Rollaas Hotel and Resort di Kebun Teh Wonosari

Sewaktu saya ditawarin buat menginap di kebun teh, saya sempat skeptis karena nyangka bakalan diajak berkemah. Tetapi ketika saya mendapati bahwa saya ternyata akan menginap di Rollaas Hotel and Convention di kebun teh Wonosari, saya langsung tahu bahwa ini akan jadi pengalaman staycation yang mewah banget.

Diajakin ke Kebun Teh Wonosari Lawang

Kisah liburan ini diawalin bulan lalu, ketika Andy Kristono (@archtravelfood) ngajakin saya berweekend ria di kebun teh Wonosari. Ceritanya, di kebun teh itu ada penginapan, dan dia ngajakin saya untuk bikin video di situ (Kami sama-sama youtuber yang suka bikin video traveling.)

Sebetulnya saya senang dengan ide jalan-jalan di kebun teh itu, tapi perkara diajakin nginep itu lain lagi. Bayangan saya, yang namanya kebun teh di mana-mana itu ya sama aja, kudu berkemah dengan fasilitas “apa adanya”. Situasi saya kan sekarang lagi nggak matching sama kemah-kemahan, karena saya punya anak balita yang belum siap diajak tidur di alam terbuka..

Tapi Koh Andy ngejanjiin saya bahwa penginapan yang akan kami inapin akan jauh lebih manusiawi, jadi akhirnya saya iyain. Maka jadilah saya akhirnya pergi bawa suami dan anak saya bersama rombongan. Kok rombongan? Iya, karena Koh Andy juga ngajakin teman-teman saya yang lain, yang udah biasa main video traveling juga.

Maka singkatnya, pada hari Jumat sore itu, kami mendarat di depan suatu gedung pinggir kebun teh Wonosari, sekitar beberapa kilometer dari Malang. Tadinya saya pikir itu gedung manajemennya perkebunan teh, tapi ternyata saya salah.. Itu bukan kantor perusahaan, melainkan sebuah hotel!

Hah, ada hotel di pinggir kebon teh??

Ada. Lihat nih di video berikut. 

Rollaas Hotel and Resort, Malang

Fasad bangunan Rollaas Hotel sebetulnya mengingatkan saya kepada bangunan lodge dua lantai bergaya country yang sering saya lihat di halaman-halaman majalah perhotelan di Swiss. Hanya saja hotel-hotel di Swiss itu rerata menghadap cemara-cemara Pegunungan Alpen, sedangkan bangunan Rollaas Hotel ini menghadap kebun teh. Saya yang hotel mania langsung bersemangat ketika turun dari mobil.

Lobby hotelnya punya banyak sofa di sana-sini. Lobbynya terbuka gitu, nggak ada sekat, sehingga pada bagian belakangnya saya bisa melihat taman a la hacienda Meksiko yang dihiasin pohon-pohon palem dan jalan setapak.

Bangunan hotel ini berbentuk huruf U, dengan bagian depan dijadikan lobby, sedangkan kedua sayapnya diisi dengan kamar-kamar.  Terpisah dari bangunan utama, adalah sebuah gazebo raksasa bernama Anjungan yang berada di ujung sayap bangunan utama ini, yang ternyata adalah sebuah ruang makan besar untuk sarapan.


Bangunan Rollaas Hotel and Resort berada di pinggir lembah kebun teh Wonosari.
Gazebo Anjungan yang saya maksud berada paling depan pada foto di atas, sedangkan bangunan di belakangnya adalah kamar-kamar hotelnya.

Lantaran lobbynya tak bersekat, hawa segar khas Malang (eh, khas Lawang ding) masuk ke lobby dan menimbulkan perasaan sejuk tak terkira. Sangat kontras dengan rombongan kami yang berasal dari Surabaya yang panasnya nyelekit. Duh, mudah-mudahan saya nggak masuk angin kalau nginep di hotel yang super sejuk begini.

Begitu check in dan menerima password wifi, saya langsung menggandeng anak saya, Fidel, 3 tahun, berjalan menuju kamar kami. Kamar kami berada di sayap sebelah kiri, dengan pintu kamar yang ternyata masih dikunci manual.


Ketika kami masuk kamar, saya langsung jatuh cinta melihat pemandangan dari jendela kamar kami ini, yang ternyata menghadap hutan dan lembah kebun teh Wonosari.
Sama seperti semua kamar di Rollaas Hotel and Resort ini, kamar saya juga mengandung balkon dengan dua kursi kecil untuk duduk-duduk sambil minum teh.

Bicara soal teh, suami saya berseru, bahwa ternyata di meja kami ada sekotak besar teh bermerk Rollaas. Bayangkan, satu kotak isi 20 tea bags. Padahal selama ini saban kali kami menginap di hotel bintang berapapun, paling-paling di tiap kamarnya cuman disediain maksimal tiga sachet teh doang, hahaha..

Tempat tidur saya berupa king bed dengan sprei putih dan bantal-bantal bersarung putih yang empuk. Ada pesawat tv dengan saluran tv kabel, yang menayangkan BabyTV untuk anak-anak. Tak ada AC. Lha memang sudah dingin kok, hawanya sekitar 17-19 derajat Celcius.

Di kamar mandi, sudah disediakan handuk. Air mengocor deras dari shower, dan ternyata airnya hangat. Baguslah, saya tidak akan kedinginan.

Keluar dari kamar mandi, ternyata suami saya sedang asyik abuse wifi hotel. Kecepatannya lumayan lah, kira-kira skor 4 dari skala 5. Oke, kami suka hotel ini.


Wisata Agro Wonosari

Hotel ini ternyata cuma komponen dari suatu tempat wisata yang bernama resmi Wisata Agro Wonosari. Pengelolanya adalah perusahaan perkebunan PT Perkebunan Nusantara XII  yang khusus mengelola beragam tanaman perkebunan, antara lain teh dan coklat. (Saya pernah lho nulis tentang perkebunan coklat PTPN XII di Jember.)

Di tempat wisata yang satu ini, turis bisa keliling kebun teh sambil menikmati panorama alam. Memang perkebunan ini luas banget, sekitar 1.000-an hektar. Manajemen perkebunannya sendiri nyediain macam-macam kendaraan buat dipinjem oleh pengunjung untuk keliling kebun teh, mulai dari yang kecil-kecil kayak sepeda, kereta kelinci, jeep, bahkan sampai truk.

Soal truk ini akhirnya saya naikin juga di kebun ini, baca terus artikelnya yaa..

Kebetulan di kebun teh Wonosari ini juga berdiri pabrik teh buat mengelola langsung daun teh yang dipetik dari kebun sini. Nah, turis boleh lho masuk ke pabrik teh ini buat tour keliling. Bahkan ada guide-nya segala yang bakalan cerita-cerita tentang cara mengelola teh.

Dan selain disediakan fasilitas bermain kayak outbound dan playground, di kebun sini juga ada penginapannya segala. Rollaas Hotel yang saya inepin malam ini cuman salah satu dari penginapan yang disediain, sebab ternyata juga ada penginapan lain yang sama-sama dikelola Wisata Agro Wonosari juga, hanya saja lokasinya beda beberapa ratus meter dari hotel.

Pabrik Teh Wonosari

Malam itu, setelah mandi sore, kami bareng teman-teman ikut tour ke pabrik teh di kebun ini. (Iya, ternyata pada malam-malam pun pabriknya masih beroperasi.) Lantaran kompleks ini rada ngirit lampu, kami pun nggak jalan kaki menuju pabrik, melainkan pakai shuttle car-nya hotel.

Di pabrik ini, saya lihat mesin-mesin besar bekerja memproses daun teh dari yang sifatnya masih baru dipetik hingga menjadi bubuk teh yang siap dimasukkan ke dalam tea bag. Suara mesin begitu berisik dan cukup memekakkan buat saya yang nggak kepikiran untuk pakai pelindung telinga. Sebetulnya ada guide-nya yang menjelaskan prosesnya selama tour ini, tapi saya sendiri nggak menyimak dengan cermat karena sibuk mengawasi Fidel. (Memang pabrik ini sebetulnya bukan tempat yang toddler friendly sih.) Lagian suara mesinnya keras banget, jadi suara guide-nya sih kalah lantang dengan suara mesinnya.



Ada aturan mainnya kalau mau masuk pabrik teh ini, yakni tiap tamu kudu pakai jas putih yang disediakan. Dan disediakan sandal juga, karena ke sini nggak boleh pakai sepatu dari luar. Tentu saja nggak disediakan jas untuk balita, jadi Fidel tetap pakai bajunya meskipun dia diperbolehkan masuk pabrik.

Fidel senang lihat mesin, tapi nggak lama kemudian, dia cepat bosan. Untungnya tour ini nggak terlalu lama juga, mungkin cuman sekitar 45 menit doang. Sebetulnya bisa lebih singkat lagi, kalau saja teman-teman saya nggak sibuk selfie-selfie di depan conveyor berisi tumpukan daun teh.. wkwkwk.

Sebenarnya saya lebih mood mengunjungi pabrik ini kalau pagi hari. Tapi khusus pada saat ini kami nggak diagendakan buat tour pabrik ini pagi-pagi, soalnya.. Koh Andy ngejadwalin kami main ke kebun teh sepagian penuh besoknya.

Sejarah Kebun Teh Wonosari di Lawang

Pas makan malam di kafe pada kebun itu, manajer PTPN XII sempat cerita-cerita dikit tentang kebun teh Wonosari ini. Umur kebun ini udah lama banget, berdirinya semenjak jaman Indonesia masih dijajah Belanda. Pengelola awalnya tentu saja Pemerintah Hindia Belanda, yang berencana mengekspor teh di kawasan ini ke Eropa.

Ketika penjajahan selesai, Pemerintah Indonesia menasionalisasi perkebunan ini, lalu mengubah nama perusahaannya menjadi PTPN XII. Perkebunannya cuman dipakai buat bertani teh doang, waktu itu belum ada cita-cita mau dijadikan tempat wisata. Di gerbang masuk kebun teh Wonosari ini, disediakan rumah dinas untuk pegawai, dan beberapa pondok untuk tamu-tamu dinas yang menginap demi kunjungan kerja.

Penduduk Malang kadang-kadang main ke perkebunan ini demi cari hawa segar. Lama-lama pengunjungnya makin banyak, sehingga terbitlah ide untuk menjadikan kebun teh ini sebagai tempat wisata. Dari sanalah berdirinya Wisata Agro Wonosari.


Saya bareng teman-teman di Bukit Kuneer, puncak dari kebun teh Wonosari.
Foto oleh @rodadanroti

Sebetulnya masih banyak cerita sejarah yang terungkap dari staf PTPN-nya, tapi saya sudah nggak konsen karena hari sudah malem. Fidel mulai ketiduran, sehingga saya pun pergi dari kafe ke kamar hotel untuk ngelonin bocah itu. Koh Andy sempat berpesan kepada kami semua supaya bangun jam 3 besoknya, soalnya kami mau kejar sunrise di Bukit Kuneer.

Bukit Kuneer

Dinginnya hawa subuh menusuk ketika kami kumpul-kumpul di lobby pada keesokan paginya. Saya merapatkan jaket saya dan mengancing ulang mantel katunnya Fidel, sementara Koh Andy menghitung ulang jumlah rombongan kami. Subuh ini, kami bakalan pergi ke Bukit Kuneer. Bukit apaan itu, saya juga belum ngerti, konon sih salah satu spot miliknya Wisata Agro Wonosari.

Ke Bukit satu ini ternyata nggak bisa naik mobil biasa, melainkan kudu naik mobil tinggi macam jeep. Rombongan kami terlalu banyak, sementara stok jeeps yang dimiliki Rollaas Hotel ini nggak cukup. Tapi, manajemen perusahaan ini punya truk. Akhirnya, sebagian besar rombongan pun naik truk. Saya sih enggak, lantaran saya kan punya balita yang kayaknya bisa masuk angin kalau dinaikin truk subuh-subuh, sehingga saya dan Fidel dinaikin ke jeep.

Jarak dari Rollaas Hotel ke Bukit Kuneer kira-kira bisa ditempuh dengan nyetir selama 20 menit. Jalanannya makadam abis, pantesan mobil biasa nggak boleh naik ke sini. Kiri kanan jendela, saya lihat warnanya item aja lantaran dunia masih gelap. Tapi di depan, langit sudah mulai agak merah, pertanda sebentar lagi matahari mau terbit.

Tiba di pos peristirahatan Bukit Kuneer, matahari mulai terbit, sehingga saya mulai bisa melihat lingkungan dengan jelas. Inilah sebenar-benarnya perkebunan teh, di mana kiri-kanan saya isinya hanya tanaman teh melulu setinggi perut saya. Luas banget perkebunan ini, saya nggak bisa melihat batasnya.

Coba lihat video saya ketika berada di Bukit Kuneer ini ya.


Beberapa teman saya sudah turun dari truk, dan berbondong-bondong memasuki jalan setapak. Hawa sudah mulai terasa sejuk, tak sedingin ketika di hotel tadi. Fidel nampak kebingungan, tapi suami saya terus-menerus mengajaknya jalan di antara pohon-pohon teh. Burung-burung berkicau, sebagian beterbangan rendah di atas tanaman teh yang daunnya hijau itu.

Saya menyusuri jalan setapak itu, mengikuti teman-teman saya. Ternyata, jalan itu mengarah ke.. sini nih, lihat foto di bawah ini yaa..


Highlight dari Bukit Kuneer di kebun teh Wonosari ini adalah jembatan kayu sepanjang 50 meter yang melintang di atas pepohonan teh. Maksudnya, supaya orang-orang pada foto-fotoan di sini.

Lambat laun, matahari semakin tinggi hingga nampak bulat sempurna di langit yang biru. Sungguhan langitnya biru, kontras dengan pepohonan teh yang menghampar bak karpet hijau.

Saya di kebun teh Wonosari yang dikelola Wisata Agro Wonosari, dengan latar belakang Gunung Arjuna.

Selama di Bukit Kuneer itu, kami sibuk sekali selfie di sana-sini. Ada yang selfie di atas jembatan, ada yang selfie di antara pepohonan teh, ada juga yang selfie di depan toilet. Lho? Iya, toiletnya ternyata didesain macam gubuk Indian di tengah pepohonan teh gitu, jadinya kelihatan keren.

Tak berapa lama kemudian, pasukan petani datang dengan truk, dan mulai memetik teh. Petani-petani ini rerata ibu-ibu paruh baya, mereka memanggul keranjang besar dan mengenakan topi caping. Teman-teman saya langsung ribut memotret para bu tani ini (termasuk suami saya, bisa dilihat foto-fotonya selama di kebun teh Wonosari ini), dan para petani ini tak sedikit pun merasa asing dengan kamera. Sebagian teman saya bahkan pinjam keranjang mereka, sambil selfie dengan gaya berpura-pura mau panen daun teh.

Bahkan Fidel yang baru pertama kali lihat kebun teh pun langsung senang hilir-mudik di antara pepohonan teh yang setinggi badannya. Saya mengawasinya dengan waspada, takut sewaktu-waktu ada ular melata di antara pepohonan, tapi ternyata enggak ada.

Puas main di Bukit Kuneer, Koh Andy mengajak kami semua balik ke hotel. Lagi-lagi transportasi yang ada tinggal truk, dan saya mulai kemecer kepingin naik truk juga. Akhirnya saya bawa Fidel naik truk sambil mengajarinya untuk berdiri sepanjang perjalanan.

Beberapa laki-laki sudah naik ke atas kap truk dan duduk nyaman di sana. Saya memandang mereka dengan iri, lalu mendadak dapat ide gila. Lalu saya berbisik kepada suami saya minta izin.


Saya selfie di atas kap truk yang menjadi fasilitas kebun teh Wonosari (kiri), lalu memotret suami saya dan Fidel yang berdiri di dalam bak (kanan)

Teman-teman bersorak ketika saya memanjat naik ke atas kap truk dan duduk di atasnya. Saya satu-satunya cewek yang berani duduk di atas kap truk! Supir mulai menyalakan mesinnya, saya baca bismillah sambil nyalain HP buat ngevlog.

Truk itu berjalan perlahan di sepanjang perjalanan menuruni Bukit Kuneer. Nggak jelas apakah jalannya pelan karena tahu bahwa ada sekitar 40 penumpang di bak truknya, atau karena tahu bahwa drone milik Indra Yulianto (@berangan_trip) terbang membuntuti di atas truk, seolah-olah mengawal truk yang bergerak di atas jalan makadam kebun teh Wonosari. Cuplikan video drone ini di atas kebun teh ini bisa dilihat di video yang pertama tadi yaa.

Sarapan di Rollaas Hotel

Agak terlambat saya sarapan, karena sepulang dari Bukit Kuneer, saya sibuk mandiin Fidel. Sarapan dihelat di gazebo pada bagian belakang Rollaas Hotel, yang ternyata merupakan sebuah pendopo yang langsung menghadap lembah kebun teh Wonosari.

Rasanya sejuk banget sarapan sambil menikmati toast, nasi goreng, ayam kecap, dan hangatnya sajian wedang sereh, sembari memandang hijaunya pemandangan. Sesekali saya ngobrol dengan teman-teman lain dengan topik pembicaraan yang nggak jauh-jauh lah dari pekerjaan kami, bikin konten dan jalan-jalan.

Saya sendiri nggak bisa menikmati sarapan dengan leluasa, lantaran kudu memecah konsentrasi antara menyuapi diri saya sendiri dan menyuapi Fidel. Sementara itu Koh Andy memanggil-manggil kami, ngingetin bahwa sebentar lagi waktunya kami pergi naik kereta kelinci buat outbound.

Fasilitas Kebun Teh Wonosari untuk Bermain

Selesai sarapan dan pepotoan, kami naik kereta kelinci yang udah disediain di depan lobby Rollaas Hotel. Kereta ini jalan mengelilingi sebagian perkebunan, sementara di atasnya ada seorang guide yang mendongeng sedikit-sedikit tentang luasnya kebun teh ini plus jenis-jenis tanaman teh yang ditanam di sini.

Jangan ditanya deh kelakuannya teman-teman saya, kayaknya nggak ada satu pun dari mereka yang menyimak dongengnya mas-mas guide, hihihih.. Guide-nya mendongeng sambil bawa TOA, dan suara gaungnya mepet dengan suara mesin keretanya. Tapi kami semua menikmati berkendara di antara jalur-jalur setapak perkebunan itu kok, sembari akhirnya mendarat di arena outbound Wisata Agro Wonosari.

Outbound ini cukup sederhana aja. Seperti yang saya ceritain tadi, disediain playground berupa ayunan dan jungkat-jungkit. Ada sepeda ontel juga yang disediain buat pengunjung yang kepingin keliling kebun teh sendirian. Tapi saya sendiri lebih tertarik naik ATV.

Saya, suami saya, dan Fidel, akhirnya berboncengan naik ATV keliling kebun. Suami saya nggak terlalu nyaman nyetir ATV ini, karena merasa mesinnya agak berat untuk diajak jalan. Kami nggak bisa pakai ATV ini jauh-jauh, soalnya ternyata ATV-nya  cuma dua unit, sehingga kami mesti gantian dengan teman-teman yang lain.

Berikutnya saya nyobain flying fox. Lumayan seru juga mainan flying fox ini, karena tali fox-nya dibentangin di atas pepohonan tehnya. Tapi sayang nih kami datangnya pas masih musim kemarau, sehingga rada kurang cakep flying fox-nya di atas tanaman teh yang masih kecoklatan kering, wkwkwkkw.. Mungkin lain kali lebih bagus kalau datangnya pas musim hujan sehingga dapat warna latar hijaunya.


Kebun Teh Wonosari Lawang yang Berkesan

Saya agak senewen ketika kudu packing pulang, karena merasa betah di sini. Ya meskipun saya kurang menyukai makan siangnya lantaran makan siangnya digelar di kafe yang berjalan agak jauh dari gedung hotel, tapi saya betah dengan suasana hawa sejuknya kebun teh ini. 

Sebetulnya untuk menikmati kebun teh ini, tidak perlu nginep lho. Kita bisa datang langsung on the spot, main-main di sini seharian, dan langsung pulang. Paling agak repot sedikit kalau memang datangnya berombongan untuk bikin gathering, karena itu akan memakai lahan, sehingga harus bikin perjanjian dulu.

Update November 2019: Bukit Kuneer yang saya kunjungin subuh-subuh untuk melihat matahari terbit tadi, sekarang udah ditutup dan nggak bisa dikunjungin oleh pengunjung umum. Tetapi Wisata Agro Wonosari masih menyiapkan konstruksi lain di bagian kebun untuk dijadikan spot foto-fotoan. Saya akan tulis di blog ini kalau sudah dapat kabar bahwa konstruksinya sudah jadi ya.

Tentang Penginapan Kebun Teh Wonosari Lawang

Tadi kan saya cerita, bahwa penginapan di kebun teh Wonosari ini nggak cuman Rollaas Hotel doang.

Sebetulnya Wisata Agro Wonosari ini juga nyediain penginapan berbentuk cottages. Tiap unit cottage terdiri atas living room, kamar tidur, dan carport. Ukuran masing-masing cottage ini berbeda, karena sebagian cottages cuman berisi 1 kamar tidur, tetapi lainnya berisi 2 sampai 4 kamar. Enak sih sebenarnya cottages ini, karena tinggal di sini berasa kayak punya rumah di pinggir kebun teh. Tapi lampu jalan di depan cottages ini rada ngirit, sehingga cottagesnya kalo malam-malam malah kelihatan gelap, sebagian bahkan kelihatan creepy.

Makanya saya sendiri lebih seneng nginep di gedung Rollaas Hotel, karena ya lebih terang aja. Selain itu, tamu yang nginep di Rollaas ini bahkan udah dapet jatah tour ke pabrik tehnya.

Harga Tiket Masuk Kebun Teh Wonosari Lawang

Murah, cukup Rp 10k saja per orang.

Jika kamu ingin liburan di Rollaas Hotel and Resort pada kebun teh Wonosari, kamu bisa arahkan kendaraanmu berdasar petunjuk di peta di atas ini 🙂 Datang dari luar kota? Rute pesawat yang mendarat langsung di Malang umumnya masih bertarif cukup mahal, tetapi pesawat yang mendarat di Surabaya masih lebih ekonomis. Jangan lupa booking hotelnya dulu melalui aplikasi travel agent online kesukaanmu ya 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

46 comments

  1. Keren ah PTPN XII Perkebunan teh Wonosari
    Kalau aku pernah ke kebuh teh di Lumajang, ke atas naik truk juga Mbak..Ke tempat Bulik saya yang penempatan bidan di sana
    Asli keren banget tapi belum dikelola seperti ini
    Coba semua perkebunan dikelola juga untuk destinasi wisata ya..Pasti oke bangets

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, satu per satu PTPN XII memang sedang berbenah. Sekarang baru Wonosari yang mereka pasangin hotel, mudah-mudahan kebun-kebun teh lainnya bakalna didandanin sama cantiknya, termasuk yang di Lumajang itu 🙂

  2. Reyne Raea says:

    Bagus ya hotelnya mbak, saya berkali2 ke sini belum pernah nginap di hotelnya, pernah sekali nginep tapi di vila ya itu namanya yang nyewa per rumah ada yang kamarnya 2 atau lebih.

    Belum pernah juga ke bukit kuner, keren banget ternyata.
    yang bikin kangen tuh rasa tehnya, anehnya beli teh trus diseduh di rumah kok beda rasanya hehehe

    Btw keren banget deh Fidel, masih cilik udah ke mana-mana yak.
    Terus mamanya, hati2 buuu duduk di kap truk, entar jungkal hahahah

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Cottage yang mirip vila itu masih disewakan, tapi menurut saya masih mendingan nginep di hotel. Saya ini tipikal tamu yang dikit-dikit nelfon resepsionis minta dibawain tetek-bengek oleh bellboy-nya ke kamar. Kalau kamarnya berupa cottage, bisa-bisa resepsionisnya mesti naik motor cuma gegara saya minta diagntiin keset.

      Bukit Kuneer ini baru dilaunching lho, Mbak. Sebelum-belumnya memang belum dipasarkan, karena baru sekarang mereka mendandani spot ini untuk jadi lebih instagrammable.

      Fidel sangat senang. Dia memang udah saya bawa travelling semenjak umurnya baru 2 bulan 🙂

  3. nur rochma says:

    Jadi pengen main lagi ke kebun teh Wonosari, tehku sudah hampir habis. Tinggal teh tubruk itu, awet. Pakainya sedikit2.
    Btw, perkebunannya memang luas banget, capeklah buat jalan kaki. Dan aku belum pernah keliling pakai (sewa) jeep. Cuma muter yang deket aja, sama foto di tengah kebun yang banyak nyamuk atau apa, yang kalau nggigit gatel banget.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Mungkin lokasi tempat Mbak Nur Rochma datengin memang pas lagi banyak nyamuk kebunnya 🙂
      Aku sudah menduga tempat itu bakalan bernyamuk, jadi sebelum aku turun ke kebun itu, aku gosokin badanku pakai repellent anti nyamuk. Alhamdulillah sepanjang ngetrip itu kami nggak digigitin nyamuk sama sekali.

  4. Mugniar says:

    Belum pernah ke kebun teh. Jadi mupeng baca postingan ini. Seru, ya pengalamannya. Alamnya indah pula, hotelnya cukup asyik. Komplit.

  5. Liswanti says:

    Cakep pemandangan kebun tehnya mba. Suka lihatnya. Hotelnya juga nyaman ya, jadi pengen ke Malang. BAnyak tempat wisata yang bagus. Aku jadi ingat kebun teh di Garut, pernah waktu zaman SMK, kesananya naik truk juga, ketawa-ketawa aja elama di jalan, seruu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya di kawasan Jawa Barat mah pemandangan kebun tehnya sama bagusnya sih. Termasuk yang dikomenin Teh Okti di atas. Tetapi kebun teh ini adalah tempat liburan alternatif di Malang yang jenuh dengan Bromo, Batu, dan kotanya yang macet 🙂

  6. Siswi says:

    Mbak ulasannya cukup menarik, saya cari yang ceritanya bawa krucil. Jika tidak menginap, untuk sewa jeep, apakah mudah? Apakah memang tersedia banyak disana? Thx

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Menurut saya sih jeepnya tidak terlalu banyak ya. Kalau mau pakai jeep, lebih baik pesan dulu minimal sehari sebelumnya, jangan datang mendadak lalu minta jeep 🙂

  7. hampir sama kayak daerah pagaralam, kebun teh dan pegunungan.
    kalau dari palembang perlu 8 jam naik mobil. ada sih pesawat cuma kelas foker kayaknya yang bisa kesana. kalau adik nggak salah.

  8. Okti Li says:

    Buat orang (blogger) kota kebun teh masih terbilang langka ya. Buat saya yang tinggal di kebun teh mah biasa saja. Belakang rumah saya kebun teh. Sekolah di antara kebun teh. Pasar dan semua fasilitas desa berada di antara perkebunan teh. Kami tinggal di Sukanagara, Cianjur bagian selatan. Kalau di Lawang itu XII, maka di tempat saya ini VIII nya. Sekarang malah sudah banyak yg dibeli swasta dan sebagian oleh Perhutani.

    Banyak blogger Jakarta (ISB, Cihuy, dll) berencana main ke tempat saya, tapi blm realisasi. Padahal selain kebun teh, di dekat tempat hingga saya ada curug (air terjun) Citambur dan Ngebul. Bisa gugel deh
    Belum situs gunung padang yang heboh jaman SBY. Sekarang malah lebih ditata lagi…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ceu Okti, meni barokah pisan hirup di kebun teh nya. Saya sering penisirin kenapa Ceu Okti sering ngeluh susah sinyal, tapi da kalau rumahnya sebelahan sama kebun teh, ya wajar atuh.

      Ini mah Ceu Okti bisa foto-fotoan instagrammable tiap hari, da background hijaunya gampang banget dapetnya 🙂

  9. Baktiar says:

    Asyik juga menjelajah perkebunan teh pake truk.. Spot terbaiknya untuk sunrise dimana ya? Siapa tahu sutu ketika bakal kesasar disini

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Spot terbaik untuk sunrise ada di Bukit Kuneer. Untuk ke bukit ini, bisa pakai kendaraan yang disediakan manajemen resortnya. Biar nggak kesasar 🙂

  10. Berkali-kali pingin ke sana masih sebatas niatan. Hehehe…. sekarang foto di jembatan itu sudah mulai banyak di instagram. Bisa naik motor gak ya ke sananya 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ke resort ini sebetulnya bisa naik motor. Tapi untuk ke jembatan ini, saya rasa jangan naik motor sendirian karena kuatir kesasar di lahan perkebunan. Lebih baik bareng guide dari resortnya.

  11. Nuno says:

    Dimana-mana yang namanya kebun teh itu kok selalu indah ya? Tempo hari aku ke Pagilaran di Batang sana. Suka juga sama suasana paginya. Cuma sayang waktu itu pas musim kering jadi kebunnya kering gitu. Baca ini jadi pengin ke Malang juga.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya waktu aku kemari, juga masih musim kemarau. Kalau Mas Nuno tonton videoku yang pertama di atas, Mas Nuno akan lihat ketika aku sedang flying fox, aku meluncur di atas kebun teh yang sedang gersang.

      Tetapi sceneries lainnya terlihat hijau karena kebetulan fotonya diambil pagi hari sebelum jam 8.00.

      Aku baru dengar di Batang ada kebun teh. Sepahamku, Batang itu pinggir pantai lho, ternyata nggak semuanya ya.. 😀

  12. Daruma says:

    Staycation di hotel yang pemandangannya kebun teh beuuuhhh luar biasa banget tuh. Foto fotonya juga kece. Pengen juga balik ke malang lagi hmm

  13. farida says:

    aku pernah ke sini dan sukaa banget. waktu terbaik memang pagi saat sunrise ya. tapi udah kebayang dinginnya jadi pas ke sini gak siang gitu jam 9-an, masih sejuk jg sih.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya nggak sedingin itu sih. Suhunya memang sekitar 16 derajat Celsius pada waktu subuh, tetapi saya sendiri nggak terlalu kedinginan. Mungkin lain kali saya bawa cardigan aja, bukan jaket baseball 🙂

  14. Turis Cantik says:

    Seumur-umur belum pernah datang ke kebun teh, ternyata kini banyak hal yang bisa dilakukan disana ya. Asik kayaknya bawa anakku neh ke sini, udaranya juga masih bersih ya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, Mbak Muth, di sini langitnya masih biru, padahal cuma beberapa kilometer aja dari kota Malang. Sebab memang kendaraan yang masuk ke kebun teh yang aku shoot ini hanya 1-2 aja. Makanya hawanya bersiih banget.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Rizka, memang di Kalimantan nggak ada kebun teh karena tanah di sana kurang cocok untuk ditanami teh. Tapi aku lihat di sana banyak kebun kelapa sawit, tentu mestinya bisa jadi cantik juga 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, betul. 🙂 Mereka membuat penginapan baru karena ingin bersaing dengan tempat-tempat wisata lain yang sudah menyediakan penginapan mutakhir di lingkungannya 🙂

  15. fika says:

    inget banget moment naik truk ke kebun teh wkwkwkwkwk ini jadi alternatif buat liburan warga Surabaya yang nggak perlu jauh-jauh kena macet 🙂 Btw itu posenya di tempat tidur kayak malam pertama wkwkwkwk

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ini mesti dirimu malam pertama dulu dipake buat baca handphone ya, wkwkwkwk..
      Kalau diriku dulu malam pertama dipake buat ngitung angpaw, hihihhi..

Leave a Reply to Siswi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *