

Tetapi Bu Romi juga ngingetin bahwa orang yang sukses umumnya adalah orang yang cerdas di banyak bidang. Dengan kata lain, memiliki Kecerdasan Majemuk alias Multiple Intelligence. Makanya anak perlu dikembangkan kecerdasannya di banyak hal, bukan cuma berkutik pada kecerdasan yang itu-itu aja.

Kecerdasan yang Dibangun dalam 1.000 Hari Pertama

Bikin anak generasi platinum yang memiliki kecerdasan multitalenta ternyata bukan dimulai dari umur sekolah. Bukan juga dimulai dari usia bayi. Tapi, proses membuat anak yang pintar ini ternyata bahkan sudah dimulai semenjak si anak masih dalam kehamilan ibunya.

Seminar parenting
Ahmad Suryawan, populer di Surabaya dengan nickname Dokter Wawan, adalah kolega senior saya. Dokter Wawan ini adalah dokter ahli tumbuh kembang anak yang praktek di Surabaya.

Pembicara satunya di seminar ini, yaitu Ahmad Suryawan, bilang begitu. Dia berkhotbah bahwa masa terbaik untuk membangun kecerdasan multitalenta anak itu ialah dalam 1.000 hari pertama kehidupannya. 1.000 hari ini terdiri atas sembilan bulan ketika dia dikandung dalam rahim. Ditambah dua tahun pertama usianya ketika jadi anak-anak.

Lha kok bisa 1.000 hari pertama ini jadi masa krusial untuk bikin anak cerdas?

Sebabnya begini, untuk membangun anak yang punya kecerdasan multitalenta (alias cerdas dalam ke-9 bentuk kecerdasan di atas), ternyata butuh proses tumbuh kembang yang rumit, terencana, dan makan waktu lama. Masa ini saking rumitnya, bisa terganggu oleh macam-macam serangan yang bisa mengusik proses tumbuh kembang itu.

Lantaran proses tumbuh kembang krusial ini bisa terganggu, maka anak butuh semacam perisai perlindungan untuk menjaga dirinya. Perisai ini bisa dibayangkan seperti suatu tameng dengan tiga sisi, dan ketiga sisi ini berkesinambungan. Kira-kira gambarnya seperti ini:

Perisai pelindung tumbuh kembang anak
Perisai pelindung tumbuh kembang anak

Sisi pertama adalah perkembangan otak. Otak ini punya kumpulan serabut saraf yang sudah terbentuk semenjak dalam kandungan. Dan volume serabut saraf otak anak ini, sudah menyamai 80% volume otak orang dewasa pada saat dia berumur dua tahun.

Untuk membuat sirkuit sarafnya tumbuh dengan bagus, ada dua hal yang dibutuhkan si anak. Pertama adalah nutrisi yang memadai. Kedua, adalah stimulasi dari pengalamannya sehari-hari.

Sisi kedua adalah sistem ketahanan tubuh. Pertahanan tubuh anak ini juga sudah terbentuk bahkan semenjak masih dalam kandungan. Ketika dalam rahim, tubuh anak ini mendapatkan pertahanan berupa sel antibodi dari ibunya melalui ari-ari (plasenta). Setelah lahir, sistem pertahanan tubuhnya umumnya diusung oleh kulit, bulu mata, dan hidungnya.

Sistem lainnya yang nggak kalah krusial dalam urusan menjaga daya tahan tubuh anak ini adalah sistem kerjasama antara otak dan saluran cerna. Dan coba tebak, apa yang bikin saluran cernanya menjadi mumpuni dalam urusan sistem pertahanan tubuhnya? Yup, Air Susu Ibu alias ASI.

Ketika bayi semakin besar, sudah berumur enam bulan, sistem pertahanan tubuhnya butuh nutrisi yang lebih kompleks. Di sinilah sebabnya bayi perlu mendapatkan MP-ASI yang bergizi. MP-ASI bisa dibilang memenuhi kebutuhan anak kalau terdiri atas macam-macam zat gizi (antara lain asam amino, asam lemak, vitamin, mineral, prebiotik, dan probiotik).

Sisi ketiga adalah tumbuh kembang optimal yang mencakup pertumbuhan dan kemampuan fisik. Pertumbuhan fisik seorang anak akan perlu suatu hormon pertumbuhan. Dan hormon pertumbuhan ini berasal dari otak yang berkembang tadi. Selama fisiknya sedang tumbuh, anak mesti merdeka dari berbagai gangguan dari luar tubuhnya. Dan supaya pertumbuhan tubuhnya nggak terganggu, dia butuh pertahanan tubuh yang bagus.

Kemampuan fisiknya juga punya andil penting untuk membuat tumbuhkembangnya optimal. Ambil contoh, seorang bayi yang sudah tumbuh giginya, tentu bisa mengunyah makanan lebih baik. Dan karena dia lebih gampang makan, maka lebih gampang memasukkan zat gizi ke dalam tubuhnya. Selain itu, bayi yang tangan dan kakinya lebih aktif bergerak, akan merangsang otaknya untuk lebih banyak berpikir. Akibatnya sirkuit saraf otaknya pun makin padat dan perkembangan otaknya juga semakin optimal.

Dan, ketiga sisi perisai perlindungan ini akan kuat kalau fondasi perisai di bawahnya juga kokoh. Fondasi ini dibangun oleh kesehatan saluran cerna. Untuk mendapatkan saluran cerna yang sehat, saluran cerna ini perlu mikrobiota yang komposisinya bagus. Dan komposisi mikrobiota yang paling bagus itu terdapat pada anak yang mendapatkan ASI semenjak lahir.

Komposisi mikrobiota antara bayi yang baru lahir, berbeda dengan bayi yang sudah berumur enam bulan. Karena komposisi mikrobiotanya berubah, gizi yang diterima oleh si bayi juga mesti disesuaikan dengan saluran cerna si bayi supaya tetap bisa diserap tubuhnya. Karena akhirnya, efeknya pun akan mempengaruhi perkembangan otak, pertahanan tubuh, dan perkembangan fisik si bayi.

Lha ngapain orang tua mesti paham perisai perlindungan tumbuh kembang anak ini? Ternyata, perisai ini yang jadi dasar untuk orang tua kasih nutrisi ke anaknya.

Susu untuk Perisai Perlindungan Tumbuh Kembang Anak

Berangkat dari perlunya membangun perisai untuk melindungi tumbuh kembang anak ini, Morinaga pun jadi kreatif. Dulu, kita sering dengar Morinaga bikin seri susu pertumbuhan anak bernama Morinaga Gold. Produk Morinaga ini adalah Chil Kid Gold dan Chil School Gold. Kali ini, Morinaga bikin seri susu pertumbuhan yang lain lagi, yaitu seri Morinaga Platinum.

Ada perbedaan yang lumayan signifikan pada Morinaga Platinum ini dibandingkan seri Morinaga Gold sebelumnya. Perbedaannya tampak pada formula Moricare+ Prodiges yang diusung oleh Morinaga Platinum. Formula ini didesain buat memenuhi kebutuhan perisai perlindungan tadi.

Moricare+ Prodiges adalah formula yang merupakan aplikasi perisai pelindung tumbuh kembang anak. Sisi paling atas (berwarna kuning) berisi faktor kecerdasan multitalenta. Sisi kiri (berwarna biru) berisi faktor pertahanan tubuh ganda. Sisi kanan (berwarna hijau) berisi faktor tumbuh kembang optimal. Perisai ini berdiri di atas fondasi faktor penjaga kesehatan saluran cerna anak.
Moricare+ Prodiges adalah formula yang merupakan aplikasi perisai pelindung tumbuh kembang anak. Sisi paling atas (berwarna kuning) berisi faktor kecerdasan multitalenta.
Sisi kiri (berwarna biru) berisi faktor pertahanan tubuh ganda.
Sisi kanan (berwarna hijau) berisi faktor tumbuh kembang optimal.
Perisai ini berdiri di atas fondasi faktor penjaga kesehatan saluran cerna anak.

Begini nih komposisi Moricare+ Prodiges dari Morinaga Platinum:

  • Faktor kecerdasan multitalenta, untuk perkembangan otak. Terdiri atas omega 6 (asam linoleat), omega 3 (asam alfa linolenat), alfa laktalbumin, kolin, dan zat besi.
  • Faktor pertahanan tubuh ganda, untuk sistem pertahanan tubuh. Terdiri atas nukleotida, laktoferin, prebiotik laktulosa, serta probiotik B536 dan M16V.
  • Faktor tumbuh kembang optimal, untuk pertumbuhan dan kemampuan fisik. Terdiri atas vitamin, mineral, protein whey, kalsium, vitamin D, dan magnesium.
  • Faktor kesehatan saluran cerna. Terdiri atas Bifidobacterium B536 dan M16V.

Kelihatan ya bahwa Moricare+ Prodiges ini penuh dengan zat-zat makanan yang mencerdaskan otak?

Seri Morinaga Platinum ini bisa diperoleh dalam bentuk susu pertumbuhan. Anak yang berumur antara 2-12 tahun bisa menikmati susu ini.

Untuk anak usia 2 sampai 3 tahun, bisa minum susu Chil Kid Platinum Moricare. Orangtuanya bisa memilihkan rasa madu atau rasa vanilla. Sediaannya dijual dalam kemasan 400 gram maupun 800 gram.

Kalau anak masih dalam coba-coba susu, orangtuanya bisa pilih kemasan stick pack. Satu bungkusnya seberat 16 gram, dan kemasan satu pack-nya terdiri atas 12 bungkus.

Untuk anak yang berumur 3 sampai 12 tahun, bisa menikmati Chil School Platinum Moricare+ Prodiges. Mereka boleh memilih antara rasa madu, rasa vanilla, atau rasa coklat. Lagi-lagi, kemasannya juga seberat 400 gram maupun 800 gram.

Tentu saja di Konferensi Ayah Bunda Platinum ini juga dipasang booth untuk berjualan susu-susu untuk Generasi Platinum ini. Khusus hari itu, Morinaga sediakan Chil Kid 800 gram dalam jumlah banyak.

Dari setiap kaleng Chil Kid 800 gram yang terjual, Morinaga menyumbangkan Rp 10.000,- untuk merenovasi sekolah-sekolah dasar yang perlu perbaikan bangunan. Ini adalah bagian dari kampanye #SiapCerdaskanBangsa yang jadi program CSR-nya Morinaga.

Perhatian untuk Anak Alergi

Morinaga nggak semata-mata memikirkan penyuluhan gizi dan stimulasi bermain untuk para orang tua Generasi Platinum yang datang. Pada hari itu, Morinaga juga buka Booth Kenali Alergi untuk konsultasi orang tua yang kesulitan memberikan anaknya susu sapi.

Anda yang sering membaca kategori Medical Buffs di blog saya mungkin ingat bahwa ada sebagian anak di dunia ini yang punya alergi. Anak-anak alergi ini, terutama yang punya alergi protein susu sapi, sering kena pilek dan ruam-ruam terutama semenjak umur satu tahun. Apa pasalnya?

Sebetulnya, anak-anak ini sudah waktunya memerlukan MP-ASI. Tetapi kendalanya, mereka punya alergi protein susu sapi. Akibatnya, orang tua mereka kesusahan memberikan susu pertumbuhan kepada mereka karena tubuh mereka bereaksi menolak susu tersebut.

Anak-anak yang tidak bisa meminum susu sapi, dan kebetulan orangtuanya kesulitan menyediakan MP-ASI yang memadai, mungkin akan berlanjut jadi kekurangan gizi. Kurang gizi pada si anak ini akan bisa menyulitkan otaknya untuk berkembang. Belum lagi ditambah tubuhnya menjadi gampang kena penyakit, plus kemampuan fisiknya pun jadi terhambat. Singkatnya, perisai perlindungan tumbuhkembangnya pun roboh.

Morinaga melihat problem Generasi Platinum yang mengidap alergi protein susu sapi ini. Buat mengakomodasi mereka, di Konferensi Ayah Bunda Platinum ini dibikinlah booth Kenali Alergi.

Di booth ini, orang tua bisa mencari tahu apakah anak mereka kira-kira alergi atau tidak. Jadi, mereka bisa mendapatkan solusi tentang apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi alergi anak mereka.

Untuk anak-anak yang punya alergi protein susu sapi, mereka memberikan solusi nutrisi berupa susu kedelai seri Morinaga Soya. Sama seperti seri Morinaga Platinum, Morinaga Soya ini juga berisi formula Moricare+ Prodiges. Hanya saja, bahan untuk Morinaga Soya ini bukan protein susu sapi, melainkan protein kedelai.

Untuk anak berumur 2 sampai 3 tahun, bisa diberikan produk susu Chil Kid Soya. Kemasannya sendiri dijual seberat 300 gram maupun 600 gram. Sedangkan anak yang berumur 3 sampai 12 tahun, bisa menikmati Chil School Soya kemasan 300 gram.

Tetapi, jika anak juga mengidap alergi terhadap protein kedelai, Morinaga juga memberikan solusi lain. Mereka menyediakan seri Morinaga P-HP (akronim P-HP ini singkatan dari partially hydrolized protein).

Produk dari seri Morinaga P-HP ini berupa Chil Kid P-HP. Kemasannya sendiri seberat 400 gram maupun 800 gram.

Tetapi di ekshibisi Konferensi Ayah Bunda Platinum ini, panitianya sedang tidak menjual seri Morinaga Soya maupun Morinaga P-HP. Cuma dipajang contoh produk susunya saja.

Hari yang Edukatif untuk Orang Tua

Acara seminar Konferensi Ayah Bunda Platinum ini menjadi acara yang padat buat para pengunjungnya. Para ayah dan bunda bisa menikmati konferensi seharian penuh. Itu pun sambil berkonsultasi parenting di booth Morinaga Mi Playplan untuk mendapatkan tips agar anak cerdas. Bisa sekalian ngecek alergi juga di booth tes alergi. Plus dapat solusi juga tentang nutrisi yang mereka perlukan buat bikin anak mereka. Banyak banget pengunjung yang percaya bahwa pelajaran gizi yang mereka dengarkan itu bisa bikin anak mereka tumbuh dan berkembang dengan moncer.

Bahkan orang tua yang anaknya belum hadir alias masih hamil, malah bisa mendapatkan penyuluhan juga di booth yang menjual Prenagen Juice.

Banyak banget orang tua yang datang sambil bawa anak mereka. Para Generasi Platinum ini bisa gegayaan di photobooth yang sudah disediakan panitia. Ada yang pasang pose lagi bertualang, ada yang pasang pose lagi pura-pura membakar marshmallow. Maklum, soalnya photobooth-nya sendiri bertema anak yang lagi eksplorasi alam.

Saya bahkan ngabisin waktu saya motret anak-anak yang bermain di bak pasir dan main perosotan di playland mini. Ada juga yang sibuk mencoret-coret papan dengan krayon dari panitia. Beberapa anak kabur dari booth Mi Playplan sembari membawa mainan pita-pitaan. Stimulasi kecerdasan Generasi Platinum ada di mana-mana.

Di area konferensi sendiri, panitia bahkan unik membagi-bagi tempat duduk para penonton. Area penonton dipecah menjadi empat area, yang mana masing-masing area menggambarkan concern utama dari para orang tua.

Orang tua yang penasaran dengan kecerdasan otak anaknya, didudukkan di deretan bangku berpita oranye di sisi kiri depan. Sedangkan orang tua yang sering mengeluh anaknya gampang sakit pilek atau batuk, dikumpulkan di bangku berpita biru di sisi kiri belakang.

Sementara itu, orang tua yang bingung karena merasa pertumbuhan anaknya terhambat, boleh duduk di bangku berpita hijau di sisi kanan depan. Dan, orang tua yang anak-anaknya sering mencret maupun sembelit, berkumpul di bangku berpita merah di sisi kanan belakang.

Dan tengah-tengah bangku penonton, sebuah panggung catwalk membelahnya sehingga Bu Romi maupun dr Wawan bisa menyapa semua golongan audiens.

Dalam pendapat saya pribadi, ada bagusnya juga penonton dikelompokkan seperti ini. Orang-orang dengan minat kekhawatiran yang sama, bisa berkumpul dan membicarakan keluhan mereka bareng-bareng. Mendiskusikannya bareng-bareng bikin mereka bisa kreatif mengumpulkan ide,  yang ujungnya bisa menyelesaikan masalah (anak) mereka juga.

Karena itu, nggak lebay juga kalau panitia menyebut acara seminar parenting ini sebagai konferensi.

Sebetulnya, setiap anak sudah lahir dengan potensi kecerdasan masing-masing, yang mereka bawa sejak dalam kandungan. Dalam perjalanannya menjadi anak, ada bentuk kecerdasan mereka yang menonjol, tapi ada juga bentuk kecerdasan mereka yang belum kelihatan.

Orang tua punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi ke-9 potensi kecerdasan anak mereka. Yang kalau semua potensinya berhasil, anak ini akan jadi generasi platinum multitalenta.

Untuk bisa memaksimalkan semua potensinya ini, anak butuh perisai pelindung tumbuh kembang dalam 1.000 hari pertama kehidupannya. Plus, stimulasi untuk kecerdasannya yang dibangun melalui bermain secara kreatif dan menyenangkan.

Apa kesulitan Anda dalam membuat anak Anda jadi pintar? Gizi yang minus, atau kesempatan bermain yang langka? Share yuk di kolom komentar 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

16 comments

  1. Ahh.. Saya jadi pengen banget ikut acara ini.. Dibanjarmasin kapaaan?? Huhu..
    Saya setuju banget sm bunda romi ttg kecerdasan multiple.. Bukan spesial pd satu bidang..
    Pernah suatu hari orang bilang sm saya. Berarti kejam ya anak harus bisa semua. Ya sy bilang aja “bkn gituu tp setidaknya dy mengerti dg ‘standar’ berbagai bidang. Setelah semuanya sudah standar sy bs tau dy menonjol dmn..”
    Dan aku merasa terwakilkan sama artikel iniii…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Mbak Aswinda. Rasanya sudah berlangsung acara Konferensi Ayah Bunda Platinum di Banjarmasin tanggal 16 September yang lalu. Di Hotel Golden Tulip.

      Jika Mbak Aswinda ingin dikabari tentang konferensi ini lagi lain kali di Banjar, bisa Mbak follow socmednya Morinaga Platinum ya. 🙂

  2. Ardiba says:

    Pintar atau nggaknya sepertinya cukup subyektif ya. Kadang ortu panik anaknya kurang pintar krn kurang dibanding teman2nya. Padahal siapa tahu memang bkn itu kecerdasannya, dan kecerdasannya di bidang lain justru jd kelelep…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Orang tua yang panik umumnya melihat kemampuan anak berdasarkan tolok ukur yang dibikin sendiri oleh orangtuanya. Padahal kalau mereka mau melihat anak dari sisi yang berbeda, mereka akan bisa melihat potensi kecerdasan anak itu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Definisi sukses bukan orang yang mencapai spesialisasi di bidang tertentu. Definisi sukses kini adalah orang yang bisa mencapai inteleigensi di banyak bidang (multiple).

      Contohnya, seseorang yang bermain musik dengan bagus, bisa dibilang punya kecerdasan musikal. Tapi ia belum bisa sukses kalau ia hanya bisa main biola, tanpa punya kecerdasan interpersonal. Karena ia butuh kecerdasan interpersonal itu untuk mengkomunikasikan kemampuan main biolanya kepada orang lain. Mosok dia main biola hanya untuk memuaskan dirinya sendiri? Memangnya dia nggak cari makan?

      Contoh lain, seseorang ini ahli masak, tahu mana masakan soto yang enak di lidah, mana masakan yang nggak enak, bisa disebut punya kecerdasan intrapersonal. Tapi kalau dia tidak punya kecerdasan logika matematika, dia tidak akan bisa menghitung bagaimana beli bahan soto yang murah. Sehingga lama-lama dia bangkrut karena sibuk masak soto untuk dirinya sendiri, tapi dia menghambur-hamburkan uang untuk beli koya dan kunyit secara berlebihan.

      Begitulah contoh sederhananya kegunaan punya kecerdasan multipel.

  3. Nining says:

    “Cerdas berarti aktif, kreatif, inovatif, dan punya manner.”

    Punya manner…last but not least. Setujuuu banget 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *