Surga Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Baluran

Ketika saya pergi ke Taman Nasional Baluran, rencana saya hanya mau melihat padang rumput. Tetapi ternyata, pada prakteknya, saya tidak saja melihat savana. Bahkan di sana, saya malah disuguhi keanekaragaman hayati sampai ke tingkat ekosistem.

Tentang Taman Nasional Baluran

Saya tertarik dengan Baluran ini sejak 3 tahun lalu, waktu baca ceritanya teman saya, Nurul Rahmawati, yang baru pulang dari liburan di sana. Saya penasaran sama savana, karena seumur hidup saya belum pernah melihat padang luas yang isinya rumput melulu. Kepingin nyusul, tapi karena anak saya, Fidel, masih baru berumur 2 tahun dan belum bisa diajak panas-panasan, keinginan itu saya tunda.

Akhirnya keinginan itu saya putuskan untuk eksekusi beberapa minggu lalu, ketika saya lagi mati gaya saat liburan di rumah nenek saya di Kreyongan. Saya pun ajak Fidel dan bapaknya ke Banyuwangi, karena kangen kota itu semenjak nonton Gandrung Sewu. Fidel sekarang sudah berumur 4 tahun, sudah senang berpetualang, dan dia sangat antusias waktu saya menunjukkan foto Tante Nurul sedang berada di savana. Jadi selepas kami main-main di De Djawatan, kami pun capcus ke utara, ke arah Baluran.

Ternyata, saya salah baca peta. :))

Pintu masuk Taman Nasional Baluran bukan di Kabupaten Banyuwangi, tapi di Kabupaten Situbondo. Memang sebagian dari taman nasional ini masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi, tapi tetap saja dari rumah Grandma itu lebih dekat dijangkau jika menyetir melalui Situbondo. Lha saya sangka Baluran itu punyanya wilayah Banyuwangi saja, hihihi.. Baiklah, saya mengerti sekarang..

Taman Nasional Baluran ternyata luas banget..! Kendaraan mobil boleh masuk. (Belakangan saya diceritakan bahwa teman suami saya ternyata pernah masuk sana, mengayuh sepeda!) Sungguh ternyata di dalamnya ada savananya. Tapi ternyata semakin dalam kami masuk taman itu, kami malah bertemu alam-alam ekosistem yang lain, bahkan akhirnya kami bertemu pantai segala.

Dan untuk kemari, ternyata saya tidak butuh naik pesawat, hihihih..

Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem di Wisata Baluran

Dan ternyata itulah keistimewaannya Taman Nasional Baluran. Sebab jarang banget dalam satu objek wisata kita bisa melihat bermacam-macam keanekaragaman hayati tingkat ekosistem sekaligus. Biasanya ya, jika orang pergi ke objek wisata, yang dilihat ya hanya satu lingkungan, misalnya melihat hutan saja, atau cuma melihat pantai saja. Paling-paling keanekaragaman hayati yang dilihat cuma keanekaragaman hayati tingkat spesies, tidak sampai keanekaragaman hayati tingkat ekosistem.

Vicky Laurentina dan pohon gebang di Taman Nasional Baluran
Di belakang saya, pohon-pohon palem itu adalah gebang (Corypha utan) yang merupakan tanaman khas di padang rumput seperti Taman Nasional Baluran. Pohon gebang ini penting bagi keanekaragaman hayati tingkat jenis di sini, karena pohon gebang menjadi sarang tempat tinggal dan buahnya adalah pakan bagi burung-burung kangkareng (Anthraconcerus convexus). Tapi penduduk sekitar yang tidak dikontrol, sering mengeksploitasi dedaunannya yang masih muda, demi dijadikan bahan anyaman tas untuk dijual. Akibatnya gebang yang masih tumbuh seringkali rusak dan lama-lama populasinya berkurang.

Apakah yang Dimaksud dengan Keanekaragaman Hayati?

Jadi, what da heck is keanekaragaman hayati? Istilah ini memang masih terdengar asing, bahkan pakar lingkungan pun mengakui itu.

..keanekaragaman hayati, makhluk apa itu?

Emil Salim, pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia, 2019

Kalau saya boleh jelaskan, keanekaragaman hayati adalah situasi di mana ada banyak macam organisasi makhluk hidup dalam suatu tempat. Tidak cuma bertemu kerbau yang bentuk tanduknya beda-beda dalam satu kawanan kerbau. Tapi juga selain ada macam-macam kerbau, juga ada macam-macam hewan lain, dan bahkan ada beraneka tumbuhan yang tinggal di dekat hewan itu.

Tingkat Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati itu sendiri ada tiga tingkat: 1) Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem. Contohnya, di Taman Nasional Baluran ini ada ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem savana, dan ekosistem-ekosistem lainnya. 2) Keanekaragaman hayati tingkat spesies. Contohnya, di dalam hutan bisa ada monyet, macan, elang, pohon jati, pohon randu, dan makhluk-makhluk lainnya. 3) Keanekaragaman hayati tingkat gen. Contohnya, pada suatu kawanan spesies macan tutul, bisa ada macan yang tutulnya merata di seluruh badan, ada juga macan yang tutulnya mengumpul di punggungnya doang. Kok bisa gitu? Ya itu artinya Allahu Akbar.

Dan kenapa harus banyak macam? Karena ternyata tiap makhluk hidup itu punya peran-perannya sendiri. Ada yang berperan sebagai penyerap hawa panas (yaitu tumbuhan), ada juga yang berperan sebagai penyebar benih tumbuhan (yaitu hewan). Masing-masing makhluk hidup ini bekerja sama dalam ekosistem, dan masing-masing ekosistem ternyata juga saling kerja sama, sehingga menciptakan kehidupan di bumi yang (seharusnya) seimbang. Itulah maknanya keanekaragaman hayati.

Dan Taman Nasional Baluran ini, adalah contoh bagus akan keanekaragaman hayati itu. Tidak tanggung-tanggung, keanekaragaman hayatinya udah sampai tingkat ekosistem lho. Ada ekosistem apa saja sih?
Ayo ikuti saya menyusuri Taman Nasional Baluran ini. 

Ekosistem Hutan Baluran

Setelah saya bayar tiket di loket pada gerbang utama Taman Nasional, lalu suami saya mulai menyetir mobilnya di sepanjang jalan di dalam area itu. Jalannya lurus-lurus saja, tanpa cabang. Ada rambu yang memperingatkan bahwa kecepatan maksimal yang diijinkan hanyalah 30 km/jam. Sepanjang jalan, pohon-pohon jati yang sedang meranggas berdiri tegak.

Cuaca panas sekali di luar. Waktu itu akhir Oktober, tapi musim kemarau belum terasa mau berakhir. Rerumputan dan semak-semak belukar di hutan rimba nampak kuning kecoklatan. Tak ada orang di sana, hanya kami bertiga. Sesekali kami papasan dengan mobil pengunjung lain dari arah berlawanan, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Mama, lihat! Kebakaran!” seru Fidel menunjuk hutan.

Di antara semak-semak, sebagian ranting nampak terbakar dengan api menyala-nyala setinggi sekitar 50 cm. Aneh, tak ada orang di sekitar situ. Adakah yang nekad membakar hutan pada bulan-bulan sensitif begini, tatkala semua orang di Twitter sedang marah melihat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera? Belakangan saya baru tahu, kemarau membuat pergesekan antar ranting-ranting cenderung lebih sensitif, sehingga lebih mudah menimbulkan api.

Kalau begini terus, lama-lama hutan rimbanya bisa rusak dong?

Sebuah papan muncul di pinggir jalan. Bertuliskan, “Anda memasuki Hutan Evergreen”. Kawasan yang kami lalui, mulai menghijau, kontras dengan pepohonan jati di belakang. Pohon-pohon apa yang tumbuh di sini, saya tidak paham, mungkin antara kepuh, asam, atau trenggulun, tapi pastinya lebih lebat.

Hutan Taman Nasional Baluran X Vicky Laurentina
Hutan Evergreen di Taman Nasional Baluran berusaha keras untuk tetap hijau pada musim kemarau di bulan Oktober.

Saya sedang menerawang ke dalam hutan, siapa tahu menemukan 1-2 hewan yang bergerak. Tetiba suami saya memperlamban laju mobilnya, “Wow! Ada ayam!”

Baru kali itu saya melihat ayam hutan (Gallus gallus). Ayam itu merasakan mobil kami, sehingga dia langsung terbang masuk ke semak-semak. Saya tak sempat memotretnya, tapi saya ingat jengger ayam itu lebih gelap daripada ayam jago piaraan paman saya di Kreyongan. Warna bulunya cenderung lebih gelap juga, agak kumal pokoknya. Mungkin dia berevolusi bikin warna bulunya begitu supaya tidak gampang terdeteksi macan, pikir saya.

Eh sebentar, katanya di Baluran sini ada macan. Mana?

Setengah hati tidak ingin bersua dengan macan, tapi penasaran juga. Lama-lama, pepohonan itu hilang di belakang kami, dan tiba-tiba pemandangan menjadi terang benderang.

Selamat datang di savana.

Gunung Baluran di Taman Nasional Baluran
Gunung Baluran yang berdiri angkuh itu nyaris kontras dengan Savana Bekol di depan saya. Savana ini inti dari keeksotisan keanekaragaman hayati ekosistem di Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol, Ekosistem Ikonik di Baluran

Dan yang kemarin-kemarin cuma saya lihat di tulisannya Nurul itu, saya lihat sendiri sekarang. Depan kami adalah jalan aspal lurus, yang membelah sebuah savana yang luasnya kayaknya bisa satu kecamatan sendiri. Masya Allah, pohonnya jarang-jarang banget. Ke mana pun saya memandang, isinya rumput, rumput, rumput saja, yang kekuningan.

Saya berdiri di depan pohon widuri bekol (Ziziphus mauritania), tanaman khas savana di Taman Nasional Baluran.
Pohon bekol biasa berdiri sendiri-sendiri di tengah savana, makanya sering dijuluki sebagai pohon jomblo.
Tapi meskipun jomblo begini, pohon ini sering dijadikan tempat berteduhnya para rusa (Cervus timorensis) atau merak (Pavo muticus) yang merumput di savana.

Tuhan menciptakan savana berisi rumput-rumput yang punya tugas menyerap karbon, supaya bumi tidak terasa terlalu panas. Mestinya kerbau-kerbau merumput di sini, sambil mengusir lalat dengan ekornya, dan kotoran mereka adalah pupuk alami juga bagi tumbuhnya rumput. Saat kerbau ini tutup usia, baik itu sekedar karena sakit jantung atau dimakan predator (misalnya macan), maka jasadnya terurai menjadi zat hara yang menjadi gizi bagi tumbuhnya pepohonan.

Suami saya melaju lagi, masih dengan kecepatan 30 km per jam. Di ujung jalan kami menemukan sebuah papan besar yang digantungi macam-macam tengkorak banteng.

ikon dari Taman Nasional Baluran
Banteng (Bos javanicus) adalah hewan ikon dari Taman Nasional Baluran. Tetapi lantaran massifnya pertumbuhan pohon akasia (Acacia nilotica) di savana yang merusak rumput, padahal rumput itu merupakan pakan banteng, membuat banteng makin sulit berkembang biak, sehingga keanekaragaman hayati tingkat spesies di savana sini menjadi terusik. Lantaran populasi banteng makin berkurang ini, pengelola taman kemudian mengoleksi tengkorak-tengkorak banteng dan menggantungnya di Savana Bekol, supaya pengunjung tetap bisa mengapresiasi hewan endemik satu ini. Hewannya sendiri sekarang masih dilindungi di Zona Konservasi di taman itu.

Persis di seberang papan itu, adalah cottages kecil dan sebuah warung makan. Saya langsung minta suami saya parkir dan makan siang.

Warungnya sederhana sekali. Yang dijual adalah makanan khas Banyuwangi, yaitu sego tempong. Penjaganya adalah dua perempuan yang umurnya kira-kira sepantaran saya. Saya langsung minta dua porsi sego tempong. Suami saya minta lauk ayam, sedangkan saya minta lauk bandeng.

Si mbak menghidangkan sego tempong di meja kami, dan persis seperti yang saya kira, porsi nasinya banyak banget. Saya bagi dua nasi saya, lalu saya pindahkan ke piringnya Fidel. Saya minta mbaknya buatkan telor ceplok saja untuk Fidel.

Warung si mbak itu tak ada namanya. Tapi meski porsinya begitu banyak, kami bayar tidak lebih dari Rp 50k. Perut saya yang semula lapar sepanjang hutan jati hingga savana tadi, langsung kenyang. Sambalnya pedas, tapi tidak bikin mulas.

Menurut si mbak, bertahun-tahun jualan di pojokan situ, dia tidak pernah bertemu macan. Macan tutul (Panthera pardus melas) memang ada di Baluran, tapi dipiara di Zona Konservasi. Macan tidak senang berkeliaran di savana, sebab mangsa yang dia inginkan tidak ada di situ. Macan lebih suka memangsa lutung atau monyet di hutan-hutan.

Cottages di sebelah warungnya ternyata disewakan. Hanya saja harus dipesan dulu.

Kerbau liar (Bubalus bubalis) sedang menikmati spa alami di kubangan pada Savana Bekol Taman Nasional Baluran.

Di seberang warung, ada balong besar dan beberapa mamalia liar nampak sedang berendam di dalamnya. Fidel serentak teriak-teriak antusias memanggil mereka, “Kerbaaauu! Kerbaaaauu!”

Kami menyetir lagi, lalu perlahan-lahan savana itu berubah menjadi hutan lagi. Meskipun masih gersang, tetapi pepohonannya mulai banyak. Kayaknya pohon akasia nih yang bertumbuhan di sini, tetapi sedang meranggas juga. Rusa-rusa dan kijang (Muntiacus muntjak muntjak) berjalan hilir mudik merumput. Fidel langsung memanggil-manggil “teman-teman”-nya itu dengan riang.

Saya nonton rusa (Cervus timorensis) sedang merumput di bawah pepohonan akasia (Acacia leucophloea wild) dan mimba (Azadirachta indica).
Rusa biasa memakan dedaunan akasia yang jatuh.
Feses rusa menyebar di seluruh savana, dan sari akasia yang terkandung dalam fesesnya ini merusak pertumbuhan rumput, sehingga merusak keanekaragaman hayati di sini.
Itu sebabnya kini pengelola Taman Nasional Baluran terus berusaha mengurangi populasi akasia dengan menebangnya.
Padahal akasia sendiri juga menjadi tempat sarang burung-burung kangkareng yang endemik di sini.

Maaf ya, tapi menurut saya sih tempat ini lebih keren ketimbang taman safari 🙂

Lama-lama hutannya melebat, seiring dengan lanjutnya laju mobil kami. Tahu-tahu jalan lurus itu berakhir buntu pada sekelompok pondok kecil. Di depan pondok-pondok itu, kami lihat tulisan baru, Selamat Datang di Pantai Bama.

Ekosistem Pantai Bama Baluran

Saya menghela napas lagi sambil ketawa. Tuhan memang Mahabesar. Baru saya dimanjakan lihat savana seluas-luas kecamatan, tetiba savananya bersambung dengan pantai!

Untuk bisa parkir di Pantai Bama ini, kami harus bayar parkir lagi. Yang jaga parkirnya cukup banyak. Ternyata di sini, selain pantai yang ditumbuhi hutan tropis, juga ada hutan bakau. Plus kantin dan beberapa pondok kecil untuk penginapan.

Tapi yang cukup menonjol adalah, di Pantai Bama ini banyak sekali monyet!

Monyet (Mocaca facicularis) di foto ini mungkin adalah binatang yang paling gampang ditemukan di pantai hutan tropis Bama ini.
Kadang-kadang kalo beruntung, di sela-sela pohon akan muncul saudaranya, lutung (Trachypithecus auratus cristatus), yang warna bulunya hitam dan cenderung lebih pemalu.

Ketika kami turun dari mobil, monyet-monyet itu menatap kami dengan pandangan menyelidik, seolah-olah curiga kami membawa makanan. Suami saya hanya membawa kameranya, sementara saya cuma bawa tas selempang kecil berisi smartphone. Akhirnya monyet-monyet itu cuekin kami, lalu sibuk main-main sendiri. Kali ini saya bilang sama Fidel supaya jangan sok akrab sama monyet kayak pas dia manggil-manggil kerbau dan rusa tadi.

Pantai Bama sepi sekali. Hanya ada 2-3 rombongan turis lain selain keluarga kami. Ada 3-4 ayunan di pesisir pantai. Setelah puas main-main sebentar, saya ajak Fidel menyusuri pantai.

Saya memperkenalkan Fidel kepada ganggang-ganggang di Pantai Bama, Baluran.
Keanekaragaman hayati tingkat spesies pada ganggang di sini masih merupakan keanekaragaman hayati tingkat sedang, karena didominasi Padina sp.

Airnya pantai ini bersih banget. Pantainya juga landai, tidak ada tanda dilarang berenang. Saya jadi menyesal karena tadi tidak bawa baju ganti. Saya tidak tahu bahwa Pantai Bama ternyata bisa direnangi.

Salah satu dari hasil selfie-selfie di hutan pantai sepanjang Pantai Bama di Taman Nasional Baluran.
Hutan pantai banyak banget ditumbuhin pohon bakau yang punya andil buat mencegah abrasi supaya pulau Jawa bagian timur tetap utuh.
Kadang-kadang monyet-monyet tadi main-main ke sini, tapi sepanjang di hutan ini, saya cuman ketemu satu-dua.

Hawanya segar sekali, apalagi matahari mulai tergelincir ke barat. Agak lama kami main di pantai ini, karena baru kali ini Fidel bisa menikmati main ombak (dulu-dulu, dia selalu ketakutan).

Tetiba kami tersadar bahwa jam sudah lewat dari jam 3 sore, padahal saya janji mau pulang ke rumah Grandma sebelum maghrib (rumah nenek saya dengan Baluran ini berjarak 3 jam nyetir). Ya ampun, kami bahkan belum sempat lihat hutan bakaunya..

Hutan bakau ini termasuk yang disayang-sayang oleh pengelola Taman Nasional Baluran. Hutan bakau punya fungsi memecah angin laut supaya tidak sampai masuk merusak ekosistem savana dan hutan musim yang ada di daratan. Tapi lebih utamanya lagi, akar pohon-pohon mangrove di hutan bakau itu mencengkeram daratan supaya nggak terus-menerus abrasi lantaran dihantam ombak dari Selat Bali. Tanpa hutan bakau, agak mustahil kita membayangkan daratan Jawa Timur yang dihuni generasi mendatang masih sama luasnya dengan daratan pada hari ini. Saking pentingnya hutan bakau ini, hutan bakau termasuk paling laris jadi sasaran CSR para perusahaan. (Hutan mangrove di Surabaya juga termasuk langganan jadi tempat CSR lho).

Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Baluran

Dalam perjalanan menuju Baluran tadi, saya tidak berhenti-henti terheran-heran. Kenapa tidak banyak orang mau datang ke Taman Nasional Baluran? Ijen saja ramai, tapi menurut saya sih Baluran itu sepi bahkan pada waktu weekend. Apakah pengelola taman nasional ini tidak sungguh-sungguh berniat menjadikannya tempat wisata?

Setelah saya menyusuri satu demi satu ekosistem di taman ini, baru saya paham alasannya. Taman nasional ini area sensitif.

Saya di antara ranting-ranting semak belukar, tidak diapa-apakan saja tetap gampang terbakar di musim kemarau.
Apalagi jika sampai banyak orang nongkrong di sini.
Bayangkan kalau jenis turisnya bukan orang terdidik, tapi adalah manusia-manusia yang doyan buang puntung rokok sembarangan?

Bayangkan kalau pengunjungnya nakal-nakal. Melaju di kawasan hutan rimba sembari mengebut. Bagaimana kalau terjadinya pada bulan Mei atau Juni, ketika merak sedang getol-getolnya birahi. Jangan-jangan meraknya batal kawin lantaran ngeri mendengar motor turis yang berisik. Padahal merak sangat butuh kawin untuk mempertahankan populasi spesies merak. Dan ijab kabul merak ini perlu untuk mempertahankan keanekaragaman hayati tingkat spesies di hutan itu.

Lebih parah lagi, pengunjung yang nakal bisa-bisa nabrak ayam hutan yang lewat. Padahal, ternyata, ayam hutan itu sudah jadi binatang yang langka di bumi ini, makanya Taman Nasional Baluran berkomitmen menjaganya baik-baik. Untungnya, suami saya patuh mau menjalankan mobilnya pelan-pelan.

Tak nampak polisi hutan, jagawana, atau petugas apapun yang berpatroli. (Dan itu cukup membuat waswas seandainya ada mobil yang mogok di tengah hutan rimba atau savana.) Bahkan tidak saya temukan tempat sampah di sepanjang savana. (Kecuali mungkin di warung tadi.) Bisa jadi lantaran takut sampahnya diacak-acak monyet. Seandainya monyetnya sampai keracunan sampah lantaran menelan makanan manusia aja, barangkali berkuranglah populasi spesies monyet di sini. Itu akan jadi masalah besar bagi keanekaragaman hayati di Taman Nasional Baluran.

Jadi, sebagai pelancong yang jalan-jalan ke Taman Nasional Baluran, kita mungkin masih bisa berpartisipasi menjaga keanekaragaman hayati di kawasan ini dengan meminimalisir pembuangan sampah dan bersikap respek terhadap alam. Membiarkan hewan-hewan makan makanan alaminya, tidak melatih hewan makan makanan yang dibawa pengunjung, membiarkan mereka bermain apa adanya, dan membiarkan mereka kawin dan berkembang biak dengan tenang.

Yang mungkin masih menjadi PR bagi Taman Nasional Baluran ini, adalah kenyataan bahwa sebagian wilayah taman nasional masih tumpang tindih dengan wilayah pemukiman penduduk Situbondo. Ada pemukiman, memaksa penduduk mencari nafkah sehari-hari dengan mengambili kayu-kayu dan dedaunan di wilayah Taman Nasional. Beberapa penduduk lainnya mencari nafkah dengan beternak, dan untuk memenuhi keperluan pakan ternaknya ini, ternak mereka merumput di wilayah Taman Nasional, sehingga bersaing berebut rumput dengan hewan-hewan yang dilindungi di Taman itu. Memang untuk memberi edukasi bagi penduduk tentang pelestarian lingkungan ini masih jadi tantangan. Dan edukasi ini mungkin perlu dibarengi pendirian lapangan-lapangan kerja alternatif bagi penduduk supaya mereka tidak merambahi Taman Nasional Baluran lagi, untuk masa depan yang lebih baik.

Baluran-Banyuwangi atau Baluran-Situbondo?

Peta Lokasi Taman Nasional Baluran bisa dilihat di bawah ini:

Kamu bisa ke sini dengan mendarat di stasiun kereta Ketapang atau Bandara Blambangan di Banyuwangi. Carilah mobil sewaan yang bisa dirental sehari, lalu berkendaralah ke Baluran. Tetapi jika kamu memilih mencapai Taman Nasional Baluran dari Situbondo, boleh juga kamu bawa mobil sendiri. Antara kota Situbondo menuju Baluran akan tercapai kira-kira dalam satu jam.

Saya saja ingin kembali ke Taman Nasional Baluran lagi. Menikmati keanekaragaman hayati ekosistem di sana membuat saya bersyukur, betapa senangnya tinggal di daerah tropis yang punya andil besar terhadap keberlangsungan bumi.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

48 comments

  1. Akarui Cha says:

    Bacaan yang bergizi. Terima kasih banyak Mba Vicky. Selain dapat cerita tentang keanejaragaman hayati, saya juga mengenali Taman Nasional Baluram secara lebih mendalam seperti ditemani jalan-jalan, juga disadarkan akan betapa sebagai salah satu makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Segala, saya pun punya kontribusi di alam Bumi ini. Senang sekali bisa mampir ke mari.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sama-sama, Acha. Kedengarannya mungkin aneh, bahwa savana itu hanya padang rumput yang panas dan nggak teduh doang. Padahal sebetulnya rumput-rumput di savana itu punya tugas menyerap panas, supaya kawasan ini nggak terlalu kering kerontang macam gurun. Termasuk hewan-hewan di sana punya andil buat bikin rerumputan dan pohon bekol makin subur. Jadi di taman ini, kita belajar bahwa setiap mahkluk itu memang ada peranannya 🙂

  2. Assaifi Mc says:

    wuiihh.. lengkap sekali ulasan mbak vicky mengenai taman nasional baluran.. saya pernah ke sana sekitar tiga tahun yang lalu bersama rombongan komunitas fotografi. pemandangannya memang luar biasa keren…

  3. Wah, jalan menuju padang savana Baluran udah aspal mulus ya. Saya 2018 ke sana masih jelek banget belum diaspal *pengen nangis sungguh merasakan jalanannya kala itu. Rasanya hampir semua orang yang pernah ke Baluran pasti ingin kembali ke sana lagi, untuk lihat momen lain yang disuguhkan Taman Nasional ini. Sayapun demikian, next mungkin kalau ada kesempatan pengen nginap semalam. Biar tau paginya di Baluran kayak gimana dan berkunjung ke pantai Bama juga pastinya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Lho, jalan ini masih baru ya, Mbak? Saya kirain aspal ini sudah lamaan lho. Wah, alhamdulillah saya berkesempatan kemari pas anak saya udah gede. Nggak kebayang kalau anak saya masih bayi dan jalannya masih makadam..

  4. Mechta says:

    Minggu ini, saya 2x membaca post ttg Baluran. Aiiih..makin ingiiin deh ke sini. Oya, trims sdh menuliskan juga cara ke sini klo lewat Banyuwangi. Mufah2an sy bisa segera berkereta ke Banyuwangi, lanjut ke Baluran. Aamiin..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Amiiieen.. sebetulnya Baluran itu sudah manggil-manggil Mbak Tanti, termasuk melalui tangan saya :))
      Ayo ke sini, Mbak. Tinggal naik sepur aja :))

  5. Saat aku menginjakan kaki di Baluran, aku takjub dengan view Savana bekolnya selayaknya miniatur Africa.
    Kita bisa melihat Banyak hewan khususnya yang tidak buas menjalani habitatnya ibarat di hutan lepas. Kera di pantai Bama cukup agresif

  6. Duh Baluran, bikin kangen kepengen ke sana lagi. Udah lamaaaa banget terakhir ke sana. Tapi kalo ke sana, gak mau kulap lagi. Repot. Kepengennya jalan-jalan bawa anak. Kasian anak-anakku jarang banget lihat pohon macem-macem dan hewan macem-macem langsung di alam kayak gini. Mungkin mereka juga bakal ngerasa kayak di Afrika. Kapan ya bisa ke sana lagi? Ihiks…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Di Bandung mah nggak ada savana ya :)) Bahkan Jawa Barat belum tentu punya. Melihat hewan di habitat asli itu pengalaman yang cukup jarang, jadi value-nya gede banget buat anak-anak. Semoga Teh Nia bisa ke sini lagi 🙂

  7. Ibadah Mimpi says:

    Wahh seru banget perjalanannya di Baluran mbak.
    Rasanya udah lama banget kami gak main kesana. Hahaha…
    Mungkin weekend ini boleh dicoba sambil menenangkan diri dari kerasnya kota.

    Salam hangat dari kami Ibadah Mimpi

  8. Wahhh tempatnya bagus banget dan terawat banget disana, memang yaa keanekaragaman hayati disana terjaga banget dan terlindungi banget.. Penjaga atau orang yang merawat disana perlu diacungi jempol deh

  9. hani says:

    Baru-baru ini di suatu acara ketemu teman yang ngajak ke Baluran. Terus ancang-ancang deh kalau dari Bandung naik KA, turun di mana. Makasih infonya lengkap. Macam-macam yang bisa dilihat. Tenarnya kan savananya nan panasnya aja. Ternyata ada hutan dan pantai…
    Tapi jangan terlalu ramai lah. Kebayang kalo rame, mb Vicky kalo dipotret engga bisa sekece sekarang. Bocor…hehe…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, dari Bandung itu perlu turun dulu di stasiun kereta Surabaya, lalu oper kereta menuju Banyuwangi. Dari Stasiun Banyuwangi mengikuti rute yang saya buat di atas.

      Jangan terlalu banyak pengunjungnya sih, memang. Nanti kasihan meraknya batal kawin karena berisik :))

  10. Lina W. Sasmita says:

    Taman Nasional Baluran merupakan salah satu wish list saya yang belum tercapai. Semoga tahun ini atau tahun depan bisa merasakan suasana savana Bekol.

  11. Taman Nasional Baluran ini memang luar biasa, mbak. Dari padang savana sampai pantai ada semua. Kalau ke Banyuwangi, aku juga mau ke sini, salah satu wishlist yang belum terwujud.

  12. Syaiful BS says:

    Wah beberapa hari yang lalu aku abis dari sini nih kak. Indahnya luar biasa yaah kak. Aku juga sampai ke Pantai Bama, pantai yang cukup tenang yang masih penuh dengan kawanan monyet-monyet. hehe
    Btw, pas di Savana Bekol masih ada banyak wisatawan yang foto-foto diluar garis batas padahal udah ada papan informasi. Karena agak bahaya banyak Ular Kobra 🙁

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, papan di sana nggak terlalu informatif selain hanya sekedar larangan. Padahal kalau ditulisin bahwa sekitar situ banyak ular kobra, mungkin turis nggak akan berani melintasi garis batas itu 🙁

  13. Rora Gusdo says:

    Wahhh ini sih kayaknya keren untuk dikunjungi yaaaa…

    Tapi kayaknya turis Indonesia memang ga akan terlalu menyukai ini ya, kecuali memang yang betul-betul suka travelling dan fotografi.

    Wajib bawa anak-anak ke sini kayaknya selain ke Kawah Ijen nih…

    Memang tapi kayaknya perlu sentuhan lebuh lanjut dari pengelolanya, ya kan?

    Mbayanginnya aja kayak inget film Jurassic Park dan National Geographic, andaikan betul-betul terwujud jadi seperti itu….

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, target pasarnya di sini memang segmented. Kalo nggak demen fotografi, traveling, atau minimal ya biologi dan ekologi, kayaknya bisa kebosenan dan kepanasan di sini :))

  14. Ngebayanginnya kaya di film-film yang safari ke alam liar Afrika pake jeep.. hehe.. keren deh mba, ternyata di Indonesia ada juga wisata safari nge-trip pake kendaraan gitu ya, liat pemandangan savana yang eksotis.. ga nyangka juga bisa sekalian wisata ke pantai.. penuh kejutan

  15. amirria says:

    wah pemandangan baluran keren banget, semoga di tahun 2020 ini saya bisa datang ke Baluran! ini tempat wisata yang pengen banget saya kunjungi dari kapan tahun, semoga bisa kesana 🙂

  16. Zefy Arlinda says:

    Pengen juga foto di padang savana bareng pohon jomblo gitu mbak, keren. Itu juga kayak bukan di Indonesia, ntah mengapa malah ingat Afrika wahhahahaaa

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Nama asli pohon jomblo itu Ziziphus mauritania, Za. Soalnya pertama kali ditemuinnya ya di Mauritania (Afrika). Coba kalo pohonnya ditemuin pertama kali di Bengkulu, mungkin nama pohon bekolnya jadi Ziziphus bengkulue..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi, thank you, Ded. Memang waktu ke sini ini aku sudah mikir mau bikin featured image di mana, jadi kupilih foto pohon bekol itu 🙂
      Ayo ke sini lah, kamu pasti suka.

  17. Inna Riana says:

    suami kusuruh ke sini waktu dines ke banyuwangi. sayang dia cuma jeprat jepret sekedarnya pake kamera hp, jadi pemandangannya yah keliatan padang coklat aja. dan ga lama krna mau lanjut kerja lagi.
    kalo ngajakin aku udah abis waktu kali karna kebanyakan foto2, haha

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sayang sih, memang kalau nggak niat-niat amat menikmati pemandangannya, pasti cepet bosen. Waktu aku ke sini, niatnya cuman sejam doang, Teh. Tapi ternyata lupa waktu, jadi ngendon berjam-jam di sana saking keasyikannya :))

  18. Serunyaaa…….. Mau tanya deh..kalau kita ke Taman Nasional Baluran trus di dalamnya kepengen ke toilet, ada ga mbak Vicky? Soalnya suatu hari kepengen ajak anak dan orangtua ke sini. Itu kalau ada macan beneran gimana ya hehehe… Savana seperti ini serasa bukan di negara kita ya keren amat. Bangga sama Indonesia yg destinasinya terbentang luas begini. Jadi agenda wajib ah next vacation..mudah2an kesampaian.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Toilet umum adanya di gedung gerbang depan, di kompleks perumahan dinas staf di Savana Bekol, dan di kamar bilas Pantai Bama. Sebetulnya kalau pipis di semak-semak sih nggak akan bahaya, paling-paling diketawain rusa, itu juga kalo rusanya bisa ketawa :))

      Macan nggak ada di sini pada siang hari. Adanya di Zona Konservasi, hanya orang-orang tertentu yang kudu dikawal petugas yang boleh ke sana. Bisa juga berada di sini pada malam hari, tapi hanya orang-orang yang dikawal khusus yang berada di sini pada malam hari, dan pasti lansia dan anak nggak termasuk kategori itu.

  19. Pertama, saya nggak tahu apakah Mbak Vicky ini punya latar belakang pendidikan Biologi atau tidak, tapi terima kasih sudah menuliskan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan dengan benar (mulai dari huruf besar kecilnya hingga cetak miringnya).

    Saya pun pernah ke Baluran dan memang sepertinya tempat ini harus dibiarkan sepi. Saya tidak tahu apakah jumlah pengunjung dibatasi tiap harinya atau tidak. Kalau tidak, seharusnya sih diberi batas ya.

    Beruntung sekali mbak bisa bertemu dengan kerbau liar. Waktu saya ke sini, saya cuma lihat monyet saja. Entah kerbaunya lagi sembunyi dimana. ahahahah

    Terima kasih sudah berbagi ya, Mbak

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kerbaunya berenang saban siang hari di kubangan belakang spot tengkorak kerbau itu, Bang. 🙂 Jumlah pengunjungnya nggak terbatas, tapi memang sepi banget tempat ini.

      Saya bukan biolog murni, cuma dokter sih. Tapi tatacara menulis nama ilmiah itu pelajaran kelas 5, jadi anak lulusan SD mestinya tahu caranya nulis nama biologi dengan benar :))

  20. Rizka says:

    Dulu belajar Ekosistem, spesies, gen itu pas SMP, lupa-lupa inget pas baca tulisan ini langsung inget lagi.
    aku belum pernah ke Baluran dan baru tau kalo itu luas banget dan sampai ke Pantai. enaknya kalo kesana nginap semalam jadi puas ya Mbak.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang bener, sebaiknya cari homestay yang bertetangga dengan Baluran, atau sewa cottage di dalam Taman Nasional Baluran sekalian, jadi bisa deh menikmati Baluran dari sore sampai siang 🙂

  21. Amir says:

    Ayam hutan masih ada di tempat saya. Warga di tempat saya sadar bahwa alam harus dijaga dengan baik.

    Kalau di tempat saya ayam hutan, ayam alas, atau pitik alasan, warnanya biru kehitaman dan mengkilat. Mereka akan terbang saat kaget bertemu manusia. Kokok ayam ini juga sama seperti ayam jawa pada umumnya. Namun lebih kecil dan lantang.

    Mereka suka hinggap di pohon-pohon dan tidurnya pun sepertinya juga di pohon. Ayam alas ini sangat dilindungi karena sudah sangat langka.

    Mari jaga alam agar keanekaragaman hayati tetap terjaga di bumi ini

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Senangnya Amir bisa tinggal bersama-sama ayam hutan. 🙂 Saya aja cuman bisa lihat sekelebat pada waktu ke Baluran itu. Lainnya hanya bisa saya lihat di internet 🙂

  22. nurulrahma says:

    Serasa lagi didongengin guru IPA dgn cara yang FUN! hehehehe
    Aku kepikir nih yaaa… sakjane instead of piknik ke Bali/Jogja dll yg destinasi mainstream, alangkah baiknya anak2 SMP/SMA itu piknik ke sini. Lebih maknyusss, piknik sekaligus belajar dgn cara menyenangkan.

    O iya. kalo ke Baluran ini, aku terjerat HALU serasa lagi biki video clip pake lagunya Raisa hahahah

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya ya, Nur, aku rasa juga begitu. Tapi membayangkan mereka datang berombongan bis dan berbuat gaduh di Pantai Bama, mungkin akan membuat monyet-monyet itu pada jiper sehingga ngumpet bersama lutung di dalam mangrove.. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *