Akhir dari Insekuritas

Dulu, saya sering merasa kurang nyaman jalan-jalan di mall lantai dasar. Saya lebih demen jalan di lantai atasnya.

Semua mall itu desainnya sama, lantai dasar pasti aja dipakai buat toko-toko fashion. Nanti di lantai tiga, empat, dan seterusnya, baru dipakai sama toko-toko makanan, area anak-anak, bioskop, dan lainnya.

Saya ini bukan orang yang modis, jadi nggak cukup nyambung buat toko-toko fashion. Saya kalau beli baju itu mikirnya, yang penting warnanya seneng, ukurannya muat di badan, dan harganya cocok di dompet. Penyebab ketiga itu yang seringkali nggak matching dengan baju-baju di mall, alhasil saya jaraaaang banget beli baju. Buat saya, mending duit itu dipake buat ngembangin bisnis ketimbang buat beli baju.

Persoalan duit kerap kali jadi problem juga buat saya, yang membuat saya jadi rada julid lihat cewek-cewek cantik. Saya nggak seneng jalan di mall lantai fashion itu, risih lihat mahmud-mahmud yang anaknya masih seumuran dengan anak saya, keluar masuk counter baju yang desain etalasenya cantik-cantik. Baru ngeliatnya aja saya udah nuduh mereka mau beli, sedangkan label harga di barangnya aja sudah bikin perut saya mules.

Situasi yang sama saya rasakan kalau lagi buka Instagram. Saya sebel lihat cewek-cewek pasang pose OOTD sembari mention account IG dari brand gaunnya, brand celananya, brand blusnya, and so on. Bahkan brand kaos kakinya juga disebut, haiyaaa.. Saya kadang-kadang iseng pencet brand yang di-mention itu, hanya sekedar kepo ingin tahu harganya. (Lalu sebel lagi karena untuk tahu harganya ya kita kudu chat admin IGnya. Siapa juga yang mau ngechat admin padahal kita nggak niat beli?)

Tahukah kalian, nge-mention nama brandnya di OOTD itu udah menimbulkan feeling seolah lagi pakai barang mahal?

Perasaan itu jadi bikin dendam di kepala saya, bahwa suatu hari nanti, kalau sudah punya duit, saya mau datengin itu toko fashion di lantai dasar mall dan saya akan beli bajunya barang 1-2 potong. Untuk menunjukkan, nih gw juga bisa beli barang mahal!

Finally Beli

Sampai suatu hari saya beneran punya duit dan akhirnya saya bisa beli baju di mall. Baju ini istimewa karena biasanya saya beli baju yang harganya lebih rendah dari itu.

Ternyata perasaan miskin itu masih hinggap aja, terbukti ketika saya mematut-matut diri di depan cermin, saya tersenyum bangga. Saya bayar bajunya di kasir, saya tersenyum. Saya keluar dari toko itu menuju pintu keluar mall, saya tersenyum. Saya pamerin baju itu di depan suami saya (yang jelas nggak ngerti fashion), makin lebar senyum saya.

I am now pretty and rich!

Meskipun dalam hati kecil saya, saya penasaran, apakah saya ini bangga karena saya punya baju yang bagus, atau karena saya bisa beli baju di counter cantik di mall itu? Itu adalah dua konsep yang sangat berbeda.

Hari-hari berlalu sampai suatu hari saya dapat tugas untuk menulis tentang fashion ramah lingkungan, sangat berbeda dari genre tulisan yang biasanya saya buat. Berhubung imbalannya lumayan bagus buat saya, saya coba kerjakan tugas itu. Ternyata menulis topik ini bikin saya kudu riset sana-sini, dan menyeret saya pada pengetahuan baru yang nggak pernah saya pelajarin, yaitu tentang bahan pakaian yang mudah terurai.

Belakangan saya baru ngeh bahwa banyak sekali jenis kain di dunia ini yang dipakai untuk menghasilkan suatu pakaian. Tetapi pakaian itu tidak akan kita pakai selamanya; karena suatu saat nanti badan kita akan meninggal menjadi tanah, tapi pakaian kita belum tentu ikutan menjadi tanah. Kain yang mudah terurai akan mudah hancur bersatu menjadi tanah, sedangkan bahan kain yang tidak mudah terurai akan tetap jadi kain. Repotnya, kain pakaian yang jadi sampah ini akan mencemari tanah, menjadikan tanah itu susah ditanami tumbuhan baru.

Adakah pakaian kita itu akan jadi sampah yang sulit hancur sehingga menyusahkan tanah bumi?

Ide itu membuat saya terhenyak, sehingga mau tidak mau, saya jadi mulai menghafal bahan-bahan kain yang mudah terurai dan tidak mudah terurai. Pelan-pelan saya membuka lemari saya, dan mencari-cari label di masing-masing pakaian saya, untuk tahu apakah pakaian ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai atau tidak.

Material Checker Freak

Suatu hari saya kembali lagi ke mall. Dalam suasana hati yang sedang senang, saya masuk ke counter baju yang cantik-cantik dan iseng melihat label di pakaiannya. Ketika saya melihat di labelnya bahwa ternyata pakaian itu dibikin 70% dari rayon, saya tertegun, dan mengembalikan pakaian itu tanpa menoleh lagi.

Lalu saya ngecek random ke rak lain, mengambil sebuah blazer yang kelihatannya cukup keren. Saya cek lagi labelnya, dan membaca bahwa blazer itu dari 90% polyester. Saya langsung kecewa dan mengembalikannya. Kemudian saya pergi dari toko itu dan tidak balik lagi. Ini counter bajunya cantik-cantik tapi bahannya kok calon sampah bumi seh..?

Saya pernah suatu hari sengaja keliling dari suatu counter ke counter lain dalam suatu mall, demi ngecek bahan pakaian yang mereka bikin. Yang bajunya dari katun 100% itu banyak, tapi yang bajunya dari 100% rayon juga banyak. Harga bahan yang mudah terurai dengan bahan yang nggak mudah terurai itu sama. Malah kadang-kadang harga baju dari polyester lebih tinggi daripada baju dari katun. Membuat saya sakit hati. Industri fashion kadang-kadang jadi tidak valuable kalau sudah berurusan dengan value biologi.

Di hari lainnya, saya buka Instagram lagi dan mata tertumbuk pada foto seorang selebgram cantik yang lagi pasang foto OOTD-nya. Saya pencet tag brand yang dia sebutkan, dan dengan cepat langsung saya temukan dia pakai varian baju yang mana, harganya berapa. Tapi begitu saya baca spesifikasi bajunya dan mengenali bahwa bajunya dibikin dari bahan yang nggak mudah terurai, saya langsung menggeleng dan menganggap bahwa si selebgram itu tidak cantik lagi..

Paling kesel kalau di mall itu saya nemu counter yang cantik sekali etalasenya, dan saya masuk untuk melihat-lihat gaun satu-dua potong. Pramuniaganya bersemangat sekali memberitahukan bahwa gaun yang saya pegang itu lagi diskon. Padahal saya pegang gaun itu bukan lagi mengecek label harganya, melainkan saya lagi nyari-nyari informasi label tentang bahannya. Dan saya langsung gondok karena ternyata nggak ketahuan di labelnya bahwa pakaian itu dari bahan apa.

“Mbak, ini bahannya dari apa ya?” tanya saya iseng kepada pramuniaganya.
Lalu pramuniaganya mendadak pasang muka angkuh dan berkata, ”Ini barangnya impor, Kak.”

Saya langsung mengumpat dalam hati, “Impor mbahmu.” sambil tersenyum, bilang terima kasih dan segera meninggalkan toko.

Sebagai literation freak, saya sebel kalo saya pertanyaan saya dijawab dengan jawaban yang nggak relevan. Gw tanya bahan itu mbok ya dijawab ini bahannya dari katun, Kak / dari spandex, Kak / dari tulle, Kak. Impor itu bukan nama bahan kain!

(Anyway, saya masih bingung kenapa saya punya kebiasaan ngumpat sambil bawa-bawa mbah.)

Ada pengalaman saya yang lain, tatkala saya dateng ke suatu department store. Saya tertarik pada suatu mantel, tapi saya nggak nemu informasi bahannya di mantel itu. Ketika pramuniaganya datang untuk kasih tahu bahwa mantel itu lagi diskon, saya tanya bahannya dong. Begitu dia jawab bahwa mantel itu dibikin dari polyester, Saya langsung kecewa dan kembalikan mantelnya sambil bilang, “Yahh..saya nggak pakai polyester..”

Tahu-tahu pramuniaganya jawab gini, “Kalau merk yang ini memang barangnya dari polyester semua, Kak. Tapi di area sebelah sana (dia nunjuk brand sebelahnya), itu barangnya dari katun. Barangnya satu pabrik, cuman beda label aja karena bahannya beda.”

Saya mendongak dan minta dianterin ke brand sebelah. Ternyata bener. Itu satu label bahannya dari katun 90%, harganya sedikit lebih tinggi 50%, desainnya sama persis dengan desain brand yang polyester. Singkat cerita, akhirnya saya menjinjing satu kantong keluar dari store itu, berisi sepotong mantel katun..

Sebetulnya nulis ginian saya merasa angkuh karena seolah-olah saya jadi anti polyester dan anti bahan yang tidak ramah lingkungan, padahal pengetahuan saya tentang teknik lingkungan itu super cetek banget. Saya nggak mengingkari bahwa pakaian-pakaian yang telanjur menuh-menuhin lemari saya sekarang masih mostly berbahan yang sulit terurai lho, tapi itu dibeli karena saya belum tahu tentang bahan-bahan tersebut. Sekarang, sikap saya, kalau saya mau beli pakaian, saya cenderung mau tahu bahannya dulu. Kalau bahannya nggak ramah lingkungan, langsung saya skip.

Sekarang saya juga merasa lebih nyaman sekarang dengan diri saya sendiri, karena saya sudah nggak insecure lagi kalau lihat cewek-cewek keluar masuk counters fashion yang cantik-cantik di mall atau lihat brands fashion OOTD-an di Instagram. Pikir saya sekarang, mau itu baju semahal apa, tidak worth-to-buy juga kalau sampai baju itu nanti jadi sampah yang sulit terurai di tanah. Mending saya iri kalau saya belum mampu beli pakaian yang mahal, asalkan memang bahannya dari bahan yang mudah terurai. Mungkin saya harus bekerja lebih giat lagi supaya saya bisa beli barang yang saya inginkan.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. vic, aku jd sadar setelah baca ini kalo kainpun ada yg susah terurai. jujur ga pernah mikirin ini sih kalo sedang beli pakaian. dan aku jd pgn meriksain 1-1 bajuku, anak2 dan suami, dari bahan apa kebanyakan.. Ga pgn samasekali aku jd ikutan nyumbang merusak alam dengan membeli baju2 yg bahannya susah terurai πŸ™

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku udah periksa baju-bajuku sendiri. Ternyata masih banyak banget bajuku yang dibikin dari rayon. Anakku sering dapet kado baju, ternyata baju yang kado itu dari polyester. Kenapa selama ini kami cuman peduli baju dari warna dan harga doang sih? Aku jadi nyesel.

      Suamiku jarang beli baju. Tapi sekalinya beli baju, pasti dia selalu beli yang katun. Nggak sengaja itu dia beli katunnya, hanya merasa bahwa bajunya itu terasa enak. PR besar kalau beli celana sih. Banyak banget celananya yang berasal dari polyester.

  2. Indah Juli says:

    Anakku yang nomor dua sekolah di SMK jurusan tata busana, beberapa kali menemani dia beli kain untuk keperluan tugas sekolah, jadi sedikit tahu tentang jenis-jenis kain. Dan trend sekarang, kain pun harus ramah lingkungan πŸ™‚

  3. Reisha says:

    Wah mbak, baru ngeh saya soal bahan pakaian ini. Selama ini ga pernah kepikiran, kirain yang namanya pakaian karena dari kain ya bakal bisa hancur semua. Selain polyester dan rayon, bahan apalagi mbak yang sulit terurai?

    Jadi keinget juga pas saya meeting di sini dengan para ortu, mereka bahas rencana penggantian karpet di sekolah, dan itu sampai dibahas bahannya apa, sekian persen X sama sekian persen Y. Concern-nya sama dengan ini ya ternyata. Dulu saya kalo beli karpet mikirnya cuma mana yang motifnya disuka sama mana yang harganya cocok, hehe.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, memang beda pola pikirnya orang Selandia Baru dengan bangsa kita. Bangsa mereka sudah peduli dengan masalah lingkungan, makanya mereka ingin bahan karpet pun yang gampang terurai supaya tidak sampai merusak bumi.

      Lain dengan bangsa Indonesia ya, kita baru belajar memilah sampah, belum sampai memilah bahan apa yang ingin kita gunakan.

      Kebetulan, bahan kain yang sulit terurai itu antara lain polyester, rayon, nilon, scuba, dan spandex.

Leave a Reply to Vicky Laurentina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *