<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Comments on: Indo Rasis	</title>
	<atom:link href="https://vickyfahmi.com/indo-rasis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/</link>
	<description>This blog loves discussing about content.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2015 10:37:38 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6952</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 07:12:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6952</guid>

					<description><![CDATA[Hahaha..pembicaraan ini dari urusan pariwisata meluber ke arah perburuhan. Gw juga pernah dengar diskriminasi gaji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur aja, gw dulu pernah kepingin punya pacar bule. Tapi kalau gw ke pasar terus gw lihat pedagang-pedagang naik-naikin harga kalau pembelinya orang bule, gw mulai berpikir bahwa punya pacar bule itu malah bikin pengeluaran jauh lebih besar. Apa asyiknya punya pacar bule kalau ujung-ujungnya gw malah dirugikan secara finansial?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha..pembicaraan ini dari urusan pariwisata meluber ke arah perburuhan. Gw juga pernah dengar diskriminasi gaji itu.</p>
<p>Jujur aja, gw dulu pernah kepingin punya pacar bule. Tapi kalau gw ke pasar terus gw lihat pedagang-pedagang naik-naikin harga kalau pembelinya orang bule, gw mulai berpikir bahwa punya pacar bule itu malah bikin pengeluaran jauh lebih besar. Apa asyiknya punya pacar bule kalau ujung-ujungnya gw malah dirugikan secara finansial?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: ~ jessie ~		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6950</link>

		<dc:creator><![CDATA[~ jessie ~]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 06:42:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6950</guid>

					<description><![CDATA[Selain itu semua, yg bikin jengkel adalah GAJI. Gaji expat jauh lebih tinggi dari gaji staf lokal. Padahal bisa sama-sama S1 atau sama-sama S2, bahkan yg lokal mungkin jauh lebih berpengalaman, tapi tetep aja &#039;harga&#039;nya lebih rendah dari BULE. &lt;br /&gt;Btw, orang indo juga seneng kok dirasis. Kalo punya pacar orang bule pasti lebih bangga tuh pas jalan bareng. Bener ga?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain itu semua, yg bikin jengkel adalah GAJI. Gaji expat jauh lebih tinggi dari gaji staf lokal. Padahal bisa sama-sama S1 atau sama-sama S2, bahkan yg lokal mungkin jauh lebih berpengalaman, tapi tetep aja &#39;harga&#39;nya lebih rendah dari BULE. <br />Btw, orang indo juga seneng kok dirasis. Kalo punya pacar orang bule pasti lebih bangga tuh pas jalan bareng. Bener ga?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6864</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 02:55:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6864</guid>

					<description><![CDATA[Bikin sewot aja, Mbak. Kalau saya ngaku turis asal Filipina gimana, gratis ndak? Gini-gini tampang saya kan mirip orang Manila lho..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bikin sewot aja, Mbak. Kalau saya ngaku turis asal Filipina gimana, gratis ndak? Gini-gini tampang saya kan mirip orang Manila lho..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: de asmara		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6860</link>

		<dc:creator><![CDATA[de asmara]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 01:58:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6860</guid>

					<description><![CDATA[di Bali kan bukan rahasia lagi kalo mo masuk klub yg bule gratis yg &#039;pribumi&#039; bayarrrr...&lt;br /&gt;dirasis-in di negara orang mungkin masih masuk akal ya, ini negara sendiri lho! sama orang2 dari bangsa sendiri pula lho!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di Bali kan bukan rahasia lagi kalo mo masuk klub yg bule gratis yg &#39;pribumi&#39; bayarrrr&#8230;<br />dirasis-in di negara orang mungkin masih masuk akal ya, ini negara sendiri lho! sama orang2 dari bangsa sendiri pula lho!</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6836</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:45:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6836</guid>

					<description><![CDATA[Aku mungkin berbakat jadi wartawan, Ria. Tapi bakatku nggak termasuk kesediaan buat jalan panas-panas buat ngegosipin orang, hahaha..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mungkin berbakat jadi wartawan, Ria. Tapi bakatku nggak termasuk kesediaan buat jalan panas-panas buat ngegosipin orang, hahaha..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Sri Riyati		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6835</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sri Riyati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:32:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6835</guid>

					<description><![CDATA[Kita kan selalu bayar pas check out. Bukan check in. Jadi gampang aja bilang, &#034;No sorry, no pay! Kapunkap!&#034; (ceritanya Inggris ala Thai. Tapi ingetlah satu hal kalo bepergian: everybody speaks the same language for money). Kayaknya Vicky ini berbakat wartawan. Harusnya kita keliling dunia bareng2. Jadi ada seksi dokumentasi hahaha=)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita kan selalu bayar pas check out. Bukan check in. Jadi gampang aja bilang, &quot;No sorry, no pay! Kapunkap!&quot; (ceritanya Inggris ala Thai. Tapi ingetlah satu hal kalo bepergian: everybody speaks the same language for money). Kayaknya Vicky ini berbakat wartawan. Harusnya kita keliling dunia bareng2. Jadi ada seksi dokumentasi hahaha=)</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6819</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 04:47:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6819</guid>

					<description><![CDATA[Aduh, Ria, nggak tau mau nangis simpati atau mau ketawa. Edan benar orang-orang Siam itu nuduh orang Indonesia bawa kutu! Gimana kalau kita nuduh mereka bawa Condyloma acuminatum, apa nggak jadi pecah Perang Dunia 3?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak masalah kalau si hostel nolak kita karena nggak bisa ngikutin standar kita yang ketinggian. Tapi mudah-mudahan ini jadi pelajaran buat kita semua. Giling, cuman gara-gara menjadi warga Indonesia aja, masalahnya bisa sampai serumit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara Ria minta orang Siam itu mohon maaf? Berani sekali kau mengancam nggak mau bayar. Siyalan, kalau aku di situ, pasti sudah kurekam pakai kamera dan kumasukin ke YouTube..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, Ria, nggak tau mau nangis simpati atau mau ketawa. Edan benar orang-orang Siam itu nuduh orang Indonesia bawa kutu! Gimana kalau kita nuduh mereka bawa Condyloma acuminatum, apa nggak jadi pecah Perang Dunia 3?</p>
<p>Tidak masalah kalau si hostel nolak kita karena nggak bisa ngikutin standar kita yang ketinggian. Tapi mudah-mudahan ini jadi pelajaran buat kita semua. Giling, cuman gara-gara menjadi warga Indonesia aja, masalahnya bisa sampai serumit ini.</p>
<p>Bagaimana cara Ria minta orang Siam itu mohon maaf? Berani sekali kau mengancam nggak mau bayar. Siyalan, kalau aku di situ, pasti sudah kurekam pakai kamera dan kumasukin ke YouTube..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6817</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 04:27:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6817</guid>

					<description><![CDATA[Hahaha. Makasih buat menuliskan kisahku di sini, Vick (sori baru sempet ngenet. Heran deh knp orang tetep kerja di hari Natal/tahun baru, kerjaanku jadi numpuk karena aku 100% liburan). Aku betul-betul ngerasa didukung (atau dikompori?? hehe) jadinya. Aku sebenernya sih gak marah-marah banget ditolak, tapi berhubung penginapan yang lain penuh semua akibat liburan tahun baru, jadi apa lacur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku mereka menolak punya alasan juga, dan itu bukan semata alasan ekonomi (karena hostel ini murah banget, bukan standar ekspat, tapi backpacker). Itu karena mayoritas orang Indonesia bepergian untuk mencari kenyamanan sementara hostel ini hanya menyediakan tempat nginap murah meriah (lengkap dengan kopian peta bandung yang kabur dan jalur angkot)tapi tanpa fasilitas apapun: nggak ada AC, nggak ada TV, gak ada selimut, nggak ada handuk, nggak ada toilet paper apalagi toiletries. Lalu ada kebiasaan orang Indonesia yang harus aku akui sendiri karena aku orang Indonesia: suka bepergian dalam grup dan cekakak-cekikik (dalam hal ini sangat merugikan karena hostelnya kecil dan sekatnya tidak permanen). Dan, terus terang saja, standar orang Indonesia jauh lebih tinggi dari backpackers: wong kerja setahun libur seminggu masak standarnya sama ama yang traveling setahun? Jadi, saranku, tidak terima turis lokal memang diskriminasi. Tapi setidaknya jelaskan alasannya: apakah karena alasan kenyamanan, alasan praktis atau alasan lain? Soalnya memang ada hostel yang tidak terima anak2 SMU dalam grup karena mereka berisik banget dan akan merusak  reputasi hostel mereka bagi tamu2 lain berkat omongan dari mulut ke mulut, hostel review dan backpackers&#039; newsletter dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman terburukku adalah tidur di hostel yang ada kutunya. Setelah complain ke pemilik hotel (di Ayutthaya, Thailand,I promise I&#039;ll mention the name. It&#039;s very much NOT recommended!) malah aku yang dituduh bawa kutu!!!! Dia bilang, &#034;It&#039;s backpaker from countries like India or Indonesia that usually bring mites,&#034;. Aku nolak bayar dan dia minta maaf dulu di depan para backpacker yang lain (sayangnya gak ada yang dari India) sebelum aku bayar biaya penginapannya!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha. Makasih buat menuliskan kisahku di sini, Vick (sori baru sempet ngenet. Heran deh knp orang tetep kerja di hari Natal/tahun baru, kerjaanku jadi numpuk karena aku 100% liburan). Aku betul-betul ngerasa didukung (atau dikompori?? hehe) jadinya. Aku sebenernya sih gak marah-marah banget ditolak, tapi berhubung penginapan yang lain penuh semua akibat liburan tahun baru, jadi apa lacur&#8230;</p>
<p>Menurutku mereka menolak punya alasan juga, dan itu bukan semata alasan ekonomi (karena hostel ini murah banget, bukan standar ekspat, tapi backpacker). Itu karena mayoritas orang Indonesia bepergian untuk mencari kenyamanan sementara hostel ini hanya menyediakan tempat nginap murah meriah (lengkap dengan kopian peta bandung yang kabur dan jalur angkot)tapi tanpa fasilitas apapun: nggak ada AC, nggak ada TV, gak ada selimut, nggak ada handuk, nggak ada toilet paper apalagi toiletries. Lalu ada kebiasaan orang Indonesia yang harus aku akui sendiri karena aku orang Indonesia: suka bepergian dalam grup dan cekakak-cekikik (dalam hal ini sangat merugikan karena hostelnya kecil dan sekatnya tidak permanen). Dan, terus terang saja, standar orang Indonesia jauh lebih tinggi dari backpackers: wong kerja setahun libur seminggu masak standarnya sama ama yang traveling setahun? Jadi, saranku, tidak terima turis lokal memang diskriminasi. Tapi setidaknya jelaskan alasannya: apakah karena alasan kenyamanan, alasan praktis atau alasan lain? Soalnya memang ada hostel yang tidak terima anak2 SMU dalam grup karena mereka berisik banget dan akan merusak  reputasi hostel mereka bagi tamu2 lain berkat omongan dari mulut ke mulut, hostel review dan backpackers&#39; newsletter dsb. </p>
<p>Pengalaman terburukku adalah tidur di hostel yang ada kutunya. Setelah complain ke pemilik hotel (di Ayutthaya, Thailand,I promise I&#39;ll mention the name. It&#39;s very much NOT recommended!) malah aku yang dituduh bawa kutu!!!! Dia bilang, &quot;It&#39;s backpaker from countries like India or Indonesia that usually bring mites,&quot;. Aku nolak bayar dan dia minta maaf dulu di depan para backpacker yang lain (sayangnya gak ada yang dari India) sebelum aku bayar biaya penginapannya!</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6784</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 15:14:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6784</guid>

					<description><![CDATA[Menyedihkan, ya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyedihkan, ya?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Reni		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/indo-rasis/#comment-6781</link>

		<dc:creator><![CDATA[Reni]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 14:42:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/01/02/indo-rasis/#comment-6781</guid>

					<description><![CDATA[Duuh.., Bangsa Indonesia dipandang sebelah mata di negaranya sendiri...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duuh.., Bangsa Indonesia dipandang sebelah mata di negaranya sendiri&#8230;</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
