Nggak Mau Ketipu Hoax Kesehatan? Begini Caranya..

Meskipun orang Indonesia cukup tajir untuk beli handphone dua biji, tapi ternyata handphone sebanyak ini nggak mencegah mereka dari terkecoh oleh hoax kesehatan. Jadi kali ini, saya mau bagi-bagi tips menghindari hoax kesehatan supaya nggak sampai gampang ketipu.

Hoax kesehatan itu ada dua macam. Hoax yang cuma buat lucu-lucuan, umumnya tidak menyusahkan banget, paling-paling cuma bikin ketawa aja. Tapi hoax yang menyusahkan, bikin orang tertipu sampai rugi material, bisa disebut disinformasi.

Nah, kita perlu bisa membedakan hoax dan disinformasi.

Beda Hoax dan Disinformasi

Disinformasi sudah pasti merupakan hoax. Tetapi, hoax belum tentu disinformasi.

Contoh kecil, saya pernah baca suatu informasi melalui WhatsApp, yang bunyinya begini, “Cek di sini, siapa tahu Anda salah satu dari yang beruntung menerima bantuan dari pusat BPJS Kesehatan. Klik link berikut untuk mendapatkannya.”

Lalu muncul sebuah link. Tentu saja kalau linknya dipencet, linknya bukan merujuk ke website-nya perusahaan asuransi BPJS Kesehatan itu.

Informasi ini sebetulnya tidak berniat jelek kepada sang penerima pesan, hanya link-nya itu merujuk ke suatu website berisi iklan. Pemilik website tersebut mengharapkan, kalau banyak yang mengklik link itu, maka website-nya akan ditonton orang. Inilah contohnya hoax yang bukan disinformasi.

Memang dia cuma kepingin websitenya ditonton saja kok, bukan mau menyusahkan orang yang dia kirimi SMS.

Tetapi beda lagi cirinya dengan hoax lain, yaitu disinformasi. Disinformasi merupakan hoax yang sudah berniat jelek.

Disinformasi adalah informasi yang didesain secara sengaja, dengan maksud untuk menjatuhkan nama baik sampai menciptakan teror. Motivasi di baliknya macam-macam, mulai dari upaya persaingan individu atau bisnis, sampai upaya menghancurkan kesatuan bangsa.

Contoh disinformasi yang pernah saya baca melalui Facebook, bunyinya begini, “BPJS Kesehatan kumpulkan debt collector untuk mengejar penunggak.”

Informasi ini nampaknya bertujuan mencitrakan PT BPJS Kesehatan sebagai perusahaan yang menyeramkan. Diharapkan dengan banyaknya orang yang membaca info ini, akan menjadi antipati kepada PT BPJS Kesehatan. Sengaja pakai debt collector, karena bukankah para debt collector sering tidak disukai oleh banyak orang di negara ini?

Tapi ini masih terlalu jauh. Jangankan bisa sampai membedakan mana hoax iseng dan mana disinformasi, orang biasa saja masih sulit membedakan mana hoax dan mana fakta. Bagaimana orang lugu tidak akan dibodohi kalau sampai membaca berita di Facebook berisi teaser tentang website berisi daftar penerima bantuan BPJS?

Nah, supaya kita bisa ngerti gimana tips menghindari hoax, kita perlu bisa mengenali fakta dulu yang bertebaran di internet.

Mengenali Fakta pada Internet

Ketika tiap orang nemu suatu link di sosial media yang mengarah ke website tertentu, orang sebaiknya membaca alamat website tersebut. Contohnya, yang dia dapatkan adalah alamat www [dot] bantuanbpjs.com/daftar-penerima-bantuan-bpjs.

Dalam hal ini yang perlu dikerjakan adalah:

  1. Cari halaman About Us.
  2. Cek kepemilikan domain dari website tersebut
  3. Memeriksa isi tulisan dengan kaidah jurnalistik
  4. Memeriksa isi tulisan dengan situs pemeriksa hoax
  5. Memeriksa kerasionalan foto dan video di dalam halaman artikel tersebut

Cari Halaman About Us

Begitu ia tiba di website bantuanbpjs.com, yang perlu dikerjakannya adalah mencari apakah website tersebut mencantumkan nama pengarangnya? Tiap website yang profesional (termasuk blog saya ini) selalu mencantumkan halaman About Us, Tentang Kami, About Me, Tentang Saya, dan semacamnya.

Sehingga, nama orang-orang pengarang website ini gampang dilacak. Orang yang berani memasang namanya sendiri di website miliknya, jelas tidak cukup berani untuk berbohong. Karena takut kredibilitasnya rusak.

Paling gampang memang kalau dapat infonya dari website organisasi kesehatan yang sudah dipercaya. Misalnya website organisasi World Health Organization (www.who.int), website Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (www.kemkes.go.id), atau Ikatan Dokter Indonesia (www.idionline.org).

Perlu hati-hati juga dengan website palsu yang mencatut nama-nama organisasi tersebut. Misalnya kemkes.net, atau idionline.com, dan lain sebagainya.

Cek Kepemilikan Domain

Kita perlu tahu bahwa di dunia ini ada website khusus yang fungsinya adalah mendaftar alamat-alamat website di seluruh dunia ini beserta nama pemilik domainnya.

Suatu website yang dikelola profesional (alias hanya menyajikan fakta, bukan menyajikan hoax) pasti tercantum di situs cek kepemilikan domain. Contoh situs cek kepemilikan domain ini dapat berupa whois.com dan domainbigdata.com.

Bahkan situs yang bergerak dalam bidang jurnalistik, biasanya terdaftar di situs pendaftaran khusus jurnalis bernama Dewan Pers. Alamat Dewan Pers ini berada di dewanpers.or.id/data/perusahaanpers.

Periksa Kesesuaian Tulisan dengan Kaidah Jurnalistik

Suatu info yang berniat menyajikan fakta, umumnya akan menulis sesuai kaidah jurnalistik. Caranya dengan memberitakan fakta 5W+1H (ada unsur what, who, when, where, why, dan how).

Contohnya seperti berita berikut berjudul Ingat, BPJS Kesehatan Tak Tanggung Biaya Perawatan Pasien Covid-19.

Kalau kita membaca isi beritanya, maka kita akan mendapatkan bahwa di info ini terdapat unsur-unsur:

What: Bahwa biaya perawatan pasien Covid-19 bukan menjadi tanggung jawab BPJS Kesehatan.

Who: Diinfokan Direktur Utama BPJS Kesehatan bernama Ghufron Mukti yang menyatakan what di atas.

Where: Perkataan itu diungkapkan oleh who di atas di dalam acara Diskusi Publik bertema Perlindungan Konsumen Pasien BPJS Kesehatan di Jakarta.

When: Perkataan itu diungkapkan pada tanggal 28 April 2021.

Why: Perkataan itu disampaikan karena menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, pembiayaan tidak lagi oleh BPJS Kesehatan, melainkan oleh Pemerintah Pusat.

How: Perkataan itu disampaikan dalam diskusi tersebut, bahwa BPJS Kesehatan hanya bantu verifikasi.

Mencocokkan dengan Situs Anti Hoax

Yap, kita perlu tahu juga bahwa ada situs anti hoax yang kerjanya adalah membedakan fakta dan hoax. Situs anti hoax ini menerbitkan verifikasi, apakah suatu info itu hoax atau fakta.

Contoh situs anti hoax adalah Tempo Cek Fakta (cekfakta.tempo.co). Di luar negeri banyak organisasi yang mirip, antara lain AFP Fact Check (factcheck.afp.com) dan Washington Post Fact Checker (https://www.washingtonpost.com/news/fact-checker/).

Periksa Kerasionalan Foto dan Video

Pada suatu informasi yang menyajikan fakta, umumnya disertai media sebagai ilustrasi tulisannya. Media ini bisa berupa foto, bisa juga berupa video.

Dan fotonya pasti foto yang valid juga, bukan foto hasil rekayasa. Foto yang rasional itu punya proporsi yang baik, gambarnya nggak di-shrunk atau di-stretched sembarangan. Juga nggak ada penambahan objek, misalnya yang aslinya fotonya hanya berisi 2 orang, lalu setelah dimuat pun isinya jadi 3 orang.

Di sinilah pentingnya bisa memahami apakah suatu foto itu editan atau bukan.

Jika media yang menyertai info ini berupa video, maka penting sekali untuk nonton videonya sampai habis. Dengan nonton video, kita bisa percaya apakah tulisan yang didukung video ini memang sungguhan atau cuma hoax.

Begitu kira-kira langkah sederhananya mengenali fakta pada internet. Saya sendiri kalau baru mendarat di sebuah website, yang pertama kali saya cari adalah apakah websitenya punya halaman Tentang Kami atau tidak. Kalau tidak ada, saya langsung autoskip!

Nah, sekarang gimana cara mengidentifikasi hoax? Tentu saja, tips menghindari hoax yang ampuh adalah mesti bisa mengenali disinformasi dulu.

Mengenali Disinformasi pada Internet

Sebetulnya gampang aja cara mengenali disinformasi ini. Website ini umumnya kepingin sekali dilihat orang. Dan untuk meyakinkan target pembacanya, mereka bahkan akan memasukkan gambar-gambar yang langsung nge-hook, kalau perlu direkayasa habis-habisan supaya nampak sensasional.

Begini ciri-cirinya:

Website Tidak Punya Halaman About Us

Website yang memuat disinformasi, memang dimaksudkan buat menyakiti orang lain. Tetapi pengarangnya nggak mau ketahuan, karena bisa-bisa dia dipidana. Makanya pengarangnya nggak mau pasang halaman About Us di websitenya.

Bahkan kalau pun dia pasang halaman itu, dia juga nggak akan mau pasang nama orangnya. Biar nggak dicari pulisi!

Website Tidak Tertera di Situs Cek Kepemilikan Domain

Website yang menulis berita bohong, umumnya tidak terdaftar di website whois.com atau pun domainbigdata.com.

Soalnya, syarat untuk bisa terdaftar di kedua website itu, harus mencantumkan nama orang pemilik websitenya dan sekaligus alamatnya yang bisa didatangi polisi.

Judul Clickbait

Website yang memuat disinformasi, kepingin sekali isinya dilihat orang lain. Makanya dia sengaja pasang judul clickbait, yaitu judul berisi kata-kata yang mampu mengusik emosi orang.

Salah satu disinformasi yang dulu pernah saya baca adalah Program Bantuan BPJS Kesehatan Diganti dengan Uang Tunai 200 Juta. Bagi 90% rakyat Indonesia, frase uang tunai 200 juta masih nampak menggiurkan, jadi wajar kalau orang-orang cerdik memanfaatkan frase ini sebagai judul konten untuk menarik klik.

Kenapa sih hoax-hoax ini sering banget berkaitan dengan urusan donasi? Ketahuan kalau sasarannya adalah orang-orang yang nirharta..

Foto Palsu yang Sensasional

Karena pada dasarnya disinformasi ini kepingin sekali membuat sensasi, maka dia mencantumkan foto-foto yang sensasional juga.

Tapi karena dia tidak bisa menciptakan kebenaran, maka jadilah dia mengambil foto yang pernah beredar di internet. Lalu foto palsu ini dicantumkannya bersama berita bohong yang ditulisnya, supaya seolah-olah sebagai ilustrator pendukung.

Salah satu foto yang pernah saya sukai adalah sebuah foto puluhan orang tergeletak di pinggir jalan di sebuah kota.

Sayangnya, saya tidak suka beritanya, karena beritanya menulis ada ratusan orang meninggal mendadak di sebuah kota di Cina, akibat azab, karena pemerintahnya suka menyiksa etnis Uyghur.

Padahal foto itu bukan diambil di Cina, melainkan di Frankfurt pada tahun 2014. Dan foto itu bukan tentang foto orang meninggal sungguhan, tetapi ratusan orang sedang berakting seolah meninggal akibat kamp konsentrasi Nazi. Fotonya dibikin untuk keperluan pameran seni.

Ya ampun, sudah isi infonya palsu, ternyata fotonya palsu pula. Terus, gimana caranya kita tahu cara mengidentifikasi hoax dari suatu foto, padahal kita nggak tahu itu foto asli tentang kontennya atau bukan?

Cek Keaslian Foto Online Menggunakan Smartphone

Untuk menjadikan ilustrasi dari suatu berita, penulis pasti perlu foto. Tapi kalau dia tidak punya foto yang terkait berita itu, dia bisa mengambil foto bikinan orang lain yang sudah ada di internet. Tinggal dia masukkan ke beritanya sendiri.

Pembaca sebaiknya lihai mengenali, apakah ini foto asli atau sudah pernah terbit sebelumnya di internet. Tips menghindari hoax berbentuk foto ini seharusnya gampang, karena cek keaslian foto online ini bisa dikerjakan dengan mengecek gambar di Google, atau pakai alat reverse image di website lain.

Cara Mengecek Gambar di Google

Cara mengidentifikasi hoax yang dikerjakan orang-orang tekno di sekitar saya, ialah memakai suatu alat bernama Google Reverse Image.

Tapi saya sendiri tidak pernah pakai alat ini karena kurang cocok dengan smartphone Android saya. Saat ini, cara mengidentifikasi hoax saya lebih sederhana, yaitu pakai aplikasi bernama Google Lens untuk mengecek gambar di Google. Google Lens ini tinggal di-install di Android doang.

Cara menggunakan Google Lens ini, begitu ketemu suatu gambar yang pingin kita cek keasliannya, screenshot dulu. Lalu, bagikan foto screenshot-annya ke Google Lens. Maka Google Lens akan menunjukkan macam-macam link artikel yang pernah menampilkan foto itu di Google.

Reverse Image Menggunakan Yandex

Yandex ini website search engine juga, mirip Google. Punya feature bernama Images yang bisa mengerjakan Reverse Image.

Caranya:

  1. Ketik dulu yandex.com/images pada browser.
  2. Anggap aja kita sudah punya sebuah foto di galeri smartphone kita. Yang ingin kita cari tahu, apakah foto ini sudah pernah beredar?
  3. Upload foto ini ke dalam kolom search di halaman yandex.com/images.
  4. Maka akan muncul halaman-halaman yang pernah memuat foto ini.

Saya pernah iseng mengupload foto diri saya yang menggambarkan diri saya 12 tahun yang lalu, ke Yandex Images. Dan langsung nongol halaman-halaman yang memuat foto saya itu, itu halaman-halaman lama yang pernah memuat diri saya, terbitan sekitar 10 tahun lalu. Whoaaa..

Reverse Image Menggunakan TinEye dan Bing

Beberapa teman saya menggunakan website lain untuk memeriksa foto ini, antara lain TinEye (tineye.com) dan Bing (bing.com). Lumayan berfungsi bagi teman-teman saya itu, tapi saya sendiri kurang puas ketika mengerjakannya. Hasilnya tidak selengkap kalau mencari menggunakan Yandex atau Google Lens.

Selain itu, TinEye dan Bing masih kesusahan mendeteksi duplikasi foto dari Instagram. Padahal deteksi penjiplakan foto di Instagram itu perlu, sebab kita tahu sendiri banyak foto dijiplak, lalu dijadikan konten di Instagram hanya demi mendulang followers.

Nah, selain bisa mengenali foto yang dipalsukan, tips menghindari hoax yang lebih penting lainnya adalah mengetahui sumber video.

Cara Mengetahui Sumber Video

Sebetulnya membuat video palsu untuk kepentingan disinformasi itu lebih susah daripada membuat foto palsu. Soalnya bikin sandiwara palsu yang pakai aktor itu jelas tidak gampang, hahaha..

Maka solusi yang umumnya dikerjakan para pembuat hoax adalah menyatukan beberapa foto menjadi sebuah slide presentasi. Lalu presentasi ini akan direkam dalam format mp4, maka jadilah video.

Video hoax tentang Covid misalnya, seringkali dibikin dengan menyatukan foto-foto orang meninggal atau sakit yang diperoleh dari internet. Kemudian foto-foto ini ditambahi narasi yang moga-moga menakutkan.

Bisa aja sih sebagai cara mengidentifikasi hoax video ini, dengan screenshot foto-foto dari video ini untuk memeriksanya pakai Google Lens atau Yandex. Tapi selanjutnya pasti kita akan butuh banyak sekali koyo cabe di punggung kita..

Untungnya, saya punya alat mainan yang cukup menyenangkan untuk mengecek video ini, yaitu InVid Verification Plugin. InVid Verification Plugin ini sebetulnya ialah suatu extension yang tinggal diinstalasi di browser Chrome laptop kita.

Jika extension-nya dibuka, dia akan menampilkan halaman berisi beberapa menu, salah satunya adalah menu Keyframes. Keyframes ini berisi kolom kosong untuk upload file video yang kita ingin periksa keasliannya.

Setelah videonya di-upload, akan nongol fragmen-fragmen dari video itu. Jika masing-masing fragmen ini bisa diklik, lalu akan keluar hasil reverse-nya.

Hasil reverse akan menunjukkan foto-foto yang pernah beredar di internet, yang objek fotonya mirip dengan objek di fragmen tersebut.

Pernah iseng saya coba extension ini untuk mengetes sebuah video hoax tentang demonstrasi berbau agama di Mesir, yang kata headline-nya sih berakhir dengan kerusuhan. Setelah saya periksa menggunakan Keyframes-nya InVid Verification Plugin, ternyata ketemu bahwa itu foto aksi teatrikal di Inggris yang dikerjakan untuk memperingati Perang Teluk.

Nah, gimana? Ternyata tips menghindari hoax ini gampang ya, asalkan kita mau berusaha sedikit.

Sayangnya verifikasi hoax (dan menghilangkannya) masih baru bisa dikerjakan di kawasan Facebook, Twitter, atau YouTube. Dan mungkin di Instagram. Padahal, hoax di Indonesia itu paling banyak beredar di area WhatsApp, karena WhatsApp-lah sosmed yang paling banyak dipakai di Indonesia.

Dan buat saya sih, tips menghindari hoax di WhatsApp itu sederhana. Begitu ada anggota WAG yang share hoax, langsung tegor atau blokir. Kalau adminnya meneng-meneng bae, berarti itu kesalahan saya karena berada di WAG yang salah..

Apakah kerabatmu suka kesulitan menghindari hoax kesehatan dan malah nggak sengaja jadi agen penyebar hoax? Coba deh bagikan artikel ini kepada mereka 🙂

Gimana tips menghindari hoax kesehatan ala kalian sendiri? Share yuk di kolom komentar. 🙂 Kalau mau baca artikel-artikel lain yang baru diterbitin di blog saya, silakan follow Instagram saya @vickylaurentina untuk dapat info blog saya di sana 🙂

44 comments

  1. nchie hanie says:

    Makin maraknya berita hoax dimana-mana yaa, kadang yang paham aja (sebut aja Blogger) masih ada juga yg main share tanpa ngecek kebenerannya apa ga. Apalagi soal hoax kesehatan ini di WAG2 aduhaai, ceritanya pengen terupdate, tapi kenyataannya hoax, kalo di WAG keluarga palig sering, tak tegur marah, yowes yang waras ngalah, hahhaa. Fix left grup!

    Makasih loh, pencerahannya semoga saja mereka yang sering menebarkan hoax diberikan kesadaran

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Asa hoyong ditakol kalo yang nyebarin hoaxnya itu sesama blogger juga, wkwkwkwk.. Pingin noyor, “Kamu ngaku blogger tapi nggak paham apa yang kamu sebarin?!”

      Ya sudahlah, sepertinya kita dengan para penyebar hoax ini memang nggak sefrekuensi..

  2. julia says:

    Terimakasih mba Vicky, saya jadi tambah tau cara cek keabsahan sebuah berita.

    memang susah mengedukasi warga +62 terkait hoax, apalagi disinformasi. wajar jika SDM yg tidak bertingkat tidak paham ngecek keaslian gambar, cek domain dll.
    Lah ini udah jenjang strata sekian masih juga asal ngeshare link info yang sesat jyaaan.

    saya pribadi begitu mendapati berita tidak benar langsung woro woro ini hoax, mohon berhenti menyebarkan.

  3. ainun says:

    yang agak sebel ketika terima sms yang menginfokan dapet hadiah undian dan tertera alamat webnya menggunakan domain gratisan. kadang gemes sendiri, si pengirim sms berpikir semua orang yang dia kirimi sms random adalah “bukan orang pinter” yang mungkin sekian persen-nya akan nyantol

    pernah aku coba cek webnya, nulis aja typo dimana-mana, web perusahaan BUMN tapi bahasanya nggak aturan dan disingkat, mana ada perusahaan bonafide yang nulis di web pakai singkatan 😀

  4. Sejak tahu cara cek fakta ini kalau ada yang sebar hoax di WAG aku suka langsung kasih tahu kalau itu hoax. Kasih link cek faktanya dan kasih link artikel cara cek faktanya hehe

  5. Liswanti says:

    Paling sering dapat berita HOAX tuh di WA keluarga, apalagi di awal pandemi, suka BT banget. Pas dibilang HOAX pada ga terima. Padahal sesuaikan dengan fakta dan informasi yang benar

  6. Marantina says:

    Bersyukur WAG yang aku ikutin, ga ada yang suka nyebar hoax. Yang aku gak habis pikir tuh kenapa ya ada “profesi” pembuat dan penyebar hoax. Misalnya yang bikin berita bohong bahwa covid adalah hoax. Untungnya apa coba bikin berita bohong seperti itu. Merugikan banyak sekali orang

  7. Marantina says:

    Bersyukur banget di antara banyaknya WAG yang aku ikutin sejauh ini ga ada yang suka nyebar hoax. Grup keluargaku juga adem-adem aja, tiap sebar informasi, sumbernya jelas. Yang aku masih ga habis pikir, kok bisa ya ada orang yang jadi sumber hoax alias sengaja membuat dan menyebarkan hoax. Seperti yang bikin berita bohong bahwa covid itu covid, untungnya apa coba

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ada, Mbak Tina. Profesi hoax ini dipakai untuk menciptakan konflik horizontal di masyarakat. Konflik akan mengancam ketahanan negara. Negara yang ketahanannya lemah akan gampang dimanipulasi oleh negara lain. Contoh yang sudah terjadi nih di Irak, dan di beberapa negara di Afrika.

      Hoax tentang Covid juga sebetulnya hanya hoax kecil untuk memancing riak di masyarakat. Ada agenda yang lebih besar di balik hoax ini, yaitu membuat masyarakat tidak mau divaksin, dan genosida yang tidak kelihatan. Yang diharapkan, kalau pada suatu negara itu banyak populasi yang meninggal, maka investor tidak mau berinvestasi di sana, sehingga perekonomian menjadi mundur dan negara ini terpaksa bergantung kepada negara lain.

  8. Dian says:

    ah iya, sebel banget banyak berita hoaks yang beredar di masyarakat ya mbak
    paling banyak itu di grup WA
    makanya sangat penting bagi kita untuk bisa tahu cara cara mengenali mana yang fakta mana yang hoaks

  9. Masa krisis dan kritis seperti pandemi atau demam politik bisa jadi masa hoax menyebar dengan cepat. Info lewat sosmed apalagi, saya pribadi pernah termakan isu hoax. Iya iya aja dan sepaham karena sesuai dengan kondisi pribadi, tapi ternyata eh hoax. Baru tahu aku bisa cek berita hoax ini, yang termudah mungkin cek di situs ya buatku

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Bias pribadi memang bisa membuat orang termakan hoax, jadi perlu sekali menambah pengetahuan diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih objektif. 🙂

  10. Dan mayoritas penyebar hoax di WAG adalah orang yang usia nya sudah tua, dan mereka gak mempan ditegor, di nasehatin..kalo kita nasehatin malah marah dianggap kita gak sopan negur orangtua…jd gimana yaaah mbaak kl udh di situasi begini, aku akhirnya keluar deh dr WAG

  11. Meriiy_fitriie says:

    Iyaa bner sekali, saya sangat tertarik denga tulisan mbak, sekarang kitaa harus lebih jeli lagi membedakan berita hoax , sungguh sangat bahaya jika smpai kita percaya berita yg di viralkan dan ternyata itu disinformasi maupun hoax..
    Jadi sebaiknya kita mulai self reminder sih jgn langsung percaya dengan berita yg kita baca atau terima..

  12. Visya says:

    Wah aku baru tahu soal reverse image ini.. btw caraku menghindari termakan hoax atau disinfo adalah selalu cari info validnya jika ada CP nya. Atau langsung aja meluncur ke akun official no ya

  13. Ning! says:

    Sebenarnya masyarakat kita tuh kurang literasi Mba. Jadi gampang banget termakan hoax. Nggak mau susah-susah cari informasi lebih lanjut. Bahkan nih, ada banget orang yang cuma baca headline berita tanpa baca isinya, tapi udah koar-koar seakan paling tau. Hiks… Miris sekaligus sedih.

  14. intinya harus berpikir kritis ya Mbak Vicky?

    karena ternyata banyak orang membuat hoaks tanpa mengindahkan akibatnya

    sementara Islam mengajarkan umatnya untuk berpikir kritis, gak asal manggut2

    karena alat pendeteksi hoaks tersedia, tinggal mau atau tidak kita menggunakannya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Wkwkwwkkw.. sikap kritis kadangkala terkalahkan dengan sikap mengkultuskan seseorang. Sehingga kalau orang itu menyebarkan hoaks pun, tetap saja dipercaya :))

  15. Raja Lubis says:

    Hoax atau disinformasi ini juga terjadi karena keinginan yang tinggi untuk menjadi yang pertama menyebarkan sesuatu. Apalagi di media sosial dengan mudahnya ada tombol share, retweet misalnya. Saya sendiri termasuk yang paling malas ikut-ikutan menanggapi berita-berita viral jika belum jelas mengenai kebenarannya, sekalipun itu dari media kredibel.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Betul. Ada semacam kebutuhan pada orang-orang tertentu berupa kebutuhan untuk mencari perhatian dengan menjadi orang yang pertama mengumumkan sesuatu.

      Mungkin bagi dia itu suatu prestasi. Tapi sayangnya, yang diumumkannya itu disinformasi. Repot deh.

  16. Adhe says:

    Dengan adanya artikel ini semoga membuat semua orang jadi semakin sadar dan pandai dalam mimilah berita, sehingga bisa terhindar dari hoax yang penyebarannya sangat massive. Terima kasih Mba Vicky sudah membagikan informasi bermanfaat ini 😉

  17. Ina Tanaya says:

    Hindari hoax sebenarnya gampang (seperti dalam statement), hanya memang usahanya yang tidak ada. Literasi digital juga kurang, hanya sebagai pengguna, tanpa merasionalisasi apa isi konten.

  18. Rahma Ahmad says:

    Soal hoax ini bikin emosi emang. Kalau cek grup WA nyokap, ya ampun tiap hari ada aja hoax. Jadilah aku kayak polisi yang ngasih kalau itu informasi hoax.

    Orangtua emang wajar sih kemakan hoax karena mereka ga tau gmn cara cek kebenarannya, nah kita nih yg muda punya tugas buat cegah hoax merajalela. Apalagi kalau udah tau caranya kayak ditulis di sini.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Alhamdulillah kalau orang tua mau menurut dikasih tahu bahwa ini hoax. Beberapa orang tua sudah menunjukkan harfiahnya sebagai “tua”, tidak mau diberi tahu bahwa hoax itu bohong, dan tetap saja dipercaya dan disebarkan.

  19. Selama ini aku pake Google lens, jadi tahu banyak alatblainbyg bisa dipakai untuk mengecek suatu foto. Tx Vic.

    Beberapa hari lalu aku akhirnya kluar lagi dari grub keluarga. Kayaknya udah ga mempan segala macam nasihat, padahal adekku yg juga dokter udah berkali2 jelasin ttg hoax pandemi ini. Tetep aja berulang trus mereka masih nyebarin hoax. Ya sudah, aku lebih milih keluar … Kadang eneg juga kalo berhadapan Ama orang yang memang ga kepengin berubah. ATO mungkin hatinya udah telanjur sakit hati dan benci, jadi segala kebenaran juga ga akan didenger. Ya aku lebih milih menjauh dari grub begini sih..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kalo yang nyebarin hoax ini lansia, yah aku pun menyerah. 😀 Golongan ini memang sel saraf otaknya sudah sulit membedakan hoax dan fakta.

      Tapi kalo yang nyebarin hoax adalah usia lebih muda, yang logikanya masih bisa dipakai untuk berpikir, memang sebaiknya kita keluar aja dari grup. Notifikasinya itu lho buang-buang kuota aja.

  20. Iqbal says:

    Saya sepakat sekali dengan tulisan ini. Sungguh miris melihat berita hoax maupun disinformasi.

    Baru-baru ini saya melihat ada forward-an di group Whatsapp yang sepintas ada artikel bahasa Inggris dari Reuters, lalu ada narasi dalam bahasa Indonesia yang seolah menjelaskan makna artikel tersebut.

    Ternyata setelah saya baca artikel aslinya, isi artikel asli berbahasa Inggris dengan narasi yang dibuat dalam bahasa Indonesianya sungguh bertolak belakang.

    Saya percaya pesan Whatsapp tersebut didesain dengan target market orang yang tidak bisa berbahasa Inggris, atau bisa bahasa Inggris tapi malas baca artikel asli yang disertakan.

    Apa yang mbak tulis dalam tulisan ini sudah memadai untuk menguji kebenaran suatu informasi kesehatan, sayangnya tidak semua orang punya kemauan untuk mencari tahu kebenaran informasi yang mereka terima. Terlebih saat ini posisi Indonesia dalam hal peringkat literasi masih sangat jauh dari harapan.

    Anyway, tulisan ini layak untuk diketahui banyak orang!

    1. Ulfah Aulia says:

      Di sosmed manapun sering muncul berita hoax dan disinformasi ya mba. Sekarang mesti memperhatikan berita tsb benar-benar valid dibuktikan dari website yang terpercaya. Senang bisa membaca artikel ini, jadi lebih mengerti bagaimana menyikapi setiap berita yang banyak beredar

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Itulah sebabnya kenapa penting buat memberantas disinformasi, karena disinformasi itu memang ada target marketnya, jadi disinformasi itu memang kesalahan informasi yang disengaja.

      Dan repot sekali kalau target market ini sampai kena disinformasi tersebut.

      Memiliki mental kritis untuk mengecek kebenaran itu perlu sekali.

Tinggalkan komentar