Jalan-jalan Halu di Korea

Pada dasarnya, kalau aslinya memang suka jalan-jalan, maka jalan-jalan itu pasti akan tetap dijabanin sekalipun terkurung oleh lock down atau PSBB. Itu sebabnya sekarang orang-orang pada jalan-jalan via virtual tour.

Dan kemaren, saya dapat rejeki jatah untuk ikut virtual tour di Korea. 

Virtual Tour Itu Apa?

Virtual tour ini sekarang jadi trend baru yang nongol semenjak semua orang pada disuruh diem di rumah. Hasrat orang kepingin membolang itu dibaca oleh para pengusaha travel untuk tetap kasih kesempatan buat para pelancong akan jalan-jalan. Maka, para biro travel rame-rame bikin virtual tour, yaitu suatu konferensi online dengan menyajikan foto-foto dan video tentang tempat wisata, sambil nyediain guide yang bercerita tentang tempat wisata tersebut.

Virtual tour ini rerata bukan cuman sekedar presentasi media doang. Tapi media yang dipake juga berupa media 360, alias di foto itu kita bisa lihat pandangannya kalau dari posisi kita belok kiri atau belok kanan. Rerata media 360 ini banyak diambil dari Google Maps.

Dengan panduan media 360 dan guide yang bercerita ini, alhasil peserta konferensi jadi berasa kayak lagi jalan-jalan di tempat yang diceritain itu. Meskipun aslinya sendiri pesertanya cuma nonton dari rumah masing-masing.

Ikut Virtual Tour di Korea

Tadi saya ikut virtual tour di Korea. Yang ngadainnya itu komunitas Wisata Kreatif Jakarta. 


Nonton virtual tour di Korea jangan lupa nyiapin penganan khas Korea juga, biar makin terasa suasananya Korea-nya.

Virtual tour-nya kebetulan cuman sekitar 2 jam, jadi daerah yang kita “kunjungin” baru Seoul dan Nami doang. Tapi ya lumayan banyak yang bisa kita lihat di Seoul selama 2 jam-an itu.

Yang ikut virtual tour-nya ada sekitar 30 orang. Semuanya ini adalah temen-temen saya di komunitas Indonesian Social Blogpreneur. Tadi, kami duduk di depan layar konferensi Zoom sembari dengerin guide Wisata Kreatif Jakarta bercerita tentang Seoul.

Enjoy Seoul dan Nami Sepanjang Virtual Tour

Banyak tempat yang saya simak selama virtual tour di Seoul itu. Istana, kampung orang lokal, area pusat kota, landmark kota. Mirip lah ya dengan isi tour lazimnya.

Istana di Seoul itu ternyata ada 5 biji ya, kalo saya nggak salah tangkap dari guide-nya. Cuman istana yang kebetulan kita kunjungin tadi itu kayaknya Istana Gyeongbok (saya nulis ini sambil nyocok-nyocokin sama hasil Google).

Alhamdulillah Wisata Kreatif Jakarta kasih video peristiwa pergantian penjaganya istana di Gyeongbok itu. Yang namanya pergantian penjaga istana itu mestinya kerjaan rutin saban hari, tapi turis-turis selalu aja seneng nonton beginian. (Saya sendiri salut sama penjaga istananya yang ngelakonin ini tiap hari. Mereka datang, gantian shift, hanya untuk berdiri tegak sepanjang hari sampai shift-nya kelar.)

Tour virtual ini juga ngeliatin kita jalanan pusat kotanya Seoul. Kita ditunjukin sungai Cheongye yang ternyata merupakan common ground-nya warga.

Salah satu adegan virtual tour di Seoul, yaitu di Sungai Cheongye.
Sungai ini sudah didangkalin, jadi kayaknya udah nggak bisa dialirin perahu lagi, tapi dikasih lampu-lampu plus patung-patungan sehingga bisa jadi area nongkrongnya warga sambil kecipak-kecipak air.

Saya ngeliatnya langsung seneng, soalnya sungai ini menandakan walikotanya bisa bikin kota jadi area publik yang membetahkan warganya 🙂

Ada juga kesempatan lihat jalanan Myeongdong. Jalanan ini esensial buat turis-turis yang senengnya berburu kosmetik Korea, soalnya di sepanjang jalan ini banyak toko kosmetik dari brands yang udah lumayan namanya terkenal, kayak The Saem, Nature Republic, Innisfree, dan lain-lain. Guidenya virtual tour ini sempat kasih tahu juga tipsnya lho kalau mau dapet skincare Korea murah-murah. 

Jadi ya, di depan toko-toko ini suka banyak mbak-mbak SPG yang bagi-bagi sheet mask gratis, untuk menarik perhatian orang supaya mau masuk ke tokonya. Banyak banget turis yang mau aja keliling Myeongdong dan rajin ngobrol sama SPG, dan pulang-pulang dia bisa ngantongin sheet masks sampai 20 biji :)) (Sebagai perbandingan, sekarang harga sheet mask yang nggak ada alkoholnya di Indonesia itu minimal Rp 20k/lembar, jadi itung sendiri nilai hasil kulakannya ini yaa..

Terus kita ditunjukin juga jajanan khas Korea Selatan, termasuk roti bawang putih keju yang sekarang lagi booming di Indonesia ini. Orang Korea seneng banget sama bumbu bawang putih yang dijadiin krim itu, dan makin banyak bumbunya pun makin sip. (Padahal kalo dimakan di Endonesa pada musim kemarau, kebanyakan bawang putih bisa bikin kita ngabisin Rexona, wkwkwk)


Menurut virtual tour di Korea yang saya ikutin ini, garlic bread alias yugjjogmaneulppang ini pertama kali dijualnya di Stasiun Gangnam.
Yugjjogmaneulppang artinya six garlic cheese, alias roti bumbu bawang putih campur keju yang dibelah jadi enam.

Ada juga Menara Seoul yang merupakan landmark-nya Seoul. Di puncak menara ini, kita bisa lihat pemandangan seluruh kota Seoul. Cocok nih buat yang seneng bikin foto-foto panorama kota yang dikelilingin bukit-bukit, karena memang contournya Seoul itu ya kayak gitu.

Sebetulnya di tour virtual ini juga ditunjukin tentang Gangnam dan Dongdaemun, cuman saya sendiri nggak terlalu demen sama kedua bagian ini. Gangnam ini kayaknya beken sebagai tempat elite orang-orang Korea yang tajir-tajir, dan konon kantor-kantor manajemen artisnya Korea Selatan itu banyak yang berlokasi di sini. 

Dan turis senang ke sini karena di kantornya banyak poster artis seukuran badan manusia, jadi mereka bisa foto bareng poster. Nggak usah tanya saya kenapa orang seneng foto bersama foto. :))

Dongdaemun ini konon tempat mall, dan ada section khusus di mall ini yang pegawai-pegawainya bisa berbahasa Indonesia. Makanya turis Indonesia paling seringnya ke sini. Kalau saya ke Korea, kayaknya saya nggak akan ke sini deh kalau nggak dibayar :))

Dan last but not least, nggak lengkap ya ke Seoul tanpa ke Pulau Nami. Jadi Pulau Nami ini berupa pulau di dalam Danau Cheongpyeong. Lokasinya kira-kira 2 jam perjalanan dari Seoul. Kalau mau ke pulau ini, kudu naik ferry sekitar 15 menitan.

Adegan virtual tour di Pulau Nami, Korea.
Itu orang-orang di sebelah atas adalah peserta virtual tour-nya.

Sebetulnya isinya pulau ini ya hutan pinus. Cuman karena letaknya di negara empat musim ya, warna pepohonan pinusnya jadi warna-warni ciamik gitu, bisa warna pink, warna kuning, warna oranye, tergantung musimnya. 

Dan ada dua macem turis yang kepingin dateng ke Pulau Nami: 1) kepingin foto sama pohon pinus warna-warni, 2) kepingin foto di lokasi pelemnya Winter Sonata :)) Untuk mengakomodasi alasan nomer 2), bahkan pengelola pulaunya sudah menyediakan patung tokoh-tokoh pelem Winter Sonata buat diajak poto bareng.. (Saya ngetik ini sambil terkikik-kikik getek)

Sebetulnya pulau ini bagus sih, tapi kok ya rame gitu kayak cendol. Udah pohonnya berwarna, pengunjungnya juga buanyak. Kayaknya ngga ada ceritanya nih pulau bakalan sepi ya. Ya bisa sih foto-fotoan pas pulaunya sepi, yaitu dengan sekalian nginep di resort di dalem pulaunya. Tapi yaa gitu, resortnya belum bisa dipesen di Traveloka :))

Virtual Tour sembari Ngerumpi

Kalau kita ikut tour yang berombongan, kita bakalan nemu ada temen-temen serombongan yang suka ngegeng ngobrol sendiri di bis. Ada juga temen-temen yang suka asik foto-fotoan sampai-sampai ketinggalan rombongan.

Nah, di virtual tour ini, temen-temen saya senengnya ngobrol di kolom chat. Dan kebanyakan isinya ngobrol soal pelem Korea. Temen-temen saya itu sampai hapal sudut-sudut mana aja di Seoul itu yang jadi tempat syuting pelem. 

Pas Mbak Guide lagi share foto lapangan dalemnya Gyeongbok aja, ada salah satu temen saya yang nyeletuk bahwa itu sudut ketika adegan sesuatu di pelem Anu. Geser dikit ke lapangan sebelahnya, temen lain bilang itu lokasi pas adegan lain oleh seseaktor di pelem lain. 

Bagian dalemnya Istana Gyeongbok ini bisa kita lihat juga meskipun hanya dalam bentuk virtual tour di Seoul.

Wuah..pokoknya fasih banget deh temen-temen ini kalo udah urusan adegan pelem Korea. Apalah diri saya ini yang cuman baru apal adegan pelem Crash Landing on You aja, wkwkwk.. Bahkan ketika virtual tournya tiba di Gangnam pun, saya sempat mengharap bakalan nemu trotoar tempat Kapten Ri ketemu sama Mbak Sri sambil ditetes-tetesin salju, sebab konon itu adegannya kan di deket apartemennya Mbak Sri, sedangkan Mbak Sri itu rumahnya di Gangnam. Tapi kok ya gambar Gangnam yang ditunjukin virtual tour sama Gangnam-nya Mbak Sri kok beda? Mungkin Mbak Sri-nya tinggal di Gangnam juga, tapi RT/RW-nya beda..

Mau Virtual Tour Lagi?

Sebetulnya virtual tour ini memuaskan lah buat saya, sebab guide yang ngedongenginnya cukup puas dalam urusan bercerita tentang sudut-sudut kota yang dikunjungin. Dos-q juga lumayan gape buat cerita tentang kebiasaan-kebiasaan lokalnya orang Korea dan cerita-cerita kecil tentang sejarah Korea.

Kelemahan dari virtual tour ini memang kita nggak bisa merasakan hawa tempatnya langsung, merasakan ambience dan interaksi dengan orang lokal. Ya ini kayak baca audio book aja sih menurut saya. Tapi kalau dipikir-pikir dengan biaya virtual tour yang saat ini kisarannya sekitar Rp 100k-200k-an, menurut saya juga nggak ada bedanya dengan beli audio book yang harganya juga segitu (dan umumnya cuma didengerin sekali, hahahaha). Ada bonusnya tentu saja, di virtual tour ini saya bisa ngobrol sama temen-temen di kolom chat, memenuhi kebutuhan sosial saya yang selama pandemi ini nggak pernah ketemu orang di dunia nyata..

Kamu bisa ikut virtual tour juga lho di biro-biro travel. Sekarang banyak banget biro wisata yang ngadain virtual tour, termasuk komunitas Wisata Kreatif Jakarta yang digawangi sama Ira Lathief ini. Tinggal pilih aja kamu ingin wisata ke mana..

Moga-moga suatu hari nanti saya bisa sungguhan ke Korea dan main piano bersama Kim Tae-pyung, amien.. Cuman kalau saya ke Seoul itu, saya sih nggak tertarik dateng ke tempat belanja, karena saya nggak suka belanja apapun yang sebetulnya bisa dibeli di Tokopedia. Saya sih lebih tertarik tinggal sebentar di dusunnya Korea, nyicipin gimana rasanya naik MRT di Korea, atau pengen belajar masak masakan Korea. Saya sih kepingin tau caranya ngolah soju, meskipun saya juga nggak ngerti gimana prosesnya mengingat saya sendiri nggak minum alkohol, hihihihi… Saya kepingin wisata itu lebih fokus menggali pengalaman sebagai warga lokal lah ya.

Salah satu section yang saya sukai dari virtual tour di Korea tadi adalah kawasan Hanok ini.
Kampung ini sebetulnya pemukiman warga biasa aja di Seoul.
Tapi jadi menarik lantaran di sini banyak toko-toko yang nyewain baju hanbok alias baju tradisional Korea.
Makanya turis-turis seneng dateng ke sini, lalu nyewa hanbok selama beberapa jam, terus mereka jalan-jalan keliling kampung sembari fefotoan berhalu-halu ria seolah mereka warga lokal.

Nah, saya pingin tahu nih, apakah kamu udah pernah ikut virtual tour (di mana pun)? Kalau udah pernah, gimana komentar kamu tentang virtual tour ini?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. Saking lamanya hidup antara rumah dan kantor mulu selama pandemi ini, aku juga rajin banget virtual tour mba Vicky. Tapi aku suka virtual tour Japan trip. Seolah nostalgia perjalanan ke Jepang lima tahun silam.

    Seru banget ya kan virtual tour. Badan kita di tempat tidur atau duduk depan laptop, tapi pikiran, pandangan kita di daerah wisata yang kita tuju.

    Jadi pengen ikutan virtual Tour Korea deh, seru banget mba Vicky ikut virtual tour sambil ngemil garlic bread… hahaha

  2. Virtual tour itu ada fotonya ya? Saya kira full video.
    Betul yang Mbak bilang, ambience sama interaksi dengan warganya itu agak kurang klo virtual tour begini. Gara-gara cuma bisa nonton, yang ada jadi mupeng doang 🙂

    Trus virtual tour yang ada di bayangan saya itu live dan tampilannya First Person View, jadi benar-benar seperti kita sedang jalan-jalan langsung.
    Akan lebih seru kalau melihatnya di layar yang 4K. Virtual tour dari Wisata Kreatif Jakarta ini support 4K-nggak??

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Oh virtual tour itu ada fotonya kok. Di virtual tour yang saya ikutin ini, beberapa kali guide-nya mengganti screen dengan foto-foto hasil kurasinya sendiri, dan foto-foto ini nggak ada di Google Maps. Resolusinya sih normal aja sih, Bang. Saya nggak tahu apakah resolusi fotonya 4k atau tidak. Soalnya saya melihatnya di laptop aja, dan kebetulan hasil tampilan di laptop saya baik-baik. 🙂

  3. Baca yg myeongdong jd kangen ih ditawarin berbagai macam promi dan sample Ama spg2 nyaaaa wkwkwkwk. Aku trakhir ksana juga dapet buanyaaaaaak dan akhirnya kalap belanja skincare :D.

    Virtual tour jujurnya aku ga begitu suka. Tp aku sekali ikut virtual tour horror yg diadain whatravel , kerjasama dengan bbrp host yg katanya sih indigo :D. Tempat2 yg didatangin, ya yg horor2. Yg aku ikutin waktu itu Jepang. Menarik sih, tp tergantung si hostnya. Soalnya yg aku ikutin jujurnya ga terlalu bikin penasaran. Masa cuma bilang, “hutan ini banyak jiwa2 ga tenang. Ada portal di sini yg menghubungkan dgn dunia mereka. Maaf saya ga bisa bicara banyak, Krn td salah satu makhluknya mengatakan saya ga boleh bicara terlalu banyak ttg hutan mereka”

    Yaelaaahhhh cuy, apa tujuan aku liat virtual tur horor kalo gitu hahahahahaha. Tapi ada juga host yg blak2an, ngasih tau “tempat ini pernah ada pembunuhan berdarah. Pelakunya seorang wanita, dan dia msh suka berdiam di ruangan ini. Bajunya berdarah” , dan detil bangettet pokoknya yg dia ksh tau. LBH menarik :D.

    Jd so far yg aku ikutin yg unik begitu. Kalo cuma liat landmark, masih prefer ntr aja datangin kalo pandemi udh selesai 😀

  4. Aku dari sebelum pandemi udah suka virtual traveling mbak 😀

    Biasanya dari Youtube, Google Street View, atau Wikipedia. Di Youtube ada banyak Youtuber yg upload video jalan kaki atau naik kereta sebagaimana adanya. Jadi nggak dipotong-potong ala cinematic.

  5. Syaiful BS says:

    Pas pandemi gini emang lagi hype banget yaa mbak virtual tour kayak gini hehe. Ya itung-itung ngobatin kangen traveling hehe. Tapi asik juga sih, jadi nanti pas mau kesini sedikit banyak kita udah tau yaah, mana aja destinasi yang mau dikunjungi hehe.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bener, Pul. Jadi sampai di sana nanti, kita udah nggak bingung lagi mau ke mana-mana dan membuang biaya untuk destinasi yang ternyata biasa-biasa aja 🙂

  6. Dedew says:

    Ya ampun asli jadi pengen banget ke Korea baca artikel ini apalagi ke istana itu, udah sempat tanya-tanya sama biro perjalanan biaya ke Seoul, lagi nyiapin tabungan eh pandemi..ambyar…semoga kita bisa ke sana ya nanti Vick…

  7. Evi says:

    Menurutku virtual tour semacam ini sangat berguna selama tour sebenarnya belum bisa dilaksanakan. Yang utama tuh ya, kita mengetahui lebih dulu tentang destinasi sebelum benaran berangkat ke sana nantinya. Jadi pada saat jalan kita sudah tahu kira-kira apa yang akan ditemui di sini. Jadi untuk pencari konten, akan dapat lebih banyak insight nantinya. Begitu pun untuk memotret, kita sudah punya gambaran baik angle maupun komposisi. Biar kontentnya makin berisi dan cakep

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Setuju banget, Mbak Evi. Aku merasakan sendiri, setelah melihat virtual tour di Seoul ini, aku nggak akan mau membuang-buang waktu di Myeongdong atau Dongdaemun :))

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hahaa..saya bisa membayangkan.. Wildan duduk menatap gambar-gambar tempat orang lain di laptop, lalu mousenya bergerak ke sana kemari sambil kepalanya mengkhayal.. :))

  8. Zam says:

    ini ide menarik sih. dan juga bisa jadi salah satu cara biro perjalanan bertahan. karena pandemi ini memang salah satu penyebab terburuk terpuruknya industri wisata.

  9. wahyuindah says:

    Jadi pengen ke Korea ya mbak setelah jalan jalan virtualn terutama ke sungainya. bagus banget dihiasi patung begitu. romantis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *