<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Comments on: Ketika Bensin Naik	</title>
	<atom:link href="https://vickyfahmi.com/ketika-bensin-naik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://vickyfahmi.com/ketika-bensin-naik/</link>
	<description>This blog loves discussing about content.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Mar 2017 15:17:48 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>
		By: galihsatria		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/ketika-bensin-naik/#comment-19054</link>

		<dc:creator><![CDATA[galihsatria]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2014 00:19:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2014/08/14/ketika-bensin-naik/#comment-19054</guid>

					<description><![CDATA[Alasan saya pakai mobil/motor pribadi masih klasik, angkutan umum ga nyaman, desek-desekan, dan lebih lama sampai apalagi kalau harus ganti beberapa kali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alasan saya pakai mobil/motor pribadi masih klasik, angkutan umum ga nyaman, desek-desekan, dan lebih lama sampai apalagi kalau harus ganti beberapa kali.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: wihikan mawi wijna		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/ketika-bensin-naik/#comment-19053</link>

		<dc:creator><![CDATA[wihikan mawi wijna]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2014 13:01:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2014/08/14/ketika-bensin-naik/#comment-19053</guid>

					<description><![CDATA[Ah, persoalan ini sudah pernah saya bahas sama sepupu saya beberapa minggu yang lalu. Penyelesaiannya gini menurut kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masyarakat Indonesia itu harus didorong untuk mau jalan kaki yang lumayan jauh. Yang pertama ini masalah mental bu Dokter, bukan fasilitas. Yang harus dikoreksi itu mental orang yang baru jalan sedikit sudah mengeluh capek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, seiring dengan poin pertama, pembenahan fasilitas untuk pejalan kaki harus ditingkatkan. Bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di kota kecil dan desa yang mepet sawah dan juga di dalam hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, baru lah meningkatkan pelayanan angkutan publik dan memberi beban pada kendaraan pribadi. Jadi, jumlah angkutan publik harus lebih banyak dari kendaraan pribadi dan lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bandingkan dengan negara luar semisal Jepang, orang-orang di sana itu rata-rata dari tempat tinggal ke terminal angkutan publik lumayan jauh. Ada yang hampir 2 km. Dan cuaca di sana kalau musim panas kan ya panas banget. Musim dingin ya dingin banget. Musim semi/gugur sering hujan. Tapi mental mereka tetap mau jalan kaki apapun kondisi cuacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya demikian Bu Dokter.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, persoalan ini sudah pernah saya bahas sama sepupu saya beberapa minggu yang lalu. Penyelesaiannya gini menurut kami. </p>
<p>Pertama, masyarakat Indonesia itu harus didorong untuk mau jalan kaki yang lumayan jauh. Yang pertama ini masalah mental bu Dokter, bukan fasilitas. Yang harus dikoreksi itu mental orang yang baru jalan sedikit sudah mengeluh capek.</p>
<p>Kedua, seiring dengan poin pertama, pembenahan fasilitas untuk pejalan kaki harus ditingkatkan. Bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di kota kecil dan desa yang mepet sawah dan juga di dalam hutan.</p>
<p>Ketiga, baru lah meningkatkan pelayanan angkutan publik dan memberi beban pada kendaraan pribadi. Jadi, jumlah angkutan publik harus lebih banyak dari kendaraan pribadi dan lebih nyaman.</p>
<p>Kalau kita bandingkan dengan negara luar semisal Jepang, orang-orang di sana itu rata-rata dari tempat tinggal ke terminal angkutan publik lumayan jauh. Ada yang hampir 2 km. Dan cuaca di sana kalau musim panas kan ya panas banget. Musim dingin ya dingin banget. Musim semi/gugur sering hujan. Tapi mental mereka tetap mau jalan kaki apapun kondisi cuacanya.</p>
<p>Menurut saya demikian Bu Dokter.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
