Kilau Omprok Gandrung Sewu Banyuwangi

Nonton Gandrung Sewu kedengerannya ngehits banget kalau baca tulisan wartawan di koran. Nyatanya, waktu saya menghadiri sendiri festival tari tradisional ini di Banyuwangi, saya kudu berjuang sangat keras supaya bisa motret. Cuman jepret doang mah bisa, tapi saya kan pengennya bisa motret kelincahan gerakan tariannya, bukan cuman dapet kilau-kilau omprok doang oleh penarinya.

Gandrung adalah tari tradisional kuno asal Banyuwangi.
Semenjak tahun 2012, pemerintah daerah Banyuwangi ngadain pertunjukan tari Gandrung ini secara massal setiap tahunnya, supaya tari Gandrung dikenal orang banyak.
Nggak tanggung-tanggung, sekali pertunjukan, yang menari sampai 1.000 orang.
Seribu itu terjemahan bahasa Jawa-nya sewu.
Makanya nama pertunjukannya Gandrung Sewu.

Kemecer Kepingin Nonton Gandrung Sewu di Banyuwangi

Ketika kawan saya @alannobita beberapa bulan lalu bilang-bilang di grup chatting kami bahwa di Banyuwangi mau ada Gandrung Sewu lagi, saya langsung kosongkan jadwal supaya bisa datang. Suami saya dan Fidel langsung semangat. Pikir kami, wah ini bakalan jadi kayak pengalaman kami menghadiri Jember Fashion Carnaval :))

Cuman yang bikin pusing, sudah browsing sana-sini, kami nggak ngerti caranya nonton Gandrung Sewu. Kudu bayar, nggak? Ke venue-nya naik apa? Nggak ada info sama sekali soal itu.

Karena nggak ada info soal itu, saya coba nekad aja datang pas hari H. Supaya suami nggak teler karena nginjak gas terus selama 7 jam dari Surabaya, saya sengaja booking sebuah resort dulu di kawasan Ijen pada H-1 supaya suami bisa tidur dulu di sana. Baru pas hari H, kami berangkat dari Ijen menuju Pantai Boom yang digadang-gadang sebagai lokasi penyelenggaraan Gandrung Sewu itu.

Tentu saja kami nggak langsung mendarat di Pantai Boom. Sebelum ke area festival, kami taruh mobil kami dulu di sebuah hotel pusat kota. Habis dari hotel itu, baru naik taksi online menuju Pantai Boom. Tapi ternyata, perjalanan nggak semulus itu.

Belum lihat laut di Pantai Boom, taksi yang kami tumpangin ternyata nggak bisa masuk. Jalanan sudah diblokir. Semua orang ternyata sudah berjalan kaki. Terpaksalah kami turun dari taksi, lalu ikutan jalan juga menuju pantai, kira-kira 1 km deh. 

Lagi jalan di Jalan Ikan Cucut sepanjang sekitar 1 km.
Ya Allah, panas banget di sini, mana nggak ada pohon pula

Sampai di Pantai Boom, ternyata situasinya udah mirip cendol. Area tengah pantai dikosongkan buat pertunjukan, tapi sekeliling area show sudah ditongkrongin penonton yang menjemur dirinya sendiri di bawah surya. Ada segelintir tenda berbahan karung yang teduh, itu udah dipenuhin orang juga. Ampun, nih orang pada dateng ngetag tempat dari jam berapa sih?

Para penari Gandrung Sewu lagi nunggu waktunya pentas di bawah pohon.
Mereka mau perform sekitar 1-2 jam lagi.


Seorang penari yang mau ikut festival Gandrung Sewu lagi menenteng omprok gandrung menuju backstage.
Omprok adalah sebutan untuk mahkota yang dipakai penari.

Omprok yang merupakan properti tari Gandrung ini ternyata dibikin dari kulit sapi yang diukir-ukir, lalu dicat dengan warna emas, merah, dan hitam. Baru diberi kembang goyang warna keemasan juga. Supaya ketika dipakainya tidak terasa gerah, omprok ini dilapisi kain. Konon, omprok ini dijual juga sebagai souvenir khas Banyuwangi.

Saya berhasil ngajak foto beberapa penari Gandrung Sewu, yang satu namanya @septiyuniartha dan yang satu lagi punya Instagram ber-username @berr13__ 

Tahu-tahu, suami saya ketemu temen lamanya, yang udah jadi pengusaha hospitality di Banyuwangi sana. Temen itu langsung kegirangan, dan dia kasih kami dua tiket VIP buat nonton! Kami seneng banget, dan langsung kalungin tiketnya di leher kami. Security yang melihat kami langsung arahkan kami ke tenda VIP. Itu tenda yang kayaknya buat penonton pejabat.

Kursi-kursi depan masih kosong semua. Pas saya mau isi kursi depan, saya tercelos. Di tiap bangku itu, ada tulisan “Gubernur”, “Ketua DPRD”, “ Kepala Dinas XXX”, “Kepala Badan XXX”, dan lain sebagainya. Ealaaaa..!

Terpaksalah saya duduk di bangku agak belakang.
Ya namanya aja tiket VIP, tapi tetep aja harus diam di belakang pejabat.
Ya ampun, barisan tempat duduknya ternyata nggak model undak-undakan gitu.
Artinya, nanti kalau nonton, pasti saya ketutupan kepala orang (pejabat) di depan saya!

Saya pengen pindah dari tenda, tapi sungkan sama temennya suami yang udah kasih tiket VIP. Mau pindah ke tenda rakyat jelata, tapi kok kayaknya bangkunya udah penuh. Kalau cari tempat di luar, belum tentu dapet pohon buat ngiyup. Saya mah nggak apa-apa panas-panasan, tapi kan Fidel masih balita. Akhirnya saya putuskan, ya udah biarin mata saya nggak nonton show-nya, tapi biarkan tangan saya (yang pegang kamera) aja yang nonton!

Festival Gandrung Sewu 2019

Gandrung Sewu ini digelar di pesisir Pantai Boom, yang persis menghadap Selat Bali. Hanya ada panggung kecil seperlunya di sebelah selatan pantai, untuk tempat pembawa acara woro-woro. Para penarinya menari-nari di tengah pesisir yang sangat luas, dengan latar Selat Bali di sebelah timur, sambil ditonton para pejabat VIP di tenda sebelah barat. Orang-orang yang nggak kebanyakan nggak kebagian tenda umumnya bercokol umpel-umpelan di sebelah utara.

Kebanyakan sih penontonnya masih penduduk Banyuwangi asli. Mungkin ini event tahunan kota yang ditunggu-tunggu penduduk lokal. Semula saya heran kenapa mereka setia banget mereka menghadiri show ini, padahal isi shownya dari tahun ke tahun ya sama-sama aja. Baru nanti di akhir show saya baru ngeh sebabnya.

Pertunjukan dimulai jam 14.30, sekitar 1 jam setelah saya masuk tenda. Seperti biasa, bupatinya dulu yang pidato, baru kemudian nongol penarinya datang. Dan bener aja, jumlahnya emang banyak beut!

Gerakan tari Gandrung yang dilatih berbulan-bulan.
Kostum penari pada Festival Gandrung Sewu persis kostum patung yang saya lihat di Pantai Watu Dodol Banyuwangi.
Dominasi sampur (selendang) merah, dada ditutupin ilat-ilat warna hitam, dan kakinya dililitin kain batik plus kaos kaki.
Mereka semua tersenyum di bawah omprok mereka, padahal matahari lagi terik-teriknya.
Ya ampun, anak-anak cewek ini pada pakai sunscreen apa sih?

Saya nggak bisa melihat mereka langsung, tentu saja. Saya cuman bisa ngacungin HP tinggi-tinggi, lalu shooting mereka menari sambil terus melihat preview di layar. Suami saya bekerja keras berusaha motret biarpun ketutupan kepala-kepalanya para pejabat di depan. Anak saya? Terpaksa nongkrong manis di bangkunya. (untuk menghiburnya, sesekali saya muterin ulang video hasil shooting saya kepadanya)

Apa sih isi show Gandrung Sewu ini?

Pada dasarnya, Gandrung Sewu ini suatu sendratari. Drama yang berjalan mengisahkan perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah Belanda, dan artisnya adalah penari-penari gandrung yang buanyak banget. Meskipun umumnya penari Festival Gandrung Sewu yang ditampilin di media adalah gadis-gadis bersampur merah, tapi ternyata di beberapa fragmen, ada juga kelompok penari tertentu yang pakai kostum hijau atau pakai kebaya hitam. Bahkan ada juga penari cowok yang pakai kostum a la prajurit Jawa kuno, berwajah garang sambil bawa-bawa pedang dan bendera.

Saya baru ngeh, setelah baca tulisan di atas panggung, ternyata tema dari Gandrung Sewu tahun ini adalah Panji-panji Sunangkara.

Singkatnya, Banyuwangi dulu adalah suatu desa bernama Blambangan, yang galau lantaran baru lepas dari kekuasaan kerajaan Mengwi dan sekarang berhadapan dengan penguasa dari Belanda yang seenaknya sendiri. Rakyat Blambangan kepingin melawan Belanda, tapi suatu ketika jadi rada jiper ketika diam-diam bupati mereka (yang bernama Mas Alit) diajak makan-makan bareng Belanda di kapalnya VOC. Rakyat Blambangan ngamuk karena menganggap Mas Alit pengkhianat, lalu mereka menyerang kapal VOC lokasi meeting itu di tengah laut (makanya penarinya pada bawa pedang dan bendera alias panji). Mas Alit-nya tewas, kapalnya rusak, banyak rakyat Blambangan di perang itu yang gugur. Padahal sebetulnya, Mas Alit selama ini yang selalu menyuplai bantuan kepada rakyat Blambangan supaya bisa melawan Belanda.

Oke, saya nulis ini kok jadi terenyuh. Gampang banget ternyata memusnahkan nyawa hanya dengan bermodalkan hoax.

Show ini diawali dengan permainan gending dari pengeras suara yang menggelegar di seluruh pantai, lalu nongol seribu penari dari belakang panggung. Mereka menyebar menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok bikin formasi sendiri-sendiri sambil menari jejer

Pinggul para penari Gandrung Sewu melenggak-lenggok di tengah Pantai Boom Banyuwangi, sementara tangan mereka memainkan sampur merah dan kipas.
Omprok mereka berkilauan, sementara itu kembang goyang di omprok itu ikutan bouncing ketika kepala mereka gedeg-gedeg.
Makna fragmen tari Gandrung di sini adalah petanda syukur atas panen para petani.

Kipas para penari gandrung itu sebetulnya menarik perhatian saya, karena kadang-kadang kipasnya warna merah, kadang-kadang putih.
Padahal yang saya baca-baca sebelumnya, penari Gandrung itu selalu bawa kipasnya satu aja, sebab tangan lainnya mainin sampur.
Saya duga mereka memang bawa kipasnya dua biji, tapi salah satu kipasnya mereka umpetin.
Cuma saya nggak ngerti, kipasnya mereka umpetin di sebelah mana.. :))

Konflik drama pada sendratari Gandrung Sewu ini baru nongol ketika penari-penari cowok datang.
Mereka punya wajah yang seram-seram, sebagian sambil bawa golok, pedang, keris, dan senjata entah apa lagi.

Sebagian penari pada Gandrung Sewu tidak bawa senjata, tapi bawa bendera.
Sekilas, gambar di benderanya kayak lambang perompak.

Panjak (juru nge-rap pakai bahasa Jawa Osing) di pengeras suara berteriak-teriak membawakan narasi bahwa pria-pria Blambangan turun ke laut, memakai kapal mereka, lalu menyerang kapal penjajah Belanda yang mereka sangka berkonspirasi bersama Mas Alit.

Belanda yang sepertinya akhirnya menang, mengumumkan bahwa Mas Alit tewas di dalam kapal itu karena diserang perompak. Suasana menjadi agak hening, para penari memperlambat gerakannya memulai gerakan seblang subuh, seolah-olah bertapa sambil menggerakkan kipasnya. Panjak mengucapkan kesedihan atas tewasnya Mas Alit dan prajurit-prajurit Blambangan yang gugur di pertempuran itu.

Ketika para penari prajurit cowok itu menghilang dari arena tari Pantai Boom Banyuwangi, tinggal 1000 dara itu mundur dan menyebar dengan bersemangat di arena Gandrung Sewu.

Cewek-cewek itu bikin formasi berkelompok susun melingkar, sebagian melungguh, sebagian berlutut, sebagian lagi berdiri, tetapi semua memainkan kipasnya. Formasi kelompok ini langsung diabadikan dengan gesit oleh para fotografer, yang ternyata sudah bersila di bawah tribunnya pejabat. Cuma sebentar aja, karena kemudian pemudi-pemudi itu kembali berformasi jejer lagi.

Dan begitu formasi jejer yang juga bersusun itu, tahu-tahu terdengar suara lagu shalawat nabi, dan para penari memainkan kipas-kipas mereka mengikuti irama shalawat. Saya tertegun, menyadari bahwa ternyata sendratarinya sudah selesai! 

Para penari pada Festival Gandrung Sewu duduk bersimpuh sambil menyanyikan shalawat.
Saat inilah pembawa acara mengundang para pejabat untuk turun buat berfoto bareng ribuan penari itu, dan spontan rakyat seluruh pantai Boom berlari mendekati mereka buat ngajak foto bareng.

Suami saya turun ke pesisir buat motretin para penari dari jarak dekat. Saya nggak turun, tetap tinggal di bawah tenda buat nemenin Fidel, takut kena kebul oleh pasir di pantai.

Ngobrol sama Penari Gandrung Sewu

Gagal motret tarian dari jarak dekat, tiada bikin saya putus asa. Seusai pertunjukan, saya menghampiri beberapa penari ngajakin foto bareng. Gadis-gadis ini ternyata seneng banget difoto, apalagi saya janji mau tag nama mereka di Instagram.

Saya bareng salah satu penari Gandrung Sewu, @thikadewi26_

Jumlah mereka ternyata bukan 1.000 orang, tapi sekitar 1.300 orang. Penarinya yang paling kecil masih jadi murid SD, tapi ada juga yang sudah kuliah (dan dengan make up mereka yang seperti itu, muka mereka kelihatan sama aja).

Sebagian besar dari mereka bukan penari profesional, mereka cuma anak-anak sekolah biasa. Saban tahun, Pemda Banyuwangi minta tiap kecamatan pilih nona-nona dari warga mereka untuk ikut seleksi menari di Gandrung Sewu. Biasanya yang direkrut cuma 1.000 orang, tapi yang ikut seleksi bisa sampai 3.000 orang. Mereka yang berhasil direkrut itu dilatih selama lebih dari 3 bulan, untuk akhirnya bisa menari di festival Gandrung Sewu.

Lantaran adanya seleksi inilah, banyak gadis di Banyuwangi terobsesi untuk bisa menari di Gandrung Sewu. Feeling bangga bisa mengalahkan saingan di acara audisi itu yang jadi motivasi mereka. Padahal, selain kostum dan make up yang dibayarin panitia, para penari ini kudu modal sendiri untuk berangkat dan makan selama latihan nari.

Saya dengan @erikazulfiaaa__, salah satu penari dalam festival Gandrung Sewu.

Tiap penari pasti bawa banyak supporter. Minimal ya keluarganya sendiri. Rerata gadis penari yang ngobrol sama saya, ternyata ayah ibu dan sodara-sodaranya juga datang. Pantesan pantai Boom rame banget di acara festival itu. Pantai itu penuh sama keluarganya masing-masing penari!

Dan beberapa penari bahkan sudah menari berulang-ulang di Gandrung Sewu. Ada penari yang sekarang murid SMA, tapi sudah menari sampai 4x sejak masih di SD. Makanya keluarga-keluarga di Banyuwangi makin bangga kalo anak daranya makin sering diundang nari di Gandrung Sewu.

Tantangan buat Panitia Gandrung Sewu

Tapi suka nggak suka, saya masih melihat banyak banget yang kudu diperbaiki dari pesta pinggir pantai yang sarat cinta budaya ini. Salah satunya, soal marketing festivalnya sendiri.

Saya merasakan bahwa cari tempat duduk yang nyaman di Gandrung Sewu ini susah banget. Nongkrong di VIP tapi tempat duduknya tanpa undak-undakan sangat mempersulit saya menikmati pertunjukan lantaran pandangan saya ketutupan penonton depan saya. Malah, saya sendiri tidak menjumpai ada kelas tempat duduk lain selain VIP, yang mungkin harganya lebih murah biarpun nggak duduk di bawah tenda. Padahal saya sih rela-rela aja kalau harus bayar tiket, asalkan nontonnya nggak ketutupan.

Mau pesan tempat duduk pun, tak tahu juga di mana. Saya tidak nemu website resmi panitianya, tidak nemu account sosmed festival ini juga. Sepertinya yang ngerti cara duduk buat nonton Gandrung Sewu cuman warga Banyuwangi sendiri doang. Dan saban kali saya tanya teman saya yang asal Banyuwangi tentang cara cari tempat duduk di festival ini, mereka selalu jawab, “Oh, langsung dateng aja pas hari H-nya, Mbak!” *saya elap keringet*

Bareng penari-penari Festival Gandrung Sewu lainnya, @cindyadinda_89 dan @janah9835

Belum lagi masalah transportasi menuju Pantai Boom pas hari H. Jalan panas-panas di bawah matahari terik sepanjang 1 km gegara lalu lintas ditutup, bikin saya bingung. Tak nemu becak dari Alun-alun Blambangan yang mau nganter jemput pengunjung ke Pantai Boom. Saya prihatin kalo ada pengunjungnya yang ternyata lansia tapi kepingin nonton cucunya nari Gandrung, padahal nggak kuat jalan kaki.

Alangkah bagusnya kalo ada biro travel yang mau jual paket nonton Gandrung Sewu. Bisa banget tuh dibikin paket tour nonton Gandrung Sewu bonus keliling Banyuwangi 3 hari 2 malem. Coba tebak, berapa hotel Banyuwangi dan warung-warung nasi tempong yang bisa kecipratan rezeki dari pembeli paket tour beginian?

Memang ada sih tiket khusus buat fotografer yang pingin nonton Gandrung Sewu. Fotografernya dapet tempat duduk khusus yang persis menghadap pertunjukan, dengan syarat nanti fotografernya kasih foto jepretan mereka kepada panitia. Tapi kan ya kurang cocok buat fotografer amatiran kayak saya, lha saya kalo nonton show gituan itu selalu sambil bawa anak..

Tapi ngomong-ngomong, saya belom kapok. Saya masih mau kok nonton Gandrung Sewu lagi, entah nonton pada tahun depan atau tahun-tahun depannya lagi. Pokoknya saya pingin tahu cara dapet spotnya yang nyaman buat nonton dulu, yaa minimal supaya nontonnya bisa senyaman saya nonton Jember Fashion Carnaval lah. Karena menurut saya, ketika nonton Gandrung Sewu, saya nggak cuman disuguhi tarian apik budaya Banyuwangi, tapi dapet pelajaran penting: “Gini lhoo hasilnya kalo ribuan orang mau kerja sama dengan kompak buat bikin pertunjukan sehari..” (Foto-foto oleh Eddy Fahmi dan Vicky Laurentina)

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

50 comments

  1. Syaiful BS says:

    Aiiih seru banget acara Gandrung Sewu dan beruntung banget yaa kak, suaminya ketemu temen malah dapet tiket VIP jadi dapet slot masuk deh hehe

    Aku seneng kak kalo masih banyak daerah yang masih mempertahankan kebudayaannya tapi kalo baca dari cerita kaka, masih banyak kurangnyaa yah salah satunya promosi acara hehe.

    Semoga tahun depan Festival Gandrung Sewu lebih baik lagi termasuk banyak kunjungan dari Wisman yah hehe aamiin

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Puul.. Gandrung Sewu ini memang menarik banget buat turis-turis dari luar Banyuwangi, apalagi bagi turis-turis dari luar Indonesia yang nggak pernah lihat penari beginian. Makanya aku nulis ini supaya orang luar Banyuwangi lebih tertarik kepada Banyuwangi, dan mau mengghibahkan Gandrung Sewu ini ke mana-mana sehingga lebih banyak orang luar Indonesia yang datang. Dan tentu saja, untuk mendatangkan orang-orang pengunjung dari luar Banyuwangi, panitianya juga kudu siap 🙂

  2. tarjiem says:

    Wah jadi ingat sama tulisan lama yang mirip disimpan bloger dulu. Persis sama acaranya, gandrung sewu. Cuma beda tahun aja. Ternyata festival ini masih terus ada. Salah satu cara pemda setempat yang pintar untuk menarik wisatawan yang pulang libur dari Bali, trus mampir ke banyuwangi.

    1. Hani says:

      Prestisius ya u warga Banyuwangi yg punya anak gadis. Ta’ cari ah yutubnya, pengen tahu kayak apa tariannya. Di Bandung, baru² ini ada tari Ketuk Tilu, nari di halaman gedung Sate. Tapi blm rutin. Keren Pemda Banyuwangi, dikaitkan dng sejarah perjuangan bangsa. Btw…tangannya diangakt setinggi apa tuh Mbak spy dpt foto penari?

      1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

        (( KETUK TILU )) :))

        Dulu denger nama ini pertama kali waktu pelajaran SD di Bandung. Tapi tariannya kayak apa itu pun saya belum pernah lihat. Mau dong lihat kalau ada pertunjukan kolosalnya di Bandung.

        Waktu saya nyooting Gandrung Sewu ini, tangan saya diangkat sampai kayak pamer ketiak gitu deh. Saya kan kate, hahahah..

        Eh ya, Tarjiem pernah nulis ini juga ya? Mau dong baca tentang penyelenggaraan Gandrung Sewu yang sudah-sudah.. 🙂

  3. Dinilint says:

    Epic banget ya acara Gandrung Sewu ini,, ada ribuan orang yg tampil, yg ditonton juga oleh ribuan orang lainnya. Belum lagi kalo ngitung orang di balik layarnya yg pasti juga banyak banget.

    Gandrung Sewu ini sepertinya sih pesta rakyatnya Banyuwangi yaaa. Jadi mungkin marketnya emang untuk lokal, tapi orang luar Banyuwangi yg denger penasaran, karena ya emang epic kan ada seribuan orang nari bareng di pantai.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bener, Din. Ini kayaknya kegiatan tahunan orang lokal Banyuwangi. Kayaknya tiap tahun selalu ada pembicaraan tentang anak siapa yang berhasil dipercaya jadi penari Gandrung Sewu, anak siapa yang berhasil dipercaya lagi buat nari di sana, dan sebagainya. Dan para penonton itu girang semua biarpun kudu berjemur panas-panasan di pinggir pantai kayak gitu 🙂

  4. Semoga panitianya selalu berbenah yaa, dan semoga baca postingan ini biar tahun tahun berikutnya bisa lebih baik lagi pengaturan penontonnya. Sayang banget soalnya, ini kelihatan seru banget euy

  5. 1.300 penari, benar-benar kolosal ini, mbak Vic. Harusnya kursi VIP dibikin kayak amphitheater gitu ya dengan undakan yang memudahkan penonton menyaksikan keindahan tarian dan mengabadikannya. Banyuwangi ga ada matinya, ada aja festival yang dijual. Sayangnya masih kurang promosi yang dikemas buat memudahkan wisatawan ya Mbak. Selain festival minum kopi, jadi penasaran sama sendratari ini. Cakep!

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iyaa.. mestinya dibikin a la amphitheatre! Duuh, gemes aku sama model arena duduk kayak gini nih..

      Aku belum pernah ke festival minum kopi nih. Kayaknya menarik. Browsing sah..

  6. Begitu melihat bahwa nontonnya bener bener perlu perjuangan, saya memutuskan untuk tidak menonton acara ini. Super duper nggak nyaman. Ya kedepannya semoga panitia acara bisa mengemas acaranya menjadi lebih baik

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang, Putu, nonton yang penuh perjuangan begini bisa jadi tantangan yang melelahkan bagi penonton yang bukan penduduk Banyuwangi. Semoga panitianya bisa belajar banyak dan memperbaiki akomodasi penontonnya supaya bisa nonton dengan nyaman ya 🙂

  7. Nunung yuni says:

    Waah seru banget ya mbak bisa menyaksikan tarian kolosal Gandrung Sewu . Nggak bayangin serunya menyaksikan 1300 an penari menari bareng. Panitianya keren banget ya bisa mengumpulkan penari sebanyak itu.

  8. Wuaaa seru banget acaranya
    Sayang ya kayaknya memang kurang terkoordinir dengan baik
    Mau nonton pertunjukan massal kayak gini memang enaknya dibuatin semacam tribun gitu deh
    Yang makin ke belakang makin tinggi jadi di posisi manapun tetap enak nontonnya
    Itu penarinya cantik-cantik banget euy

    Btw baca kisah dibalik sendratari ini aku sedih
    Sungguh, hoax itu udah ada sejak dulu kala

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, salah satu sebab kenapa aku ngebet ke sini adalah aku ingin membela tarian ini. Menyiarkan bahwa tarian ini nggak ada hubungannya dengan isi hoax itu. 🙁

  9. Nailah says:

    Seru banget lihat pertunjukan kolosal begini ya mana ceritanya bagus, kalau di ungaran tari kolosal biasanya 17an cerita nya dongeng baru klinting Ambarawa

  10. (((TENDA RAKYAT JELATA)))
    Berarti bener dong kalo ngehits, karena mau foto aja harus perjuangan. Salut sama tekadmu, kak! God is so good, who knows kamu bakal dapet kursi VIP. Salut sama inisiatif pemerintah Banyuwangi, Tari Gandrung jadi dikenal dan sukses menarik minat banyak orang.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, aku merasa Banyuwangi sejauh ini lumayan sukses juga membalikkan image tari Gandrung menjadi tari yang menakjubkan (sebelumnya, tari Gandrung ini image-nya kurang baik karena dikaitkan dengan ideologi terlarang, homoseksual, dan lain sebagainya). Aku masih kepingin nonton lagi, untuk dapat foto dengan angle yang lebih baik 🙂

  11. Ibadah Mimpi says:

    Wahh keren banget perjalanannya mbak.
    Udah lama juga rasanya kami gak ngeliat festival kebudayaan dan itu rasanya kayak ada sesuatu yang hilang. Mungkin kalau ada festival kebudayaan lainnya harus ikut hadir nih. Haha

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang sebaiknya menyiapkan diri untuk nonton festival kayak gini, Mas Redha. Tidak setiap hari ada orang bersedia menari-nari di depan kita, hihihi..

  12. Nyesel sih nggak jadi datang ke festival ini. Udah semoat kontak Mas Alan, eh pas mau hari H malah dapat penugasan ke kuar kota.

    Senang deh tahu klo banyak orang Banyuwangi yang masih bangga dengan budayanya, mau capek-capek berkkmpetisi dan tampil. Semoga banyak daerah yang pemuda-pemudinya memiliki jiwa begini ya.

    Oh ya, kalau festival gini, drone boleh terbang nggak sih???

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Jangan kuatir, Bang Darius. Festival Gandrung Sewu ini pasti akan diadakan lagi tahun ini. Yang perlu Abang lakukan cuma bersiap pergi ke Pantai Boom.

      Oh ya, sebetulnya aku lihat banyak drone beterbangan di festival ini. Tapi aku belum tahu cara minta izinnya bagaimana. Saranku ya, lebih baik datang pada gladi resik H-1 karena pada saat itu dilakukan registrasi tentang fotografer mana aja yang boleh mendapatkan bangku khusus fotografer di acara. Mungkin di sana akan di putuskan juga tentang siapa yang boleh menerbangkan drone.

      You must love it! 🙂

  13. Wahhhh mantappp banget nih acaranya, pasti bakal seru banget yaa acaranya disanaa.. Apalagi acaranya terus digelap setiap tahunnya.. Ditambah kalau menikmati liburannya bersama keluarga besar, asik nih.. Semoga tahun depan masih ada lagi hehe

  14. Aku senang banget nonton festival tari kayak gini, waktu itu pernah nonton di Malioboro Jogja. Setuju banget bahwa acara semacam ini harus dikemas dan dipublikasikan dengan lebih baik untuk dapat mendongkrak pariwisata setempat.

  15. Fery Arifian says:

    aku tuh pernah lho mbak liat pertunjukan Tari Gandrung pas berkunjung ke Desa Wisata Kemiren tahun lalu. Dan entah kenapa aku ngeliat penari Gandrung tuh aura kecantikannya beneran keluar, bahkan aku sampai amazed sendiri karena penarinya emang cantik-cantik. :”)

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Tari Gandrung ini menceritakan orang-orang yang bersuka ria dan bersyukur. Kurasa aura positif dari tema tarian ini yang membuat para penari Gandrung ini memang nampak cantik-cantik 🙂

  16. Zam says:

    kekurangan acara bagus kayak gini emang di penyelenggaraannya, sih.. apalagi kalo yang ngelola pemerintah, biasanya ya gitu.. banyak kurangnya, walau sebenernya acaranya asyik..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang Pemerintah Banyuwangi masih perlu banyak belajar lagi tentang menyelenggarakan acara supaya nyaman bagi semua orang yang datang ke sini.

  17. Seru ya mbak pengalamannya. Saya juga jadi ikutan tertarik buat ikutan datang ke festivalnya, karena sebelumnya cuma tau ada di Solo, yang 5000 penari. Selain tarian kira-kira ada apa lagi tuh mbak.

  18. @nuellubis says:

    Kayak terjadi perubahan gaya bahasa ya Mbak. Dulu, agak-agak kaku gitu. Hampir sama kayak portal berita. Sekarang, jadi lebih fleksibel. Lebih hidup juga. Atau cuma di post yang ini? Hehe.

    Makasih udah main waktu itu ya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Duh, saya nulis tentang pertunjukan budaya dengan penuh penghayatan dan kamu sama sekali nggak fokus dengan isi tulisan ini..
      Saya merasa gagal, wkwkwk..

  19. NurulRahma says:

    Artikel ini udah cucok masuk majalah COLOURS-nya Garuda Indonesia!
    Atau sekalian dibikin yg versi English, trus kirim ke redaksi majalah AirAsia atau Singapore Airlines.
    Aku bacanya sambil kemecer pengin nonton festival ini juga euy!

Leave a Reply to Nailah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *