Sensasi Masker Rasa Mint

Pintu sudah membuka lebar seolah menyambut ketika saya tiba di ruang perawatan klinik kecantikan di Surabaya itu. Saya masuk dan menaruh tas di atas lemari kabinet. Angin menerpa bulu kuduk, saya merasa kedinginan. AC terasa banter dalam ruang perawatan itu.

Terapisnya menunjukkan saya kemben dan jubah untuk pengganti pakaian saya selama perawatan nanti. Saya minta izin dia untuk menaikkan suhu AC ke 27 Celcius. Saya akan separo telanjang selama perawatan nanti, saya nggak mau masuk angin.

Ini kedua kalinya saya dateng ke Gloskin Aesthetic Clinic Surabaya. Saya baru aja menangin kuis yang diadain klinik kecantikan itu. Dan untuk itu, saya diganjar salah satu layanan treatment facial mereka yang mereka namain Luxury Facial. Jadi, kali ini saya mau tebus. Ini cerita saya ketika mau menebus hadiah itu dua hari yang lalu.

Selesai saya ganti pakaian menjadi kemben dan jubah, saya naik ke tempat tidur. Saya liputin badan saya dengan selimut, dan terapisnya nyiapin alat-alat facial-nya. Saya juga siapin smartphone saya untuk pepotoan narsis ngevlog.

Facial

Terapisnya mulai dengan ngehapus eyeliner saya. Saya ngawasin dari rear camera smartphone saya, dan mulai paham. Ternyata hasilnya sama aja dengan koleganya yang nge-facial saya 4 bulan lalu. Entah make-up remover apa yang mereka gunakan, pokoknya masih saja ada sisa eyeliner di kelopak mata saya yang nggak terangkat oleh kapasnya. Padahal saya sudah ganti merk eyeliner sampai dua kali dalam 4 bulan terakhir ini.

Terapisnya mulai nyuci wajah saya dengan cleansing cream. Seperti biasa, sambil pijat-pijat. Lalu membilasnya, kemudian mijat wajah saya lagi dengan massage cream.

Wah, saya selalu seneng adegan totok aura ketika mijet wajah ini. Nggak cuma jidat dan sekitar mata yang dipijat, tapi bahkan tangan terapisnya sampai ke punggung. Seandainya nafsu ngevlog saya lagi padam, saya pasti milih merem ketimbang mainan smartphone.

Selesai pipijetan, diolesinlah wajah saya pakai toner. You know, salah satu alesan kenapa saya seneng facial adalah, saya selalu dapet pengayaan ulang tentang cara merawat wajah yang baik dan benar. Lha kalau di rumah, saya pakai toner itu cuman dengan netesin ke kapas, lalu saya tap-tap doang di sekujur wajah. Tapi kalau mbak-mbak di Gloskin Aesthetic Clinic ini, toner-nya dituangin ke tangan dia, abis itu dibalurin ke muka sambil dipijet-pijet. Supaya nutrisinya meresap.

Gloskin Aesthetic Clinic di http://vickyfahmi.com
Membuka pori-pori dengan uap.
Supaya nanti gampang ketika mau mengeluarkan komedo.

Selesai? Baru mbak terapisnya nyalain mesin uap. Mata saya ditutup pakai kapas supaya nggak berair kena uap. Lalu keluarlah uap hangat dan seketika pori-pori saya mulai membuka. Wajah saya disinarin lampu, lalu terapisnya bilang mau ambil komedo saya.

Awalnya di jidat. Lalu pindah ke pipi. Kemudian di lipatan hidung tuh banyak. Abis itu, di dagu. Selesai-selesai, saya ditunjukin kapas tempat dia nampung komedo-komedo putih saya. Kyaaaaa..banyak.

Mau lihat kayak apa proses ambil komedonya? Lihat video 2 menit ini ya..

Masker Daun Mint

Selesai komedo diambil, wajah saya dibalurin masker.

Saya mau cerita sedikit tentang masker ini ya. Jadi, Gloskin Aesthetic Clinic ini punya macam-macam paket treatment facial, salah satunya yang saya kerjakan kali ini, yaitu Gloskin Luxury Facial. Anda pasti pernah baca bahwa dahulu saya pernah facial di sini juga, dan nama treatment-nya itu Facial Glow.

Sebetulnya prosedur-prosedur Luxury Facial ini nggak beda jauh dengan Facial Glow sih. Tetapi yang saya lihat, perbedaan signifikannya ada pada warna masker yang dipakai. Dulu, pas Facial Glow itu, warnanya putih seperti masker-masker pada umumnya. Sedangkan Luxury Facial ini pakai masker yang berwarna-warni, dan konon warnanya disesuaikan dengan bahan organik yang dipilih.

Terapisnya pilihkan masker warna hijau untuk saya, sebab masker warna hijau ini mengandung mint leaf alias daun mint. Makanya nama facialnya adalah Luxury Oxygen Mint Leaf Facial. Dan menurut terapisnya, Oxygen Mint Leaf Facial ini cocok untuk dagu saya yang dilihatnya ada bekas jerawatnya.

(Saya ketawa dalam hati waktu beliau ngomong ini. Sak karepmu lah, Mbak, pokoke gw relax.)

Gloskin Aesthetic Clinic Surabaya
Jadi, beginilah penampakan saya ketika pakai masker.

Rasanya dingin. Selama pakai masker, saya ditinggal sama terapisnya dan mulailah saya ng-IG (baca: ngaji, wkwkwkwk..)

Abis itu, mulailah saya dapat perawatan oxy. Seperti biasa, suatu probe yang mengeluarkan oksigen bertekanan tinggi diarahkan ke wajah saya selama beberapa menit. Rasanya sejuk dan segar.

Yaa..pokoknya selama treatment ini, wajah saya dihujanin sensasi sejuk, lembab, dan rileks gitulah.

Benarkah facial dengan bahan organik oxygen mint leaf berhasil menyehatkan kulit?

Jujur aja, sampai hari ini, saya nggak pernah nemu dasar ilmiah dari evidence based medicine tentang bagaimana daun mint mampu memperbaiki regenerasi sel-sel kulit secara signifikan. Beberapa perusahaan farmasi telah mencoba memasukkan ekstrak daun mint ke dalam produk skin care-nya. Tetapi untuk memperbaiki kelembaban sel kulit perlu dicampur dengan gliserin dan zat-zat lainnya yang bersifat humektan.

Alhasil, sebetulnya yang menyebabkan kulit menjadi lembab pun adalah gliserin dan humektan ini. Sedangkan, daun mint punya peran yang porsinya lebih kecil.

Saya sudah mencoba diskusi tentang bahan-bahan untuk facial dengan dokter yang menjaga Gloskin Aesthetic Clinic Surabaya ketika saya melakukan treatment ini, tapi you know lah.. 😀

Sebetulnya bahan organik sudah sering menjadi trend sebagai bahan-bahan facial di macam-macam salon kecantikan. Salah satu spa di Surabaya yang saya dapati sering mengusung bahan organik di treatment facial-nya adalah Herbs Spa.

Saya sendiri masih mencari tahu apakah facial Luxury Oxygen Mint Leaf ini sungguh-sungguh hanya berbasis daun mint. Atau apakah ada bahan-bahan lain yang diselipkan sehingga ekstrak daun mint-nya hanya jadi gimmick. Si mbak supervisor yang jagain klinik ini cuman bisa nyanyi “facial ini menggunakan bahan-bahan organik. Tapi yang tahu persis bahannya cuma orang Jakarta.”

Ngelesnya khas jawaban tim marketing banget.

Apakah kalian senang facial? Pertimbangan apa yang kalian pakai dalam memutuskan untuk memilih tempat facial?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

  1. Ranger Kimi says:

    Aku senang facial! Kalau aku facial di tempat langganan sejak bertahun-tahun yang lalu waktu aku masih imut dan belum banyak dosa. Halah. Mau coba di tempat lain mah malas. Yang penting kan tujuanku buat facial ya bersihin komedo. Kalau untuk mengejar efek masker yang menghilangkan bekas jerawat, antiaging, dll ya itu mah perawatan sendiri aja di rumah. Konsisten aja pake skincare-nya. Hihi.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Naah..aku setuju banget sama kamu, Kim. Pulang dari acara facial ini, aku sibuk berpikir, apa yang menjadi keistimewaan acara facial ini. Sebab tanpa masker ini, sebetulnya aku tak melihat perbedaan dari acara-acara facial biasanya. Aku rasa masker ini jauh lebih terasa manfaatnya kalau aku melumuri wajahku dengan masker ini secara reguler setiap minggu atau malah mungkin setiap hari, hihihihi..

      *tak bisa komen banyak-banyak. Masih riset tentang perbandingan antara efisiensi masker rutin dengan priming rutin terhadap kesehatan kulit, dan masih belum nemu jawaban yang memuaskan*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *