SiapDarling Menyelamatkan Hutan Kawah Ijen

Nama SiapDarling sebetulnya nggak asing buat saya dalam beberapa bulan terakhir. Ini suatu gerakan program yang diadain sama organisasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation, yang sepertinya membaktikan dirinya untuk urusan pelestarian lingkungan. Tetapi yang nggak saya kira, adalah bahwa pada akhirnya saya bertemu dengan orang-orang penggiat ini di lereng Kawah Ijen.

Lereng Hutan Kawah Ijen yang Nelangsa

3 bulan terakhir bukan hari-hari yang indah bagi Kawah Ijen. Musim kemarau berkepanjangan telah sukses memicu kebakaran hutan di lereng Gunung Ijen itu, mengakibatkan banyak pepohonan menemui ajal. Saya sendiri, yang sempat melewati hutan sana sebelum menuju Gandrung Sewu di Banyuwangi, menyaksikan sendiri api tampak menyala-nyala pada siang bolong. Hutan yang mestinya hijau, menjadi kuning dan oranye karena fusion antara kemarau yang kering dengan lalapan api.

Seminggu setelah saya meninggalkan tempat itu, kawasan sekitar Taman Wisata Kawah Ijen ditutup. Bukan, bukan lantaran saya sudah pulang dari sana, wkwkwk. Tetapi lantaran kerusakan hutan sudah meluas hingga sekitar 900 hektar (taman wisatanya sendiri cuman 90 hektar, by the way), sehingga Pemda Banyuwangi mengamankan tempat itu sejenak. Tidak tanggung-tanggung, ditutupnya sampai sekitaran 3 minggu.

Kawah Ijen sebetulnya adalah aset pariwisata yang cukup signifikan pengaruhnya bagi Banyuwangi. Pariwisata kini adalah salah satu nafkah utamanya kabupaten itu. Dan blue fire-nya Kawah Ijen adalah alasan utama kenapa turis sak donyo ingin ke kota kecil yang nggak ada mall-nya itu. Kebakaran hutan di sekitaran Kawah Ijen menyebabkan tempat itu menjadi tidak aman, termasuk bagi para turis, dan dampak terbesarnya, kehilangan pepohonan berarti kehilangan sumber air untuk rakyat. Harap diingat yang diayomi oleh Kawah Ijen nggak cuman Banyuwangi doang, tetapi juga dua kabupaten lainnya yang mengelilinginya: Jember dan Bondowoso.

Saya menyangka tidak akan balik ke Kawah Ijen lagi kalau hutannya tidak karuan begitu, tapi ternyata nasib menggariskan yang lain. Teman saya, Mbak @da_ffana, ngajak saya piknik ke Ijen. Oke, tidak ke kawahnya sih, karena kaki kami terlalu jompo waktunya nggak cukup, tapi cukup sampai ke Taman Wisata-nya aja, karena keperluan kami adalah kudu menyiarkan kegiatan orang-orang SiapDarling di Twitter.

Saya di depan hutan Taman Wisata Kawah Ijen yang mau dihijaukan kembali bersama pasukan SiapDarling.
Foto oleh @ilham_sadli

SiapDarling untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

So, what da heck is SiapDarling? Jadi SiapDarling ini program pelestarian lingkungan yang dibikin oleh yayasan Djarum Foundation. Yayasan ini concern banget bahwa melestarikan sikap sadar lingkungan adalah investasi besar untuk manusia di masa depan, sehingga per tahun ini mereka mulai getol mengajak banyak orang untuk bareng-bareng ikut konservasi lingkungan.

Awal tahun ini, SiapDarling ini beraksi dengan nanam pepohonan trembesi di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa, Madura, dan Medan. Musim panas tahun ini, SiapDarling dibikin lagi, kali ini di halaman kompleks Candi Ratu Boko dan Candi Ijo, kawasan Jogja. Dan akhir tahun ini, SiapDarling turun ke Taman Wisata Kawah Ijen untuk menanami kembali hutan yang telah terbakar selama berminggu-minggu itu.

Kamu boleh mengira bahwa yang nanam pohon-pohon ini adalah para tukang kebon sewaannya Djarum. Tapi ternyata, ketika saya datang pada hari SiapDarling mau nanem pohon di Ijen, yang membawa-bawa polybag pohon itu adalah 200-an mahasiswa. Lebih tepatnya, 250 mahasiswa.

Adek-adek yang muda belia ini adalah simpatisannya SiapDarling yang dateng dari berbagai kampus di Indonesia. Berduyun-duyun, mereka datang ke Banyuwangi, nginep barang 1-2 malam, demi berkumpul untuk pergi ke Taman Wisata Kawah Ijen. Sebagian besar dari mereka belum pernah ke Ijen, sebagian besar bahkan belum pernah dengar nama Ijen, tetapi mereka bersemangat banget datang ke sini. Karena merasa kepingin menyelamatkan lingkungan.

Aksi SiapDarling di Taman Wisata Kawah Ijen

Maka Senen lalu, berkumpullah mereka semua di Taman Wisata Kawah Ijen, depan sebuah green house. Satu per satu mereka diberi sekop dan sebuah polybag berisi pohon cemara gunung yang batangnya masih pendek, lalu mereka berbaris memasuki hutan. Nggak terlalu jauh masuk hutan sih, karena yang mau mereka tanamin cukup di pinggir hutannya aja. 

Panitia Djarum Foundation telah menyiapkan lobang-lobang bertanda khusus, sebagai lokasi penanaman pohon. Para mahasiswa ini tinggal nyari lobang yang belom di-occupy temannya aja. Lalu mereka taruh potnya di dalam lobang itu, dirobek polybag-nya, terus mereka kuburkan tanahnya pake sekop yang mereka bawa. Supaya gembur, bergiliran pun mereka siramkan air pake gembor.

Kerjaan ini sebetulnya singkat dan cepet selesai. Beberapa mahasiswa merasa tanggung, lalu mereka balik ke green house untuk minta polybag berisi batang cemara lagi. Ada yang bawa sampai 4 buah polybag. Sepertinya anak-anak ini kecanduan bercocok tanam.


Mahasiswa-mahasiswi yang jadi anggota pasukan SiapDarling.

Dan mereka kelihatan menikmati acara tanem-menanem itu. Bergiliran mereka pinjem-pinjeman HP sambil selfie dengan cemara gunung yang telah mereka tanam, seolah-olah itu kembang paling cantik sak Ijen. Saya memberengut iri. Coba dulu jaman saya seusia mereka, ada yang ngajak saya ke gunung buat nanem pohon, mungkin saya ikut. Lalu saya kenalan sama cowok dari kota lain, tuker-tukeran ID Yahoo Messenger, terus chatting, ups..

Mahasiswa, Agen Pelestarian Lingkungan

Atau lebih tepatnya, kenapa kok Djarum Foundation memilih mahasiswa buat jadi penggerak SiapDarling ini? Meskipun jawaban lebih tepatnya ada di website resminya, tapi saya duga karena alesan sustainability. Alih-alih membayari sepasukan petani buat penghijauan, kayaknya memang lebih efektif menggandeng mahasiswa buat nanam.

Mahasiswa itu masih muda. Jalan mereka untuk jadi penggerak masyarakat itu masih panjang. Termasuk buat menggerakkan orang-orang untuk melestarikan hutan. Suara mereka mungkin lebih nyaring didengar oleh orang banyak ketimbang suara orang yang lebih tua. Kalau mau menghijaukan hutan kembali, ya butuh orang banyak. Persis jargonnya SiapDarling, bikin perubahan itu nggak bisa sendirian.

Dan lagian, kalo dipikir-pikir, yang sering dateng ke hutan itu memang orang-orang yang usianya masih muda. Secara linier, yang sering nyampah dan merokok di hutan sampai bikin hutan itu jadi rusak, ya orang muda. Maka, kalo mau menghalau perilaku bejat kayak gini, ya butuh juru influence yang masih muda juga.

Penghijauan Hutan Ternyata Nggak Ribet Amat

Buat saya, perjalanan menonton kegiatan SiapDarling di Ijen ini menimbulkan kesan yang sangat dalam. 


Foto ini nongol di Instagram saya.
Ditanyain sama temen saya, “Kamu lagi ngapain?”
Saya jawab, “Kamu nggak lihat ya? Aku lagi membelai pohon cemara” :))
Foto oleh @da_ffana

Selama ini, saya cuman ngerti tentang kebakaran hutan ya dari media massa doang. Saya pernah belajar konsep penghijauan untuk merehabilitasi hutan, tapi itu cuman sekilas doang waktu di bangku SD.

Saya kirain untuk merehabilitasinya perlu bantuan banyak stakeholders yang bikin ribet. Tapi ternyata, hanya dengan mengerahkan sepasukan sukarelawan yang dibantu beberapa praktisi green house, penghijauan itu pun tetap bisa terlaksana. Menyelamatkan hutan mungkin memang tetap butuh banyak pihak, tapi jumlah pihak yang diperlukan pun nggak terlalu banyak juga.

Sekarang, kalau saya balik ke Ijen kembali, mungkin nggak cuman blue fire-nya Ijen dan gerobak warna-warninya Ijen yang akan saya ingat. Tapi lebih memorable lagi, saya ingat bahwa Djarum Foundation pernah menggerakkan simpatisan SiapDarling-nya demi menghijaukan bekas kebakaran hutan di hutan wisata itu.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. Catcilku says:

    Sudah beberapa kali rencana mau ke sini, tapi apa daya belum kesampaian. Eh malah sudah kekeringan gitu ya mbak. Moga kegiatan penghijauan yang dilakukan kemarin itu berhasil dan menghijaukan kawah ijen kembali

  2. HEbat ya mahasiswa – mahasiswi yang masuk SiapDarling ini, mau bercocok tanam dan malah nampak kecanduan gitu mbak Vick. Oiya wajib ya membelai cemara itu biar cemara tumbuh dengan penuh kasih sayang, hehe. Semoga Hutan KAwah Ijen kembali membaik dan hijau seperti dahulu yaaa. Semoga juga suatu saat saya bisa menginjakkan kaki disana, menikmati blue fire.

  3. Emang sebetulnya enggak ribet kok mba kalau ingin menanam kembali di hutan. Apalagi jika hutan habis terimbas kebakaran atau bencana lainnya. Banyak pihak yang bakalan dengan ringan tangan memberikan bantuan penanaman kembali di hutan.

  4. lendyagasshi says:

    Pemilihan pohon untuk di tanam ini berdasarkan apa ya, kak Vick?
    Dan aku memikirkan masa tumbuh tiap pohon-pohon tersebut.
    Semoga gak rusak kembalioleh ulah manusia.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi.. Aku juga nggak ngerti kenapa mereka memilih cemara gunung. Tapi kalau aku jadi pengelola hutannya, aku akan memilih tumbuhan endemik hutan tersebut dan pilih tanaman yang tahan terhadap kebakaran, serta bisa hidup dalam iklim yang kini makin kering. Dan nampaknya cemara gunung itu cocok untuk kriteria tersebut.

  5. Mellisa says:

    Baru kali ini baca tentang gerakan SiapDarling ini, keren bgt gerakannya. Apalagi bisa mengajak mahasiswa untuk bisa ikut ambil bagian juga dari gerakan ini. Semoga gerakan ini bisa terus ada.

  6. Widya Lim says:

    aku pribadi belum pernah nih ke kawah Ijen, semoga nanti kalau main ke sana, lingkungannya lebih bagus lagi dari sekarang yaa, amiinn..

  7. Mei says:

    udah lama ga ke Ijen, terakhir tahun 2012 kalau ga salah, semuanya masih dalam keadaan asri dan terkendali, sekarang nampaknya sudah mulai rusak ya Mba?
    Good job Djarum, terima kaish untuk CSR-nya membantu menyelamatkan lingkungan Indonesia ya, dan aksi tanam hutan salah satu the best way untuk reboisasi

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hutannya memang sempat terbakar sebagian, sehingga pohon-pohon jadi kekeringan dan layu. Untung Djarum mau bantu memulihkannya dengan menanam pohon-pohon cemara baru.

  8. Djarum foundation keren ya mbak, mau mengajak anak2 muda untuk program reboisasi, jadi sedikit banyak mengerti keistimewaan pohon cemara lewat postingan ini krn awalnya cuma tahu itu pohon natal hehee

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku ngakak pol..! :)) Dulu juga aku taunya itu pohon Natal. Rumahku pernah punya pohon cemara waktu kecil. Lalu menjelang Natal, aku nonton tv melihat acara orang jualan pohon Natal. Dan aku langsung ngusulin ke ibuku buat ngehias pohon cemara rumahku juga pake lampu dan naruh kado di bawahnya :))

  9. Demia Kamil says:

    duh keren banget, pengen banget ikutan kaya gini tapi untuk saat ini masih bantu bantu menanam di halaman rumah aja dan di halaman belakang rumah hihihi, banternya nanem pohon mangga biar bisa dibagi2 in juga ke tetangga pas berbuah nanti hehe

  10. Bener deh ya bikin perubahan itu ga bisa sendirian, kudu rame2. Setuju deh kalau daun muda eh.. anak2 muda yang ditugasi melakukan penanaman pohon seperti ini. Semangat membaara, masih kuat fisik dan mentalnya serta dianggap lebih mampu mensosialisasikan program. Bisa sambil selfie2 kenalan dll hahaha. Semoga pelestarian lingkungan semacam ini semakin digalakkan di tempat lain juga aamiin.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, strategis banget milih pemuda-pemuda sebagai pelaku penanaman pohon ini. Dapet combo lho ini, ya juru eksekutor, ya juru public relations juga.

  11. Munasyaroh says:

    Penasaran, selain pohon cemara apakah ada jenis pohon lainnya yang ditanam disana?
    Terus kenapa harus cemara? Apa ada nilai sosial atau historisnya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya di kawasan Ijen ini ada banyak macam pohonnya. Beberapa orang staf yang ngobrol sama saya sempat cerita bahwa di sini banyak pohon lain selain cemara, misalnya pohon kaliandra dan pohon kesek (tapi saya sendiri nggak tahu yang mana pohon-pohon yang dimaksud, karena saya nggak ngerti taneman). Tapi cemara memang diutamakan pada program reboisasi ini, karena menurut ilmiah, cemara lebih tahan akan kebakaran, meskipun tumbuhnya baru pendek-pendek doang. Cemara juga umumnya nggak butuh terlalu banyak oksigen, dan situasi ini yang seringkali terjadi pada hutan-hutan di musim kemarau. Istimewanya lagi, cemara yang ditanam ini jenis cemara gunung, yang memang tanaman endemik khas Indonesia.

Leave a Reply to Ola AYu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *