<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Comments on: Karyaku Diakui Bukan Milikku	</title>
	<atom:link href="https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/</link>
	<description>This blog loves discussing about content.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 May 2016 15:59:32 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12588</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 11:31:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12588</guid>

					<description><![CDATA[Ria, kok aku mbaca komentarmu ini jadi berkaca-kaca mataku.. :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Ria, udah menerangkan bahwa praktek penghapusan nama ini udah biasa di kalangan profesi kita. Aku merasa miris membacanya, tapi sekarang aku mulai terima bahwa kenyataannya memang demikian. Kasihan banget dokter umum, mereka menulis capek-capek, tapi yang menikmati pengakuannya hanyalah dokter spesialis yang sebetulnya kemampuan menulisnya belum tentu sebagus dokter umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus getir juga, ngeri menerima bahwa ternyata &#034;Tidak semua profesor bisa menulis&#034;, apalagi &#034;menulis sambil ngupil&#034;, dan ini bikin aku ketawa sekaligus mulai bangga sama diri sendiri. Sumpah, nanti kalo beberapa tahun lagi aku jadi profesor, aku nggak akan pernah menulis sambil ngupil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih juga, Ria, bilang bahwa &#034;kemampuan dan pengalaman nggak bisa dibeli&#034;. Mereka boleh beli tulisanku, tapi nggak akan pernah bisa beli kemampuanku merangkum-rangkum empat textbook menjadi draft setipis 100-an lembar saja. Tuhan tahu, aku yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan bisa bikin buku lagi, Ria. Dan aku mau mengarangnya sendiri dengan namaku di cover-nya. Dan aku mau tersenyum sendiri lihat buku itu dipajang di toko buku, tanpa harus hati nuraniku berteriak bahwa sebenarnya buku itu dikarang oleh dokter lain yang pangkatnya lebih rendah daripada aku..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ria, kok aku mbaca komentarmu ini jadi berkaca-kaca mataku.. 🙁</p>
<p>Terima kasih, Ria, udah menerangkan bahwa praktek penghapusan nama ini udah biasa di kalangan profesi kita. Aku merasa miris membacanya, tapi sekarang aku mulai terima bahwa kenyataannya memang demikian. Kasihan banget dokter umum, mereka menulis capek-capek, tapi yang menikmati pengakuannya hanyalah dokter spesialis yang sebetulnya kemampuan menulisnya belum tentu sebagus dokter umum.</p>
<p>Sekaligus getir juga, ngeri menerima bahwa ternyata &quot;Tidak semua profesor bisa menulis&quot;, apalagi &quot;menulis sambil ngupil&quot;, dan ini bikin aku ketawa sekaligus mulai bangga sama diri sendiri. Sumpah, nanti kalo beberapa tahun lagi aku jadi profesor, aku nggak akan pernah menulis sambil ngupil!</p>
<p>Terima kasih juga, Ria, bilang bahwa &quot;kemampuan dan pengalaman nggak bisa dibeli&quot;. Mereka boleh beli tulisanku, tapi nggak akan pernah bisa beli kemampuanku merangkum-rangkum empat textbook menjadi draft setipis 100-an lembar saja. Tuhan tahu, aku yang menang.</p>
<p>Aku akan bisa bikin buku lagi, Ria. Dan aku mau mengarangnya sendiri dengan namaku di cover-nya. Dan aku mau tersenyum sendiri lihat buku itu dipajang di toko buku, tanpa harus hati nuraniku berteriak bahwa sebenarnya buku itu dikarang oleh dokter lain yang pangkatnya lebih rendah daripada aku..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12584</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 05:47:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12584</guid>

					<description><![CDATA[Di lingkungan akademis, sudah jamak &#039;dokter umum kebanyakan&#039; dipakai untuk mendongkrak para tetua yang punya nama tapi tidak punya waktu (dan sebenarnya saya ragukan juga punya kemampuan bikin buku sungguhan). Mereka punya gelar seabrek, tapi bukan berarti mereka pintar menulis. Atau punya banyak ide. Atau sanggup melakukan riset di lapangan. Akhirnya, dipilih jalur &#039;outsourcing&#039; alias ndandake (bhs jawa, artinya mbikinin, jadi orang lain yang bikin. ) Lalu siapa yang bikin? Ya kita, dokter umum jelata, karena kita masih muda, masih butuh rekomendasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering banget diminta bantuin penelitian guru saya. Nama saya tidak bakal dicantumkan, karena ini demi penghitungan &#034;cum&#034;. Kalo yang nulis 1 orang &#034;cum&#034;nya 25. Kalo banyak orang ya akan dibagi2. Demikian juga dengan nerjemahin buku. Bahkan, kalau berkorespondensi, saya juga yang nulis suratnya. Saya tulis, &#034;Dear Prof...&#034; dan ditutup dengan &#034;Yours sincerely, Prof. ...MD, PhD.&#034; Jadi, kalau saya dimintai &#039;bukti korespondensi&#039; pas daftar PhD nanti, saya sebenernya sudah punya banyak (tersenyum getir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menyedihkan karena saya cuman berada di belakang layar dan tidak ada nama saya di credit title. Tapi saya tahu kalau itu saya yang buat dan mau tidak mau saya tersenyum. Kalau karya saya diakui seorang guru besar, artinya karya itu baik. Saya nggak kehilangan apa-apa. Kemampuan dan pengalaman itu masih milik saya sendiri. Orang yang mendapat barang jadi tidak pernah punya kemampuan yang dimiliki pembuatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya kalo memang Vicky berharap ini bakal jadi masukan CV dan tidak diakui, tentu saja itu menyakitkan. Tapi sejujurnya ini yang biasa terjadi di lingkungan penerbit buku kedokteran. Selalu harus ada nama tetua dicovernya supaya dipercaya. Padahal penulis sebenarnya ya kita-kita. Tapi siapa sih kita? Kita nggak punya doktor pehade propesor spesialis anu konsultan. Seharusnya sih, nama kita tetap masuk di tim penulis (dan ukuran hurupnya 10 font lebih kecil pun nggak masalah). Karena tidak mungkin Bapak2 yang mbahurekso itu mengerjakan sendiri semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya kita cuman kuli tulis. Yang saya lakukan sekarang adalah mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dari guru-guru saya sambil membuat penelitian sendiri (pengalaman itu dihasilkan, tidak bisa dibeli). Suatu saat nanti saya tahu saya bakal menulis buku sendiri. Saya tahu semua yang saya lakukan sekarang cuma permulaan. One must start somewhere. Tidak semua ilmuwan diberkahi dengan kemampuan berbahasa dan menulis. Memang sekarang kita cuma &#039;digunakan&#039; sama orang2 yang lebih tinggi dari kita, tapi nggak selamanya. Apalagi dengan internet yang bisa diakses siapa saja. Kita bisa bikin publikasi yang nggak bisa diganggu gugat siapapun, secara mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vicky, sebagai sesama orang yang bisa nulis dengan gampang sambil ngupil, you know what i&#039;m talking about, don&#039;t you?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di lingkungan akademis, sudah jamak &#39;dokter umum kebanyakan&#39; dipakai untuk mendongkrak para tetua yang punya nama tapi tidak punya waktu (dan sebenarnya saya ragukan juga punya kemampuan bikin buku sungguhan). Mereka punya gelar seabrek, tapi bukan berarti mereka pintar menulis. Atau punya banyak ide. Atau sanggup melakukan riset di lapangan. Akhirnya, dipilih jalur &#39;outsourcing&#39; alias ndandake (bhs jawa, artinya mbikinin, jadi orang lain yang bikin. ) Lalu siapa yang bikin? Ya kita, dokter umum jelata, karena kita masih muda, masih butuh rekomendasi mereka.</p>
<p>Saya sering banget diminta bantuin penelitian guru saya. Nama saya tidak bakal dicantumkan, karena ini demi penghitungan &quot;cum&quot;. Kalo yang nulis 1 orang &quot;cum&quot;nya 25. Kalo banyak orang ya akan dibagi2. Demikian juga dengan nerjemahin buku. Bahkan, kalau berkorespondensi, saya juga yang nulis suratnya. Saya tulis, &quot;Dear Prof&#8230;&quot; dan ditutup dengan &quot;Yours sincerely, Prof. &#8230;MD, PhD.&quot; Jadi, kalau saya dimintai &#39;bukti korespondensi&#39; pas daftar PhD nanti, saya sebenernya sudah punya banyak (tersenyum getir).</p>
<p>Memang menyedihkan karena saya cuman berada di belakang layar dan tidak ada nama saya di credit title. Tapi saya tahu kalau itu saya yang buat dan mau tidak mau saya tersenyum. Kalau karya saya diakui seorang guru besar, artinya karya itu baik. Saya nggak kehilangan apa-apa. Kemampuan dan pengalaman itu masih milik saya sendiri. Orang yang mendapat barang jadi tidak pernah punya kemampuan yang dimiliki pembuatnya. </p>
<p>Masalahnya kalo memang Vicky berharap ini bakal jadi masukan CV dan tidak diakui, tentu saja itu menyakitkan. Tapi sejujurnya ini yang biasa terjadi di lingkungan penerbit buku kedokteran. Selalu harus ada nama tetua dicovernya supaya dipercaya. Padahal penulis sebenarnya ya kita-kita. Tapi siapa sih kita? Kita nggak punya doktor pehade propesor spesialis anu konsultan. Seharusnya sih, nama kita tetap masuk di tim penulis (dan ukuran hurupnya 10 font lebih kecil pun nggak masalah). Karena tidak mungkin Bapak2 yang mbahurekso itu mengerjakan sendiri semuanya.</p>
<p>Tapi kenyataannya kita cuman kuli tulis. Yang saya lakukan sekarang adalah mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dari guru-guru saya sambil membuat penelitian sendiri (pengalaman itu dihasilkan, tidak bisa dibeli). Suatu saat nanti saya tahu saya bakal menulis buku sendiri. Saya tahu semua yang saya lakukan sekarang cuma permulaan. One must start somewhere. Tidak semua ilmuwan diberkahi dengan kemampuan berbahasa dan menulis. Memang sekarang kita cuma &#39;digunakan&#39; sama orang2 yang lebih tinggi dari kita, tapi nggak selamanya. Apalagi dengan internet yang bisa diakses siapa saja. Kita bisa bikin publikasi yang nggak bisa diganggu gugat siapapun, secara mandiri. </p>
<p>Vicky, sebagai sesama orang yang bisa nulis dengan gampang sambil ngupil, you know what i&#39;m talking about, don&#39;t you?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12538</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 07:43:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12538</guid>

					<description><![CDATA[Klaim? Ya mau sih. Cuman teknis mengklaimnya gimana, itu yang masih dipikirkan. Aku sendiri merasa, pengadilan publik lebih ampuh ketimbang pengadilan meja hijau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Klaim? Ya mau sih. Cuman teknis mengklaimnya gimana, itu yang masih dipikirkan. Aku sendiri merasa, pengadilan publik lebih ampuh ketimbang pengadilan meja hijau.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: catatan kecilku		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12537</link>

		<dc:creator><![CDATA[catatan kecilku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 07:39:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12537</guid>

					<description><![CDATA[Duh sayang sekali kalau kejadiannya spt itu. Mereka kok tidak menghargai hasil karya orang lain ya..?&lt;br /&gt;Sekecil apapun kontribusi seseorang dalam buku itu tak dapat dipandang sebelah mata, karena tanpa semua orang yg terlibat dlm proses pembuatannya maka buku itu tak akan bisa terbit.&lt;br /&gt;Emang gak ada yg berniat utk meng-claim ya mbak..?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duh sayang sekali kalau kejadiannya spt itu. Mereka kok tidak menghargai hasil karya orang lain ya..?<br />Sekecil apapun kontribusi seseorang dalam buku itu tak dapat dipandang sebelah mata, karena tanpa semua orang yg terlibat dlm proses pembuatannya maka buku itu tak akan bisa terbit.<br />Emang gak ada yg berniat utk meng-claim ya mbak..?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12447</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 14:27:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12447</guid>

					<description><![CDATA[Salam kenal, Nadia. Senang liat adek kelas saya di sini. Mudah-mudahan pengalaman ini jangan terjadi pada Nadia ya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal, Nadia. Senang liat adek kelas saya di sini. Mudah-mudahan pengalaman ini jangan terjadi pada Nadia ya.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: nadiafriza		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12440</link>

		<dc:creator><![CDATA[nadiafriza]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 06:19:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12440</guid>

					<description><![CDATA[&#034;Tahu nggak, padahal kalau nama saya tetap ada di situ, saya bisa pakai buku itu sebagai portofolio karya ilmiah jika suatu hari nanti saya ingin dipromosikan jadi doktor atau profesor. Pengakuan nama saya lebih penting ketimbang segepok duit&#034; &#060;&#060; jleb banget..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam kenal mbak.. semoga kejadian kayak gini ga keulang lagi ya :&#124;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&quot;Tahu nggak, padahal kalau nama saya tetap ada di situ, saya bisa pakai buku itu sebagai portofolio karya ilmiah jika suatu hari nanti saya ingin dipromosikan jadi doktor atau profesor. Pengakuan nama saya lebih penting ketimbang segepok duit&quot; &lt;&lt; jleb banget..</p>
<p>salam kenal mbak.. semoga kejadian kayak gini ga keulang lagi ya 😐</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12439</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 00:21:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12439</guid>

					<description><![CDATA[Mbak Vannya, ada yang terlewat di sini yaitu aspek penerjemahan. Penerjemahan itu adalah keahlian tersendiri, coz nggak gampang menerjemahkan teks dari bahasa linggis ke bahasa lokal. Bahkan sampek-sampek penerjemah itu sudah dijadikan profesi tersendiri. Ini menandakan bahwa penerjemahan adalah aktivitas yang profesional, dan berarti ya harus mendapatkan tarif yang layak. Jadi ya sebenarnya nggak pantes kalau nerjemahin itu dikira gratis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Hoeda, kayaknya itu bukan dua pilihan yang sama enaknya. Kalo aku sih jelas nggak akan mau ambil dua-duanya, hahaha.. Yah, kayaknya ini memang pelajaran baru ya buat kita. Tidak semua penerbit yang akan menerbitkan buku kita itu penerbit keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Rohani, persis banget apa yang disebut Mbak itu, begitulah perasaan saya. Kayaknya benci banget lihat buatan saya sendiri diakui buatan milik orang lain. Tega bener mereka pikir mereka sudah membeli saya, tapi nggak memberikan apa yang secara etisnya sudah jadi hak saya. Saya merasa diperlakukan tidak adil..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Vannya, ada yang terlewat di sini yaitu aspek penerjemahan. Penerjemahan itu adalah keahlian tersendiri, coz nggak gampang menerjemahkan teks dari bahasa linggis ke bahasa lokal. Bahkan sampek-sampek penerjemah itu sudah dijadikan profesi tersendiri. Ini menandakan bahwa penerjemahan adalah aktivitas yang profesional, dan berarti ya harus mendapatkan tarif yang layak. Jadi ya sebenarnya nggak pantes kalau nerjemahin itu dikira gratis..</p>
<p>Mas Hoeda, kayaknya itu bukan dua pilihan yang sama enaknya. Kalo aku sih jelas nggak akan mau ambil dua-duanya, hahaha.. Yah, kayaknya ini memang pelajaran baru ya buat kita. Tidak semua penerbit yang akan menerbitkan buku kita itu penerbit keren.</p>
<p>Mbak Rohani, persis banget apa yang disebut Mbak itu, begitulah perasaan saya. Kayaknya benci banget lihat buatan saya sendiri diakui buatan milik orang lain. Tega bener mereka pikir mereka sudah membeli saya, tapi nggak memberikan apa yang secara etisnya sudah jadi hak saya. Saya merasa diperlakukan tidak adil..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Rohani syawaliah		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12438</link>

		<dc:creator><![CDATA[Rohani syawaliah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 14:18:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12438</guid>

					<description><![CDATA[Sakit banget memang rasanya mbak kalo karya kita nggak diakui sebagai karya kita... masalah capek2nya dan uangnya sih nggak masalah. tapi itu buah karya kita. seperti kita yang hamil dan melahirkan seorang bayi terus tiba2 anak kita diambil orang dan diakui sebagai anak dia. menyebalkan banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mau bagaimana lagi ya mbak, orang2 itu memang sudah dibutakan oleh uang. padahal penulis itu semuanya pasti lebih bahagia melihat namanya ada dikarya yang telah mereka tulis daripada mendapatkan uangnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka pikir uang bisa membeli segalanya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sakit banget memang rasanya mbak kalo karya kita nggak diakui sebagai karya kita&#8230; masalah capek2nya dan uangnya sih nggak masalah. tapi itu buah karya kita. seperti kita yang hamil dan melahirkan seorang bayi terus tiba2 anak kita diambil orang dan diakui sebagai anak dia. menyebalkan banget&#8230;</p>
<p>tapi mau bagaimana lagi ya mbak, orang2 itu memang sudah dibutakan oleh uang. padahal penulis itu semuanya pasti lebih bahagia melihat namanya ada dikarya yang telah mereka tulis daripada mendapatkan uangnya&#8230;</p>
<p>mereka pikir uang bisa membeli segalanya</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Hoeda Manis		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12437</link>

		<dc:creator><![CDATA[Hoeda Manis]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:36:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12437</guid>

					<description><![CDATA[Pilih mana, nama gak muncul tapi dapat duitnya, atau nama muncul di buku tapi gak dapat duitnya? Nah, yang terakhir itu pengalamanku. Namaku muncul di buku, tapi penerbitnya bangkrut sebelum sempat bayar royalti. Tetep aja aku nangis bombay karena ngitung2 jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, seperti yang dibilang mas Fahmi, pengalaman adalah guru terbaik, hanya saja harganya mahal...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pilih mana, nama gak muncul tapi dapat duitnya, atau nama muncul di buku tapi gak dapat duitnya? Nah, yang terakhir itu pengalamanku. Namaku muncul di buku, tapi penerbitnya bangkrut sebelum sempat bayar royalti. Tetep aja aku nangis bombay karena ngitung2 jumlahnya.</p>
<p>Yeah, seperti yang dibilang mas Fahmi, pengalaman adalah guru terbaik, hanya saja harganya mahal&#8230;</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: alice in wonderland		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/karyaku-dirampok/#comment-12436</link>

		<dc:creator><![CDATA[alice in wonderland]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 19:44:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/12/08/karyaku-diakui-bukan-milikku/#comment-12436</guid>

					<description><![CDATA[hehe pernah ngalamin juga...tapi waktu itu cuma nerjemahin buku textbook yang rencanya akan dirilis versi terjemahannya dalam bahasa INdonesai, jadi lebih mendinglah daripada kamu yang harus mikir nyusun lau out segala.... tapi waktu itu emang kolega yang memberi tugas gak pernah menjanjikan kalau nama kita bakal dicantumkan jadinya ya gpp karena toh kita cuma nerjemahin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah lain kali sejak awal harus jelas dulu perjanjiannya...karena keliatannya di Indonesia banyak yang kayak gitu...sabar ya Vic]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hehe pernah ngalamin juga&#8230;tapi waktu itu cuma nerjemahin buku textbook yang rencanya akan dirilis versi terjemahannya dalam bahasa INdonesai, jadi lebih mendinglah daripada kamu yang harus mikir nyusun lau out segala&#8230;. tapi waktu itu emang kolega yang memberi tugas gak pernah menjanjikan kalau nama kita bakal dicantumkan jadinya ya gpp karena toh kita cuma nerjemahin.</p>
<p>yah lain kali sejak awal harus jelas dulu perjanjiannya&#8230;karena keliatannya di Indonesia banyak yang kayak gitu&#8230;sabar ya Vic</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
