Mengunjungi Peninggalan Kerajaan Majapahit sebagai Cagar Budaya Indonesia

Desa kecil di Mojokerto ini, ternyata pernah menjadi ibukota Nusantara yang dikagumi oleh bangsa Cina. Desa yang sama, juga menjadi tujuan utama rakyat Tanjungpura (sekarang Kalimantan) dan Tumasek (sekarang Singapura) untuk mengekspor hasil buminya. Tetapi, melihat sisa peninggalan kerajaan Majapahit di masa kini yang mulai lekang dimakan waktu, kita jadi paham bahwa memang sulit untuk mengingat masa kemakmuran kita sendiri sebelum dijajah Eropa.

Menguak Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Mudah sekali ditelusuri di internet bahwa kerajaan Majapahit pernah menjadi hebat di bumi Indonesia ini sepanjang abad 13-15. Semua orang tahu bahwa Majapahit beribukota di Trowulan, sebuah desa di suatu area yang kelak akan menjadi teritori provinsi Jawa Timur. Orang masa kini seringkali mengasosiasikan nama Majapahit dengan Gajah Mada, pentolan militer kerajaan yang namanya sering dijadikan nama jalan di banyak kota Indonesia.

Persoalannya, jarang ada orang ingat bahwa ternyata, semenjak Gajah Mada meninggal, kebesaran Majapahit mulai terdegradasi. Rajanya yang paling terkenal, Hayam Wuruk, meninggal juga, dan ternyata istananya menjelma menjadi lokasi huru-hara lantaran perebutan tahta. Konflik internal keluarga raja yang berebutan mahkota, mengakibatkan banyak daerah yang sudah telanjur diakuisisi Majapahit menjadi terabaikan.

Padahal provinsi-provinsi yang dikuasai Majapahit itu telah bertebaran. Dari Sumatera hingga Ambon. Dari Sumbawa hingga Mindanao (sekarang menjadi wilayah Filipina). Para provinsi ini memberontak, hingga akhirnya separatis dan membentuk kerajaan baru. Kegagalan Majapahit menjaga kesejahteraan seluruh daerah kekuasaannya itu, berbuntut pada kolapsnya Majapahit. Akhirnya, Majapahit pun bubar.

Banyak kerajaan kecil yang terbentuk sesudah runtuhnya kerajaan Majapahit ini. Sebut saja Demak, Mataram, Banjar, Bone, dan lain-lain, namun wilayah kekuasaan ekonominya tak pernah sampai setangguh Majapahit. Krisis ekonomi lokal menyebabkan banyak wilayah menjadi terjajah oleh bangsa lain. Apalagi, pelaut-pelaut dari Eropa mulai berdatangan untuk mengeksploitasi hasil bumi negeri-negeri kecil ini. Maka berakhirlah masanya kejayaan Nusantara sebagai bangsa yang disegani bangsa lain, dan memasuki periode baru sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa lain (secara berturut-turut: Portugis, Inggris, Belanda, Jepang).


Peninggalan kerajaan Majapahit
Peninggalan kerajaan Majapahit yang kini menjadi cagar budaya, terutama berupa bangunan candi.
Bangunan cagar budaya ini dirawat sebaik mungkin untuk menjadi bukti historis bahwa Indonesia pernah memiliki sejarah bangsa yang kuat bernama Majapahit.
papan tanda Gapura Bajang Ratu
Semua bangunan peninggalan kerajaan Majapahit yang disertifikasi sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memperoleh papan nama bertuliskan Cagar Budaya seperti ini.

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Pekan lalu, saya jalan-jalan ke Trowulan untuk melihat-lihat peninggalan kerajaan Majapahit yang tersisa. Trowulan merupakan sebuah kecamatan yang berada di pinggir kota Mojokerto, hanya bermobil sekitar 1,5 jam dari Surabaya. 

Ini kedua kalinya saya mengunjungi Trowulan. Bedanya, ketika saya datang ke Trowulan 6 tahun lalu semata-mata hanya untuk wisata swafoto, kali ini saya ingin mempelajari tantangan konservasi pada salah satu cagar budaya Indonesia ini. Trowulan telah disertifikasi sebagai cagar budaya Indonesia berkategori Wawasan, yang artinya jika kita ingin melihat segala macam bentuk cagar budaya dalam satu wilayah, maka Trowulan merupakan contoh yang tepat. Tapi masalahnya, kenapa orang jarang tertarik mengunjungi cagar budaya peninggalan Majapahit di Trowulan ini?

Tidak salah jika Trowulan sampai ditahbiskan menjadi Kawasan Cagar Budaya. Sebagai eks ibukota Kerajaan Majapahit, banyak bangunan peninggalan kerajaan Majapahit di sana yang menjadi Bangunan Cagar Budaya, terutama candi-candi. Salah satu peninggalan kerajaan lainnya yang merupakan waduk buatan raja Majapahit, yaitu Kolam Segaran, telah ditetapkan menjadi Situs Cagar Budaya. Di sekitar candi pun banyak ditemukan benda yang diasumsikan sebagai benda yang digunakan oleh rakyat di masa pemerintahan kerajaan Majapahit, antara lain prasasti dan arca. Benda-benda ini kemudian diregistrasi sebagai Benda Cagar Budaya, lalu diekshibisi di museum khusus yang didedikasikan untuk kerajaan Majapahit, yaitu Museum Trowulan.

Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit

Sebetulnya ada beberapa candi yang bisa dikunjungi masyarakat umum di Kawasan Cagar Budaya Trowulan ini. Sebut saja, Candi Gapura Wringin Lawang dan Candi Gentong. Tetapi karena waktu saya yang terbatas, saya hanya memilih mengunjungi ketiga candi lainnya, yaitu Candi Brahu, Candi Gapura Bajang Ratu, dan Candi Tikus.

Gapura Bajang Ratu, Pintu Masuk Kerajaan Majapahit

Namanya saja gapura, maka dahulu candi ini menjadi pintu masuk pengelana yang ingin mendatangi ibukota Majapahit di Trowulan. Sebetulnya, selepas runtuhnya kerajaan Majapahit, sekitaran Gapura Bajang Ratu menjadi tak terawat dan ditumbuhi hutan jati yang lebat. Ketika Inggris mulai menjajah Jawa, pemimpinnya, yaitu Thomas Raffles, menemukan candi ini dan memerintahkan hutan itu dibersihkan, agar candi itu lebih mudah dikunjungi. Setelah Inggris mengoper penjajahan Jawa kepada Belanda, Belanda sempat berupaya memugar candi ini agar lebih kokoh. Batu bata pada anak tangganya diperbaharui, nat-natnya yang rapuh dikokohkan kembali, dan beberapa bagian candi yang terbuat dari kayu pun disemen.

Setelah Indonesia merdeka, Indonesia juga berusaha melakukan pemugaran terhadap candi ini. Sekeliling candi ditata menjadi taman yang luas, lalu taman ini diberi fasilitas penunjang macam pos penjagaan, tempat sampah, dan pagar pengaman.


peninggalan kerajaan Majapahit Gapura Bajang Ratu
Gapura Bajang Ratu, awalnya merupakan pintu masuk tamu yang ingin mendatangi ibukota kerajaan Majapahit di Trowulan.
Setelah bubarnya kerajaan ini, semula sekitaran gapura menjadi hutan yang mangrak.
Kemudian Pemerintah menemukan gapura ini, lalu membersihkan hutannya dan menjadikannya taman seperti sekarang.

Ketika saya datang kemari, taman Gapura Bajang Ratu dalam keadaan bersih, asri, dan hijau, seperti taman kota yang tertata indah. Penjaganya sangat ramah, dan bertanya “Ada yang bisa dibantu?”


loket masuk
Tiket masuk candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit rerata seharga Rp 3.000,- hingga Rp 5.000,-
Vicky Laurentina di Gapura Bajang Ratu
Karena naik ke atas Candi Gapura Bajang Ratu itu dilarang, maka saya cukup mengabadikan diri saya dengan bersandar pada dindingnya saja.

Candinya kelihatan bersih terawat, meskipun saya lihat beberapa batu bata dindingnya mulai berlumut. Tak terkejut saya ketika saya jumpa palang bertuliskan Dilarang naik ke candi pada anak tangga candinya. Penduduk lokal percaya bahwa naik ke atas Gapura Bajang Ratu akan membawa sial, jadi Pemerintah memutuskan untuk menghormati mitos itu.


relief peninggalan kerajaan Majapahit
Relief pada dinding Gapura Bajang Ratu mulai lapuk dimakan waktu.
Perlu perawatan oleh ahli konservasi profesional untuk mempertahankan pahatan pada relief ini.

Penduduk Trowulan kelihatan sangat mencintai candi ini. Jalan menuju Gapura Bajang Ratu diaspal rata, tamannya dibersihkan dengan teratur, sehingga pengunjung yang datang pun tampak puas menikmati taman candi itu. Lepas dari benar/tidaknya mitos naik candi itu membawa sial, hingga kini jarang sekali terdengar ada bagian-bagian bangunan candi yang rusak akibat vandalisme.


Candi Tikus yang Sempat Jadi Sumber Hama

Lokasi Candi Tikus hanya sekitar 1 km dari Gapura Bajang Ratu. Candi ini unik, karena bentuknya tidak seperti candi langsing berisi kamar ibadah seperti pada umumnya. Malah, candi ini sebetulnya merupakan kolam pemandian, yang di dalamnya terdapat struktur panggung berbentuk atap mahameru. Makanya nama resminya adalah Petirtaan Candi Tikus. (Petirtaan = sumber air) Raja Majapahit sepertinya senang mandi di sini, sambil bersembahyang.

Konon, pemandian ini juga dipakai untuk memprediksi datangnya musim. Jika seluruh kolam terisi genangan hingga ketinggian anak tangga tertentu, maka musim hujan telah datang. Itulah waktunya rakyat Majapahit untuk mulai menanam padi. Namun selama genangan dalam kolam itu cepat kering, maka musim kemarau belum berlalu.

Saya beruntung datang pada musim kemarau, karena kolam itu sedang surut, sehingga saya bisa bermain-main di dalam kolam candi itu bersama anak saya. Beberapa kawan saya pernah kemari ketika musim hujan. Air merendam seluruh kolam dan menciptakan pemandangan isi kolam yang berwarna hijau akibat lumut.

Bicara soal lumut, kolam ini rupanya tidak ikut terobservasi oleh Raffles ketika menjajah Jawa. Selepas runtuhnya Majapahit, area Trowulan terkena macam-macam musibah, baik banjir Sungai Brantas maupun lumpur vulkanik dari erupsi Gunung Kelud. Kolam ini tertutup oleh tanah, dan begitulah adanya sampai sekian abad hingga awal dekade 1900-an.


peninggalan kerajaan Majapahit Candi Tikus
Arsitektur Candi Tikus ini berupa satu buah kolam besar yang dimasuki dengan cara menuruni undak-undakan.
Undak-undakan ini diapit dua kolam kecil berbentuk bilik yang terletak simetris.
Dindingnya diberi lubang-lubang air.
Pada foto ini, saya bersandar pada panggung besar dengan hiasan berbentuk mahameru.

Di awal masa itu, seorang bupati Mojokerto sedang berupaya mengatasi wabah hama tikus yang menyerang sawah penduduk. Ia dilapori bahwa tikus-tikus itu rupanya lari ke suatu gundukan tanah besar di daerah Trowulan, sehingga ia menginstruksikan agar gundukan tanah itu dibongkar untuk membasmi sarang tikus. Memang tikus-tikusnya jadi keluar semua, tetapi penduduk malah menemukan, bahwa gundukan aneh itu ternyata telah menutupi sebuah candi kolam pemandian. Semenjak itu, candi tersebut dinamai Candi Tikus.


Mahameru Candi Tikus
Mahameru di atas panggung dalam kolam Candi Tikus.
Sepertinya panggung ini didirikan untuk meletakkan sesajian.
Peninggalan kerajaan Majapahit Tikus Trowulan
Petirtaan Candi Tikus berada di bawah area taman. Menunjukkan kehebatan arsitek kerajaan Majapahit yang membangun candi di dalam kolam.

Begitulah memang konsekuensinya tinggal di daerah rawan bencana, seperti halnya ibukota Majapahit ini. Di masa kini, penting buat rakyat untuk memprioritaskan penyelamatan Bangunan Cagar Budaya jika untuk mengatasi risiko bencana alam. Untungnya kini Sungai Brantas tidak lagi sering meluap hingga banjir sesering zaman dulu, karena kontribusi rakyat Mojokerto dalam membangun infrastruktur anti banjir di sekitar candi.

Hikmah Menarik pada Sejarah Candi Brahu

Berbeda dengan kedua candi yang saya sebutkan tadi, candi Brahu ini lain sendiri karena berarsitektur gaya Buddha. Hal ini terkonfirmasi ketika arkeolog kemudian menemukan Prasasti Alasantan di dekat candi tersebut, dan ada tulisan pada prasasti itu bahwa candi ini dibangun sebelum abad 11 Masehi. Jadi, candi ini sudah berdiri sebelum Kerajaan Majapahit itu ada.

Cukup menyenangkan, jika membayangkan bahwa meskipun Majapahit telah sedemikian berjayanya dengan filosofi Hindu yang dianutnya, namun raja-rajanya masih membiarkan agama Budha berkembang. Toleransi terhadap umat yang berbeda agama nampaknya sudah jadi hal biasa di Nusantara sejak dahulu kala.


peninggalan kerajaan Majapahit Candi Brahu
Candi Brahu di Trowulan ini masih berusaha tegak berdiri meskipun beberapa batu bata yang membentuknya mulai rapuh dan berjamur.

Semula, seperti halnya candi-candi lainnya di Trowulan ini, Mpu Sindok membangun candi Brahu dari batu bata merah yang memang banyak sekali terdapat di sini. Batu bata ini lama-kelamaan lapuk dimakan usia, hingga kemudian Pemerintah Hindia Belanda memugar candi ini dengan memperbaharui batanya.


dilarang naik Candi Brahu
Larangan untuk tidak menaiki candi dipatuhi oleh para pengunjung Candi Brahu, sehingga tak banyak lagi kerusakan vandalisme yang dialami candi ini pada masa ini.
Namun persoalan pelestarian bangunan candi sebagai peninggalan bersejarah yang lekang dimakan waktu, masih tetap jadi kekhawatiran utama.

Pemerintah Indonesia juga berusaha memugar Candi Brahu dengan melapisi struktur candi menggunakan perawatan kimiawi, supaya dinding candi tidak terus melembab. Beberapa bata juga diganti, terutama karena sudah terlalu tua dan rapuh. Sekeliling dinding candi juga disemprotkan herbisida untuk mencegah lumut dan ganggang yang menghinggapinya.

Begitu pun dengan tamannya, candi Brahu juga dikelilingi taman yang luas dan rindang. Ketika saya datang, petugas kebersihan tengah menyapu dedaunan di taman untuk memastikan pemandangan di sekitaran candi tetap asri. Saya berjalan mengitari Candi Brahu (yang juga tidak boleh dinaiki tersebut), lalu menemukan bahwa bata di sisi yang satu cenderung lebih banyak yang lapuk ketimbang sisi satunya. Nampaknya sinar matahari yang kuat telah cenderung menggerus kemulusan batu bata di candi ini.


petugas kebersihan di Candi Brahu
Ketika saya datang ke Candi Brahu, petugas kebersihan tengah menyapu dedaunan di taman untuk memastikan pemandangan di sekitaran candi tetap asri.

Sebetulnya saya merasa candi ini agak terpencil, sehingga mestinya rawan jadi tempat angker. Tapi saya melihatnya tidak demikian. Rakyat lokal merawatnya dengan menerbitkan karcis parkir di depan taman candi, sehingga tempat sepi itu tak berpotensi menjadi tempat kejahatan. Beberapa pedagang makanan gerobak nongkrong di depan taman candi, membuat taman itu serasa jadi taman kota saja.

Buang Sendok ke Kolam Segaran

Kolam Segaran, sekitar 1 km dari Gapura Bajang Ratu, adalah kolam yang besar sekali. Saya sempat menyangka itu telaga lokal bikinan papan Pemda setempat, kalau saja saya tidak melihat tanda larangan khas Cagar Budaya di situ. Ternyata kolam ini sudah tua sekali, raja Majapahit membangunnya sebagai waduk untuk membendung banjir. Waduk ini dalamnya sekitar 3 meteran, dan luasnya hampir seluas sebuah desa.

Konon, raja Majapahit senang menjamu tamu-tamunya di pinggir kolam itu. Begitu jamuan selesai, tamunya diajak untuk melempar piring, gelas, sendok, dan alat-alat makan lainnya ke pinggir kolam, Padahal, alat-alat makan itu terbuat dari emas, perak, dan beragam logam mahal lainnya. Begitulah cara raja Majapahit untuk mencitrakan dirinya kaya..

peninggalan kerajaan Majapahit Kolam Segaran
Anak saya berjalan di tepi Kolam Segaran, peninggalan kerajaan Majapahit yang lain. Saat ini sedang musim kemarau, sehingga air di dasar kolam pun sedang surut-surutnya. Dasar kolam ditumbuhi lumut dan ganggang beraneka warna.

Ketika kolam ini mulai dipugar oleh Pemerintah, di dasar kolam banyak sekali ditemukan alat-alat makan yang disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit tadi. Alat-alat ini dikumpulkan satu per satu, lalu kini diekshibisi di Museum Trowulan.

Saya datang di musim kemarau ini, tidak menemukan piring emas apapun di Kolam Segaran. Sejauh mata memandang, cuma tumbuhan lumut saja di dasar kolam luas itu. Sekeliling waduk hanya pagar, tanpa trotoar. Cuma ada satu unit tukang bakso gerobak sedang mangkal. Memang itu jalan kecil, tak diharapkan ada orang berjalan di pinggirnya secara sambil lalu.


peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan Kolam Segaran
Kedalaman Kolam Segaran mungkin sekitar 2-3 meter.

Benarkah Museum Trowulan Angker?

Museum Trowulan, yang hanya selemparan batu dari Kolam Segaran, menyimpan Benda Cagar Budaya peninggalan Majapahit, seperti arca dan prasasti. 


Museum Trowulan
Saya berdiri di depan pintu masuk Museum Trowulan yang menyimpan berbagai benda cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit.

Gedungnya layak diremajakan, dengan dua staf yang duduk berjaga di resepsionis, berusaha keras nampak sibuk, dan sangat irit senyum. Saya meminta guide, namun mereka belum nampak bersedia. Akhirnya saya pun memasuki ruang-ruangan pameran sendirian.

Bagian dalam gedung dipakai untuk koleksi benda-benda dari logam dan tanah liat. Alat-alat yang biasa digunakan rakyat Majapahit ada di sini. Sebagian koleksi masih utuh, sebagian lagi sudah pecah. Mungkin pecahnya karena dilemparkan ke Kolam Segaran.

Di belakang gedung Museum terdapat teras berbentuk pendopo. Di pendopo inilah, arca dan prasasti peninggalan kerajaan Majapahit itu ditata. Sebagian diberi tanda keterangan namanya, sebagian lagi tidak diberi. Jumlahnya banyak sekali, sekilas saya merasa sedang berada di supermarket khusus jualan nisan. Dan semua nisannya ditulisi huruf Pallawa.

Saya tidak bisa memotret koleksi museumnya. Karena di museum itu memang tidak boleh memotret. Lagipula, pencahayaan di dalam museumnya memang tidak memungkinkan untuk menciptakan foto yang bagus. Rerata koleksi benda logam dan tembikar itu disimpan di dalam lemari, dan lemarinya minim lampu sorot. Padahal saya ingin sekali mengamati tiap detail koleksinya itu, apalagi figurin wajah manusia yang dibikin dari tanah liat itu.



Sulitkah Merawat Sisa Peninggalan Kerajaan Majapahit?


papan penunjuk peninggalan kerajaan Majapahit
Papan penunjuk yang menginformasikan macam-macam bangunan cagar budaya yang menjadi peninggalan kerajaan Majapahit.

Saya pikir, orang yang sengaja menelusuri Trowulan hanyalah orang yang memang sungguh-sungguh mencintai arkeologi. Tapi, mengundang pengunjung untuk mau berbondong-bondong, mengenang runtuhnya kerajaan Majapahit, pasti butuh ekstra kerja keras.

Saya memang belum melihat Candi Gentong dan Gapura Wringin Lawang, tapi saya sudah menyukai ketiga candi di atas. Memang kendalanya, orang kalau mau kemari harus punya kendaraan sendiri dan meluangkan waktu luang lebih banyak dalam sehari.

Saya membayangkan seandainya rakyat mau berinvestasi dengan menciptakan biro travel yang menyewakan kendaraan shuttle untuk berkeliling Kawasan Cagar Budaya Trowulan. Tentu akan jadi kegiatan pariwisata yang bernilai sangat ekonomis. Apalagi kalau ada travel agent yang mau jemput tamu dari bandara Juanda atau Stasiun Gubeng untuk membuatkan Trip Sehari Trowulan, mengapa tidak?

Museumnyalah yang saya rasa betul-betul butuh perbaikan. Baik interiornya, sampai edukasi pengunjungnya. Banyak pengunjung yang sudah datang ke museum dalam keadaan ingin tahu, tapi keluar dari museum tetap dalam keadaan tidak tahu lantaran tak ada guide.

Padahal saya rasa lebih baik mempekerjakan remaja-remaja lokal Trowulan untuk jadi guide keliling museum. Anak-anak milenial itu pasti berminat kerja sukarela kalau demi menambah-nambah portofolionya.

Memang merawat cagar budaya itu butuh arkeolog profesional dan investasi besar supaya tak sampai punah  Saya percaya bahwa dengan promosi besar Wonderful Indonesia kini, pasti ada segelintir turis yang mau berkunjung menikmati Kawasan Cagar Budaya Trowulan. Saat orang mau berkunjung, di sana akan terjadi apresiasi terhadap cagar budaya (mengamati, mengagumi, memuji). Dari apresiasi itu tercipta keinginan untuk ikut merawat cagar budaya. Tapi di sisi sebaliknya, memang para pengelola cagar-cagar budaya ini perlu belajar lebih banyak untuk menyajikan cagar budayanya secara menarik, minimal dengan bersedia menyajikan komunikasi yang edukatif kepada pengunjung.

Apakah kamu punya ide lain untuk melestarikan peninggalan kerajaan Majapahit atau cagar-cagar budaya lainnya di Indonesia? Ayo tuliskan idemu dalam blogmu, dan ikut sertakan artikelmu pada Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah. Jangan sampai ketinggalan lombanya ya 🙂


Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

96 comments

  1. Dzikrul says:

    Banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan majapahit di Indonesia, dan bagaimana kita sekarang merawatnya sebagai cagar budaya Indonesia.

  2. demia says:

    ini bangunan peninggalan masa kerajaan majapahit tapi bangunanya masih terawat dengan baik ya kalo diliat dari jauh gini, masih bagus heheh, paling seneng aktu tu dateng ke bangunan bersejarah kaya gini <3

  3. Eddy Fahmi says:

    Trowulan ini sebenernya situs wisata yg bagus banget. Lokasinya nggak jauh dari surabaya, tiket masuknya murah, nggak rame. Jadi bisa sekalian ngajar sejarah ke anak anak.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bener. Dengan kedekatan geografisnya terhadap Surabaya dan bandara Juanda, sayang banget kalau Kawasan Cagar Budaya Trowulan yang penuh peninggalan kerajaan Majapahit ini nggak dioptimalisasi jadi potensi wisata.

      1. Impian banget ini berkunjung ke Trowulan dan sekitarnya
        Banyak candi-candi dan situs peninggalan kerajaan Majapahit

        Semoga tetap terjaga dan terawat
        Untuk warisan anak cucu kita di masa depan

        1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

          Ke Trowulan ini gampang banget, Mbak Arni. Cukup meluangkan waktu sekitar 4 jam di kawasan ini, sudah bisa mengeksplorasi candi-candi peninggalan Majapahit yang bagus-bagus ini. 🙂

  4. diane says:

    wahh candinya kece2 mbak.. bersih terawat.. sukaak banget. Tapi aku belum. pernah mampir ke berbagai candi ini.. Cuma pernah yang di Malang aja. Btw.. selamat yaa juara kompetisi ini..

  5. Akarui Cha says:

    Senang sekali bisa mampir ke tukisan Mba Vicky ini.

    Banyak hal tentang sejarah Majapahit yang ingat nggak ingat, dulu diajarkan di sekolah, tapi nggak sebanyak yang kemudian saya baca di sini.

    Pada akhirnya, buat saya, Majapahit benar-benar kerajaan yang membuat Nusantara dikenal dan disegani pada masa lalu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Majapahit ini sebetulnya bukan kerajaan kaleng-kaleng 🙂 Kita pernah jadi bangsa yang cukup besar dan cukup toleran terhadap agama-agama yang berbeda, itu yang pingin saya highlight dalam tulisan ini 🙂

  6. Dinilint says:

    Mbak, makasih udah nulis artikel ini.
    Aku udah lama penasaran dengan Mojokerto, pengen menjelajah sambil dengerin tiap cerita masa lalu dari tiap situs.
    Lewat artikel ini aku jadi ikutan jalan-jalan ke Mojokerto. Aku mulai ada bayangan lebih jelas mau ke mana aja kalo ke Mojokerto, dan cerita apa yang bisa aku dengar dari sana.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sama-sama. 🙂 Mojokerto itu kota yang tidak terlalu besar, Trowulan-nya sendiri bisa dikelilingi dengan lengkap hanya dalam 4-8 jam 🙂

  7. Ini toh tulisan yang mendapat gelar juara itu. Pantas menang, isinya bagussss.

    Saya suka setiap gambar diberikan keterangan yang tidak pelit. Saya senang ada kritikan di dalamnya. Dan yang penting, tidak ada definisi cagar budaya, karena pembaca yang cerdas akan mencari tahu definisi itu sendiri.

    Dari membaca ini, saya meniatkan untuk berkunjung ke Trowulan. 2 hari pun saya siap, dengan catatan memang ada guide-nya di sana. Bayar guide-nya pun nggak masalah kok 🙂

    Makasih ya, Mbak atas ceritanya yang bagus banget.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Terima kasih, Bang Darius.
      Tulisan ini panjang sekali. Kalau saya nggak kasih caption banyak di tiap foto, bisa-bisa tulisan ini jadi lebih panjang lagi. 😀

      Memang saya nggak kasih definisi cagar budaya. Pembaca blog ini kebanyakan peminat pariwisata, pasti mereka udah tahu sendiri cagar budaya itu apa.

      Kalau mau ke Trowulan, sebetulnya 4 jam aja sudah cukup. Kalau ambisius ya 8 jam. Yang jelas, bawa kendaraan sendiri. Soalnya nggak ada guide-nya :))

  8. Mbak Vicky, tulisannya bernas. Penuh masukan dan saran yang berarti. Semoga dibaca oleh pemerintah yang khususnya badan/dinas/biro yang menaungi cagar budaya Indonesia sehingga masukannya dapat diaplikasikan di Kompleks Candi Trowulan dan museumnya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Terima kasih 🙂 Saya sangat suka tempat-tempat bersejarah. Saya udah dua kali ke Cagar Budaya Trowulan ini, dan kepingin tempat ini meninggalkan kesan lebih edukatif buat para pengunjungnya. 🙂

  9. Luar biasa ya bila membayangkan kejayaan Kerajaan Majapahit di masa lalu. Namanya tersohor ke berbagai bangsa. Aku jadi penasaran kenapa kerajaan ini pecah.

    Wah, sang raja rupanya pongah juga ya sampe buang-buang peralatan makan dari emas kayak gitu. Padahal kan bisa disumbangkan ke rakyat kalo udah nggak mau pake lagi.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Perpecahan kerajaan ini sebetulnya diawali dari pertengkaran dua anak Raja Hayam Wuruk, setelah Hayam Wuruk meninggal. Anak pertama adalah perempuan (namanya Kusumawardhani), diberi tahta memimpin kerajaan. Tapi karena dia perempuan, dia menyerahkan tahta itu kepada suaminya (namanya Wikramawardhana).

      Anak kedua, kebetulan tidak terima, jadi ingin memimpin kerajaan juga. Karena anak kedua ini seorang laki-laki (namanya Wirabhumi).

      Lalu, supaya tidak berantem, Majapahit dipecah menjadi dua ibukota. Ibukota pertama tetap di Trowulan, diberikan kepada (suami) anak pertama. Ibukota kedua berada di Daha (sekarang Kediri, jawa Timur), diberikan kepada anak kedua. Daerah-daerah yang menjadi bawahan Majapahit ini tidak puas karena pemerintahannya tidak sesukses pemerintahan Hayam Wuruk, sehingga mereka memberontak. Karena terlalu banyak daerah yang memberontak, lama-lama Majapahit jadi tidak kuat deh.

      Penasaran nggak, kenapa bukan anak kedua aja yang jadi raja di Trowulan, supaya gak usah bagi-bagi kekuasaan dengan anak pertama segala? Soalnya, anak kedua Hayam Wuruk yang laki-laki itu cuma lahir dari selirnya Hayam Wuruk. Sedangkan anak pertama yang perempuan itu, lahir dari istri Hayam Wuruk yang pertama, yang dianggap permaisuri. Jadi, yang dianggap pewaris tahta sah cuma anak perempuan itu 🙂

  10. Muh Rohmadi says:

    Karena di Jogja banyak candi, sering juga berkunjung ke candi seperti candi sambisari dan candi ijo. Selain menikmati pemandangan candi bisa juga buat menikmati sunset

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Well, gak selalu. Jika candinya kebetulan dapet yang nggak terawat, sekitarnya selalu nampak gersang. Makanya Gapura Bajang Ratu ini keren sekali karena dukungan rakyat Trowulan-nya 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mestinya disediakan guide sih memang. Kebetulan saya datang pas waktunya weekday, jadi saya nggak dapat guide. Tapi pernah juga saya datang pas weekend, nggak ada guide juga 🙂

  11. Isma Maulida says:

    Membaca postingan mba Vicky ini adalah belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan, banyak foto-foto candi yang ciamik membuat saya juga ingin kesana. Coba belajar sejarah di sekolah dulu bisa lebih banyak tampilan visualnya jadi rapot saya gak ada yang merah karena sering ketiduran waktu gueu cerita hahaha *bongkar aib 😀

    mudah-mudahan perawatan candi-candi yang ada di Indonesia semakin diperhatikan dan juga semua pengunjung dan wisatawan bisa menjaga kelestariannya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Lhoo..dulu buku-buku pelajaran sejarah saya juga banyak tampilan visualnya. Tetapi ya itu.. sepertinya buku sejarahnya masih perlu direvisi dengan bantuan fotografer yang bisa memotret dengan visualisasi yang baik 🙂

  12. hani says:

    Aku kalau wisata sejarah suka merhatiin satu-satu lalu mengingat di tempat lain ada yg serupa ga? Konon sih, warga Majapahit ada yang kabur ke Bali karena masuknya Islam. Diinget-inget, pure di Bali mirip candi-candi di Trowulan ya. Semoga sih, Trowulan tetap terjaga pelestariannya…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kurasa penampakan candi-candi di Bali memang mirip Candi Bajang Ratu atau Candi Tikus karena sama-sama punya unsur memuja mahameru yang sama-sama berasal dari aliran Hindu. Tapi jelas nggak mirip Candi Brahu karena Candi Brahu itu aliran Buddha.

      Sebetulnya rakyat Bali yang berasal dari Kerajaan Majapahit itu bukan kabur karena masuknya Islam sih. Awalnya begini, perebutan kekuasaan pasca meninggalnya Hayam Wuruk bikin Majapahit itu pecah menjadi dua kerajaan. Yang satu masih beribukota di Trowulan, sedangkan yang satunya lagi beribukota di Daha (sekarang Kediri, Jawa Timur).

      Baik Trowulan maupun Daha lama-lama turun pamor, apalagi karena ada kerajaan baru yang lebih kuat dan kebetulan beragama Islam, yaitu kerajaan Demak. Kemudian, Demak mengakuisisi Majapahit sebagai wilayah bawahannya. (Raja Demak ketika itu adalah Sultan Trenggono).

      Rakyat Majapahit di Daha itu tidak berkenan dengan cara memerintahnya Sultan Trenggono, sehingga mereka pindah ke Bali yang gaya hidupnya lebih sesuai dengan mereka, karena kekuasaan Demak itu tidak sampai mencakup Bali. Jadi, orang Majapahit itu pindah ke Bali bukan karena masuknya Islam sih, tapi memang karena berbeda pandangan politik dengan penguasa kerajaan Demak saja.

  13. Turis Cantik says:

    wisata candi memang menyenangkan ya mbak. Modalnya topi lebar dan kacamata hitam aja hehehe. Aku kebetulan suka wisata sejarah jadi candi selalu jadi spot wisata incaran.

  14. Syaiful BS says:

    Wah aku juga suka banget kak mengunjungi candi-candi. Soalnya di Yogyakarta dan sekitarnya ada banyak banget candi-candi jadi sering deh main. Btw, setuju banget kak kita emang harus menjaga dan merawat cagar budaya yang kita miliki yah 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Enak banget tinggal di Jogja ya. Aku tau tuh ada blogger Jogja yang namanya Mawi Wijna, dia demen banget mblusuk ke candi-candi di Jogja 🙂

  15. Dyah says:

    Wah, baca bagian awal dari artikel ini, saya jadi keinget buku Arus Balik karangan Pramoedya. Kejayaan jaman dulu dikenang, tapi penyebab kehancurannya harus dipelajari supaya tidak terulang lagi. Btw, saya sudah beberapa kali wisata ke Trowulan. Ini salah satu tempat wisata yang saya suka.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Yap, kehancuran itu dimulai gegara anak-anak Hayam Wuruk berebut warisan tahta. Masing-masing merasa ingin jadi raja, tidak adil dinomorduakan hanya karena ibunya adalah selir. Makanya kalau mau anak-anak rukun, ayah jangan beristri dua.

  16. Fanny F Nila says:

    satu yg aku sedih dari museum di Indonesia itu, karena selalu sepi :(. Padahal buatku, museum seharusnya jadi tempat paling asyik untuk belajar sejarah, daripada dengerin guru sejarah yang cara jelasinnya hanya berpatokan dari buku, susah dihapal pula.. Melihat langsung dari museum, pasti lbh mudah dimengerti. sayangnya museum di banyak tempat di Indonesia memang ga keurus, boro2 mau interaktif :(. guidenya aja jg sering g ada. Bener katamu Vic, masuk ke dalam kita ga tau apa2, kluar tetep aja ga tau.

    aku suka menekuni sejarah. apalagi yg berkaitan dengan cerita kelam dulunya. Tapi yg berkaitan dengan kerajaan2 hebatal zaman dulu seperti sriwijaya, majapahit dll juga suka sih. Tapi ya ituuu, ga banyak museum yg bisa menjelaskan ttg itu secara detil, ato menjelaskan dengan cara asik. Ga bermaksud membandingkan, tapi di negara2 cth aja Jepang, museumnya selalu rameee dikunjungi anak sekolah, turis, ato warga lokal. Kenapa? karena museum di sana kesannya ga spooky, modern, interaktif bangettt, ada video, ada penjelasan dengan berbagai macam bahasa memakai headset, ada ruangan simulasi bahkan. jadi pendatangpun ga ngerasa bosen, dan malah jd lbh ngerti kluar dari sana. berharaaaaap banget museum di Indonesia bisa seperti itu 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang para petugas pengelola museum perlu belajar untuk lebih komunikatif terhadap pengunjung. Sebab pengunjung itu datang bukan sekedar untuk berwisata, tetapi ya karena ingin tahu (ingin belajar).

      Makanya, kubilang juga di atas bahwa kalau memang kekurangan Sumber Daya Manusia, bisa banget menggantinya dengan merekrut sukarelawan dari kalangan pelajar atau mahasiswa.

      Beberapa museum yang kusukai itu adalah Museum Bank Indonesia. Penataannya memang interaktif sekali, sehingga bikin betah. Ada lagi Lawang Sewu, yang interiornya nggak sekeren Museum Bank Indonesia, tapi ya ada guidenya, jadi ya tetap membetahkan juga. Ya mosok untuk bikin museum jadi keren begitu nunggu banyak biaya dulu? Mbok dimulai dari investasi paling dasar dulu, yaitu investasi tenaga kerja, alias guide museum. Supaya museumnya nggak angker, nggak sepi.

      1. Mechta says:

        Sudah lama mendengar keelokan Trowulan sebagai situs cagar budaya, namun blm.sempat mengunjunginya hingga kini, aku berayukur sekali bisa mengenalnya melalui post mba Vicky ini. Setuju sekali bahwa perawatan cagar budaya masih menjadi PR bagi Bangsa kita. Sayang sekali ya..

        1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

          Yaah.. kita perlu belajar bahwa mungkin bangsa kita masih punya prioritas lain selain merawat cagar budaya, padahal mestinya pelestarian cagar budaya itu bisa diintegrasikan dengan aktivitas sehari-hari.

  17. Aku suka sekali foto-foto candi ini
    Terang dan bener-bener menampilkan keindahan candinya
    Warna candi yang kontras dengan langit itu lho bikin cakep
    Semoga tetap terjaga kelestariannya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya itulah akibatnya kalau candi sebagai cagar budaya itu nggak dirawat karena ditinggalkan. Bisa-bisa jadi mangkrak dan berubah fungsi jadi sarang tikus.

  18. majapahit ini walo adanya di abad-abad yang lampau, tapi teknologinya masih relevan kalo diterapkan di zaman sekarang. salah satunya sistem pengairan. bener gak sih, mba vicky?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Yap, betul. Kolam-kolam yang saya ceritain di atas itu yang jadi pertanda bahwa mereka sudah bikin sistem pengairan. Pertama-tama mereka bikin dulu waduk untuk membendung banjir (sekarang jadi Kolam Segaran). Lalu mereka bikin kolam mandi (sekarang jadi Petirtaan Candi Tikus) untuk penanda musim hujan. Di dinding kolam Petirtaan itu sebetulnya ada lobang-lobang yang kalau ditelusurin bakal mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. Cerdik yaa.. 🙂

  19. Dan aku baru tahu ada candi ini sebagai peninggalan dari kerajaan majapahit. KAlo gak mampir kesini kayaknya gak akan tahu deh. Trims ya mbak ulasannya….
    Aku belum bisa berkunjung ke situs-situs cagar budaya lagi nih karena lagi hamil gede. hiks

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Majapahit sudah bubar, dan cuma meninggalkan arca, makam, candi, dan kolam. Lain-lainnya hanya dalam bentuk tulisan di naskah kuno yang nampaknya sekarang disimpan di Museum di Jakarta dan di Eropa.

  20. Brillie says:

    Tulisan ini layak menjadi pemenang lomba. Sangat detil dan informatif.

    Oh ya, mbak riset tentang candi2 ini dan nulis ini sebelum berkunjung atau sesudahnya?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Riset dulu sebelum berkunjung, supaya ngerti apa yang mau dicari. Karena tujuannya seperti kubilang di atas adalah buat mempelajari konservasi, jadi aku riset dulu sebelumnya candi ini sudah dikonservasi dengan cara apa aja oleh Pemerintah. Jadi pas tiba di candinya, tinggal mencocokkan dengan data yang aku baca dan motret kelemahan-kelemahan candinya aja 🙂

  21. Mei says:

    candinya cakep banget Mba Vika, jadi pengen ke sana, dan lihat poto adeknya dong sendirian di depan taman bunganya kayak berasa lagi di luar negeri. btw kayaknya hampir semua candi itu emang berkesan angker ya Mba

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Semua candi pasti berkesan angker. Sebab kalo nggak angker, itu namanya bukan candi, tapi taman ria.. :))

      Oh ya.. nama saya bukan Vika.. 😀

  22. Wahhh aku kemarin baru nonton youtube dari Kisah Tanah Jawa yang bikin konten di sini Mba. Eh mba Vicky ngulas juga jadi makin ngerti dan makin pengen berkunjung ke sana. Yang seru kalo ada tamu dari negara lain peralatan emasnya dibuangin ya dan ternyata buat menegaskan kalo Indonesia ini kaya raya. Makasih mba ulasannya komplit banget suka membacanya.

  23. Hastira says:

    wah aku paling suka lihat candi, selalu kagum dg yang buatnya dan gambaran di dinding dan selalu ada filosofinya

  24. Baca blog mba Vicky ini aku jadi nambah pengetahuan baru deh. Aku baru tahu ternyata akuisis Majapahit bisa sampai Mindanao lho, kayaknya dulu pas belajar sejarah ga disebut deh ini, atau aku yg udah pikun

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Lho, sampai Mindanao, Mel. Malah sampai Kamboja segala akuisisinya. Dan cara mengakuisisinya itu dengan cara menikahi putri raja Kamboja sana..

  25. Laksmi says:

    Saya sangat menikmati betul alur dari cerita yang yang disampaikan pada tulisan mba Vicky.. bagaimana sejarah penamaan candi tikus lalu adanya sebuah alat ukur pergantian musim pada masanya dengan kolam. Oleh karena itu sejarah memang harus kita jaga ya

  26. ariefpokto says:

    Jadi kebayang Masa kejayaan majapahit yang kekuasaanya sampai ke Filipina. Kuat banget berarti kerajaan ini. Bagus tuh idenya memperkerjakan anak-anak Lokal buat jadi guide. Semoga ada yg bisa memberikan pelatihan

    1. Grandys says:

      Waaa bagus banget candi nya dan memang bagusnya tidak untuk dinaiki untuk melestarikan cagar budaya ini eksis hingga anak cucu kita nanti.
      Jadi mau main-main k Trowulan ini deh mba Vicky apalagi sungainya ini penasaran sama warna warni ganggangnya

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Anu, kekuasaannya yang terbukti sih sampai Mindanao. (Tapi memang Mindanao sekarang jadi wilayah Filipina sih :))

      Pelatihan guide sebetulnya memungkinkan sekali. Di sini ada balai pelestarian cagar budaya, yang bisa memberi informasi bagi calon guide.
      Pelatihan hospitality intensif juga bisa diberikan oleh sekolah pariwisata, dan mestinya nggak perlu butuh waktu lama. Kalau di Jakarta aja bisa bikin travel guide kreatif bernama Jakarta Good Guide, mestinya Trowulan sih bisa.

  27. aku kalau ke candi suka ngebayangi mbak kalau gimana kehidupan pada masa itu, kan candi itu ada yang luas banget ada yang sedang seperti Trowulan ini. Jadi keinget candi yang pernah aku datangi pas di Jogja, safari candi hehe..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, keliling candi di Trowulan ini sebetulnya gampang banget. Candinya kecil-kecil, tapi memang terpencar-pencar dalam radius 3-4 km. 🙂

  28. Ani says:

    Wuaa aku baru tahu ternyata sampe dilempar-lempar sendok piringnya ke kolam sama rajanya, menarik banget mbak tulisannya smoga kedepan peninggalan ini ttp bakal terurus

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, menurut kitab sastranya begitu, rajanya suka lempar-lempar sendok piring ke kolam. Ketika Pemerintah eksplor kolamnya, banyak sendok dan alat makan peninggalan kerajaan Majapahit lainnya yang ditemukan, hihihii..

    1. Wah jadi ikut belajar sejarah ini saya… soalnya saya termasuk jarang mengunjungi peninggalan sejarah, paling 1-2x ya itupun sdh lama hehehe…trims infonya mbak..lengkap sekali

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kaya lho, Res. Dan rakyatnya nurut semua ke rajanya karena rajanya memerintah dengan sistematis, kalo dilihat dari caranya ngatur waduk dan kolam buat mencegah banjir itu.

  29. Rach Alida says:

    Asyik tulisannya lengkap banget. Jadi tercerahkan sekali informasi soal adanya kerajaan majapahit ini. Smoga berkesempatan datang langsung dan juga moga tetap bagus

      1. Afifah Haq says:

        Candi-candi yang semasa SD hanya bisa aku lihat dari buku pelajaran sejarah saja. Trus baca tulisan Mbak nya yang super lengkap bahas sejarah candi ini. Kebayang dulu kerajaan Majapahit se-kaya apa. Jadi makin sayang dan ga tega untuk merusak bangunan warisan budaya Indonesia ini.

        1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

          Engga, ini nggak lengkap-lengkap amat. 😀 Hanya sedikit pendapatku tentang candi-candi ini aja. 🙂 Candi-candi ini tidak seterkenal candi Prambanan dan Borobudur, padahal Majapahit itu lebih kaya daripada kerajaan yang membangun Prambanan dan Borobudur 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *