Nonton Jember Fashion Carnaval 2018 dari Tribun

Lebih enak mana kalau nonton karnaval, nonton di pinggir jalan atau nonton di tribun? Well, setelah sepanjang dua hari sebelumnya saya mantengin Jember Fashion Carnaval 2018 dari pinggir jalan, kemaren saya nyobain nonton di tribun di Alun-alun. Dan ternyata beginilah rasanya..

Grand Carnival Jember Fashion Carnaval 2018 dari Tribun

Sebetulnya puncak acaranya Jember Fashion Carnaval 2018 ya di Alun-alun ini. Parade dimulai dari Alun-alun, lalu akan berlanjut ke jalan.

Penampilan para talents hari terakhir ini paling heboh ketimbang hari-hari sebelumnya. Inget nggak di posting lalu saya kebanyakan cerita tentang kostum mahkota dan hiasan punggung mereka yang heboh-heboh? Sekarang saya berasanya yang lalu itu cuman teaser doang. Soalnya, kali ini, kostum mereka ditambahin rompi dan outer macam-macam lainnya yang sama hebohnya dengan dekorasi mahkotanya, sehingga baju basic mereka hampir-hampir nggak kelihatan.

Sing paling heboh lagi, mereka bawa-bawa kendaraan segala, umumnya berupa kereta hias yang didorong oleh para talents. Dan di atas keretanya hampir selalu ada talents yang ceritanya jadi pemimpin rombongan. Alhasil, kereta ini selalu menarik perhatian orang-orang yang ngeliat deh.

Contohnya ya kayak ini..

Foto Jember Fashion Carnaval
Kereta Ottoman dari Turki, salah satu penampil di Jember Fashion Carnaval 2018.
Foto oleh Eddy Fahmi

Senengnya nonton di tribun ini juga, karena saya bisa nonton show-nya tepat waktu. Parade karnavalnya dimulai dari Alun-alun, melewati tribun para penonton, baru jalan ke jalan raya. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang nonton di tribun ini yang dapet giliran pertama melihat paradenya, ketika talents-nya masih baris rapi, masih senyum-senyum seger gitu deh. Beda kemaren pas saya nonton di pinggir jalan, rasanya nungguin talents ini kudu beres tampil di Alun-alun.

Acara paradenya sungguhan dimulai jam 13.00. Mula-mula masuklah pasukan favorit saya, marching band! Mereka pakai baju stretch hitam dengan jubah merah, sementara lengan dan betisnya dilapisi manset merah beraksen emas, pinggangnya dilapisi kain emas menjuntai, dan ada mahkota berbentuk kujang di kepala mereka. Mayornya yang ganteng mendadahi penonton, dia pakai semacam baju besi berhiaskan payet emas dan merah, dan sarung batik yang disampirkan dengan gaya tentara kerajaan Galuh. Jubah merah dan mahkota kujangnya, plus tongkat emas yang dia bawa malah ngingetin saya akan tentara Romawi.

Mereka mainin lagu Koi Mil Gaya, disusul sama La Malaguena (yes, of course saya hafal lagu itu karena saya sering mainin lagu itu waktu masih main marching band dulu). Fidel teriak-teriak kegirangan dan lagi-lagi ikutan menyanyi niru-niru meskipun nadanya jadi nggak karuan.

Di belakang mereka, masuk kontingen dengan baju hitam-hitam beraksen perak metalik, merah, dan emas, yang dihiasi instalasi kujang-kujang raksasa di punggungnya. Meskipun temanya Sunda, tetapi lantaran mereka berjalan lamban, saya ngeliatnya jadi kesan gothic gitu. Mereka peragain tongkatnya, sesekali diam ketika nyadar ada penonton yang motretin mereka.

Agak jauh di belakangnya, muncul lebih banyak lagi pasukan berkujang, diiringi suara sound system bernada karawitan Sunda yang kelam. Plus sebuah kereta besar dengan hiasan kujang-kujang besar dan ditempeli bebatuan pink. Di atas kereta itu, berdiri pemimpinnya yang piara patung harimau putih dan nampak garang.

Tema kujang ini memang dijadiin pembuka untuk tema besar dari JFC tahun ini, yaitu Asialight (tema JFC selalu berbeda-beda saban tahunnya, meskipun saya pikir sebetulnya pola desain bajunya ya gitu-gitu lagi.) Jadi karnaval ini mau nampilin baju-baju dari macam-macam negara di Asia gitu.

Saya sendiri sibuk nungguin baju yang cukup wah buat difotoin. Sudah bukan rahasia lagi, bolak-balik baju alumni pagelaran karnaval ini sering dipakai kontestan Indonesia di Miss Universe, dan seringkali menang sebagai kostum terbaik.

Persis sesudah pasukan kujang asal Sunda ini, nongol pasukan berikutnya yang berbau-bau Korea. Dominatornya adalah cewek-cewek pakai hanbok. Ada yang bawa-bawa patung burung, patung burungnya ditempelin pada dahan-dahan di punggungnya. Ada yang bawa-bawa panah, belagak kayak pemanah dari Pulau Nami.

Jember Fashion Carnaval 2018
Yang saya suka malah talent yang bawa-bawa kipas.
Kayaknya ada minimal 5 kipas ditanemin di punggung dan kipasnya.
Pas banget karena sinar mentari di Jember lagi panas-panasnya, sehingga dia nampak ngipasin diri sepanjang parade.
Foto oleh Eddy Fahmi

Macam-macam lagi kontingen lainnya, ada kontingen yang bertema Thai, Jepang, China, dan lainnya lagi. Nanti deh saya ceritain, tapi saya mau cerita tentang suasana festivalnya dulu.

Alun-alun yang Jadi Pesta Rakyat di Jember Fashion Carnaval

Jadi sebenarnya, nonton Jember Fashion Carnaval 2018 ini nggak cuman nonton pawai kostum aneh melulu kayak postingan saya kemaren. Di alun-alun Jember, panitianya menggelar Ekshibisi yang pada dasarnya berupa bazaar gitu deh, dan pesertanya dari macem-macem UKM dan perusahaan-perusahaan yang mensponsori acara ini.

Lokasi Ekshibisinya berada di seberang Tribun. Antara dua lokasi ini dijaga pasukan panitia yang ketat banget, jadi penonton gratisan pun nggak bisa masuk tenda. Saking ketatnya, penonton yang udah masuk ke tenda tribun pun nggak boleh keluar masuk lagi sampai acaranya selesai. Penontonnya cuman boleh keluar satu kali, itu pun tiketnya ditandain sama panitia yang jagain tenda.

Buat sholat, ternyata panitia nyediain musholla darurat di kawasan bazaar ekshibisi. Mushollanya kira-kira muat buat delapan orang yang mobile, dan unisex.

Tribun tempat penonton sendiri berada di area utara dan barat Alun-alun. Di tribun ini ada tempat duduk, jadi penonton nggak pegel berdiri. Ada tiga kelas untuk Tribun ini, yaitu kelas Silver, Gold, dan Platinum.

Soal bangku ini unik. Jadi dua bulan lalu, kami udah dapet denah duduk dari tribun untuk nonton JFC ini. Ternyata, yang namanya tribun itu terdiri atas tenda, yang di dalamnya ada kursi-kursi yang dijejer gitu menghadap jalan tempat berlangsungnya parade. Dalam satu tenda itu isinya kira-kira 6 deret kursi, per deret isinya 10 kursi. Kayak kursi nonton bioskop. Tapi.. minus undak-undakan. Artinya, yang duduk di deret belakang pasti ketutupan yang duduk di deret depan.

Berhubung kami sudah ngeh bahwa tribunnya nggak pakai undak-undakan, kami akhirnya mutusin dateng pagi. Dua jam sebelum acara, kami udah tiba di venue demi nge-tag bangku paling depan. Tapi ternyata, eng ing eng..kami telat, Sodara-sodara! Deret bangku paling depan udah dihuni oleh sekumpulan om dan tante yang logatnya mirip logat Kebayoran. Alhasil, kami cuman bisa dapet deret kedua, fufufu..

(Kelihatan banget kalau tamu-tamu ini bela-belain terbang dari Jakarta cuma demi nonton Jember Fashion Carnaval.)

Tapi dasar, Tuhan kayaknya memang udah kasih yang terbaik buat kami. Jadi pas acaranya dimulai, sinar matahari beneran nyentrong ke tenda kami. Tenda kami ini kelas Silver, kasta tenda paling rendah lantaran posisinya yang menghadap langsung ke sinar matahari. Om-om dan Tante-tante yang duduk paling depan itu rada kesilauan karena kena sinar matahari langsung. (Makanya, Om, Tante, pakai tabir surya dong.. :p)

Lha saya yang duduk di belakangnya malah berasa dapet sunscreen lantaran kehalang tubuh mereka, hahahah..

Menurut saya sih nggak problem juga cuman duduk di baris kedua, paling-paling kalau mau nyuting saya kudu acungin tripod tinggi-tinggi. Suami saya malah sudah siap lensa tele. Yang sebel sebetulnya justru anak-anak dari keluarga kami, termasuk Fidel, lantaran pandangan mereka kan terhalang oleh orang-orang dewasa di depan. Plus, ada aturan dari panitia yang tertulis di tiketnya, Penonton dilarang berdiri kecuali memberi applaus.

Model-modelnya Pun Disapa

Tapi saya tetap berusaha menikmati pertunjukan. Paham kalau kamera saya terbatas untuk nyuting jarak jauh, kadang-kadang saya teriak-teriak manggil talents-nya yang lewat supaya datang mendekat kepada kami. Kadang-kadang saya sapa, “Hey, Cantik, noleh kanan sini doong!” atau “Woohooo.. cakep beut narinya!”

Suara saya cukup berisik, alhasil tiap kali talents-nya noleh, suami saya langsung bisa membidik mereka. Jepreet!

Jember Fashion Carnaval
Selagi talent-nya pasukan Arab ini berpose buat kamera suami saya, saya sekalian ngajak talent-nya ngobrol.

Lalu nongollah talents dengan thoub ini sambil menyeret-nyeret jubahnya yang kelihatan luxurious. Ceritanya ini kontingen bertema Arab. Setelah saya sorakin, saya pun teriak tanya, “Dandan dari jam berapa, Kak??”

Serunya, “Jam 9!”

Weew. Dan ini baru jam 15.00.

Kadang-kadang saya tanyai mereka kalau mereka mau nanggapin. “Kuliah atau (masih) SMA ini teh?” Sebab di antara talents itu, ada yang masih wajahnya kekanak-kanakan banget, senyumnya kelihatan dipaksain, ekspresi mukanya nampak lelah, padahal mereka belum jalan sekilo.

Agak berbeda dari karnaval hari-hari kemaren, jika kemaren mereka berjalan cukup 1,5 km dari alun-alun sampai mall Lippo Plaza, maka khusus hari ini, mereka akan berjalan sampai 3 km, sampai Kaliwates (tepatnya Gedung Serbaguna Kaliwates). Yes, sejauh itu!

Berusaha Tidak Bosan

Sebetulnya menurut saya, parade baju karnaval yang ditampilkan sih cukup menarik. Saya bisa ngomong menarik karena saya sendiri nggak bisa desain baju, hahahaha.. Tetapi saya harus lumayan berjuang dikit supaya nggak sampai bosan. Soalnya menurut saya, durasi mainnya tiap kontingen itu lumayan kelamaan.

Foto Jember Fashion Carnaval 2018
Pasukan kujang yang tampil di Jember Fashion Carnaval, jalannya cukup lamban sampai saya berharap mereka segera lewat.
Foto oleh Eddy Fahmi

Ada 10 kontingen yang bermain, dan tiap kontingen mewakili negara yang beda-beda. Persoalannya, jarak antar kontingen sendiri bisa sampai 10 menit nunggunya, dan itu lumayan lama bagi penonton. Barisan antara peserta dalam kontingen sendiri juga kadang-kadang terlalu renggang. Coba bayangin, ada seorang peserta yang sudah jalan di depan, sementara peserta di belakangnya masih berada sekitar 30 meter. Melihatnya pun saya malah merasa ganjil.

Tambahnya lagi, saya kadang-kadang bingung nebak-nebak ini kostum dari negara mana. Bayangin, suatu kontingen diawali pemimpin barisannya pakai kostum aneh, tapi saya kesulitan menduga apakah ini mewakili Mesopotamia atau bertemakan Mongolia. Lha saya sendiri juga nggak dapet bocoran tentang negara-negara mana aja yang ditampilkan. Saya baru ngeh bahwa itu dari negara anu setelah kontingennya lewat semua, dan di belakangnya nongol mobil sound system yang memutar music keras-keras, dan di mobilnya dipasangi spanduk bertuliskan “Defile Negara Anu”.

Lalu, meskipun tiap kontingen sebetulnya udah disertai mobil sound system yang memainkan music bertema negara bersangkutan, tapi jarak dari mobil sound system dengan pemimpin rombongannya sendiri kejauhan. Pemimpin barisannya jalan duluan di depan, dan musicnya tidak terdengar (karena memang mobilnya masih jauh). Saya kadang-kadang mendapat kesan bahwa pemimpin barisan ini seperti jadi pemimpin yang “hilang” karena terlalu maju di depan anak buahnya. Rasanya garing gitu kalau dia berjalan tanpa terdengar diiringi musik.

Di sinilah saya mulai ngerti perbedaan rasanya nonton di tribun dengan nonton di pinggir jalan. Kalau nonton di pinggir jalan kemaren, lebar jalan sebetulnya masih sempit, sehingga rombongan mesti berjalan agak rapat. Akibatnya mobil sound system pun masih bisa terdengar sampai pemimpin rombongan yang terdepan. Tetapi kalau di tribun begini, jalannya terlalu lebar, sehingga rombongannya renggang banget sampai-sampai musik background-nya sendiri jadi seolah terpisah dari rombongan depan. Efeknya, suasana yang timbul juga beda.

Kostum Jember Fashion Carnaval
Nggak semua talent di Jember Fashion Carnaval itu jalan kaki.
Talent yang bawa tema shogun ini malah bawa sepeda motor.
Dan dekorasi motornya nggak kalah ngejreng dengan kostum yang dia pakai.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Saya melirik kepada ke-14 keluarga saya yang lagi nonton juga. Fidel mulai bosan karena suasana yang dibawakan tim-tim karnaval ini rada gloomy. Alhasil dia rewel dan malah asyik nonton channel CKN Toys di HP suami saya. Saya menggerutu, lantaran dia udah dibeliin tiket mahal-mahal tapi malah akhirnya Youtube-an di venue..

Kadang-kadang perut saya laper, dan saya mengisi mulut dengan cemilan yang saya beli sebelum acara dimulai tadi. Kebetulan di bazaar kan banyak stands jualan makanan. Saya sendiri beli bowl rice dari stand Yoshinoya, beberapa potong sosis bakar, plus sekotak kue lapis. Jadi kalau di tengah-tengah jeda antar kontingen yang cukup lama, saya makan karaagenya Yoshinoya.

Sepupu-sepupu saya nggak konsen nonton. Faktor duduk di bangku kedua ternyata lumayan signifikan mengurangi kepuasan menonton lantaran ketutupan orang di depannya. Anak-anak balita dari sepupu-sepupu saya itu rewel kepanasan, dan sepupu-sepupu saya jadi rempong nenangin mereka sepanjang acara.

Paman dan tante saya malah lebih parah lagi. Mereka malah ketiduran!

JFC 2018
Ada pasukan yang bawa-bawa khewan piaraan, hahaha..
Enggak ding, ini ceritanya centurion dari Babilonia.
Cocok buat talent yang nggak bisa jalan sambil joget dan bokongnya kaku.
Foto oleh Eddy Fahmi

Urusan Panggilan Alam

Persoalan nongol ketika saya meraba dan ternyata Fidel pup di popoknya. Hadeuuh..repot! Spontan saya bopong Fidel keluar dari tenda penonton dan berburu toilet.

Panitianya ternyata sediain toilet darurat yang portable di belakang tribun. Ada banyak orang mengantre di situ, dan saya menghela napas berusaha sabar. Saya paling benci kalau lagi di tengah event gini, tahu-tahu kebelet pup. Saya sih bisa mengendalikan perut saya sendiri dengan pup sebelum berangkat ke venue, tapi anak saya belum lulus toilet training.

Toiletnya sempit banget, cuman muat satu orang. Sangat nggak leluasa mengganti popok Fidel dalam toilet sekecil itu. Duh, maafkan Mama ya, Nak. Mudah-mudahan kami sedang nggak diawasi pedofil.

Selesai popok diganti, saya membawa Fidel kembali ke tribun. Sambil lagi-lagi sounding kepada bocah ini tentang toilet training. Lalu memantrai diri saya sendiri dengan aji-aji yang sama “I’m a mommy travel blogger with a toddler.. I’m a mommy travel blogger with a toddler.

Tiba di bangku, menurut suami saya, saya cuman ketinggalan show-nya kontingen China.

Sebetulnya rada ribet bawa Fidel keluar-keluar dari tenda karena bocah itu nggak pakai tiket. Jadi gini, tiap orang yang mau nonton di tenda itu kudu bayar tiket kan, termasuk anak di atas 1 tahun pun udah harus bayar harga penuh. Nah, tiket yang saya dapet itu berupa lembar dari karton bertuliskan Jember Fashion Carnaval 2018, dan digantungin tali untuk dikalungin kayak name tag.

Tiket Jember Fashion Carnaval 2018
Begini nih penampakannya tiket Jember Fashion Carnaval 2018 untuk hari Grand Carnival.

Nyuruh orang dewasa pakai kalung tiket mah gampang, tapi susah kalau nyuruh anak kecil. Tiket yang saya pakaikan ke Fidel nggak tahan lama. Dia menarik-narik kalung tiket itu sampai sobek, bikin saya kecewa lantaran tiket mahal begini nggak dilaminating sama panitianya. Tali tiket itu bahkan ditarik-tarik juga sama Fidel, sampai-sampai benangnya mbrodol. Hadeeuuhh..

Bangku Depan Pindah!

Tahu-tahu sudah jam 3 lewat dan mendadak, rombongan om-om dan tante-tante yang duduk di depan saya minggat. Ternyata mereka kudu pulang lantaran mesti ngejar kereta ke Surabaya! Padahal acaranya belum selesai. Saya dan keluarga saya langsung pindah ke paling depan sambil cengar-cengir bahagia. Akhirnya kami duduk paling depan! Dan sinar matahari sudah bergeser, tidak lagi jatuh ke arah tenda kami. Kami pun nggak silau.

Rombongan Babilonia masuk dengan kostumnya yang bernuansa biru emas. Hoalaaah..ada yang bawa burung-burung segala, boneka burung dari logam yang bisa ngepak-ngepakin sayap. Di belakangnya, berjalan sendirian buntutnya.. seekor centurion.

Ternyata ada talents yang disuruh pakai kostum kuda. Bokongnya diberi buntut berupa badan kuda lengkap dengan kaki palsunya.

Anak-anak Turki nongol dengan kostum warna-warni. Kesan mereka ceria sih, dengan kostum yang bertema geometris macam topi persegi, motif baju yang bundar-bundar. Salah satu talent dipasangi layang-layang di punggungnya yang bahkan tinggi layang-layangnya melebihi tinggi badannya sendiri. Dia menunjukkan dekorasi punggungnya itu lalu memutar-mutar badannya bak gasing. Whoaaa.. talking about acrobat!

Musik ritmik khas India pun terdengar. Nongol pasukan India yang ruwet dengan kain sarinya yang warna-warni. Beberapa orang tampil bak ratu, disusul dengan dua baris penari India yang megal-megolin pinggul diiringi musik “racha-racha”.

Jember Fashion Carnaval adalah
@morint_official pakai gaun biru dengan kembang-kembang warna kuning yang disangkutin ke punggungnya.
Dateng ke booth kami sambil diiringi musik India.
Foto oleh Eddy Fahmi

Di tengah-tengah jalan nampak seseorang pakai rok segede-gede gaban berwarna emas. Setelah ia ke sentral, baru kami bisa melihatnya dengan jelas, itu bukan rok, tapi instalasi berbentuk kubah yang dibangun di atas sebuah kereta. Seorang cewek disuruh duduk di atas kereta, dan pinggangnya diumpetin di dalam kubah kereta itu. Dan keretanya bisa diputar. Jadi seolah-olah cewek itu pakai rok raksasa.

Ketika di belakangnya muncul pasukan lain bawa spanduk bertuliskan “See you next time at Jember Fashion Carnaval 30 Juli – 4 Agustus 2018”, sontak mendadak semua orang merasa kecewa dan langsung pada bertepuk tangan. What a marvelous show!

Parkir yang Susah

Jalanan berangsur-angsur dibuka seiring dengan bubarnya acara, sementara suami saya memesan Grab. Kami sedang menunggu di pinggir jalan, ketika tiba-tiba seseorang menyapa saya dengan gembira. Ternyata itu Mbak Attini Zulfayah @emakmbolang!

Dan Mbak Zulfa itu nggak sendirian, di belakangnya ada Mbak Katerina @travelerien, Mbak @dianradiata, dan Mbak Irawati Prillia @envirolia2015. Whoaa.. nggak ngira travel bloggers pada dateng beneran ke Jember Fashion Carnaval. Dan mereka nonton acaranya sungguhan, bukan cuma ngebuzz secara remote demi ngejar trending topic doang, wkwkkwwkwk..

Travel blogger Indonesia Vicky Laurentina
Kami para travel bloggers Indonesia malah nggak sengaja ketemu di gerbang seusai karnaval.
Dari kiri ke kanan: Mbak Katerina, saya, Mbak Attini Zulfayah, Mbak Dian Radiata, dan Mbak Irawati Prillia.
Itu yang depan bukan travel blogger, tapi anak seorang travel blogger yang nggak mau minggir pas mamanya mau foto, wkwkwkkwwk..

Yah, jadi kalau dipikir-pikir, mana yang lebih enak, apakah nonton di tribun atau di pinggir jalan? Saya rasa dua-duanya enak sih, tergantung budgetnya aja. Tapi kalau saya mesti nonton Jember Fashion Carnaval di tribun, dan dapet bangku yang kejatuhan sinar matahari lagi plus bangkunya masih baris kedua lagi, kayaknya mendingan saya nonton di jalan aja deh sekalian kayak dua hari yang lalu, hihihihi.

Memang masih banyak yang kudu dibenahi dari event ini, terutama pengaturan tempat duduk, penyediaan fasilitas, dan evaluasi kinerja pawang hujan (wkwkwkwk..). Tapi menurut saya sih, kerja panitianya sudah cukup rapi, kelihatan dari para guard-nya yang disiplin berat.

Saya tampilin juga video saya selama nonton acara puncak Jember Fashion Carnaval 2018 ini dari tribun. Tonton yaa.. 5 menit aja lho! Sengaja nggak saya kasih musik latar di belakangnya, supaya kalian bisa lihat suasana nonton di tribun yang.. yaa gitu deh.

Yang jelas, kami sekeluarga bahagia banget bisa nonton Jember Fashion Carnaval 2018 ini. Banyak banget pengalamannya yang kami dapet. Saya mengharap banget karnaval ini bisa naikin pendapatan untuk para pelaku usaha di seantero Jember, dan seandainya kota-kota lain di Indonesia mau bikin karnaval juga, bisa serapi JFC ini 😊

tiket pesawat surabaya jember

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. Dian Radiata says:

    Aku baru pertama kali nonton JFC ini, dan rasanya pengen nonton lagi tahun depan. Mungkin pengen coba nonton dari tribun biar punya kesan dan pengalaman yang beda.

    Surprise dan gak nyangka banget loh bisa ketemu mbak Vicky di depan kantor pos itu. Ternyata kita berjodoh kopdar di Jember ya, mbak

    Btw, aku suka banget ama kalimat ‘bukan cuma ngebuzz secara remote demi trending topic’ hahahahaha..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Wkwkwkwkwk.. nggak ngira juga lho, Mbak. Seperti yang kubilang kemaren-kemaren, dari sekian banyak tempat di muka bumi ini, kok malah kita ketemunya di Jember ya, hahahhahahah..

  2. Fanny F Nila says:

    Waaah aku jd inget ama parade yg biasa ada di USS, USJ ato disney :D. suka sih melihat parade dengan aneka kostum yg aneh2 gitu. makin heboh, aku makin suka dan betah nontonin ampe abis ;p. kostum yg naik motor itu, lgs kepikir bawa motornya apa ga susah yak ;p.. tp kalo ada peserta yg jalannya lambat, pdhl kostumnya ga terlalu menarik, bisa dibayangin bosennya gmn Vic ;p. mbok ya kalo jalan speed nya sama gitu ya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, jadi salah satu pelajaran yang aku peroleh di sini adalah bahwa ternyata berbaris dalam karnaval itu sebetulnya nggak mudah. Bukan sekedar hanya berjalan, tetapi peserta mesti mengatur supaya dia tidak terlalu cepat agar dirinya (atau kostumnya) tidak sampai menubruk orang yang jalan di depannya. Atau lebih parah lagi, terlalu cepat, sampai-sampai orang di belakangnya tertinggal jauh. Juga jangan sampai terlalu lamban sehingga malah memperlambat orang-orang di belakangnya. Dan itu sulit, karena setiap saat dia harus memastikan bahwa tidak ada kostumnya yang copot. Belum lagi permintaan dari penonton yang bolak-balik manggil demi ngajak foto bareng..

  3. Katerina says:

    Ini fashion carnival terkeren yang pernah aku tonton di Indonesia. Gak heran bisa bertanding dengan FC di Amrik dan Jerman.

    Aku liat foto Mbak Vicky nonton di atas Jeep pada tulisan satunya, itu epic banget haha.

    Semua tampil maksimal. Sayang cuaca ga maksimal haha. Syukurlah Hari terakhir cerah ya.

    Seneng banget bisa ketemu tanpa rencana gini. Malah berkesan jadinya. Salam buat Fidel, Ayo jadi travel blogger juga hihi

    Tulisannya kece Mbak, foto2nya juga. Suka!

    Oh ya itu talent yg motoran dan yg pake kostum kayak kuda, unik dan menarik diantara yang lain.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Terima kasih, Mbak Rien. Aku sangat girang banget bisa ketemu Mbak Rien secara nggak terduga di depan restoran pizza itu. Kok udah takdir Tuhan banget ya kita bisa ketemu nggak sengaja kayak gitu, hahahaha..

  4. Terakhir nonton JFC tahun 2010. Panas-panasan di pinggir alun-alun nenteng kamera pake sarum tangan, kacamata, krukupan phasmina biar gak gosong.
    Gak bayangin ngajak bocils kesana, kecuali ada arena playground buat bocils biar mereka seneng & gak hapean melulu ya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Walah..sampai segitunya, Fan?
      Aku juga sempat nonton di pinggir jalan, Fan, selama 2 hari. Nggak terasa panas lho, malah mendung. Mungkin karena aku nontonnya sudah agak jauh dari Alun-alun, antara Jalan Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada. Sehingga pasukan JFC-nya sendiri baru datang ke daerah itu kira-kira jam 15.00. Pada saat itu matahari sudah nggak persis di atas kepala lagi, jadinya ya nggak panas.

      Kalau masih bayi, kurasa bayi jangan nonton dulu lah, karena mereka belum terbiasa keramaian. Tapi kalau anak sudah umur 3 tahun, kayaknya malah seneng nontonnya. Ini aku waktu nonton juga bawa ponakan yang baru umur 2 tahun, whoaaa.. rewel banget dia bolak-balik dengar suara musik, hahahhahaa..

  5. Liswanti says:

    Seneng banget deh kalau lihat carnaval begini. Didaerahku ga ada, jadi suka lihat di youtube. Seru pasti ya mba lihat langsung.

  6. Kemana-lagi says:

    Baca semua jd serasa ikutan acara tersebut. Terus btw yang para Travel Blogger itu ,bukan peserta karnaval kan,atau belum sempet pakai pakaian karnaval 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya ya, saya pingin banget nginterview 1-2 modelnya. Itu gimana caranya beradaptasi dengan kostum seberat 6-10 kg? Gimana cara dia berjalan sambil membopong kostum itu sejauh 3 km? Dia pakai bedak apa kok gak takut luntur kena keringat, dan seterusnya..

  7. Aku belum pernah nonton Jember Fashion Carnival, tapi aku pernah lihat penampilan mereka di Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan di Bandung, Agustus 2017. Kostumnya nggak pernah mengecewakan. Model-modelnya juga goodlooking! Puji Tuhan, walaupun nggak duduk di tribun, tapi karena aku salah satu panitia, jadi punya akses ke area jalur karnaval. Capek, sih, berdiri terus. Tapi asyiknya aku leluasa bergerak buat ambil foto dari sudut terbaik. Aku bahkan bisa berdiri persis di depan barisan mereka.

    (((mendadahi))) “melambaikan tangan”, mbaknya xD

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Pengalaman di karnaval Bandung itu berharga banget ya Nugi 🙂 Aku sendiri kalau sampai jadi panitia, barangkali akan banyak nyolong-nyolong kesempatan buat motret mereka untuk jadi bahan konten bagi blogku sendiri :))

  8. Dwi Wahyudi says:

    Ga kebayang gimana ribetnya para peserta karnaval sebelumnya, maka rasanya gimana gitu jika tidak memberikan perhatian khusus kepada mereka. Top buat semuanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *