Nonton Parade Ogoh-ogoh Bali

Tiba-tiba, semua orang terdiam dan menoleh ke arah selatan. Serombongan sosok memegang obor bermunculan di tikungan. Setan-setan itu datang!

Diajakin Nonton Parade Ogoh-ogoh

Saya senang sekali nonton parade, terutama parade dengan tema kebudayaan. Uniknya, saya lebih suka nonton pawai budaya yang asal budayanya nggak sama dengan asal saya. Sebab di mata saya, orang yang berbeda itu selalu menarik buat dipelajarin. Makanya kalau ada parade kebudayaan, saya selalu bersemangat nonton (dan tentu saja, mengabadikannya).

Ketika suami saya kasih tahu bahwa hari Jumat ini akan ada parade ogoh-ogoh Bali dari umat Hindu di Surabaya, saya langsung spontan kepingin nonton. Kami mutusin ke sana dengan pakai Uber aja. Soalnya kalau bawa mobil, parkirnya masih rada jauh buat jalan kaki dari jembatan.

Jam sudah nunjukin jam tiga sore lebih dikit ketika kami tiba di mulut jembatan Suroboyo. Hawa panas, dan angin bertiup lumayan kencang.

Biasanya jembatan itu dibuka untuk kendaraan. Tapi spesial hari itu, jembatan ditutup. Cuma boleh pejalan kaki yang masuk. Banyak orang Hindu yang sepertinya pecalang, berpakaian putih lengkap dengan udengnya. Mereka berpatroli di mulut jembatan, bareng-bareng pasukan Satpol pp.

Tiap kali ada mobil mau masuk, selalu saja mereka melambai-lambaikan tangan. Sambil teriak-teriak, “Ogoh-ogoh parkir! Parkir ogoh-ogoh!”

Saya bareng suami dan Fidel pun jalan kaki menyusuri jembatan ke arah anjungan. Jam 4, massa sudah numpuk di anjungan jembatan. Beberapa orang Hindu (kelihatan dari pakaian sembahyangnya) menyalakan sesajen di tengah jembatan. Semua orang sibuk motret acara sesajen, yang sebetulnya nggak beda dengan sesajen yang sering saya lihat di pinggir-pinggir trotoar Bali itu.

Massa mulai gelisah ketika menjelang jam lima, belum tampak juga batang idungnya patung-patung setan itu. Saya juga senewen, Fidel pun bosan nunggu. Saya buka Instagramnya @aslisuroboyo, dan ternyata mereka lagi InstaLive di Pura Segara Kenjeran.

Ya ampun, patung ogoh-ogoh Bali itu masih di sana dan baru diberkatin. Saya ngitung jarak mereka jalan kaki dari pura menuju anjungan jembatan. Duh, jauh bener mereka jalan kaki. Bakalan jam berapa nih mereka tiba di sini?

Kami nonton InstaLive-nya ogoh-ogoh itu, tapi tidak bisa berhenti gelisah. Senja mulai merah. Saya mulai kepikiran sesuatu, ini gw bakalan sholat Maghrib nggak ya? Saya takut kalau saya pergi buat sholat, tempat strategis ini bakalan diambil orang lain.

Terus saya mbatin, mosok mbelani gak solat cuma demi nonton pawai yang ada tiap tahun?

Akhirnya jam 5.30 sore, saya nyerah. Fidel capek, dan bentar lagi waktunya sholat Maghrib. Kami memutuskan untuk ikhlas nggak jadi nonton parade ogoh-ogoh yang nggak tahu kapan mau datengnya itu.

Kami mulai berjalan meninggalkan anjungan. Saya dan suami menggandeng Fidel, sembari foto-fotoan dan menikmati angin laut. Warna langit di atas jembatan Suroboyo pun makin biru navy.

Tiba-tiba, semua orang terdiam dan menoleh ke arah selatan. Serombongan sosok memegang obor bermunculan di tikungan.

Setan-setan itu datang!

Mula-mula sebuah mobil polisi yang nongol. Mobilnya berjalan pelan, sehingga semua orang yang berjalan di tengah jembatan pun mulai minggir. Beberapa pecalang lari-lari di sampingnya, memohon semua orang untuk menepi.

Lalu rombongan karnaval pun makin jelas. Pertama-tama sepasukan cowok berpakaian adat Bali sambil bawa obor. Lalu seseorang dengan tapel mirip Rangda versi cowok (soalnya ada kumisnya) nongol sambil melambai-lambaikan tangan.

perayaan Nyepi
Seorang pemimpin pawai dengan topeng ogoh-ogoh berdadah-dadah dengan penonton.
Semua orang kepingin didadahin sama dia.

Lalu sepasukan cewek penari berkebaya Bali. Lalu sepasukan cewek dengan dandanan sekujur muka dipolesin cat merah mirip setan.

Dan muncullah yang kami tunggu-tunggu. Parade ogoh-ogoh!

Parade Ogoh-ogoh yang Meriah

Massa langsung ribut kepingin menjepret foto ogoh-ogoh. Suami saya menggendong Fidel dengan tangan kirinya (mendadak kami bersyukur ternyata enak juga punya bocah yang berat badannya cuman 11-12 kiloan), sementara tangan kanannya mengangkat kamera DSLR tinggi-tinggi. Saya sendiri sigap di paling depan barisan massa, nyuting pawai buat bikin video ogoh-ogoh.

Patung ogoh-ogoh Bali yang pertama adalah ogoh-ogoh anak-anak. Patung itu badannya kecil, diusung di atas sanan, suatu tandu dari bamboo yang dirangkai berbentuk segiempat. Tapel ogoh-ogoh di wajahnya nyeremin, dan badannya di atas sanan yang dibopong rame-rame oleh anak-anak. Jalannya anak-anak ini cepet banget, saya sampai kesusahan motret mereka.

Di antara mereka, berlusin-lusin pria baleganjur berjalan sambil nyanyi-nyanyi lagu ogoh-ogoh. Ada yang ngeprok-ngeprok curing. Ada yang ngegotong kempul (atau siyem?). Suara gamelan Bali itu bikin rame sepantai Kenjeran. Festive banget!

Di belakangnya, nongol parade ogoh-ogoh besar yang tapelnya buat saya mirip wajah mbah-mbah putih yang nggak pernah facial. Tingginya kira-kira 2-2,5 meter, diusung di atas tandu juga, oleh orang-orang Hindu Bali yang kekar-kekar. Tiba-tiba mereka lari membawa patung mbah-mbah setan itu. Dan rombongan pawai di belakangnya yang terdiri atas cewek-cewek pakai kebaya juga ikutan lari. Astaga, kuat bener mereka!

Anda pasti mau lihat kan? Tonton nih video ogoh-ogoh Bali 3 menit yang saya syuting di Surabaya ini 😊

Beberapa orang nampak keringetan berjalan, tapi semuanya kompak bergerak maju ke anjungan. Ada anggota pawai yang ditugasin mercik-mercikin tirta ke peserta pawai. Saya setengah berharap kena cipratan tirta juga, tapi setengah diri saya agak kuatir foundation saya bakalan luntur, hahahaha..

Patung ogoh-ogoh Bali lainnya pun berdatangan. Patung ini dicat biru. Tapel ogoh-ogoh ini seperti Rahwana, cuman agak langsing.

Ada lagi yang berwarna merah menyala, dengan tapel ogoh-ogoh persis setan yang sering saya lihat gambarnya di majalah-majalah lampu merah. Sepertinya ini Kala Bang. Tingginya rata-rata ya segitu, dua meteran.

Ada lagi ogoh-ogoh yang warnanya hijau mencrang, persis permen Jagoan Neon. Owalah..ini tho yang namanya Kala Ijo.

Lalu ada lagi ogoh-ogoh berwarna hitam di seluruh badannya. Nah, ini pasti Kala Ireng.

Semuanya nyeremin, tapi penonton suka sekali.

parade ogoh-ogoh Bali
Ogoh-ogoh Kala Bang kelihatan menonjol di tengah-tengah parade. Hampir semua patung ogoh-ogoh Bali ini bersikap mengangkat satu kaki sambil tangannya seperti menari. Coba kalau saya nggak lagi pegang kamera, kayaknya saya udah tepuk tangan. Lha setiap patung yang berat banget itu bertumpu cuman pada satu kaki. Tapi para penegen yang mengaraknya kelihatan sangat menikmatinya.

Sejarah Ogoh-ogoh

Parade ogoh-ogoh Bali sebetulnya baru popular sekitar 30 tahun belakangan ini, terutama semenjak Nyepi dijadikan hari libur nasional. Umat Hindu Bali punya tradisi yang menganggap bahwa sehari sebelum perayaan Nyepi adalah hari pengerupukan, yaitu hari untuk mengusir roh-roh jahat. Mereka mengadakan upacara butha yadnya untuk mengusir roh-roh jahat yang membuat kekacauan pada umat manusia.

Kegiatannya biasanya adalah magegobog, yaitu mengelilingi dusun dengan membawa-bawa obor. Sambil memukul-mukul alat-alat gamelan untuk mengusir roh-roh jahat. Mereka berpawai sembari mengarak patung yang mirip Butha Kala, setan lokal Bali yang ditengarai jadi sumber segala kejahatan.

Kemudian di tahun-tahun berikutnya, acara magegobog pun jadi meriah karena bintangnya tentu saja ya si patung Butha Kala yang diarak keliling desa ini. Karena diusungnya sembari jalan kaki, kadang-kadang si patung jadi goyang-goyang, makanya kemudian disebut ogoh-ogoh. Ogoh = goyang.

Butha Kala ini macem-macem makhluknya. Ada yang kulitnya warna merah, makanya namanya Kala Bang. Kalau kulitnya warna ijo, namanya jadi Kala Ijo. Ada lagi Kala Ireng, pasti ini kulitnya tanned.

(Untung setannya nggak sadar fashion ya. Coba kalau nyadar, pasti bakalan ada Kala Pink, Kala Tosca, Kala Burgundy. Itu di video saya ada lho Kala yang warnanya pastel..)

Dari yang saya baca sih, para peserta parade ogoh-ogoh akan mengarak ogoh-ogoh, lalu akhirnya membakarnya. Dengan dibakar ini, diharapkan seluruh kekuatan jahat akan hilang dan penduduk pun siap menjadi suci lagi dalam perayaan Nyepi.

Belakangan, parade ogoh-ogoh semakin santer dicari buat ditontonin orang. Membuat ogoh-ogoh itu lumayan rumit, dibikin dari styrofoam, diukir dan dipoles sedemikian rupa sehingga kelihatan hidup (dan nyeremin). Beberapa orang kemudian belajar kalau styrofoam ini susah didaur ulang. Sehingga mereka pun mulai pakai bahan dari bamboo yang dianyam, lalu ditutupin kertas koran atau kertas semen supaya lebih ramah lingkungan.

Ada lagi komunitas lain yang bikin ogoh-ogoh dari gabus. Konon sih ini lebih cepet daripada nganyam bambu, asalkan motong gabusnya bener aja. Nantu ngewarnainnya macam-macam, ada yang pakai cat akrilik, ada juga yang pakai air brush.

Tapel ogoh-ogoh besar
Tapel ogoh-ogoh dibikin menyeramkan sebagai pertanda kekuatan jahat yang harus dibakar.

Pekerjaan yang sulit sebetulnya adalah mengontrol morfologi ogoh-ogohnya. Karena nggak lucu kan kalau tapel ogoh-ogoh itu kekecilan padahal badannya segede gaban. Atau glandula mammae-nya jadi seukuran cup D padahal ogoh-ogohnya kan cowok, wkwkwkwk. Makanya ini karya seni yang bagus banget (jadi saya agak eman juga sih kalau dibakar, tapi kan itu kepercayaan mereka ya).

Patung ogoh-ogoh Bali itu berat banget. Jadi, mengaraknya keliling desa sambil menari-nari aja pasti butuh tenaga orang banyak. Makanya, untuk bikin parade ogoh-ogoh ini, tentu perlu gotong-royong yang cukup kompak di antara para penegen. (Penegen ini istilah untuk orang yang didaulat suruh menggotong sanan). Sangat menginduksi rasa persaudaraan 😊

Ingin Nonton Parade Ogoh-ogoh Lagi

Kami bertiga pulang dengan naik Uber malam itu dan happy sekali. Sebetulnya nonton parade ogoh-ogoh di Kenjeran ini rejeki besar buat saya yang emang seneng banget sama pawai kebudayaan. Lha umat Hindu di Surabaya sebetulnya kan minoritas, jadi agak susah denger woro-woro tentang kegiatan umat Hindu kalau nggak keep up banget stalking-nya. Plus parade ogoh-ogoh sendiri merupakan festival khas Hindu Bali, kalau mau lebih telaten motret ogoh-ogohnya ya mesti ke Bali sungguhan.

Parade ogoh-ogoh sendiri diadakan untuk perayaan Nyepi. Di Bali pasti tiap banjarnya menghelat festival ogoh-ogoh, dan itu merupakan kejadian menarik tersendiri untuk difoto. Tapi kalau saya pergi ke Bali menjelang Nyepi tentu rugi di biaya hotel. Soalnya habis pawai ogoh-ogoh yang biasanya selalu menjelang tengah malam itu, semua listrik dimatiin se-Bali dan semua turis nggak boleh keluar-keluar dari kamar hotel selama 24 jam. Lha di hotel sendiri mau ngapain kalau listriknya mati?

Foto ogoh-ogoh Bali
Saya bukannya mau mesum, tapi saya nggak bisa berhenti memandang glandula mammae si ogoh-ogoh itu.
Sepertinya monster ini kebanyakan hormon estrogen dan rada-rada defisit testosteron.
Mungkin ibunya sedang menjalani perawatan kesuburan waktu hamil dia.

Dan lagian saya baru paham bahwa sore itu saya memang datang “kepagian” ke TKP (tempat kejadian pawai). Gak ada ceritanya ogoh-ogoh bakalan main di sore hari, Viic..! *toyor diri sendiri*

Bahkan di Bali sendiri, parade ogoh-ogoh selalu main di malam hari, kira-kira ya setelah jam enam sore gitu. Soalnya, umat Hindu Bali percaya bahwa setelah sore adalah saat yang angker, dan saat itulah kekuatan jahat mulai nongol. Ya kalo sore-sore sih bhuta kala-nya nggak bakal nongol lah..

Artinya, kalau saya mau tenteram nonton parade ogoh-ogoh tanpa bentrok dengan waktu sholat Maghrib, mendingan saya sholat Maghrib dulu, baru turun ke jalan buat nonton pawai. Lha kan nggak mungkin kan saya ngomong gini,

“Permisi..bisa nggak ogoh-ogohnya ditunda dulu?”

Orang Hindu Bali: “Lho, kenapa, Mbak?”

“Ini..saya mau sholat Maghrib dulu, bentar aja, 5 menit.”

Orang Hindu Bali-nya tampak muka flat.

*terus tau-tau saya diseruduk ogoh-ogoh celuluk*

 

Tiba di rumah, menjelang tidur, saya muterin video ogoh-ogoh Bali hasil syutingan saya tadi. Fidel langsung mengenali ogoh-ogoh itu dan dia minta video itu diputar berulang-ulang. Mudah-mudahan @sapawargaSBY mau woro-woro lagi soal parade ogoh-ogoh tahun depan, supaya saya bisa ajak Fidel nonton lagi.

Saya sendiri malah jadi kepingin ngeliput proses pembuatan ogoh-ogoh. Pasti seru 😊

Tenyata, nonton parade ogoh-ogoh nggak perlu ke Bali ya. Di Surabaya juga ada 😊

Semua foto oleh Eddy Fahmi, soalnya saya nyuting doang.

P.S. Saya bukan orang Bali, nggak beragama Hindu. Kalau Anda lebih ahli dalam urusan ogoh-ogoh, boleh mengoreksi keterangan saya di atas dalam kolom komentar 😊

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

  1. Aku dulu sempet mikir opo yo gak rugi buat kayak gitu buat dibakar.. 🙂 Tapi ternyata ada maknanya ya mba.. Lagipula kalo gak dibakar, syereeeem.. 😀 Seru banget bisa nonton parade ogoh-ogoh ini.. Salut aku sama orang-orang yang kerjasama ngangkat ogoh-ogoh yang berat itu.. Semoga suatu hari bisa ke Bali dan lihat parade seperti ini juga.. 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Amien, semoga ya.. Aku kalo disuruh ke Bali demi nonton ogoh-ogoh ini kayaknya kurang cocok. Sebab setelah pawai ogoh-ogoh ini, kan langsung hari Nyepi dan kita nggak akan boleh nyalain listrik. Lha terus kita yang nggak ngerayain Nyepi mau ngapain tanpa listrik, hihihihihi..

  2. Arni says:

    Liputannya lengkap
    Terimakasih sudah menuliskannya mbak
    Memang benar, rangkaian upacara hari raya Nyepi cukup banyak

    Sebelum Pengerupukan yang biasanya diawali upacara Bhuta yadya (tawur kesanga), beberapa hari sebelumnya diadakan melasti, yaitu kegiatan pembersihan buwana agung (alam semesta). Ada kegiatan upacara yang dilakukan di pantai atau sumber2 air lainnya. Secara sederhana makna filosofisnya begitu

    Kemudian pawai ogoh2, seperti yang mbak vicky tuliskan adalah simbolisasi ‘membakar’ kekuatan2 jahat agar tak mengganggu ketentraman umat manusia, baru kemudian Nyepi sebagai sarana mulat sarira (pembersihan diri dengan melaksanakan catur brata penyepian)

    Diharapkan pada hari ngembak geni (sehari setelah nyepi) kita kembali bersih, menjadi pribadi yang lebih baik. Pun demikian dengan alam semesta mengeluarkan energi-energi positif untuk kedamaian

    Sekali lagi makasi liputannya mbak

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Makasih sudah ikut urun informasi di sini, Mbak Arni.

      Sebelum kemari, dulu-dulu saya kirain ogoh-ogoh = pagelaran orang nari di jalan-jalan sambil pakai topeng monster, ya kira-kira kayak ondel-ondel atau reog gitu lah. Ternyata saya baru paham belakangan kalau ogoh-ogoh itu patung yang diarak lalu nanti bakalan dibakar.

      Kira-kira upacara bhuta yadnya alias tawur kesanga itu diadainnya sepaket bareng launching ogoh-ogoh, atau beberapa hari sebelum ogoh-ogoh ya, Mbak? Jadi pengen nonton upacaranya juga..

      1. Arni says:

        Sepaket mbak
        Inti upacaranya itu ya butha yadnya [mecaru/tawur agung kesanga]
        Ogoh2 itu hanya pelengkap kemeriahan, jadi gak semua Pura/tempat bikin ogoh-ogoh saat pengerupukan ini
        Inti upacaranya di butha yadnya itu 🙂

Leave a Reply to Himawan Sant Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *