Bikin Saos Sushi Sendiri di Kimukatsu

Sebetulnya Kimukatsu lebih terkenal dengan millefeuile katsunya. Tetapi khusus kali ini, saya datang bukan untuk mencicipi millefeuille katsu itu, melainkan lantaran saya kepingin makan sushinya.

Kimukatsu Surabaya di Tunjungan Plaza

Saya datang minggu ini bareng suami dan anak saya ke cabang Kimukatsu Surabaya, yaitu di Tunjungan Plaza 4.

Lokasi Kimukatsu Surabaya di Tunjungan Plaza ini berada di lantai 5.
Logo MUI besar di belakang kasir menunjukkan bahwa Kimukatsu halal.
Kimukatsu mendapatkan sertifikat MUI-nya tahun lalu.

Suasana ketika kami datang tidak terlampau rame, tapi nggak terlalu sepi juga sih. Ada kurang lebih 3-4 meja yang terisi dalam restoran yang interiornya didominasi kayu ini.

Ruangannya sendiri sebetulnya berkapasitas sekitar 20 meja, tiap meja berukuran antara 4-6 orang. Meja-meja yang mepet ke dinding dilengkapi sofa. Kami ambil meja yang mepet pakai sofa itu aja supaya anak saya bisa nyender selonjoran.

Bagian belakang ruangan diperuntukkan buat jadi dapur, sementara kasirnya berada di depan. Semua staf pakai masker, dan beberapa orang bahkan face shield, alhamdulillah.

Saya perhatikan kok nggak ada wastafel ya. Tapi kayaknya tempat ini bukan buat makan pakai tangan, jadi mestinya sih nggak masalah.

Buku Menu Kimukatsu

Seperti biasa kayak di restoran-restoran sushi lainnya, begitu saya duduk, saya ditunjukin sebuah QR code di meja. Kode ini merujuk ke buku menu digital miliknya Kimukatsu.

Sayangnya sinyal internet provider di HP saya lagi jelek, sehingga HP saya nggak bisa loading kode tersebut. Langsung deh stafnya nawarin saya pakai buku menu manual aja.

Salah satu halaman tengah di buku menu Kimukatsu yang memuat sushi.

Buku menu cetakannya Kimukatsu terasa premium dengan hard cover dan art paper. Bagian depannya diisi menu terbarunya Kimukatsu (berupa nasi mentai yang saat ini lagi trendy), lalu bagian tengahnya adalah sushi dan keluarga goreng-gorengan yang dijadiin appetizer), baru disusul millefeuile katsu yang merupakan menu jagoannya Kimukatsu.

Tidak terlalu banyak pilihan minuman. Sepertinya Kimukatsu ingin mengedepankan makanan sebagai unggulannya saja.

Pilih Sushi

Saya datang ke sini khusus buat makan sushi aja, karena memang sudah lama banget saya nggak makan sushi. Jadi saya milih sushi untuk saya dan suami saya. Anak saya masih belum bisa makan nasi dikepal-kepal yang dimasak pakai cuka dan garam ini, jadi saya pilihkan dia makanan kesukaan sejuta anak, yaitu karaage.

Setelah pesanan sudah booked, seorang shokunin (staf yang membuat sushi) datang kepada saya untuk mengkonfirmasi menu-menu yang saya pesen. Dia bilang bahwa pesanan saya akan siap dalam kurun waktu 15-20 menit. Saya pikir itu waktu yang standar untuk seorang pengrajin sushi, jadi ya saya oke-oke aja.

Tamago Sushi Roll yang Krispy

Sushi yang pertama datang adalah tamago sushi yang mereka namain Tamago Floss Crunchy Roll (Rp 32k++). Jika kalian kepingin tau tamago sushi ini apa, bayangin aja dulu nasi dilapisi daun nori, lalu ditumpuk dengan selembar omelet digulung tipis (orang Jepang menyebutnya tamagoyaki). Kemudian ditumpuk dengan ketimun yang diiris panjang. Baru digulung menjadi sebuah sushi berbentuk balok (istilahnya hakogata), sehingga jadilah sebuah sushi roll.

Isian sushi Tamago Floss Crunchy Roll di Kimukatsu yang berupa potongan tamago dan ketimun.

Karena neta (isian) utamanya adalah tamagoyaki, maka disebut tamago sushi roll. Lalu tamago roll ini ditaburi abon daging dan tepung panko yang kriyus-kriyus. Kemudian abonnya ditumpuk lagi dengan telur ikan kecil-kecil (biasanya dari ikan terbang alias ikan torani, orang Jepang menyebutnya tobiko). Nah, gulungan sushi yang udah ditaburin hiasan ini diiris lagi menjadi 6 potong oleh Kimukatsu-nya, baru disajikan.

Tiga Nigiri Sushi

Pesenan saya selanjutnya adalah Sushi Trio, yang sebetulnya adalah tiga buah nigiri sushi.

Nigiri sushi ini bikinnya lebih simpel. Nasi dikepal tangan (nigiri sendiri artinya mengepal), lalu dibentuk lonjong. Kemudian dilapis dengan topping, yang bisa berupa apapun yang dipotong secara fillet. Nasi lonjong yang ditumpuk topping ini akan diikat dengan potongan nori, maka jadilah sebuah nigiri sushi.

Di Kimukatsu, nigiri sushi ini dijual macem-macem. Nasi untuk nigirinya bisa diikat dengan tamago (tamago = telur), potongan salmon, atau potongan kani (kani = kepiting), lalu dijual sendiri-sendiri.

Tapi untungnya mereka juga jual sepaket nigiri yang berisi ketiga macam nigiri ini sekaligus, yang kemudian disebut Sushi Trio (Rp 32k++). Dan inilah yang saya pesan.

Beda topping untuk tiap jenis nigiri, maka beda juga dekorasinya pada restoran ini.

Nigiri sushi dengan topping kani (stik daging kepiting) yang saya makan di Kimukatsu, diolesi saus tartar.
Nigiri sushi dengan topping salmon.
Di Kimukatsu, nigiri salmon ini diolesi keju cheddar dan dihiasi telur tobiko.
Nigiri sushi dengan topping berupa tamago karya Kimukatsu.
Tamagonya diolesi mayonnaise yang spicy.

Maki Sushi

Maki sushi ini sebetulnya berupa sushi roll juga, cuman teknik melibatkan norinya yang berbeda. Tadi kan saya bilang, bahwa pada sushi roll itu nasi dilapisi nori, lalu ditumpuk dengan neta, baru digulung dan dipotong-potong.

Sedangkan pada maki sushi, nori dulu yang menjadi alas nasi, baru ditumpuk dengan nasi, kemudian ditumpuk lagi dengan neta.. Kemudian digulung (Kimukatsu menggulungnya membentuk silinder panjang, istilahnya di Jepang itu tawaragata), baru dipotong-potong. Jadi kalau disajikan, kita lihat norinya dulu seolah-olah sebagai bungkus sushi, bukan sebagai isian.

Nah, pada kunjungan saya ini, saya pesan Kani Tamago Floss Maki (Rp 23k++).

Kani Tamago Floss Maki di Kimukatsu.
Dari namanya bisa ditebak, bahwa isian sushi yang satu ini adalah kani (kepiting), tamago (telur), dan abon daging.

Salmon Sushi Roll

Sebetulnya salmon sushi ini saya pesen belakangan karena ternyata saya belom kenyang dengan menu-menu yang tadi. Salmon sushi roll ini dijual dengan nama Spicy Salmon Roll (Rp 39k++).

Spicy Salmon Roll di Kimukatsu, dengan isian sushi berupa stik kepiting, ketimun, dan tepung roti.

Cara bikinnya, nasi dilapisi nori, lalu ditumpuk neta dari stik kepiting, ketimun, dan remah-remah tepung roti. Kemudian digulung membentuk sushi balok lagi, baru dipotong-potong. Lalu diberi topping fillet salmon dan disirami mayonaise keoranyean yang spicy.

Ngulek Saos Sendiri

Salah satu sifat uniknya makan di tempat ini adalah, di tiap meja selalu ada saos tambahan. Saosnya nggak kayak restoran Jepang umumnya yang cuman sediain wasabi dan kecap ikan. Tetapi ada juga saos sambal, saos wijen, saos spicy mayonaise, dan saos wafu. Bahkan ada saos dashi dan disediain juga kacang wijen. Whoaaa..banyak!

Di meja disediain petunjuk dari akrilik gitu, tentang gimana cara bikin saos untuk celup-celupan katsu, dari kacang wijen dan kecap. Ternyata kudu pake ulekan. Nah, meskipun saya nggak pesen katsu, saya tetep minta ke stafnya buat bawain saya ulekan. Alhasil jadilah di meja makan itu, saya ngulek kacang wijen, lalu disiram sama kecap.

Baru hasil ulekan ini saya pakai buat cocol-cocolan sushi.

Saya lagi bikin saus di Kimukatsu.
Tangan kiri saya memegang mangkok yang sudah saya isi dengan kacang wijen, dan disiram dengan kecap (yang saya pegang dengan tangan kanan).
Kacang wijennya ada di toples kecil dekat kotak tisu itu.
Saus berwarna oranye di depan saya adalah mayonaise, bersebelahan dengan kecap asin.
Sementara sushi di depan saya sudah dihidangkan bersama saus wasabi, tapi akan saya cocol juga dengan saus-saus lainnya.

Rasanya Sushi di Kimukatsu

Kalau saya bilang sih ya, rasa asin dari isian sushi rolls yang saya pesen di sini ya netral-netral aja. Mungkin karena isiannya kecil-kecil, jadi ya nggak terlalu terasa meskipun saya pesan isian macem-macem.

Bahkan, nigiri sushinya juga masih cenderung netral. Tamago pada tamago nigiri-nya nggak terlalu asin, teksturnya lebih keras daripada omelet yang biasa saya masak di rumah, mungkin kayaknya telur di sini dicampur tepung ya? Salmon pada nigirinya sih masih kerasa tajam bau amis ikannya meskipun udah dilapisin keju, tapi saya tetep suka. Kepiting stik pada kani nigirinya juga masih terasa manis, meskipun agak sour dikit yang bisa jadi karena bantuan saos tartarnya.

Nori yang melapisi maki berasa manis mellow seperti rumput laut umumnya, meskipun masih terselip rasa agak asin sedikit.

Umumnya sushi di sini netral aja. Cuman saya suka banget sushi roll-nya, karena di dalam isiannya ada remah-remah tepung roti juga. Alhasil ngunyah sushinya jadi crunchy gitu. Seru!

Yang bikin istimewa dari restoran ini kayaknya memang saos-saosnya. Sushinya baru terasa lebih menarik buat saya ketika dicelup-celupin ke saosnya, entah itu ke saos wijen, saos mayonaise, saos wafu, atau bahkan saos katsu yang saya ulek.

Saos wijennya mirip saos wijennya Kewpie, saya rasa sih. Saos mayonaisenya mereka namain spicy mayonaise, tapi buat saya sih ya nggak pedes-pedes amat. Saos wafunya sih kayak kecap, cuman ada kecut-kecutnya dikit, tapi enak kok.

Saos-saos ini jadi fungsional banget buat bahan cocol-cocolan sushi-nya yang netral. Lebih lezat kalo saya membenamkan seluruh permukaan sushi dengan saos dulu, baru saya lahap sushi-nya.

Nigiri sushi di Kimukatsu ini lebih gede daripada mulut saya…

Yang perlu saya tandai, potongan sushi di Kimukatsu itu gede-gede. Lebih gede daripada sushi di depot sebelah. Ini lumayan signifikan lho. Soalnya biasanya di depot sebelah, saya cukup menjepit sepotong sushi dengan sumpit aja, dan potongan segitu muat di mulut saya. Dan rasanya sushi roll yang saya makan ini juga jenis futomaki yang memang biasanya, bukan yang mungil-mungil cuman terdiri dari satu neta.

Tapi potongan sushi roll-nya Kimukatsu ini terlalu besar buat mulut saya. Alhasil saya kudu menggigitnya separuh, baru deh muat. Padahal kalo cuman digigitin separuh, sisa potongan sushi-nya ambyar.. Ini baru ngomongin sushi roll lho, belum ngomongin nigiri. Nigirinya, waaah.. itu udah pasti kudu digigit separuh-separuh.

Komentar Anak Saya

Sayangnya anak saya masih belum terbiasa dengan sushi, karena anak saya lebih suka penampilan makanan yang crunchy-crunchy. Saya tawarin sushi roll dan maki, dia nggak mau.

Tapi dia antusias banget waktu saya pesenin karage (Rp 25k++). Di atas sofanya, anak saya ngabisin sepiring karaage sendirian, tanpa nasi, dan dia kenyang puas.

Selama di sini, kami minum ocha aja (Rp 12k++). Ocha hangatnya diseduh di gelas kayu, jadi berasa minum hangat kayak lagi di Jepang yang dingin. Oh ya, ocha di sini juga boleh diisi ulang dengan haratis lho. Tapi segelas ochanya nggak boleh bagi-bagi ya, cuman boleh diminum satu orang customer ya, wahai netijen Endonesa..

Balik Lagi ke Kimukatsu?

Lepas dari masalah nggak adanya wastafel di sini, dan sinyal HP yang empot-empotan buat dipake mesen makanan, saya tetep puas makan di Kimukatsu. Stafnya ngijinin saya pesen manual aja ketika saya pesen sushi tambahan, jadi pesenan saya tetap lancar. Semua stafnya ramah, sangat membantu.

Saya mau balik lagi ke sini lho, soalnya saya belum ngincipin millefeuille katsu dan kue esgrimnya. Terus saya juga pengen ngerasain nasi mentainya juga, dan repotnya nih nasi mentai belum masuk GoFood. Bahkan anak saya mau balik juga ke sini, meskipun dia maunya makan karaage aja, wkwkwk..

Cabangnya Kimukatsu Surabaya nggak cuman ada di Tunjungan Plaza, tapi juga ada di Galaxy Mall. Juga bisa kaleyan jangkau di Jogja dan Semarang. Lebih banyak lagi cabangnya Kimukatsu di Tangerang dan Jakarta. Kita juga bisa nemu cabangnya Kimukatsu di Osaka, di Makati City, dan di Bangkok.

Nah, kamu sudah makan sushi Kimukatsu yang mana?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

58 comments

  1. Setuju Vic, ukuran sushi di kimukatsu terlalu besar untuk mulut wanita Indonesia :D. Ga bisa masuk semua, jd ambyar ujung2nya. Sementara kalo makan sushi, aku paling suka bisa masuk 1 suapan.

    Aku lapeeeeer loh baca iniii, dan jd kangen ke kimukatsu :D. Tapi memang kalo kesana tujuan utamaku udah pasti katsu daging2nya. Sushinya pernah sekali aja aku pesen. Enak, tapi g spesial kayak katsunya, dan Krn terlalu gede tadi.

    Biasanya kalo kangen masakan Jepang, aku punya tempat2 khusus untuk nyobain. Kalo sushi biasanya di sushi Hiro. Shabu biasanya di Shabu hachi. Katsu2 LBH banyak pilihan selain kimukatsu. Cm memang kebanyakan fav ku di mall semua. Dan aku msh blm datangin mall sejak pandemi hahahaha. Itulah makany kangen banget πŸ˜€

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Naah..bener kan, aku pun merasa ganjil waktu mangap besar-besar ketika makan sushi ini. Aku ngerasa kayak kuda nil!

      Pesen per GoFood aja, Fan. Kalo nunggu pandemi selesai buat ke Kimukatsu, gak akan jadi-jadi :))

      Aku aja mau balik lagi ke sini. Tapi mau makan katsunya juga.

  2. Nchie Hanie says:

    Hahhaaa.. aku se tim sama anakmu donk , Tim Karaage, yeaay
    Sini duduknya mlipiir deket ate, eeaa..

    Akutu suka lihatnya ajaa,penampilannya Sushi, cantik2, enak buat di poto.
    Giliran dimakan blom bersahabat dengan lidahku, atulaah. Ku masih cinta sama lemper hhaa.

    Tapi Kimukatsu ini menarik banget, itu yang ngulek sendiri sambalnya, plus ulekan imuut lucuuu..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Teh, memang aku makan sushi tuh buat menghargai prakarya shokinen-nya. Sambil mikir, oh kokinya ini ngegulung sushi-nya begini, terus nata lauknya begini. Jadi berasa lagi makan kerajinan tangan :))

      Kalo rasa, yaah plain aja. Harus berterima kasih kepada saus-saus itu. Memang sushi terbaik adalah.. lemper. :))

  3. AKu belum pernah makan di Kimukatsu, pernahnya di depot sebelah hihihih πŸ™‚ Anak2ku doyan sushi, yang mentah maupun matang. Tapi entah kenapa aku memang ga begitu antusias makan sushi ya, jadi cuma nemenin aja wkwkwk. Oh gitu, potongannya gede2? BOleh lah kapan2 ajak anak2ku ke sini. Ngeliat bumbunya sih yummy gitu ya dan banyak.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Serius, Teh, potongannya gede-gede. Beberapa hari sesudah aku menulis artikel ini, aku makan sushi lagi tapi di warung sebelah. Sushi yang kumakan di warung sebelah ini potongannya lebih kecil, lebih muat di mulutku, serius. Memang Kimukatsu ini sushinya badag-badag gitu deh..

  4. Yoexplore says:

    wah jadi pingin nyobain deh ngulek saus sendiri. Sebuah konsep yang menarik. Fotonya juga bikin ngiler banget. Kalau kakak berminat membagikan informasi menganai kuliner di website kami, jangan lupa untuk mengunjungi website kami

    kami sangat senang bisa menerima artikel dari kakak. Kami tunggu kabar baiknya ya, kak!

  5. Echaimutenan says:

    aku malah kalau makan sushi ndak pernah pakai sausnya. rasanya lebih seger dan nikmat kalau ndak pakai malah menurutkuu. cuma kalau pengen dikit tak pakai saus dikit kasih wijen dikit, cuma kalau ga pakai itu kerasa sushinya enaaak. doh buka malem-malem laaapeer

  6. atiqoh says:

    duuuh ngefotonya pas banget mbak, bikin menggodaku πŸ™‚ belum tau nih sushi kimukatsu, boleh jg buat dicoba πŸ™‚

  7. renov says:

    Khasnya Sushi di Indonesia itu ada mayonaisse nya ya.

    Saya sendiri penyuka sushi dan onigiri, biasanya kalau di DΓΌsseldorf, saya beli di toko makanan Asia Jepang Korea atau dine in di Resto Eat Tokyo yang khas Jepang banget.

    Lain kali kalau ke Surabaya, pengen deh nyobain ke Kimukatsu juga.

  8. Fenni Bungsu says:

    Baca wishlist menu yang diinginkan kak Vicky, jadi langsung terbayang kalau saya nanti ke Kimukatsu milih yang mana ya haha, soalnya pengen nyoba juga, secara gitu belum pernah #terlalujujur

  9. ghina says:

    Di jogja ada nih mbak vick? Coba cari ah, pas banget weekend begini nyicip makanan sushi begini. Tampilan sushinya kok unik2.. Tapi itu btw beneran ada ulekan ya mbak? Jadi seru yaa bisa bikin saus sendiri, bisa sesuaikan dgn selera..

  10. Okti Li says:

    Kalau potongan nya gede gede suami saya ga bakal bilang bakal kenyang gak cuma segitu? Hehehe
    Iya soalnya kalau di tempat lain kan kecil kecil… Sementara kalau blm kenyang, begimane? Kecuali nambah kan…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, saya ngerti. Di depot sebelah, saya harus pesan sekitar 3-4 porsi sushi supaya kenyang. Tapi di Kimukatsu sini, saya cukup pesan 1-2 porsi sushi aja sudah cukup kenyang πŸ™‚

  11. Edelyne says:

    Aku suka banget makan sushi , apalagi kalau bisa nyampur sendiri sausnya pastinya jadi lebih semangat makannya , cuma sayang banget di Bandung belum ada cabangnya yaa

  12. Raja Lubis says:

    Waktu ke Surabaya, mall pertama yang aku kunjungi Tunjungan Plaza. Sempat bingung sih, karena ada TP1, TP2, jadi akhirnya cuma kelilingan saja. Dan nggak jadi makan.

    Next, Sushi ini bisa jadi alternatif pilihan kalau ke Surabaya kembali.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Oh iya, Tunjungan Plaza itu memang besar πŸ™‚
      Kalau aku mau ke TP, aku sudah tahu mau ke toko mana, jadi nggak akan keliling-keliling seluruh TP untuk nyari-nyari toko πŸ™‚
      Aku jarang ke TO hanya demi sightseeing, soalnya mumet πŸ™‚

  13. Akarui Cha says:

    Woaaaa awalnya kukira di foto kelihatan sushi-nya Kimukatsu bisa sekali hap. Etaunya gueedeeeee.

    Asiknya bisa bikin sambal celup celupannya sendiri. Ada ulekannya segala.

  14. Renayku says:

    Duh jadi pengen makan di kimokatsu jg nih.. ternyata ada di Mall Kelapa Gading Jakut yg notabene deket dari rumahku haha.. makasi inspirasi makan2nya

  15. Visya says:

    Aku termasuk yang sangat amat jarang makan sushi. Seumur2 baru 1-2 Kali, hihi karena udah keburu kemakan streotipe bahwa sushi isinya daging mentah. Tapi terbantahkan ketika baca postingan ini. Kepengen yg daging kepiting.
    Brw salmonnya emang mentah ya Kak?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Salmonnya memang mentah, Vi.
      Tapi kalau Evi nggak suka neta yang mentah, Evi bisa pilih sushi yang neta-nya berupa tamago, alpukat, atau keju.
      Karena tamago ini berupa omelet, maka pasti dimasak matang sebelum diolah menjadi neta-nya sushi.
      Alpukat dan keju sudah pasti nggak akan dimasak lagi, tapi kan ya memang bukan mentah.

  16. aku suka banget makan sushi roll, tapi baru sekali ini lihat resto yg ada ulekannya mbak vic. anakku pasti seneng bisa ngulek2 pake ulekan yang kecil gitu. Wah ternyata di Jakarta juga ada ya sushi kimukatsu ini.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, ulekan ini memang jadi ciri khasnya Kimukatsu, karena ditujukan untuk mengolah saus.
      Sausnya sebenarnya untuk menu katsu, tapi aku mengolah saus ini sebagai cocolan sushi juga πŸ™‚

  17. Mbaaakk pliiisss, bikin ngileeerrr..
    Walau di Taiwan ada sushi, tapi rasanya ngga secantik maupun semeriah sushi di Indonesia.. Melihat ini jadi pengen loncat aja kesana hiks, padahal baru juga kemarin makan sushi..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Serius, Lisa? Aih..Padahal sushi kan rerata emang gitu, baik isian maupun toppingnya sama-sama cantik gitu..
      Mosok sih sushi Taiwan biasa aja? πŸ˜€

  18. Nggak ada di Bandung ya?
    Saya suka Japanese food karena cantik cantik

    Mereka juga gak pakai bumbu yang neko neko sehingga rasa alami protein (ikan, ayam, daging sapi) masih bisa dinikmati .
    ..
    Eniwei, saya bolak balik ke Surabaya, kok gak mampir Tunjungan ya? Next time ah, sekalian ke Kimukatsu

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kimukatsu belum ada di Bandung, Teh. Tapi di Jakarta sih banyak πŸ™‚

      Tunjungan Plaza sebetulnya sama aja dengan malls di Bandung. Yaa setipe sama Trans Studio Mall, cuman agak gedean dikit.. πŸ˜€

  19. Hani S. says:

    Semakin dibaca, semakin penasaran karena aku belum pernah makan sushi, masih takut gak doyan, padahal mah cobain aja dulu ya, wkwkwk. Sejauh ini cuma suamiku yg lidahnya bersahabat dengan Sushi. Btw, fotonya cakep dan review-nya detail, as always, lafff

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Makasih.. Ini aku nulisnya sengaja detailing, supaya aku bisa mengingat sushi-nya Kimukatsu ini sebagai produk sushi yang berbeda dari restoran-restoran Jepang lainnya.

      Sebab banyak restoran Jepang menyajikan sushi juga, tapi pengalaman makan yang disajikan juga berbeda πŸ™‚

  20. Aku suka liat foto-fotonya cakep banget, tapi sayang cuma anak-anak dan bapaknya aja yang suka makanan Jepang. Aku lebih ke jadi penonton aja liatin mereka makan dengan lahap.

    1. Experience ngulek sambel dan ukuran sushi kayaknya paling beda. Belum pernah aku makan sushi di Kimukatsu tapi kalau baca ini sih menarik, udah kebayang sensasi makan sushi.

      Terakhir aku makan sushi pesan online. Kangen juga situasi dine in kaya gini.

      1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

        Ya, aku juga kemari karena aku kepingin dine in lagi. Kimukatsu ini berada di mall yang sangat disiplin dengan penggunaan masker, makanya aku merasa aman makan di sini πŸ™‚

  21. Ina Tanaya says:

    Saya senang melihat bentuk makanan sushi. Sayangnya kurang bisa makan isinya. Varian sushi itu ternyata banyak sekali yach, baru tahu ada salmon sushi roll, Tiga Nigiri Sushi, Maki Sushi….

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, memang varian sushi itu macam-macam, disesuaikan dengan selera konsumennya. Tapi kalau makan sushi yang jenis maki atau jenis sushi roll, sebetulnya rasanya hampir-hampir sama aja meskipun isinya bisa berbeda-beda. Sebab isinya itu potongannya kecil-kecil, jadi saking kecilnya nggak akan kentara juga perbedaannya. Saya makan sushi roll atau maki itu kayak makan nasi biasa aja kok.

      Kecuali kalau sushi yang dimakan itu jenis nigiri, nah itu baru terasa banget lauknya πŸ™‚

  22. Yoha says:

    Aku suka banget tampilan sushinya. Imut banget. Pingin nyoba juga ke Kimukatsu juga

    Tapi, aku belum pernah denger di Bandarlampung. Ntar mau nyari deh..

      1. Ariefpokto says:

        Selama Pandemi ini ga pernah makan sushi. Jadi kepengen Kimukatsu Sushi yang variatif dan porsinya gede. Kalau dari rasa yg dideskripsikan kayaknya sih masih masuk ke lidah Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *