Jenis-jenis Video Marketing: Travel Blogger Harus Tahu

Semakin hari, travel blogger yang ditarik buat endorsement makin bejibun, sehingga travel blogger kudu sering upgrade skill diri sendiri biar nggak kalah di kompetisi ratecard. Nah, salah satu skill yang kini makin sering dicari oleh para klien di niche travel ini adalah bikin video marketing lho. Soalnya, riset marketing udah kasih data bahwa ternyata video itu meningkatkan sales lebih banyak ketimbang gimmick marketing dalam bentuk foto doang. Tapi kalau udah urusan video marketing, kebanyakan so-calledtravel-blogger masih bingung, video marketing itu apaan sih? Nah, kali ini saya mau cerita-cerita dikit tentang jenis-jenis video marketing yang kudu dikenal oleh travel blogger.

Kebanyakan orang awam menyangka bahwa video marketing itu video ngiklan yang biasa ada di iklan tv atau sering ditayangin pada acara launching produk. Biasanya yang bikin video ngiklannya adalah brand pemilik produknya sendiri. Well, bener sih itu, tapi sebetulnya video yang kayak gitu hanya salah satu dari sekian banyak jenis video marketing. Ada jenis-jenis video marketing lainnya, dan sebetulnya dibikinnya bukan oleh brand sendiri, tapi bisa juga dibikin oleh orang non-brand, oleh blogger yang netral dari brand, dan bahkan bisa dibikin oleh orang awam.

Harap diingat bahwa video saat ini adalah alat marketing yang paling kuat untuk menarik perhatian para digital savvy lho. Maka blogger yang biasa melakukan proyek endorsement kudu paham tentang pentingnya video marketing ini.

We are operating in a world where one good video can lead to a massive social following.

Mike Henry

Jenis-jenis Video Marketing

Ini nih jenis-jenis video marketing yang bisa kita lihat sehari-hari di social media:

1. Video Event

Video event ini berisi kisah acara yang diadakan suatu brand, diliput oleh undangan yang datang ke event itu. Misalnya, sebuah hotel baru buka, lalu media diundang ke hotel itu untuk ditunjukkan isi kamarnya, dan fasilitas hotelnya. Saya pernah bikin video marketing seperti ini untuk blogpost saya tentang Batiqa Hotel Darmo.

Blogger sedang membuat video marketing berupa liputan event pembukaan restoran Hotel Batiqa Darmo.

2. Video Review

Video review ini memberi paparan tentang suatu objek, secara mendalam. Dalam konteks video travel marketing, objeknya bisa berupa tempat wisata, hotel, restoran, airport, intinya tentang suatu tempat tujuan.

Rammang Rammang Maros, tempat wisata di Sulawesi Selatan
Di sini saya sedang membuat video review tentang Rammang Rammang Maros.
Saya menjelaskan tentang isi dari desa wisata ini, naik apa ke sana, ngapain aja selama di sana, dan semacamnya.
Karena ditayangkan di social media, maka video ini punya makna marketing bagi objek wisata tersebut untuk meningkatkan kunjungan ke sana. .

3. Video Tutorial

Video tutorial berisi penjelasan juga, hanya saja video ini lebih spesifik memberi penjelasan tentang cara melakukan sesuatu. Biasanya video ini penuh dengan langkah-langkah (step by step) yang terarah, di mana tanpa langkah satu maka tidak bisa dilakukan langkah kedua, dan seterusnya.

Salah satu adegan dalam video buatan kawan saya @_siogie tentang tutorial melalui 8 jam transit di Hong Kong.
Informasi yang runut dalam video ini secara tidak langsung menjadikannya video marketing bagi pariwisata Hong Kong.

4. Video Demo

Video demo itu termasuk dalam video tutorial juga, tapi lebih spesifik memberi peragaan tentang bagaimana menggunakan suatu barang.

Video lainnya buatan @_siogie, yang melakukan demo memperagakan produk WiFi saku, bisa dijadikan video marketing juga.

5. Video Branding

Video branding ini dibikin oleh perusahaan brand-nya sendiri, umumnya sebagai company profile untuk menjelaskan visi, misi, garis besar bisnis perusahaan tersebut. Bisa juga untuk keperluan disebarkan ke publik melalui social media dengan tujuan menimbulkan awareness. Kadang-kadang brand pariwisata minta para travel bloggers menayangkan video branding mereka di channel para bloggers supaya profile mereka ini bisa dilihat oleh lebih banyak orang yang bisa jadi target konsumen bagi brand mereka.

Adegan ini diambil dari salah satu video branding buatan Kementerian Pariwisata Indonesia yang berjudul Wonderful Indonesia, bisa dilihat di channel YouTube Indonesia.Travel.

Sebetulnya masih banyak video marketing lainnya, tapi saya akan fokus dulu buat cerita tentang bagaimana para travel bloggers bisa membuat video marketing ini.

Kendala Video Marketing pada Blogger

Sebetulnya membuat video itu mudah, karena sekarang hampir semua smartphone yang dimiliki orang awam sudah diberi fasilitas untuk bikin video. Tetapi ternyata nggak semua orang bisa bikin video marketing, karena syarat pasti untuk bisa mewujudkan tujuan marketing itu, videonya harus indah. Tidak bisa video di-shoot semena-mena, lalu dipertunjukkan kepada khalayak ramai jika tidak dipoles dulu, kan? Dan untuk memoles video tersebut, diperlukan proses editing video.

Editing video ini cukup rumit bagi para blogger yang belum terbiasa, karena memerlukan latihan khusus.

Proses Editing Video dalam Aplikasi

Proses-proses dasar yang butuh dikuasai untuk editing video antara lain:

  • Memotong adegan. Tujuannya membuang adegan-adegan yang tidak perlu dilihat penonton. Misalnya adegan ketika orientasi kamera sedang miring, atau ada “adegan bocor”.
  • Mengurut-ngurut adegan. Karena sering terjadi kita perlu menyampaikan suatu cerita secara runut, tetapi adegan-adegannya tidak bisa di-shoot secara berurutan.
  • Membuat adegan pembukaan. Tujuannya untuk menarik perhatian penonton agar mau menonton, karena attention span penonton itu hanya pada 8 detik pertama.
  • Membuat adegan penutup. Fungsinya untuk memberi tahu penonton bahwa ceritanya sudah selesai.
  • Memasang teks. Teks ini untuk memberi info kepada penonton, dan info ini tidak bisa tersampaikan dengan hanya melalui adegan visual di video, misalnya ini siapa, lokasi di mana, adegan ini aman untuk anak-anak, dan lain-lain.
  • Memasang voice over. Langkah ini dibutuhkan jika pembuat video perlu memberi penjelasan, tapi sulit disampaikan melalui teks karena teksnya terlalu banyak atau teksnya malah merusak keindahan video.
  • Memasang musik. Musik diperlukan untuk mempertahankan mood penonton supaya tetap menikmati videonya.

Cukup banyak ya prosesnya? Makanya tidak semua orang bisa melakukan editing video ini, sehingga butuh latihan khusus. Cara latihannya tergantung kepada peralatan device yang digunakan, dan peralatan device-nya bisa berupa laptop atau bisa berupa smartphone. Makanya ada blogger yang hanya bisa mengedit video melalui laptop saja, tapi ada juga blogger yang hanya bisa mengedit video melalui smartphone doang.

Yaa ada juga sih yang bisa ngedit menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.

Kecuali ini video marketing live, maka semua video yang ditujukan untuk marketing perlu melalui pengolahan pada aplikasi editing video.

Saya sendiri semula belajar mengedit video melalui laptop, karena pertama kali berkenalan dengan urusan edit-mengedit video ini ya karena ajakan teman yang mengedit melalui laptop. Awalnya kelihatannya keren, saya bisa motong-motong adegan, lalu mempercepat adegan membosankan dan memperlambat adegan yang menarik. Tapi saya tidak tahan lama mengedit di laptop ini, karena software untuk mengedit ini berat banget bagi laptop saya yang masih level entry. Sempat putus asa karena tidak terampil ngedit padahal lihat tetangga sudah mulai bisa ngedit video, sampai kemudian seorang travel vlogger bernama @teguhsudarisman memperkenalkan saya pada dunia mengedit video melalui smartphone.

Mengedit video melalui smartphone ternyata gampang, belajar dalam 2-3 jam secara terarah saja ternyata sudah bisa bikin saya mampu membuat suatu video marketing berjenis video review berdurasi 4 menit. Kalau cuma motong-motong adegan doang sih gampang. Tapi yang susah itu sebetulnya milih musiknya, karena terlalu banyak pilihan file musik di smartphone saya, wkwkwk..

Salah satu teman saya, yang sesama travel vlogger, akhirnya mengambil jalan pintas. Tiap kali dia upload video, dia nggak pernah kasih background musik. Well, dia memang nggak terlalu savvy dalam memonetisasi ilmu content creation-nya, by the way.

Sekarang-sekarang ini, alhamdulillah saya udah mulai bisa ngedit video saya dalam 1 jam aja untuk menghasilkan suatu video marketing 3 menit. Memang sering latihan akan membuat kita lebih gesit.

Mengeditnya Pakai Aplikasi Editing Video yang Mana?

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan para blogger pemula dalam bikin video (video lho ya, bukan hanya vlog. Karena ternyata video marketing berjenis video branding itu bukan termasuk vlog) adalah ngeditnya pakai aplikasi apa?

Memilih aplikasi editing video itu perlu mencoba banyak aplikasi sebelum akhirnya memutuskan mana yang paling cocok.
Percobaan itu meliputi kemudahan penggunaan, kelengkapan feature, sampai ke urusan biaya langganan.

Saya sendiri pernah nyoba macam-macam aplikasi di smartphone, mulai dari yang interface-nya gampang sampai yang interface-nya ruwet. 

Ada yang ketika aplikasinya baru dibuka, aplikasinya langsung tanya, “Oke, mau ngedit adegan apa dulu?” Ini cocok buat pengedit pemula, menurut saya sih. 

Tapi ada juga yang ketika aplikasinya baru dibuka, maka pertanyaan pertamanya adalah, “Nanti videonya mau pake orientasi bujursangkar atau orientasi persegipanjang?” Pertanyaan ini jelas lebih cocok buat pengedit yang sudah tahu nanti videonya mau tayang di mana, artinya pengeditnya adalah social media savvy, bukan orang awam yang kebetulan lagi belajar video.

Makanya, nggak ada aplikasi edit video yang cocok bagi semua jenis orang. Setiap aplikasi itu cukup individual, sangat bergantung kepada kebutuhan masing-masing orang akan aplikasi tersebut. Tapi untuk membuat video marketing, sebetulnya segala jenis aplikasi editing video cocok aja buat bikinnya. Yang penting, tujuan marketing dari pembuatan video tersebut tercapai. Baik itu tujuannya sekedar untuk ditonton orang, untuk menimbulkan minat terhadap produk yang di-marketing-kan, atau bahkan untuk menarik orang membeli produk yang di-marketing-kan tersebut.

Nah, karena untuk mencapai tujuan marketing itu punya syarat harus menimbulkan kepercayaan dulu pada orang yang melihatnya, maka saya rasa video marketing yang ideal itu kudu dibikin dengan aplikasi editing video yang hasil akhirnya tanpa menampilkan watermark nama aplikasinya. Apa aja aplikasi yang kayak gini? Bisa dilihat di artikel saya tentang aplikasi editing video tanpa watermark untuk Android ya.

Apakah kamu pernah punya kendala dalam membuat video marketing? Ceritain dong di kolom komentar 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

10 comments

  1. Damar Aisyah says:

    Makin ke sini konten audio visual memang makin disukai. Aku pun sedang belajar editing untuk video-video sederhana saja. Cuma masalahku masih di taste editing. Motong dan ngepasin musik perlu diasah banget. Termasuk angle pengambilan gambar.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Oh iya, betul, itu kesulitanku juga. Aku mulai dari motong-motong adegan aja dulu. Minimal membuang adegan-adegan sampah, hihihi. Kalo hasil akhirnya udah nampak nyaman dilihat, baru diperindah dengan memasang musik yang pas. Jadi inget, videoku tentang hotel bernuansa Jawa pernah kuberi musik Natal, hahaha.. Itu gara-gara bingung cari musik tapi nggak nemu yang pas. Yah, mencari musik yang cocok sebagai background itu ternyata ada ilmunya juga.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ooh saya dulu juga nggak pede. Karena merasa hasil editan saya jelek. Lalu saya belajar pelan-pelan. Awalnya, hasil editan saya cuma saya tunjukkan kepada suami. Kalau dia bilang bagus, saya lanjutkan tunjukkan kepada orang lain. Kalau dia bilang jelek, saya tanya jeleknya di sebelah mana. Gitu terus sampai jadi pede.

  2. Zam says:

    saya sempat bikin beberapa vlog, modalnya cuma pake ponsel dan ngedit dari ponsel. namun akhirnya saya merasa keteteran karena cukup sulit, terutama urusan edit-mengedit. saya dulu pake aplikasi Quik, di mana dengan aplikasi ini, saya dituntut untuk lebih banyak bikin rangkaian cerita (karena Quik fitur editingnya terbatas). beberapa vlog saya bisa dilihat di https://www.youtube.com/playlist?list=PLUCGiGmuASKYj_W1qXTwZ97M0ad_AuMcP (playlist). sempet terpikir bikin vlog lagi tapi ya itu, agak effort juga di bagian editingnya.

  3. Hahahaha aku nih yang termasuk ga pede bikin video wkwkwkwkw Paling bisanya video ala2 yg disambung dari beberapa foto aja dan ditambahin musik. Pernah sih bikin video shoot review tapi kok ya begitulah Aku paling nyoba In Shot, viva video. Mau join belajar videoan sama Mas Sudarisman tp waktunya blm cocok2 Maybe next time. TFS mb Vicky.

    1. Ak udh ada Youtube mba. Youtube chanelku Happy Dyah #EhPromosi. Mulai dr kerjaan make up, review buat tulisan (hotel, resto), perjalanan wisata ada yang terekam di galeri dan mangkrak gak sempet2 edit, ada yang udah setahun lho mba. Eh malah curcol yak memang harus sedikit effort untuk menuangkan semua ke bentuk video. So far pake Kinemaster, sebelumnya Filmorago dan masih terus belajar niiy

      1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

        Dear Mbak Dyah, aku sering lihat videonya Mbak Dyah itu bagus-bagus. Kalau dimanfaatkan untuk marketing bisnis orang lain, tentu hasilnya bakalan menguntungkan untuk Mbak Dyah 🙂

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bikin video dari kumpulan foto juga nggak apa-apa kok, Teh. Aku dulu juga begitu, ngumpulin footages dari macam-macam foto aja. Karena video itu nggak selalu harus dari suatu adegan bergerak, tetapi juga bisa dari kumpulan foto yang statis. Tapii…fotonya yang banyaak. Tiap foto itu cuman dijadiin adegan selama 1 detik aja. Kalo ada 60 foto aja yang masing-masing tampil selama 1 detik, udah jadi tuh video ciamik berdurasi 1 menit 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *