MPASI yang Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak

Menurut saya, fase paling menyenangkan bagi orang tua pada masa tumbuh kembang anak adalah selama mereka belum berumur enam bulan. Asalkan kita kasih mereka ASI aja, urusan gizi anak akan beres. Jarang sakit-sakitan, beratnya naik terus, wooh..pokoknya ibunya happy deh.

Tapi tunggu ketika umur enam bulan itu sudah berlalu, teror itu pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan bernada waswas pun mulai berkecamuk di dada, dengan bunyi yang intinya begini: Apakah saya sudah kasih gizi anak ini dengan benar?

Mengawasi Anak-anak Pendek

Beberapa kali saya ketemu dengan kawan-kawan saya yang dokter anak, mereka sering menyapa anak saya, Fidel, dan sesekali berkomentar, “Wah, kamu lebih tinggi ya sekarang.”

Menurut saya itu sapaan yang lebih menyejukkan daripada ibu-ibu sosialita-yang-suka-ngajak-mom-war yang saban kali nanyain anak itu ngomongin berat badan melulu. Pembicaraan tentang berat badan selalu merembet pada acara olimpiade berat badan, lalu debat ASI vs sufor, and so on yang tidak pernah menyelesaikan masalah tumbuh kembang anak masing-masing.

Tapi kemudian saya ngobrol lebih sering dengan kawan-kawan saya dan saya pun dapet update betapa sekarang dokter-dokter anak se-Indonesia lagi concern ngejar-ngejar anak-anak yang pendek. Ngomongin berat badan is so last year, karena sekarang anak yang gemuk doang tapi cebol alias kerdil, ternyata punya masalah lebih besar di kemudian hari.

Let’s say hello to stunting, situasi di mana anak ternyata pendek terus, tinggi badannya di bawah standar. Pasalnya, stunting mungkin merupakan pertanda bahwa bocah ini sepertinya kurang gizi.

Tumbuh kembang anak
Anak-anak stunting, pertanda awal kegagalan tumbuh kembang anak.
Gambar diambil dari Republika.
Anak Stunting, Calon Dewasa Penyakitan

Faktanya, ternyata banyak anak Indonesia yang memang pendek-pendek. Petite lah, kalau dalam bahasa fashion-nya. Kalau anak-anak se-Sabang sampai Merauke dijejer, ada sekitar 40% anak yang stunting. Artinya, anak-anak ini tinggi badannya nggak menyamai standar yang diharapkan.

Urusan anak pendek bukan persoalan sepele. WHO sampai bikin workshop khusus sedunia cuman demi ngomongin bocah cebol ini. Menurut WHO, toleransinya sih dalam suatu negara cuman boleh sampai 20% aja warganya yang stunting. Indonesia ini kebangetan jumlah bocah stuntingnya, bahkan Malaysia dan Thailand aja nggak sampai sebanyak itu.

Kementerian Kesehatan sampai mendaulat unit-unit Dinas Kesehatan di seluruh propinsi demi ngitungin anak pendek di wilayah masing-masing. Dan yang cukup bikin saya bengong sekaligus terpesona, Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan menerbitkan buklet khusus yang intinya menginstruksikan setiap gubernur supaya tidak main-main dengan warganya yang stunting.

Stunting itu apa? Simpelnya, tinggi badan anak di bawah standar WHO. Anda bisa intip kurva standar pertumbuhan anak bikinannya WHO di situsnya Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lalu hitung di mana posisi anak Anda berdasarkan tinggi badannya.

(“Vic, saya nggak punya alat pengukur tinggi badan di rumah.”

Terus saya jawab, “Ukur pakai penggaris. Nggak punya penggaris? Ukur aja pakai ubin rumahmu.”

Lalu yang nanya pun berkilah, “Lantai rumah saya pakai teraso..”

tumbuh kembang anak
Ini contoh kurva pertumbuhan tinggi badan menurut WHO untuk anak laki-laki berusia 2-5 tahun.
Garis berwarna hijau menunjukkan rerata tinggi badan menurut populasi anak seumurnya.
Jika tinggi badan anak kita berada di bawah garis merah -2, berarti anak kita mengalami stunting alias perawakannya pendek.
Jika tinggi badan anak kita berada di bawah garis hijau -3, berarti anak kita berperawakan sangat pendek sekali.

Persoalannya, kebanyakan orang tua dari para anak yang stunting belum menganggap perawakan pendek anak mereka sebagai masalah. Mereka umumnya berkilah begini, “Anak saya memang kecil. Soalnya ibunya pendek, dan bapaknya juga kurus.”

Hayoo.. Mungkin Anda juga ngomong begitu.

Repotnya, sebagian besar penyebab dia gagal tumbuh adalah dia kurang gizi. Tentu kita tahu akibat paling ngeselin dari gizi anak yang kurang ini, dia jadi gagal berkembang. Atau dengan kata lain, nggak jadi cerdas seperti standar tumbuh kembang. Iya, pertumbuhan dan perkembangan anak itu ada standarnya.

Saya kasih contoh ya. Misalnya pada umur 1 tahun, anak mestinya sudah bisa lari. Untuk proses berlari itu butuh keseimbangan pada tubuhnya, dan itu hanya terjadi kalau berat dan tinggi badannya dalam kondisi proporsional. Kebayang kan kalau anak itu cebol alias stunting, pasti repot kalau mau lari.

Tumbuh kembang anak lari
Lari itu nggak cuman pertanda kesuksesan perkembangan anak, tapi juga perangsang untuk kerja otaknya.
Anak butuh lari untuk mengejar mainan yang dia inginkan.
Tapi dia harus berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri selama lari itu, maka selama lari pun sel-sel otaknya berkembang.
Jadi, lari itu yang membuat dia pintar.
Makanya, kalau anak nggak bisa lari, agak mustahil dia bisa jadi cerdas.

Ini baru urusan dampak gagal tumbuh kembang dalam jangka pendek. Ketika anak agak gedean dikit, makin terasa akibat dari kurangnya gizinya ketika bayi dulu. Kecerdasannya rendah, kelihatan dari IQ-nya yang biasa aja. Mungkin dia sering di-bully karena penampilannya melas (lha iya, kulitnya dekil lantaran tubuhnya kan malnutrisi). Anak kayak gini rada ngerepotin gurunya karena sering ketinggalan pelajaran. Dia mungkin jadi anak yang rendah diri, depresian. Ketika dewasa, mungkin jadi agak sulit mendapatkan penghasilan (dan jodoh).

Pada jangka waktu yang lebih panjang, kegagalan tumbuh kembang anak ternyata merembet sampai ke masa dewasa. Kenapa orang-orang yang sudah lansia sering kena jantungan atau stroke, atau minimal jadi menderita diabetes? Itu karena memang metabolisme dalam tubuh mereka sudah nggak karuan. Sebabnya ya karena badannya sendiri sudah kekurangan tabungan nutrisi.

Dan masa paling strategis untuk menimbun tabungan nutrisi itu, justru pada saat mereka masih dalam masa 1.000 hari pertama kehidupan mereka sebagai anak. Itu artinya gangguan pada masa ini, punya dampak yang cukup signifikan buat kesehatan mereka ketika dewasa nanti. Pada hari yang mana? Ya semua. Entah itu pada saat masih dalam kandungan. Atau ketika selama enam bulan pertama umurnya. Atau, pada saat dia sudah mulai memakan MPASI.

Umumnya, kalau gizi anak itu cukup pada masa 1.000 hari pertama kehidupan ini, bisa kelihatan ketika diukur tinggi badan. Kalau anaknya stunting, barangkali anak ini kurang gizi.

Kurang Gizi Anak, Paling Sering Setelah ASI Eksklusif

Sebetulnya sih, ke-1.000 hari pertama kehidupan ini adalah hari-hari yang paling penting untuk memberi gizi kepada anak. Tetapi, di Indonesia, anak baru paling sering kelihatan kurang gizi pada saat umurnya sudah 1 tahun lebih.

Ini saya selipin data tentang jumlah anak yang pendek di Indonesia dari Kementerian Kesehatan. Perhatikan batang-batang berwarna merah yang menunjukkan presentase anak-anak kerdil menurut umurnya. Apakah anak Anda termasuk di antara mereka?

tumbuh kembang anak
Di antara sekian banyak bayi berumur kurang dari setahun, bayi-bayi yang panjang badannya kurang dari standar itu paling-paling cuman 25%. Tetapi, pada kalangan anak-anak yang mulai berumur 1-3 tahun, kita bisa nemu bahwa 40% di antara mereka itu pendek alias stunting.

 

Berarti kalau kita mau iseng-iseng analisa, sepertinya mereka mulai kekurangan gizi ketika mereka makin sering berhadapan dengan menu MPASI. Itu MPASI-nya beneran dimakan atau enggak?

Anda mungkin akan menjawab, kemungkinannya bisa macam-macam:

  • MPASI-nya beneran dimakan, tapi kandungan gizinya nggak sebanyak yang seharusnya.
  • Anaknya nggak mau ngabisin makanan MPASI-nya.
  • Anaknya punya penyakit tertentu, sehingga sebanyak apapun gizi yang masuk, tapi MPASI itu nggak bekerja dengan baik di dalam tubuhnya.
Bikin Menu MPASI yang Gizinya Sesuai Standar

Kemarinsaya ketemu seorang dokter anak lain di forum Nutrisi untuk Bangsa. Dokter ini bercerita tentang kekhilafan para orang tua yang memberi MPASI kepada anaknya, dan kebetulan MPASI ini bukan MPASI yang ideal.

Menu MPASI yang baik, mestinya mengandung zat-zat yang memang dibutuhkan oleh si anak. Apalagi kalau usianya baru enam bulan, maka MPASI yang dia dapatkan adalah MPASI pertama (dan biasanya banyak trial and error-nya, hasil belajar orangtuanya akan tumbuh kembang bayi).

Karbohidrat, protein, dan lemak, adalah  zat-zat dari sumber energi untuk tumbuh kembang anak. Dan untuk bahan-bahan ini, anak perlu dalam jumlah sangat banyak.

Dia juga butuh zat-zat gizi lain, nggak usah banyak-banyak tapi mesti tetep ada, yaitu zat besi, zinc, kalsium, magnesium, dan selenium.

Nah, yang sering terjadi, orangtuanya kasih menu MPASI pertama baru dalam bentuk pure buah. Misalnya pure ini dibikin dari pisang yang digiling halus, lalu diberikan langsung kepada si bayi.

Besoknya menu MPASI-nya ganti lagi, misalnya berupa pure wortel dari wortel yang digiling halus, lalu disuapkan ke bayi. Kemudian hari berikutnya adalah pure kentang, lalu ada pure papaya, dan pure-pure lainnya. Pokoknya orangtuanya jadi jagoan bikin pure.

MPASI bayi 6 bulan
Contoh pure wortel untuk menu MPASI bayi 6 bulan.
Gambar diambil dari situs parenting.

Maksudnya sebetulnya benar karena ingin memperkenalkan makanan satu per satu kepada anak. Tetapi, ternyata cara begini hanya masukin 1-2 zat penting aja ke dalam badan anak. Sedangkan zat-zat lainnya malah nggak diberikan.

Coba dipikir, pure pisang itu memang banyak karbohidratnya, tapi proteinnya sedikit, dan lemaknya malah nggak ada. Pure wortel jelas mengandung banyak karbohidrat, tapi wortel itu nggak ada protein dan lemak juga.

Kalau pure-pure begini diberikan terus-terusan ke si bayi, hasilnya ya bayinya cuman dapet karbohidrat doang, tapi nggak dapet zat-zat lain. Apalagi mau mikirin bayinya dapet nutrisi tambahan macam kalsium, zat besi, dan mineral-mineral lainnya.

Ya harusnya gimana? Well, alangkah lebih baik kalau anak itu bukan dikasih menu satu per satu begitu, tapi langsung banyak nutrient sekaligus. Jadi diusahain, dalam satu piring itu ya ada zat karbohidratnya, ada proteinnya, ada lemaknya, dan ada vitamin plus mineralnya juga.

Makanya orang tua juga sebaiknya paham kebutuhan zat nutrient untuk bayi itu berapa banyak sehari-harinya. Plus ngerti tiap bahan makanan itu mengandung zat nutrient apa aja. Jadi, dia bisa memperkirakan menu MPASI apa yang dia mesti masak supaya semua bahan nutrient itu bisa masuk semua ke dalam menu itu.

(Saya kok jadi inget, dulu awal-awal Fidel belajar makan MPASI, saya bikinkan dia sop ayam. Sopnya itu dari ayam dan sayuran, lalu saya campur dengan nasi, kemudian saya blender. Saringan dari gilingan sop itu yang saya berikan kepada Fidel.)

tumbuh kembang anak
Fidel lagi makan sereal.
Dalam beberapa kesempatan macam lagi travelling, misalnya, anak saya sering kesulitan beradaptasi dengan tempat baru.
Efeknya, dia jadi ogah makan masakan yang tersedia.
Saya mesti berusaha keras memastikan gizi anak ini terpenuhi, dan kadang-kadang sereal macam begini bisa jadi penolong yang mujarab.
Kesulitannya, sereal ini mungkin cuma sedikit memenuhi kebutuhan protein dan mineral lainnya.
Maka, kalau saya nemu traveller yang bawa anak dan anaknya tetap dalam status gizi yang terpenuhi komplit, saya pasti angkat topi, biarpun saya nggak punya topi.

Ada lagi orang tua lain, yang saking rajinnya baca daftar kalori bahan makanan, sampai hafal bahwa ayam adalah sumber nutrisi yang bermanfaat banget kalau dimakan. Tapi dia paham anaknya belum bisa mengunyah, sedangkan menggiling sendiri terlalu lelah bagi sang orang tua. Solusinya, ayamnya direbus dan kuahnya pun jadi kaldu ayam. Lalu dia berikan menu MPASI-nya berupa nasi disiram kaldu ayam doang.

Ini juga ternyata bukan menu MPASI yang tepat buat anak. Pasalnya, MPASI model begini mungkin cuma akan kasih karbohidrat (dari nasi) dan lemak (dari kaldu ayam). Tapi kandungan proteinnya jelas kurang bagi kebutuhan gizi anak ini.

Kesulitan-kesulitan macam begini sebetulnya bisa diatasi dengan menggunakan MPASI yang sudah difortifikasi. Misalnya nih, berupa bubur dari pabrik, atau cemilan biskuit dari pabrik. Makanan-makanan yang seperti ini sudah dihitung sedemikian rupa, supaya dalam sekali sajian, anak akan dapat segala macam zat nutrisi yang dia perlukan.

Membuat Anak Mau Makan

Bahkan saya pun sering gagal dalam urusan ini, hihihihi.

Kali ini, saya ingin ngaku dosa atas kekhilafan saya dalam mendidik anak supaya mau makan:

  • Kasih makan sambil anaknya jalan-jalan. Akibatnya anak jadi nggak disiplin untuk tertib duduk di pinggir meja makan. Setiap hari berasa kayak lagi kondangan, makan sambil berdiri.
  • Nyuapin makan sambil nonton tivi. Yang repot kalau yang nyuapin makannya malah keasyikan nonton tivi, dan lupa kalau si anak sudah butuh disuapin lagi. Anak yang semula sudah berselera makan pun jadi merasa dicuekin, dan menganggap makan itu hanya kegiatan mengganggu aja.
tumbuh kembang anak
Ini contoh memberi makan kepada anak yang nggak boleh ditiru.
Orangtuanya nyuapin anak, tapi matanya bukan melihat ke anak, melainkan malah melihat ke HP, hahahahaha..

 

  • Memaksa anak untuk makan padahal anaknya masih kenyang, atau malah ngantuk. Makan jadi berasa rutinitas.
  • Memaksa anak makan makanan yang teksturnya belum cocok dengan kemampuan mengunyah si anak. Kadang-kadang saya sebagai orang tua ini terlalu semangat bereksperimen dengan segala jenis makanan, terutama makanan yang berserat atau bertulang. Sampai-sampai lupa kalau anaknya belum bisa makan makanan seperti itu. Makan pun jadi terasa menyakitkan gusi si anak, sudah gitu penuh paksaan pula.
  • Memaksa anak makan dengan porsi yang terlalu banyak. Kadang-kadang saya ini keseringan baca buku culinary parenting. Saking hafalnya akan kecocokan porsi makanan dengan kebutuhan gizi anak, saya sampai bikn MPASI-nya kebanyakan, padahal anaknya belum sanggup menelan banyak-banyak.
  • Memaksa anak tetap makan biarpun sudah bosan. Saya ini kepingin anak itu menghargai makanan sebagai anugerah dari Tuhan Yang Mahaesa, jadi saya paksa dia menghabiskan isi piringnya. Padahal dia sudah menghadapi piring itu selama lebih dari setengah jam. Mana makanannya udah dingin pula.
  • Kasih makan anak dengan buru-buru. Padahal anaknya masih belajar ngunyah. Saya nyuapin dia dengan buru-buru makan sebab saya mau mengerjakan pekerjaan yang lain. Itu setrikaan di rumah numpuk sampai setinggi Himalaya, bo’..
Gizi anak
Ini juga contoh lain cara nyuapin anak yang jangan ditiru.
Anak kalau lagi makan MPASI jangan sambil megang mainan.
Dia malah jadi konsen megang mainannya dan nggak menikmati makannya.

Kadang-kadang, para orang tua begitu putus asa melihat bayinya nggak mau makan MPASI. Anehnya, bayi itu cuman mau nyusu aja. Maka orang tua sering banget ambil jalan pintas berupa nyusuin bayinya doang.

Kebiasaan kayak begini lumayan rentan bisa bikin bayi ini jadi kurang gizi. Pasalnya, ibu-ibu dari bayi yang sudah berumur lebih dari enam bulan, kandungan ASI-nya sudah nggak bisa memenuhi kebutuhan kalori gizi sang bayi. Cuman 70% aja kebutuhan kalori bayi yang bisa dipenuhi dari ASI, maka sisa 30%-nya harus dikejar dari MPASI.

Anak-anak yang sudah berumur setahun dan tetap nyusu tanpa MPASI pun bisa lemas kalau cuman disusuin doang. Kandungan ASI dari ibu mereka cuman cukup untuk 30% kalori yang diperlukan anak-anak ini. Kalau Anda ketemu anak tetangga yang stunting dan nyusu doang, bisa jadi ini karena mereka nggak makan MPASI dengan cukup.

Menurut Saya Sih Ya..

Sebagai dokter, saya memang menemukan bahwa penyakit yang paling sering menyusahkan orang dewasa memang penyakit-penyakit metabolik. Penyakit metabolik ini misalnya stroke, penyakit jantung, dan diabetes.

Meskipun penyebab utama dari penyakit-penyakit itu adalah kelainan metabolism akibat kesalahan gaya hidup, tapi nggak bisa disangkal bahwa gaya hidup itu dianut oleh para pasien malang ini sudah semenjak mereka masih bayi.

Jadi, kalau mau mencegah mereka penyakitan begitu, memang saat yang strategis untuk pencegahan ini adalah ketika mereka masih kecil. Terutama dalam usia 1.000 hari pertama kehidupan. Dan ini bisa dilakukan dengan memberikan nutrisi atau gizi anak yang cukup selama masa itu. Kalau anak ini pun sampai kekurangan nutrisi selama periode penting itu, bisa langsung kelihatan saat itu juga karena ketahuan ketika ternyata dia stunting. Jadi tidak perlu menunggu sampai dewasa untuk mengetahui bahwa seumur hidupnya ini ternyata dia kekurangan gizi.

Tetapi, dalam prakteknya, memberikan nutrisi yang cukup selama masa 1.000 hari pertama kehidupan manusia itu sulit. Bukan teorinya yang sulit, tetapi sulitnya adalah memberi kesempatan kepada para ibu untuk mempraktekkan ilmu gizi ini.

Belajar
Tidak seperti ibu-ibu lain yang bercita-cita ingin jadi seperti Sri Mulyani atau Susi Pujiastuti.
Perempuan yang rambutnya nyaris jarang disisir ini lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan main HP-an.
Smartphonenya penuh dengan e-book PDF tentang ilmu MPASI supaya bisa dia praktekkan untuk anaknya.
Tatkala perempuan lain hanya ingin tambahan duit belanja untuk dapur, perempuan yang kulitnya pucat ini hanya ingin smartphone yang lebih gede kapasitas ROM-nua supaya bisa menyimpan lebih banyak e-book di dalamnya.

Ibu akan butuh waktu untuk belajar mengarang menu berdasarkan kebutuhan gizi bayi. Ibu akan butuh waktu untuk membagi konsentrasinya antara mengurus bayi dan mengurus MPASI. Ibu juga butuh sumber daya tambahan untuk memastikan bahwa semua bahan untuk nutrisi ini tersedia di rumah. (Atau dengan pendek kata saya akan bilang, kemampuan finansial ibu harus cukup).

Menurut saya, pelajaran tentang menyiapkan gizi anak tidak hanya buat ibu-ibu doang. Tapi juga penting diberitahukan kepada para suami mereka. Sebab, pria-pria ini yang akan jadi partner para ibu untuk memberikan nutrisi selama 1.000 hari pertama kehidupan anak. Nggak harus suami itu pinter masak. Minimal ya paham aja apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya.

Dan mestinya, ini sudah diketahui oleh para pria bahkan sebelum mereka menikah. Sebab, menikah berarti juga siap menjadi orang tua, dan kesiapan ini juga sepaket dengan kesiapan memberikan gizi kepada anak mereka.

Jadi, kalau ditelisik lebih jauh, nggak cuman kalangan tenaga kesehatan yang mestinya berjibaku mengampanyekan pentingnya gizi anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan ini. Kalangan lain juga butuh dirangkul untuk mendukung supaya para anak bisa memperoleh nutrisi cukup dalam hari-hari pertama hidupnya.

Ada macam-macam support yang bisa diberikan oleh banyak orang supaya anak-anak ini bisa dapat gizi yang cukup. Misalnya:

  • Memberi kesempatan untuk para pekerja perempuan supaya cuti hamil lebih lama. (Coba cari deh, perusahaan mana yang kasih pegawai ceweknya cuti hamil lama-lama?)
  • Menyiapkan ruang-ruang publik yang akomodatif buat para busui yang ingin menyusui atau pun menyuapkan MP-ASI kepada anaknya. (Coba sebutkan nama mall atau tempat wisata yang punya kamar menyusui. Atau nama restoran yang punya kursi makan untuk bayi.)
  • Memberi penyuluhan kepada para lansia supaya lebih empati kalau mengkritik para mahmud. Daripada bilang “Kamu kok nggak becus kasih makan bayi kamu, dulu aku waktu seumuran kamu nggak begitu”, lebih baik para lansia ini saweran rame-rame buat kasih kado food processor kepada papa mama baru ini.
ruang ibu menyusui
Tempat-tempat umum yang menyediakan ruang menyusui, sebetulnya punya andil besar dalam mendukung tumbuh kembang anak di negerinya.
Dalam ruangan yang cukup private ini, ibu tidak cuman bisa menyusui untuk memberi nutrisi kepada anak.
Di sini, ibu juga leluasa membuat MPASI darurat, supaya anak tetap memperoleh gizi meskipun mereka sedang beraktivitas di tempat umum.
Sebab, pada intinya, di tempat umum, anak itu tetap berkembang untuk mengembangkan kecerdasan mereka, dan orang tua harus tetap menjaga nutrisi mereka setiap saat.
Gambar diambil dari media Republika.

Sebab, bayangkan, kalau saja tumbuh kembang anak-anak di negeri ini diperhatikan dengan baek, terutama dalam masa 1.000 hari pertama kehidupan mereka. Maka populasi bocah yang stunting bisa dikurangi paling banter sampai tinggal 10% aja. Sehingga, dalam tempo 50 tahun yang akan datang, negara tidak perlu buang-buang anggaran kesehatan hanya untuk membayari jaminan para lansia yang sakit jantung. Penduduk yang sehat, sebetulnya adalah asset yang paling berharga buat negara, kan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. Rahmah says:

    Kalau bu dokter yang nulis pasti beda karena banyak informasi baru.
    MPASI memang salah satu fase yang sering bikin saya stress, mbak. Capek masak ga dimakan. Ternyata saya harus ubah pola dan mindset seputar MPASI

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebenarnya sebelum masa MPASI tiba, kita sudah punya kesempatan untuk belajar tentang pola MPASI ini. Tapi sayangnya dulu kita memprioritaskan yang lain daripada belajar MPASI ya 🙂

  2. Nining says:

    Sejak mpASI ini aku makin rajin ke supermarket, modus belanja bahannya si baby wkwkwk. Ya itu tadi, alesan aja beli daging giling wkwkwk. Tapi emang dasarnya seneng masak, jd ribet dikit gpp lah. Apalagi liat baby seneng sm masakan kita itu kebahagiaan tak terkira.

    Dengan harapan semoga generasi oenerus bangsa ini makin sehat berkualitas ya mbak dokter aamiin

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Nining rajin banget ya bereksperimen dengan MPASI ini itu. Aku seneng banget kamu menikmati proses bikin MPASI-nya sampai diposting-posting segala buat Instastory. Jadi inget, dulu aku bercita-cita sama, tetapi buyar lantaran nggak ada waktu untuk posting-posting. Si bayi bikin ribet melulu, hahahaha..

  3. Nony says:

    Gw dulu juga anak pertama makan selalu disuapin sambil jalan2, sambil mainan, kadang sore2 sambil liat2 anak2 kompleks main. Dan anak2 tetangga juh sambil disuapin. Kl ngga susah bgt makannya, n gw jadi stres sendiri. Nah anak kedua gw terapkan makan lebih disiplin, dikursinya. Makan sendiri. Tp kudu sabar 100x. Makanan dilempar2. Cuma diaduk2 aja. Tp yang penting masuk lah dikit. Finger food aja lebih sering. Yang penting KMS nya aman2 aja digaris hijau

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Makasih ya udah berbagi. Gw nggak tahu apakah anak yang makan ideal di kursi itu lebih baik daripada anak yang makan sambil jalan-jalan apa enggak. Mudah-mudahan semua anak kita tumbuh baik sesuai KMS dan akan bisa makan dengan tertib pada waktunya..

  4. Reyne Raea says:

    Baca ini jadi deg-degan mba, anak saya bentar lagi MPASI, daaannn tetiba jadi galau.
    Mana emaknya paling malas masak hahaha.

    Kayaknya harus rajin-rajin baca tulisan gini biar jadi cambuk buat rajin cari tau MPAsi sarat nutrisi yang seimbang 🙂

  5. Saya nih lagi galau-galaunya karena di usianya yang setahun anak saya malah kelihatan kurus. Mana dia kalau sama saya suka ogah makan karena terbiasa disuapin orang lain. Soal mpasi sih sebisa mungkin sesuai panduan 4* tapi sekarang saya tambahin vitamin dan zat besi biar lebih yakin dapat gizinya. Heu

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Semoga masa GTM ini segera berlalu ya, Antung. Saya juga paham bahwa ini salah satu risikonya kalau sering menitipkan anak kepada orang lain. Mudah-mudahan kalau Antung sering bonding dengan anak Antung, anaknya mau disuapin sama Antung 🙂

  6. entin says:

    anak saya mirip fadel. Tidak bisa gemuk, tambah tinggi aja.
    Mirisnya para sesepuh tidak menilai dr sisi ketinggian dok T_____T

Leave a Reply to Vicky Laurentina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *