Rame, Jember Fashion Carnaval 2018 dari Pinggir Jalan!

Saya sangka cuman khayalan saya doang bahwa saya ingin menari-nari di pinggir jalan bersama orang banyak. Tapi di Jember Fashion Carnaval 2018, impian itu pun jadi kenyataan. Be careful of your dreams. Bisi we jadi sungguhan.

Tulisan ini adalah pengalaman saya nonton Jember Fashion Carnaval 2018. Karnaval mode ini diadakan di Jember antara 8 sampai 12 Agustus 2018.

Nonton Jember Fashion Carnaval 2018 dari Atas Jeep

Jalan Sultan Agung di Jember sudah ditutup sore itu. Orang-orang berkumpul di pinggir trotoar sambil nerawangin alun-alun yang kira-kira masih sekitar 1 kiloan lagi. Beberapa panitia rupanya sudah pasang pagar pembatas warna hitam-hitam di pinggir jalan raya, supaya pejalan trotoar nggak sampai menerobos ke jalan raya. Soalnya, jalan ini bakalan dilewatin parade karnaval Jember Fashion Carnaval 2018.

Kemaren, saya duduk di atas atap jeep paman saya sembari nunggu karnaval dimulai. Saya nggak sendirian; paman saya dan anak-cucunya ada di situ juga, bareng-bareng lagi ngecek kamera masing-masing. Suami saya berkeliaran di sekitar jeep sembari motret-motret; sementara anak kami, Fidel, 3 tahun, ngintilin dia. Saya dan suami saya datang dari Surabaya hari itu, sedangkan keluarga paman saya terbang dari Depok.

Fotografer Jember Fashion Carnaval
Suami saya lagi gendong anak kami.
Tak bisa berhenti motret biarpun anak kami merengek minta digendong.
Daddy is Fidel’s best friend.
Silakan lihat photoblognya di FotoFahmi.com.

Pawai Jember Fashion Carnaval sudah mulai semenjak tanggal 8 Agustus. Setiap sore, panitianya ngeblokir jalan sepanjang 1,5 km, dari alun-alun sampai Lippo Plaza, sehingga mobil nggak bisa lewat. Karena di sepanjang jalan itu, peserta karnaval akan long march sambil mamerin kostum mereka yang aneh-aneh.

Ini sudah jam 15.30, tapi paradenya belum mulai. Saya menengadah ke langit yang mulai mendung. Ini jadi paradenya apa enggak? Kalo ujan gimana ya? Saya kok nggak pernah percaya sama pawang hujan.

Tahu-tahu di kejauhan kami lewat sebatalyon manusia berpakaian putih-putih berbaris di tengah jalan raya. Here they go!

Kostum Jember Fashion Carnaval: Putih-putih, Tapi Aksennya Beragam

Rombongan itu sepertinya dijadiin pasukan pembuka Jember Fashion Carnaval. Jumlahnya sekitar 20-30 orang, pakai atasan lengan panjang dan celana yang semuanya putih-putih. Kostum monokrom itu diberi ornamen macam-macam, ada yang dikasih manset warna merah, ada yang tepian kancingnya diberi aksen bermotif ukir, ada juga yang bajunya ditambahi jubah panjang warna putih. Tetapi setiap talent-nya pakai hiasan kepala yang berbeda-beda, entah itu berupa mahkota atau topi. Mereka nyengir sambil dadah-dadah kepada penonton yang bersorak.

Mereka nggak cuman long march. Di tengah jalan, tiba-tiba mereka berhenti, lalu bikin konfigurasi pola oval. Lalu mereka jalan muterin pola itu sambil sesekali menari diiringi musik disko yang berdegup-degup dari sound system. Selesai konfigurasi, mereka pun lanjut jalan lagi ke arah Lippo Plaza.

Jalanan sempat kosong sekitar 10 menitan. Lalu muncullah rombongan berikutnya, sama, pakai putih-putih juga. Seorang cewek nongol, badannya dipasangi kipas-kipas di sekujur bahu dan kepalanya, sementara bajunya diikati sabuk kain warna pink gonjreng. Dia melambaikan selendang putihnya, sambil mainin kipasnya, dan tersenyum mamerin giginya yang gingsul. Saya dadahin dia sambil nyuting, dan dia dadahin saya balik.

Jember Fashion Carnaval adalah
Keyvin (@ceyvino_ming), model asal Jember, lewat sambil pakai kostum bernuansa Thai.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Cewek lainnya datang di belakangnya, sambil pakai mahkota emas berbentuk Wat Arun, dengan selendang warna emas dililit ke sekujur perutnya. Dia jalan ngedeketin para penonton yang ngelu-ngeluin dia, lalu ngajak toss-toss-an, padahal ke-10 jarinya pakai kuku palsu warna emas sepanjang 5 sentian..

Nongol lagi barisan lainnya, cowok-cowok berkostum putih-putih lagi, tapi bajunya berupa thoub yang dikasih aksen hitam dan sedikit emas. Bahunya rata-rata dihiasi aksesoris warna hitam yang dilapisi emas. Yang cewek-cewek pakai gamis dan berwarna putih juga, tapi wajahnya ditutupi kafiyeh yang malah dililit ke depan mulut..

Pasukan lainnya yang sepertinya hendak a la-a la nuansa Korea tapi berwarna putih-putih juga, melewati kami. Saya hendak motret, tapi tau-tau tertegun ketika saya merasa lengan saya kecipratan air. Siyalan.. gerimis!

Penonton Jember Fashion Carnaval
Saya dan sepupu-sepupu saya nonton Jember Fashion Carnaval 2018 dari atas Land Rover paman saya.
Posisi wuenaak begini terpaksa bubar ketika mendadak gerimis turun.
Foto oleh @iftaul

Terganggu Hujan

Pawai langsung berhenti. Entah ke mana talents itu pada berteduh. Saya dan sepupu-sepupu langsung turun dari kap jeep, lalu masuk ke kabin. Saya ajak Fidel duduk di dalam jeep sambil makan kripik, sementara suami saya tetap berdiri di emper sebuah toko sambil motret-motret. Jepret aja teruus..

“Whoaaa.. pawang ujannya nggak sip! Kembalikan duit kami!” celetuk kami sambil ketawa berderai-derai. Padahal kami nggak bayar untuk nonton pawai hari ini.

Kasihan orang-orang yang belum jalan itu. Padahal mereka masih harus jalan 1,5 kilo lagi. Saya lihat beberapa cewek talents tadi pakai high heels. Sebetulnya jalan kaki 1,5 km ini sudah lumayan pegel, tapi hujan membuat jalan jadi licin, sehingga pasti makin sulit. Kostum Jember Fashion Carnaval ini rata-rata memang begitu.

Tapi kemudian hujan berhenti. Orang-orang lainnya mulai berhamburan lagi ke pinggir pagar, setia nungguin parade lanjut. Kami tetap diam dalam jeep dan motret dari dalam mobil.

Rombongan berikutnya datang. Cewek-cewek pakai gaun merah gonjreng yang dililiti selendang emas, dan kepalanya pakai mahkota warna emas juga yang digelayuti kembang-kembang goyang. Mereka nari-nari sambil mainin selendangnya, sembari sesekali dadah ke penonton sambil sumringah. Saya waswas ngeliat high heels mereka. Jalannya licin, girls!

Jember Fashion Carnaval adalah
Lalu di belakang mereka, nongol gadis-gadis bermahkota karton ini.
Gayanya sih kayak tari Yapong, tapi kok musiknya kayak gamelan Lombok. Foto oleh Eddy Fahmi.

Musik pun berdentam-dentam, dan penari-penari itu berlagak seolah megangin mahkotanya, lalu gerak-gerakin kepalanya kayak burung bulbul. Spontan saya berseru, “Aduh, ayuneee mbak-e..!” Salah satu penari tersenyum tersipu-sipu dan pinggangnya makin semangat megal-megol.

Di catetan saya, jadwal Jember Fashion Carnaval 2018 hari itu adalah Rhythm Artwear Carnival. Dua hari berturut-turut sebelumnya, yang saya nggak nonton, temanya adalah Pets Carnival dan Kids Carnival.

Tentang Jember Fashion Carnaval

Jember Fashion Carnaval adalah acara karnaval tahunan garapan Dynand Fariz, seorang desainer busana asal Jember. Karnaval ini sudah diadakan 17 kali setiap tahunnya. Bentuknya berupa karnaval dengan orang-orang memakai baju yang didesain secara artistik. Desain-desain baju ini sebetulnya dilombakan, cuman saya sendiri nggak tahu akhirnya siapa yang menang.

Bagian yang menarik dari karnaval ini adalah peserta karnavalnya sendiri kebanyakan masih amatiran. Hanya sebagian kecil aja dari mereka yang merupakan model professional (tergabung dalam agensi, tahu caranya make-up-an, dan semacamnya), tapi lainnya kebanyakan masih amatiran dan ikut karena kepingin ngisi waktu luang.

Buat publik Jember, acara karnaval tahunan ini sukses bikin kota mereka jadi lumayan beken. Sesungguhnya nggak banyak hal yang ngetop dari kota kecil di tengah Jawa Timur ini, selain prol tapenya, dan mungkin Anang (itu pun juga sebetulnya dia bukan dari kota Jember, tapi dari Tanggul, luar kota). Tetapi Jember Fashion Carnaval sudah bikin kota itu jadi sorotan di seluruh Indonesia. Presiden Indonesia sendiri sudah bikin statement bahwa Jember adalah kota karnaval pertama di Indonesia. (Meskipun sebetulnya ada kota-kota lain yang juga ngadain karnaval.)

Padahal, sejarah Jember Fashion Carnaval bisa dibilang berat. Awal-awal event organizer-nya mau bikin karnaval ini, sempat ditolak kalangan legislative Jember lantaran dituduh karnaval ini nggak sesuai budaya local (sebelumnya, Jember berusaha memopulerkan dirinya sebagai kota santri). Tetapi EO-nya berusaha keras kepingin bikin karnaval karena ingin bikin citra kota tempat tinggalnya itu menjadi lebih menarik turis. Awalnya, anggota-anggota legislatifnya Jember itu diberi tiket gratis buat nonton karnaval, sambil mereka mengundang wartawan-wartawan untuk meliput. Dasar yang namanya karnaval, ternyata acaranya meriah dan karnavalnya dipuja-puji se-Indonesia. Semenjak itu, karnaval ini digelar rutin saban tahun.

Jember Fashion Carnaval
Jember Fashion Carnaval juga menyuguhi pawai budaya dari seluruh negeri.
Contohnya talent yang pakai kostum Dayak ini, bahkan bawa-bawa mandau segala seperti mau perang.
Foto oleh Eddy Fahmi.

 

Jember Fashion Carnaval di mata dunia sendiri cukup mentereng. Karnaval ini rupanya sudah menang di festival karnaval internasional, dan yang mengalahkannya cuma festival Mardi Gras-nya Rio de Janeiro dan festivalnya Reunion.

Akibat dari prestasinya karnaval ini lumayan signifikan buat popularitas Jember Fashion Carnaval itu sendiri. Selama sebulan sebelum Jember Fashion Carnaval 2018 dimulai, saya terus-menerus mantau harga-harga sewa hotel di Jember pada agen-agen travel online. Kamar-kamar hotel di Jember cenderung makin penuh, lama-lama yang tersisa tinggal kamar-kamar suites yang terhitung sudah sedikit di Jember. Persewaan memuncak pada final acara JFC, pertanda para turis cenderung kepingin nonton acara final JFC (yang tentu saja harga tiketnya dibanderol paling mahal).

Bagaimana Nonton Jember Fashion Carnaval

Nonton JFC sendiri bisa dengan dua macam cara. Cara pertama seperti yang saya lakukan dua hari terakhir ini, yaitu nonton di pinggir jalan dan gratis. Cara kedua adalah nonton di tribun, yang berada di Alun-alun kota Jember, dan harus bayar tiket. Orang Jember sendiri lebih antusias nonton di pinggir jalan.

Beberapa orang lainnya, termasuk sanak sodara saya yang memang tinggal di Jember, bahkan tidak antusias untuk nonton. Alesannya, kegiatannya sudah rutin diadain saban tahun, jadi mereka sedikit bosan. Selain itu, mereka juga males berdiri berdesak-desakan di balik pager. Ketika kami datang dari luar kota dan bilang ingin nonton JFC, mereka malah terkikik-kikik.

Nggak cuman bikin laris hotel-hotel di Jember, JFC sendiri juga bikin pariwisata Jember cenderung rame. Driver Grab yang nganterin saya ke lokasi karnaval, bilang bahwa order-annya cenderung meningkat. Bakul-bakul toko oleh-oleh merasa tamu-tamunya lebih banyak. Bahkan tempat-tempat wisata di Jember yang masih baru menggeliat macam Cocoa Science Park dan Taman Botani Sukorambi pun juga merasa tempat mereka cenderung lebih rame pada minggu ini. Turis-turis itu memang umumnya datang ke Jember untuk nonton JFC, tetapi JFC itu diadakan menjelang sore hari, sedangkan paginya mereka pakai untuk piknik keliling Jember bahkan sampai Banyuwangi.

Kostum Jember Fashion Carnaval
Di Jember Fashion Carnaval, cewek yang pake cadar pun masih bisa ikutan jadi talent.
Urusan kreativitas tidak perlu kontradiktif terhadap norma. Foto oleh Eddy Fahmi.

Nonton Jember Fashion Carnaval di Bawah Pohon

Siang tadi, saya balik lagi nonton Jember Fashion Carnaval. Hari ini adalah penyelenggaraan JFC pada hari keempat, sementara bagi saya, ini adalah nonton ronde kedua.

Tapi kami sempat agak nyesel karena kami rupanya datang telat. Kami ngebut setelah piknik seharian di Jenggawah, dan ternyata tiba di venue jam 14.30 tak sempat nge-tag parkir. Pager-pager sudah keburu dipasang. Tak jadi soal! Akhirnya kami parkir seadanya di seberang Lippo Plaza, lalu duduk di bawah pohon yang jadi pembatas tengah ruas double way.

Kami langsung nongkrong di jalur bawah pohon itu sambil siap-siap motret. Petugas bertuliskan Guard di kaosnya lalu-lalang, sambil bolak-balik memperingatkan penonton (termasuk Fidel) supaya nggak manjat-manjat pagar, kuatir pagarnya roboh.

Serombongan marching band datang sambil mainin lagu Despacito dengan beragam perkusi dan brass mereka. Mereka main musik sambil nari-nari, sesekali dadah-dadah kepada saya. Kostum mereka kaos dan celana hitam, pinggang mereka dililiti selendang emas, dada mereka diliputi rompi merah beraksen emas. Kepala mereka dipasangi mahkota yang mirip mahkota penari Cakalele, dan pelipis kiri wajah mereka digambari tattoo temporer. Mereka semua kelihatan keren, gagah (dan sangat menggoda untuk mengajak menari).

foto Jember Fashion Carnaval
Pemain terompetnya marching band di Jember Fashion Carnaval ini cerdas banget milih posisi barisnya, strategis buat kena jepret kamera penonton lantaran baris paling pinggir.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Lagu Despacito mereka berhenti persis di depan kami. Para pemain brass naruh terompet dan horn mereka di aspal, hanya tinggal pemain perkusi aja yang masih bermain. Dengan iringan tatabuhan itu, mereka semua berjoget, dan.. alamak, Fidel ikutan joget! Saya kepingin sekali joget juga, tapi saya lagi nyuting, ya Allah..

Rombongan berikutnya menyusul dalam jeda yang nggak terlalu lama. Sepasukan talents dengan baju hitam yang diinstalasi kujang-kujang besar dari gabus. Berikutnya, sepasukan talents dengan kimono khas Korea sambil bawa-bawa bendera Korea yang dicantolin di obinya.

Lalu nongollah seorang model dengan suit Thailand warna emas beraksen perak, dihiasi ukir-ukiran di sekujur tubuhnya. Punggungnya dihiasi sayap emas, plus dekorasi yang mirip sayap burung hong warna emas juga. Kakinya yang pakai super high heels warna emas nampak tertatih-tatih. Saya mules lihat hiasan di bahunya yang kelihatan lagi-lagi mirip Wat Arun. Sepertinya hiasan itu miring! Tapi model itu, kelihatannya cowok yang berdandan mirip perempuan, tetap tersenyum lebar.

Teman sejawatnya nyusul di belakangnya. Seorang cewek yang sepatunya kelihatan lebih masuk akal, sebab nampaknya dia cuma pakai sepatu basket putih meskipun dia juga pakai suit emas yang berkilauan. Yang saya bingung adalah hiasan punggungnya yang berupa tumpukan dari 6 buah gambar gajah putih. Is this a costume or a billboard?

Crew Jepang tampil lebih futuristik. Alih-alih berdandan pakai kimono, mereka mengusung tema Shogun. Alhasil, yang nongol adalah cowok-cowok berpakaian jaket hitam-hitam dengan aksen ukiran emas dan perak, sambil pamer-pamer samurai. Biar seram, mata mereka dipakaikan lensa yang pupilnya pin point. Orang-orang ini macam baru kena wabah midriasis.

Saya rasa, make-up JFC pada hari ini kelihatan lebih heboh daripada make-up di hari-hari kemaren.

Foto Jember Fashion Carnaval 2018
Make-up JFC untuk talents bertema Korea.
Saya masih cari-cari mereka pakai brand apa untuk make-up ini supaya nggak luntur sepanjang karnaval.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Hari ini seolah jadi teaser dari penampilan tiap kontingen yang sejatinya mestinya tampil besok di hari terakhir. Dalam satu konfigurasi, nongollah para talents dengan kostum yang berbeda-beda; seorang cewek dengan hanbok warna-warni dan alis digambari panjang, thoub dengan jubah panjang sambil bawa-bawa pedang, dan nonik India pakai kostum warnawarni dengan rambut buntut sepanjang semeter.

Tiba-tiba, gerimis mendadak turun. Sebagian penonton bubar cari emper toko. Adeeuuhh.. mosok karnavalnya berhenti sih? Tapi Fidel tidak kelihatan gentar dan tetap berdiri di bawah pohon. Dia pakai topi, dan dengan antusias dia menoleh ke sana kemari menunggu atraksi berikutnya.

Kostum Budaya Indonesia Tetap yang Terbaik

Dan ternyata, bener aja, nggak lama kemudian, hujannya stop. Nongol kontingen berikutnya dengan musik khas gamelan Bali, sama seperti yang saya dengar di pawai ogoh-ogoh beberapa bulan yang lalu. Gadis-gadis cantik datang, ada yang pakai kostum warna merah oranye, ada yang pakai warna biru dari atas ke bawah. Semuanya pakai mahkota dari emas, tapi yang paling menonjol, punggungnya dipasangi sayap raksasa dari kertas. Saya bersorak kepada anak saya, “Fidel, liat! Itu namanya kupu-kupu, Del!”

Fidel melompat-lompat gembira. “Pupu-pupu!” serunya menirukan.

Kostum cewek-cewek itu memang jempolan banget. Cewek-cewek itu tinggal belokin badannya ke kiri-kanan, maka sayap mereka langsung berkibaran kena angin. Persis sekumpulan kupu-kupu raksasa.

Lama-lama kok saya ngerti polanya cara membuat baju karnaval Jember ini. Baju basic­-nya umumnya berupa kaos dan celana stretch. Tapi layer-nya dimacem-macemin, bisa berupa rompi, jaket, jubah yang modelnya mencolok. Supaya kelihatan extravaganza, punggungnya ditambahin hiasan segede-gede gaban warna-warni, bisa berupa sayap atau bahkan instalasi macam gugunungan perwayangan, tiruan bangunan, sampai boneka-bonekaan. Talents yang bertugas menari-nari biasanya tidak bawa instalasi di punggungnya, tetapi mereka dipasangi macam-macam selendang beraneka warna.

Tapi yang masih paling cakep buat saya adalah rombongan yang terakhir, yang saking ciamiknya, sampai saya puter videonya berulang-ulang di HP saya. Semula saya sangka ini gadis-gadis berpakaian khas Bali, kelihatan dari tusuk konde emasnya yang miring sebelah, tapi ternyata mereka berkostum khas Lombok (yang memang kan sebenarnya mirip Bali).

foto Jember Fashion Carnaval 2018 (1)
Penari Lombok ini sangat murah senyum.
Teman-temannya juga.
Agak ironis, karena di depan mereka ada spanduk bertuliskan Pray for Lombok.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Diawali spanduk bertuliskan Pray for Lombok, gadis-gadis seperti foto di atas ini, nongol sambil menari-nari dengan diiringi music gamelan di belakang mereka. Cewek-cewek ini menari-nari sambil mainin selendang pink mereka sepanjang 1,5 km, sembari tersenyum kepada kamera tiap penonton, tanpa henti.

Yang saya salut adalah yang di belakang mereka, serombongan pemain gamelan Lombok. Mereka bawa kendang, simbal, dan gong. Pakai udeng di kepala, dengan beskap putih dan sarung warna biru bermotif dari emas, dan jangan lupa, kembang kamboja terselip di telinga mereka. Bapak-bapak ini berhenti long march di depan saya, lalu mereka menari-nari sambil loncat-loncat dan tetap nepuk-nepukin simbal mereka. Fidel nonton mereka, sembari ikutan lompat-lompat dan tiru-tiru tepuk tangan, dan mulutnya menirukan suara simbal “ces-ces-ces-ces-ces-ces-ces..” Ya ampun, saya suka banget lihat orang menari di tengah jalan!

Saya merasa pertunjukan hari ini lebih meriah daripada kemaren. Mungkin lantaran hari ini temanya World Archipelago of Carnaval Indonesia, sehingga nuansa kostum yang tampil juga lebih berwarna-warni. Tiap pasukan diantar oleh sebuah mobil sound system yang putarkan musik tematik sesuai tema kostumnya, jadi setiap show selalu terasa nuansanya.

Bahagia Nonton Pinggir Jalan

Seneng banget saya nonton di pinggir jalan begini, meskipun rada waswas lantaran takut ujan sewaktu-waktu turun. Orang-orang lainnya yang nontonin di pinggir jalan juga sama senangnya kayak saya, meskipun memang kudu rebutan ngetag rumput (!) demi dapet posisi wuenak.

Mau merasakan meriahnya acara ini dari pinggir jalan? Tonton video 5 menit saya berikut ini yaaa..

Tante saya, yang tinggal di Jember tapi nggak ikutan nonton, memuji pilihan tempat nonton kami yang di dekat Lippo Plaza. Katanya, “Ya di situ itu yang benernya kalo mau nonton (pawai JFC), Vic, soale tempatnya lebih lega. Aku dulu nonton di alun-alun, puenuuh sueseeek, umpel-umpelan sama orang lain! Dooh.. gak lagi-lagi deh aku nonton JFC di alun-alun! Kuapok!”

Setelah dua jam parade karnaval, akhirnya pawai itu selesai dan pager-pager diangkatin supaya mobil bisa lewat lagi. Saya menggandeng Fidel ke parkir, sementara bocah itu masih aja menyanyi-nyanyi menirukan musik gamelan Lombok tadi. Saya bilang ke Fidel, “Besok kita nonton karnaval lagi, di tempat yang ada tendanya ya, Nak..”

Iya, bener. Besok saya mau nonton pawai Jember Fashion Carnaval 2018 lagi. Tapi bukan di pinggir jalan, melainkan di tribun yang berbayar. Lihat tulisan saya nonton karnaval dari tribun ini, besok yaa..

travel blogger Vicky Laurentina di Jember Fashion Carnaval
Saya seneng banget bisa nyuting Jember Fashion Carnaval 2018 hari ini.

P.S. Suami saya juga bagi-bagi tentang tips motret Jember Fashion Carnaval di blognya 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. rizka nidy says:

    Seru banget mbak nonton di atas jeep. Anti ketutupan kepala orang ya 😀 Idenya kreatif juga.
    Kalau orang Jembernya pantas aja bosan ya, tiap tahun soalnya. Tapi buat warga yang di luar Jember tetap bakal jadi acara menarik, karena kalau nggak bisa tahun ini, masih ada tahun depan.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya sih, cuman ternyata ada juga buah simalakamanya. Orang-orang lain jadi cenderung menjauhi posisi jeep paman gw, sebab kan jeep itu cukup makan tempat. Crowd manusia pun pindah ke titik lain. Siyalnya, ketika suatu kontingen defile mau bikin atraksi konfigurasi di jalan, mereka cenderung pilih titik yang jumlah crowd penontonnya lebih banyak, dan tentu aja titik itu bukan di depan jeep kami. Wkwkwkwkwk..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, sebetulnya memang sudah terasa sejak karnaval ini rutin diadakan setiap tahun.
      Setiap kali ada penyelenggaraan event ini, banyak sektor ekonomi yang memperoleh peningkatan pendapatan: hotel, transportasi, travel agents, bahkan toko oleh-oleh.
      Selain itu, ada pengrajin yang memang khusus selalu panen orderan untuk mengerjakan detail kostumnya, dan mereka dipekerjakan oleh para peserta karnaval setiap tahun.
      Dan banyak remaja belajar jadi model karena mereka dipekerjakan untuk jadi talents pada waktu karnaval. Jadi yah, dengan adanya Jember Fashion Carnaval ini, banyak elemen masyarakat yang justru jadi semakin makmur 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Nggak.. dia nggak dadah-dadah ke saya sih sebetulnya 🙂

      Jadi, sepanjang nonton ini, saya berdiri di sebelah suami saya. Saya nyuting pakai smartphone, sedangkan suami saya motret pakai kamera. Kamera suami saya kan besar, jadinya keliahtan mencolok. Para talents ini udah terlatih, begitu mereka lihat kamera besar, mereka langsung spontan dadah-dadah. Jadi sebetulnya di foto-foto ini, mereka bukan dadah-dadah ke saya, melainkan dadah-dadah ke suami saya, hahahahaah..

  2. Duhh senangnya yag bisa nonton jember fashion carnival. Saya masih belum berkesempatan lihat acara ini nih. Itu mobil oke juga ya buat foto2, jadi tidak perlu desak2an sama fotografer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *