Menikmati Senja di Sentra Ikan Bulak

Si ibu berjalan sembari membawa baki dan berjalan menuju kami. Senyumnya tersungging ketika ia menghidangkan pesanan kami di meja. Sepiring lontong kupang dan seporsi sate kerang siap menemani kami, menghabiskan malam ini. Di Sentra Ikan Bulak.

Tempat ini sebetulnya sudah dibuka 1-2 tahun lalu. Bersamaan dengan mulai menggeliatnya kawasan Bulak yang semula seadanya menjadi teritori perekonomian yang menjanjikan. Permukiman kampung nelayan diremajakan. Warung ikan pinggir jalan dilokalisasi. Anak-anak punya taman bermain sendiri.

Pada akhirnya, Bulak menjadi kawasan baru yang menyenangkan untuk berburu seafood.

Sentra Ikan Bulak

Biar saya ceritakan tentang Sentra Ikan Bulak ini. Orang-orang ini telah membangun sebuah pertokoan dua lantai di terusan Jalan Pantai Kenjeran. Lantai pertamanya disewa lapak-lapak yang menjual krupuk dan ikan. Lantai keduanya untuk kedai-kedai seafood. Tak hanya depot, tapi kita disambut meja-meja makan untuk menikmati seafood-nya sambil menonton laut yang berombak.

Saya bahkan langsung bisa mengenali tempat makan ini dari jalan raya. Fasadnya saja sudah nampak menonjol dengan tiang-tiang di atas atap yang menopang aneka layar. Mirip sekali seperti hotel Kuta Paradise yang juga bertema kapal layar. Layar-layar ini dibentuk dari kain-kain tenda berbentuk segitiga, menaungi bagian depan area makan yang berada persis menghadap laut Selat Madura. Menerbitkan perasaan seolah-olah tengah berlayar melaut bersama kapal besar sambil makan aneka olahan ikan bikinan depotnya.

Bersama suami di Sentra Ikan Bulak, Surabaya

Hidangan yang ditawarkan para kedai di Sentra Ikan Bulak ini pun bermacam-macam, meski didominasi seafood. Kebanyakan adalah ikan goreng penyetan, nasi goreng ikan, atau pun macam-macam fillet ikan dengan saos asam manis atau saos lada hitam. Beberapa warung bahkan menjual masakan Madura macam lorjuk dan kawan-kawannya.

Saya datang ke Sentra Ikan Bulak, suatu sore sehabis menemani anak saya main di Taman Suroboyo yang berada persis di depan pasar ikan ini. Para pemilik warung nampak saling bercengkerama, tapi langsung antusias memanggil-manggil calon pembeli saban kali ada pengunjung. Saya berhenti pada suatu depot, membaca daftar menu (ada daftar harganya lho), dan langsung memutuskan untuk membeli lontong kupang dan gulai kepala ikan. Kami pun mengambil tempat persis di balkon yang menghadap ke jalan.

Lontong Kupang dan Gulai Kepala Ikan

Tak berapa lama, pesanan kami datang. Sepiring lontong dengan taburan kupang dan kuah yang hangat pun tersaji di hadapan kami. Di sebelahnya, sepiring berisi 10 tusuk sate kerang siap menemani. Saya mengambil satu sate dan mengunyah sepotong lontong. Rasanya nikmat.

Sore itu, saya yang sebenarnya tengah flu, memutuskan untuk mencoba gulai kepala ikannya. Tak tanggung-tanggung, ke hadapan saya telah dihantarkan dua potong kepala ikan (ikan bandengkah, ini?) yang menyembul di atas mangkok berkuah gulai kekuningan hangat. Saya mengambil kuahnya beberapa sendok dan menyiramkannya ke nasi putih saya, lalu mulai mempreteli salah satu kepala ikannya. Ketika sesuap nasi berkuah gulai itu masuk ke mulut saya dan saya lahap daging kepalanya, saya pun terhenyak. Oh my God, barang ini segar!

Sate kerang dan lontong kupang (kiri), dan gulai kepala ikan (kanan)

Tak sengaja waktu pun berlalu cepat tatkala saya menyeruput setiap daging dan kulit kepala ikan itu secara membabi buta. Kuahnya segar sekali, percampuran antara serai, kunyit, dan samar-samar harumnya daun jeruk, mengingatkan saya akan pallumara, membuat saya rela menyantapnya hingga mangkok saya tandas. Saya ingin sekali nambah, tetapi anak saya mulai rewel dan mengajak pulang. Dia kecapekan setelah sesorean tadi bermain di Taman Suroboyo.

Menatap Patung Soro dan Boyo di Taman Suroboyo

Memang berada di Sentra Ikan Bulak ini tak melulu hanya belanja ikan atau bahkan makan ikan. Persis di hadapan Sentra Ikan Bulak, terbentang luas taman kota pinggir laut bernama Taman Suroboyo. Di taman ini, tampak menjulang patung Suro dan Boyo yang memang merupakan ikon kota Surabaya. Sebuah lapangan besar di depan patung ini menjadi pusat taman cantik ini, di mana anak-anak bebas berlarian sembari diawasi orang-orang tuanya yang duduk manis di bangku-bangku taman.

Favorit anak saya adalah playground di taman ini. Ia senang sekali menghabiskan waktunya dengan menguji ketangkasan lengan dan tungkainya untuk bermain panjat-panjatan. Sesekali ia harus belajar mengantre dengan anak-anak sebayanya untuk meluncur menuruni perosotan. Saya hanya duduk saja di pinggir bangku menontonnya, sambil sesekali memeriksa HP. Orang-orang lain bahkan sibuk selfie.

Patung Suro dan Boyo (kanan atas), menjulang di depan plaza pada Taman Suroboyo (kiri atas).
Anak saya senang berlari-lari di taman (kanan bawah) dan main perosotan yang persis berada di depan patung Suro dan Boyo (kiri bawah).

Bagian dalam dari Taman Suroboyo adalah pesisir pantai yang langsung menghadap Selat Madura. Orang-orang biasa duduk di pinggir pantai sembari minum pop ice yang dijajakan para pedagang gerobak di jalur setapaknya. Perahu-perahu nelayan bersandar pada pesisir, ditinggal oleh pemiliknya yang mungkin tengah beristirahat, sebelum nanti malam kembali lagi untuk mengarungi lautan demi menangkap ikan.

Taman Suroboyo, hanya satu dari sekian banyak taman kota yang menjadi tujuan wisata lokal warga Surabaya yang tentu saja bisa dinikmati dengan gratis. Saya sendiri, sebagai pecinta kuliner, tetap lebih menyukai melahap aneka hidangan di Sentra Ikan Bulak.. hihihi..

Bulak yang Unik

Bulak kini memang telah berubah. Perkampungan yang dulunya semrawut di pinggir pantai ini telah mengalami renovasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Bila dulu para nelayan menjual ikannya secara sporadis di pinggir pantai hingga membuat jalanan jadi macet, kini telah dilokalisir dalam Sentra Ikan Bulak. Pesisir pantai Kenjeran yang malamnya sering populer jadi arena kencan yang tercemar, kini telah dirombak menjadi Taman Suroboyo yang sangat ramah anak dengan larangan tak boleh berbuat mesum dan tak boleh membuang sampah sembarangan.

Anda biasa harus pergi ke Kebun Binatang Wonokromo untuk bisa berpose di hadapan patung Suro dan Boyo? Nah, patung ini juga bisa Anda temukan di Taman Suroboyo.

Bahkan, sekitar 1-2 km dari Sentra Ikan Bulak ini adalah Jembatan Suroboyo yang melintasi pesisir Selat Madura. Jembatan ini biasa ditutup pada waktu weekend agar hanya bisa dilalui para pejalan kaki, dan para pengunjung disuguhi pertunjukan air mancur menari. Saya pernah menghabiskan waktu di jembatan ini untuk menonton pawai ogoh-ogoh para umat Hindu.

Tak perlu resah berkeliling mencari tempat wisata di Surabaya yang menjual hidangan seafood dengan harga miring di Surabaya. Di Sentra Ikan Bulak, melahap masakan ikan sambil menikmati pemandangan laut, akan membuat kita mencintai sisi lain dari kota Surabaya yang unik ini.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

23 comments

  1. Ya ampun.. kemaren-kemaren ke Surabaya tapi gak sempat mampir di sini euy..
    sebenarnya gak kemana-mana juga sih.. hehehe

    Lain kali main ke Surabaya selain harus ketemuan sama mbak Vicky juga harus ke sentra ikan bulak ini juga lahh..

    Apa kita ketemuan di sini aja sembari ngunyah seafood???
    hehehehe.

  2. Eddy Fahmi says:

    Kawasan bulak dan kenjeran ini dulu kumuh dan kemproh, alhamdulillah di jamannya bu risma ini bisa disulap jadi tempat wisata yg bagus gini. Murah dan meriah buat ngajak keluarga jalan2 santuy pas akhir pekan.

    Yang paling aku suka itu menu makanan di sentra ikan bulak mencantumkan harga. Jadi nggak ada cerita digetok ‘harga turis’ kalo kulineran disana.

  3. Aku tuh ke Surabaya cuma lewat2 aja hahaha πŸ˜€ Belum pernah beneran mampir sebentar atau berkunjung ke mana gitu, cuma pernah transit aja di bandara mau ke Malang hihihi. Ternyata Sentra Ikan Bulak ini makin cakep aja yak. Kalau lagi flue mah emang bener obatnya selain istirahat dan cukup, makan kudu giat ya hahah. Bener kan, bu dokter Vicky? πŸ™‚ Kepala ikan dibumbui kayak di gambar…woaaah langsung ludes 2 potong deh πŸ˜€

  4. Dinda says:

    Pernah kesana dulu, sekarang berasa pangling aja liatnya bagus banget ya..
    Tapi tiap ke pantai saya ga pernah pesan menu makanan ikan, soalnya kurang suka, aku lebih suka foto-foto aja sih kalo di pantai hehehe

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, mungkin butuh waktu untuk meyakinkan para vendor untuk mengisi space kios dan meyakinkan pangsa pasar untuk mau membeli produk di sini. πŸ™‚

  5. Reyne Raea says:

    Tempat ini sudah sering kami lewati, kami amati, tapi belum pernah mampir, padahal ngiler banget ama gulai kepala ikannya.

    Noted mba, bakalan mampir ah kalau ke sana, kebetulan juga kami belum pernah ke taman Suroboyo semenjak diresmikan, bisa sekalian main di taman dan makan-makan nyaaammm πŸ˜€

  6. Alannobita says:

    Ke sini sore buat makan lanjut kereta jam 10 malam dari gubeng baru sempet kan ya mba. Di peta kayaknya g jauh d4 stasiun.

    Sering transit di surabaya, pngn ke tempat ini nyoba kuliner-kuliner ikannya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sempet banget! Ambil taksi online aja dari stasiun Gubeng kemari sore-sore. Lebih baik sebelum matahari terbenam supaya sempat lihat taman kota Suroboyo yang ada patung Suro dan Boyo-nya πŸ™‚

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku ya kurang paham jenis-jenis kepala ikan, Hen. Terakhir kali aku makan ikan yang kepalanya segede ini, adalah waktu aku makan kepala bandeng.

  7. Hilda Ikka says:

    Masyaallah, langsung ngences bayangin makan ikan bakar dengan bumbunya yang meresap Jadi tertarik ke sini. BTW patung Suro Boyo-nya gak bisa semirip yang di depan BonBin yak. Aku masih pengen foto di patung Suro Boyo depan BonBin belom keturutan

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hoalah, Ka.. nggak ngerti aku. Patung Suro dan Boyo di manapun sama aja buatku, hahaha.. baik yang di depan Bonbin, di Monkasel, atau pun yang di Taman Suroboyo ini

  8. Nieke says:

    Jadi penasaran pengen ke sana. Penasaran sama patung Suro dan Boyo yang di sana. Harga makanannya gimana, Mbak? Ramah kantong? Aku penyuka seafood. Ohya, rekomendasinya, enaknya ke sana jam berapakah agar sinar matahari tak terlalu menyengat tapi tetap dapat suasana senja yang cantik? Makaci

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Rerata harga per menu itu antara Rp 25k-30k aja, Mbak Nieke. Menurutku sih ya, gulai kepala ikan yang kumakan ini gede banget. Dan dengan harga segini, aku sudah dapat nasi, jadi kenyang sekali.

      Kalau mau sinar matahari yang bagus, baiknya antara jam 6-8 pagi. Tapi tentu warung-warung makannya belum buka ya. Jadi mending ke sini sore-sore, setelah jam 15.00 gitu lah, Mbak πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *