Mencoba Melihat Kota Mati

Pada suatu hari nanti, saya ingin mengingat hari ini sebagai hari di mana Corona pernah bikin semua orang jadi susah untuk mencari nafkah. Semua.

Ini adalah hari ke-10 di mana Pemerintah sudah membujuk semua orang untuk melakukan jaga jarak, atau yang nama bekennya adalah social distancing. Semua orang disuruh buat jangan deket-deket sama manusia lain, paling tidak dalam jarak 1 meter.

Semula saya pikir itu mudah aja kalau sekedar nyuruh orang jauh-jauhan. Paling-paling orang-orang jadi nggak boleh bergerombol atau berkerumun. Tetapi saya lupa kalau urusannya sudah menyangkut bisnis restoran, bisnis perbelanjaan, maka ini bisa jadi masalah besar.

Hari ini, saya didera sumpek luar biasa. 

Pertama, WhatsApp saya down. Udah diinstal dan di-uninstall, tetep aja WA saya error melulu. 

Kedua, saya banyak banget kerjaan. Saya kudu bikin post endorsement untuk sebuah brand kue di Instastory dan saya belum selesaikan video untuk post itu. Ketiga, anak saya, Fidel, 4 tahun, kepingin lari-lari dan dia bosan gedebukan terus di dalam rumah. 

Jadi saya pikir, mungkin tak apa saya membawanya ke kafe. Nanti saya pilih kafe yang sepi gitu, biar kami nggak perlu bertemu dengan terlalu banyak orang.

Kalau soal ngafe, saya selalu pilih The Localist karena tempat itu tidak terlalu crowded. Saya inget di postingan Instagram mereka, cafe itu mengumumkan bahwa selama masa social distancing ini cafe mereka tetap buka dan melayani takeaway dan delivery. Mereka bahkan bikin menu khusus untuk takeaway itu.

Saya pikir hayu ajalah ke The Localist mumpung lagi sepi. Nanti biar saya kerja sambil ngunyah salad, sementara Fidel main di playground. Maka saya pun minta driver GO-Car untuk bawa kami ke sana.

Setiba di depan The Localist, alangkah terkejutnya saya. Di depan, ada papan tulis bertuliskan besar-besar bahwa selama masa social distancing ini hanya melayani takeaway dan delivery. Artinya saya nggak boleh makan dine in!

Tepok jidat.

Dengan penuh kuciwa saya manggil driver GO-Car lagi untuk minta diantar pulang. Dalam perjalanan pulang, saya minta maaf sama Fidel, “Nak, maaf ya, Localist-nya tutup soalnya takut ada penyakit Corona. Kita jadi nggak bisa main dulu di sana.”

Fidel kelihatan kecewa sekali karena nggak bisa main di playground. Saya mulai mikir-mikir, apakah ada tempat lain yang kira-kira playground-nya buka. Saya langsung inget di Galaxy Mall kan ada KFC, dan di KFC itu ada playground-nya biarpun cuman perosotan doang.

Maka saya langsung minta sama driver-nya diturunin di Galaxy Mall.

Saya dan Fidel masuk ke Galaxy Mall yang ternyata masih buka. Begitu masuk, saya langsung garuk-garuk kepala. Amboiii.. Ini Galaxy Mall kok jadi rasa Lenmarc? Kok pengunjungnya cuman saya doang sama Fidel? Ini mall apa kuburan? Kuburan lagian banyak satpamnya.

Lenmarc adalah sebuah mall di Surabaya yang sepi banget.

Serius deh, di tiap jarak 30 meter kayaknya ada aja satpam berjaga. Dan saya melihat lebih banyak petugas cleaning service di mana-mana lagi ngepel pakai robot bunder yang kabelnya panjang itu.

“Sepi ya Nak..” gumam saya.

“Ma, Fidel boleh lari-lari?” tanya Fidel penuh harap.

“Tidak. Nanti kamu kepeleset bekas pel,” kata saya sambil menatap nanar ke lantai yang rasa-rasanya jauh lebih mengkilap.

Gedung tempat kami berada ini adalah Galaxy Mall 3, sedangkan KFC berada di Galaxy Mall 1, di seberangnya. Kami pun menyeberang melalui jembatan mall yang melintasi Jalan Dharmahusada Indah Timur.

Saya merasa aneh. Apa cuman perasaan saya doang, atau AC di mall ini memang nggak kerasa? Padahal biasanya di Galaxy Mall saya hampir selalu kedinginan.

Tiba di Galaxy Mall 1, kami turun ke lantai dasar tempat KFC berada. Masuk ke entrance-nya KFC, saya bengong karena restoran satu itu nampak hidup segan mati tak mau. Iya, pintunya buka sih. Tapi lampunya mati. Kursi-kursi dan meja ditata mepet-mepet. Seolah tempat ini tidak siap menerima pengunjung untuk makan di situ.

Mata saya menatap perosotan tempat Fidel biasa main di situ. Dan mata saya tertumbuk pada tulisan yang sangat tidak inginkan, “Mohon maaf playland tutup.

Haiyaaa! Padahal saya kan mau makan di situ karena ada playland-nya.

Saya langsung menggandeng Fidel pergi dari situ.

Saya tidak tahu, siapa yang lebih kecewa hari ini, saya atau Fidel? Sebagai mallrats, sudah jadi kebiasaan Fidel untuk minta saya makan di restoran mall meskipun itu hanya sekedar menyeruput ice cream cone. Tapi kalau restoran-restoran pada kayak mati lampu gini, kami mau nongkrong di mana?

Saya akhirnya mengeluarkan alternatif terakhir yang selalu menyediakan wifi gratis dan kue paling enak: Starbucks. Kami pun berjalan ke ujung mall, karena Starbucks ada di Galaxy Mall 2. Mall ini besar banget, tapi saya sumpah merasa gerah.

Kami tiba di atrium paling ujung, tempat Sogo biasa menggelar sale barang-barang yang sudah lewat musimnya, dan saya langsung bengong. Semua, iya, semua staf Sogo yang ada di atrium itu sibuk kipas-kipas. Busyet, AC-nya dimatiin!

dampak Corona bagi mall Indonesia
Dampak Corona virus bagi mall Indonesia yang terasa bagi saya adalah AC mall tidak terasa dingin.
Mall seperti berupaya mengefisiensikan biaya operasionalnya dengan mengurangi kunjungan customer tanpa terkesan mengusir.
Tapi saya takut, jika terjadi penurunan penjualan, maka para toko akan mengefisiensikan biaya operasionalnya lagi dengan melakukan PHK pegawai.

Tak ada staf yang tersenyum. Karena memang tak ada orang kegerahan yang bisa tersenyum.

Starbucks ada di ujung mall, dan kami masuk ke sana. Ternyata dalemnya sama aja kayak KFC tadi. Lampu-lampu pada mati. Meja-meja yang mepet-mepet pada dipasangi tanda reserved. Saya mbatin, reserved mbahmu. Pasti sengaja nih supaya orang jadi males duduk di situ.

Sebetulnya saya udah males pesan, tapi saya ingin menghibur Fidel. Akhirnya saya suruh Fidel pesen salah satu kue yang berada di display, lalu saya bilang kepada kasirnya bahwa saya ingin bawa pulang. Tidak pesan minum.

Kasirnya nampak kumus-kumus keringetan, bukan pemandangan ideal untuk suatu bisnis retail. Dan saya tidak merasakan hawa sejuk juga di sini, tak seperti biasanya.

Ketika kasirnya pencet-pencet mesin, saya berbisik, “Mbak, AC-nya dimatiin ya sama mallnya?”

“Iya, Bu,” petugas kasirnya menjawab dengan getir. “Soalnya (sistem AC di ruangan) kami masih ikut mall-nya.”

Saya kasihan kepadanya dan segera pergi cepat-cepat. Saya ngerti dia kepingin pulang aja. Dan SPG-SPG Sogo yang jagain sale di atrium itu juga pasti kepingin pulang. Siapa juga yang betah bekerja di tempat gerah begini?

P.S. Saya ingat kemaren saya baca pengumuman di account Instagram-nya @thepeoplescafe, bahwa mereka tutup sementara. The People’s Cafe ini cafe kesukaan saya di mall Tunjungan Plaza, dan merupakan salah satu cafe yang cukup besar di sana. Yang mengejutkan saya adalah bukan cuma The People’s Cafe doang yang tutup, tapi juga semua resto lainnya yang sama-sama berada di bawah Ismaya Group itu tutup.

Saya tahu persis bahwa aturan di mall itu, kalau ada tenant yang tutup satu hari aja, maka mall-nya akan mendenda tenant cukup besar. Tapi ternyata orang-orang pemilik restorannya Ismaya Group ini lebih suka bayar denda kepada mall ketimbang menempatkan staf mereka dalam risiko ketularan virus Corona jika restoran mereka tetap beroperasi.

Pada masa seperti ini, kalau sampai ada seseorang kedapatan positif Corona, maka orang ini akan dilacak sedemikian rupa sudah pergi ke mana aja, termasuk sudah makan di restoran mana aja. Restoran yang pernah disinggahi sang Corona-positive-confirmed ini bisa dapat publikasi jelek (lihat aja klub dansa di Depok yang sempat didatangi pasien Corona 1 dan 2 itu). Dan kelihatannya kerugian atas publikasi jelek ini jauh lebih gede daripada sekedar bayar denda kalau tutup operasional, menurut saya sih. Kayaknya itu yang jadi pemikirannya orang-orang The People’s Cafe.

Mungkin Starbucks dan KFC belum mengadopsi cara pemikiran yang sama. Lebih gampang membuat pengunjung jadi males makan di tempat mereka daripada harus bayar denda karena tutup operasional.

Sambil menggandeng Fidel, saya membenahi cangklongan tas saya dan berjalan masuk ke Sogo. Saya mau pulang aja. Saya akan panggil driver Grab di pintu keluar Sogo.

Saya pikir Sogo mematikan AC-nya juga. Ternyata.. Berrrr! Dingin! Saya menengadah. Di lobang AC, saya lihat pita melambai-lambai.

Holy God, jadi ada staf-staf Sogo yang bekerja di dalam ruangan department store yang dipenuhi AC, tapi ada juga staf-staf Sogo yang disuruh jagain sale di atrium yang AC-nya dimatiin. Gimana rasanya jadi pegawai yang kena giliran disuruh jaga di tempat panas?

Sambil menunggu driver Grab di Gate 7 Galaxy Mall, saya merenung. Work from home tidak mudah buat bisnis retail. Bisnis retail macam bisnisnya Sogo, Starbucks, KFC ini, susah kalau dipaksa tutup. Penurunan sales nggak ada apa-apanya dibandingkan kewajiban bayar denda.

Work from home tidak mudah buat pegawainya para tenants di mall ini. Mosok mau resign cuma gegara takut ketularan Corona dari pengunjung yang lewat (dan cuma ngintipin harga doang)? Tapi saya sedih membayangkan mereka bertahan di depan produk-produk display hanya untuk menunggu jam shift kerja mereka selesai. 8 jam itu lama.

Mungkin ketika saya berjalan dari tenant satu ke tenant lainnya, dan di antara staf-staf tenant yang mengharap saya mau mampir di toko mereka hanya sekedar untuk membeli sepasang kaos kaki, ada satu dua orang yang sedang menduga-duga apakah saya dan Fidel adalah carrier Corona yang siap menulari mereka kapan saja.

Lalu saya menyadari, sebagian orang tak punya kemewahan untuk memilih mengundurkan diri dari tempat mereka bekerja. Sebagian orang tak punya kemewahan untuk bisa memilih-milih pekerjaan. Sebagian orang tak punya kemewahan untuk bisa bayar denda jutaan rupiah hanya demi menyelamatkan usaha mereka dari publikasi jelek.

Saya sungguh berharap, wabah virus jelek ini segera selesai. 🙁

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

32 comments

  1. Bowo Susilo says:

    Pandemi COVID-19 memang benar-benar membuat negara di dunia termasuk Indonesia kwalahan menghadapi ini. Banyak ekonomi terdampak, aktivitas jadi susah, dll..
    Semoga pandemi COVID-19 ini segera bisa teratasi, Aamiin

  2. Ihwan H says:

    2 mall paling ramai di Malang pun ikutan sepi karena Corona, Malang Town Square dan Transmart MX Malang. Sediih liatnya, tenpat yang biasanya ramai oleh warga Malang dan luar Malang yang ingin membeli barang kebutuhan di supermarket, makan di gerai makanan atau sekedar mejeng aja kini sepi. Ada tenant-tenant yang terpaksa tutup daripada memaksakan buka namun tak ada pembeli. Semoga wabah Corona ini lekas berakhir aamiin.

  3. anesanisa says:

    Corona itu konspirasi, corona itu semacam uji lab biologis China yang kebobolan. Yeaah appaun itu klaim mereka-mereka itu tentang corona, efeknya luar biasa buat dunia. Semua berubah. Yaa dari sisi ekonomi juga gaya hidup. Semoga corona segera berlaluuuu supaya kehidupan (the new) normal.

    Aku sendiri udah 3 mingguan ini nggak ke mall. Waktu seminggu heboh tentnag corona masih ke mall dan itu pun udah sepi banget. Pas kesinian, udah nggak tau lagi mall di Jakarta kayak apa. Beritanya tutup sementara juga ‘kan.

  4. Dian says:

    Belum lockdown dampaknya sudah besar ya mbak..
    Terutama untuk pekerja harian lepas, dampak ekonominya berasa bgt..

    Anak2ku juga pada bosen di rumah, tapi setelah tahu ada virus di luar, mereka g ngerengek lagi…

    Mereka berdoa smg virusnya hilang, jadi bisa ngemall lagi

  5. Bener mb, tidak disangka efeknya akan seperti ini. Malioboro yang biasanya selalu ada aktivitas pun saat ini sepi sesepi-sepinya. Aamiin…semoga wabah corona segera reda, aamiin…

  6. Mini GK says:

    Jadi keliling galaxy satu dua tiga.
    Aku semenjak Corona belum sekali pun ngemall. Keluar rumah aja jarang banget banget. Semoga badai ini lekas hengkang

  7. Dede Diaz says:

    Di kota kota besar hampir semua mall sudah diharuskan tutup. Kaya di Bandung sudah hampir semua mall tutup. Mudah2an semuanya cepet balik lagi normal.

  8. ainun says:

    sodara aku yang stay di surabaya juga bilang, tunjungan plaza sepi sekarang
    sebelum heboh berita surabaya ada yang positif terkena viirus ini, aku masih sempet ngemall pindah-pindah dan tampaknya semua orang waktu itu “hepi”.
    dan nggak hanya tenant makanan yang terlihat sepi, penjualan otomotif di kantorku juga ikutan sepi.

  9. Aku mengaminkan doa mba Vicky agar virus jelek ini segera berlalu. Kasihan mereka yang kerja di sektor informal. Ketika banyak yang meminta pemerintah lock down, tapi nggak ikut bantu memberi donasi ke tetangga terdekat, yg dirumahkan oleh perusahaan nya

  10. Yaampun ngga ngebayangin GM yang biasanya jadi mall dingin (kaya di dalem bioskop) sekarang jadi sumuk gitu.
    Salah satu tujuan orang ngemall kan pengen ngadem dari cuaca Surabaya yang Hot, kalo realitanya gini ya mending di rumah aja. Atau memang pengelolanya sengaja ngebuat kebijakan seperti itu supaya mendukung kebijakan pemerintah.
    Jadi kaya online mall yang cuma ngeladenin pembeli online aja.
    Trus sebelum masuk mall ada prosedur ngukur suhu tubuh sama semprotin desinfektan ngga?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku ke GM itu kan awal-awal pengumuman pandemi ya, jadi belum ada prosedur ngukur suhu tubuh. Sampai minggu lalu aku balik ke sana, masuk melalui gedung parkir pun masih belum diukur suhu juga.

  11. Di Salatiga, angkot udah gak kelihatan lagi di jalan yang setiap hari saya lewati saat berangkat ke kantor. Sepinya karena anak sekolah sebagai sumber utama pendapatannya, dirumahkan. Untungnya, di daerah kami yang lumayan pelosok, pedagang makanan dan sayur masih punya konsumen.

  12. Zam says:

    sedih juga pemerintah RI carut marut dalam urusan covid-19 ini. apalagi pemerintah RI tidak memerintahkan lock down dengan alasan ekonomi, plus gimana caranya memberikan kompensasi kepada korban lock down? di Jerman agak beruntung. pemerintah gerak cepat dan memerintahkan lock down di beberapa negara bagian. pemerintah Jerman menyiapkan dana untuk kompensasi akibat bisnis yang terganggu karena lock down. semoga covid-19 ini lekas berlalu..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang tidak bisa RI melakukan lockdown, karena perekonomian rakyat kita bisa sangat terganggu jika ada lockdown. Sistem kita belum siap mengkompensasi kerugian rakyat jika lockdown, Ron. Ini aja baru disuruh physical distancing doang, 60% rakyat langsung jadi pengangguran. Ini memang musibah berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *