Vaksin PCV Anti Pneumonia untuk Anakku

Salah satu hadiah paling mahal yang pernah saya berikan kepada anak saya, adalah vaksin PCV. Karena saya tidak mau anak saya sampai kena pneumonia. Vaksin itu, saya berikan kepadanya ketika dia baru berumur 3 bulan.

Saya bahkan tidak merencanakannya waktu hamil. Sebagai mamah muda, umumnya saya cuma berencana kasih imunisasi standar saja. Macam hepatitis B, BCG, DPT, polio, campak, sama seperti orang-orang tua lain.

Sampai suatu hari, saya baca lagi jadwal rekomendasi imunisasi dari IDAI. Itu bacaan yang biasa dibaca para mahmud ketika lagi nyusuin. Dan di time table itu, kelihatan bahwa IDAI sudah menganjurkan vaksin PCV.

Meskipun di sekolah kedokteran dulu saya belajar tentang vaksin, tapi memang vaksin PCV nggak begitu nyantol di kepala saya. Alasannya pragmatis aja. Kan di Puskesmas juga barangnya nggak ada.

Tidak semua imunisasi yang direkomendasikan IDAI itu, vaksinnya tersedia di Puskesmas. Artinya, kalau masyarakat mau mendapatkan, ya harus aktif beli sendiri pada dokter anak.

Tapi ketika saya menatap anak saya yang sedang menyusu damai di pelukan saya, saya langsung membayangkan anak saya sudah tumbuh besar. Dan dia keliling dunia, traveling seperti saya. Termasuk ke daerah-daerah yang ternyata banyak penyakitnya.

Apakah dia tidak akan tertular?

Pikiran itu langsung bikin saya kalut. Ketika Fidel akhirnya terlelap, saya kirim WhatsApp ke dokter anak saya. Tanya apakah beliau menyediakan vaksin PCV.

Tentang Pneumonia (Paru Paru Basah)

Pneumonia ini sebetulnya penyakit pada paru-paru. Sepasukan kuman menyerang paru-paru, menyebabkan paru jadi berantakan. Kumannya cukup bandel, kalau tidak dimatikan, bisa menyebar ke otak. Akibatnya, otak penderitanya juga ikutan rusak.

Apakah Pnemonia Menular?

ciri ciri paru paru basah pneumonia
Pneumonia tampak pertama kali di rumah ketika anak mulai batuk-batuk disertai demam.

Betul. Seorang penderita pneumonia yang batuk-batuk, bisa bikin keluarganya ikut ketularan pneumonia bila kecipratan batuknya. Makanya, pneumonia sering banget ada di kota-kota yang penduduknya padat. Sebab, rumah yang sumpek bikin kuman pneumonia jadi mudah hinggap pada setiap penghuninya.

Ciri-ciri Pneumonia (Paru-paru Basah) pada Bayi

Orang sering sulit mengenali pneumonia karena disangkanya batuk-batuk biasa. Padahal ketika kuman pneumonia sudah beranak-pinak banyak di dalam paru, paru sudah menjadi sulit dipakai bernafas. Akibatnya, sering pasien pneumonia datang ke dokter sambil dibawa keluarganya, dengan nafas yang sudah tersengal-sengal karena sesak.

Ciri-ciri pneumonia:
1. Sesak nafas, disertai
2. Batuk, dan
3. Demam

Pada bayi, sesak begitu kentaranya sehingga otot dadanya menjadi cekung. Tulang-tulang dadanya begitu nampak ketika si bayi sesak napas. Dokter menyebutnya retraksi.

pneumonia pada bayi
Pneumonia pada bayi ditangani pertama kali dengan oksigen. Nebulisasi diperlukan untuk membuat dahak yang menyesaki paru mereka menjadi cair supaya gampang dikeluarkan.

Mencari Penyebab Pneumonia

Pneumonia hanya disebabkan kuman. Tetapi kumannya sendiri bermacam-macam. Mulai dari bakteri, virus, sampai jamur. Tapi paling sering berupa bakteri.

Dulu, di Indonesia, bakteri penjahat yang paling sering bikin pneumonia adalah bakteri pnemokokus (Streptococcus pnemoniae) dan bakteri Haemophilus influenza. Makanya, para dokter anak jadi fokus mencari vaksin untuk kedua bakteri ini.

Virus bisa menyebabkan pneumonia juga. Antara lain virus influenza dan virus campak. Untungnya, sekarang masyarakat Indonesia sudah mau jika anaknya disuntiki vaksin campak dan vaksin MR, soalnya gratis. Tinggal vaksin influenza yang masih kudu diswadayakan.

Pengobatan Pneumonia pada Bayi

Sebetulnya, mengobati pneumonia pada anak bayi gampang-gampang susah. Kalau pneumonianya masih pada derajat ringan, macam cuma batuk dan sesak sedikit doang, diminumkan antibiotik pun bisa sembuh. Asalkan pengasuhnya mau telaten meminumkan obatnya.

Tapi yang repot, bayi yang pneumonia seringkali ketahuan dokter dalam keadaan sudah biru. Bayi seringkali sudah lesu. Mohon maaf, telat sebentar lagi saja, bayinya bisa meninggal. Makanya, jika sudah tersengal-sengal begini, dokternya lebih suka merawat bayinya di rumah sakit. Bayinya perlu diinfus, karena infus itu untuk menjadi jalur memasukkan obat antibiotik ke dalam tubuhnya.

pneumonia paru paru basah
Anak-anak pneumonia ini adalah pasien yang rumit. Selain butuh diinfus dan dipasangi nebulizer berulang kali, seringkali manusia-manusia kecil ini tidak mau makan. Mereka kesulitan mengendalikan dahaknya sendiri, sehingga dahaknya masuk ke lambung dan membuat perut mereka jadi mual. Semakin rewel mereka, semakin stress orangtuanya.

Dokternya juga ketar-ketir. Pasalnya, kalau sampai kuman pneumonia masuk ke otak, maka akan jadi sakit meningitis. Meningitis ini bukan cuma menguras tenaga semua orang yang merawatnya. Tapi masalahnya, kalau pun sembuh nanti, ada kemungkinan sisa meningitisnya masih ada. Di dunia ini, tak ada orang tua yang senang bila anaknya mengalami gangguan kecerdasan, hanya gegara pernah kena meningitis waktu kecil, yang padahal diawali dengan batuk-batuk pneumonia.

Memberi Vaksin Pneumonia pada Bayi

Lantaran saya ngeri dengan komplikasi pneumonia ini, saya akhirnya memutuskan untuk menyuntikkan bayi saya dengan vaksin pneumonia, yaitu vaksin PCV.

Sebetulnya vaksin pneumonia di dunia ini ada bermacam-macam, tergantung jenis kuman yang mau ditembak. Berhubung di Indonesia, kuman penyebab pneumonia umumnya adalah bakteri pnemokokus, alhasil saya pun konsen cari vaksin yang bisa mencegah bakteri satu ini. Dan vaksin yang bisa menjadi tameng terhadap pnemokokus ini adalah vaksin PCV (Pneumococcus Vaccine).

Kebetulan, Pemerintah belum menyediakan vaksin PCV ini di Puskesmas-Puskesmas. Alhasil, saya terpaksa cari vaksinnya pada tempat praktek dokter anak.

Bagaimana Vaksin PCV Diberikan?

vaksin PCV untuk pneumonia
Vaksin PCV ini disuntikkan sebanyak empat kali. Menurut jadwal IDAI, suntikan pertama dimulai ketika usia 2 bulan. Lalu diulang lagi ketika usia bayinya 4 bulan dan 6 bulan. Suntikan terakhir pada waktu usianya 12 bulan, atau maksimal ketika usianya 15 bulan. Jadi, totalnya, untuk memperoleh kekebalan optimal atas pnemokokus ini, perlu vaksin PCV sebanyak empat kali.

Biarpun jadwal vaksin PCV itu dimulai ketika usia 2 bulan, tetapi Fidel sendiri divaksin PCV pertama kali pada usia 3 bulan. Saya rasa karena pada waktu usia 2 bulan itu, dokter anaknya memprioritaskan vaksin Hib dulu, sehingga vaksin PCV-nya dijadwalkan 1 bulan kemudian. Seterusnya, Fidel divaksin PCV ulang pada usia 5 bulan, usia 7 bulan, dan akhirnya ketika usia 12 bulan.

Membedakan Vaksin Hib dengan Vaksin PCV

Bakteri yang juga sering menyebabkan pneumonia pada anak adalah bakteri Haemophilus influenza, terutama H. influenza type B. Mencegah bakteri ini dengan vaksin Hib. Kita cukup beruntung tinggal di Indonesia, karena vaksin Hib ini di-packaged dengan vaksin DPT. Dan vaksin DPT ini gratis di Puskesmas se-Indonesia. Alhasil, jika sudah menyuntikkan anak kita vaksin DPT, maka itu sudah dihitung sebagai upaya mencegah pneumonia pada anak kita juga.

Dan Ayah Juga Ikut Berkontribusi Mencegah Pneumonia

Satu hal yang mesti saya syukurin adalah peran besar suami saya. Selama Fidel masih bayi, suami saya bertindak jadi sekretaris, juru bersih-bersih rumah, dan bahkan satpam bagi mood saya. Dia yang mencatat jadwal pada kalender kami untuk bikin janjian imunisasi. Dia juga yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga selama saya konsentrasi menyusui. Dan dia juga yang menggendong Fidel tatkala saya ambruk kelelahan.

Fidel sangat dekat dengan bapaknya semenjak bayi. Karena bapaknya juga yang mengawal pengasuhannya semenjak Fidel masih dalam kandungan saya hingga kini. Termasuk ketika saya mengutarakan ide tidak biasa tentang vaksin PCV, suami saya langsung berpikir keras untuk cari penghasilan tambahan supaya bisa membeli vaksin itu.
Fidel sangat dekat dengan bapaknya semenjak bayi. Karena bapaknya juga yang mengawal pengasuhannya semenjak Fidel masih dalam kandungan saya hingga kini. Termasuk ketika saya mengutarakan ide tidak biasa tentang vaksin PCV, suami saya langsung berpikir keras untuk cari penghasilan tambahan supaya bisa membeli vaksin itu.

Tahu nggak? Anak yang disusuin ibunya tanpa dibarengi susu formula sampai umur 6 bulan, lebih jarang kena pneumonia lho. Kegiatan menyusui akan memaksa ibunya untuk selalu punya tangan yang bersih, alhasil bayinya jadi ikutan bersih terus. Higiene personal ini yang membuat bakteri pneumonia jadi sulit memasuki tubuh bayi. Pun kalau sampai berhasil terhirup oleh bayi, bakteri ini sulit berkembang lantaran si bayi sudah dilindungi oleh vaksin pneumonia.

Kami sendiri jarang membicarakan pengalaman vaksin PCV Fidel dengan teman-teman kami yang anaknya seumuran Fidel. Teman-teman kami umumnya mengimunisasi anak-anak mereka di tempat praktek bidan, atau di Puskesmas. Tempat-tempat itu belum sediakan vaksin PCV, karena vaksinnya memang harus bayar sendiri. Biaya yang mesti disediakan untuk suntik vaksin PCV secara lengkap, hampir semahal tiket pesawat Jakarta-Bali pp 2 orang, makanya tak heran banyak orang menganggap vaksin PCV ini barang mewah. Padahal anak yang kena pneumonia meningitis, bisa memaksa orangtuanya membobol celengan sampai berutang sana-sini.

Saya sangat mengharap vaksin PCV ini menjadi vaksin yang mudah diperoleh oleh orang tua, sama seperti gampangnya mereka mendapatkan vaksin DPT atau vaksin polio. Suatu saat nanti, anak-anak kita akan jadi orang dewasa yang bebas berkelana mencari ilmu ke sana kemari, dan adalah tugas kita memberi mereka perlindungan dari penyakit. Dan Vaksin PCV, melindungi tubuh dari kuman pnemokokus penyebab pneumonia yang merusak masa depan itu.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

48 comments

  1. Arda Sitepu says:

    Wah aku penasaran sama vaksin pneumonia ini mbak. Kemarin sempat dijelaskan waktu imunisasi cuma pas vaksinnya belum ada di Puskesmas. Jadi memang harus ada informasi yang lebih agar masyarakat lebih mengenal vaksinnya agar tidak terjadi pneumonia pada anak.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Alhamdulillah, Puskesmas-nya mau menjelaskan tentang vaksin pneumonia ya, Kak. (Biasanya tenaga-tenaga kesehatan tak punya waktu untuk menjelaskan itu, karena terlalu sedikit waktu.) Memang vaksin ini belum ada di Puskesmas, karena Pemerintah belum bisa menyediakan vaksin ini.

  2. Ratna Dewi says:

    Aku baru tau kalo pneumonia itu paru-paru basah, aku dulu pas kecil kena itu mbak. Trus pengobatannya minum antibiotik sama obat muluk berbulan-bulan sampe bosan akutu. Tapi katanya paru-paru basah itu karena sering tidur di lantai tanpa alas atau kena kipas angin langsung terus-terusan, bener nggak tuh mbak? Untungnya anakku juga udah kuvaksin PCV, malah vaksin2 tambahan lain kayak Rotavirus juga kukasihin.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Ratna, mungkin perlu kuluruskan. Pneumonia ini nggak perlu obat sampai berbulan-bulan. Biasanya antibiotik yang diberikan hanya selama 3-5 hari, mungkin paling banter ya 2 minggu. Yang jelas bukan berbulan-bulan.

      Kalau sampai penyakit batuk diberi obat berbulan-bulan, mungkin itu penyakit yang lain, yang pasti bukan pneumonia.

      Pneumonia alias paru-paru basah sebetulnya bukan karena tidur di lantai yang dingin, bukan juga kena kipas angin yang berdebu. Pneumonia terjadi karena kuman melayang-layang di udara dan terhirup oleh seseorang, sehingga orang tersebut menderita pneumonia. Penelitian menunjukkan bahwa banyak kasus pneumonia lebih sering terjadi pada rumah-rumah yang penghuninya padat. Karena semakin sumpek suatu rumah, maka semakin sering penderitanya bertukar nafas dan cipratan air liur, sehingga melalui jalur ini terjadi penularan kuman pneumonia.

      Aku seneng banget Ratna udah memberi vaksin PCV. Dengan begitu kemungkinan pneumonia dicegah pada anakmu pun lebih besar. Aku juga memberi anakku vaksin rotavirus. Moga-moga sehat-sehat ya anak-anak kita 🙂

  3. Tina says:

    Terima kasih banyak untuk awareness vaksin PCV ini, mbak. Sebelum punya anak, aku juga tadinya mau kasih vaksin dasar doang. Tapi kan jaman berkembang ya, virus dan bakteri juga berkembang, jadi anak harus diberikan vaksin agar terlindung. Untungnya dulu aku kerja jadi vaksin anakku sengaja aku kasih lengkap karena ditanggung kantor. Aku pernah dengar kasus pneumonia gara-gara ortu ga aware atau terlambat memberikan vaksin PCV. Sangat disayangkan.

    Semoga vaksin PCV ini lebih terjangkau di Indonesia.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku juga berharap vaksin PCV ini lebih diminati banyak orang Indonesia, sehingga makin banyak produsen vaksin PCV mau menjual vaksinnya kemari. Jika di pasaran tersedia lebih banyak pilihan merk vaksin PCV, vaksin ini akan semakin terjangkau, sehingga semakin sedikit anak Indonesia yang terinfeksi pneumonia.

  4. Yeni Sovia says:

    Ya Allah serem teh Pneumonia ini. Aku baru tahu lho Teh kalau pneumonia ini ternyata bisa menular ya dan penularannya gampang lagi ya huhuhu. Jadi khawatir ke Erysha. Soalnya dia belum pernah divaksin pneumonia ini baru vaksin standar .

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, berhubung masanya untuk vaksin pneumonia sudah lewat, kita cuman bisa mengajarkan kepada dia tentang pola gaya hidup sehat supaya nggak sampai ketularan pneumonia. Kalau pun nanti dia sampai ketularan pneumonia, semoga kuman penyebab pneumonianya bukan jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

  5. Terimakasih Mba sudah berbagi lewat tulisan ini. Katakanlah ini jadi bekal yang kuat juga untuk perempuan perempuan lain di luar sana yang belum menikah dan mencoba melengkapi diri dengan berbagai informasi untuk kesiapan pernikahan dan jika memiliki anak kelak. Termasuk aku salah satunya.

  6. Helena says:

    Andai vaksin pneumonia pada bayi masuk vaksin yang di-cover pemerintah, jadi bisa lebih hemat. Padahal pneumonia termasuk penyebab kematian bayi dan balita nomer 2 di Indonesia.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, betul. Mudah-mudahan di masa depan, Pemerintah dan para anggota DPR mau memasukkan vaksin pneumonia ke dalam vaksin wajib untuk anak Indonesia ini.

  7. Brillianty says:

    anak-anakku semua nggak ada yg divaksin PCV, alasannya yaitu mahal. Lalu suami juga berargumen, itu vaksin nggak wajib kan? Ya sudahlah… alhamdulillah nggak kenapa2 waktu masih bayi. Waktu itu yang vaksin tambahan selain imunisasi dasar ya cuma karyawan yang mempunyai uang banyak, atau yang anak pertama, atau yang ada asuransi di kantor suaminya. Aku yakin kalau mereka bayar sendiri dengan keadaan ekonomi yang sama denganku, ya pasti mikir2 lagi.

    Ternyata vaksin PCV di rumah vaksin biayanya lebih murah daripada di rumah sakit, ah baru tau setelah dikasi tau sesama ibu2 di sekolahnya anakku. Tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur, hehehe..

    Semoga kedepannya harga2 vaksin yang mahal itu bisa digratiskan atau minimal disubsidi pemerintah hingga 90% (maunya…)

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi.. di negara-negara lain, vaksin PCV ini sudah disubsidi sampai 100%. Karena undang-undangnya mengamanatkan demikian, sebab anggota-anggota perwakilan rakyat di sana sangat peduli terhadap pengaruh kesehatan paru bagi kemajuan masyarakat.

      Semoga, seiring dengan peningkatan kondisi keuangan kita, kita lebih mampu untuk memberikan vaksin bagi bayi-bayi kita di masa depan. Malah, lebih bagus lagi, mengajari anak-anak kita untuk memberi diri mereka sendiri vaksin booster jika mereka sudah lansia nanti.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya lupa biayanya berapa, karena kejadiannya sudah 4 tahun yang lalu. Tapi saya ingat, gara-gara vaksin itu, rencana saya membayarkan tiket pesawat Jakarta-Bali PP untuk 2 orang keluarga saya langsung batal karena seluruh dananya tersedot untuk beli seluruh vaksin ini.

  8. silvia says:

    Aduh mom, lihat gambar-gambarnya sampai elus-elus dada. Semoga nanti pas sudah jadi ibu bisa aware sama anak dan selalu kasih vaksi-vaksi terpenting buat si dia

  9. Evalina says:

    Ingat waktu adikku menderita paru paru basah, sehingga harus bolak balik ke dokter dan rumah sakit, pencegahan itu sangat penting

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kalau dibandingkan dengan obat-obatan paru-paru basahnya, rasanya masih lebih banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk bolak-balik berobat ke dokter.

  10. Alhamdulillah Fidel dah divaksin PCV ya Mbak Vicky..
    Analku dah besar, yang pertama imunisasi standar di Indonesia terus lanjut pas pindah ke Amerika dapat imunisasi apa aja lupa
    Hadeh ibuk macam apa aku ini, ntar kulihat catatannya.
    Kalau anak kedua karena umur 2 bulan pindahnya ke sana jadi selama 2 tahun full dapat vaksin sesuai anak sana. Dan itu macam-macam, gratis

    Sekarang mereka dah besar, 14 dan 10 tahun..coba kutanya ke dokter anak sambil bawa catatan imunisasi, vaksin apa yang diperlukan lagi

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Suatu hari nanti anak-anak itu akan perlu data vaksinasi ini, misalnya untuk melanjutkan sekolah ke negara lain yang cukup tegas terhadap imunisasi. 🙂

  11. lendyagasshi says:

    Kalau penjelasan kak Vicky se-enak ini, aku jadi pengin panggil Bu Dokter Vicky…dan langsung konsultasi (aka. banyak tanya).

    Aku sebenernya selalu mikir, kalau imunitas anak-anak ini kan akan tumbuh sesuai dengan pertumbuhan lainnya. Lalu kalau di vaksin dengan memasukkan penyakit yang sudah dilemahkan…apa tidak menyakiti anak, budok…namanya?

    **apa ini semacam langkah preventif dari ketakutan orangtua sendiri?

    Maaf Bu Dok, aku awam banget sama vaksin, apalagi yang gak wajib.
    hehehe…anakku yang dapet vaksin gak wajib di awal waktu hanya yang kedua… Itupun karena lagi-lagi ke-khawatiran DSA yang megang anakku.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Oh, cara kerja imunitas itu nggak begitu, Mbak Lendy.

      Jadi sederhananya begini ya..
      Tubuh kita itu punya dua macam imunitas, yaitu imunitas pasif dan imunitas aktif.

      Imunitas pasif artinya tubuh memperoleh kekebalan yang didapat dari sumber di luar tubuhnya. Contohnya, kekebalan yang diperoleh dari ari-ari ibunya (selama masih di dalam kandungan) dan kekebalan yang diperoleh dari ASI (ketika sudah lahir). Imunitas ini yang dimaksud Mbak Lendy sebagai tumbuh sesuai umurnya.

      Imunitas aktif artinya tubuh menghasilkan kekebalan sendiri. Pada imunitas aktif ini, tubuh dimasuki kuman dulu. Lalu tubuh akan mengingat kuman ini sebagai benda asing yang harus dilawan, dan inilah yang dimaksud kekebalan atau imunitas. Salah satu metode memasukkan kuman ini adalah melalui vaksin.

      Tapiii..vaksin ini berisi kuman yang LEMAH, bukan kuman yang kuat. Kuman di dalam vaksin ini tidak dalam jumlah yang cukup untuk merusak badan, jadi tidak mungkin bikin penyakit. Hanya saja, sel tubuh memanfaatkan kuman ini sebagai “data benda asing” untuk diingat. Maka lain kali, ketika tubuh ketemu kuman yang mirip kuman dalam vaksin ini, sel kekebalan tubuh akan bergerak melawan kuman ini, supaya kuman tersebut tidak sampai masuk merusak tubuh. Itulah yang dimaksud imunitas pasif, dan terjadi secara buatan (dilakukan oleh manusia).

      Apakah ini langkah preventif? Ya.

      Apakah langkah ini dipicu oleh ketakutan orang tuanya? Oh tidak. Mbak Lendy, vaksin yang sedang kita bicarakan saat ini ialah vaksin pneumonia PCV. Fungsinya mencegah bakteri pneumococcus supaya tidak sampai merusak tubuh anak. Kenapa kita harus mencegah bakteri satu ini masuk tubuh anak kita? Sebab, Mbak, bakteri pneumococcus ini sekarang sudah tidak ampuh diobati dengan antibiotik. Banyak anak meninggal karena pneumonia meskipun sudah diberi obat, karena bakterinya tidak mati dengan obat itu, Mbak. Apakah kita mau anak-anak kita jadi bagian dari anak-anak ini?

      Tentu saja kita tidak takut dengan kematian, Mbak. Kita hanya membaca data ilmiah bahwa sudah banyak anak meninggal (atau mengalami gangguan kecerdasan) karena bakteri pneumonia menginterupsi paru dan otak mereka. Dan obat-obatan sekarang ternyata sudah tidak mempan terhadap bakteri ini. Jadi bagaimana kita mencegah anak kita supaya tidak sampai terkena bakteri jahat tersebut? Tentu saja hanya dengan vaksin.. 🙂

  12. Leyla Hana says:

    Aamiin semoga ke depannya, vaksin ini mudah diperoleh dan harganya terjangkau ya. Anak-anakku juga belum divaksin PCV. Kayaknya tiap tahun udah divaksin, vaksin campak dan MR hehe…

      1. Wiwin | pratiwanggini.net says:

        Saya turut berharap semoga vaksin ini segera bisa didapatkan di Bidan dan Puskesmas sehingga akan semakin banyak anak yang terhindar dari Pneumonia. Jujur aja kedua anak saya enggak ada yang divaksin PCV ini.

  13. Dian says:

    Jujur ya mbak, selama ini anak2ku hanya vaksin yg dijamin pemerintah

    A0a sudah terlambat klo anak di vaksi pcv saat sudah besar?

    Klo sudah di vaksin hib apa tetap perlu vaksin pcv?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sayangnya, vaksin Hib belum bisa menggantikan vaksin PCV. Karena target dari vaksin Hib adalah bakteri Haemophilus influenza tipe B, sedangkan target dari vaksin PCV adalah bakteri Sreptococcus pneumoniae. Spesiesnya sudah berbeda, maka vaksinnya juga berbeda. Vaksin ini bukan seperti obat nyamuk yang bisa membunuh segala spesies nyamuk.

      Vaksin PCV hanya manjur jika disuntikkan sebelum usia 1,5 tahun, sesuai jadwalnya. Jika vaksinnya diberikan sesudah usia itu, efektivitasnya berkurang.

      Memang, sebaiknya orang tua menyiapkan jadwal vaksin untuk PCV ini sebelum anaknya lahir. Dan memang harus aktif sendiri, bukan menunggu disuruh Pemerintah atau disuruh bidan Puskesmas. Karena, tidak semua vaksin yang dianjurkan para ilmuwan untuk anak-anak itu sudah disediakan oleh Pemerintah.

  14. Kalau aku tipe ibu manut sama dokter anak, jadi semua jadwal vaksin itu aku ikuti semuanya. Sampai ada vaksin apa ya yang dulu diperdebatkan itu, saya lebih mengikuti saran dokter anak. Karena gak mau menyesal nantinya. Selain itu pernah ikutan juga acara sama Kemenkes jadi sedikit paham juga kenapa anak itu memang harus di vaksin.

  15. yayat says:

    pentingnya memberi ASI Eksklusif pada bayi yaaaa… biar terhindar pneumonia… vaksin PC bisa pake BPJS nggak kak.. kalo mahal jadi kebayang sama ortu yang nggak selalu sedia uang…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sayangnya hingga sekarang vaksin PCV belum ditanggung oleh BPJS, Mbak. Makanya ortu sebaiknya sudah siap-siap semenjak hamil untuk memberikan vaksin ini kepada anaknya.

  16. Ria Nugros says:

    Saya baru tau tentang vaksin PCV ini, selama ini juga hanya mengenal imunisasi dasar saja yang diwajbkan pemerintah. Anak ketiga ini sepertinya harus saya agendakan vaksin PCV ini.

  17. Meliawati says:

    Duh ngeri juga ya mbak pneumonia ini. Tapi harga vaksinnya juga nggak kalah ngeri euy. Hehehe Semoga nanti vaksin ini dapet subsidi juga dari pemerintah agar semua masyarakat Indonesia mampu membelinya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya rasa pneumonia ini lebih mengerikan daripada harga vaksinnya, Mbak. Karena pneumonia bisa mengakibatkan gangguan kecerdasan yang permanen, dan harga gangguan kecerdasan itu jauh lebih mahal daripada sekedar harga vaksin 🙂

  18. vaksin sangat diperlukan untuk kekebalan tubuh, selain vaksin menjaga kebersihan, mengkonsumsi makananan yang bergizi merupakan sebagian dari usaha kita untuk melindungi diri dari berbagai penyakit

  19. Keke Naima says:

    Waktu anak-anak saya masih kecil, kami termasuk yang tertib dengan jadwal imunisasi. Pokoknya apa yang dijadwalkan dokter, kami ikut aja, deh. Dulu, seingat saya belum disarankan vaksin ini. Mungkin kalau dulu udah ada, saya pun bakal menurut aja

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ketika anak-anak Mbak Chi masih kecil dulu, kasus pneumonia pada anak-anak belum sebanyak sekarang. Maka belum banyak pemberitaan tentang pneumonia pada anak-anak. Sehingga vaksin PCV ini belum mendapatkan perhatian prioritas, bahkan oleh banyak dokter anak sendiri. Dokter anak masih konsen memberantas polio, campak, difteri, dan TBC, yang tentu saja kejadian kasusnya jauh lebih banyak.

      Sekarang, pneumonia pada anak-anak makin banyak. Berdasarkan penelitian pada Google Search Results, orang bahkan lebih banyak mencari tahu tentang “pneumonia” daripada “paru-paru basah”. Maka, semakin tinggi juga kesadaran orang untuk mencegah pneumonia dengan memberikan vaksin PCV ini.

      Tak apa, Mbak Chi. Jika suatu saat nanti anak-anak mengalami batuk sampai sesak, jangan ditunda-tunda, segera pergi ke dokter. Semakin cepat kita waspada akan pneumonia, semakin besar kesempatan kita untuk bisa tetap minum obat di rumah, bukan diinfus di rumah sakit 🙂

  20. Kalau sesak nafasnya berat bisa sampai biru ya kak. Makin ribet penanganannya. Kalau untuk anak yang udah telat misalnya 1 tahun apa masih bisa vaksin? Semoga saja vaksin ini suatu hari mudah didapat ya kak tanpa harus ke SpA untuk mendapatkannya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya rasa, kekebalan yang diberikan pada usia setelah 1 tahun tidak akan seefektif kekebalan yang diberikan ketika baru berumur 2 bulan, Kak 🙁

  21. Kak Vicky aku pake vaksin buat anak kedua ku.. anak pertama malah nggak sama sekali karena dulu aku nggak aware. Memang harganya lumayan mahal tapi lebih aman kalo udah proteksi

  22. Semoga selalu sehat jagoannya ya bun. Selain Vaksin menjaga kebersihan dan mengonsumsi makan bergizi juga sebagian ikhtiar untuk melindungi diri dari berbagai penyakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *