Main a la Peternakan Belanda di Farm House Lembang

Bunga-bunga bermekaran warna-warni di taman atas tebing. Anak saya lari-lari hilir mudik dari taman yang satu ke taman yang lain. Sementara emaknya sibuk berlenggak-lenggok di sela-sela jalan setapak dengan rok megar warna merah menyala a la gadis pemerah susu.

Suami saya sang Instagram husband manut disuruh bininya motret di setiap pojokan taman. Sambil sesekali minta time out, lantaran kepingin latihan motret makro. Mumpung banyak bunga di sana-sini. Saya memekik kegirangan; setiap pojokan taman kembang adalah sudut yang instagrammable banget.

Farm House Lembang
Saya dan anak saya lagi di Farm House Lembang, Bandung.

Sesekali saya menengadah cemas ke langit yang berwarna abu-abu. Adeuh..ini sepertinya mau hujan. Berapa lama lagi waktu yang saya punya?

Saya harus meneliti semua sudut kompleks taman ini, sambil foto-fotoan pakai gaun pemerah susu ini. Mumpung belum hujan. Sewa gaunnya per jam, bo’.

Saya memutari jalan setapak ke sudut kompleks yang lain, berusaha menghindari jalan menuju Petting Zoo. Si Fidel senang sekali di sana tadi. Saya takut kalau dia lihat kawan-kawannya, domba-domba itu lagi, dia bakalan minta masuk dan nggak mau diajak pergi. Padahal saya masih kepingin foto-fotoan di tempat lain mumpung masih pakai gaun ini.

Ini kostum niat banget kan, wkwkwkwk.. Berasa kayak di Belanda deh. Selamat berjumpa dengan saya, nonik Dutch lady!

Farm House Lembang di dekat rumah

Saya rasa, itulah daya tarik utamanya tempat ini. Sewaktu saya dengar di dekat rumah ibu saya baru dibuka tempat bernama Farm House Lembang, semula saya pikir itu cuman akal-akalan orang lokal yang kreatif mengarang-ngarang tempat wisata di Bandung untuk menjaring konsumen yang gila Instagram.

Bukan baru sih, tempat ini sebetulnya sudah dibuka tahun 2015. Tapi saya sendiri baru sempat jalan-jalan ke Lembang ini tiga bulan yang lalu. Karena selama ini saya tinggal di Surabaya. Dan punya bayi yang belum luwes untuk diajak pelesiran.

Tetapi orang-orang terlalu sering membicarakannya, jadi saya penisirin. Lagian lokasi Farm House, Lembang, Bandung, cuman berjarak nyetir sekitar 15 menit dari rumah orang tua saya. Nggak acih ah kalo saya sebagai pemilik daerah nggak pernah ke sana.

Jadi, ketika saya dan suami lagi di Bandung kemaren, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Lembang. Termasuk ke Farm House itu. Mumpung tempat wisata di Bandung yang satu ini deket rumah.

Sempat saya tanya ke ibu saya, kayak apa tempat itu. Lalu ibu saya, yang sudah eneg jalan-jalan ke Lembang yang sekarang panas karena kebanyakan mobil plat B, mengangkat bahu, “Ndak tau, Mama juga belum pernah ke sana. Pernah lewat, hadeuh macetnya. Wis, kalo ndak perlu-perlu amat, ndak usah lewat sana lagi.”

Saya baca di internet kalo jam buka Farm House Lembang ini ialah jam 9 pagi. Yo wis, saya dan suami pun nyetir menyusuri jalan menuju Farm House Lembang mulai sekitar 9.30. Cumak berbekal Google Maps dari rumah. Suami saya yang pegang mobilnya.

Baru saya ngutak-ngutik Maps, tau-tau suami saya sudah nanya, “Ini tah?”

Saya mendongak dan ternyata kami sudah tiba di depan taman dengan tulisan segede-gede gaban, Farm House Susu Lembang.

Kami langsung membelokkan mobil masuk. Dan ternyata lapangan di dalamnya sudah dipenuhi bis yang lagi parkir. Ya Allah, ruameneee.. Padahal waktu saya dateng ini bukan weekend.

Seseorang yang sepertinya rada terlalu kreatif telah membeli lahan super luas di sana. Lalu menyulapnya untuk jualan susu sapi. (Memang semenjak jaman jebot, Lembang sudah beken dengan produksi susu sapinya.)

Apa? Lahan berhektar-hektar cuman demi jualan susu? Oh tentu tidak, dia bisa cepet kelelep karena saking banyaknya toko jualan susu Lembang. Di kota kecil itu aja, pusat jualan susu Lembang ada di Sumur Lembang.

Kampung Belanda dan Rumah Hobbit di Bandung

Kami parkir mobil, lalu berjalan kaki masuk.

Farm House Lembang Bandung
Farm House Lembang ini isinya taman, taman, taman melulu. Kembang-kembang warna-warni tertata rapi di setiap sudut taman. Bikin saya jadi kepingin foto-fotoan di segala penjuru. Tapi agak sulit lantaran harua nemu tempat yang sepi karena tempat ini ramai sekali. Di foto ini, saya berdiri di depan sebuah factory outlet.

Dan di tiap pojokan, ada aja turis lagi selfie. Selfie-nya nggak sendiri-sendiri, tapi berombongan. Semua orang kelihatannya riang gembira.

Melalui sebuah lorong berhiaskan tanaman rambat, saya tiba di sebuah sudut berisi gubuk berderet-deret.

Rumah Hobbit di Bandung
Gubuk-gubuk itu langsung mengingatkan saya pada film Lord of the Rings. Ealaah..ini tho yang sering disebut-sebut orang sebagai rumah Hobbit di Bandung buat foto-fotoan..

Rumahnya ternyata mungil. Turis cuman bisa foto-fotoan di depannya, nggak bisa dimasukin. (Rumahnya yang nggak bisa dimasukin. Bukan turisnya. Ah, sudahlah.)

Lalu belok lagi, saya ketemu balai bercat warna biru segede factory outlet yang berjualan oleh-oleh. Macam-macam snack yang dijual. Ada seblak, kripik, kue-kue kecil. Saya sebagai orang Bandung, sudah resisten terhadap oleh-oleh dan langsung kepingin keluar. Tapi nggak bisa leluasa berjalan keluar, karena di depan pintu ada serombongan insan lagi foto-fotoan. Masya Allah, ternyata pintunya Instagrammable..

Saya menyelipkan diri untuk keluar, supaya nggak sampai kelihatan ngebom di foto mereka nantinya. Lalu saya lihat bangunan factory outlet itu secara keseluruhan. Oh iya sih, memang bangunan balainya klasik banget, kayak lagi di Eropa.

Saya jalan lagi, lalu ketemu gang besar dengan bangunan a la folk houses di kiri-kanan gang. Rumah-rumah kecil yang persis banget mengingatkan saya akan gambar-gambar gang kota di Eropa, yang sering saya lihat di buku-buku dongeng. Eh busyeet..niat bener yang bikin tempat ini, pasti terobsesi pada buku-buku dongengnya Hans Christian Andersen terbitan Gramedia tahun ’90-an.

Bangunan-bangunannya berupa kios kecil. Masing-masing kios jualan souvenir, jualan jajanan dan minuman.

Dan, seolah-olah melengkapi halusinasi saya akan pemandangan a la Hans Christian Andersen, saya pun ketemu serombongan emak berpakaian gaun pemerah susu. Persis kayak mbak-mbak yang di cover susu Dutch lady! (Eh, masih ada nggak sih yang produksi susu itu?)

Holy God. Meni niat euy.

Tempat wisata di Bandung
Gaunnya sama semua, warna merah dengan rok kayak dilapisin kandang ayam di dalemnya. Persis banget nonik-nonik Belanda yang suka memerah susu sapi. Di depan saya,menjulang sebuah bangunan dengan plang yang tertulis, “Sewa costume Holland”.

Nonik Belanda yang Kecentilan

Langsung saya menggeret kaki saya ke tempat penyewaan kostum itu dan nyewa gaunnya. Semua orang yang mau nyewa dicatet nama dan nomer teleponnya. Harus langsung bayar di muka. Mereka bahkan sedia mesin gesek segala, buat antisipasi mereka yang bayar pake kartu kredit.

Aturannya adalah jatah nyewa gaunnya cuman selama sejam. Kalo diperpanjang, ya kena charge lagi.

Kita nggak pakai gaunnya sendiri lho, tapi banyak petugas yang bakalan bantuin kita. Kita nggak usah lepas baju kita sendiri. Set gaunnya sendiri sudah berupa blus putih yang dirangkapkan ke baju kita, kemudian kita dipakaikan outer  yang mirip celemek yang ditali di punggung.

Dan rok yang kayak kurungan kandang ayam itu tinggal direkatkan pakai velcro doang di pinggang kita. Oh iya, roknya boleh milih, mau milih yang gambar bunganya besar atau kecil. Saya sendiri pilih rok yang gambar bunganya buesar-buesar. Baru belakangan saya nyadar, kalau rok itu akan membawa masalah buat saya..

Sebetulnya ada baju Belanda untuk laki-laki juga sih. Saya tawarin suami saya buat pakai itu, tapi suami saya nggak mau. Anak saya juga nggak mau.

Saya keluar dari toko sembari jalan melenggak-lenggok di depan suami saya, minta difotoin.

Jalan-jalan ke Lembang
Sesekali selfie sembari bikin vlog. Bilang aja, hari ini lagi jalan-jalan ke Lembang.

Maka jadilah saya jalan sembari tawaf keliling kompleks Farm House Lembang pakai rok kurungan ayam itu.

Anak saya ketawa-tawa girang ngeliat emaknya pakai baju aneh itu. Dan saya nggak berhenti-berhentinya minta dipotretin. Mana semua properti di sekeliling Farm House Lembang itu instagrammable semua. Tamannya cantik-cantik, bangunan kiosnya lucu-lucu, asyik banget buat jadi background foto-fotoan.

Tempat wisata di Lembang
Tempat wisata di Lembang bertitel Farm House ini persis berdiri di pinggir jurang Lembang. Pengelolanya menata area pinggir jurang menjadi tempat buat ngecengin hijaunya hutan di antara Lembang dan Ciumbuleuit di kejauhan. Dan ketika kita melihat ke bawahnya, adalah jurang yang dihamparin sawah dan kebon milik penduduk lokal.

Orang-orang dari Jakarta paling senang nongkrong di tempat wisata di Bandung yang satu ini. Karena tempatnya adem dan bisa melihat panorama hijau luas tanpa batas.

(Sementara saya cuman mencibir; kalo kayak gini doang sih, dari rumah gw juga udah keliatan..)

Menggoda Binatang dan Kasih Minum ke Sapi

Tapi Fidel, kalau saya puterin video lagi tentang jalan-jalan kami ke sana, punya kenangan paling favorit di petting zoo. Setiap kali saya puterin video, dia selalu berteriak, “Inci! Inci!” Dia kepingin lihat kelinci lagi.

Petting zoo adalah sudut di Farm House Lembang berupa kebon binatang mini. Di sana, diternakkan macam-macam hewan, mulai dari bebek, burung, domba, kelinci, sapi, sampai iguana.

Pertama-tama kami mampir kandang burung dulu. Fidel ngeliatin bebek-bebek di sana, sementara saya baca plang-plang nama burung.

Pindah ke sebelahnya, kami ketemu peternakan kelinci. Whoaaa..banyak anak di sana lagi main-main sama kelinci.

Saya pun masuk ke sana sambil menggandeng Fidel, terus ngajarin Fidel manggil “Kelinci! Kelinci!”

Petting zoo
Fidel kelihatan excited lihat kelinci-kelinci yang lucu, dan dia teriak-teriak juga, “Inci! Inci!” (lihat adegan ini di video saya di paling bawah nanti ya…”)

Dia gemes dan penasaran, tapi sedikit takut juga sama kelincinya. Beberapa kelinci ngeliatin Fidel, lalu melompat ingin mengendus sepatu bot Fidel. Fidel lari berusaha menghindar, dan ketawa-tawa sambil berlindung di balik rok kurungan ayam saya.

Sesekali dia berusaha mendekat ke kelincinya lagi. Dia kepingin megang, tapi nggak berani. Sebagai gantinya, dia kepingin menyentuh si kelinci dengan kakinya. Tapi saya takut, nanti kelincinya malah keinjek sama kakinya Fidel. Jadilah saya dan suami ketawa-tawa, sembari nyuting Fidel yang kayak koboi itu, lagi kejar-kejaran sama kelinci..

Puas main sama kelinci, saya ngajak Fidel ke peternakan sebelahnya. Whoaa..ternyata ada anak-anak domba. Ini domba ya, yang bulunya kayak wol yang ada di Ostrali itu. Bukan kambing. Anak-anak dombanya jinak-jinak, bisa main sama pengunjung juga.

Maka saya pun masuk bareng Fidel ke peternakan, lalu saya ngajarin Fidel bahwa inilah domba. Dombanya ngeliatin Fidel, wondering kenapa bisa ada anak seganteng itu di muka bumi ini.

Petting zoo di Farm House
Di petting zoo Farm House, Fidel excited juga lihat anak domba, yang ternyata kalo berdiri itu bisa setinggi badannya Fidel.

Puas menyapa semua domba di situ, saya ajak Fidel jalan keluar. Fidel menggandeng tangan saya, tetapi keliatan dari matanya kalau dia masih kepingin ngobrol sama domba. Saya yang mau keluar, ternyata malah macet di pintu peternakan. Soalnya pintunya dihalangin domba.. wkwkwkwk..

Kami pun pindah lagi ke peternakan yang lain lagi. Eh eh eh, ternyata di sini ada..anak SAPI!! Saya pun langsung perkenalkan Fidel sama anak sapi. Ini lho, Nak, yang namanya sapi. Persis banget sama yang ada di bukunya Fidel. Asyiknya lagi, ternyata di sana turis bisa kasih minum susu ke anak sapinya.

Please jangan tanya kenapa sapi minum susu. Itu seperti nanya kenapa jeruk minum jeruk.

Lhaa..saya udah pakai baju a la gadis pemerah susu begini, mosok nggak acting jadi peternak sapi juga? Maka jadilah saya beli susu ke teteh-teteh penjaga peternakannya, buat diminumin ke sapi. Susunya ternyata ditaruh dalam dot, lalu kita tinggal minumkan dotnya itu ke anak sapi. Tuuh kan bener..di mana-mana juga yang minum susu pake dot itu cuma anak sapi.

Saya pun melambai-lambaikan dotnya ke anak-anak sapi itu, “Siapa mau susu?” (berharap sapinya ngacungin tangan kaki, sambil bilang, “Sayaaaaa!”)

Salah satu anak sapi malah ngeliatin saya, lalu menunduk dan menjulurkan kepalanya keluar pager. Terus moncongnya menjangkau..rok kembang-kembang saya! Ya ampuun..kenapa tadi saya pilih nyewa rok yang gambar bunga-bunga besar? Sekarang si sapi mengira itu kembang sungguhan, dan dia mau makan rok saya!

Saya meloncat mundur sembari ketawa-tawa, lalu melambai-lambaikan botol dot saya. Si anak sapi pun manut dan segera menyambar dot itu dengan mulutnya, lalu minum.

Petting zoo di Farm House Lembang
Geleguk, geleguk, geleguk. Ya ampun, lahap sekali anak sapi ini. Geleguk, geleguk, geleguk. Fidel penasaran dan kepingin megang sapi. Geleguk, geleguk, geleguk.

Satu botol dot susu cuman cukup buat kasih minum seekor sapi doang. Sebotol dot dihargain Rp 20k. Wah, mahal juga ya. Ada omega 3-nya nggak tuh?

Kami keluar dari peternakan sapi, dan Fidel pun dadah-dadah ke anak-anak sapi itu. Saya menyeringai puas. Gilak, Farm House Lembang ini juara banget buat nyenengin orang.

Restoran Backyard Kitchen

Cuacanya sudah mendung berat. Saya pergi ke bangunan khusus buat ngembaliin baju nonik Belanda itu. Ngelepasinnya nggak ribet. Tinggal bilang ke teteh-tetehnya mau kembaliin baju, lalu mereka akan bantu ngelepasin tali-tali gaun kita.

(Sebetulnya bisa aja sih satu kostum disewa oleh satu orang, tapi pada prakteknya dipakai oleh beberapa orang sekaligus. Akal-akalan orang Indonesia banget nggak sih? Tapi menurut saya sih, rugi. Soalnya bagusnya kan gaun itu dipakai buat foto-fotoan selfie sambil keliling kompleks Farm House. Harus smart banget supaya dalam satu jam penyewaan gaun itu bisa dapet semua spot foto. Lha kalau sewa gaunnya masih harus berbagi dengan orang lain dalam satu jam itu, kita nggak leluasa foto-fotoan di semua tempat.)

Oh ya, sebetulnya di bangunan ini ada studio foto khusus buat turis yang kepingin foto indoor dengan berkostum Belanda ini. Fotonya kalo udah jadi, bisa langsung dibawa pulang. Tapi saya sendiri nggak berfoto di sana. Soalnya kalo fotonya cuman berlatar backdrop lukisan Belanda jadi-jadian sih, rasanya kurang gimanaa gitu..

Usai kembaliin kostum, kami neduh dulu di restoran Backyard Kitchen. Saya ambil meja di pinggir jendela. Di luar, saya lihat hujan turun deras gila-gilaan.

Beberapa turis lari tergopoh-gopoh di luar di bawah payung. Padahal mereka masih pake kostum nonik Belanda. Aduh, kasihan, udah kadung sewa kostum tapi malah kehujanan. Nggak bisa poto-poto deh. Padahal sewanya dihitung per jam.

Backyard Kitchen adalah sebuah restoran dua tingkat dengan suasana pedesaaan. Sisi bangunan dipenuhin jendela yang dibuat menghadap gang, seolah-olah menghadap pedesaan Belanda.

Tapi ada juga teras di restoran itu yang dibikin dengan pemandangan menghadap pegunungan Lembang. Saya cuman jalan-jalan di lantai dasar restorannya aja. Karena lantai atasnya ditutup, lantaran ada yang lagi prewedding.

Menu yang disediain sebetulnya standar kafe. Meskipun ada sedikit menu makanan berat juga. Saya lihat arloji saya masih menunjukkan jam 11, kami belum lapar. Akhirnya kami pesan snack platter aja untuk cemilan sambil menunggu hujan reda supaya nggak disentil manajer kafenya.

Misalnya dirimu punya cafe, kepingin tamunya nongkrong lama-lama, tapi takut tamunya merasa makanannya kemahalan? Gw punya ide, gimana kalau menunya platter #jajanan kayak gini aja. Isinya satu piring #makanan berisi macam-macam gorengan. Tamu biasanya nggak akan protes tentang rasa karena hampir semua cafe bisa bikin beginian. Kuncinya, 1. Penyajiannya harus super cantik supaya tamunya nggak malu mamerinnya di IG. 2. ‎Bikin beraneka ragam, kuantitasnya banyak, jadi seolah-olah 1 piring bisa muat dimakan rame-rame. Kenyataannya, massa makanannya kecil-kecil, jadinya tamunya minta nambah terus. Siapa yang pintar? 3. ‎Kasih minumnya yang soda-sodaan, supaya kesannya keren, padahal minum soda itu malah ngajak haus dan maksa tamunya nambah menu lagi. Siapa yang pintar? 4. ‎Es tehnya jangan dibikin refill. Kalo perlu, es tehnya lebih mahal daripada sodanya. #anakjajan #doyanmakan #foodblogger #foodgasm #foodlover #foodphotography #foodstagram #foodstyling #instafood #kulinerbandung #picoftheday #pictureperfect #tastingtable #wisatakuliner

A post shared by Travel Food Blogger (@vickylaurentina) on

Harga makanan di restoran Backyard Kitchen bisa dilihat di video di bawah ini ya.. Sekaligus lihat anak saya yang asyik main dengan hewan-hewan. Dan lihat betapa centilnya saya dalam balutan gaun a la pemerah susu sapi..

Cara ke Farm House Lembang, Bandung

Tiket masuk ke Farm House Lembang ini sendiri murah lho, cuman Rp 25k per orang. Dengan tiket ini, saya sudah dapet voucher yang bisa dituker dengan segelas susu Lembang buat saya minum. Bisa pilih susu rasa original, rasa stroberi, atau rasa cokelat. (Tapi kalau mau semua rasa, ya harus mbayar lagi dong aah..)

Lha kalau pengunjungnya nggak doyan susu, gimana? No problem, vouchernya bisa dituker buat dapet diskon sebesar Rp 25k di kios-kios yang jualan makanan. Saya sendiri me-redeem voucher-nya untuk bayar makan saya di Bakcyard Kitchen.

Di mana lokasi Farm House Lembang ini? Anda lihat sendiri ya di peta yang saya sematin ini:

 

Kalau Anda turis dari luar dan kepingin jalan ke tempat wisata di Bandung ini, bisa ikutan tour ke Farm House (lihat caranya di artikel ini) atau cari moda transportasi dari stasiun Bandung ke Lembang secara mandiri.

Cara pergi ke Farm House Lembang sendirian: Dari depan stasiun Bandung ke Lembang, cukup pakai angkot jurusan St Hall-Lembang. (Tanya dulu supirnya, apakah dia ke arah Lembang atau ke arah stasiun Barat Jalan Kebon Jeruk). Naiklah angkotnya, dan angkot ini sendiri akan berhenti persis di depan Farm House Lembang.

Sebetulnya ke tempat wisata di Bandung ini nggak nyapek-nyapekin. Jalan keliling kompleks kira-kira cuman dua jam pun sudah puas, termasuk acara guyonnya dengan para domba-domba itu. Ditambah makan di restorannya sekitar sejam, cukup lah buat jalan-jalan ke Lembang dan pulang pergi ke Jakarta dalam sehari. Cuman kalau mau backpacking kemari, jangan berat-berat bawaannya, soalnya nggak ada layanan penitipan barang.

Catatan Hotel Sekitar Farm House Lembang

Satu kekurangan yang mungkin sebetulnya cukup saya sesalin adalah tempat ini nggak punya kolam renang. Bisa jadi karena harga tiket masuk Farm House Lembang ini terlalu murah kali ya. Kalau sampai dibikinkan kolam renang pasti bisa bikin jebol biaya operasional. Apalagi turis yang ke Lembang pasti mintanya kolam renang dengan air hangat, ya kaan?

Buat Anda yang dateng ke Lembang untuk narsis-narsis ria di Farm House tapi juga kepingin berenang, saya rasa mendingan habis dari Farm House ya cuzz aja ke Grand Paradise Lembang. Di sana kolam renangnya boleh dimasukin dengan bayar antara Rp 35k-Rp 50k. Tapi kalau mau nginep di hotelnya, sekalian aja booking di sini.

Cuman kalau keluarga kecil Anda itu bawa orang tua yang sudah lansia dan kepingin nginep juga, hati-hati dengan contour hotelnya yang naik turun. Makanya lebih ideal kalau nginepnya di Hotel Mercure Setiabudi Bandung yang juga nggak terlalu jauh dari sana. Selain arsitektur hotelnya yang lebih lansia friendly, orang-orang juga suka hotel ini karena kolam renang air angetnya.

Mau nginep tapi hotel-hotelnya kemahalan? Boleh juga coba Hotel Panorama Lembang. Harganya lebih murah, plus cottage-cottage-nya yang vintage dengan pemandangan Lembang yang hijau bikin kita berasa ada di rumah sendiri.

Ketika kami pulang ke rumah orang tua saya dan saya memutarkan video-video kami di depan bapak ibu saya, bapak saya mendesah. Sudah lama bapak saya nggak jalan-jalan ke Lembang karena males lihat macetnya. Apalagi macet di sekitar jalan menuju Farm House Lembang itu. Padahal Lembang itu sendiri cuman tinggal koprol dari rumah kami.

Ibu saya nggak suka ke sana seandainya tidak bareng Fidel. Adek saya juga belum pernah ke sana. Karena sebal lihat orang-orang berpose alay di Instagran dengan background rumah-rumah Belanda itu. Padahal itu cuma background jadi-jadian untuk menjual sosis-sosis dengan harga dimahal-mahalin.. Saya ngerti dia rada sirik. 😀

Menurut saya sih, Farm House Lembang ini adalah tempat wisata di Bandug yang memang menyasar turis-turis yang ingin berpose sandiwara dan pamer-pamer di Instagram. Dengan nilai plus iklim Lembang yang sejuk, pilihan macam-macam snack jalanan yang beragam, ditambah fasilitas petting zoo yang bisa jadi tempat pengetahuan buat nak-kanak, dan restoran yang cocok buat didatengin sekeluarga, produk unggulan lokal berupa susu Lembang yang murni, dan parkir yang bisa muat banyak bis, maka harga Rp 25k per orang yang di-charge-nya bikin tempat ini valuable banget buat jadi pilihan utama obyek jalan-jalan ke Lembang.

Apakah Anda sudah nonton video 4 menitan saya di atas? Kapan Anda mau nyusul saya ke Farm House Lembang, Bandung?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

30 comments

  1. Mbak ceritamu seruuuuu
    Jadi pengin akuuu
    Harus bujukin swami dulu, bair mau diajak macet-macetan di sana. Nggak apa-apa lah..terbayar dengan tempat keren begitu..
    Buat infonya:tengkyu..:)

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Dian, seru banget ke sini. Dirimu di Jakarta ya? Aku rasa nggak perlu nyetir sendiri lah. Pakai kereta api subuh aja ke Bandung, mendarat langsung oper ke angkot. Angkotnya turun di depan Farm House-nya, kalian tinggal masuk kompleksnya. Pulangnya naik angkot ke stasiun lagi, langsung naik kereta, nggak usah nginep, nggak usah mikirin macet 🙂

  2. Aku udh lamaaa mau kesana.. Tp pas ke bandung dulu, ngeliat antrian dan crowdednya farmhouse, pak suami lgs mutung :p. Akhirnya kita malah ke de ranch lembang.. Masih rame juga ya berarti itu farmhouse :D. Pgnnya kesana krn si kaka pgn ksh sapi minum susu katanya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Memang antrian kendaraannya bikin orang jadi ngambek :)) Tapi percaya deh, worth banget kemari demi foto-fotoan kasih minum susu ke sapi.

      Kalo jadi ke sini, ntar foto di IGnya di-mention ke aku ya, Fan 🙂

  3. Waktu kemarin kesini vouchernya cuma bisa di reedem sama susu atau sosis aja mbak, sekarang enak ya bisa buat voucher makan juga. Tapi senilai berapa ya mbak? #penasaran

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Jadi si voucher itu boleh diredeem pake susu. Kalau nggak doyan susu, boleh diredeem di restoran Backyard Kitchen. Nilai redeem-nya ya Rp 25k lah.

      Tapi gini..kalau punya 2 voucher, nggak boleh di-redeem semua di Backyard Kitchen, cuma boleh 1 voucher aja.

  4. wah… aku udah dua kali ke bandung tapi peernah sempet main ke Lembang, kata orang belum afdol ke Bandung kalo belum mampir ke Lembang.. tahun ini semoga bisa ke Lembang deh… hihi

  5. nizam says:

    lihat foto-fotonya serasa bukan di Indonesia ya. belum pernah ke farm house nih, mentok-mentok lihat kandang sapi tetangga

  6. slamsr says:

    none none belanda sedang berjinjit dan berlenggak lenggok.
    tempatnya istagaramable.
    kalau di semarang 10/12 sama santosa stable

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *