Kabut Asap, Tuah Deforestasi

Sudah sedemikian nggak sabarnya oknum-oknum ini melakukan deforestasi di Indonesia, sampai-sampai mereka merasa perlu mengekspor kabut asap ke Singapura.

Pagi ini, #MelawanAsap jadi trending topic lantaran Sinx sudah mencak-mencak. Tetangga ngedumel karena langitnya berkabut penuh asap, sehingga semua orang pakai masker. Konon, kabut asap itu hasil tularan dari kebakaran hutan di Riau.

Saya sebetulnya nggak terkejut kalau Sinx kena kabut asap ini. Pasalnya, sudah dari berapa minggu, kabar bahwa Pekanbaru dan Palembang menderita kabut asap itu terus-menerus berseliweran di timeline saya. Dan dua kota itu bukan satu-satunya yang jadi gelap lantaran kabut asap pekat ini. Banjarmasin dan Pontianak sudah dari kemaren-kemaren teriak-teriak bahwa langit mereka sudah nggak asik lagi buat diterbangin pesawat.

Pembakaran Hutan, Penyebab Kabut Asap Banjarmasin

Coba tengok di Banjar aja. Kota satu itu dari dulu memang sudah ribut sama asap lantaran kendaraan bermotor yang berseliweran di sana makin banyak. Tapi asap makin bejibun aja lantaran kebakaran dari hutan gambut yang berada di kabupaten-kabupaten dekat kota Banjar itu.


Gegara Banjar kena kabut asap, orang-orang jadi ke mana-mana kudu pake masker. Yang kasihan itu anak-anak yang kudu berangkat sekolah, matanya seringkali pedes lantaran hawa kota udah terpolusi asap. 

Sudah banyak yang pilek, batuk-batuk lantaran ngisep asap. Staf-staf Dinas Kesehatan Banjar sampai kewalahan bagi-bagiin masker ke seluruh warga kota. Sebetulnya maskernya gratis sih, tapi pasalnya nih masker cuman bisa dipake sekali doang. Lha kudu sediain masker berapa ratus ribu kalau kabut asapnya nggak tamat-tamat?

Sing repot, beberapa kawan saya yang mestinya pulang ke Surabaya setelah dinas luar ke Banjar, jadi nggak bisa pulang. Lha pegimana, pesawatnya nggak mau berangkat karena pilotnya nggak berani terbang. Pilot ngeri soalnya jarak pandang di bandara tinggal 100 meter.

Jarak pandang yang aman untuk terbang itu minimal 1 kilometer. Kalau jaraknya kurang dari itu, kuatirnya nanti pesawatnya nabrak, hiiii..

Bukan cuman pesawat ke Surabaya yang nggak mau terbang dari bandaranya Banjar. Pesawat yang mau ke Jakarta dan Jogja juga ikutan nggak berani terbang. 

Demikian juga maskapai-maskapai yang mestinya mendaratkan pesawat di Banjar, ikut-ikutan takut. Beberapa pilot yang mestinya mendarat di Banjar, beberapa hari ini terpaksa membablaskan pesawat ke Balikpapan lantaran bandara di sana masih kelihatan lebih jernih lapang pandangnya ketimbang bandara di Banjar.

Masih untung bisa mendarat di Balikpapan. Tetangganya Balikpapan, yaitu Samarinda, sudah kadung kena kabut asap juga, meskipun bandara mereka masih punya jarak pandang sampai 500 meter. Bukan, di dekat Samarinda nggak ada kebakaran hutan. Tapi angin membawa kabut asap dari Kalimantan Selatan berhembus ke Samarinda juga.

Kabut Asap Palembang

Palembang juga ikut-ikutan kena kabut asap. Situasinya nggak beda jauh, jarak pandang tiap orang paling-paling ya cuman 100 meter doang.

Sumber kebakarannya ya sama, dari lahan gambut. Padahal lahan gambutnya bukan di Palembang, melainkan di kabupaten-kabupaten sebelahnya, antara lain Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin.

Kabut Asap di Pontianak

Pontianak adalah kota yang termasuk paling menderita di Indonesia lantaran kabut asap rese ini. Dengan jarak pandang yang sama-sama tinggal 100 meter, praktis bikin semua orang jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Sama, sumber kebakaran sama-sama dari lahan gambut dan lahan gambutnya di kabupaten sebelahnya, yaitu Kubu Raya.

Kota satu ini termasuk unik. Karena yang bekerja di kota ini nggak cuman penduduk Pontianak doang, tapi juga tiap hari ada pekerja commuter dari Kabupaten Kubu Raya. Pekerja-pekerja ini tiap hari mondar-mandir antara Kubu Raya dan Pontianak pakai perahu motor. Masalahnya, kabut asap bikin para motoris nggak berani jalanin perahunya juga karena sama-sama menghalangi jarak pandang.

“Bisa-bisa nanti ada kecelakaan di sungai,” kata motoris di sana. Alhasil banyak orang terpaksa tinggal di rumah, meskipun banyak dari mereka masih harus bekerja atau pergi ke sekolah. Lha pegimana, polusi udara di Pontianak sudah sampai melebihi 800 mikrogram/m3.

Polusi udara dikatakan berbahaya jika konsentrasi PM10 sudah di level 350 mikrogram/m3.

Pasalnya, di rumah juga nggak aman-aman amat. Beberapa penduduk mengeluh bahwa kabut asap sudah mulai merasuk ke dalam rumah, meskipun pintu dan jendela udah dikunci rapet-rapet. Di dalam rumah sendiri jadi terpaksa kudu pakai masker. Lampu tiap hari diterangin meskipun masih siang, karena di luar pun langitnya sudah gelap.

Menular ke Singapura dan Malaysia

Dengan situasi genting kayak gini, nggak heran kalau Sinx dan Malaysia jadi panik. Kabut asap bikin langit di sana ikutan gelap, dan semua orang harus pakai masker kalau mau beraktivitas.

Di Sinx, orang mengukur polutan kabut asap menggunakan Pollutant Standard Index. Alatnya ditaruh di taman kota, semua orang bisa melihat (dan membicarakannya dengan penuh kepanikan). Di Malaysia, alatnya mirip, tapi namanya Air Pollutants Index.

Cara membaca angkanya, jika pengukurannya mencapai > 100, udara dianggap tidak sehat. Apalagi jika angkanya mencapai 300, maka udara dianggap berbahaya bagi kesehatan.

Kondisi sekarang, kabut asap menyebabkan API di Malaysia sebesar 200, dan PSI di Singapura sebesar 300. Nggak heran, warga sana panik.

Padahal, di wilayah area kebakaran di Indonesia, PSI-nya sudah 2000.

Persoalannya sampai kapan? Padahal sebentar lagi di Sinx mau ada perlombaan Formula One. Apa nggak mending dibatalin aja tuh lomba?

Komplikasi dari Kabut Asap

Kabut asap ini memang rese karena memang sangat membahayakan kesehatan. Asap umumnya mengandung partikel-partikel matrikulat debu-debu halus yang sebetulnya bisa merusak saluran pernapasan. Penderitanya bisa kena alergi, iritasi, sampai infeksi paru.

Kabut asap juga mengandung banyak gas yang bisa memperlamban kerja paru, sehingga orang jadi sulit bernafas. Karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan ozon, adalah beberapa gas tersebut. Efeknya bisa meracuni oksigen dalam darah. Akibatnya, oksigen yang masuk ke otak kita menjadi tidak berkualitas, sehingga otak kita sama aja kekurangan oksigen. Itu sebabnya penduduk yang terpapar kabut asap banyak yang lemas.

Situasi semakin genting kalau penduduk aslinya sudah punya asma atau penyakit paru obstruksi kronis. Bahkan tanpa harus bikin sesak napas pun, polutan-polutan dari kabut asap ini sudah bisa mengiritasi kulit lho. Kulit bisa memerah, mengelupas, dan bentol-bentol.

Di luar dampak kesehatan, kabut asap juga menghilangkan keanekaragaman hayati, dan menciptakan emisi gas rumah kaca yang tinggi.

Bisnis yang paling terganggu oleh kabut asap ini jelas bisnis penerbangan. Kabut asap yang menyebabkan pesawat gagal terbang, menyebabkan pesawat harus menunggu di bandara. Acara tunggu-tungguan ini tentu menimbulkan biaya bagi maskapai tersebut.

Pesawat yang gagal mendarat padahal sudah kadung terbang, akan terpaksa berputar-putar sampai bisa mendarat di bandara yang aman. Padahal berputar-putar nggak jelas itu meningkatkan biaya bahan bakar yang kudu ditanggung maskapai terkait.

Berputar-putar nggak jelas juga bikin jam terbang pesawat jadi naik. Alhasil, biaya perawatan pesawat jadi lebih mahal. Kan pesawat juga diitung jam terbangnya sampai dianggap waktunya pensiun?

Dan kabut asap juga merugikan perekonomian lokal secara keseluruhan. Berkat kabut asap, banyak penerbangan jadi gagal terbang. Hotel dan industri makanan jadi kekurangan pemasukan, lama-lama pariwisata juga melorot. Banyak sekali kontrak bisnis yang batal dengan pengusaha lokal. Tentu saja ujung-ujungnya produk domestik regional bruto ikut-ikutan berkurang.

Deforestasi, Penyebab Kabut Asap di Kalimantan dan Sumatera

Soal kabut asap ini memang bikin geger karena sejak dulu semua orang sudah punya asumsi sendiri-sendiri tentang penyebab kabut asap. Seperti yang saya ceritain di atas, kabut asap ini berasal dari kebakaran lahan-lahan hutan gambut. Lahan-lahan hutan gambut yang udah gundul ini biasanya dibiarkan terbengkalai dulu, menjelang musim kemarau. Sengaja nunggu musim kemarau, karena pada musim super panas ini, temperatur musim kemarau akan naik tinggi sehingga menciptakan kebakaran yang massif dan memusnahkan hutan sampai luluh lantak dengan cepat.

Meskipun kesannya kebakaran ini terjadi lantaran faktor alam karena musim kemarau, tapi pasalnya lahan gambut ini ternyata juga bukan lahan liar. Hutan yang terbakar umumnya berada dalam konsesi, alias ada perusahaan yang punya izin untuk mengolah hutan ini. Dan perusahaan ini umumnya melakukan deforestasi lantaran kepingin mengubah fungsi hutan menjadi fungsi non-hutan. Misalnya, mau diubah fungsinya jadi lahan perkebunan atau lahan pertanian.

Isu Deforestasi di Indonesia

Para jurnalis banyak sekali kasih berita bahwa kebakaran hutan yang sampai menciptakan kabut asap ini sebetulnya disengaja. Pelakunya melakukan deforestasi, tapi kadang-kadang tidak punya biaya. Antara biaya memusnahkan hutan atau biaya untuk memiliki hutan itu sendiri.

Iya, hutan memang ternyata kadang-kadang masih dimiliki warga, dalam bentuk Surat Kepemilikan Tanah alias SKT. Kadang-kadang tanah hutan ini bukan milik perseorangan, tapi bisa jadi milik desa. Ada aja oknum kepala desa yang menjual SKT ini kepada makelar-makelar tertentu, lalu makelarnya menjual suratnya lagi kepada perusahaan tertentu untuk memperoleh hak buat mengelola hutan/lahan. Kalau lahan itu sudah jadi miliknya perusahaan, mau dibakar pun suka-suka mereka.

Kenapa harus dibakar? Untuk mengubah fungsi hutan menjadi sesuai kemauan perusahaan, memang kadang-kadang hutannya kudu diratakan dulu. Antara diratakannya dengan cara ditebangi kek, atau mau dibakar kek, pokoknya pepohonannya kudu diratakan. Tapi biaya operasional menebangi pohon masih jauh lebih mahal 10x lipat ketimbang membakar. Makanya option membakar hutan pun lebih sering dipilih.

Kadang-kadang ada juga oknum-oknum desa yang sengaja melakukan illegal logging alias pembakaran hutan tanpa izin. Tujuannya, supaya tanahnya lebih mahal ketika dijual kepada para makelar tanah. Soalnya, lahan hutan yang masih berupa pepohonan, harga jualnya masih lebih murah 3x lipat daripada lahan yang sudah diratakan lho.

Padahal, pembukaan lahan dengan cara membakar, merupakan pelanggaran pidana. Regulasinya ada pada Undang-undang Perkebunan nomor 39 tahun 2014 Pasal 108. Ancaman hukumannya penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 milyar saja.

Dan praktek-praktek begini nggak cuman terjadi di provinsi-provinsi yang kena kabut asap. Hampir semua pulau besar di Indonesia yang ada hutannya, mengalami deforestasi dengan cara penggundulan atau pembakaran kayak gini, meskipun mungkin nggak semua pembakaran hutan sukses menciptakan efek samping berupa kabut asap.

Sebetulnya tanpa kabut asap pun, deforestasi sudah cukup buat menciptakan akibat-akibat tidak enak: mengancam ekosistem, mengacaukan siklus air, menghasilkan emisi karbon. Belum lagi musnahnya keanekaragaman hayati, sehingga timbul penyakit-penyakit zoonosis yang mengancam kesehatan, akibat deforestasi.

Deforestasi yang terjadi pada tahun ini di Indonesia masih mending, karena laju deforestasinya “cuman” 0,5 juta hektar per tahun. Dulu, sekitar tahun 2000, Indonesia pernah mengalami laju deforestasi sampai 1 juta hektar per tahun.

Dan lucunya, kalau ruang waktu risetnya dipersempit menjadi hitungan bulan, laju deforestasi selalu naik lebih cepat pada bulan-bulan menjelang Pilkada.

Bau tidak enak nggak cuman tercium dari kabut asap, tetapi juga dari perusahaan-perusahaan yang konon membeli lahan-lahan bekas kebakaran ini. Perusahaan-perusahaan yang membeli lahan, umumnya ternyata memang berniat mengkonversi lahannya menjadi lahan pertanian. Apa pasal? Karena penduduk Indonesia makin banyak yang harus diberi makan, maka harus ada sawah-sawah dan ladang-ladang baru untuk memproduksi bahan pangan untuk orang banyak, maka hutanlah yang kudu dikorbankan.

Yang lebih banyak lagi, perusahaan yang membeli lahan bekas kebakaran biasanya adalah perusahaan yang mau membuat hutan tanaman industri dan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sawit ini memang sedang moncer permintaannya dari sana-sini. Antara lain, negara-negara Eropa mengincar sawit karena sawit bisa menghasilkan biodiesel, bahan bakar pengganti yang konon lebih ramah lingkungan daripada minyak bumi.

Indonesia sendiri tidak lantas jadi untung jika menjual sawit kepada industri biodiesel di Eropa. Pasalnya, negara-negara calon pengimpor biodiesel itu juga ngeyel bahwa produksi biodiesel dari sawit nggak boleh sampai membahayakan lingkungan. Artinya, jangan sampai cuman gara-gara mau bikin biodiesel buat banyak umat, lantas jadi sampai membakar hutan dan menghasilkan kabut asap. Konyol itu.

Mengatasi Kabut Asap

Mengatasi kabut asap di Sumatera dan Kalimantan ini memang sulit. Penduduk yang mengantre lantaran batuk-batuk dan sesak nafas di rumah-rumah sakit sudah makin banyak.


Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap?

So far, himbauan paling banyak hanyalah minta penduduk sering-sering cuci muka dan minum air putih biar nggak sampai dehidrasi. Pun penampungan air minum, dan tempat penampungan makanan kudu dilindungi dari polusi udara. Kalau cukup tajir, ya belilah air purifier.

Pencegahan paling efektif terhadap komplikasi kabut asap hanya memasangkan masker N95. Pasalnya masker N95 ini yang paling efektif buat menyaring partikel PM10 dari kabut asap ini, bukan masker bedah yang cuman sekali pakai itu.


Pemerintah sendiri sudah turun tangan banyak untuk mengatasi kabut asap itu. Polisi, tentara, Badan Penanggulangan Bencana Nasional, sudah turun tangan. Helikopter dan pesawat diterbangkan buat bikin water bombing untuk memadamkan titik api. Ada yang pakai pesawat Cassa. Ada yang sampai pinjam pesawat dari Rusia segala buat nyiramin titik api ini. Ada yang bikin hujan buatan.

Semua butuh biaya. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah, kabut asap ini sungguh nelen duit. Duitnya antara lain untuk beli air buat madamin api. Buat beli bahan bakar untuk mobil pengangkut air. Buat beli bensin untuk helikopter pemantau titik api. Buat bahan bakar untuk water bombing. Dan tentu saja untuk bayarin petugas pemadam kebakaran.

Pada akhirnya kita cuman bisa berharap kemarau segera selesai, termasuk El Nino yang panas ini. Karena mungkin yang bisa memadamkan hutan gambut yang super kering itu hanya cuaca yang lembab. Kalau cuaca sudah basah, kabut asap bisa selesai. Dan kita, bisa konsentrasi kembali menelaah oknum-oknum yang telah menyebabkan deforestasi semena-mena di negeri kita.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. noni says:

    DI mEdan juga kebagian loh. 2 mingguan kita dapet asap trus tapi dibandingkan Riau yang sampai lama banget gitu kita mah gak ada apa2nya. Walau gitu tetep kesel. makanya harus berenti pake minyak sawit hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *