Sambil Makan, Kita Melawan Pemanasan Global

Pangan menjadi salah satu penyebab krisis iklim. Tapi pangan, juga merupakan solusi dari krisis iklim.”

Amanda Katili, manajer The Climate Reality Project Indonesia, 2021.

Kata-kata itu membuat saya menoleh ke layar laptop. Lha? Jadi lewat makanan, kita bisa bikin upaya penanggulangan perubahan iklim?

Selama ini, orang-orang selalu mikir, bahwa jalan keluar buat menyetop perubahan iklim, adalah menyeret para pembabat hutan ke meja hakim. Atau bisa juga, suruh orang-orang berhenti pamer mobil baru, supaya kita sama polusi asap nggak makin intim.

Tapi ternyata, bahwa makanan itu bisa memperlambat dampak perubahan iklim, itu jarang ada yang mengklaim. Sebetulnya bisa kok, asalkan memang makanannya sendiri ramah iklim..

Bukan, makanan yang ramah iklim itu bukan makanan yang disajikan pada segala macem musim, wkwkwk.. Apa kaleyan pikir makanan yang ramah iklim itu, kayak daun bawang yang ada terus di tiap musim?

Makanan yang ramah iklim, ternyata adalah makanan yang diperoleh tanpa sampai harus memperparah perubahan iklim.

Artinya, semenjak ditanam, sampai tiba waktunya dimakan, bahkan kalau pun sampai kudu dibuang, prosesnya nggak akan ganggu iklim.

Lha, memangnya ada gitu makanan yang sampai mengganggu iklim? Ooh..tentu saja ada. Gini nih ceritanya..

Makanan yang Tidak Ramah Iklim

Kita semua selalu diceritain hal yang sama sejak TK, tentang dari mana makanan kita berasal. Bahwa makanan kita sebetulnya ada dua macem, yaitu makanan hewani dan makanan nabati.

Kita sudah hafal bahwa umumnya makanan hewani berasal dari hewan peternakan. Hewan dipiara semenjak anakan, ketika gede pun disembelih, lalu dagingnya dijual di pasar, dibeli oleh ortu kita, lalu dimasak di rumah dan kita makan.

Sebetulnya yang namanya hewan ternak itu mengeluarkan gas metana yang cukup banyak. Terutama mamalia-mamalia macem sapi, kebo, domba, dan kambing. Gas metana dari peternakan mamalia memamah biak di seluruh dunia ini, ternyata numpuk di atmosfer.

sumber susu sapi
Salah satu penyebab penting perubahan iklim adalah sapi (dan kawan-kawannya)

Alhasil, atmosfer jadi pengap, sinar matahari pun terperangkap. Hawa atmosfer menjadi panas di seluruh buana, makanya ini yang disebut pemanasan global sedunia. Dan saya udah pernah cerita, bahwa sebagai akibat pemanasan global adalah perubahan iklim, yang mengakibatkan beragam bencana.

Memang sih, daging sapi itu sumber asam amino dan enzim. Tapi, berhubung sekarang makin beratnya dampak perubahan iklim (kayak banjir, pandemi, konflik sosial), maka orang makin santer mengkritik daging sapi sebagai makanan yang nggak ramah iklim, dan kudu dicari pemeran penggantinya.

Malam ini, saya dapet berita bahwa Bill Gates mulai menganjurkan orang mulai makan daging sapi sintetis. Ini solusi buat orang yang ngeyel bahwa daging sapi adalah sumber protein terbaik. Jadi prinsipnya sapi sintetis ini, dibikin daging-dagingan yang mengandung protein sapi, tapi bukan dari sapi sungguhan yang ngeluarin gas metana. Bahkan saya aja bingung nulis ini.

Konsep Climate Friendly Food

Minggu lalu saya nonton talk show di Zoom, tentang Memilih Makanan Ramah Iklim. Panitianya adalah Omar Niode Foundation, suatu yayasan yang sibuk bikin edukasi tentang perubahan iklim. Pembicaranya macem-macem, mulai dari ahli perubahan iklim sampai ahli kuliner, dengan suasana yang gayeng bin intim.

Masa depan manusia sebaiknya mengarah kepada makanan yang berbasis nabati.

Terzian Niode, sekretaris Omar Niode Foundation, 2021.

Meskipun nggak dijelasin gamblang, saya menduga bahwa kalau manusia bisa percaya pada makanan tumbuhan, manusia nggak harus lagi bergantung untuk menyembelih hewan ternak supaya bisa makan. Dengan begitu, nggak akan ada tuntutan untuk memperbanyak peternakan (apalagi peternakan sapi). Sehingga atmosfer nggak akan makin panas oleh metana dari hewan yang dibudidayakan. Akhirnya, laju perubahan iklim akan bisa mengalami perlambatan.

Pembicara lainnya di talk show itu, Amanda Katili, malah nambahin konsep tentang makanan yang ramah iklim ini.

Pilihan yang bisa dilakukan untuk menyikapi krisis iklim antara lain menjaga tradisi kuliner lokal dan mengurangi limbah pangan.”

Amanda Katili, 2021.

Teman-teman, kuliner lokal itu artinya makanan yang kalau mau diperoleh itu nggak perlu banyak-banyak transportasi. Sebab transportasi pasti akan pakai bahan bakar fosil, dan ujung dari bahan bakar fosil adalah perubahan iklim lagi.

Limbah pangan dituding sebagai penyebab perubahan iklim juga. Contohnya limbah pangan ini adalah sisa makanan yang nggak dihabisin dan berakhir di tempat pembuangan sampah dengan merana. Kalau ditumpuk-tumpuk, limbah pangan ternyata juga menghasilkan gas metana. Akhirnya, gas metana ini bisa numpuk di atmosfer dan memperparah pemanasan global pula.

Jadi sederhananya, artinya makanan yang ramah iklim, bisa diperoleh secara lokal tanpa jauh-jauh dikirim, lebih bagus jika asalnya nabati, dan kalau bisa meninggalkan limbah yang minim.

Climate Friendly Food di Indonesia

Menerapkan pola makan yang ramah iklim di Indonesia, sebetulnya bukan perkara susah. Pasalnya, menurut William Wongso, seorang ahli masak yang kebetulan juga hadir di talk show itu, nenek moyangnya Indonesia sudah semenjak jaman baheula selalu menerapkan pola makan berbasis nabati. Coba kita pikir ya, Indonesia itu punya jenis rempah-rempah yang buanyak banget. Dan ragam rempah-rempah yang setumpuk ini hasil dari lahannya Indonesia yang bervariasi dari barat sampai ke timur.


Salah satu pembicara lainnya di webinar ini yang kebetulan juga pakar teknologi pangan, Zahra Khan, sempat kasih tahu contoh penerapan climate friendly food di daerah asalnya, yaitu Gorontalo. Banyak sekali variasi makanan khas yang dihasilkan orang Gorontalo dan juga ramah iklim. Gimana nggak ramah iklim, lha sumbernya aja masih dari lahan tempat mereka bermukim.

Ambil contoh kayak binthe biluhuta misalnya, berupa jagung yang dibikin sop lalu dicampur dengan ikan laut. Terus banyak orang Gorontalo pelihara tanaman jantung pisang di halaman rumah mereka. Lalu ketika panen, jantung pisang itu mereka jadikan sayur.

Kelakuan pola makan orang Gorontalo yang ramah iklim juga dibuktikan dari kesukaan mereka makan ikan, dan kebanyakan ikan itu datengnya dari perairan Teluk Tomini dekat tempat mereka tinggal. Akibatnya, banyak banget makanan khas Gorontalo yang bertemakan ikan.

Salah satu climate friendly food a la Gorontalo, yaitu bilenthango.
Ikan ini diambil dari perairan Gorontalo (lokal),
digoreng dengan beralaskan daun pisang di dalam wajan, sehingga tidak menyerap terlalu banyak minyak.
Di Jakarta, bilenthango bisa disantap di restoran bernama Olamita.
Sumber foto ini: IG @olamitagorontalo

Dan masih banyak lagi contoh climate friendly food di Indonesia, yang sudah turun-temurun disantap oleh rakyat kita.

P.S: Di talk show ini juga diluncurkan buku terbitan Yayasan Omar Niode, berjudul Memilih Makanan Ramah Iklim, dengan bonus resep-resep masakan khas Gorontalo.

Seorang aktivis kebudayaan bernama Nicky Ria, bercerita tentang riset kebudayaan yang lagi dos-q garap. Diceritainnya kalo sekarang dos-q lagi meneliti budaya kuliner di Indonesia.

Dalam penelitiannya itu, terungkap bahwa materi perkulineran Indonesia ini sangat kaya, dan ragam bumbu asli Indonesia itu sama sekali nggak minim. Kalau kekayaan kuliner ini dipamerin ke masyarakat luar negeri, orang luar bisa takzim, dan pada berbondong-bondong kepingin salim.

(Maksudnya salim ini kepingin belajar lho ya, bukan kepingin foto sama Ferry Salim..)

Makanya, bumbu ini membuat semua rakyat Indonesia bisa mengembangkan kuliner lokalnya di daerah mereka masing-masing. Sehingga, semestinya tidak akan ada kesulitan, untuk bisa melakukan pola makan nabati yang ramah iklim.

Persoalan Climate Friendly Food di Indonesia

Sayangnya, talk show ini nggak punya cukup waktu untuk menjelaskan kenapa kadangkala Indonesia masih mengalami kekurangan bahan pangan tertentu, padahal bahan tersebut penting buat bikin pola makan ramah iklim. 

Contohnya nih, bulan lalu saya sempat baca berita, bahwa harga kacang kedelai sempat mundak gila-gilaan di pasaran Jatim. Dan itu membuat para pengrajin tahu tempe jadi ketar-ketir, karena nggak bisa memprediksi harga pasokan barang baku yang dikirim.

Kacang kedelai adalah makanan ramah lingkungan yang merupakan alternatif bagus sebagai sumber protein.
Kacang kedelai itu sama-sama bernutrisi seperti daging sapi, tapi lebih ramah iklim.
Memilih climate friendly food termasuk sikap peduli lingkungan.

Sawah di negara kita nggak menghasilkan cukup kedelai lokal buat seluruh rakyat, sehingga kita masih perlu ngimpor kedelai dari luar negeri. Repotnya, kalau impor ke Indonesia terhambat, karena negara sumber impornya sibuk ngejual kedelai ke negara lain, sehingga kedelai untuk kita jadi langka. Ketika kedelai langka padahal dibutuhkan banyak orang, maka harga jadi mahal sehingga sulit terbeli oleh rakyat. Ruwet kan?

Mengelola lahan untuk bikin sawah kacang kedelai pun nggak gampang juga. Supaya lahan bisa ditanami, syaratnya ya tanah lahannya harus sehat, dan ini repot kalau kebetulan tanahnya masih rusak lantaran kebanyakan kena pupuk non-organik dari hasil perkebunan sebelumnya. 

Tanah yang langka memaksa orang membuka lahan baru, supaya bisa dibikinin pertanian (istilahnya, food estate). Dan umumnya, untuk membuka lahan baru itu perlu deforestasi. Padahal deforestasi itu sendiri ujung-ujungnya merusak iklim. Kan ruwet, mosok demi nanam kedelai untuk makanan yang ramah iklim, terus kita bikin perubahan iklim lagi?

Memulai Pola Makan Ramah Iklim

Alhasil, mempopulerkan makanan yang ramah iklim, dan pola makan yang ramah iklim, baru berkisar di level pola pikir individu dulu. Kita baru bisa mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil.

Misalnya, mulai milih produk bahan pangan lokal ketimbang produk luar. Atau coba-coba nanem sayur di rumah sendiri, supaya penggunaan bahan bakar fosil untuk belanja sayur itu jadi minim. Juga belajar masak lauk nabati yang enak, supaya lidah paham, bahwa makan nikmat itu nggak melulu harus berupa makan daging sapi atau ham.

Sehari setelah nonton talk show ini, saya pergi ke jalan di Mulyosari, cari-cari bakul yang jual pecel semanggi. Pecel semanggi adalah kuliner khas Surabaya, yang dikomposisi dari tauge dan semanggi, disiram kuah kacang yang wangi. Dengan formasi bahan macam begini, pantes kan kalau pecel semanggi menjadi kuliner yang ramah iklim penuh gizi?

Sehabis makan pecel semanggi ini nggak perlu buang deterjen, sebab makan ini nggak butuh sendok dan piring. Serius!
Pecel semanggi dimakan di atas daun pisang.
Disendoknya pakai krupuk puli. Enak!

Tapi tentu saja tidak mudah. Saya kuciwa waktu nemu bakul pecel semanggi ini. Apa pasal? Soalnya, alas daun pisangnya kurang lebar, sehingga nggak cukup buat membungkus sayurnya yang kuantitasnya barbar.

Udah gitu, ketika dilipat dikit, daun pisangnya langsung sobek, sehingga penjualnya terpaksa melapisi alas daun pisangnya pakai kertas. Eiyaaaa..

Saya mau nanyain bakulnya, apakah dia kesulitan nemu daun pisang yang kokoh, lantaran akhir-akhir ini cuaca lagi ekstrim? Tapi ah, sudahlah..

Jadi, upaya penanggulangan perubahan iklim ternyata bisa juga lewat makanan. Nah, adakah kuliner lokal di daerahmu yang climate friendly alias ramah iklim, dan dijamin bikin saya jadi kabitaan? Kasih tau yaa di kolom komen, biar kita semua nambah pengetahuan.. 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. Kalau sayuran atau tanaman tertentu dibikin sedemikian rupa hingga dari tekstur dan rasa menyerupai daging kiranya bisa dibilang climate friendly food ndak ya mbak Vicky?
    Saya pas baca artikel ini, jadi teringat sering makan makanan vege di kampus. Dan memang ini jadi alternatif saya sekeluarga makan makanan halal. Karena di Taiwan makanan yang halal pun kalau ditelaah sebenarnya ngga halal karena ada komposisi makanannya misal seperti minyak goreng itu mengandung turunan minyak babi (menurut teman orang lokal hampir 90% restoran di Taiwan pakai minyak babi). Jadi kami pilih makanan vege yang sepenuhnya tidak mengandung bahan hewani..

  2. Salah satu temenku ada yg berubah jd seorang vegan sekarang ini. Dia sempet cerita Krn yg dia lakuin salah satu caranya utk membantu lingkungan dan perubahan iklim. Aku sempet bingung loh, apa hubunganny jd vegan Ama iklim. 😮

    Tapi wktu itu aku LG ga kepengen nanya panjang lebar Vic, jadi ngangguk2 sok ngerti aja.

    Dan skr, jadi pahaaaam, ternyata kayak sapi atopun hewan lain, ya Krn mengeluarkan zat metana td yaaa … I see.

    Lagian kalo dipikir, toh sbnrnya kecukupan protein itu bisa dari nabati yaa , ga harus hewani. Pelan2 pengen juga sih berubah utk LBH memperbanyak sayuran dan protein nabati di pola makan. Tapi kalo utk meniru temenku yg jd vegan aku blm mampu jujurnya :D.

  3. Ranger Kimi says:

    Aku jarang keluar dari kosan, Mbak Vicky. Jadi belum nemuin kuliner lokal yang climate friendly. Palingan aku kalau mau jajan ya dari gofud aja. Hehe.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ooh kuliner yang climate friendly nggak perlu dicari dengan keluar dari kosan, Kim. Kita bisa juga dapet kuliner gini pake GoFood, misalnya gado-gado 😀 Kan gado-gado juga jenis kuliner yang climate friendly, wkwkwkwk..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *