Mau salin kontennya? Kontak saya dulu di vicky.laurentina@gmail.com

Kota Makassar, Akhirnya!

Jantung saya berdegup kencang ketika saya melihat keluar jendela pesawat terbang. Lampu-lampu nampak berkilauan di bawah sana, begitu terang-benderang seolah penduduknya sungkan untuk tidur. Ya ampun, kota ini ternyata ramai, saya mbatin. Ketika pesawat kemudian menjauhi kota, saya mengenali landasan pacu dan pesawat pun akhirnya mendarat. Lampu bandara nampak seolah menyapa, selamat datang di kota Makassar.

Tahun lalu, saya dapat undangan di kota Makassar. Brand otomotif Xpander bikin acara pengumpulan massa di sana untuk memperkenalkan produk mobilnya. Lalu mereka bekerja sama dengan sebuah tim content creator Youtube untuk bikin video review tentang Xpander. Video review itu memerlukan talent untuk tampil di sana. Singkat cerita, saya diminta ke sana bareng suami saya untuk tampil di video itu.

Tugas saya selama jadi talent ini simpel-simpel aja. Saya bareng suami (dan anak) diminta bawa mobil Xpander-nya selama dua hari. Sambil kami bawa mobilnya, tim content creator Youtube akan nyutingin kami. Supaya background-nya menarik, tugas kami adalah bawa mobilnya ke berbagai tempat wisata di Makassar. Asyik kan? Jadi saya sih mikirnya, ini mah liburan gratis sembari bikin content; jenis kegiatan yang saya sukain banget, hahaha..

Tempat wisata di Makassar itu apa aja sih?

Ini pertama kalinya saya ke Makassar, dan jujur aja, saya cuman ngerti tempat wisata di Makassar ya dari buku dan cerita orang-orang. Saya taunya orang kalau ke Makassar itu ya makan pisang epe di Pantai Losari, mentok-mentok ya ke Trans Studio Makassar.

Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata Fort Rotterdam itu bukan sekedar gedung tua peninggalan Belanda yang jadi kuburannya Pangeran Diponegoro. Gedung itu udah berubah jadi tempat wisata yang ruameee banget.

tempat wisata di Makassar: Fort Rotterdam
Gedung museum La Galigo di Fort Rotterdam ini masih terawat dengan bagus. Tapi tempat wisata di Makassar yang satu ini ternyata sudah berkembang jadi taman kota.

Terus, ternyata Makassar punya museum-museum yang cukup menarik buat dikunjungin, misalnya Museum Somba Opu. Museum ini berisi sejarah kerajaan di Makassar pada zaman sebelum Hasanuddin memerintah.

Makassar sendiri ternyata beken dengan pantai-pantainya, dan pantai itu bukan Losari doang. Di sebelah selatan Makassar juga banyak pantai dengan nama-nama berbeda, dan ternyata pantainya rame.

Pelabuhan itu sebetulnya juga tempat wisata di Makassar, cuman belum ada pihak pemerintah yang memberdayakan pelabuhan itu jadi tempat wisata. Saya bisa ngomong gini lantaran beberapa waktu sebelumnya saya sempat lihat beberapa fotografer nyelonong ke sudut-sudut tertentu di pelabuhan dan motretin nelayan tradisional di sana. Menurut saya, begituan aja udah cukup menarik sih. Karena saya tahu, tiap sudut bumi Indonesia ini punya cara hidup dan budaya yang berbeda, jadi sayang aja sih kalo wisatawan kayak kami nggak mempelajari gimana orang Makassar bikin dan merawat perahu mereka.

Sayangnya, lantaran jatah kerja kami cuman dua hari, saya cuman sempat ke Pantai Losari dan Fort Rotterdam doang. Dan bonusnya, kami dapet ke Rammang Rammang (Maros) juga. Tak apalah, mudah-mudahan lain kali kami bisa kemari lagi dan tour lebih banyak.

Pantai Losari

Saya sangka Pantai Losari itu kayak Pantai Kuta aja buat nongkrong-nongkrong. Ternyata salah lho.

Pemerintah lokal telah memberdayakan Pantai Losari menjadi semacam taman kota. Taman kota ini dibangun sehingga menjadi tempat bermain yang lumayan apik.

Yang namanya Pantai Losari itu, garis pantainya sepanjang sekitar 1 km. Ada banyak area pinggir pantai yang dibikinkan lapangan kecil, lalu mereka menyebut lapangan kecil itu Anjungan Pantai Losari.

Pantai Losari di Kota Makassar
Landmark kota Makassar di Pantai Losari. Fidel tertarik lihat lautan Selat Makassar di balik tulisan ini.

Anjungan-anjungan ini dihias dengan dekorasi berbentuk huruf-huruf. Ada anjungan bernama “Makassar”, ada anjungan bernama “Bugis”, dan entah apa lagi.

Di pinggir pantai ini sebetulnya ada beberapa pulau kecil yang merupakan hasil reklamasi. Di atas pulau ini dibangun mesjid. Mesjid inilah yang kemudian di-marketing-kan dengan nama Masjid Terapung. Soalnya dari kejauhan nampak seperti mesjidnya ngambang di atas air laut, gitu.

Konon, di lapangan-lapangan anjungan ini, sering dijadikan tempat untuk senam bareng. Kalo sore hari sampai malem, tempat ini jadi tempat nongkrong untuk rakyat lokal, lengkap dengan pedagang asongannya. Cemilan paling beken yang sering dijual di sini adalah pisang epe. Makanya sering ada jargon kalau ke Makassar, kudu mampir Pantai Losari sambil makan pisang epe.

Sayangnya kami di sana cuman sebentar, nggak sampai satu jam, karena dikejar waktu. Tugas kami cuman shooting di salah satu anjungan, dan setelah videografernya panitia dapet footages yang dia inginkan, kami segera pergi ke tempat lain.

Sewaktu kami tiba di sana, matahari lagi terik-teriknya karena itu sekitar jam 10 pagi. Tapi Fidel sangat senang lari-lari di sana, sambil melihat laut. Videografernya bahkan seneng banget lihat muka Fidel begitu ceria dan bocah saya dishooting bolak-balik.

Kalau jam segini mah, nggak ada pisang epe, hihihii..

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam ini sebetulnya kompleks bangunan tua peninggalan pemerintahan Belanda. Lokasinya cuman 1-2 kilometer dari Pantai Losari.

Fort Rotterdam, Kota Makassar
Saya di depan salah satu bangunan di kompleks Fort Rotterdam, di sebelah barat kota Makassar.

Jadi ceritanya, Belanda dulu kan menduduki Indonesia lantaran mengincar distribusi rempah-rempah. Kebetulan salah satu daerah yang lumayan banyak rempah-rempahnya itu Maluku. Untuk mempermudah jalur distribusi penjualan rempah-rempah itu, Belanda bikin pelabuhan untuk transit-transitan di Makassar.

Supaya gampang ngawasin kapal yang mau lewat, dibikinlah benteng di Makassar, yang kemudian dinamain Fort Rotterdam. (Saya masih cari tahu kenapa benteng ini dinamain seperti nama kota di Belanda.)

Sekarang, benteng itu masih ada, tapi udah jadi cagar budaya. Sebagian bangunan dipakai untuk dijadikan museum, namanya Museum La Galigo.

Tadinya saya kirain yang namanya benteng itu sepi-sepi aja ya, tapi pas kami ke sana, ternyata ruameeee sekali.

Pada hari Minggu, ternyata kompleks Fort Rotterdam itu berubah jadi taman rakyat. Banyak yang piknik di halaman kompleks, sambil mbeber tiker dan bawa botram segala. Busyet dah..

Saya sendiri kudu kerja keras buat cari sudut di sana untuk selfie-selfie, tapi ternyata susah juga cari sudut yang nggak ada bocornya.
Semula saya kepingin masuk museum La Galigo, tetapi lagi-lagi kami dikejar waktu. Barangkali kalau kami datang bukan pas waktu weekend, hasilnya akan jauh lebih baik.

Rammang Rammang (Maros)

Pergi ke Rammang Rammang ini menurut saya adalah bagian yang paling seru selama kami berada di Sulawesi Selatan minggu itu. Rammang Rammang sebetulnya bukan tempat wisata di Makassar, lokasinya di Maros, kabupaten lain.

Kami harus pergi ke Maros karena panitianya perlu adegan kami sedang menyetir Xpander. Kebetulan kesempatan dapat lokasi yang kurang bocor itu di jalan antara Makassar dan Maros.

Saya happy sekali di Rammang Rammang ini karena lihat bukit karst raksasa disertai petualangan nyusurin sungai pakai perahu. Saya udah cerita ya tentang petualangan saya selama di Rammang Rammang ini beberapa waktu yang lalu.

Rammang Rammang Maros, tempat wisata di Sulawesi Selatan
Suami saya menggendong anak kami di Rammang Rammang, Maros.

Mencicipi Makanan khas Sulawesi Selatan

Nah, ini bagian yang sangat menyenangkan semua orang. Selama di Makassar dan Maros ini kerjaan kami ya kulineran terus tiada henti. Makanannya orang-orang Sulawesi Selatan ini kok rasanya enak, meskipun saya perhatiin bumbu-bumbunya strong tiada terkira.

Pulang-pulang dari Makassar ini, perut saya kok rasanya jadi gendut. Saya merasa komposisi makanannya orang-orang Makassar itu banyakan dagingnya ketimbang nasinya, padahal nasinya sendiri sudah sak timbruk.

Coto Makassar

Yes, tentu saja ini kuliner wajib yang kudu kita incipin kalau lagi jalan-jalan di Makassar. Soto ini dibikin dari daging sapi, tapi kuahnya dikasih rempah-rempah.

Nah, saya makan ini dua kali. Satu kali waktu sarapan di Hotel Santika Makassar, dan satu kali lagi di restoran bernama Coto Bettatua di Maros.

Rumah-rumah makan yang hidangan utamanya coto Makassar ini punya gaya servis yang beda jauh dari orang Jawa. Saya hampir-hampir nyengir geli karena mbak-mbak yang ngeladenin kami di restoran itu sama sekali nggak tersenyum. Nggak kasar sih, cuman yah..nggak senyum aja.

Sebetulnya nggak di rumah makan sini doang saya nggak dapet senyum. Bahkan makan di restoran Kalosi di Hotel Santika Makassar pun, tetep aja waiter-nya nggak senyum. Apa perangai orang di sini memang begini ya?

Lain padang, lain belalang. Ini bukan Padang, ini Makassar, Bang..

Konro Karebosi
Konro Karebosi

Sop Konro

Salah satu hidangan kesukaan saya di Makassar. Tentu sudah khatam lah ya kalian baca tulisan saya tentang konro ini di posting yang lalu.

Next time, saya janji, kalau saya ke sini bareng suami saya. saya cuman mau pesen sepiring berdua. Sebab porsinya itu terlalu banyak, coyyy..

Masih ada beberapa lagi makanan khas Sulawesi Selatan yang saya cobain, dan saya tulis di posting yang lalu. Baca yaa.. 🙂

Bandara Hasanuddin

Dulu tuh saya sangka bandara Hasanuddin itu berada di Makassar, karena kodenya kan UPG alias Ujung Pandang. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata bandara Hasanuddin ini berada di Kabupaten Maros, bukan di Makassar.

Wah, hoax nih kode UPG-nya, hahahaa..

Diam-diam saya jadi bayangin pramugarinya ngomong, “Selamat datang di pesawat Citilink. Penerbangan ini akan menuju Maros..

Terus kita ngeliatin pramugarinya sambil mbatin, “Situ sehat, Mbak?

Sebetulnya waktu pertama kali mendarat di bandara, nggak ada apa-apa sih. Tapi saya baru bisa mendalami bandara ini pas kami pulang.

Jadi ceritanya, waktu kami mau ambil pesawat pulang, kami nongkrong dulu di restoran A&W bandara. Pesawat masih beberapa jam lagi, tapi saya kebelet pipis. Saya tinggalin suami dan anak saya di restoran, lalu saya cari toilet. Ternyata yang namanya toilet itu letaknya di teras, dan untuk mencapainya, saya kudu lewat jalan memutar lantaran pintu keluar menuju teras itu digembok.

Selesai berpipis ria, saya pun jalan balik menuju restoran. Males mutar-mutar lewat dalam, saya mutusin jalan lewat teras aja. Nggak taunya, ternyata jalur antara teras dengan restoran itu ditutup juga, sehingga saya terpaksa jalan di pinggir jalur mobil yang nggak ada trotoarnya. Ya ampun, saya keliling-keliling sampai pusing..

Nih bandara kekurangan personil satpam ya sampai-sampai pintu-pintunya pada ditutupin semua?

Saya sendiri nggak terlalu betah berada di restoran itu karena ternyata AC-nya nggak terlalu banter. Atau memang hawanya Makassar udah panas banget sehingga AC-nya nggak ngangkat. Tapi saya terpaksa nongkrong di restoran itu karena itu tempat paling rasional untuk duduk sambil nungguin loket check in buka.

Liburan di Makassar ini ditutup dengan acara nongkrong bareng blogger-blogger Makassar, Andi Pada (@ndypada) dan Irma Suryani (@naniekoe).

Setelah sorenya saya check in, baru kami bisa naik ke lantai atas tempat kami mau menunggu keberangkatan. Tiba di lantai atas, baru saya ngeh kalau ternyata bandara itu keren sekali, cukup mirip dengan Terminal 3 Soekarno Hatta. Wuih, pantesan orang Makassar begitu bangga sama bandara mereka (padahal itu bandara orang Maros, hihihihi.. ye kan?)

Kerja bareng content creator

Salah satu pengalaman yang kayaknya langka sekali di sini adalah saya dapet kesempatan kerja bareng content creator lain. Jadi panitia yang ngundang saya ini adalah Gridoto, sebuah channel Youtube yang nichenya adalah otomotif. (Mereka punya Instagram juga, by the way).

Tim Gridoto ini sebetulnya berbasis di Jakarta. Tetapi demi keperluan membuat konten, mereka mengirim 4 orang tim ke Makassar. Satu orang bertugas bikin skenario sekaligus bikin artikel, dua orang bertugas pegang kamera untuk bikin video, dan satu orang lagi jadi kepala tim yang tugasnya berkordinasi dengan guide lokal di Makassar.

Saya inget pas kami shooting pertama kali dengan mobil Xpander, kami berangkat dengan 3 mobil. Mobil pertama berisi saya dan keluarga saya, mobil kedua adalah mobil talent lain (@ryheng_gun), sedangkan mobil ketiga adalah tim Gridoto tersebut. Di jalan raya, ketika suami saya lagi nyuting, mobilnya Gridoto sengaja jalan di depan kami, lalu salah satu kameramen itu nyuting sambil menjengukkan kepalanya dari jendela. Di video kemudian nampak seolah saya dan suami lagi ngobrol ceria, padahal aslinya saya lagi ngomong sama suami saya, “Aduh, Mas, gimana itu nanti kalo si kameramen itu kesamber truk..?”

Kesulitan sempat terjadi ketika kami kudu shooting di Fort Rotterdam. Sebetulnya skenarionya adalah saya dan anak saya mesti jalan dengan ceria di taman halaman benteng itu. Apa daya ternyata tamannya sangat rame, dan bocor pun terjadi di mana-mana. Saya sebagai pemilik jiwa turis sih kecewa, tapi ternyata tim Gridoto lebih kecewa lagi lantaran mereka kesusahan ambil gambar yang bagus di tengah bocor-bocor publik itu.

Oh ya, kebetulan lagi, salah satu tugas saya adalah berakting sedang bermain-main bersama anak saya di event-nya Xpander. Mungkin kalian tahu ya Xpander belakangan ini ngadain event taman ria dadakan di beberapa kota di Indonesia, nama event-nya adalah Tons of Real Happiness. Makassar termasuk salah satu kota yang jadi lokasi event ini, tepatnya mereka ngadain di Phinisi Point, suatu mall gitu di pinggir pantai. Di event ini, mereka bikin wahana-wahana kayak boom boom car, komidi putar, kincir angin, perosotan balon, dan malah ada panggung hiburan juga yang pakai ngundang artis.

Sebetulnya saya senang dengan taman ria beginian. Tapi gilanya kami baru sempat shooting di sana jam 3 sore, dan sumpah matahari lagi panas-panasnya. Ada beberapa adegan yang mesti saya lakukan, antara lain saya baru masuk ke gerbang arena sambil ngomong “Sekarang saya mau ke event Tons of Real Happiness. Ayo ikutin saya yuk!”. Sebetulnya saya kegerahan sangat, tapi saya lihat para content creators itu begitu bersemangat. Jadi saya pasang kacamata item dan mulai bertingkah a la bintang sinetron sambil pasang senyum lebar..

Paling susah adalah Fidel. Para kameramen berusaha mengambil gambar dia dalam keadaan ceria, tetapi Fidel agak cemberut lantaran kepanasan. Tau kalau para kameramen lagi ngincer muka anak saya, saya pun berusaha keras ceria sambil ngomong, “Ayo Fidel, kita naik komidi putar!”

Shooting untuk konten Tons of Real Happiness-nya Mitsubishi Xpander bareng content creator Youtube channel Gridoto.
Fidel suka sekali naik komidi putar meskipun kota Makassar panas banget hari itu.

Well, at least bocah saya tidak sampai tantrum sepanjang pengambilan gambar itu..

Silakan lihat video penampilan kami di channelnya Gridoto ini yaa..

Sewaktu nulis ini, kadang-kadang saya masih merasa kayak mimpi. Dulu tuh, saya nggak pernah kepikiran mau ke Makassar. Makassar bukan tujuan liburan yang mainstream, saya pikir saya mungkin akan ke sana dalam keadaan “kalau kebetulan lagi punya duit banyak dan nggak tahu mau ke mana”. Eeeh..kok sekarang tahu-tahu dikasih rejeki bisa melihat Makassar, gratis pula..

Kota Makassar itu sangat metropolitan. Rame dan macet.

Tetapi saya suka kota Makassar ini, dan saya ingin balik lagi suatu hari nanti. Dan saya ingin rada lamaan di situ, mungkin 3-4 harian gitulah. Kalau bisa, bonus ke Tanjung Bira dan Tana Toraja, hahahaha.. Memang kalau ke Sulawesi Selatan itu nggak cukup 2-3 hari, kalau bisa ya seminggu supaya bisa dapet semua tempat wisata di Sulawesi Selatan yang cakep-cakep 🙂

Mau liburan juga ke Kota Makassar? Coba lihat peta tempat wisata di Makassar ini supaya kamu bisa memperkirakan kudu ke mana aja ya 🙂

tempat wisata di Makassar
tempat wisata di Makassar

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Baca postingan ini bikin saya kangen Makassar. 19 tahun tinggal di sana cukuplah untuk membuat saya gak pernah lupa sama kota super ramai tersebut. Walaupun panasnya minta ampun, berdebu, macet di mana-mana, hmm apa lagi ya? Tapi sayanya tetap cinta. Hahahha.

    Banyak hal-hal yang tidak bisa saya lupakan dari Makassar. Kuliner, logat bicara ala orang Makassar, berbagai aktivitas keren komunitasnya dan masih banyak lagi. 7 tahun tinggal di Mataram,Lombok, belum juga sukses bikin saya move on dari Makassar #eaa. Paling susah move on sih sama kulinernya. Siapa coba yang bisa menyangkal lezatnya semangkuk Pallubasa komplit dengan topping kuning telur ayam kampung mentah di atasnya (disebut Alas), sepiring nasi putih plus segelas es tehnya. Untung aja postingan ini gak dilengkapi dengan foto Pallubasa Serigala itu. Hihihi.

  2. Nanie says:

    Wah Ada fotoku hahahaha obrolan hari itu sungguh menyenangkan banyak dapat masukan, sayangnyaa singkat sekali 😀

    Btw tentang Fort Rotterdam. Benteng ini dulu namanya Benteng Ujung Pandang, dibangun oleh Raja Gowa ke 9 tahun 1500 berapa gitu, lupa hahaha. Pas penaklukan kerajaan Gowa, sesuai perjanjian benteng harus diserahkan ke Belanda. Namanya diubah oleh Cornelis Speelman jadi Fort Rotterdam. Konon demi mengenang kota Kelahirannya di Belanda sana.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hoo iya tah? Aku sangka Fort Rotterdam itu dibikin oleh Belanda duluan, soalnya arsitekturnya memang gaya Eropa. Ternyata itu dibikin orang Gowa ya?

      Terima kasih sudah datengin aku sore itu ya, Mbak Nanie. Aku seneng banget disamperin 🙂

  3. Mugniar says:

    Wuah masih ada tulisan Mbak Vicky tentang tur tempo hari ternyata, ya 🙂

    Ndy dan Nanie rumahnya dekat dari bandara jadi bisa mampir. Sayangnya, saya gak bisa karena jauh.

    Pantai Losari dan Fort Rotterdam itu rame banget saat week end. Kadang-kadang malah bukan week end saja, di sore hari bisa rame apalagi kalo pas ada event besar yang diselenggarakan. Kedua tempat itu sering jadi tempat penyelenggaraan event-event besar. Untungnya Mbak Vicky waktu ke sananya pas gak ada event. Kalo pas ada event, wuih ketemunya orang semua, susah ambil gambarnya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ada eventnya waktu saya ke Fort Rotterdam, Kak Niar. Ada serombongan anak TK lagi karyawisata ke sana bareng guru-guru dan ibu-ibunya. Abis deh saya di sana dapet bocor ibu dan anak di mana-mana :))

  4. Dyah says:

    Kota Makassar adalah kota bisnis terbesar di Indonesia Timur, Kak. Itu kota besar. Wisata kuliner di sana mantap banget, lho. Ikan bakarnya enak banget!

  5. Dian says:

    Mbak vicky juara deh..

    Baca artikel ini aku berasa ikutan jalan-jalan ke makasar,, runtut banget…

    Kapan-kapan klo ada rejeki juga mau jalan ke Makasar ah,,

  6. @kakdidik13 says:

    Kerja sambil liburan adalah hobi yang sangat menyenangkan hehehe. Sukses selalu ya mbak Vicky, semangat berkarya dan menginspirasi Blogger Indonesia lainnya. Salam hangat dari Bojonegoro.

  7. fanny f nila says:

    trakhir ke makasar aku jg ga berharap banyak. apalagi aku tahu ini kota panas :D. tp krn outing kantor, yo wislaah, gratis ini :p. tapi ternyata sukaaaak banget ama kotanya, walopun aku ga sempet ke rammang2 . fort rotterdam dilewatin tp temen2 kantor pada ga pgn ksnaa, dan lbh milih lgs ke pulau samalona, yg agak bikin kecewa krn crowded ampun2an. padahal di internet terlihat sepiiii dan cantik. cantik sih iyaaa, tp rmenya bikin males 😀

    cm aku paling happy pas ke malino highlandnya vic. dingin, kayak bukan di makasar yg panas. cumaaa, mnrtku tempat ini cocoknya utk org2 yg honeymoon ato memang mau cari sepi sih. kalo yg dicari bukan itu, bakal mati gaya aja :p

    untuk kuliner, sudahlaaah… perasaan ga ada yg ga enak kuliner yg aku icip di sanaa hhaahaha.. sukaa semuaaa. eh, iya sih menu konronya gede, tapiii aku yg laper ato rakus yaa bisa ngabisin semua wkwkwkwkwk…

    sukses lah utk mitsubishi xpander. berharap bisa ganti mobil ma ini aku :D. kereeen bodynya.. sporty 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Woalah, Fan.. aku bahkan belum sempat ke Malino. Ini katanya mirip kawasan Bogor-Sukabumi-Cianjur-Lembang yang selalu dingin itu ya karena datarannya tinggi..

  8. CatatanRia says:

    banyak tempat menarik dan bagus ya di Makassar, coto makassar dan sop konro penasaran mau coba langsung makan di Makassar pasti rasanya lebih nikmat 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *