Insomnia, Enyahlah!

Sebuah pesan di WhatsApp bikin HP saya bunyi ketika saya bangun subuh dan menyalakan koneksi internet. Ternyata seorang partner saya mengirim laporan bahwa kerjaan konten pesanan yang saya order ke dia sudah selesai di-upload-nya. Saya terhenyak karena dia kirim laporannya tadi malam menjelang dini hari, padahal mestinya orang normal sudah molor jam segitu. Ketika saya tanya kenapa jam segitu dia masih jadi kalong, lalu dia jawab dengan sedih, “Aku kena insomnia, Mbak..”

Dia bukan partner langganan saya dalam urusan kolaborasi-kolaborasian. Berulang kali saya ngajar tentang optimasi konten, tapi dia nggak mudeng-mudeng meskipun udah bolak-balik dengerin ajaran saya, sehingga saya selalu naruh dia di prioritas terakhir untuk diajak kerja sama. Kali ini aja saya ajakin dia karena saya kepingin kasih dia kesempatan kecil, dan mumpung key performance indicator-nya nggak berat-berat amat. Well, dia mengerjakan tugasnya dengan baik sih, tapi tindakannya kirim laporan pada jam 1 pagi membuat saya kepo dengan cara kerjanya.

Insomnia

“Kenapa kamu susah tidur?” tanya saya suatu hari, ketika kondisi kami sedang santai dan semua proyek sudah dibayar.

Dia nampak ragu, tapi akhirnya mengaku sedikit-sedikit. “Aku kalo tidur itu paling-paling cuma 2 jam sehari, pas menjelang subuh gitu. Kalo baru jam 9 malem atau jam 10 gitu, aku belum bisa tidur..”

Saya menatapnya prihatin. Saya ngerti telmi itu biasa, tapi telmi dengan susah tidur itu bukan kombinasi yang baik. Bukan cuma menjadikannya susah diajak kerja bareng, tapi hidupnya jadi susah sendiri.

Saya mohon maaf kepadanya karena ikut campur urusan pribadinya, tapi saya harus bilang bahwa cuma bisa tidur 2 jam sehari itu masalah besar.

Apa dia tidak tahu bahwa insomnia itu bisa bikin kita jadi bego?

Efek Insomnia pada Otak

Orang-orang seringkali meremehkan tidur, dan bilang tidur hanyalah pekerjaan orang malas, tapi saya nggak setuju. Orang-orang sukses sering ditanya apa rahasia mereka, dan ternyata banyak sekali yang jawab bahwa salah satu tipnya adalah mastering your sleep.

Does everyone really need seven or eight hours of sleep a night? The answer is that you almost certainly do, even if you’ve convinced yourself otherwise.

Bill Gates, 2019.

Sebetulnya masuk akal pernyataannya Om Bill itu. Tidur tidak sekonyong-konyong bikin kita jadi lebih cerdas, tapi tidur sangat berguna buat mencegah kita dari lemot.

Soalnya begini. Sederhananya, aktivitas kita sehari-hari itu didasarkan dari proses belajar, mempelajari hal baru, mengingat, mengulang sampai jadi mahir. Untuk mengingat pelajaran baru itu, memerlukan otak, lebih tepatnya bagian otak yang bernama hippocampus. 

Hippocampus ini punya andil penting untuk mengumpulkan memori atas hal-hal yang kita pelajari, dan hippocampus ini baru bekerja justru pada saat kita tidur nyenyak. Artinya, kalau kita nggak tidur lelap, maka hippocampus nggak memproses memori. Nggak memproses memori, maka otak kita nggak belajar.

Insomnia itu mengurangi kecerdasan kita.

Tidur hanya 2 jam per hari bukan satu-satunya pertanda bahwa kita insomnia. Sejatinya, jika kita mengalami salah satu dari gejala berikut ini:

  1. Susah memulai tidur,
  2. Sudah tidur, tapi sering terbangun
  3. Terbangun terlalu awal dan tidak bisa tidur lagi

maka itu sudah cukup untuk menyebut kita insomnia dan kita perlu mencari bantuan untuk menghilangkannya.

Cara Menghilangkan Insomnia

Banyak banget saran yang bisa kita coba untuk bikin kita bisa tidur dengan teratur.

Salah satu cara menghilangkan insomnia yang saya kerjakan adalah berusaha pergi tidur pada jam yang sama setiap malamnya.

Di Surabaya yang malam harinya masih aja panas, saya berusaha mengatur kamar sesejuk mungkin, supaya jangan sampai kepanasan ketika tidur.

Berusaha banyak gerak dengan berolahraga, ternyata bikin tubuh kita lebih relaks, sehingga lebih gampang tidur. Tapi jangan berolahraga 3 jam sebelum tidur.

Saya berusaha membagi-bagi pekerjaan tugas saya dengan efisien, supaya saya tetap bisa tidur nyenyak tanpa kudu mikirin pekerjaan yang belum selesai.

Dan saya menghindari minum kopi sesudah jam 9 malam. Karena kopi jelas bikin melek sampai dini hari. Jangan makan kalau mau tidur 2 jam kemudian.

Saya mengatasi insomnia dengan menghindari minum kopi sesudah jam 9 malam.
Karena kopi jelas bikin melek sampai dini hari.

Memang ada kasus-kasus tertentu di mana orang nggak bisa memulai tidur atau bahkan mempertahankan tidur. Misalnya karena dia bukan sekedar insomnia, tapi memang aslinya insomnia ini merupakan bagian dari gangguan kesehatan mental yang dideritanya, berupa depresi mayor atau anxiety disorder. Bisa juga insomnia ini sebetulnya bagian dari penyakit lain, misalnya hipertensi atau diabetes. Kasus-kasus yang ini, kadang-kadang butuh bantuan psikiater lho.

Banyak tindakan yang bisa dikerjakan psikiater untuk membantu teman-teman yang kesulitan tidur. Psikiater akan menggali kemungkinan-kemungkinan penyebab insomnia kita, mulai dari mencari faktor penyebab susah tidurnya, mencari penyakit yang mendasari gangguan tidurnya, lalu menyelesaikan permasalahannya berdasarkan penyebab tersebut. 

Bantuan dari psikiater untuk ini bisa berupa saran untuk perubahan perilaku, perubahan gaya hidup, sampai peresepan obat. Jika memang ada kaitan insomnia ini dengan penyakit lain (misalnya penyakit jantung atau diabetes), psikiater akan membukakan pintu untuk menghubungkan dokter ahli yang bisa memperbaiki penyakit dasarnya.

Psikiater untuk Mengatasi Insomnia

Tapi persoalannya, pergi ke psikiater hanya gegara insomnia, bukan perkara gampang. Masalah ke dokter itu selalu klasik: Antreannya bikin males. 

Nggak cuman itu sih. Teman-teman saya masih takut ke psikiater kalau sampai dihakimi keluarganya sendiri. “Ntar dikira nyokap, gw punya penyakit jiwa,” curhat teman saya. 

Yang kena insomnia nggak cuman orang-orang yang awam kesehatan. Bahkan orang-orang berprofesi medis, baik yang sebangsanya dokter atau perawat, sangat rentan kena insomnia dan butuh konsultasi ke psikiater juga. Repotnya, mereka sering ngeri ke psikiater karena takut ketahuan privacy-nya bocor. Bukan dibocorin oleh dokternya lho, tapi dibocorin oleh staf yang jagain kliniknya. Memang di negara ini, privacy kerahasiaan pasien masih jadi barang mahal.

Untungnya, saat ini, pergi ke psikiater nggak selalu harus mengantre rame-rame di klinik psikiatri lho. Kita bisa juga konsul dengan ahli kesehatan mental ini sambil rebahan di rumah melalui aplikasi HaloDoc. Cukup buka aplikasi HaloDoc, pilih menu Chat dengan dokter, lalu pilih Kedokteran Jiwa. Kemudian pilih spesialis kedokteran jiwa yang sreg di hati kita, lalu tinggal chatting deh. Enak kan? Nggak ketahuan siapa-siapa..

HaloDoc adalah aplikasi kesehatan yang membantu kita untuk bisa konsultasi dengan dokter, membeli obat, atau membuat janji pertemuan dengan rumah sakit. HaloDoc juga membantu mengingatkan kita untuk minum obat, berguna sekali bagi teman-teman kita yang bahkan harus minum obat untuk seumur hidup. Saya pernah mencoba berkonsultasi dengan dokter ahli dermatologi melalui HaloDoc pada waktu subuh-subuh, lalu dokternya memberikan resep dan saya cukup menebus resep tersebut melalui apotiknya HaloDoc secara online. Obatnya datang dalam kurun 1 jam setelah saya mulai konsul dokternya. Lebih cepat daripada yang saya bayangkan.

Menghubungi psikiater untuk mengatasi insomnia, menurut saya bukan sekedar menghilangkan gejala gangguan jiwa (jika kamu mau menyebutnya begitu). Tapi upaya untuk mengatasi insomnia ini adalah bentuk kita untuk meningkatkan kualitas hidup kita sendiri.

Kepada partner saya yang chat saya jam 1 pagi itu, saya mengapresiasi kerjanya dan bilang saya suka. Memang ada beberapa kesalahan minor, tapi itu bisa diperbaiki kalau dia mau pelajari arahan saya dengan seksama (yang seringkali saya beritahukan secara sambil lalu itu). 

Dia akhirnya mengakui bahwa dia sering kesulitan belajar, tapi juga bahkan susah menghapal hal sederhana seperti rute jalur kereta commuter line sekali pun. Sedikit banyak itu memperlambat pekerjaannya sehari-hari, akibatnya dia jadi susah tidur karena merasa pekerjaannya nggak beres-beres. Dia terus-menerus berputar-putar di antara insomnia dan penurunan kinerja, seperti terperangkap dalam lingkaran setan.

Saat hidup terlalu rumit sampai kita nggak bisa mengajari diri kita sendiri untuk tidur nyenyak, maka konsul ke psikiater pun bisa jadi solusi yang ideal. Biaya Rp 25k yang kita keluarkan untuk konsultasi sebetulnya nggak terlalu mahal daripada kualitas hidup kita yang hilang karena susah tidur. Bisa tidur pada waktu yang tepat, dan dalam durasi tidur yang tepat, akan mengembalikan performa kinerja kita dan membantu kita untuk menampilkan versi terbaik dari diri kita sehari-hari.

Nah, menurutmu gimana? Kapan menurutmu waktu yang tepat untuk mengontak psikiater jika kamu susah tidur?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

32 comments

  1. fida says:

    Mbak.. aku nggak tau nih termasuk insom apa nggak.. kalo malam tidurnya di atas jam 12 seringnya… tapi selalu bisa tidur siang. Nah karna aku terbiasa tidur siang, malamnya jadi nggak bisa cepat tidur.

    Apalagi.. aku tuh penggemar es kopi banget. setiap hari.. pagi dan malam minumnya es kopi

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku belum bisa jawab, Mbak. Sebab kesulitan Mbak Fida memulai tidur di malam hari itu karena terbiasa tidur siang. Perlu diuji dulu jika tanpa tidur siang dan tanpa kopi itu, Mbak Fida masih bisa memulai tidur di malam hari atau tidak. Kalau ternyata Mbak Fida masih bisa memulai tidur di malam hari tanpa tidur siang, berarti sebetulnya bukan insomnia yang menimpa Mbak Fida. 🙂

  2. Ratna Dewi says:

    Wah aku baru tahu kalo insomnia kontaknya langsung ke psikiater ya, Kak. Kukira kayak ke dokter umum dulu gitu. Tapi alhamdulillah sih aku nggak pernah insomnia soalnya emang nggak kuat begadang dari dulu. Kalaupun diniatin begadang ngerjain tugas atau kerja gitu, jam-jam 2 atau 3 pagi aja udah nggak kuat banget ngantuknya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bisa aja sih ke kontak dokter umum dulu, Dew. Tapi biasanya, kalau menurut dokter umumnya ada problem pada psikiatrisnya, tentu akan dirujuk ke psikiater. Kecuali jika insomnianya karena ada masalah pada tekanan darah dan pernafasan, mungkin tidak akan dirujuk ke psikiater, tapi dirujuk ke dokter penyakit dalam.

  3. Mugniar says:

    Kalo mengalami insomnia dan mendatangi psikiater untuk itu, sepertinya bakal dikasih obat penenang ya. Kalo psikiaternya bijak, mungkin gak mudah memberikan obat penenang. Jadi ingat kawan saya, dia meresepkan vitamin, gak sekonyong-konyong kasih penenang eh pasiennya malah bisa tidur wkwkwk. Rupanya pengaruh juga sugesti ke pskiater itu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mungkin ya, mungkin juga tidak. Pendekatan psikiater dapat melalui terapi perilaku atau melalui terapi dengan pemberian obat. Kalau diberi terapi perilaku, artinya dinasehati untuk perbaikan gaya hidup, tanpa pemberian obat dulu. Tapi jika tidak mempan (misalnya karena penyebab insomnianya memang gangguan neurotransmitter yang menyebabkan sulit tidur), baru diberi obat untuk sementara waktu.

  4. Aku dulu termasuk yang insomnia Mba. Betapa melelahkan hidup bersanding dengannya, bener-bener jadi kaya orang lemot, bener 😀 Setelah ikut kulwap tentang healthy lifestyle, dikasih ceramah tentang pentingnya tidur berkualitas (meregenerasi sel-sel tubuh termasuk otak) dan tips tidur cepat maksimal jam 10 teng dengan menghindari screen sejak 2 jam sebelum tidur, saat itulah rasanya aku terbebas dari insomnia.
    Lebih memilih tidur cepat dan bangun jam 2-3 subuh jika ada DL.

    Tapi, hari ini aku minum kopi karena belajar bikin moccacino homemade, eh kesorean minumnya ;(

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi.. aku juga minum kopi, tapi dosisnya nggak terlalu banyak. Makanya meskipun aku minumnya sore, tapi malamnya masih bisa tidur nyenyak 🙂

  5. Bang Day says:

    Beberapa hari terakhir saya mengalami ini. Ironisnya sambil menghabiskan waktu saya nonton film sambil minum kopi wkwkw.

    Emg bete banget, badan ingin istrahat tapi mata tidak mau merem

  6. Tidur malem emang penting banget kak.. karena gak akan bisa diganti kualitasnya dengan tidur di siang hari. Aku pernah gak tidur kalo si kecil sakit. Siangnya jelas jadi lemas.. dan berpengaruh pada mood.

  7. lendyagasshi says:

    Sepertinya aku gak termasuk insomnia.
    Hanya tubuh membiasakan tidur lebih malam, terutama kalau ada DL BW.
    Hehhee…sungguh kebiasaan yang buruk yaa… ((deadliners))

  8. RianaDewie says:

    Wah, artikel yang sangat bermanfaat mbak. Saya tipe tidur hampir pagi juga, tp utk garap kerjaan. Dan sbnrnya ngantuk berat, cuma ditahan. Dan tidur pun diusahakan 5-6 jam…jadi kalau bobok subuh, ya bangunnya siang. Apa itu kategori insomnia ya??

  9. Maria G says:

    Setuju banget, saya ngga bisa blogging kalo kurang tidur
    Paling cuma bisa copas … 😀

    Eniwei, saran bagus tuh untuk cek ke psikiater melalui halodoc
    Karena ngga perlu ngantri dan diajak ngobrol pasien/penunggu pasien lain
    Yang malesin pisan karena pertanyaannya butuh penjelasan panjang lebar
    Nggak dijawab, kok takut dikira sombong 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Persoalan saya juga kalo lagi berobat ke dokter lain. Males ngobrol sama pasien lain di ruang tunggu. Lebih parah lagi kalau dikenali sebagai public figure :))

  10. Dian says:

    Ah benar mbak, klo sorenga ngopi aku pun jadi susah tidur malamnya
    Dan ternyata g bagus ya klo sering insomia…
    Makasih sharingnya mbak

  11. tari says:

    sebagai kaum rebahan tidur gak masalah buatku. tapi kalo baru tidur trus mendadak ada yg bangunin, emosi banget jadinya, alhasil gak bs tidur lagi. ya udah, ngopi sekalian. hehe.

  12. Mini GK says:

    Insomnia memang terdengar sepele tapi nyatanya enggak bisa disepelekan lho. Apalagi kalau sejak kecil sudah terbiasa dengan demikian. Ngeri.
    Setuju kalau harus ditangani dengan ahlinya, psikiater salah satunya.

  13. Li Partic says:

    Ternyata sering bangun juga disebut insomnia ya. Setauku bisa juga mengatasinya dengan minum pil hormon. Enak kalau bisa konsultasi mengatasi insomnia. Karena umumnya orang2 ngejalanin aja hidupnya dengan insomnia.

  14. Alfa Kurnia says:

    Kalau berdasar ciri kedua dan ketiga berarti aku termasuk insomnia juga nih, Mbak. Ternyata kurang tidur dan tidur tidak berkualitas itu bisa bikin lemot ya. Pantesan kalau malamnya susah tidur gitu, paginya itu beraktivitas udah kaya auto pilot aja, nggak bisa mikir berat-berat.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya. Ketika kita kurang tidur, otak itu tak ada kesempatan untuk mengumpulkan memori yang sudah diperolehnya sebelumnya. Kalau otak tidak menghimpun memori baru, maka manusia tersebut jadi susah untuk menganalisa hal yang berat-berat.

  15. indah nuria says:

    well, insomnia is really annoying. Especially since it has deteriorating effect to our body. I guess there are many ways to avoid it and one of them is by staying away from our gadgets and doing regular exercise

  16. Zam says:

    kalo aku, di masa musim panas begini, agak repot karena jam tubuh terkecoh dengan terangnya matahari saat malam.. ingin tidur, tapi badan masih mengira hari masih siang.. kalo ini apakah bisa disebut insomnia juga?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Maksudmu lagi Daylight saving time di Denmark sana ya, Zam? Memang sih Daylight saving time ini bisa memicu insomnia juga. Tapi itu kejadian lazim yang dialami semua orang di sana kan? Kalau nggak sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari, rasanya belum jadi masalah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *