Drama Pesan Bubur Online

Beli makan online ternyata bisa jadi perkara ketika restorannya nggak bilang-bilang bahwa tempat itu sudah nggak jualan lagi.

Saya jadi susah sejak kemaren. Pasalnya, anak saya, Fidel, 6 tahun, tahu-tahu sakit perut.

Dia muntah dan nggak berselera makan. Disuapin nasi, muntah. Disuapin sayur, muntah juga.

Saya bangun tadi pagi dan memutuskan supaya pagi ini Fidel makan bubur aja dulu. Harusnya, karena muntahnya nggak parah-parah amat, kalau cuman bubur ya nggak bakalan dimuntahin.

Saya ambil HP saya, lalu buka aplikasi ojek online, terus saya cari tukang bubur terdekat yang ratingnya 4,5 ke atas. Ternyata ada di suatu tempat bernama Keputih, sekilo lah dari rumah saya. Saya pesen dong bubur 3 porsi.

Di aplikasi tertera, “Penjual lagi nyiapin makanan pesananmu. Kurir sedang berangkat ke sana.”

Saya santai-santai doang sambil ngecek e-mail. Tahu-tahu ada ping dari kurirnya, namanya sebut aja Burhan. Dan saya langsung nggak suka bunyinya.

“Kak, restorannya tutup,” kata kurirnya.

Lho? Saya bingung. Kok restorannya tutup seh? Apa jangan-jangan pagi-pagi gini tukang buburnya belum bukain restorannya ya?

Tahu-tahu saya lihat di layar aplikasi, “Kurir sedang berangkat ke sana.” Ternyata kurirnya ganti, bukan Burhan lagi. Namanya sekarang, sebut aja Usro.

Saya sangka Burhan tadi melihat warung buburnya masih tutupan, dan mungkin pemilik warungnya lagi masak di dalem, tapi lupa bukain gerbangnya. Moga-moga sekarang Usro ke sana menggantikan Burhan, dan Usro punya inisiatif untuk ketok-ketok pintu warungnya.

Eh eh, dua menit kemudian, tahu-tahu Usro nelfon. Beneran nelfon pakai nomer contact center-nya aplikasi.

“Selamat pagi, Ce,” kata Usro. Suaranya terdengar masih muda. “Mohon maaf. Ini saya di depan restoran buburnya. Ternyata restorannya sudah pindah, nggak jualan lagi di sini.”

Heeh..gimana sih nih aplikasi? Warung udah tutup kok masih dibilang lagi menyiapkan pesanan? Mana rating-nya 4,7 pula.

Saya bilang aja ke Usro, bahwa saya nggak bisa berbuat apa-apa karena bukan saya yang menyaksikan warung itu sudah ditutup. Usro yang seharusnya melapor kepada aplikasinya bahwa warung itu invalid.

Berikutnya, saya dapat pemberitahuan dari aplikasi bahwa pesanan saya dibatalkan oleh aplikasinya karena merchant-nya sudah tidak beroperasi.

Aaaah, menyebalkaan! Saya melirik jam. Sebentar lagi Fidel bangun dan saya tidak mau dia tidak punya makanan ketika dia bangun pagi.

Saya langsung scroll cepat cari warung bubur bernama Bubur Kang AA. Warung bubur ini berada sekitar 2 km dari rumah saya. Suami saya dari dulu senang makan di warung ini, tapi kami sudah lama tidak ke sana lagi sejak pandemi.

Tidak pakai ba-bi-bu, 3 porsi bubur ayam dari Warung Bubur Kang AA mendarat di rumah saya 30 menit kemudian. Memuaskan.

Sebetulnya saya kepingin nyobain semua pedagang bubur enak di sekitar rumah saya. Biar fair gitu, bukan taunya sama Kang AA melulu. Tapi memang nggak semua pedagang tahu caranya mengelola dagangan.

Mestinya ya, pedagang makanan online tuh kalau memang pindah lokasi, kordinat warungnya diganti. Jadi kurir online yang mau dateng ke TKP (Tempat Kejadian Penjualan) pun akan datang ke lokasi yang bener.

Sing repot, pedagangnya cuma pindah lokasi sekitar 100 meter, tapi lupa bikin papan pengumuman bahwa udah geser lokasi. Maka kurirnya menyangka warungnya udah tutup permanen.

Padahal warungnya udah punya rating 4,5 ke atas di aplikasi pesan makan online. Rating segitu itu gede lho karena menandakan reputasi. Beberapa aplikasi bahkan belain bikin filter seleksi khusus untuk konsumen berupa rating 4,5++ supaya nggak sampai kena risiko dapet merchant abal-abal.

Memang berdagang makan online di aplikasi itu ada ilmunya, gak sembarangan daftar, pasang kordinat, terus berharap konsumen dateng sendiri.

Mudah-mudahan tukang bubur di Keputih itu nemu konsumen baru yang loyal di tempat barunya, dan kalau sampai daftar aplikasi makan online lagi, bisa dapet rating tinggi lagi.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. Beberapa kali aku ngalamin begitu juga. Orderan udh diterima, driver udh dicari dan otw ke restoran. Kita kan mikirnya ya udh oke yaaa. Eh tau2 malah ditelp gitu. Sempet loh aku malah negative thinking ama abangnya. Ternyata memang merchannya yg nyebelin, tutup ATO pindah ga di-update.

    Dan sbnrnya kalo udh begiti, aku kasian Ama drivernya. JD batal dpt orderan. Udh buang bensin kesana…

    Tapi pernah juga yg nelpon aku lgs si owner merchant. Kayaknya babang driver kuatir aku ga percaya. Jadi si owner bilang kalo mereka udah tutup Krn sold out, cm lupa upadate. Aku ngomelnya karena kasian Ama si driver kan. Owner-nya lgs bilang, dia juga bakal minta maaf ke driver yg udah susah2 kesana. Tapi aku seneng sih Nemu owner yg begini, setidaknya bertanggung jawab juga dan mengakui dia salah.

  2. Mbak, itu di aplikasi Gra* bukan? Soalnya aku pernah beberapa kali pesan makanan di Grab, pas drivernya tiba di lokasi dibilang restonya masih tutup. Lalu owner restonya bilang soalnya kalau aplikasi Grab itu otomatis menyala untuk buka resto, walaupun restonya masih tutup. Akhirnya drivernya nunggu agak lama, kasihan sih. Pernah juga beberapa kali pesan makanan di aplikasi tersebut, drivernya nggak merespon sama sekali. Padahal makanannya sudah jadi. Akhirnya telpon contact center, pesanannya dibatalin. Kan rugi di resto yaa kalau kayak gitu. Rugi waktu di customer juga sih, emosi. Hehehe.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku merasa aplikasi Grab itu menuntut komitmen tinggi dengan merchant-nya. Kalau merchant-nya sudah pasang otomatis bahwa dia buka jam 6, ya harus buka sungguhan jam 6, bukannya malah tutup pager. Meskipun dapurnya sudah ngebul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *