Percakapan Absurd dengan Dokter Kecantikan

Pagi ini saya pergi ke klinik kecantikan (lagi), dan tanpa diduga saya terlibat dalam pembicaraan kacau ini.

Intro: Sebetulnya begini ya. Saya itu suka bingung kenapa klinik-klinik kecantikan itu kalau jual paket-paket facial mereka itu pakai adds on segala. Ada yang facial pakai ekstraksi komedo. Ada juga yang facial tapi pakai vakum. Ada facial yang pakai bonus mikrodermabrasi lah. Ada juga facial pakai komedo tapi nggak pakai masker.

Kalo kata beberapa kolega saya yang kerja di jaringan klinik kecantikan, itu katanya “biar gaya”. Tapi saya sendiri nggak percaya kalau perusahaan itu pasang adds on ke servis mereka sembarangan, jadi saya yakin tiap servis itu ada maknanya. Tapi maknanya apa, ya mestinya kliniknya bisa memberi tahu kepada kliennya supaya kliennya paham. Memberi tahu itu juga ya mesti sampai kliennya ngerti, bukan cuman ndikte doang.

Saya kalau mau grooming di klinik ya juga nggak pasrah gitu aja sama terapisnya. Mesti saya tanya ke terapisnya, ini bentar lagi mau diapain, terus gunanya buat apa. Jadi saya paham apa yang akan saya bayar. Gimana-gimana juga ini badan saya, ya saya dong yang punya kuasa nentuin apakah saya mau diapain atau enggak oleh kliniknya.

Bahkan meskipun treatment itu dapet gratis.

Maka alkisah, suatu hari saya bikin appointment dengan suatu klinik lantaran saya dapet hadiah dari kliniknya. Hadiahnya facial treatment. Pas saya dikasih tahu oleh adminnya, kok nama treatment-nya indah sekali, padahal saya tau itu cuman facial aja. Cuci muka doang dan cabut-cabut komedo kan? What else?

Iseng saya buka Youtube dan cari-cari testimoni orang-orang yang sudah pernah facial di sana dengan nama treatment serupa. Hasilnya cukup membuat saya terkejut, ini facial-nya pake peeling. Lho lho lho, ini cuci muka atau mau kelupasin muka? Peeling-nya sedalam apa? Pakai obat apa?

Belum abis ketercengangan saya, saya ketemu testimoni lain yang mana dia menggunakan light therapy dengan LED alias light emitting diode. Haah? Ini facial apaan kok pakai light therapy segala?

Akhirnya pas saya dateng ke kliniknya buat penuhi appointment, saya bilang ke terapisnya kalau saya mau ketemu dokternya dulu. Ya saya mau nanya-nanya aja, paket facial yang saya dapetin ini mengandung prosedur apa aja selain cuci muka dan cabut-cabut komedo.

Masuk ke Ruang Praktek Dokter

Dokternya duduk di balik meja. Dia pakai masker.

Saya: (riang) “Selamat pagi.”

Dokter: (menyalami saya) “Pagi. Bisa saya bantu?”

Saya: “Ya.” (duduk di kursi depan meja Dokter) “Ini saya dapet hadiah. Dari XXX (nama kliniknya). Katanya saya dapet L*xury Facial. Terus saya yang pengen tau, L*xury Facial itu diapain aja? Saya dulu pernah facial di sini, tapi kayaknya facial-nya yang paling basic.”

Dokter: “Gini, L*xury Facial itu, dia untuk..semua kulit. Yaa untuk jerawat, untuk pencerahan..” (sambil tangannya gerak-gerak. Orangnya animated. “L*xury Facial ini termasuk yang paling tinggi di..kita.”

Saya menyeringai dalam hati. Jawabannya nggak menjawab pertanyaan saya. “Kelebihannya apa?”

Dokter: “Itu bikin kenyal, menghilangkan dehidrasi, untuk kulit kering…” nadanya terdengar menggantung.

Saya: “Terus, perbedaannya dengan facial yang basic, apa?”

Dokter: “Yaa yang basic kan obatnya yang biasa-biasa. Kalo yang l*xury itu obatnya yang bagus semua.” Naa..ini. Obat?

Saya: “Apa obat yang dipake?”

Dokter: “Macem-macem.” Dia tertawa kecil.

Tapi saya nggak tertarik dengan tertawanya. “Hmm hmm?” saya tetap menatapnya antusias, menunggu jawaban yang lebih terdengar terpelajar.

Dokter: “Ada yang untuk dehidrasi, kandungannya macem-macem sih.”

Saya: “Kandungannya apa?”

Dokter: “Apa?”

Saya: “Kandungannya apa aja?” Apakah pertanyaan saya kurang jelas?

Dokter: “Macem-macem.. “ dia tertawa kecil, tapi saya mendengar nada ragu dari tawanya. “Saya nggak mau banyak ngomong ya..ceritanya, kandungannya kan macem-macem..”

Orang ini senang menggunakan kata macem-macem. Apakah kosakatanya bisa lebih luas dari ini? Saya menunggu. “Mmm mmm?”

Dokter: “Yaa.. fungsinya itu untuk.. ada apa.. untuk mencerahkan.. untuk jerawat..” makin lama nada menggantungnya kok makin jelas. Wong saya nanya facial itu diapain, kandungannya apa, kok malah dia jawab fungsi dermatological agents sih?

Saya mulai melipat tangan. “Terus ada prosedur tambahan? Selain cleansing?”

Dokter: “Ada. Yaa.. itu ada cairan untuk jadi.. macem-macem..” Inna lillahi.. macemmacem lagi..

Saya: “Ya. Kayak apa?”

Dokter: “Yaa..maksudnya yaa.. kayak disemprotin apa gitu, yang ada cairannya..” Matanya muter-muter, mulai nampak tersiksa.

Saya: “Mmm mmm, terus pakai.. vakum?” (mulai membantunya mengingat-ngingat hafalannya)

Dokter: “Pake.”

Saya (pura-pura mengangguk): “Pakai vakum.. Terus, apa ada masker-masker tertentu?”

Dokter: “Ada.”

Saya: “Bedanya sama masker yang facial biasa?”

Dokter: “Yaa.. itu tadi, kandungannya tadi itu lho..”

Saya: “Mmm mmm.. pakai kandungan apa, Pak?” Weww.. saya mulai memanggilnya Pak.

Dokter: “Naah.. itu macam-macam kandungannya..” (ia terdengar getir)

Saya: “Ooh gitu. Terus nanti pake anu nggak, terapi diode atau light therapy apa enggak?”

Dokter: “Kita pakai, nggak ya?” (ia melirik kepada terapis di belakang kepala saya)

Terapisnya angkat bicara. “Nanti dapetnya yang L*xury Glowing atau L*xury H*dra Glowing?”

Rasanya saya mau pengsan. Apakah saya harus tahu saya dapet facial ajaib yang mana?

Dokter: (tergopoh-gopoh meriksa medical record saya yang sebetulnya nyaris kosong isinya itu) “.. Oh, ntar.. ditanya dulu, yang mana dulu nih?”

Sang terapis buru-buru menelfon ke resepsionis buat nanyain rencana treatment yang mau dihadiahkan kepada saya. “Halo, ini Mbak Vicky dapet L*xury Facial atau L*xury H*draglow Facial?..  Ooh L*xury biasa..” Ia menutup telepon.

Dokter: “Ooh..L*xury biasa..”

Terapis: (menoleh kepada saya) “Kalo L*xury H*draglow, nanti ada alatnya namanya H*draglowing untuk masukin serum. Serumnya untuk mencerahkan, mengenyalkan, untuk acne juga bisa.”

Duh, sungguh saya nggak peduli itu nama facialnya apa. Itu facialnya pakai bahan apa siiiiiih?

Saya: (tegas) “Serumnya namanya apa, Mbak? Isinya apa?”

Terapis: “Isinya.. Jakarta yang tahu.. Kalo untuk isinya apa-apa, kita kurang tahu.”

Saya: “Boleh saya liat dulu?” (pasang muka skeptis)

Terapis: “Saya panggilkan dulu ya..” (beranjak pergi)

Saya: (melambaikan tangan) “Oh ya, silakan gak apa-apa.” Sambil mbatin, “Go ahead. Bawa apotekermu ke sini.

Saya balik menghadap meja, menatap dokternya. Dokternya mendadak sibuk membaca brosur. Brosurnya klinik yang sudah saya baca bolak-balik di meja resepsionis tadi.

Dokter: (berbisik) “Soalnya ini menyangkut prosedur yang di Jakarta.. Kalo ditanya detil jadi.. anu ya..”

Saya tersenyum simpati. Kita-kita para dokter ini memang kelamaan disuruh menghafal, bukan begitu, Sejawat?

Dokter: “Krim-krimnya pake apa, Mbak? Pake krim nggak sebelumnya?”

Saya: “Oh nggak, nggak pake krim.” (Sebetulnya saya mau bilang bahwa saya pengguna propylene glycol-glycerin setiap malam dalam bentuk krim, dan saya menyelinginya dengan serum berbahan sama setiap 3 hari sekali, tapi saya kuatir dia tidak paham khewan-khewan apa yang saya maksud. Agents kliniknya sendiri aja dia nggak mudeng, apalagi agents yang saya pakai?)

Dokter: (sibuk baca brosur lagi) “Ini yang lama brosurnya, baru aja..” Nadanya sering sekali menggantung. Have you been sleeping enough, Sejawat?

Pintu terbuka, dan masuklah sang terapis tadi bersama supervisornya untuk menyelamatkan dari berondongan pertanyaan sederhana saya. Yaaah..kok yang dateng bukan apotekernya sih?

Supervisornya Jauh Lebih Komunikatif

Dokter: “Yak, ini nanya isi kandungan..”

Supervisor: “Ya Dok?”

Saya langsung menyambar. “Saya lagi nanya sama Pak Dokter ini, nanti L*xury Facial itu diapakan?”

Supervisor: “Ooh. Prosesnya?”

Dokter: “Sama kandungannya..”

Supervisor: (penuh senyum riang yang lebar): “Prosedurnya nanti seperti facial pada umumnya, cuman kalo L*xury itu bahannya memang organic.”

Saya: “Nanti saya dipilihin yang mana?”

Supervisor: “Facial L*xury.”

Bzzzzzz. Bukan itu yang saya maksud, Saya berusaha bertanya lagi dengan sabar. “Itu kan maskernya ada P*ssion Fruit, ada H*malayan Goji B*rry..”

Supervisor (melihat wajah saya dengan penuh perhatian): “Kalo saya liat wajahnya kan bermasalah, ya.. kulitnya jugak bagus.. nanti pakek Goji B*rry..”

Saya: “Yang warna apa ya?”

Supervisor: “Yang merah.. Kalo kandungannya sih, persisnya yang tau itu dari Pusat. Yang membedakannya dari bahan organik. Ada anti alerginya. Jadi yang facial biasa itu produknya nggak sama.”

Saya: “Soalnya seingat saya dulu, saya facial di sini, saya nggak pakai masker yang berwarna-warni itu..”

Supervisor (menoleh kepada terapis) “Yang dulu facialnya apa ya?”

Terapis: “Gl*w..”

Supervisor: Oh ya, Facial Gl*w itu memang facial yang standar, Kak.. Kalo facial l*xury itu memang yang di atasnya, kualitas product-nya juga lebih bagus, dan ada anti alerginya.”

Saya: “Terus nanti habis dipakein masker ini, prosedurnya apa?”

Supervisor: (menoleh kepada Terapis) “Terakhir apa?”

Terapis: “Pake Oxy.. dermaoxy.”

Saya: “Terapi oksigen yang disemprot itu?”

Supervisor: “Iya.”

Saya mulai puas. Kenapa nih Supervisor bisa menanggapi saya dengan lebih cekatan daripada dokternya?

Saya: “Anu, nanti saya dapet terapi LED apa enggak?”

Supervisor: “Sinar? Nggak dapet.”

Saya: “Oke, jadi saya nggak dapet terapi LED ya.” Baguslah, karena saya mending dilaser sekalian daripada cuman dapet red light therapy. Dan sebulan ini saya sudah dilaser bolak-balik.

Supervisor: “Kalo itu bisa nambah sendiri, PDT itu Rp 250k, setelah itu bisa nambah sendiri. Tapi kalo L*xury sih rangkaiannya sudah bagus sih, jadi nggak nambah pun nggak pa-pa.” Serius deh, orang ini lebih lancar ngomongin servis kliniknya ketimbang dokternya.

Saya: “Nanti saya dapat peeling juga nggak?” Karena saya sempat melumuri saya dengan alpha hydroxy acid minggu lalu.

Supervisor: “Kalo L*xury itu peeling-nya bukan peeling yang chemical. Peeling-nya yang peeling organic.”

Saya ngernyit. Apa pula itu peeling organic? “Pakai apa?”

Supervisor: “Natural peel.. jadi yang.. apa ya, yang nggak terlalu kayak.. chemical itu yang..”

Saya mengangkat alis. “Berarti nggak pakai glycolic acid?”

Supervisor: “Oh nggak. Jadi nanti tanpa ngelupas-ngelupas.”

Saya teriak dalam hati, Ya ngomong gitu dari tadi dong, Mpoook! Itu yang gw cari dari tadi. Kenapa doktermu tidak bisa bicara begitu seh?

Saya berdiri dengan puas. “Oke. Ya udah, mainkan aja,” kata saya sambil tersenyum kepada sang supervisor cekatan. Lalu saya melirik ke dokternya. “Makasih, Dokter.”

Kemudian saya mengikuti terapisnya ke ruang treatment untuk mulai perawatan.

Dokter Itu Gimana Ya?

Saya ngerti sih, dokter itu seumur hidupnya banyak menghafal. Jadi kalau ditanyai obat-obatan, dia belum tentu bisa jawab lancar. Obat-obatan kan jumlahnya jutaan. Dulu saya kuliah kedokteran aja sampai mblenger ngapalin textbook farmakologi warna ijo itu.

Tapi, saya pernah pergi ke klinik kecantikan lain dan mengajukan pertanyaan serupa kepada dokternya sebelum treatment, dan dokternya bisa jawab. Dokternya bisa kasih jawaban simple semacam, “Nanti kami kasih prosedur Anu, selanjutnya akan kami bersihkan dengan alat Anu, lalu kami hangatkan kulitnya dengan Anu. Setelah itu mungkin akan ada sedikit gatal tapi hanya beberapa menit. Pulang dari sini boleh pakai bedak seperti biasa, tapi hindari dulu krim-krim yang mengandung glycolic atau lactic selama 1-2 hari..” Itu dokternya terdengar paham dengan layanan klinik yang sedang dia caretaking.

Bahkan dokter yang di klinik kompetitornya pun masih terdengar lebih professional biarpun dia nggak pakai jas putih. “Mbak Vicky, hari ini kita akan kasih facial. Jadi mukanya nanti dibersihkan dulu, lalu setelah itu di-massage dengan krim kami. Kemudian akan dikerjakan vakum untuk membuka pori-pori, lalu kita akan melakukan ekstraksi komedonya.” Enak tho ngomongnya? Lancar kayak yang udah ngerjain saban hari, meskipun bukan dokternya sendiri yang nge-facial-in.

Beda jauh dengan dokter yang barusan saya hadapin. Menurut saya, dia tidak kelihatan tahu tentang apa yang akan dilakukannya dengan pasien kliniknya. Dia bahkan nggak tahu apa aja masing-masing servis kliniknya itu meliputi prosedur apa aja. Padahal sama-sama dokter klinik kecantikan lho.

Mosok dokter dipasang di situ cuman buat jadi pajangan thok?  Errr..

Pajangan? .. Kok mendadak saya jadi inget sama orang-orangan di sawah.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. Lia Harahap says:

    Jadi fungsi dokter di situ apa, Mbak? Hanya untuk cek kulit dan kasih obat doang kah?

    Jadi inget dulu ke klinik kecantikan juga ketemu dokter cuma untuk cek kulit trus dikasih obat. Ditanya perlu facial apa engga, jawabannya gantung. Katanya terserah. Hahahaha. Apa memang dokter sama perawatan seperti facial itu gak berhubungan atau gimana ya?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya nggak tahu apa gunanya dokter di klinik itu :))

      Selama ini, kami diajari bahwa kalau kami berperan sebagai dokter itu, kami mendengarkan keluhan pasien, lalu memberikan solusi atas keluhan tersebut. Solusinya bisa berupa memberikan jasa tindakan atau meresepkan produk yang bisa diperoleh di tempat penjualan obat.

      Jika konteksnya berada dalam suatu perusahaan klinik kecantikan, maka tugas dokternya semestinya menyimpulkan permasalahan dari pasiennya, lalu memberikan solusi atas masalah tersebut. Solusinya bisa berupa sekedar tindakan facial atau tindakan lainnya. Dan memberikan solusi itu juga disertai edukasi kepada pasiennya tentang bahan apa yang digunakan dalam tindakan tersebut dan manfaatnya. Kedua hal inilah yang tidak dijelaskan dengan terang oleh kolega saya di klinik ini.

      Mestinya pasien keluar dari ruang konsultasi dokter itu dalam keadaan sudah jelas dengan penerangan yang diberikan. Bukan merasa dapat penjelasan yang terkesan menggantung.
      Saya sendiri, kalau ditanyai pasien saya tentang apakah perlu facial atau tidak, saya akan jawab, “Saya rasa facial akan cukup baik bagi kulit Anda karena manfaatnya Bla-bla-bla Bli-bli-bli.. tetapi kalau Anda tidak facial, maka perawatan yang sebaiknya Anda lakukan di rumah adalah Blu-blu-blu Ble-ble-ble Blo-blo-blo dan tentu saja risikonya akan makan waktu dan tenaga.” Gitu deh.

  2. Fanny F Nila says:

    Vic, kalo aku sepertinya lgs ragu utk nerusin facial di sana kalo dokternya aja ga bisa jelasin hahahahaha… Tapi untunglah si spv lancaaar yaaa :p. Begimana ceritanya, dia yg dokter, malah dia yg gagap2 gitu. Lah aku yg ga punya latar medis samasekali, lgs ngerasa nih dokter ga kompeten samasekali :p

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya ya, facial itu nggak perlu dokter.
      Tapi kalau facialnya pakai bonus peeling, apalagi yang peelingnya menggunakan alpha atau beta hydroxy acid, jelas perlu pakai dokter.
      Apalagi kalau facialnya pakai bonus photodynamic therapy, atau pakai terapi LED, atau apapun yang namanya light therapy, itu mah udah jelas perlu dokter.

      Karena semula aku tak tahu itu facial pakai bonus adds on apa aja, jadi kutanya pada dokternya dulu. Mana kutahu kalau ternyata dokternya di situ cuma bersikap menjadi pajangan..

      Untung ada supervisornya yang bisa menjelaskan. Kalau enggak, aku sudah minggat dari klinik itu daripada dikash facial misterius isi “macem-macem”..

  3. Brillie says:

    Selalu tertarik kalau mba vicky lagi nulis tentang hal2 berhubungan dengan facial.

    Kadang ada lho klinik yang sekenanya saja nyari dokter untuk syarat melakukan terapi2 kek gitu. Bener kata mba, dijadikan pajangan doang. Supaya nanti kalau ada apa2 dgn pasien, si dokter yg tanggung jawab.

    Malah dulunya aku pikir kalau dokter yg kerja di klinik harus spesialis itu loh apa namanya, spkk? Eh ternyata dari dokter umum baru lulus jg boleh.

    Selama ini pengalaman Kalau ketemu dokternya cewe, biasanya lebih paham soal merawat wajah. Agak disayangkan sih tadi dokternya kurang memahami apa yg menjadi pekerjaannya di klinik, mungkin dipikir orang2 pada maklum karena dokternya cowok. Ya kali, mau cowo/cewe namanya dokter harus ttp tau apa yg dikerjakannya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya atuh, saya cedih. Kayak gini mosok kliniknya mau berharap usahanya sustainable? Lha cari pegawai aja ndak bisa dapet yang profesional. Minimal ya mesti hafal servis-servisnya sendiri gitu kek. Kalo cuman cari pajangan, gak usah cari dokter, cari aja Sales Promotion Boy. Bahkan SPB pun masih lebih pintar dari itu.

      Terus karena gendernya cowok, jadi dimaklumi kalo nggak bisa merawat wajah, gitu? Wooo..nggak bisa gitu. Kalau sudah dipercaya buat caretaking klinik kecantikan, ya mesti paham apa yang dijual oleh klinik itu. Kalau kliniknya jual jasa merawat wajah, ya dokternya mesti paham cara merawat wajah. Itu namanya kompetensi dokter, dan kompetensi itu nggak mengenal jenis kelamin dari dokternya sendiri.

  4. Paula says:

    Aaaaah aku ga pernah facial, tapi seandainya facial aku cenderung pasrah….Karena dia ngomong apaan juga aku kagak ngerti.

  5. Mugniar says:

    Hm, apa dia dokter pengganti rekan sejawat dan baru bertugas hari itu, belum menguasai prosedur klinik, ya?

    Kadang2 koq ya kalau banyak nanya, saya merasa dokternya gak suka, Mbak Vicky – pernah ketemu beberapa yang kalo kita banyak nanya kayak tanggapannya itu pengen menyudahi percakapan. Jadi rasanya … kayak mereka gak suka ditanya2. Apa perasaan saya saja, ya atau ada memang yang modelnya kayak begitu?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hmm ya. Jangankan yang namanya dokter, manusia non-dokter pun ada yang tidak senang ditanya-tanyai dan ingin percakapan itu segera berakhir.

      Tapi pasien adalah orang yang mencari solusi kepada dokter. Pasien bertanya adalah proses mencari solusi. Dokter wajib mengkomunikasikan solusi itu, karena komunikasi adalah bagian dari proses memberi solusi.

      Kalau Mbak Niar ketemu dokter yang tak suka ditanya-tanyai, sebaiknya cari dokter lain, Mbak. Di dunia ini buanyaaak sekali rekan sejawat saya yang bersedia ditanyai pasien selama jawabannya itu menyelesaikan solusi pasiennya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Thanks a lot. Sekarang banyak klinik kecantikan di kota besar, termasuk Balikpapan tempat Kak Anna tinggal. Masyarakat punya banyak pilihan untuk perawatan di klinik ini, maka sebaiknya keputusan untuk memilih suatu klinik diambil sematang mungkin supaya kualitas pelayanan yang diperoleh sesuai dengan pengeluaran konsumennya.

  6. Nining says:

    dokternya mungkin merasa terintimidasi dengan pertanyaan macem-macemmu mbak, jadi dijawablah macem-macem juga hahahaha ^^v

  7. Wah, drama banget ini aku ngebayangin wajah dan gaya si dokte rpas mb Vicky tanya2in gitu doi ga bisa jawab. Lha iya ya muka2 kita kan kudu paham apa yang akan dikejakan ttg obat2annya 🙂 Serem ya hihihi. Aku sih jarang facial. beberapa kali sama dokter kulit emang lebih yakin sih daripada di salon2 luaran hehehe. Mantap oke banget kisahnya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kliniknya menyenangkan, tapi dengan sikap dokternya seperti itu, aku juga jadi ragu. Padahal sebagai sesama dokter umum, aku juga ingin memberi kesempatan bagi dokternya untuk melakukan facial yang sama baiknya dengan dokter kulit. Tapi kalau kinerja dokternya begini, yah aku tak bisa merekomendasikan 🙂

  8. Risda says:

    Ngakak baca Dan bayangin dokternya gelagepan..nice info mb , aku kalau facial ga pernah nanya-nanya soalnya, padahal penasaran.

  9. Keke Naima says:

    Ya sangat disayangkan banget sih kalau dokter kayak gitu. Apalagi yang menangani wajah kita kan dia. Harus belajar bagaimana cara berkomunikasi juga sepertinya dokternya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya rasa memang demikian, setiap orang yang bekerja dalam suatu bisnis (perusahaan) mesti belajar bagaimana cara berkomunikasi, termasuk juga dokter yang bekerja dalam bisnis tersebut. Karena komunikasi yang baik adalah pangkal dari kepercayaan konsumen terhadap bisnis itu.

Leave a Reply to Mugniar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *