Deteksi Dini Kanker Serviks tanpa Menunggu Keputihan

Periksa kesehatan organ intim adalah urusan yang kerap kali bikin wanita sungkan tapi rindu. Rindu karena kepingin sehat dan tidak mau kena penyakit macam-macam. Sungkan karena membayangkan diperiksa saja sudah bikin mules.

Perempuan yang Kesakitan

Dulu saya juga mengira diri saya selalu sehat-sehat saja. Sampai kemudian saya bekerja di rumah sakit milik pemerintah.

Di rumah sakit itu, ada suatu bangsal yang selalu sulit terima pasien untuk diopname. Bangsal itu ialah bangsal penyakit kandungan. Alasan mereka adalah, ruang rawat inap mereka selalu penuh.

Yang bikin ruang rawat khusus perempuan ini selalu penuh bukanlah pasien-pasien yang melahirkan. Tetapi yang selalu bikin full house adalah pasien penyakit kanker organ kandungan. Terutama pasien penyakit kanker serviks, alias kanker mulut rahim.

Membicarakan kanker serviks ini merupakan fenomena yang unik dibandingkan kanker-kanker lainnya. Sama-sama penderitanya kebanyakan baru ketahuan setelah sudah stadium parah.

Bedanya, kanker lain ketahuan karena penderitanya mau cepat periksa. Tetapi kanker serviks berbeda; penderitanya bisa mengidapnya selama bertahun-tahun, sadar bahwa dia sedang sakit. Tetapi dia tidak mau periksa dengan sukarela karena alasan klasik, dia sungkan.

Ambil saja contoh kecil, misalnya kanker paru atau kanker payudara. Orang bisa menderita kanker paru dengan batuk-batuk yang tiada henti, sehingga cukup membuatnya mau menyeret kaki ke dokter. Orang menderita kanker payudara, sadar bahwa benjolan di payudaranya membuatnya gelisah. Sehingga ia mau sukarela memeriksakan diri ke dokter.

Tapi kanker serviks? Gejala kanker serviks hampir selalu dimulai dengan keputihan atau vagina yang berbau.

Akibatnya, belum apa-apa penderitanya sudah risih sendiri. Ia malu pada dirinya sendiri, malu untuk bercerita kepada suaminya. Mengadu ke dokter? Lebih malu lagi.

Padahal, justru saat vagina sudah mulai berbau pada penderita kanker serviks ini, sel kanker sudah menyebar jauh pada serviks. Inilah pertanda kanker sudah menginjak stadium lanjut.

Kalau kanker serviks sudah sampai di stadium lanjut begini,Β  cukup sulit mengharapkan penderitanya bisa bertahan hidup lama. Definisi bertahan hidup lama itu ya dalam waktu lebih dari lima tahun lah.

“Saya Masih Muda, Nggak Akan Kena Kanker Serviks”

Ah, siapa bilang?

Penyebab kanker serviks ialah kuman Human Papilloma Virus yang merusak sel-sel serviks. Perempuan-perempuan yang kena virus ini beragam, tapi usianya mulai sejak 10 tahun. (Usia Anda berapa?)

Kanker serviks tidak begitu saja sekonyong-konyong muncul. Proses perjalanannya makan waktu bertahun-tahun. Mulai dari penderitanya terkena virus Human Papilloma, kemudian virus itu merusak sel-sel serviks dan jadi sel kanker.

Butuh agak lama supaya sel-sel kanker ini bisa menimbulkan gejala. Gejala ini antara lain keputihan berbau, kadang-kadang berdarah.

Namun jika kerusakan serviks oleh sel kanker ini dibiarkan saja, maka bahaya kanker serviks tersebut ialah sel kanker yang menyebar ke bagian tubuh lainnya. Tempat tujuan sebarannya bisa berupa saluran kencing, saluran feses, liver, tulang, bahkan paru.

Contoh kecilnya ialah bila kita menemukan tetangga yang menderita kanker serviks dan mengeluh bahwa pipisnya diam-diam sering berdarah. Bolehlah kita curiga bahwa kanker serviksnya sudah menyebar ke kandung kemihnya.

Kanker Serviks Mempengaruhi Seluruh Keluarga

Bagian yang tidak kalah dibikin repot juga adalah keluarga penderitanya. Meskipun judulnya kanker serviks ini hanya menyerang penderita, tetapi dampaknya juga luar biasa mempengaruhi keluarganya.

Suami penderita kanker serviks harus berkorban karena istrinya sulit berhubungan pasutri. (Sebab bagaimana mau berhubungan jika sang istri punya gejala keputihan berbau terus-terusan?)

Penderita kanker serviks yang sudah telanjur masuk ke stadium lanjut akan harus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup. Padahal untuk kemoterapi itu ia harus menginap di rumah sakit selama berhari-hari. Menginap berlama-lama ini lumayan menguras waktu dan biaya bagi keluarganya untuk mendampiinginya.

Jadi, menderita kanker serviks tidak saja menguras kesehatan sang penderita. Tetapi juga cukup merusak hajat hidup keluarganya.

Sayang ya? Padahal perempuan adalah penopang hidup lahir batinnya keluarga.

Apakah parahnya kanker serviks ini bisa dicegah?

Tentu saja bisa.

Penderita tidak perlu menunggu sampai kanker serviksnya menginjak stadium lanjut supaya bisa ketahuan (terdiagnosis) dan diobati. Jika kanker serviks sudah ketahuan ketika baru stadium pertama saja, penderitanya bisa lebih cepat ditolong. Sehingga, dia juga bisa bertahan hidup lebih lama.

Perempuan juga tidak perlu menunggu gejala keputihan berbau dulu untuk bisa mengetahui, apakah dirinya mengidap kanker serviks atau tidak. Cara mendeteksi kanker serviks ialah cukup dengan melakukan pemeriksaan pap smear sedini mungkin.

Pap smear adalah
Pemeriksaan pap smear yang dikerjakan sambil kolposkopi. Gambar diambil dari sini.

Pap smear adalah pemeriksaan untuk mengevaluasi serviks. Tujuan utamanya adalah mengetahui apakah bentuk sel-sel serviks masih normal atau sudah berubah menjadi tidak normal. Sel serviks yang nampak abnormal merupakan pertanda sudah berubah menjadi sel kanker.

Pap smear ini bisa dilakukan di klinik-klinik yang dikelola oleh dokter. Cara melakukan pap smear adalah dilakukan kolposkopi dulu. Di sini, pasiennya berbaring dan dilihat vaginanya menggunakan semacam lensa. Di sini kondisi serviks akan dievaluasi (contoh hasil penglihatannya bisa dilihat di gambar di bawah).

Kanker mulut rahim
Contoh hasil pemeriksaan kolposkopi pada serviks yang menunjukkan kanker serviks.

Early Stage IB (kanker serviks stadium IB menunjukkan sel kanker mulai mencemari serviks (ditandai bercak warna putih pada serviks yang seharusnya hanya berwarna merah muda).

Late stage IB (kanker serviks stadium IB lanjut) menunjukkan sel kanker sudah mencemari seluruh serviks).

Stage II (kanker serviks stadium IIB) menunjukkan sel-sel kanker sudah merembes ke dinding rahim dan menimbulkan pendarahan. Gambar diambil dari sini

Lalu dinding serviks dicolek untuk diambil contoh selnya. Kemudian, colekan ini diperiksa di laboratorium.

Cara melakukan pap smear
Cara melakukan pemeriksaan pap smear: Sebuah sikat sangat kecil masuk ke dalam serviks, lalu dicolekkan ke dinding serviks.
Sikat dikeluarkan dari serviks dan colekannya diperiksa di laboratorium. Gambar diambil dari sini.

Jika hasil pap smear tidak menunjukkan kerusakan sel serviks, bisa dibilang perempuan ini tidak menderita kanker serviks. Namun jika hasil pap smear menunjukkan perubahan sel serviks yang signifikan, penderitanya bisa dikategorikan dicurigai mengidap kanker serviks. Dan, ia akan disarankan mengobati dirinya lebih lanjut, sesuai tingkat keparahan hasil pemeriksaan.

Yang perlu diketahui, tidak selalu penderita yang mengalami kanker serviks stadium awal itu pasti akan mengeluh keputihan. Sebagian besar malah nampak sehat sentosa, seperti tidak terjadi apa-apa.

Sekarang ini, memeriksakan kesehatan organ intim itu nggak perlu malu-malu. Cukup menemukan dokter yang nyaman untuk dikonsultasikan, lalu lakukan check up termasuk pap smear. Dan kita bisa mengetahui apakah badan kita ini, termasuk organ intim kita, sehat atau tidak.

Apabila kita ternyata memang tidak sehat, selalu ada jalan untuk menolong diri kita sendiri lebih cepat. Asalkan penyakitnya dideteksi sedini mungkin.

Perempuan harus sehat. Sebab, perempuan adalah tulang punggung untuk masyarakat, keluarga, dan untuk dirinya sendiri.

Deteksi dini kanker serviks

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

17 comments

  1. RayaMakyus says:

    Halo mbak Vicky, tulisannya menginspirasi sekali. Berbicara masalah papsmear sudah dari dulu saya ingin mencoba. Gateel banget rasanya pergi ke dokter apalagi cerita org2 yg sudah di papsmesar tak seseram yang saya bayangkan.

    Sejujurnya saya trauma jika mau papsmear karena tindakannya 11-12 dengan kuretase,hehehe. Membayangkan saja saya sudah mual dan untuk papsmear dan meminta di bius total pastinya dokter tidak mengizinkan dong ya? :D..

    Namun membaca tulisan mbak Vicky saya jadi tertantang untuk papsmear, betul kata mbak, karena perempuan adalah tiang keluarga, maka perempuan harus sehat πŸ˜‰

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Halo Raya πŸ™‚

      Enggak, enggak, enggaaak..papsmear itu nggak sama dengan kuretase, hahahaa..

      Kuretase itu bisa dibayangkan begini, ambillah sebutir kelapa, lalu kuret seluruh isi dagingnya sampai licin tandas. Nah, itu kuretase.

      Tapi pap smear? Ambillah sebutir kelapa, lalu BELAI dagingnya dengan menggunakan SIKAT GIGI sebanyak 3x. Belainya juga cuma 1 cm. 1 cm!

      Nah, beda kaan?

  2. Erny Kurnia says:

    Aku pengen banget periksa deteksi dini kanker serviks. Tapi aku masih gadis dan dokter nggak mau melakukan pemeriksaannya. Nah, kalau kaya gitu gimana ya mbak

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Erny, pertanyaanmu sama dengan pertanyaan Olivia sebelumnya. Silakan dilihat jawabannya di sana ya πŸ™‚

      Oh ya, sehubungan kanker serviks ini terjadi akibat virus Human Papilloma ya, dan virus ini ditularkan (sebagian besar) melalui hubungan seks, maka umumnya yang belum berhubungan seks akan sulit sekali tertular HPV. Akibatnya, yang belum berhubungan seks pun juga jarang sekali yang kena kanker serviks.

      Tetapi tidak menutup kemungkinan mereka yang masih gadis bisa mengidap kanker serviks melalui cara lain. Namin kemungkinan ini sangat kecil sekali.

  3. Olivia says:

    Hi mba terimakasih sudah berbagi ilmu, apakah pap smear itu hanya dilakukan oleh perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual kah? atau untuk semua perempuan?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Olivia, terima kasih ya udah mau baca halaman ini.
      Sebetulnya teorinya pap smear dianjurkan untuk semua perempuan di atas usia 21 tahun, baik yang sudah berhubungan seks atau belum.
      Bagi yang sudah berhubungan seks sebelum umur itu, sangat dianjurkan sekali.

      Tetapi di negara Indonesia, rerata dokter kandungan maupun bidan yang bersedia mengerjakan pap smear masih lebih senang melakukannya pada perempuan yang sudah berhubungan seks. Alasannya, supaya nggak dituntut “sudah merobek selaput dara pasien”.

      Di luar negeri, sudah banyak negara yang bersedia melakukan pap smear sebelum pasiennya sudah berhubungan seks, asalkan pasiennya pada umur yang diperbolehkan.

  4. fm says:

    Kalau untuk anak gadis di budaya ketimuran seperti ini, apakah ada alternatif lain ya? Saya pernah sih periksa usg (karena sering sakit perut bawah dan siklus haid sangat berantakan), tapi hasilnya baik2 saja sih…

  5. Artha Amalia says:

    Gara2 penyakit ini, suami juga turut berkorban ya mbak. Andai para suami mau menemani dan tahu tentang deteksi dini jadi lebih awal penanganannya…

  6. Lia Harahap says:

    Terima kasih tulisannya, Mbak. Jujur saya rada takut, tapi setelah baca jadi merasa wajib pap smear segera. Semoga yang ditakutkan tidak ada ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *