Manajemen Keuangan untuk Mengurangi Risiko

Orang nggak mau jadi pengusaha rerata lantaran takut merugi. Dan nyatanya memang bener, sebagian besar pengusaha pasti mengalami kerugian hingga akhirnya terpaksa tutup usahanya. Belakangan, baru ketahuan bahwa ternyata pengusaha-pengusaha ini sampai gulung tikar, lantaran manajemen keuangan mereka sendiri juga berantakan.

Pagi tadi, saya nonton suatu talk show tentang bisnis yang diadain oleh Home Credit Indonesia di Surabaya. Temanya cukup menggoda: CEO in the Making, Turn Your Hobby into Business. Penyelenggaranya sendiri adalah Home Credit, suatu lembaga pembiayaan yang bermarkas di Jakarta.

Pembicaranya sendiri ada dua orang. Yang satu adalah Dipa Nurprasetyo (@dipaaa), produser manajemen artis asal Jakarta. Satunya lagi adalah Erin Harsono (@christieerin), saudagar bazaar gaul asal Surabaya.

Banyak banget yang datang ke talk show ini tadi, mungkin sekitar 150 orang, belum termasuk saya sendiri dan teman-teman dari Indonesian Female Bloggers. Boncafe itu sampai hampir-hampir nggak muat menampung mereka. Kebanyakan yang dateng itu berumur di bawah 30 tahun, antara masih kuliah atau baru jadi fresh graduate doang. Usia segini ini, pada masa kini, adalah generasi yang lagi galau-galaunya antara mau jadi pegawai di perusahaan orang atau mau bikin bisnis sendiri.

Buat saya pribadi, baik perusahaannya Dipa maupun perusahaannya Erin sama menariknya. 

Hahaha Corp

Inilah perusahaan yang digawangin Dipa, yang lini bisnisnya adalah mengurusi manajemen artis. Bukan sembarang artis, tapi perusahaan ini cuman ngurusin artis komika. Makanya nggak heran kan kalo namanya aja Hahaha. Sudah dari jaman dahulu, semenjak stand up comedy booming di Indonesia, saya selalu tertarik dengan PT satu ini. Objektif dari servis mereka ini jelas: bikin orang ketawa.


Basha Market

Ini kalian orang Surabaya pasti sudah hapal semua. Basha Market adalah bazaar gaul di mall, yang ciri khasnya adalah produk-produk tenants-nya unik-unik. Tapi yang lebih seru, sambil membuat bazaar, juga selalu ada workshops buat para wiraswasta yang notabenenya juga masih generasi usia 20-an tahun ini. Jadi konsumen yang dateng itu nggak cuman dapet belanja doang, tapi juga bisa dapet banyak ilmu.

Risiko Keuangan Itu Pasti Ada

Baik Dipa maupun Erin tadi sama-sama cerita tentang keputusan mereka membangun usaha mereka ini. Dua-duanya ternyata sama-sama eks pekerja kantoran, yang kemudian merasa bisa lebih bahagia kalau punya usaha sendiri. Dengan berbekal modal pribadi, Dipa dan Erin sama-sama bikin perusahaan servis yang kemudian berusaha nyari pendapatan dengan mendulang penonton banyak.

Mendirikan usaha yang berlandaskan minat kesukaan tentu ada risikonya, kan? Dan salah satu risiko yang juga ditanggung orang-orang ini adalah risiko keuangan.

Erin sempat cerita, pertama-tama membuat Basha Market itu, sebetulnya dia merugi. Biaya operasionalnya ternyata banyak, bahkan melebihi pemasukan yang diperoleh dari tiket masuk. Salah satu biaya operasional yang kudu ditanggung Basha Market itu, antara lain biaya logistik yang dikeluarkan Basha demi mengirim stok produk dari para tenants (tenants itu ternyata nggak bisa membopong produk mereka sendiri ke lokasi Basha jika nggak ada transportasi). Namun biarpun begitu, Erin tetap ngerjain bazaar Basha Market lagi hingga ber-chapter-chapter kemudian. Sehingga, sekarang Basha Market dikenal di seluruh pedagang kreatif Indonesia, dan banyak banget UKM yang ingin ekshibisi di Basha Market.

Dipa lain lagi ceritanya. Kerjaan Hahaha Corp yang dia gawangin, adalah bikin pertunjukan stand up comedy. Awalnya, belom jadi budaya Indonesia buat nontonin pertunjukan orang monolog sambil ngelucu. Show pertama yang diadakan Hahaha Corp malah cuma ditonton 150 orang, omzet tiketnya masih kalah dibanding dana operasional yang kudu Hahaha Corp keluarin. Tapi kemudian mereka terus-menerus memasarkan stand up comedy, memperbaiki kualitas performa komikanya, hingga brand perusahaan mereka makin eksis sekarang.  Hahaha Corp kini nggak cuma ngadain show, tapi juga sampai memproduksi film segala.

Beberapa komika kelolaan mereka yang saya sukai adalah Arie Kriting, Gw Pamungkas, Acho Mukhadly, tapi favorit saya sih tetep aja co-partner-nya Dipa sendiri, siapa lagi kalo bukan Ernest Prakasa 😀

Soal urusan rugi-merugi ini sempat disinggung panjang di acara talk show itu. Rugi itu ya gagal, tapi kok Dipa dan Erin tetep melaju aja dengan start-ups mereka yang masih bayi itu? 

Terus Dipa jawab, semenjak awal dia mendirikan Hahaha Corp, dia udah bisa memperkirakan mau kuat merugi berapa. 

Maksudnya gini lho, sebetulnya Dipa sudah punya cetak biru tentang perusahaan yang mau dia buat. Dia tahu dia mau jualan servis apa (show komedi). Dia tahu dia ingin menyasar konsumen yang mana (penonton yang pengen ketawa).  Dia sudah nyiapin rencana B yang jadi alternatif kalau-kalau rencana A-nya gagal. Sehingga, rugi yang dia alamin pun adalah risiko keuangan yang masih bisa dia tanggung.

Manajemen Keuangan dengan Mengantisipasi Risiko Keuangan

Kok bisa ya Dipa bikin rencana alternatif gitu untuk jaga-jaga risiko keuangan perusahaannya? Ternyata, semenjak menyusun usahanya itu, Dipa sudah praktekin manajemen keuangan sendiri dengan nyatet semua hal yang dia kerjakan. Berapa biaya yang dia butuhkan untuk membangun perusahaan manajemen komika itu. Dia mau jual jasa artis-artisnya itu seberapa. Termasuk pengeluaran kecil-kecil yang dia keluarin sendiri itu berapa. Pengeluaran itu, dia juluki sebagai Latte Factor.

Jadi ternyata, untuk bisa manajemen keuangan usaha sendiri itu, ya kudu rajin mencatat. Kelakarnya Dipa yang membuat saya ketawa di bangku penonton, “Banyak banget ya waktu luang saya..” :))

Intermezzo di sini ah, saya jadi pingin refleksi dulu gegara urusan catat-mencatat ini. Sering banget di antara saya dan pembaca blog saya ternyata udah punya usaha sendiri, biarpun kecil-kecilan. Padahal, rasanya ya, barang dagangan laku terus, klien juga ada terus. Tapi kalau ditanyai, usahanya udah untung atau belum, sebagian besar nggak bisa jawab.

Pengeluaran Kecil-kecil

Kata Dipa, kalo cuman nyatet pendapatan sih seneng. Tapi yang seringkali terlewat itu nyatet pengeluaran, terutama pengeluaran kecil-kecil. Coba diitung, berapa di antara kita yang suka nyatet pengeluaran buat parkir kendaraan hari ini? Pengeluaran buat beli kopi kekinian? Buat biaya admin lantaran transfer duit antar bank berbeda?

Ada persoalan yang jarang banget mau kita akuin, tapi sebetulnya persoalan ini masih ada terus. Dipa nyebutnya Latte Factor. Latte Factor ini, adalah pengeluaran kecil-kecil yang sebetulnya nggak perlu-perlu amat, tapi kalo diakumulasikan ya besarnya cukup gede juga.

Dipa kasih contoh. Ada orang yang kudu bayar parkir sehari sampai 4 kali karena memang kerjaannya kudu menclok-menclok di tempat-tempat berbeda. Orang ini nggak pernah nyatet pengeluaran buat parkirnya, karena ngerasanya parkir itu urusan kecil. Padahal itu sebetulnya Latte Factor. Coba kalo dia nggak perlu bayar parkir, tentu omzet penghasilannya nggak perlu disunat untuk pengeluaran yang dianggapnya sebagai “biaya operasional” toh?

Erin sempat kasih contoh juga.  Pegawai-pegawai kantornya, punya kebiasaan minum kopi. Sama Erin pun dibeliin mesin kopi supaya pegawainya bisa ngirit pengeluaran pribadinya. Tapi, ternyata tetep aja pegawainya njajan ngopi melalui kurir online. Soalnya, pegawainya ngerasa kurang trendy kalo nggak ngejar kopi yang lagi promo. Padahal, kalo pegawainya nggak sampai se-FOMO itu, pegawai ini nggak perlu kehilangan sebagian bonusnya hanya demi latte Factor yang merupakan kesenangan sesaat.

Saya jadi tersadar, barangkali memang ini masalah terbesar pada banyak pebisnis kecil kayak kita: “males nyatet pengeluaran”. Padahal kalo nggak dicatet, kita nggak akan ngerti arus uang kas usaha kita, nggak ngerti kemajuan/kerugian usaha kita, sehingga kita kesulitan mengevaluasi usaha kita. Pada akhirnya, kita nggak tahu apakah kita ini wiraswasta yang masih gagal atau jangan-jangan sebetulnya sudah berhasil.


Sebagai bloggerpreneur, saya juga banyak latte Factor lho. Contohnya nih, kalau saya lagi butuh tempat untuk konsentrasi buat nulis artikel, saya sering merasa teralihkan oleh anak saya yang masih demen aja teriak-teriak. Akibatnya saya pun lari ke The Localist, supaya dia sibuk main di sana sementara saya ngetik. Itu aja nggak bisa gratis karena saya kudu keluar duit buat minum di sana. Beli minum itu lho Latte Factor saya.

Kenapa Gaji Selalu Tidak Cukup?

Ada lagi yang sering jadi tanda ketidakbecusan para pengusaha pemula ketika mereka memperoleh penghasilan: “penghasilan mereka cepet habis”. Sifat gini mah kayaknya nggak cuma wirausaha doang deh, tetapi kebiasaan para pegawai juga.

Dipa, yang aslinya juga perencana keuangan mandiri, sempat kasih tahu gayanya dalam memperlakukan pendapatan. Bila dapet penghasilan, coba bagi-bagi jadi pos buat bayar hutang, pos buat investasi, pos pengeluaran rutin, dan pos buat pengeluaran pribadi.

Rumusnya, dari penghasilan yang didapet, sisihkan sebesar:

30% untuk bayar hutang, 15% untuk investasi, 45% untuk pengeluaran rutin, 10% untuk pengeluaran pribadi.

Kalau nggak ada hutang, gimana? Ya alhamdulillah dong, bisa disisihkan untuk bayar asuransi atau bikin dana darurat.

Jadi rumusnya:

30% untuk investasi, 10% untuk dana darurat/asuransi, 50% untuk pengeluaran rutin, 10% untuk pengeluaran pribadi.

P.S, saya juga punya gaya sendiri dalam alokasi pengeluaran pada manajemen keuangan pribadi saya. Gaya manajemen keuangan saya adalah rumus 1234. Prosentasenya beda, tapi ya mirip-mirip lah.

Saya sendiri pasang 20% dari pendapatan saya untuk masuk rekening investasi saham. Jadi, tiap kali blog saya dibayarin proyek endorsean, sebanyak 20% itu selalu masuk IndoPremier.

Kesalahan umum orang-orang itu ya, kalo dapet duit, diprioritaskan buat pengeluaran pribadi dulu, baru investasinya belakangan. Ya nggak tajir-tajir atuh laah..

Memperoleh Sumber Pendanaan Usaha

Dan tentu saja, tugas manajemen keuangan yang cukup penting bagi para pengusaha kecil ini adalah cari sumber pembiayaan buat usaha itu sendiri. Nah, udah hafal kan kalo seringkali wirausaha pemula itu sering kekurangan modal? Makanya banyak newbies ini cari pembiayaan dari orang-orang terdekat dulu, misalnya keluarga atau teman.

Erin, waktu membuat Basha Market, ternyata dapet modalnya dari joinan tabungannya sama tabungan teman mainnya sejak kecil. Ini bisa dicontoh sama kita lho, Teman-teman. Tapi kendalanya, kalau teman yang jadi sumber pembiayaan alias investornya, hubungan bisnis ini akan cukup mempertaruhkan hubungan silaturahmi ke dalam risiko. Kalau bisnisnya gagal, pertemanan itu ikutan cedera. Padahal hubungan bisnis kan harus profesional?

Soal ini, Erin ngaku, dia sengaja pilih temennya yang menjadi partner modalnya berupa teman yang bisa kasih masukan pada hal-hal yang dia nggak bisa. Di Basha Market, Erin ngurusin marketing, sementara temannya ngurusin hal teknis. Teman partner itu disetting supaya saling melengkapi, supaya usaha itu nggak pincang sebelah. Dengan begitu, mereka tetap saling respek biarpun punya isi kepala yang berbeda bagi bisnis itu.

Dipa sendiri, bikin Hahaha Corp cuman berdua dengan Ernest Prakasa. Modal ya dari mereka berdua doang. Padahal aslinya, Dipa sama Ernest belom pernah temenan. Tapi Dipa berusaha menarik kepercayaan rekannya ini, dengan sebelumnya sudah melakukan hal yang saya bilang tadi: mencatat perencanaan. Alhasil, ketika berhadapan dengan calon investornya, Dipa sudah bisa menyajikan perencanaan keuangan perusahaannya dengan rapi dan sistematis. Laporan keuangan yang rapi itulah, yang akan dipakainya untuk mengajukan proposal terhadap calon investor.


Sssst, ternyata nulis laporan nggak usah susah-susah amat. Pakai Excel pun jadi lho. Yang penting, begitu mau disajikan ke orang lain, orang itu bisa baca tulisannya.

Jalan lainnya, kalau nggak mau pinjem ke keluarga sendiri, ya ke perusahaan pembiayaan berbasis teknologi.

Cuman, kalau mau mengajukan proposal itu ya kudu serius membuktikan dokumen-dokumen pendukungnya. Antara lain ya, selain surat-surat standar macam NPWP dan Surat Ijin dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, juga kudu ada laporan keuangan. Termasuk kudu ada dokumen-dokumen yang menunjukkan bagaimana usaha itu berjalan, antara lain bon pengeluaran, surat kontrak, quotation, invoice, kwitansi, dan bukti potong pajak. Makanya, lagi-lagi, pencatatan keuangan itu penting.

Dan, pesennya Erin dan Dipa pun sama, sebisa mungkin rekening pribadi dan rekening usaha itu jangan dijadikan satu. Supaya bisa kelihatan jelas mana pengeluaran yang memang sungguh-sungguh untuk kepentingan usaha kita, dan mana pengeluaran yang sebetulnya adalah urusan pribadi CEO-nya doang. Duh, saya jadi pengen kelelep nih, soalnya fee dari klien yang menggunakan jasa blog saya masih ditransfer ke rekening pribadi saya sih. Kudunya saya bikin rekening sendiri atas nama vickyfahmi.com aja, gitu ya?

Sedikit Info tentang Panitia

Talk show ini diadakan oleh Home Credit Indonesia. Home Credit Indonesia ini suatu perusahaan yang memberi jasa pembiayaan multiguna. Perusahaan satu ini sudah berdiri semenjak 2017, dan merupakan anak perusahaan dari Home Credit BV asal Belanda. Dengan salah satu inti bisnisnya yang mendukung konsumsi domestik, Home Credit punya visi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Talk show tentang manajemen keuangan bagi calon-calon pebisnis ini bagus banget didengerin sama penonton-penonton yang kebanyakan memang masih muda-muda itu. Baik Dipa maupun Erin sama-sama kasih motivasi bahwa mengubah passion menjadi pekerjaan profesional itu memang mungkin-mungkin aja, selama kita masih berpegang pada perencanaan yang teliti. Dan nggak salah juga kalau berharap bahwa passion kita bisa membuat kita jadi kaya. Bukan sekedar banyak duitnya, tapi persis seperti yang dibilang Dipa Andika, “Menjadi kaya itu, artinya bersyukur dengan apa yang kita punya, dengan menjalankan apa yang kita senang lakukan.”

Gimana dengan kalian, Teman-teman? Apa kesulitan kalian dalam manajemen keuangan usaha kalian?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

48 comments

  1. Bunda Sugi says:

    Iya betul tantangan memulai bisnis adalah resiko keuangan. Banyak hal yang menjadi faktor penghambat terkumpulnya modal, salah satunya adalah latte factor yang membuat kita lalai mencatat pengeluaran, dimana kita sendiri tanpa disadari sering secara rutin mencomot uang bahkan kadang pada pengeluaran yang nggak terlalu penting. Akhirnya … modal nggak ngumpul2, hehe …

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Padahal kalau latte factor itu dicatat, risiko keuangan itu akan ketahuan, sehingga lebih mudah untuk bisa diminimalisir, ya kan, Mbak Sugi? 🙂

  2. Nunung says:

    Emang yah jadi pengusaha basicnya kudu punya mindset yg bener ama mental yg tangguh. Setelah bisnis dimulai baru manajemen keuangan dan sdm jg kudu kuat.

  3. Akarui Cha says:

    Ok. Pencatatan. GLEK.

    Padahal aku pakai aplikasi money mamager di smartphone, tapi emang sih ya … Latte Factor itu bikin “yaelah cuma 2.000” atau “umm cuma 10.000” tapi kalau dikalkulasi banyakan lumayan.

    Duh, mau latihan ngitung latte factor bikin agak deg degan nih. Jangan jangan lebih besar pasak daripada tiang nih nantinya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku kalau mau ngitung latte factor itu berasa kayak ngitung dosa-dosa kecil, yang kalo ditumpuk malah jadi dosa-dosa besar..

      Gini kok kepingin jadi pebisnis sukses, lha menahan napsu aja kok masih belom bisa..

  4. Ide yang bagus nih nyisihin 20% dari setiap gajian/invoice dari kerjaan ngeblog dan sosmed buat investasi. Kemarin ikut yang di Jakarta juga dan ternyata bahasannya agak beda yaaa. Kalau mau baca jangan lupa mampir ke blog akuuu mbak 😀

  5. Irma setiyani says:

    Keren bgt sih kak dipa ini bneran punya planning natang dan siap nanggung resiko trkait bisnisnya

  6. Grensy says:

    Yang bikin maju mundur keluar dari zona nyaman sebenarnya ketakutan resikonya itu mbak, tapi kalo takut yaa kapan mau majunya

  7. Intinya berani berbisnis harus berani merugi ya mbak ! Karna kadang yang aku lihat tuh gini . Mereka berani berbisnis tapi mereka sering lupa bahwa ada budget merugi yang harus mereka persiapkan . Gak bisa semerta merta minta dalam 3 bulan udah balik modal . Iya kan ?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Betul, merugi itu salah satu risiko keuangan yang harus dihadapi. Tapi kalau rugi itu kita ubah cara pandangnya menjadi investasi belajar, mestinya nggak perlu takut jika terjadi pada pebisnisnya.

  8. Itu dia kak, aku juga pernah dengerin kisah amblas pertemanan gegara mereka joinan bikin warkop terus warkopnya gulung tikar. Yang nongkrong cuma aktifis kampus yg doyan ngutang. Alhasil, pertemanan jd rusak dan kocar kacir. Untuk memulai bisnis emang butuh persiapan yg mateng biar nggak ada penyesalan di tengah jalan.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mungkin ya, kalau sejak awal sudah dibikin laporan keuangan pra-usahanya dengan betul, kemudian laporan keuangan tahunannya juga dicatat, kurasa manajemen warkopnya akan berjalan lebih baik. Kalau pun memang yang nongkrongnya hanya aktivis kampus yang doyan ngutang, mestinya bisa diminimalisir jika para founder warkop itu mau sama-sama bertindak tegas.

  9. Mindy says:

    Kayaknya emg ga ada org usaha yang ngga pernah rugi yah, yang penting tidak patah semangat dan belajar dari kesalahan – harus ada hasilnya meskipun merugi baik itu berupa jump start ataupun pelajaran berharga lainnya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bukan biaya rugi, lebih tepatnya risiko kerugiannya mesti diperhitungkan. Siap menanggung risiko sampai seberapa persen? Itu yang kudu dipikir..

  10. Ria Rochma says:

    Kemudian saya juga mikir, kayanya perlu buat rekening lagi khusus buat kerjaan blog. Wkwkwkw.. meskipun dapatnya belom banyak, kalau itu perlu buat amankan penghasilan, perlu juga kayanya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Dulu aku nggak pernah bikin lho, karena sekali proyek kan kecil-kecil. Tapi kalau sekarang kok rasanya jadi perlu bikin rekening khusus blog, biar kerasa penghasilan itu masuk berapa, keluarnya berapa..

  11. Masayu Firda says:

    aduhh apalah aku yang dikit dikit jajan promo, fix habis ini kudu jajan investasi ga jajan promo lagi biar ga nyesel dihari tua nanti

  12. Ochix says:

    latt factor dan boba selalu menggiurkan. Tau2 tanggal belasan udah abis aja gaji. Mrasa banyak dosa waktu pulang dr acara ini.

  13. Fika anaira says:

    Mau jadi pengusaha memang takut rugi karena punya modal dikit 😀 apalagi kalau modalnya hutang wkwkwkwk… Tapi dari event kemarin aku jadi terinspirasi mau bikin usaha yang sesuai dengan passion aku sama mau ngurangin jajan2 nggak penting biar nggak jadi latte factor

  14. Dwi Puspita says:

    Berarti aku sering melakukan latte factor, aku suka beli gorengan, cilok, dan suka jajan kopi. Hiks… Sudah lama berarti latte factor ini aku lakukan, sekarang sudah mulai sadar gara2 acara ini

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kurasa, prioritas utamanya adalah dari preparation yang matang dulu. Jika sudah matang, akan timbul keberanian untuk menghadapi risiko keuangan pada usahanya nanti. Tak akan ada nekat selama preparation-nya matang, karena nekat adalah berani tanpa persiapan. 🙂

  15. Girly says:

    Mba, aku suka banget rangkuman workshopnya kemarin. Materi yang diberikan juga sangat bermanfaat. Buat pelajaran juga kalau keuangan tuhsensitif dan nggak boleh sembarangan.

  16. Iyes…Nabung (atau invest) beneran penting dicuplik di awal dan dilupakan. Jangan diungkit lagi.

    Awalnya dl kerasa berat, begitu konsisten eh kaget udah setahun dan diitung .. lah lumayan ya segini

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, itu juga yang saya rasakan. Begitu usia investasi saya menginjak setahun dan saya melihat hasil dari yang saya investasikan, rasanya hati ini berbunga-bunga banget deh!

  17. urusan investasi ini kok jadi pe er banget buat aku. kalo dapat fee blog larinya selalu tergoda promo skincare. semoga setelah ini bisa lebih bijak gak mudah tergoda promo dan investasi di awal ketika menerima fee.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ooh.. Seperti yang dibilang Dipa di atas, aku kalo dapet fee, aku masukin dulu sebagian ke investasi, baru sisanya dibeliin hal-hal lain yang kusukai 🙂 Jadi sebenarnya ini cuma masalah skala prioritas 🙂

  18. Anggi Putri says:

    Gaya Hidup mempengaruhi banget dalam keuangan ya Mbak. Apalagi racun buat shopping karena udah banyak aplikasi yang memudahkan shopping. Ini aku harus lebih menahan dan mempraktikkan tips buat catat-catat pengeluaran.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku akhirnya menonaktifkan semua notifikasi dari situs-situs shopping. Pikirku, kalo nggak inget sama mereka, berarti sesungguhnya aku nggak menginginkan belanja sampai segitunya 🙂

  19. Wahyu Catur Prasetyo says:

    Super….. Bikin catatan keuangan memang sebaiknya ga usah ribet-ribet ya, dok. Makasih insight positifnya ya.

    1. Soal Latte Factor memang berpengaruh banget sih. Tapi ya gimana masih sulit untuk menghilangkannya. Kayak beli es teh aja kudu ngeMall dulu. Di rumah bisa aja bikin, tapi sensasinya bedaaa

      Ya udah apa boleh buat, harus mulai ubah strategi dari sekarang!

      1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

        Mungkin Dipa benar. Kalau dari awal sudah bersyukur dengan apa yang kita punya, kita akan tetap bersyukur bisa bikin es teh biarpun bikin es tehnya hanya di rumah.

Leave a Reply to Ria Rochma Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *