Bikin Buah Pisang Indonesia Layak Masuk Jepang

Kalau kepingin tahu produk makanan bikinan kita ini kualitasnya bagus atau enggak, coba parameter berikut ini: Apakah produk ini laku untuk dijual ke negara lain?

Menjual produk makanan ke tetangga sebelah, selama itu masih di wilayah Indonesia, sebetulnya cukup mudah. Sebab, secara default-nya, orang akan selalu butuh makan. Tetapi, kalau mau mengekspor produk makanan ke negara lain, itu butuh keterampilan sendiri. Mulai dari faktor daya beli penduduk di negara itu, sampai ke urusan perijinan menjual barang ke sana.

Dan salah satu negara yang seringkali jadi momok buat mengekspor produk makanan itu, adalah Jepang.

Why Japan? Pertanyaan itu mungkin cukup menggelitik buat kita yang sudah terbiasa menikmati makanan bikinan negara kita sendiri. Sebetulnya sudah lama sekali pengusaha-pengusaha Indonesia kepingin mengekspor makanannya ke negara itu. Alasan pertama, Jepang itu negara tajir, penghasilan negaranya cukup bagus bahkan dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa sekalipun. Dan alasan kedua, orang Jepang senang makan makanan, terutama makanan dari negara-negara tropis.

Untuk alasan kedua, saya kepingin cerita bahwa Jepang termasuk royal dalam urusan beli buah segar. Negara yang satu itu, nggak terlalu bagus buat ditanami buah-buahan sehingga mereka sampai-sampai lebih banyak ngabisin duit buat ngimpor makanan buah (meskipun industri agraris mereka cukup maju). Dan bagian yang menariknya adalah, banyak dari buah-buahan yang jadi selera orang Jepang itu tumbuh di Indonesia. Contohnya, buah pisang.

Tapi itu nggak lantas bikin negara Jepang mau kulakan buah pisang dari Indonesia seroyal-royalnya. Dulu, negara favorit Jepang buat jadi sumber ngimpor pisang adalah Cina, Filipina, dan India. Konon, pisang dari tempat-tempat itu bagus-bagus. Persoalannya, India kayaknya nggak commit-commit amat buat jualan pisang ke Jepang, karena produksi pisang dari India nggak terlalu banyak, nggak sebanyak Cina atau Filipina. Cina mungkin bisa panen pisang, tapi mereka selalu kepentok regulasi Jepang yang nggak mau buah-buahannya kena pestisida. Maka jadilah, Jepang paling mentok minta pisang sama Filipina.

Anda mungkin wondering, kok nggak Indonesia aja jual buah pisang ke Jepang? Pisang di Indonesia kan bejibun.

Buah pisang
Gambar diambil dari artikel tentang pisang
Perjuangan Indonesia buat Jualan Buah Pisang ke Jepang

Hey, udah dari jaman jebot Indonesia kepingin ngekspor buah pisang ke Jepang lho, tapi produk pisang kita seringkali ditolak. Pasalnya, lantaran pisang-pisang Indonesia itu masih ada hamanya.

Dan memang ini jadi kesulitan umum para petani buah di negara kita. Banyak kebun buah digarap di lingkungan yang nggak ramah, sehingga hama berkembang pesat dan menyerang tanaman-tanaman petani. Kita punya pilihan buat nyemprotin tanaman itu dengan pestisida secara berkala, tetapi risikonya, buah-buahan yang dihasilkan mungkin akan berbahaya kalau dikonsumsi. (Indonesian actually don’t care about this, but Japan really cares, makanya buah Indonesia ditolak).

Ya ada sih perkebunan-perkebunan yang organik, di mana buah-buahannya memang asli dipiara baik-baik supaya bebas dari hama dan nggak perlu pakai pestisida. Tetapi jatuhnya, ongkos operasional kebun menjadi mahal. Akibatnya, harga jual buahnya ikutan mahal. Buah-buah kayak gini mungkin oke untuk diekspor, tapi masih sulit untuk laku keras di Indonesia sendiri.

Tapi pengusaha buah pisang di Indonesia nggak mau gentar. Mosok orang Jepang demen pisang dan Indonesia bisa bikin banyak pisang, tapi Indonesia nggak bisa buka lapak pisang ke Jepang? Sayang kan? Akhirnya dapet jalan deh. Sekitar beberapa tahun lalu, mungkin tahun 2015, Jepang akhirnya setuju via Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement buat ngimpor bahan-bahan pertanian dari Indonesia, asalkan.. pengusaha-pengusaha pertanian di Indonesia bersedia bikin produk yang sesuai standar internasional.

IJEPA
Tahun 2015, Presiden Jokowi mufakat dengan Perdana Menteri Shinzoe Abe melalui kesepakatan Indonesia Japan Economic Partnership Agreement supaya buah-buahan Indonesia bisa masuk ke Jepang.
Jepang setuju untuk tidak pasang bea masuk bagi pisang segar dari Indonesia selama volumenya masih kurang dari 1.000 metrik ton per tahun dan buah yang diimpor dari Indonesia itu memenuhi standar keamanan yang sudah disepakati secara global (yaitu melalui standar Global GAP). Gambar diambil dari foto penandatanganan IJEPA.

Salah satu standar internasional yang dipakai buat menilai kualitas bahan pertanian itu adalah Global Good Agriculture Practice alias Global GAP. Menurut standar ini, suatu pertanian mesti dijalankan dengan tetap memperhatikan kesejahteraan lingkungan. Misalnya, pertaniannya kudu eco-friendly. Produknya mesti higienis. Produknya aman dari pencemaran. Produk yang sudah dimakan konsumen bisa dilacak sampai ke rumah produksinya.

Agak sulit pertanian di Indonesia kalau mau mengikuti standar ini. Ambil contoh, syarat kudu eco friendly aja bisa bikin jiper banyak petani. Petani itu ya, kalau habis nanam taneman aja, suka bingung limbahnya mau dibuang ke mana. Dan pada akhirnya limbah itu dibuang sembarangan, sehingga mencemari lingkungan, dan standar Global GAP nggak menyetujui ini.

Pestisida juga masih jadi isu sensitif di kalangan perbuahan Indonesia. Buah-buahan yang organik bebas pestisida masih mahal banget. Buah-buah yang harganya lebih murah, sering banget cepet bosok. Buah segar yang mulus-mulus dan cantik-cantik dipajang di supermarket, ternyata kalau diteliti pake mikroskop ya masih banyak residu pestisidanya.

Global Good Agriculture Practice, Standar Keamanan Hasil Pertanian Internasional

Salah satu perusahaan perkebunan di Indonesia, keukeuh sureukeuh banget nanemin kebonnya supaya punya daya nilai jual kalau mau ditawarin ke luar negeri. PT Sewu Segar Nusantara, misalnya, jadi perusahaan buah-buahan yang serius menggarap buah mereka supaya sesuai standar Global GAP.

Sewu segar nusantara
Kebun pisang milik afiliasi PT Sewu Segar Nusantara merawat buah pisang mereka sesuai standar Global GAP.
Gambar diambil dari situs Sewu Segar Nusantara.

Di kebun-kebun mereka di Lampung dan Blitar, mereka punya kebun yang digarap mitra mereka, PT Nusantara Tropical Farm. Di kebun ini, mereka menanam buah pisang. Penggunaan pestisida itu mereka minimalisir, dan mereka ngatur bahwa 1-2 minggu sebelum panen, taneman itu nggak boleh lagi disemprot dengan pestisida.

Cara menanam pisang yang baik ialah menggunakan kultur jaringan. Pisang yang baru dihasilkan dari menanam jaringan dari pisang sebelumnya. Cara ini lebih baik ketimbang menanam dari tunas.

Setiap 6 bulan sekali, buah-buahan yang mereka produksi itu, mereka kirim sampelnya ke Sucofindo (tahu kan Sucofindo? Itu perusahaannya Pemerintah untuk pengkajian keamanan produk). Alhasil, dari Sucofindo, perusahaan tempat penelitian itu, keluar sertifikat bahwa pisang yang ditanam di perkebunannya PT Nusantara Tropical Farm ini bersih dari pestisida, bahan pengawet, material mesin, sisa batu-batuan, kontaminasi logam berat, bakteri, dan rambut pekerja.

Mereka pasang kebijakan bahwa air bekas pestisida tidak boleh sampai menyerap ke tanah. Hanya sampai 5% limbah cair dari perkebunan ini yang mengalir ke sungai, supaya sungainya nggak sampai jadi polusi air.

Sisa limbah itu mereka garap sendiri, sebagian menjadi pakan sapi, terutama sapi milik perusahaan Hometown Diary yang masih jadi sister company-nya PT Sewu Segar Nusantara juga.

Sebagian lagi dari limbah itu mereka jadikan biogas yang menghasilkan energi. Energinya mereka pakai buat jadi listrik yang menerangi kebon di malam hari.

Di kebun mereka ini, pekerja perkebunannya sendiri dijagain betul-betul sebagai aset yang berharga buat perusahaan. Semua karyawan di PT Sewu Segar Nusantara dapet jaminan keamanan dan layanan kesehatan. Semua tenaga kerja yang direkrut sesuai dengan peraturan pemerintah (tak ada buruh-buruh di bawah umur), plus upah dan jam kerjanya sendiri juga sesuai dengan regulasi Kementerian Ketenagakerjaan.

Untuk pekerja perkebunan sendiri, PT Nusantara Tropical Farm lebih banyak merekrut tenaga lokal ketimbang buruh migran. Kelihatan banget kalau mereka memang serius nggak cuma mengincar profit, tapi juga kepingin bikin lapangan kerja yang layak bagi penduduk di sekitar perkebunan.

Dengan itu semua, makanya buah-buahan produksinya PT Nusantara Tropical Farm ini diganjar sertifikat Global GAP. Sertifikat ini yang jadi tiket bagi pisang mereka untuk bisa diekspor ke Jepang. (Malah nggak cuman buah pisang mereka doang yang diijinkan masuk Jepang, pun nanas dan jambu mereka juga dapet sertifikat yang sama).

Di Jepang, pisang-pisangnya Indonesia ini dijual di supermarket-supermarket beken, macam di Aeon, Sogo, dan Seibu. Kalau Anda jalan-jalan ke supermarket-supermarket ini di Jepang sana, dan menemukan buah pisang, Anda boleh bangga karena sebetulnya pisang yang sama juga dijual di Indonesia. Merknya di Indonesia adalah Sunpride.

Buah pisang Sunpride
Produk buah pisang cavendish Sunpride yang saya beli di supermarket dekat rumah ini sebetulnya sama dengan pisang Sunpride yang dijual di Jepang.

Yang menarik, nggak semua perusahaan buah di Indonesia ini punya sertifikat Global GAP. Sebetulnya, cuma ada 6 perusahaan agraris di Indonesia yang punya sertifikat elite ini, dan buah Sunpride-nya Sewu Segar Nusantara adalah salah satunya. Satu perusahaan lainnya yang punya sertifikat Global GAP ini adalah perusahaan buah strawberry, dan 4 perusahaan lainnya adalah perusahaan perikanan.

Menemukan Sertifikat Global GAP pada Buah Indonesia

Kalau Anda nemu buah pisang Sunpride yang dikemas cantik, coba cari labelnya. Di sana akan tercantum nomer sertifikat Global GAP-nya yaitu, nomor 4056186911537. Nomer ini bisa kita cocokkan dengan website Global GAP, yaitu http://database.globalgap.org/globalgap/search, lalu masukkan nomor sertifikatnya di sana. Jika diklik, kita akan temukan bahwa nomer ini adalah milik buah-buahan yang diproduksi di PT Nusantara Tropical Farm (kebun pisang milik PT Sewu Segar Nusantara di Lampung Tengah).

Nomer yang sama ini terdapat pada semua kemasan buah pisang cavendish Sunpride, baik pada jenis pisang Single Banana maupun Cluster Finger.

Orang Jepang cuma makan buah pisang dengan sertifikat Global GAP, makanya makanan mereka bebas dari racun pestisida. Bagaimana dengan Anda?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

16 comments

  1. Nining says:

    That’s why pak suami keukeuh bgt nyuruh aku nyuci sayur, buah dgn ozon. Karna ya ini ya, mskpn beli buah di supermarket yg kinyis-kinyis itu residu pestisida gk terlekakkan 🙁

  2. Fakhruddin says:

    Wah ternyata negara kita yg bergelar negara agraris selama ini ndak mikirin standard ginian. Semoga pemerintah bisa turun gunung membina para petani.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Petani sudah tahu kok dari dulu bahwa buah itu mesti bebas dari pestisida. Persoalannya, kalau nggak dipakaikan pestisida, nanti tanaman mereka jadi kena hama. Hama itu asalnya dari lingkungan yang nggak seimbang, dan mereka sulit memindahkan lokasi pertanian mereka dari lingkungan yang sedang rusak itu.

      Memang negara kita bergalar negara agraris, tetapi itu jaman dulu, ketika lingkungan di negara kita belum serusak sekarang oleh polusi.

  3. @nurulrahma says:

    Wow, artikel yg dibikin dengan riset mumpuni, standing ovation buat mamah Fidel! Memang mayoritas masyarakat Indonesia (baca: saya) kerap terjebak pada semboyan: Gapopo onok pestisida nang buah/sayur, sing penting murah 😛
    Ya abis… harga sayur organik ngeri2 amat yak. Dalam hal kualitas produk (dan kebawelan) orang2 Jepang emang JUARA.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang repot kalau pertimbangan dompet mengalahkan pertimbangan rasional. Kita kepinginnya keluar duit itu minim aja, dan pertimbangan keamanan produk itu dikesampingkan.

      Sebetulnya, tidak selalu buah yang murah itu berarti non-organik. Sebaliknya, buah yang aman dari polutan berbahaya pun tidak selalu harus buah organik.
      Itu sebenarnya inti dari artikel ini 😀

  4. Mustikasv says:

    Nice info bgt Mbak!!! Aku jd paham kenapa Sunpride lebih mahal dari pisang lain krn emg penanamannya semua standar Internasional. Dan emg saat ini “sunpride” sdh jd icon buah pisang dg kualitas sangat baik di Indonesia.

  5. Fanny F Nila says:

    Panjaaang ya jalannya untuk bisa masuk ke Jepang :D. Kalo buah, aku sendiri juga udah lama lebih milih sunpride. Tp baru tahu kalo buah ini sudah diekspor ke Jepang. Pas ke Jepang kemarin, seringnya aku sekeluarga beli buah2an termasuk pisang di sana. Tapi kyknya ga ngeh itu termasuk pisang yang berasal dari Indonesia ato bukan :p. Yg pasti, buah2an yang dijual di sana rasanya memang seger, manis trutama strawberry, dan ga mahal2 amat sih sebenernya. Makannya berasa tenang, karena mikirnya, ini Jepang gitu loh. Mereka kalo makan aja sangat perhatian ama kebersihan dan bahan2 yang digunakan. Jadi pasti untuk buah udah bebas pestisida. Ternyata, beberapa buahnya malah dari Indonesia yaa :D. Bangga sih jadinya..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebagian buah yang dijual di Jepang dipanen di Jepang sendiri, sebagian lagi diimpor. Banyak negara sumber impornya, dan Indonesia salah satunya. Tetapi Jepang selektif sekali dalam memilih asal impor makanan, dan hanya sedikit perusahaan perkebunan di Indonesia yang terpilih untuk diimpor oleh Jepang. Ya salah satunya ya Sunpride itu 🙂

  6. Sebagai orang Indonesia Saya bangga sekali punya buah buahan bersertifikasi Global GAP.
    Semoga budaya makan buah yang tidak terkontaminasi zat Kimia berbahaya bisa ditularkan ke paling nggak keluarga deket dulu aja lah ya, baru ke temen, tetangga, masyarakat luas. Jadi PR besarnya Sunpride nih.

  7. triana dewi says:

    Lha mbaak tulisanmu bagus sangat, membuka wawasanku, memang jepang sangat keren ya menyortir semuanya.. adduh jadi minder tulisanku ecek-ecek banget deh, tengkyu sharingnyaa mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *