Melancong Naik Truk di Kebun Teh

Kebun teh Wonosari (Malang) yang dulunya itu kuno, kini mulai berbenah jadi tempat liburan yang rada kekinian. Saya merasakannya waktu melakukan trip kebun teh Wonosari ini  weekend lalu.

I’m a morning person, tapi aku gak segitunya minat sama sunrise,” desah kawan saya Albert Chandra @thefoodgrapher di kursinya malam itu. Kami sedang duduk-duduk di tea house pada suatu resort milik sebuah perusahaan teh, ngomongin apa yang akan kami kerjakan esok paginya.

Ternyata besoknya, dia yang bikin foto-foto paling bagus.


Teman kami, Andy Kristono @archtravelfood, yang punya ide membawa kami ke kebun teh Wonosari, Malang, ini. Dua bulan lalu, dos-q ngajakin kami untuk staycation di suatu hotel milik perusahaan teh, sambil foto-fotoan di kebun teh milik perusahaan itu.

Saya yang denger ide itu, langsung kepikir pingin memperkenalkan anak saya dengan alam yang penuh tanaman-tanaman dan pepohonan. Albert, si penggila fotografi, menganggap itu liburan sambil moto-motoin pacarnya di antara kebun. Laurentia Dewi @laurentiadewi_blog tak terlalu senang trekking-trekkingan, tapi dia oke-oke saja berlibur ke alam bebas asalkan boleh membawa mamanya ke salah satu tempat rekreasi di Malang itu.

Andy membawa kawannya yang lain, Indra Yulianto, pemiliknya @berangan_trip yang lagi menjajal peluang bikin documentation trip ke tempat wisata di Lawang, Malang. Beberapa teman lain juga mau ikut, jadi kami pun berangkat.

Kebun Teh Wonosari = Icon Wisata di Lawang (Malang)

Resort itu ternyata bernama Wisata Agro Wonosari. Jalan menuju kebun teh Wonosari ini melalui jalan raya antara Surabaya menuju Malang, lalu di Lawang berbelok kanan sejauh 6 km menuju Womosari.

Coba lihat betapa megahnya tempat wisata di Lawang yang satu ini di video 3 menitan saya berikut..

Papan namanya tampak invisible dari pinggir jalan raya, tapi saya mempercayakan navigasi pada supir yang membawa shuttle bus Hiace kami dari Surabaya ke sana.

Kami tiba di sebuah hotel bintang tiga bertitel Rollaas Hotel, dan saya langsung bahagia lihat desain kamarnya yang berbalkon asri.

Rollaas Hotel cuma sebagian kecil dari luasnya kebun teh Wonosari. Kebun teh ini dikelola PT Perkebunan Nusantara XII. Angka 12 Romawi itu kemudian jadi asal nama Rollaas. Dalam bahasa Jawa, rolas itu artinya 12.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan BUMN itu rupanya melihat potensi pariwisata kebun teh mereka lebih menonjol ketimbang potensi produksi tehnya sendiri. Maka mulai deh mereka menggarap kebun teh Wonosari menjadi salah satu alternatif tempat wisata di Lawang. Karena sudah menjadi tempat wisata, maka namanya menjadi Wisata Agro Wonosari.

fasilitas kebun teh di Tempat wisata di Lembamg
Fasilitas kebun teh Wonosari Malang yang utama adalah hotel.
Saya nginep di sayap sebelah kanan bangunan. Foto oleh Indra Yulianto.

Semalaman itu, kami minum-minum teh dan kopi di tea house resort itu, menonton teman-teman kami nyanyi-nyanyi dengan live band sebelum akhirnya kami kelelahan dan tertidur pulas di kamar. Kami hanya tidur sebentar, karena pagi-pagi buta Andy telah minta kami untuk naik kendaraan hotel ke Bukit Kuneer demi menjemput sunrise.

Menyusuri Jalan Menuju Kebun Teh Wonosari dengan Truk

I am serious, hotelnya menyediakan truk untuk kami naiki. Dengan rombongan kami yang sekitar 40 orang, adalah tidak mungkin jogging menembus gelap menuju kebun teh Wonosari. Saya dan @instafahmi, yang membawa Fidel yang baru berumur 3 tahun, memutuskan untuk naik jeep bersama Eni, pacar Albert. Dewi dan mamanya ada di jeep yang lain. Andy dan kawan-kawan lainnya pun naik ke atas truk.

Itu pukul empat pagi, kami belum mandi, dan Fidel kelihatan antusias tanpa ngantuk. Kami langsung paham kenapa menuju bukit puncak kebun teh Wonosari itu butuh kendaraan gardan ganda; sebab memang jalan menuju ke sana belum diaspal. Jalanan pasir dan batu yang sudah lama tidak saya lihat menyapa lampu sorot dari jeep kami. Ada mungkin sekitar 20 menitan perjalanan kami, tapi kami tak bosan.

Perlahan-lahan langit yang tadinya hitam mulai kelabu, lama-lama memerah, oranye, hingga makin jelas rona putihnya. Sunrise sudah mulai menampakkan diri di ujung bukit ketika kami tiba di sebuah pondok peristirahatan. Pos itu ternyata mengawal Bukit Kuneer yang jadi primadona kebun teh Wonosari itu.

Tak ada apa-apa sejauh mata memandang, selain kebun teh Wonosari saja yang menghampar luas seperti karpet hijau. Pohon-pohon teh setinggi perut saya tertata asri seluas berhektar-hektar.

kebun teh Wonosari
Di ujung pandangan kebun teh Wonosari, nampak gunung menjulang.
Untung saya bangun pagi.
Foto oleh Eddy Fahmi.

Di ujung pandangan tampak gunung menjulang, mungkin itu Gunung Welirang. Gunung-gunung lainnya terlihat di sisi-sisi lain. Hawanya sejuk dan sedikit hangat. Fidel kelihatan senang.

Kawan Fidel di trip kebun teh Wonosari itu adalah Stella, 6 tahun, anak dari Fenny @kulinersurabaya, yang berjalan tertatih-tatih lucu di jalan setapak sambil menggosok-gosokkan tangannya yang terbungkus sarung tangan pink. Di belakangnya, Dian Suryaman @blogger_madura nampak gembira menyusuri kebun teh dengan kedua gadis kecilnya yang melonjak-lonjak girang.

tempat wisata di Lawang, Malang
Landmark dari tempat wisata di Lawang, Malang, pada kebun teh Wonosari ini adalah jembatan di Bukit Kuneer yang dipakai sebagai spot selfie.

Landmark dari Bukit Kuneer itu adalah sebuah jembatan kayu sepanjang sekitar 50 meter yang menjulang di atas hamparan pepohonan teh. Sepertinya jembatan ini didesain untuk menjadi alternatif baru bagi tempat nongkrong di Lawang, Malang, ini.

Dari sana kami langsung ribut moto-moto diri sendiri dengan background hijaunya kebun teh Wonosari dan birunya langit yang indah. Matahari telah meninggi ketika Indra menerbangkan drone-nya. Kami pun dadah-dadah kepada benda yang bagi Fidel lebih mirip helicopter itu.

Lihat video 2 menitan kami menjemput sunrise di Bukit Kuneer berikut ini yaaa.. 🙂

Polopendem, Para Pemetik Teh Sungguhan, dan Truck Hopping

Puas dari jembatan, kami turun dan berteduh di gazebo besar yang sebetulnya jadi kantin di Bukit Kuneer itu. Di gazebo itu tersaji macam-macam polopendem, mulai dari singkong sampai ubi yang terasa hangat. Ditemani teh jahe dari tim Wisata Agro Wonosari, bikin kami menikmati pagi kami dengan ceria. (Oke, Nurul Rahmawati @bundasidqi nampak waswas lantaran ia lupa menyuruh anak laki-lakinya mengoleskan repellent padahal tawon-tawon berkeliaran).

Tampak petani-petani teh berdatangan untuk memetik teh. Suami saya langsung motret-motretin petani-petani yang kebanyakan ibu-ibu paruh baya itu. Sementara, Sylvia Natalia @nyahkece langsung blingsatan pinjam keranjang dan topi caping, untuk minta difotoin oleh Nicodemus Yusenda @pipibundarku seolah-olah lagi metik teh. Saya menyeringai, sungguh ia lebih mirip juragan pengulak daun teh ketimbang mirip petani.

Para guide akhirnya mengajak kami balik ke hotel. Tetiba saya terpikir untuk coba naik truk dan suami saya langsung setuju. Kami langsung naik ke bak terbuka bersama teman-teman lainnya. Whoaa.. I feel like a cattle! ^^

Beberapa laki-laki ternyata sudah duduk di kap atas truk dan mereka menawari satu slot kosong. Saya terhenyak, dan tiba-tiba ingin naik. Jadilah sepanjang perjalanan itu saya duduk di puncak truk! Koh Maynard Caryabudi @klappertaart_surabaya bahkan minta saya memanfaatkan posisi strategis saya itu untuk motret kami semua dengan tongsisnya.

Truk berjalan balik ke arah hotel, jalannya sedikit berguncang-guncang di antara jalan sirtu (lihat video pertama deh). Tapi kecepatannya tetap pelan, entah karena mungkin supirnya tahu bahwa banyak orang duduk di atas kap truk, atau karena drone-nya Indra membuntuti kami sepanjang perjalanan.

Wisata kebun teh Lawang
Saya duduk di atas kap truk sepulang dari wisata kebun teh Lawang.
Suami dan anak saya berdiri di bak truk.

Saya menikmati perjalanan di atas kap itu, sambil sesekali selfie memastikan maskara saya masih on. Sesekali saya ngobrol dengan orang di sebelah saya, yang ternyata namanya adalah Amir @malangtrekker yang sudah biasa mendaki gunung.

Indra menerbangkan drone-nya di angkasa. Dari bak truk yang sedang melaju megal-megol di jalur sirtu, kami pun melambai ke drone itu. Lihat perjalanan truknya di bagian terakhir video di atas yaa..

Menginap di Kebun Teh Wonosari

Jadi, kebun teh Wonosari ini merupakan peninggalan kolonial Belanda yang membentang di kaki Gunung Welirang sebagai area budidaya teh. Dilengkapi pabrik pengolahan teh juga, di mana mereka mengolah daun teh menjadi bubuk-bubuk curahan untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi the celup.

Seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan ini menyadari bahwa wisata kebun teh Lawang lumayan diminati banyak orang. Kemudian mereka mendirikan hotel, untuk menampung pelancong-pelancong yang ingin menginap di kebun teh Lawang ini. Dulunya penginapan yang mereka punya adalah cottages berkapasitas 2-6 orang, tapi kemudian mereka membangun hotel yang nampak lebih representatif.

Hotel ini berupa bangunan dua lantai yang terdiri atas dua sayap berisi deretan kamar-kamar yang masing-masing diberi balkon. Beberapa kamar menghadap taman, tapi saya beruntung lantaran kamar saya sendiri menghadap ke jurang lembah yang hijau. Di lantai atas hotelnya terdapat meeting hall yang cukup untuk sekitar 500 orang.

Sedangkan di belakang bangunan hotel adalah Anjungan, sebuah gazebo besar dengan meja-meja makan untuk sarapan, yang punya view menghadap kebun teh Wonosari yang luas. Kami sendiri, sepulang dari Bukit Kuneer naik truk itu, menikmati sarapan kami di Anjungan sambil nontonin kebon teh dan foto-fotoan. Saya memeriksa kamera saya sambil mengunyah toast, nasi goreng, dan ayam kecap.

Hotelnya menyajikan kami teh rempah yang jadi signature tea-nya Rollaas Hotel ini. Teh ini dibikin dari rempah-rempah berupa campuran sereh, jahe, dan kapulaga, yang kemudian diberi seduhan teh. Ce Fenny dan Dewi kelihatan suka sekali dengan the rempah ini, katanya cocok sekali untuk orang yang sedang sakit flu.

Menginap di kebun teh Lawang
Suasana kamar hotel ketika saya menginap di kebun teh Lawang

Fidel suka sekali dengan kamar hotelnya. Kamarnya tak punya AC, tapi memang daerah sesejuk ini nggak butuh AC. Pada malam hari, suhu daerah ini antara 17-19 Celcius, sedangkan di siang hari mencapai paling tinggi 28 Celcius aja.

Selama di kamar, Fidel senang nonton siaran-siaran anak dari tv kabel. Suami saya nggak nonton tivi, dia melahap bandwidth dari wifinya kamar hotel yang skalanya 4 dari 5. Saya sih lebih suka duduk-duduk di balkon nontonin pohon-pohon pinus sembari menghirup teh. Di kamar ini, hotelnya nyediain sekotak Rollaas Tea berisi 25 kantong the. Beser pun beser dah..

Fasilitas Kebun Teh Wonosari Malang

Saya sempat posting tingkah polah kami selama di kebun teh Wonosari Malang ini, dan banyak pembaca yang tanya tentang tempat ini. Salah satu hal yang paling sering ditanyakan adalah, apakah untuk menikmati kebun teh ini harus menginap, mengingat jalan masuknya agak jauh dari kota besar.

Ya iyalah, jauh, namanya juga perkebunan luas, pasti letaknya jauh dari jalan raya. Kalo perkebunannya cuman seuprit, itu namanya kebon desa.. ^^

Kebun teh Wonosari ini sebetulnya bisa didatangi orang umum, termasuk Bukit Kuneer tempat saya lihat sunrise tadi. Sewaktu saya kemari, sebagian area kebun teh sering didatengin orang-orang yang lagi ngOspek atau sekedar pacaran. Tetapi untuk Bukit Kuneer masih sepi, karena lokasinya memang jauh dan jalannya masih sirtu, sehingga kudu pakai jeep atau truk untuk menjangkaunya. Dan untuk memakai jeep ini, mesti nyewa milik perkebunan sekalian supirnya yang juga sebagai guide. (Nggak luculah kalau ke sana sendirian dan kesasar di antara pohon-pohon teh).

kebun teh Wonosari
Jalan menuju bukit Kuneer dari kebun teh Wonosari masih penuh pasir dan batu, sehingga perlu guide untuk mencapainya.

Kalau kamu lihat video pertama saya di atas, pasti kamu lihat saya lagi main flying fox di atas kebon teh. Maafkan saya datang kemari pas tanemannya lagi diremajakan, alhasil warna background foto pas saya melayangnya jadi warna cokelat, hahaha..

Dan kalian tentu juga lihat saya berboncengan dengan suami dan anak kami naik ATV. ATV ini kami pakai untuk keliling sebagian area kebun teh Wonosari. Fidel suka sekali naik ATV, mungkin lantaran dia memang nggak pernah naik sepeda motor.

Tapi yang paling disukai Fidel adalah ketika kami semua naik kereta kelinci keliling kebun teh. Kereta ini special banget, karena selain penumpangnya duduk manis di kereta sambil lihat pemandangan yang hijau-hijau, kita juga dengerin guide-nya mendongeng tentang sejarah kebun teh Wonosari. Trip kebun teh Wonosari jadi terasa nggak melelahkan dengan kereta kelinci ini. 🙂

Guide-nya ini cerita bahwa tanaman di sebelah kiri kereta kami berwarna hijau rada kehitaman, itu spesies Camellia assamica (kayaknya dikembangin pertama kali di daerah Assam, India). Sementara tanaman di sebelah kanan kereta kami berwarna hijau lebih terang, dan ini adalah spesies Camellia sinensis. Kalian jangan mengharap saya tahu bedanya ya, buat saya sih semua teh itu sama kalau sudah diseduh di cangkir, hahahaa..

Jalan Menuju Kebun Teh Wonosari

Nanya dong..

Apakah kalian senang datang ke perkebunan teh? Feature apa yang bikin kalian kepingin bolak-balik datang ke kebon teh itu lagi?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

35 comments

  1. Reyne Raea says:

    Bagus ya hotelnya mbak, saya berkali2 ke sini belum pernah nginap di hotelnya, pernah sekali nginep tapi di vila ya itu namanya yang nyewa per rumah ada yang kamarnya 2 atau lebih.

    Belum pernah juga ke bukit kuner, keren banget ternyata.
    yang bikin kangen tuh rasa tehnya, anehnya beli teh trus diseduh di rumah kok beda rasanya hehehe

    Btw keren banget deh Fidel, masih cilik udah ke mana-mana yak.
    Terus mamanya, hati2 buuu duduk di kap truk, entar jungkal hahahah

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Cottage yang mirip vila itu masih disewakan, tapi menurut saya masih mendingan nginep di hotel. Saya ini tipikal tamu yang dikit-dikit nelfon resepsionis minta dibawain tetek-bengek oleh bellboy-nya ke kamar. Kalau kamarnya berupa cottage, bisa-bisa resepsionisnya mesti naik motor cuma gegara saya minta diagntiin keset.

      Bukit Kuneer ini baru dilaunching lho, Mbak. Sebelum-belumnya memang belum dipasarkan, karena baru sekarang mereka mendandani spot ini untuk jadi lebih instagrammable.

      Fidel sangat senang. Dia memang udah saya bawa travelling semenjak umurnya baru 2 bulan 🙂

  2. Turis Cantik says:

    Seumur-umur belum pernah datang ke kebun teh, ternyata kini banyak hal yang bisa dilakukan disana ya. Asik kayaknya bawa anakku neh ke sini, udaranya juga masih bersih ya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, Mbak Muth, di sini langitnya masih biru, padahal cuma beberapa kilometer aja dari kota Malang. Sebab memang kendaraan yang masuk ke kebun teh yang aku shoot ini hanya 1-2 aja. Makanya hawanya bersiih banget.

  3. nur rochma says:

    Jadi pengen main lagi ke kebun teh Wonosari, tehku sudah hampir habis. Tinggal teh tubruk itu, awet. Pakainya sedikit2.
    Btw, perkebunannya memang luas banget, capeklah buat jalan kaki. Dan aku belum pernah keliling pakai (sewa) jeep. Cuma muter yang deket aja, sama foto di tengah kebun yang banyak nyamuk atau apa, yang kalau nggigit gatel banget.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mungkin lokasi tempat Mbak Nur Rochma datengin memang pas lagi banyak nyamuk kebunnya 🙂
      Aku sudah menduga tempat itu bakalan bernyamuk, jadi sebelum aku turun ke kebun itu, aku gosokin badanku pakai repellent anti nyamuk. Alhamdulillah sepanjang ngetrip itu kami nggak digigitin nyamuk sama sekali.

  4. Baktiar says:

    Asyik juga menjelajah perkebunan teh pake truk.. Spot terbaiknya untuk sunrise dimana ya? Siapa tahu sutu ketika bakal kesasar disini

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Spot terbaik untuk sunrise ada di Bukit Kuneer. Untuk ke bukit ini, bisa pakai kendaraan yang disediakan manajemen resortnya. Biar nggak kesasar 🙂

  5. Berkali-kali pingin ke sana masih sebatas niatan. Hehehe…. sekarang foto di jembatan itu sudah mulai banyak di instagram. Bisa naik motor gak ya ke sananya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ke resort ini sebetulnya bisa naik motor. Tapi untuk ke jembatan ini, saya rasa jangan naik motor sendirian karena kuatir kesasar di lahan perkebunan. Lebih baik bareng guide dari resortnya.

  6. Nuno says:

    Dimana-mana yang namanya kebun teh itu kok selalu indah ya? Tempo hari aku ke Pagilaran di Batang sana. Suka juga sama suasana paginya. Cuma sayang waktu itu pas musim kering jadi kebunnya kering gitu. Baca ini jadi pengin ke Malang juga.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya waktu aku kemari, juga masih musim kemarau. Kalau Mas Nuno tonton videoku yang pertama di atas, Mas Nuno akan lihat ketika aku sedang flying fox, aku meluncur di atas kebun teh yang sedang gersang.

      Tetapi sceneries lainnya terlihat hijau karena kebetulan fotonya diambil pagi hari sebelum jam 8.00.

      Aku baru dengar di Batang ada kebun teh. Sepahamku, Batang itu pinggir pantai lho, ternyata nggak semuanya ya.. 😀

  7. Daruma says:

    Staycation di hotel yang pemandangannya kebun teh beuuuhhh luar biasa banget tuh. Foto fotonya juga kece. Pengen juga balik ke malang lagi hmm

  8. farida says:

    aku pernah ke sini dan sukaa banget. waktu terbaik memang pagi saat sunrise ya. tapi udah kebayang dinginnya jadi pas ke sini gak siang gitu jam 9-an, masih sejuk jg sih.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya nggak sedingin itu sih. Suhunya memang sekitar 16 derajat Celsius pada waktu subuh, tetapi saya sendiri nggak terlalu kedinginan. Mungkin lain kali saya bawa cardigan aja, bukan jaket baseball 🙂

  9. Keren ah PTPN XII Perkebunan teh Wonosari
    Kalau aku pernah ke kebuh teh di Lumajang, ke atas naik truk juga Mbak..Ke tempat Bulik saya yang penempatan bidan di sana
    Asli keren banget tapi belum dikelola seperti ini
    Coba semua perkebunan dikelola juga untuk destinasi wisata ya..Pasti oke bangets

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, satu per satu PTPN XII memang sedang berbenah. Sekarang baru Wonosari yang mereka pasangin hotel, mudah-mudahan kebun-kebun teh lainnya bakalna didandanin sama cantiknya, termasuk yang di Lumajang itu 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Rizka, memang di Kalimantan nggak ada kebun teh karena tanah di sana kurang cocok untuk ditanami teh. Tapi aku lihat di sana banyak kebun kelapa sawit, tentu mestinya bisa jadi cantik juga 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, betul. 🙂 Mereka membuat penginapan baru karena ingin bersaing dengan tempat-tempat wisata lain yang sudah menyediakan penginapan mutakhir di lingkungannya 🙂

  10. fika says:

    inget banget moment naik truk ke kebun teh wkwkwkwkwk ini jadi alternatif buat liburan warga Surabaya yang nggak perlu jauh-jauh kena macet 🙂 Btw itu posenya di tempat tidur kayak malam pertama wkwkwkwk

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ini mesti dirimu malam pertama dulu dipake buat baca handphone ya, wkwkwkwk..
      Kalau diriku dulu malam pertama dipake buat ngitung angpaw, hihihhi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *