Pemasok Makanan dari Hutan Mangrove

Di mana ada pantai, pasti di situ ada hutan mangrove. Bangsa kita ini bisa punya banyak pantai, berkat konsekuensi kita menjadi warga negara kepulauan. Hutan mangrove di negeri kita ini bahkan hampir seperempatnya total hutan mangrove sedunia. Ironisnya, hutan mangrove di negeri kita ini sudah mulai menyusut, atas nama meluasnya tambak udang warga sekitarnya dan kebeletnya warga akan kayu bakar. Padahal, banyak dari kita nggak sadar bahwa hutan mangrove ini adalah pemasok sumber makanan. Dan, makanan dari hutan mangrove itu bisa jadi komoditas bagi banyak orang.

Menelusuri Fungsi Hutan Mangrove sebagai Sumber Makanan

Suatu hari saya iseng browsing pada dua marketplace terbesar di Indonesia, yaitu Tokopedia dan Shopee, mencari-cari apakah di sana tersedia produk makanan dari hutan mangrove. Masyarakat kita ini seneng belanja online, termasuk untuk urusan makanan, jadi minat mereka akan suatu produk makanan mestinya tercermin pada jumlah sales pada kedua marketplace tersebut.

Ternyata, hanya segelintir yang saya temukan. Saya nemu pedagang madu mangrove asal Pontianak dan beberapa vendor sirup mangrove dari Surabaya dengan catetan sales yang menurut saya nggak gede-gede amat, nggak sampai 10 kg. Yang paling populer adalah distributor kopi mangrove asal Tulungagung, yang bisa menjual sampai 30 kg kopi. Padahal, penjual kopi ini kulakan barangnya dari Pamekasan dan Sampang (Madura). Pedagang kopinya di Madura sana malah belum bisa menjual sampai sebanyak itu di marketplace.

Sirup mangrove yang dijual di hutan mangrove Surabaya ini sering saya temukan di marketplace.

Apakah produsen bahan pangan mangrove ini memang belum laris memasarkan produknya, atau memang pasar masyarakat kita belum ngerti bahwa ada makanan yang berasal dari hutan mangrove?

Karena saya ingin menyelidiki kenapa makanan dari hutan mangrove jarang dicari orang, maka saya pun nyoba bertandang ke hutan mangrove. Kebetulan, kota Surabaya tempat saya tinggal ini punya hutan mangrove yang juga jadi tempat wisata andalannya warga kota. Di sini, nggak cuman kita nemu ambience yang rindang kehijauan a la hutan, tetapi juga ada lapak yang jualan makanan olahan dari tumbuhan hutan mangrove.

Hutan Mangrove di Surabaya

Alamnya Surabaya, memang klop banget bagi pepohonan mangrove untuk tumbuh. Berada di pinggir pantai, hutan mangrove ini memanjang dari Surabaya timur hingga menembus Sidoarjo. Saking gedenya hutan mangrove di Surabaya ini, sampai-sampai Surabaya punya dua hutan, hutan mangrove Gununganyar dan hutan mangrove Wonorejo. Saya milih datang ke Wonorejo, karena lebih familiar sejak terakhir kali saya bertandang ke Ekowisata Mangrove Wonorejo lima tahun yang lalu.

Konsep Ekowisata Wonorejo ini sih kayak taman kota aja yang tiket masuknya gratis, saking aja bentuk tempat ini berupa hutan. Orang masuk ke sini nggak kayak lagi mau berburu dengan pasukan jagawana, tapi ya kayak jalan-jalan casual aja di jalan setapak yang dibikin dari kayu ulin. 

Hutan mangrove Surabaya yang berada di Wonorejo ini, bisa dijelajahin cukup dengan menyusuri jalan setapaknya aja.
Pengunjung bisa memegang pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan jalan ini.
Yang nggak boleh, cuman buang sampah sembarangan aja.

Ada sungai lebar yang membelah hutan ini, mengalir menuju Selat Madura. Pengelola hutan menghibur para turis dengan nyediain perahu motor berkapasitas sekitar 20 orang. Dengan membayar perahu ini, turis bisa menyusuri sungai dan menikmati pemandangan Childonias hybridus yang beterbangan di antara pepohonan nipah di tepi sungai.

Beberapa pohon kadang-kadang sudah berbuah, misalnya pohon pidada merah dan pohon lindur. Tapi ini bulan Februari, buahnya masih kecil-kecil. Sebetulnya rada kurang kerjaan juga kalau mau iseng metik buah, sebab buahnya itu tumbuh di dahan yang jauh dari jangkauan turis, sementara jalan setapaknya sendiri dipagerin.

Orang-orang datang ke sini lantaran seneng foto-fotoan selfie di depan pepohonan yang hijau. Atau memang ngincer perahu shuttle buat keliling sungai. Saya iseng tanya beberapa orang turis, “Mbak/Bu, ini pohon apa sih?” 

Dan mereka pun selalu jawab, “Pohon mangrove, Mbaaak..”

Saya ketawa dalam hati, ya iyalah anak kecil juga tau itu.

Memang tak ada guide yang nganterin turis buat ngejelasin pohon apa aja di situ. Meskipun di paling depan hutan tertera papan yang menjelaskan bahwa di dalam hutan mangrove ini ada sekitar 20 spesies tanaman yang berbeda.

Disambut Buah Pidada di Hutan Mangrove Wonorejo

Semenjak di pintu masuk, kita bahkan udah disambut pepohonan pidada merah (Sonneratia caseolaris) di kiri-kanan jalan setapak yang dibangun dari kayu. Satu-dua pohon diberi papan nama yang menunjukkan nama tanemannya itu.

Rasanya girang ketika menemukan satu-dua pohon pidada merah yang sudah berbuah dan masih menggantung di cabang rantingnya. Jarang yang masih menggantung begini, sebab sifat buah pidada ini, kalau sudah matang, maka buahnya akan jatuh sendiri ke tanah (dan jadi sulit untuk dijangkau turis).

Buah pidada merah yang saya temukan masih kecil.
Memang warnanya hijau, tapi ketika saya belah di rumah, baru ketahuan ada getah merahnya.
Di suku Jawa, pidada merah ini populer juga dengan nama buah bogem.

Oh ya, selain pidada merah, sebetulnya ada pidada putih juga lho (alias Sonneratia alba). Cuman kebetulan pas saya ketemu pohonnya di hutan ini, pohonnya lagi nggak berbuah. Lagian buahnya sebetulnya bukan untuk jadi bahan makanan sih, melainkan baru jadi bahan herbal untuk bikin obat tradisional.

Hijaunya Semak Daun Jeruju

Area hutan yang penuh pohon pidada tadi pun berakhir di pinggir sungai. Di sinilah tempatnya dermaga, lokasi pemberangkatan perahu shuttle yang mau mengantar jemput turis yang ingin keliling sungai. Di sebelah timur dermaga, pepohonannya mulai cenderung lebih rimbun, dan jauh lebih mirip hutan ketimbang kebun pidada yang masih mirip taman kota tadi. Saya pun masuk ke hutan ini melalui jogging track dari bambu.

Yang pertama kali menyapa saya adalah semak-semak setinggi perut saya. Pada salah satu pohon semak yang pendek ini, saya menemukan penanda bertuliskan daruju. Ini istilah orang Jawa untuk jeruju (Acanthus illicifolius).

Seperti halnya pada buah dan akarnya, daun jeruju juga sudah berdekade lamanya dipercayai sebagai bahan herbal untuk pengobatan tradisional.
Di India, pernah ada riset yang menemukan bahwa daun jeruju ini punya potensi untuk mengurangi sel-sel kanker.
Tapi penelitian ini baru sampai ke tahap penelitian pada hewan percobaan, belum sampai penelitian pada manusia.

Jeruju ini tanaman mangrove yang lebih populer ketimbang pidada merah untuk diolah jadi makanan. Jika pidada merah paling banter cuman diambil buahnya doang, maka jeruju berkontribusi lebih banyak lagi. Buah dan akarnya jeruju sudah lama dimanfaatkan orang jaman dulu sebagai obat tradisional, meskipun saya sendiri belum nemu riset ilmiah yang mendukung fenomena itu. Di Indonesia, alasan paling serius para UMKM mengincar jeruju adalah lantaran daunnya bisa dijadikan daun teh.

Yupz, ternyata teh itu nggak melulu dari taneman Camellia kayak yang biasa kita lihat di kebun tehnya PTPN XII yang harus tumbuh di dataran tinggi. Tapi teh juga bisa dihasilkan dari taneman yang tumbuh di dataran payau seperti hutan mangrove ini. Kalau kita pernah ditawari minuman teh mangrove di restoran, maka sebetulnya yang dimaksud itu adalah teh jeruju.

Di Surabaya ini, nggak pernah saya ketemu sama bakul yang jualan teh mangrove. Saya justru baru ngincipinnya itu teh mangrove dari Pamekasan.

Teh jeruju, salah satu produksi dari tanaman mangrove ini, dihasilkan oleh pengrajin mangrove di Pamekasan, Madura.
Sedangkan nastar di depannya ini berisi selai yang dibikin dari buah pidada merah, produk dari pengrajin olahan mangrove Somano di Surabaya.
Cara Mengolah Daun Jeruju Menjadi Teh

Daun jeruju yang hendak dijadikan teh, dikumpulkan dulu, lalu dicuci bersih. Dedaunan ini digunting kecil-kecil, kemudian dijemur hingga kering. Sekeringnya itu, sejumput potongan daun teh diseduh dengan air hangat, baru siap disajikan.

Calon-calon Buah Lindur

Semak-semak jeruju yang pendek-pendek seperti pohon teh, mulai berganti menjadi deretan pepohonan lindur (Bruguiera gymnorrhiza) yang tinggi-tinggi. Dedaunannya tak terlalu rimbun, cahaya matahari masih bisa masuk menembus pepohonan yang meneduhi jogging track.

Saya memegang batang salah satu pohon lindur di hutan mangrove.
Perhatikan, di antara batang pohon lindur ini banyak sekali terdapat akar nafas yang merupakan alat pohon ini untuk memperoleh oksigen.

Di antara dahan-dahan pohon  lindur ini saya menemukan 1-2 buah kecil-kecil macam kapsul, berwarna hijau dan punya selubung yang berwarna pink. Orang-orang biasa menyebutnya buah lindur.

Sayangnya buah lindur yang saya lihat kali ini belum seindah lindur yang saya lihat di gambar-gambar internet. Buah lindur di internet cenderung gonjreng kayak fuchsia, tapi lindur-lindur yang saya lihat ini masih pucet. Bisa jadi karena bulan ini belum musim berbuah, sehingga buahnya masih kecil-kecil dan belum matang. 

Jarang ada pengrajin mangrove di Surabaya yang memanfaatkannya sebagai bahan makanan. Buah lindur ini gampang-gampang susah nyimpennya, kalau cara nyimpennya salah ya cepet bosok. Nggak heran di Surabaya jarang ada yang mau mengolah buah lindur. Makanya banyak orang di daerah lain, kayak Tanah Laut (Kalimantan Selatan) misalnya, milih segera mengolah lindur ini dengan menumbuknya menjadi tepung. Dari tepung ini, tercipta dodol mangrove, sirup mangrove, kue mangrove, dan lain-lainnya yang serba mangrove. Karbohidratnya buah lindur ini lebih gede daripada beras lho, alias makan lindur sebetulnya lebih kenyang daripada makan nasi.

Tinjang, Sumber Kopi Mangrove

Makin ke dalam saya masuk hutan, hawa makin sumuk dan lengket. Ternyata benar, semenjak memasuki kebun putut tadi, memang terasa hawa yang makin lembab. Tetumbuhan yang ditanam di sini cenderung beda dari kebun pidada tadi. Dan di sini saya menemukan pepohonan lain yang mirip lindur tadi, hanya saja yang ini akarnya berbeda. Namanya tinjang.

Pohon tinjang (sering juga disebut bakau merah) butuh tanah yang garamnya cenderung lebih pekat.
Makanya dalam hutan mangrove itu, lokasi tumbuhnya tinjang cenderung lebih dekat ke pinggir pantai.
Saya sedang menengadah mencari buah tinjang yang kecil-kecil, tapi belum ada.
Buah tinjang ini bisa diolah menjadi semacam minuman kopi, namanya kopi mangrove.

Akar pohon lindur tadi cenderung rapet-rapet, berbeda dengan akar pohon tinjang (Rhizophora stylosa) yang cenderung lebih longgar. 

Batang pohon tinjang cenderung tinggi-tinggi. Saya menengadah mencari buahnya, tapi tidak saya temukan. Mungkin buahnya kecil-kecil, atau memang belum waktunya berbuah juga. Buah tinjang ini sebenarnya menarik karena bisa dijadikan kopi.

Iya, ternyata kopi nggak juga melulu harus berasal dari tanaman Coffea sp. yang minta tumbuh di hawa dingin itu. Tinjang sendiri juga menghasilkan buah yang kalau diolah pun menjadi minuman yang rasanya mirip kopi. Dan karena tidak berasal dari Coffea, praktis kopi mangrove ini nggak mengandung kafein.

Di Indonesia ini, sudah banyak penduduk sekitaran hutan mangrove yang memanfaatkan pohon tinjang ini untuk dibuatkan kopi mangrove. Yang lumayan dekat Surabaya, penjual kopi mangrove bisa ditemukan di Pamekasan.

Kopi mangrove ini dibikin dari buah tinjang (Rhizophora stylosa) yang dicampur dengan jahe dan cabai jahe, oleh pengrajin mangrove yang juga berasal dari Pamekasan.
Dipasarkan sebagai kopi yang konon dapat memperkuat stamina pria dewasa.
Saya sendiri mencicipinya, merasa kopi ini masih didominasi jahe.

Lha terus, makanan apa dong yang saya sukain dari hutan mangrove ini? Hm, sebetulnya bukan makanan sih, tapi lebih tepatnya ya minuman. Saya tetep lebih suka buah pidada di bagian depan hutan tadi, soalnya bisa dijadikan sirup mangrove.

Jungkir Balik Sirup Mangrove

Namanya mungkin beken sebagai sirup mangrove, tapi di Surabaya sini lebih terkenal sebagai sirup bogem. Karena asal sirup ini dari buah bogem alias buah pidada merah (yang saya bilang tadi bahwa nama latinnya adalah S. caseolaris).

Pidada merah sendiri merupakan hasil hutan mangrove yang paling populer di kalangan petani mangrove Surabaya. Buah ini sebetulnya tumbuh di hutan mangrove se-Indonesia, dan sudah lama dipake sebagai obat tradisional juga. Pidada merah pernah diteliti bisa mengurangi diabetes.

Buah pidada merah ini telah diteliti dan ternyata potensial untuk mengurangi penyakit diabetes.
Hanya saja penelitiannya baru terbatas pada hewan percobaan, sehingga buah ini belum dapat dijadikan sebagai obat anti diabetes.
Saya sendiri menggunakan sirup mangrove dari pidada merah ini sebagai pemanis minuman, dan saya merasa sirupnya sama manisnya dengan sirup-sirup sejenis dari merk yang sudah terkenal.

Para petani di hutan mangrove biasa memanen buah pidada merah, lalu merebusnya dan melumatkannya. Kemudian lumatan ini disaring, sehingga menjadi cairan dan ampas. Cairannya dijadikan sirup, sedangkan ampasnya tinggal dijemur, lalu digiling sehingga akan menjadi tepung. Tepungnya ini nanti dapat diolah menjadi selai.

Di Surabaya, selai mangrove ini bisa dijual bebas, tapi kebanyakan petani lebih suka mengolahnya menjadi isian kue nastar atau isian cokelat batangan. Makanya di hutan mangrove Surabaya, kita bisa belanja oleh-oleh berupa kue mangrove dan cokelat mangrove yang pada dasarnya berisi selai dari bogem tadi.

Selain Surabaya, baik Indramayu maupun Jogja juga menjual sirup mangrove mereka di marketplace. Beberapa kali saya mencoba membelinya online, tapi seringkali gambling lantaran banyak yang statusnya kudu pre-order. 

Tak banyak penjual sirup mangrove di Surabaya, mungkin tak sampai 10 perusahaan, itu pun masih perusahaan berukuran UMKM. Salah satu problemnya, para pengusaha UMKM ini sering kesulitan cari mitra untuk memanen buah bogem yang menjadi bahan utama sirup bogem ini.

Seperti yang saya bilang tadi, buah pidada merah yang matang biasanya jatuh sendiri ke tanah. Jadi, petani kudu sabar memulung buah ini di tanah, apalagi kalau lagi di bulan-bulan seret yang pohonnya jarang berbuah. Beberapa petani kadang nekat cari jalan pintas dengan memetik sendiri pakai galah, tapi sebagai hasilnya malah mereka mendapatkan buah yang belum matang. Inilah yang bikin para pengepul pidada merah rada sulit memercayai mitranya untuk mengumpulkan buah yang matang sungguhan.

Memang, masa subur buah pidada merah itu cuman antara Agustus sampai Oktober doang. Di bulan-bulan lainnya sih ya masih berbuah, tapi ya ukurannya kecil-kecil kayak yang saya pegang ini. Kadang-kadang ada juga pohon yang bandel nggak mau berbuah selama setahun, sehingga bikin gemes para pelaku industri pangan dari hutan mangrove.

Pak Karyono yang sedang bercerita kepada saya ini ialah pengusaha UMKM yang mengolah pidada merah di hutan mangrove ini menjadi sirup.
Sirup produk beliaulah yang saya temukan sebagai sirup mangrove asal Surabaya di marketplace, dengan merk Somano.
Somano itu singkatan dari SOnneratia MAngrove WoNOrejo.

Kebanyakan penjual sirup mangrove memang masih pakai teknik tradisional untuk memproduksi sirupnya. Pak Karyono, penjual sirup bogem yang saya temuin di hutan mangrove Surabaya ini, bilang bahwa sirupnya nggak pakai pengawet. (Dan saya juga ragu apakah sudah ada penjual-penjual sirup bogem lainnya yang pakai pengawet). Sebetulnya ketiadaan pengawet dalam produk ini mengurangi daya simpan dari produk, bikin produk jadi nggak tahan lama ketika sedang dikulak oleh penjual tangan kedua. 

Bisa jadi, ini sebab lain kenapa belum terlalu banyak orang yang berminat terhadap sirup mangrove. Dan inilah sebabnya kenapa saya ingin menulis ini, untuk memberi tahu bahwa sirup mangrove ini memang sirup asli bikinan petani mangrove, yang berusaha memberikan nilai tambah bagi tanaman hutan anti-abrasi ini.

Menurut pengusaha sirup mangrove yang saya ajak ngobrol, hasil penjualan sirupnya di marketplace tidak banyak-banyak amat. Tetap aja lebih banyak produknya yang terjual di lapak offline mereka di dermaga hutan mangrove. Nampaknya orang yang kepingin beli sirup mangrove ini memang jenis target pasar yang segmented, alias orang yang memang berminat terhadap olahan dari tanaman hutan mangrove. Dan untuk menemukan calon konsumen kayak gini, memang butuh effort besar.

Dibalak Penduduk karena Lapar, sampai Pencemaran

Hutan mangrove di Indonesia sendiri sekarang menghadapi problem deforestasi, alias sederhananya: penyusutan luas lahan hutan. Banyak area hutan mangrove di Indonesia yang pepohonannya berkurang. Alasan paling sering: Penduduk lebih suka hutan mangrove dijadikan arena tambak udang. Alasan kedua, banyak yang masih menyangka fungsi hutan hanya sebagai sumber kayu bakar.

Hutan mangrove banyak menyusut karena manusia lebih memprioritaskan urusan perutnya ketimbang memikirkan masa depan.

Ini jelas problem berat, karena hutan mangrove mestinya jadi hutan lindung lantaran fungsinya yang cukup signifikan: mempertahankan luas daratan. Sulit membayangkan daratan tetap kokoh tanpa menjadi ambrol kena hempasan air laut jika tak ada akar-akar pohon tinjang, pohon nipah, dan pohon api-api yang mencengkeram daratan tersebut.

Memang ada beberapa pohon di hutan mangrove yang batangnya cukup lumayan sering dipakai jadi bahan kayu bakar, misalnya pohon tanjang (Rhizophora mucronata, masih bersaudara dengan pohon tinjang tadi), tapi mereka nggak mengerti bahwa banyak dari pohon-pohon di hutan ini bisa berfungsi sebagai sumber makanan yang bisa dijual.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat penebang pohon ini banyak diajari untuk mengolah tanaman hutan mangrove menjadi bahan produk makanan. Maka lambat laun, masyarakat yang semula bawa-bawa kapak itu pun kembali ke rumah, lalu merombak dapur rumah mereka menjadi pabrik sirup mangrove, kopi mangrove, dodol mangrove, kripik mangrove, dan lain sebagainya untuk dijual. Sadar bahwa makanan-makanan ini bisa membuat dapur rumah mereka mengepul dan bikin perut mereka kenyang, mereka mulai berhenti menebangi hutan mangrove. Bahkan satu per satu, penduduk mulai menanami hutan mangrove kembali dengan tanaman yang baru.

Tak semudah itu juga mengharapkan hasil pangan yang bermutu dari hutan mangrove. Pesatnya pembangunan pabrik-pabrik di sekitar hutan mangrove, menimbulkan kecemasan bahwa limbah logam-logam beratnya akan mencemari air tanah hutan mangrove. Yang dikhawatirkan dari polusi air tanah ini, apakah daun jeruju dan buah pidada itu juga akan ikut-ikutan mengandung logam berat?

Bagian yang tersulit sebetulnya adalah membersihkan area hutan mangrove supaya layak ditanami. Ketika saya berjalan-jalan di hutan mangrove, saya menemukan bahwa hampir seluruh tanah hutan ini dipenuhi akar nafas. Akar nafas ini ternyata menjadi semacam paru-paru bagi pohonnya untuk dapat berkembang biak. Tapi, akar nafas ini tidak bisa berfungsi jika tertutup oleh benda lain. Misalnya, sampah.

Di hutan mangrove Surabaya, di sekitaran area yang ditumbuhi pohon tinjang dan pohon api-api, kebanyakan akar nafasnya telah tertutupi sampah yang nampaknya dibuang oleh penduduk.
Padahal pohon tinjang (R. stylosa) adalah sumber kopi, sementara pohon api-api (Avicennia marina) adalah sumber bahan tepung kue.

Hutan Mangrove dan Kita

Hutan mangrove memang signifikan buat menjaga luas daratan tempat kita tinggal. Masyarakat perlu terus-menerus disadarkan bahwa menebang hutan ini akan bikin daratan jadi jebol. Dengan memberi tahu khalayak ramai bahwa hutan mangrove bisa menjadi sumber pangan yang ekonomis, tentu akan bikin banyak orang sadar bahwa hutan mangrove harus dipertahankan. Mungkin, dengan kampanye bahwa banyak makanan dapat diproduksi dari hutan mangrove, bisa membuat banyak orang mau tetap memenuhi nafkah mereka sendiri tanpa harus mengorbankan pelestarian hutan mangrove.

Bagaimana dengan kalian? Jika kalian ditawari untuk membeli bahan pangan dari hutan mangrove, makanan atau minuman apa yang ingin kalian konsumsi?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

30 comments

  1. Gita sarrah says:

    Waktu masih tinggal di Surabaya saya pernah main ke hutan mangrove Wonorejo satu kali. Cuma sayang waktu itu datangnya kesorean jadi cuma naik perahu n ga sempet turun n explore ke hutan mangrove nya. Ternyata potensi mangrove ini luar biasa ya. Saya baru tahu kalo mangrove bisa diolah jadi sumber pangan (sirup dan lain-lain). Jadi pengen coba sirup mangrove.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Oiya, memang sebetulnya untuk keliling hutan mangrove ini butuh minimal 2 jam. Satu jam buat keliling paket perahunya pulang pergi, dan setengah jam buat ngeliat-liatin pohonnya 🙂

  2. Dinilint says:

    Hutan Mangrove-nya Surabaya ternyata seru, lebat, & luas ya mbak.
    Aku malah jadi pengen ikutan explore Hutan Mangrove Surabaya nih.
    Aku pun baru tahi, ternyata jenis tumbuhannya macam2 dan gunanya jg macam2.
    Trus jadi pengen nyicip sirupnya deh.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Betul. Dulu aku juga seperti Dini, tahunya taneman mangrove cuma yang di foto-foto pinggiran pantai itu. Setelah aku turun sendiri ke hutan mangrove dan jeli ngeliatin pepohonan, ternyata tiap pohon itu berbeda, dan penghasilan masing-masing pohon juga berbeda. Dan yang kayak gini nggak cuman ada di hutan mangrove Surabaya, tapi sebetulnya keanekaragaman begini ada di hutan-hutan mangrove seluruh Indonesia. 🙂

  3. Sejauh ini fungsi mangrove yang banyak di gaungkan adalah mencegah abrasi dan erosi pantai Disamping sebagian besar untuk ecowisata. Tapi bila di kaji lebih mendalam hutan mangrove juga bermanfaat sebagai penyimpan alternatif pangan

  4. Dedew says:

    Wah tulisanmu lengkap banget say, jadi takjub kekayaan hutan mangrove ya, banyak benar buahnya..aku pernah icip sirup pidada dari mangrove Cirebon, unik dan enak..semoga bisa makin dikenal ya produknya..

  5. Bara Anggara says:

    aku baru tahu kalau ternyata di dalam hutan mangrove ada beragam jenis tanaman,, selama ini ngiranya cuma ada pohon bakau aja.. membuka wawasan bgt artikelnya mbak 🙂

    buah pidada ini kek duren yaa, kalau sudah matang buahnya jatuh sendiri..

    Ternyata banyak bgt khasiat dari hutan mangrove dengan berbagai tanaman yang tumbuh di dalamnya.. Saya baru tahu.. Dan di luaran sana pasti banyak yang belum tahu juga.. Semoga hutan mangrove kita tetap lestari..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, kebanyakan orang menyangka bahwa hutan mangrove itu adalah hutan bakau. Kurang tepat juga, sebab ternyata di dalam hutan mangrove itu nggak cuma ada hutan bakau, tapi ada hutan nipah, hutan jeruju, hutan pidada, dan lain sebagainya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Di hutan mangrove ini, batang-batang pohonnya ditempeli papan nama yang bertuliskan nama spesies tanamannya. Jadi kita gampang mengidentifikasinya. 🙂

  6. ZEEVORTE says:

    Di daerah saya hutan manggrove kalbar hanya di jadikan untuk menahan abrasi dari laut agar pantainya tidak tergerus, namun setelah saya membaca artikel ini ternyata bisa juga memiilki manfaatnya apalagi buah pidada merah memiliki khasiatnya tersendiri

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Fachrur, makasih udah mampir ke sini ya 🙂

      Sayang banget hutan mangrove di Kalimantan Barat sana belum dieksploitasi buat pangannya. Saya baru tahunya, mangrove di sana baru dimanfaatkan sebagai lahan peternakan lebah untuk menghasilkan madu. Padahal tentu di sana ada banyak tetumbuhan yang bisa dimanfaatkan lebih banyak lagi daripada sekedar jadi sarang lebah atau jadi pencengkeram pantai.

      Mudah-mudahan rakyat pesisir Kalimantan Barat mau belajar lebih banyak, sehingga hasil hutannya bisa digunakan lebih kreatif lagi untuk memenuhi kebutuhan makanan rakyat di sana. 🙂

  7. Syaiful BS says:

    Wah setuju kak, manfaat dari pohon mangrove emang banyak banget. AKu juga sama temen-temen di Bekasi sedang meneliti dan mengembangkan olahan mangrove hihi doakan yaa kak 🙂

  8. Hani says:

    Mbak….sirupnya ada rasa dan wangi tertentu ga? Kayak markisa itu.
    Semoga ada penelitian lanjutan kalau memang benar manfaat u diabetes. Tapi jadi engga bisa mengonsumsi sirupnya dong.
    Aku jadi belajar nih baca artikelnya. Soalnya belum pernah jalan² di hutan mangrove.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sirupnya harum. Tapi aku sendiri bukan pengamat buah, jadi nggak bisa memutuskan apakah keharuman buah pidada merah dalam sirup ini unik atau enggak.

      Memang buah pidada merah ini punya potensi anti glukogenik, sehingga mungkin bisa menjadi menu pilihan bagi penderita diabetes yang berusaha mengurangi gula. Tapi nanti kalau sudah ada penelitian yang menegakkan bahwa pidada merah ini memang anti glukogenik pada manusia, baru deh kita bilang sirup ini cocok untuk menghambat diabetes.

      Ini kebanyakan yang ngomong belum pernah jalan-jalan ke hutan mangrove itu orang-orang Bandung atau Solo ya. Yang memang daerahnya bukan kawasan untuk tumbuhnya hutan mangrove.. 😀

  9. Hu hu hu … sedih lihat foto terakhir yang banyak sampahnya itu. Kalau saya membayangkannya hutan adalah paru-paru bumi. Manusia kalau paru-parunya udah sakit bisa mempengaruhi banyak aktivitas. Jadi suka membayangkan bagaimana kalau paru-paru bumi yang sakit

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya. Sebagian dari hutan ini memang telanjur sakit karena akar nafas pohonnya tersumbat oleh sampah. Susah kayaknya merevitalisasi bagian hutan ini dengan sampah segitu banyaknya

  10. Tanaman mangrove itu batanng dan akarnya terlihat unik dan agak menyeramkan ya hehehe…Siapa sangka ternyata malah bisa menghasilkan makanan dan minuma yang berkualitas bagi masyarakat. Bisa menambah pemasukan warga setempat yang turut andil dalam usaha produksi dll. Semoga ke depannya pemerintah makin memperhatikan hal ini dengan UMKM dll memajukan usaha pangan dari hutan

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Yang akarnya nyeremin dari hutan mangrove itu cuman pohon lindur sama pohon tinjang aja, Teh, soalnya kayak yang mau kecabut gitu kan akarnya. Tapi akarnya pidada dan jeruju mah enggak.

      Cuman aku harus mengakui akar nafasnya itu rada bikin serem juga. Untung aku nggak bertani, kalo sampai bertani ya parno juga sih, hahaha..

      Sebetulnya Pemerintah udah banyak mau bantu UMKM pengrajin mangrove dengan memberi pelatihan agribisnis, kalau banyak yang kudengar dari petani sih. Cuman memang memelihara ketelatenan dari para UMKM itu yang sulit, karena awal-awalnya juga dari mental. 🙂

  11. Lia Yuliani says:

    Ternyata hutan mangrove bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan juga, ya. Produknya memang jarang diketahui masyarakat luas seperti sirup, teh, dan lainnya. Saya baru tahu ada buah pidada. Unik, ya, bentuknya.

  12. Mechta says:

    Banyak sebenarnya manfaat buah mangrove ini ya.. Di tempat kami juga sdh ada pelatihan pengolahan buah mangrove tapi blm jalan produksinya, karena bahan bakunya dirasakan susah terkumpul hehe..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku baru bisa memahami kesulitan mengumpulkan bahan baku buah mangrove ini setelah bicara dengan petani mangrove di atas. Memang menunggu pohon berbuah itu tidak gampang, apalagi kalau menungggu musim segala.

  13. Pertama, aku mau mengutarakan kekagumanku dulu sama kamu, mbak. Gak banyak blogger yang concern sama masalah lingkungan kayak gini dan bisa mengemasnya menjadi sebuah tulisan berbobot.

    Aku baru tau banget kalo hutan mangrove ini bisa jadi sumber makanan dan minuman, mbak. Dari sirup, selai, teh, sampai kopi. Berharap pemerintah daerah dan pusat aware sama masalah di hutan mangrove dan bergerak cepat untuk menghentikan deforestasi.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Deforestasi bisa diperlambat jika pemerintah daerah mau bersungguh-sungguh memperhatikan kondisi AMDAL sebelum mengizinkan pabrik untuk berhenti beroperasi. Dinas-dinas perikanan juga mesti cepat tanggap jika ada laporan usaha pertambakan udang milik masyarakat mulai mengganggu hutan mangrove. Yaa..intinya kalau semua orang mau tertib tidak mengganggu hutan yang menjadi milik semua orang, deforestasi tidak akan terlaksana.

  14. Sebelumnya tidak pernah terbayang Hutan Mangrove bisa memberikan sumber pangan selain ikan, kepiting dan lain-lain. Ternyata dari tanamannya bisa jadi makanan dan minuman juga, menakjubkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *