Compound Chocolate yang Mencintai Penggemarnya

Suatu ketika saya iseng bertanya kepada seorang juragan toko cokelat dari komunitas Langsung Enak. Bagaimana cara dia mempertahankan supaya cokelat dagangannya tetap enak di lidah para pelanggan?

Ternyata kunci jawabannya, jangan pernah gonta-ganti bahan. Konsumen yang langganan ke dia akan tahu bedanya jika dia mengganti bahannya. Dan kalau sampai mereka tidak suka rasanya yang berubah, itu malapetaka. Sebab pelanggan akan memilih beli cokelat yang sama di tempat pedagang saingan.

Persoalan bahan ini akan jadi pelik bagi para pedagang snack pemula. Apalagi mereka yang baru saja mulai bikin usaha online shop kecil-kecilan.

Masalahnya, produknya yang terjual belum tentu ada sekilo dalam seminggu. Padahal bahan bakunya bisa cepat rusak kalau tidak buru-buru dipakai produksi.

Untuk para pengusaha rumahan, penyimpanan bahan baku untuk kue adalah problem tersendiri. Penyebab klasiknya, “nggak ada tempat”. Kalau bahan bakunya masih disimpan dengan menumpang kulkas rumah tangga, tentu lama-lama nggak efisien. Bahkan, bisa mengganggu urusan makan keluarga sehari-hari.

Ada juragan toko cokelat lainnya dari komunitas itu yang juga membenarkan pendapat saya. Dia sendiri omzetnya belum terlalu banyak. Sebab, dia masih ngerjain online shopnya sendiri tanpa bantuan asisten. Untuk beli bahan baku cokelat, dia nunggu ada pesanan datang dulu.

Customer dia rerata masih alay-alay, yang sekali pesan langsung minta macam-macam varian cokelat. Padahal masing-masing varian dia cuma pesan sedikit-sedikit. Ini rada ngerepotin sang penjual toko lho. Sebab dia terpaksa kulakan bahan bakunya ya sedikit-sedikit juga.

Padahal dalam kasus cokelat, bahan baku cokelat itu  dijualnya secara kiloan, bukan ons-ons-an.

Untungnya, dia bisa nemu bahan baku berupa compound chocolate versi blok yang kemasannya kecil-kecil. Pokoknya kemasannya nggak sampai kiloan deh. Untuk pedagang kecil, kalau pun pesanan produknya nggak terlalu banyak, mereka masih selamat. Sebab dia nggak perlu melihat sisa bahan baku jadi rusak di tempat penyimpanan.

Colatta, contohnya, adalah salah satu merk compound chocolate yang laris manis. Penyebab larisnya ini ya karena produknya terjual dalam kemasan kecil-kecil. Yang menyenangkan, kemasan brand yang satu ini gampang banget ditemuinnya di supermarket. Istilahnya sih, terjangkau oleh orang-orang yang baru mulai bisnis cokelat kecil-kecilan.

Pabriknya cokelat Colatta melihat para pedagang cokelat ini sebagai pengguna setia produk mereka. Karena itu, mereka nggak menyia-nyiakan peluang ini untuk mengelus-ngelus para konsumen loyal. Caranya gimana?

Saban tahun, PT Gandum Mas Kencana, produsennya Colatta, mengumpulkan para penggemarnya. Lalu mereka menjamu mereka dengan ciamik. Termasuk tahun ini, saya pun dapet kesempatan untuk haha-hihi dengan para penggemarnya Colatta.

Colavers

Bulan ini, saya datang ke acara kumpul-kumpulnya para Colavers di Surabaya. Colavers ini adalah sebutan buat komunitas pengguna Colatta yang dihimpun via Grup Facebook.

Cokelat Collata
Acara perkumpulan konsumen cokelat Collata di Surabaya, September 2017.

Diadakan tanggal 9 September 2017, acara ini mengambil tempat di restoran Wok n Tok. Tahu kan ya, Wok n Tok ini adalah sebuah restoran di Hotel Yell-O, Surabaya. Yang datang rerata adalah pedagang toko cokelat. Mereka beroperasi menjual praline-praline mereka di online shop.

Colatta menamai acara ini Sweetoday. Namanya berasal dari kata sweets, yang artinya sebetulnya adalah dessert yang rasanya manis-manis. Today artinya kekinian. Jadi, Sweetoday artinya manisan-manisan yang kekinian.

Dan acara Sweetoday ini merupakan yang keempat kalinya diadakan oleh PT Gandum Mas Kencana.

Sebetulnya tujuan utama acara ini adalah memperkenalkan Colatta Fineza. Fineza ini adalah dark compound chocolate yang merupakan produk baru Colatta.

Compound chocolate dari cokelat Colatta
Produk compound chocolate berupa cokelat Colatta Fineza

Tetapi Colatta berusaha keras supaya konsumennya mau nyoba varian cokelat blok mereka ini dibandingkan cokelat mereka sebelumnya. Maka dikemaslah acara launching produk ini dalam sebuah demo masak.

Ada dua chef yang ditanggap buat membawakan demo masak ini. Nanti saya ceritakan serunya ya. Untuk sementara, tonton sekilas acaranya dalam video 1 menitan ini:

 

Cara membuat klepon enak
Deny dan Dino, dua chef yang ditunjuk oleh Colatta mendemokan cara membuat klepon enak yang berisikan cokelat Fineza
Trend Praline Zaman Sekarang

Sebagian dari kita mungkin cuma pilih-pilih aja di toko kue. Boro-boro deh tahu bagaimana suatu praline itu dibikin.

Praline dibikin dari dark compound chocolate yang dilelehkan dalam suatu kukusan. Kemudian lelehannya itu dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah itu, cetakan yang sudah berisi cokelat leleh ini dibekukan di kulkas. Kalau sudah beku, baru dijual.

Ada masalah lain yang lebih pelik dalam urusan percokelatan selain urusan kuantitas bahan baku. Problem lainnya dalam memilih bahan untuk praline adalah urusan rasa juga. Konsumen online shop yang mau beli praline, rata-rata sekarang kepingin cokelat yang teksturnya creamy di mulut. Mereka senang cokelat yang nggak lengket di langit-langit.

Problem penampilan produk juga jadi prioritas utama para pedagang praline. Apalagi kalau sudah di-display di etalase. Praline-praline yang dijual di toko offline rerata mesti bersaing dalam urusan kemasan.

Konsumen toko biasanya lebih tertarik dengan praline-praline yang nampak mengkilat di showcase. Sehingga, para juragan toko pun mesti kerja keras memperbaiki lighting toko mereka. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk bikin produk mereka nampak menarik.

Mereka juga kepingin produk mereka tetap kelihatan cantik difoto. Termasuk juga meskipun produknya sudah nggak berada di toko mereka lagi. Karena itu, membuat praline yang nampak glazy pun, sekarang lebih diutamakan.

Trend begini yang sekarang disorot oleh Colatta, sehingga mereka merilis Fineza. Fineza ini adalah dark compound chocolate yang diklaim bisa bikin praline yang nampak lebih shiny. Serta rasanya pun lebih creamy dan milky.

Selain sebagai praline cetakan seperti umumnya, lelehan Fineza ini juga bisa digunakan sebagai hiasan kue atau sebagai isian dalam kue.

(Komposisi Fineza: gula, cacao butter substitute, bubuk kakao, massa kakao, soya lecithin sebagai emulsifier, dan perisa vanila artifisial.)

Fineza dalam Klepon Enak

Semula saya kirain demo masak ini bakalan lama. Pasalnya sejak awal saya dibocorin informasi bahwa menu yang ditunjukkan dalam demo masak ini adalah kue.

Tetapi ternyata menu yang didemokan kali ini adalah klepon. Hah? Iya, cemilan dari tepung beras a la Gempol itu. Yang biasanya saya beli kalau lagi mudik ke Malang atau ke Kreyongan. Dan keluarga saya di tempat tujuan pun nggak kebagian klepon. Karena klepon enak itu sudah keburu saya abisin di jalan. Lha mesti saya abisin, sebab takut kleponnya keburu hancur sebelum tiba di tempat tujuan.

(Kalau Anda bukan penduduk Jawa Timur, mungkin saya perlu ceritain dulu. Yang namanya klepon itu adalah bola-bolaan yang dibikin dari tepung. Bikin klepon itu dimulai dari tepung ketan dan tepung beras dicampur air, lalu diisikan gula merah. Bola-bolaan ini direbus sebentar, lalu dilumuri kelapa parut, kemudian dimakan. Penjualnya sering mewarnai kleponnya dengan macam-macam warna dari pasta.)

Klepon ini nggak tahan lama karena sering banget gula merah dalam klepon ini berair. Sehingga bentuknya gampang jadi hancur. Untuk dijual dalam jumlah berkardus-kardus pun susah, karena problem gampang hancurnya ini. Padahal sayang ya, karena klepon ini kan jenis kue tradisional yang layak dilestarikan.

Fineza pun melihat kelemahan resep klepon ini dan bikin inovasi. Gimana kalau isian klepon ini jangan gula merah, tetapi isinya diganti jadi cokelat? Klepon yang berisi cokelat akan lebih padat, dan padatnya pun lebih lama. Sehingga ketika tiba di tempat mudik pun tampangnya masih cantik. Dan bentuknya nggak malu-maluin untuk jadi oleh-oleh.

Resep klepon
Klepon yang menjadi bintang utama dalam perilisan cokelat Fineza. Lihat resep klepon di bawah ya.

Begini nih cara membuat klepon isi cokelat:

Bahan kue klepon:

  • 250 gram tepung ketan
  • 50 gram tepung beras
  • 235 ml air
  • 8 gram garam
  • 2,5 gram pasta pandan
  • 2,5 gram pasta stroberi
  • 75 gram dark compound chocolate
  • 25 gram kelapa parut kering

Cokelatnya dicincang dulu kecil-kecil.

Tepung ketan dan tepung beras dicampur air dan garam hingga menjadi adonan. Adonan ini dibagi dua, sebagian dicampur pasta pandan. Sebagian lagi dicampur pasta stroberi. (Kalau Anda senang rasa lainnya, tinggal ganti pastanya aja.)

Bulatkan adonan menjadi bola-bolaan. Isi bola-bolaan dengan cincangan cokelat, lalu rapikan lagi sampai jadi bulat seperti bola bekel.

Cara memasak klepon:

Rebus satu per satu kleponnya sampai mengapung di air (kira-kira butuh waktu tiga menit sampai mengapung. Diamkan 1 menit di air, lalu angkat dan tiriskan.)

Lumuri bola-bolaan warna-warni yang sudah kering ini dengan kelapa parut. Maka klepon pun sudah jadi dan siap dimakan.

Kira-kira resep ini cukup untuk 15 butir klepon.

Kue tradisional
Chef membimbing para penonton untuk membuat klepon berisi cokelat. Isian cokelat membuat klepon sebagai kue tradisional ini naik kasta.

Di acara ini, chef-chef yang ditanggap Colatta membuat klepon ini secara cepat. Mereka bahkan pasang gimmick segala dengan memanggil dua orang penonton ke atas pentas. Mereka yang dipanggil ini ditanggap untuk belajar masukin cokelat menjadi isian klepon. Plus mengulenin adonan bola-bolaan klepon itu supaya menjadi kalis.

Memang akhirnya terbukti sih. Dengan dipakainya Fineza sebagai isian klepon, kleponnya jadi terasa padat dan kenyal.

Coconut Hokkaido Pandan Chiffon Cake

Ada lagi menu yang didemokan di demo masak ini, yaitu coconut Hokkaido  pandan chiffon cake. Ini jadi resep unggulan Colatta juga lantaran bahan utamanya sendiri adalah tepung kue Haan. Haan ini juga brand milik PT Gandum Mas Kencana lho. Saya sih sudah biasa pakai tepung Haan, terutama untuk bikin es krim di rumah.

Hokkaido cake ialah kue yang lumayan trendy di Jepang sana. Para juragan kue homemade di Indonesia doyan banget meniru bikin kue ini. Umumnya chiffon dicetak dalam bentuk cupcake, dan sering laris jadi bahan rebutan untuk pesta-pesta.

Pandan chiffon cake
Pandan chiffon cake

Resep Hokkaido chiffon ini juga simpel aja:

Bahan-bahan:

  • 1 paket tepung chiffon cake rasa pandan
  • 11 butir telur
  • 160 ml air
  • 90 ml minyak sayur
  • 225 gram gula pasir
  • 500 gram santan
  • 4 lembar daun pandan
  • 0,5 sendok teh garam
  • 150 gram gula
  • 20 gram tepung maizena

Anatomi Hokkaido chiffon cake ini dibangun dari kuenya sendiri, lalu diisi dengan maizena. Menurut saya sih, kita mendingan bikin isiannya dulu. Karena bikin isian itu lumayan makan waktu ketimbang bikin kuenya dulu.

Membuat isian chiffon cake dimulai dengan merebus santan dalam 100 ml air. Lalu dimasukkan 150 gram gula, daun pandan, dan garam. Sementara itu, ambil telur sebanyak empat butir telur. Lalu yolk kuningnya dipisahkan dari putih telurnya.

Ketika santan rebusan itu sudah mendidih, matikan api. Lalu masukkan kuning telur tadi, kemudian aduk. Lalu masukkan tepung maizena, dan saring. Jadilah bahan isiannya, kemudian dinginkan.

Sementara itu, sisa telur lainnya dicampur dengan tepung chiffon cake dan 60 ml air. Sisa gula yang tinggal 75 gram tadi boleh dimasukkan. Kocok campuran ini dengan kecepatan tinggi selama 10 menit.

Kalau sudah, tambahkan minyak sayur ke dalam adonan, lalu kocok dengan kecepatan rendah. Kocok selama 1 menit, sampai adonannya rata.

Masukkan ke dalam cetakan mangkok supaya jadi cupcake. Bolongi dengan plunger (dalam kasus saya sih, bisa pakai spuit yang sudah dicopot jarumnya :p). Isi dengan isian santan tadi. Lalu panggang sampai matang, kira-kira sampai 30 menit.

Setelah matang, kue bisa didinginkan. Bahkan kalau kita mau, bisa kita hias dengan whipped cream.

Dengan menggunakan 1 paket tepung chiffon cake dari Haan, kita bisa mendapatkan 20 sampai 25 mangkok Hokkaido chiffon cake.

Ramai, Tapi Sempit

Acara ini sebetulnya bagus lho. Sebab, para konsumen Colatta akhirnya bisa berkumpul untuk diskusi. Selama ini kan mereka cuma bertemu di dunia maya sembari tuker-tukeran resep. Hanya saja, pencahayaan restoran kurang sip. Akibatnya jarak pandang penonton terhadap demo masak jadi kurang optimal.

Saya masih untung. Lantaran saya sebagai blogger yang bertugas untuk siaran ini bisa duduk paling depan.

Tapi saya sendiri nyaris ngantuk di awal-awal. Pasalnya, demo masak ini masih didahului acara sharing dari blogger lokal tentang cara memotret makanan. Tidak banyak pengetahuan baru yang bisa saya serap dari acara sharing ini.

Mudah-mudahan kalau lain kali Colatta bikin gathering lagi dan kepingin membahas topik yang sama, bisa menanggap food photographer yang lebih profesional. (Atau setidaknya, fotografernya sudah biasa ngoceh di depan publik). Toh jumlahnya banyak banget di Jawa Timur.

Colatta sungguhan kepingin menyenangkan para konsumen yang datang dengan banjir door prize di sana-sini. Hadiahnya aja yang paling besar adalah alat bikin kue. Cocoklah buat para penggemar Colatta yang rerata memang juragan kue.

Apakah Anda senang bikin cokelat di rumah? Kasih tahu dong merk cokelat batangan favorit Anda. Apa alasannya?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. fm says:

    hmm ibu dulu kadang beli colatta atau vanhouten. Saya mah apa yg lagi diskon #anaknyagakpemilih #Plakk (terakhir beli Pasha. Kayaknya nggak dark beneran sih, lumayan manis, ya masih bisa dimakan lah)

  2. Shinta says:

    Wah asik, ada resep resepnya. Aku catet yaakk
    Aku juga usernya collata, selalu pake itu klo mau bikin coklat. Paling enak sih ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *