Menyelamatkan Ayam Geprek dari Tuduhan Bikin Penyakit

“Tiati lho, Vic! Bahaya lho makan ayam geprek tuh, nantik ususmu rusak!”

Begitulah kata temen-temen saya tiap kali saya cerita sambil lalu bahwa saya habis jajan ayam geprek.

Saya sering sebel tuh kalo sok dinasehatin gitu. Itu yang ngomong pada nggak pernah ngincipin ayam geprek ya? Padahal kan enak!

Terus, saya debat langsung dong, kenapa kok mereka nge-judge bahwa ayam geprek itu bikin usus rusak.


Khasnya ayam geprek itu adalah penyajian ayam geprek yang selalu dilumurin sambel yang super banyak.
Sehingga dikuatirkan bahwa sambel yang masif nanti bisa bikin usus jadi bolong, alhasil jadi bocor.

Saya garuk-garuk kepala. Sepertinya ada salah kaprah yang menghubungkan sambel dengan perforasi usus a.k usus jadi bocor. Benarkah sambelnya si ayam harus jadi tersangka untuk itu?

Ayam Geprek, Tersangka Tagihan Rumah Sakit

Masakan kesukaan saya ini, semakin trending dalam 4 tahun terakhir karena warungnya yang berserakan di mana-mana di banyak kota. Ada yang jual di warung kaki lima, ada juga yang jual di restoran bintang lima. Yaa sama-sama lima lah.

Saya pernah baca survei bahwa dari 5 macem makanan yang di-order melalui pesen makanan online di siang dan malem hari, ternyata salah satunya adalah ayam geprek.

Tapi, masakan ini juga sering dipersalahkan orang-orang karena bikin orang terpaksa diopname lantaran mencret. Sebagian dari mereka yang terpaksa diopname ternyata kena tipes. Ketika mereka tanya sama dokternya dari mana asal tipesnya, dokternya cuman jawab, “Oh coba berhenti makan sembarangan di warung-warung..” Lalu karena makanan yang sering mereka pesen di warung itu antara lain ialah ayam geprek, maka mereka pikir “penyebab tipes itu adalah ayam geprek”..

Benarkah Bahaya Makan Ayam Geprek adalah Mencret?

Saya jadi kepingin cerita dulu tentang proses pembuatan ayam geprek ini ya.

Jadi, menu ini biasanya dibikin dari potongan ayam yang dibumbuin bawang putih dan merica. Lalu ayam ini dicampur telur kocok plus tepung maizena. Terus ayamnya digoreng sampai crunchy.

Kemudian, ayam ditaruh di atas ulekan yang sudah berlumuran sambel, lalu digeprek sampai penyok. Terus siap dimakan deh bareng nasi (dan biasanya di-garnish dengan irisan ketimun).

Saya sendiri jajan ayam geprek 1-2 kali sebulan untuk senang-senang, dan seringnya saya pesennya ya dari warung-warung. Milih warungnya pun sesuka saya, biasanya saya cari yang harganya paling murah aja.

Saya sendiri jajan ayam geprek 1-2 kali sebulan untuk senang-senang, dan seringnya saya pesennya ya dari warung-warung.
Milih warungnya pun sesuka saya, biasanya saya cari yang harganya paling murah aja.

Nah, masalahnya adalah nggak semua penjual ayam geprek yang bejibun itu ngerti sanitasi, termasuk nggak semua vendornya tahu bagaimana memasak dengan bersih. 

Coba bayangin, sebelum ayamnya dibumbuin, apakah mereka sudah mencuci ayamnya dengan betul-betul bersih? Apakah menggoreng ayamnya sudah sampai mateng? Dan sambelnya itu lho, ya ampun, apakah cabe yang dipakai itu udah dicuci bersih dan udah digoreng sampai mateng sebelum digeprek bareng si ayam?

Dan ketika menyajikan kepada konsumennya, apakah mereka udah cuci tangan? Ataukah tangan yang menyajikan itu adalah tangan yang bekas nerima duit penjualan dan kasih duit kembalian?

Sebab di dalam daging ayam dan mentimun yang belum dicuci bersih itu bisa jadi masih ada kumannya. Di tangan yang bekas megang-megang apapun itu bisa jadi juga masih ada kumannya. Dan kuman itu, kalau sampai pindah ke pelanggan melalui media berupa ayam geprek, bisa membuat pemakannya jadi sakit perut, termasuk mencret.

Tifoid, Penyakit Menular Melalui Makanan

Sebagian besar orang masih menganggap mencret sebagai persoalan sepele. Saya pernah iseng menggelar survey di Instastory saya tentang apa yang kudu dikerjain kalau sampai kena diare, dan ternyata banyak banget yang menjawab “minum kelapa muda”. Wedewwww.. Padahal gak semua persoalan diare bisa selesai dengan minum degan.

Ada banyak hal dari makanan yang bisa bikin diare, tapi salah satu sebab yang cukup berbahaya adalah kuman Salmonella typhi alias kuman tifoid. Kuman ini, kalau sampai masuk ke usus kita, bisa bikin sakit perut yang luar biasa, kadang sembelit, lama-lama jadi diare.

Nah, kebetulan minggu lalu saya nonton siaran webinar oleh akun Instagram @kenapaharusvaksin yang judulnya adalah #SantapAman. Salah satu pembicaranya adalah dokter internis, yang bicara tentang bagaimana S. typhi masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang nggak bersih. Begitu kuman ini masuk dan manusia ini nggak punya ketahanan tubuh yang cukup, maka timbullah penyakit tifoid pada manusia tersebut.

Ini adalah screenshot dari acara webinar berjudul #SantapAman yang saya ikutin minggu lalu.
Temanya adalah bahaya penyakit tifoid yang menular melalui makanan.
Saya ada di barisan penonton, baris kedua, ketiga dari kiri.

Tifoid ini bukan penyakit sepele ya. Kalau penyakit ini telat diketahuinnya, maka bisa terjadi komplikasi demam tifoid.

Komplikasi Demam Tifoid Apa Ya?

Drama panjang dari tifoid adalah kerusakan serius pada usus, yaitu usus yang bocor (bahasa ilmiahnya adalah perforasi intestinal, silakan googling sendiri ya), dan bisa juga pendarahan usus.

Saya harus nerjemahin ya, Kawan, bahwa kalau usus kita ini bocor, maka racun-racun dalam bentuk pup yang harusnya keluar melalui jalur semestinya, akan memenuhi rongga perut kita dan melukai bagian-bagian tubuh kita yang lain (misalnya ginjal, liver, saraf, dan lain sebagainya). Dan pada akhirnya kita bisa meninggal. 

Sedangkan kalau usus kita mengalami pendarahan, maka darah akan berkeliaran di dalam usus (padahal seharusnya darah itu ya berada di dalam pembuluh dan jantung, bukan di usus!) Akibatnya jantung kita kekurangan pasokan darah, sehingga kita bisa meninggal.

Dan bisakah kamu percaya bahwa segala kekacauan ini diawali dari mencret pada orang yang ngaku sering makan (di tempat) sembarangan?

Mencegah Penularan Penyakit Tifoid di Tempat Makan

Bwahahahaaaaa.. Ya gak bisa.

Menurut webinarnya @kenapaharusvaksin tadi, Indonesia adalah negara yang memang menjadi rumah bagi kuman Salmonella typhi. Dan itu bukan salah Indonesia juga, karena sebenarnya ini adalah konsekuensi, lantaran kita sendiri masih merupakan negara berkembang yang belum berhasil menjadikan sanitasi sebagai prioritas utama.

Dan ternyata negara kita ini bukan satu-satunya negara yang banyak penderita tifoidnya lho. Penderitanya jauh lebih banyak lagi di India, Bangladesh, dan Pakistan (coba beritahu saya kenapa?)

Negara yang hampir-hampir nggak pernah ketemu Salmonella typhi itu biasanya negara maju, misalnya Amerika Serikat, Inggris, atau Jerman. Karena memang sanitasi di sana dipuja-puji!

Oh ya, di sana juga ada penyakit sakit perut yang gejalanya mirip-mirip tifoid, yaitu tifus. Hanya saja tifus itu disebabkan oleh kuman lain bernama Rickettsia typhi. Tapi penyakit tifusnya juga jarang, karena kuman ini disebarkan oleh serangga lalat atau kutu tertentu, dan serangga ini hanya ada di daerah-daerah tertentu doang yang kondisi alamnya agak khusus.

Orang Indonesia sering kaprah, menyangka dirinya terkena kuman tifus, padahal sebetulnya dia terkena kuman tifoid.

Jadi catet ya, tifus itu bukan tifoid.

Pengalaman Saya dengan Tifoid

Tidak, saya tidak pernah kena tifoid, alhamdulillah. Tapi tentu saja saya pernah merawat pasien dengan tifoid. Sayangnya, saya (dan boss) nggak tahu kalau dia itu tifoid.

Kejadiannya belasan tahun yang lalu. Posisi saya masih sebagai mahasiswa asisten untuk dokter yang merawat pasien demam. Ada pasien diputuskan diopname karena lemes banget, letoy, dan ngakunya demam ilang-timbul hampir seminggu. Boss saya periksa ini-itu, dan dipikirnya itu leukemia sebab emang cocok dengan gejala orang leukemia.

Dan pasiennya ini nggak komunikatif (ya iyalah, kan sakit). Akibatnya kami nggak nyadar bahwa dia sedikit-sedikit sering minta ke toilet, padahal sembelit.

Tapi beberapa hari diopname, demam kadang ada, kadang nggak demam, malah sekarang jadi ada batuknya, dan hasil labnya nggak cocok sama ciri leukemia. Terus boss saya lapor ke bossnya (dokter ahli leukemia) dong, lalu bossnya itu jawab, “Coba periksain Widal.”

Tadinya kita sebagai tim kan bingung, ngapain coba disuruh periksa tes Widal yang untuk meriksa ada tidaknya kuman Salmonella typhi itu. Dan setelah hasil Widal-nya keluar, ternyata hiks.. beneran nih pasien ternyata ada Salmonella typhi-nya. Lalu kata bossnya Boss, “Tifoid itu nggak selalu demam tinggi. Bentuknya bisa macam-macam, kadang malah batuk-batuk aja kayak orang TBC..”

Oh ya, pasiennya terus jadi pneumonia. Soalnya kuman tifoidnya nyebar ke paru (iya, bisa lho.) Boss saya harus kasih antibiotik yang super kuat supaya pneumonianya nggak sampai bikin gagal napas.

Pneumonia adalah salah satu sebab kenapa pasien tifoid bisa sampai meninggal.

Sayangnya, karena waktu itu tahun 2000-an, kami belum bisa menjelaskan kepada keluarga pasiennya tentang kenapa pasiennya bisa sampai ketularan Salmonella typhi. Keluarganya ngaku bahwa pasiennya memang senang jajan sembarangan, tapi.. bukankah semua orang juga begitu?

Vaksin Tifoid Dulu, Makan Ayam Geprek Kemudian

Saya sendiri kalau lagi kulineran, masih pegang prinsip “nggak pa-pa kulineran di tempat mana aja”. Yang jelas, di mobil selalu ada hand sanitizer buat bersih-bersih sebelum makan yang aneh-aneh.

Saya percaya kok, penjual ayam geprek (dan penjual-penjual lainnya) pun nggak ada yang punya niat buat nularin Salmonella typhi.

Tapi menurut saya sih agak sulit mengharapkan setiap penjual makanan punya standar kebersihan yang sama. Karena kita bukan negara yang penjualnya setiap saat bisa disidak acak oleh dinas kesehatan untuk ngecek, “Cilukbaaa.. Hayoo.. Kalian para bakul geprekan sudah pada cuci tangan apa endak?”

Tapi ternyata ada tindakan yang bisa dikerjain lho oleh kita-kita yang seneng makan ini, yaitu vaksin tifoid. Yap, di webinar #SantapAman ini dikasih tahu, bahwa vaksin ini bisa mencegah komplikasi seandainya usus kita sampai kemasukan Salmonella typhi dari makanan. Biar kita kalau mau kulineran itu jadi tenang, gitu lho.

Cara memasukkan vaksin yang satu ini hampir mirip kayak vaksin-vaksin yang kita kenal, cukup disuntikin aja ke tubuh kita (biasanya melalui lengan). Menurut riset yang diberitahukan di webinar ini, vaksin ini bisa bikin tubuh kita tahan terhadap Salmonella typhi selama maksimum tiga tahun. Jadi, setelah tiga tahun, kita boleh minta suntiknya diulang lagi.

Oh ya, anak-anak juga udah boleh diberi vaksin tifoid lho semenjak umur 2 tahun. Dan vaksinnya sekarang sudah umum dijual di klinik-klinik vaksin. Kamu tinggal nyari lho yang deket rumahmu.

Wah, coba kalau vaksin tifoid ini udah ada dari dulu-dulu, tentu nggak ada lagi alesan menuduh-nuduh ayam geprek, sambel, dan tindakan jajan lainnya sebagai penyebab kena tifoid. Saya ngomong gini bukan sebagai pleidoi untuk membela ayam geprek lho ya (kayak pengacara aja, bikin pleidoi segala)..

Tapi sebagai dokter, saya kudu mengungkapkan bahwa secara epidemiologi, kuman tifoid itu sudah lumrah banyak menyebar di negara berkembang (macam Indonesia). Hanya memang banyak orang Indonesia aja yang belum kebal terhadap kuman tifoid, lantaran memang belum dapat vaksinasi tifoid.

Nah, untuk ngerti lebih banyak lagi soal vaksin tifoid ini, kamu bisa tonton Instagram Live-nya @kenapaharusvaksin tentang #SantapAman ya.

Terus coba cari deh di kota tempatmu tinggal, di klinik mana bisa dapet vaksin tifoid, dan tolong tulisin di kolom komen ya.

Jangan lupa sebarin link blogpost ini ke temanmu yang suka pesen makan dari luar biar mereka melindungi diri dari tifoid juga. Biar ngerti, bahwa tertular tifoid bukanlah konsekuensi dari bahaya makan ayam geprek dan teman-temannya. Namun, tertular tifoid itu adalah konsekuensi dari diri kita yang memang belum mendapatkan vaksin tifoid. 🙂

39 comments

  1. Gita Sarrah says:

    Setahu saya sih kalo di Bandung ada Biofarma yang melayani berbagai vaksin. Btw sosialisasi vaksin tifoid ini masih terbatas kayaknya ya kakVick? karena jujur saya juga baru tahu sekarang. atau saya aja yang kudet hehe. Dan ngomongin ayam geprek, saya juga termasuk penggemar ayam geprek, tapi saya makan ayam gepreknya pisah bumbu. Aliran suka-suka haha.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Terbatas, terbatas banget. Negara kita masih fokus ke urusan pengobatan, sedangkan upaya vaksin sendiri belum banyak digaungkan. Sekali-kalinya urusan vaksin ngebooming adalah vaksin untuk anak-anak (polio, campak, difteri), dan vaksin Covid. Maka wajar kalau nggak banyak orang tahu tentang vaksin tifoid.

  2. mba vicky,
    aku suka images yang ayam geprek di sidang, lucu, hihihi. honestly artikelnya enak dibaca dan pembahasannya serius tapi gak diajak jidat berkerut bacanya. asyik lah.
    anyway, thankyou for sharing this ya, jadi tahu berapa lama jangka waktu vaksin nya. tiga tahun. aku udah ke rumah vaksin kemarin dan minta schedule untuk vaksin tifoid buat suamiku dulu karena yang paling sering makan diluar.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Terima kasih, Eka. Aku bikin sendiri gambar ayam geprek di sidang itu karena aku sudah nyari-nyari gambar karikatur ayam geprek di internet, kok nggak ada yang gratis, wkwkwkwk..

  3. Ngakak di bagian meme ayam gepreknya! Sebagai penyuka makanan pedas, aku juga suka ayam geprek mbak. Salah satu opsi aman juga setelah nasi goreng hahaha.
    Lho, ternyata tifus dan demam tifoid itu beda ya, salah dong aku hahaha.

    Ternyata gejala demam tifoid bisa macem-macem ya, sampe jadi kayak TBC atau penyakit pernafasan gitu. Bermanfaat banget sharing-nya mbak, makasiiihhh

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, tifoid kalau ketahuannya telat, bentuknya udah berubah lagi, mungkin sakit perutnya udah nggak terlalu kentara, tapi udah berubah jadi batuk dan sesak napas..

  4. Fenni Bungsu says:

    Dengan divaksin tifoid lebih dulu bisa membuat nyaman jajan sih. Meski memang dilihat juga higienisnya makanan yang mau di beli dan kondisi tubuh ya, dalam keadaan sehat atau nggak

  5. Rach Alida says:

    Banyak yang pastinya mengira tifoid dan tifus itu sama tapi teryata beda walau sama sama menyerang perut. Terima kasih sebagai pengingat ya bu dan ini juga harus makin banyak yang ngeh

  6. Liswanti says:

    Kasihan amat ya itu ayam geprek jadi tersangka haha. Mirip begini, kalau lagi menyusui jangan makan pedes nanti anaknya mencret. Padahal selama ini makan pedas aman aja anak. Kalau mencret bisa jadi ada kuman ada bakteri yg masuk kemulutnya ya. Misal gigitin mainan. Sama kayak ayam geprek. Kali aja yg makannya ga cuci tangan dulu, atau ya itu mentimun belum dicuci bersih.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Wwkwkwkkw.. segitu pentingnya memastikan makanan matang sebelum disajikan..

      Tapi memang busui jangan makan pedes dulu, Lis. Bukan karena takut anaknya mencret. Tapi pedes itu karena cabe, cabe mengandung capsaicin, capsaicin itu membuat cairan tubuh kita lebih banyak keluar, padahal cairan itu mengandung mineral-mineral yang dibutuhkan ibu. Jadi sebenarnya busui jangan makan pedes itu karena mempertahankan gizi dalam tubuh ibu, bukan karena takut anaknya mencret. 😀

  7. Ning! says:

    Ya ampun, jadi inget dulu aku opname karena tifoid selama 2 minggu!

    Sakitnya juga sampai sebulan, haha… Sungguh menyiksa. Dulu juga inget banget gara² makan es doger, paginya langsung sakit tenggorokan, beberapa hari demam sampe beberapa kali ke dokter, endingnya opname juga. Huhu

  8. atiqoh says:

    wah memang harus dari kesadaran diri sendiri ya buat menjaga kesehatan. Apalagi di Indonesia, kita gak bisa ngandelin orang lain buat melakukan yang “sempurna’ soal kebersihan, jadi diri sendiri yang harus memagari diri dg para penyakit 🙂

  9. Nchie Hanie says:

    Huhuuu kasian si ayam geprek yang jadi tersangka, beneran padahal enak meski pedas kalo suka dan udah terbiasa ya yummy dan biasa aja makannya.
    Padahal kan ternyata kebersihannya, bakteri ato virus yang bertebaran kadang kita pun ga tau. Memang baiknya ya di vaksin tifoid agar terhindar dari penyakit tifoid ini yang membahaya.
    Hmm, biar bisa kulineran dan makan ayam geprek tanpa dijudgement teroos.

  10. Ya Allah beneran, kok ya nggak terpikir pekara timun yang udah dicuci dulu apa belum. Sebetulnya kalau urusan beginian, ibuk saya tuh yang paling suka warning dari zaman saya masih anak-anak. Jangan jajan sembarangan! Tapi anaknya ini mbandel mulu’. Dan pas baca gimana gejala sampai sakit tifoid itu kayak apa, jadi ngeri akunya. Janji deh bakal lebih ati-ati.

  11. Untung aku bukan penggemar ayam geprek nih, jd bisa belain si ayam
    Aku baru tahu loh vaksin typoid, sejak kapan ya adanya. Yg aku ingat mah vaksin covid

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai hai.. vaksin tifoid ini mulai dikenal semenjak dua tahun yang lalu di Amerika Serikat. Dianjurkannya untuk orang-orang tertentu aja, yaitu mereka yang mau bepergian ke negara yang banyak tifoidnya. Jadi Mbak Yayu nggak ketinggalan amat 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Semua vaksin pasti pernah mengalami KIPI, termasuk vaksin tifoid. Hanya saja yang mengalami KIPI ini jarang-jarang.

      KIPI pada vaksin tifoid itu paling banyak berupa lesu dan sakit kepala, yang terjadi kira-kira pada 14-15% orang yang disuntik vaksin tifoid.

      Kisaran harga vaksin tifoid ini yang saya temukan sekitar Rp 300k-350k, masih lebih murah daripada vaksin pneumonia. Tapi tentu saja harganya berbeda di tiap klinik pada tiap kota.

  12. Maria G says:

    wah saya baru tau kalo tifoid beda dengan tifus, penyebabnya aja beda

    harus koreksi tulisan nih

    kerabat saya pernah bawa penyakit (nah ini gak tau tifus atau tifoid, karena sebagai orang awam saya menyamakan) ini ke Perancis, dan langsung dikarantina dong

    takut nyebar ke seluruh negeri 😀 😀

  13. Siska Dwyta says:

    Di kota saya juga menjamur nih ayam geprek. Kesukaan saya juga nih tapi eh emang agak terganggu sih dengan omongan orang2 di luar sana tentang makan ayam ini.

    Baca postingan Mbak baru tercerahkan, ternyata kalau sering makan atau jajan di luar gitu kitanya jadi rentan terkena penyakit tifoid ya. Jadi memang kudu vaksin tifoid nih supaya man dan terhindar dari penyakit ini.

      1. Dian says:

        Ayam geprek emang enak ya mbak Vicky
        Lalu klo mules habis makan ayam geprek, pasti yg disalahin ya sambelnya ya
        padahal bisa jadi karena adanya kuman tifoid
        makanya perlu juga ya vaksin tifoid

          1. Aku jadi meragukan dokter yg sering merawat suamiku, tiap kali kena tifoid. Kenapa itu dokter selalu bilang tifus -_-. Apa karena supaya keluarga pasien langsung ngeh , Krn biar gimana selama ini, sebagai orang awam, aku tahu nya tifus, pernah denger tifoid, tapi kirain sama.

            Aku Alhamdulillah belum pernah juga kena tifoid ini, tapi suami udah beberapa kali. Kadang dokter bilang Krn load kerja, ditambah makan yg sembarangan. Jadi itu sebenernya tifoid yaaa..rasanya aku hrs nyediain sih budget khusus untuk vaksin2 penting begini, kayak vaksin tifoid, meningitis, booster COVID kalau sudah tersedia nanti, atau vaksin yg memang dibutuhin kayak traveler macam kami berdua. Secara tiap traveling, aku dan suami selalu suka nyobain makanan2 khas suatu negara, ATO street food nya. Memang sih, untuk beberapa negara tertentu seperti India, aku belum berani macem2 . Melihat cara pengolahannya aja udah keder duluan Vic . Jangan sampe di negara orang sakit parah gara2 makanan ga bersih.

          2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

            Sebelum aku nulis tentang vaksin tifoid ini, aku riset pasar dulu dong.
            Ternyata menurut Google Trend, orang Indonesia menyebut “tifus” 10x lebih sering daripada menyebut “tifoid”.

            Dokter kadangkala tidak tahu apakah pasiennya ini senang membaca atau tidak. Jadi mereka tidak tahu bahwa pasien sudah bisa membedakan mana tifoid, mana tifus. Dirimu sebagai keluarga pasien perlu mengkonfirmasi tegas, “Dok, ini tifus atau tifoid?”

            Kata dokter, “Kamu kena tifus karena load kerja”.
            Sebetulnya terjemahannya adalah, “Stress tinggi telah menurunkan sistem imunitasnya. Sehingga sistem imunitasmu tidak kuat melawan kuman tifoid yang masuk ke tubuhmu. Kebetulan kuman ini masuk melalui makanan yang dimasak dengan cara yang kurang bersih.”

            Di luar negeri, orang baru disarankan untuk diberi vaksin tifoid jika mau bepergian ke negara-negara yang banyak kasus tifoidnya. Termasuk dirimu, memang sebaiknya perlu melindungi diri sendiri dengan vaksin tifoid ini, karena dirimu sering bepergian.

  14. Apa2 yang sifatnya preventif juga masih tehalang dana kalo di negara berkembang, mortilitasnya 10-20% jadi bukan endemi fokus Indonesia krn byk penyakit bisa dicegah dgn tingkat mortilitas plus severity yg lebih tinggi, hrs modal sendiri klomo vaksin tifus, jadi ayo kita promosikan awareness soal vaksin tifoid !!!!

Tinggalkan komentar