Beli Saham pun Bisa sambil Liburan

Menjual saham seringkali mesti saya lakukan pada saat-saat yang tidak terduga. Baik karena untuk mencegah rugi. Atau karena memang sudah waktunya untung.

Tapi parahnya, saat-saat ketika saya harus menjual atau membeli saham itu justru terjadi ketika saya sedang tidak mengamati pasar. Terutama karena saya sedang sibuk dengan kegiatan saya yang lain. Ketika daya sedang hectic dengan anak saya. Atau ketika saya sedang sibuk dengan proyek. Atau lebih sering lagi, justru ketika saya sedang liburan.

Saya sudah trading saham selama bertahun-tahun dan selama itu belum pernah sekali pun saya menginjakkan kaki di Bursa Efek Jakarta. Orang sering menyangka cara membeli saham perusahaan yang saya lakukan ini seperti trader di film-film itu; pakai suit dengan sepatu hak tinggi yang bunyi klatok-klatok, pegang smartphone di tangan kiri dan kanan sambil teriak “Beli, beli! BELI!”, atau malah duduk di depan laptop sambil mata nelangsa melototin grafik-grafik ruwet.

Aduuh..enggak, saya sama sekali nggak seperti itu.

Saya nggak pakai sepatu hak tinggi karena saya sibuk mengejar anak berumur setahun yang lari-lari ke sana kemari seperti Pokemon. Saya nggak pakai suit, tapi saya lebih sering pakai baju longgar karena saya sibuk menyusui.

Smartphone saya cuma satu, saya jarang menelepon tapi pulsa saya lebih sering saya pakai untuk beli paket data ketimbang untuk menelepon. Saya kadang-kadang mengamati grafik saham, tapi yah..cuma seminggu sekali.

Dan saya nggak beli saham di gedung Bursa Efek Jakarta. Saya lebih sering bikin transaksi saham sambil belanja ayam di Pasar Pucang Surabaya. Atau sambil makan bakmi pangsit di depot Babah Hong. Saya malah pernah jual beli saham sembari piknik di Pantai Papuma.

Kuncinya: cara membeli saham yang saya lakukan ialah melakukannya melalui internet. Dan koneksi internet itu diakses melalui smartphone. Jadi saya cukup jual beli saham online via telepon genggam.

Online Trading

Cara saya berinvestasi saham sebetulnya sangat simpel. Kebetulan sekuritas tempat saya memasang rekening saham punya aplikasi untuk trading yang bisa diinstall di gadget Android. Dengan aplikasi ini, saya bisa memantau indeks harga saham, cek harga saham online, membeli saham yang saya mau, dan jual saham perusahaan yang tidak saya inginkan lagi.

Cara jual beli saham
Cara jual beli saham secara online: Tentukan saham apa yang mau dibeli, di harga berapa.
Beli ketika harga yang diincar itu terwujud.
Rencanakan jual di harga berapa.
Lalu laksanakan penjualan ketika harga itu terwujud.

Saya pun bekerja seperti kebanyakan para trader. Ketika saya beli sebuah saham, saya langsung pasang rencana untuk menentukan di angka berapa saya mau jual saham itu.

Harga saham tentu akan naik-turun setiap menit, setiap hari. Saya pun memantau harga itu via aplikasi Android yang sudah saya install. Ketika saya melihat harga itu sudah mencapai level yang saya inginkan, saya pun langsung menjualnya. Dan keuntungan pun masuk ke rekening saya.

Saya ambil contoh, waktu saya ingin beli saham PT Pakuwon Jati ($PWON) seharga Rp 423,- dua tahun yang lalu. Ketika itu saya punya rencana bahwa saya ingin menjualnya kelak jika untungnya sudah mencapai 50% (atau jika rugi sampai 10%). Tahun pun berlalu hingga akhirnya bulan September 2016 lalu, harga saham $PWON betul-betul mencapai Rp 635,-/lembar, artinya harganya memang sudah naik sampai 50% dari harga beli saya. Maka saya jual saham tersebut, dan saya mengambil keuntungan sekitar 50%.

Dan saya jual saham $PWON itu ya melalui aplikasi di smartphone saya. Bukan menjualnya di kantor Bursa Efek. Apalagi menjualnya di gedung kantor PT Pakuwon.. 😀

Koneksi Internet Tercepat Menentukan Trading

Tantangan akan muncul ketika harga sudah mendekati level yang saya inginkan. Kadang-kadang yang terjadi adalah harga sudah mencapai level yang saya incar, tapi karena saya terlambat melihat smartphone, maka harga pun meleset.

Pernah suatu ketika saya ingin beli saham PT MNC Nusantara ($MNCN). Saya ingin membelinya di harga Rp 2.440,-. Saya pun mengawasi pergerakan harga saham itu yang saat itu masih meliuk-liuk di kisaran Rp 2.600-2.700.

Suatu hari datanglah saat ketika harga saham perusahaan itu mulai tergelincir ke bawah angka Rp 2.500. Saya merasa hari itu saya akan bisa mendapatkan saham itu. Saya mengawasi aplikasi trading saya, menunggu saat bila saya bisa membeli di angka Rp 2.440.

Setiap jam, harga itu melorot, dan saya melihat pergerakan volume pasar terhadap saham itu pun naik, pertanda massa investor menginginkan harga itu terus menurun. Saham itu akhirnya mencapai angka Rp 2.450, dan saya mulai optimis bahwa sedikit lagi saya akan bisa membelinya di angka Rp 2.440.

Tapi ternyata, tidak. Setelah mencapai Rp 2.450, harganya naik lagi. Dan permintaan massa terus meningkat. Lama-lama harga naik terus sampai Rp 2.470. Saya pun gemas. Buat saya, Rp 2.470 untuk selembar saham $MNCN itu kemahalan.

Namun perasaan menginginkan saham $MNCN semakin membuncah dalam hati saya. Berdasar analisa saham yang saya lakukan, saya memutuskan bahwa saham ini bagus, terus-menerus profit dalam tiga bulan belakangan, dan laporan keuangannya menunjukkan laba yang cukup baik. Akhirnya saya mengalah. Ketika saham menunjukkan penurunan sedikit ke angka Rp 2.465, saya menekan icon BUY. Lalu, saham itu akhirnya jadi milik saya.

Persis sesudah saham itu terbeli oleh saya, dalam tempo 15 menit harganya meningkat terus. Rp 2.470, Rp 2.480, dan sore itu berakhir di angka Rp 2.490. Saya menghela napas lega. Untung tadi saya cepat membeli.

Coba kalau koneksi internet di smartphone saya ngadat, barangkali saya kalah cepat untuk membeli saham itu.

Pernah juga saya rugi setelah memiliki sebuah saham. Tiga bulan lalu, saham PT Aneka Tambang ($ANTM) membuat saya gusar. Jadi ceritanya, saya membeli saham ini di angka Rp 775,-. Analisa saham saya menyimpulkan bahwa harga saham ini akan naik meningkat pesat, tapi saya tetap pasang skenario bahwa saya akan jual saham perusahaan ini kalau sampai harganya melorot beberapa persen.

Kira-kira lima hari sesudah saya membeli saham perusahaan ini, trend harga saham-saham perusahaan pertambangan mulai menurun, termasuk saham $ANTM. Harga yang semula sempat naik 4%, lama-lama turun menjadi 1%. Saya mulai punya perasaan tidak enak, sehingga saya pun berencana jual saham perusahaan ini kalau sampai harganya turun 8%.

Akhirnya ketika harga sudah turun sampai 7%, saya memandangi smartphone saya sambil siaga antisipasi. Ketika kolom harga sudah menorehkan angka Rp 710,-, saya segera tekan icon SELL. Saya menghela napas lega, dengan bahu sampai merosot. Ketika saya memandangi grafik harga saham itu lagi, harganya terus-menerus terjerembab sampai ke angka Rp 680.. dan bahkan ke Rp 640..hanya dalam tempo beberapa menit.

Untung saya cepat menjual ketika rugi. Syukurlah koneksi internetnya tidak ngadat ketika saya menjual sahamnya.

Kisah Trader Paruh Waktu

Seandainya saya adalah full time trader, mungkin bebannya justru lebih ringan karena saya akan bisa berkonsentrasi penuh menghadapi indeks harga saham. Tetapi menjadi trader bukanlah prioritas utama saya, karena merawat anak saya yang baru berumur setahun itu jauh lebih penting bagi saya.

Jadi bisa dibayangkan, konsentrasi saya selalu terpecah-belah antara mengawasi harga saham dengan mengawasi anak saya yang sedang senang membongkar-bongkar barang. Dan saya punya setumpuk setrikaan yang menggunung. Saya harus masak opor ayam untuk suami. Dan serentetan proyek menulis dari klien, karena saya adalah blogger profesional.

Bagian yang sulit adalah kalau saya sedang liburan. Biarpun saya lagi pelesir, tapi saya nggak libur dari trading karena bursa efek tetap berjalan, toh? Jadi saya pun tetap piknik, sambil smartphone tetap menyala dengan layar indeks harga saham yang tetap standby. Aplikasi yang paling sering saya jalankan ketika liburan adalah Google Maps, bersaing dengan aplikasi online trading saya.

Pernah suatu hari saya sedang mengincar saham PT Wijaya Karya ($WIKA). Saya ingin membelinya di harga Rp 3.345, dan saat itu harga saham ini sudah mulai turun sampai Rp 3.400. Padahal hari itu, tahu-tahu saya mesti membawa Grandma saya jalan-jalan ke Pantai Papuma.

Sepanjang jalan, ayah saya menyetir, sementara saya duduk di bangku belakang mobil, mesti terus-menerus mengajak Grandma saya mengobrol supaya beliau tidak mengomel. Saya biarkan Grandma saya mengoceh, sementara tangan saya terus-terusan pegang smartphone. Telinga saya mendengarkan Grandma saya yang sibuk mengomentari sawah di Ambulu, tapi mata saya tidak lepas dari pergerakan saham $WIKA. Harga sudah mulai menyentuh Rp 3.360..

Tahu-tahu mobil kami terhadang macet. Sebuah truk manggis terguling di depan kami, menyebabkan kemacetan sepanjang 500 meter dan ayah saya mesti menanti giliran lama dengan kendaraan lain supaya bisa lewat. Grandma saya memandang keranjang-keranjang berisi manggis yang terguling, sebagian nampak busuk tetapi sebagian lagi nampak masih segar. Tapi saya tidak peduli soal manggis. Karena tepat saat mobil kami sedang kemacetan, harga saham $WIKA menghantam angka Rp 3.345 dan saya langsung tekan BUY!

Investasi Saham Online Itu Mudah

Memang di masa lalu, investasi saham itu tidak semudah sekarang. Selain dulu butuh modal sampai ratusan juta rupiah, prosedurnya seringkali berbelit-belit. Dan pengetahuan tentang investasi pasar modal pun tidak semasif sekarang.

Tetapi kini memang situasinya sudah jauh berbeda, cenderung lebih mudah. Untuk bisa investasi saham, paling-paling modal yang dibutuhkan cuma lima ratusan ribu rupiah. Harga saham bisa diakses oleh orang awam secara online. Kebanyakan sekuritas tempat berdagang saham di Indonesia saat ini sudah punya platform aplikasi trading online, yang bisa dioperasikan melalui smartphone. Paling-paling hanya butuh smartphone dengan sistem operasi Android, iOS, atau Windows.

Tinggal investornya yang butuh belajar terus-menerus tentang ilmu pasar modal. Saya rasa, kalau mau sukses di bursa saham yang kejam ini, kuncinya ya harus terus belajar saham dan selalu update dalam ilmu analisanya.

Pasar modal sangat menarik buat saya, dan keuntungannya tidak hanya keuntungan material bagi saya pribadi. Saya juga merasakan bahwa saya ikut mendanai operasional perusahaan-perusahaan di Indonesia, sehingga saya merasa seolah ikut memberikan nafkah buat para pekerja perusahaan itu. Dengan cara itulah, saya merasa saya ikut membangun negeri ini.

Memang berinvestasi itu tidak perlu ruwet-ruwet amat. Dengan segenap perangkat digital yang kini bisa dimiliki dengan gampang oleh penduduk Indonesia, investasi bisa dilaksanakan secara digital pula dan memberikan banyak manfaat bagi para pelakunya.


Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

20 comments

  1. Kartes says:

    Mbak, kalo minggu-minggu ini nggak mantengin bursa terus, bisa repot.
    Sentimennya banyak banget mau eksternal mau internal.
    Saya aja kalo kelewat sedikit bisa dari ijo langsung merah..hahaha
    Semoga sukses dan selalu cuan ya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Nggak cuan minggu ini, wkwkwkwk.. *nangis darah*
      Saya lagi cut loss satu per satu, karena batas stop loss-nya sudah lewat.

      Nggak lah, bursa tetap saya pantengin meskipun cuma dari HP. Saya tetap analisa setiap hari kok, biarpun nggak setiap jam juga.
      Semoga rejeki tetap bersama kita ya, Mas Andhika 🙂

  2. Ardiba says:

    Tos Mbak. Aku pantaunya pake aplikasi, gak pernah depan laptop. Tp aku blm sepenuhnya trader sih..msh bth byk belajar…

  3. yellsaints says:

    Kece banget mba.., luar biasa inspiratif banget! Ini namanya mama pekerja di rumah, kerjaan pun jalan bersama anak pun all day! Salam kenal mba., mampir juga ke rumah ku ya!

  4. Mugniar says:

    Eh iya benar nih: ttg trader di film2: pakai suit dengan sepatu hak tinggi yang bunyi klatok-klatok, pegang smartphone di tangan kiri dan kanan sambil teriak “Beli, beli! BELI!” hihi padahal kan sekarang sudah bisa online …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *