<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Comments on: Nestapa Korban Tilep Pajak	</title>
	<atom:link href="https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/</link>
	<description>This blog loves discussing about content.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Mar 2017 15:29:19 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8495</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 02:05:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8495</guid>

					<description><![CDATA[Ih! Kantor pajak cabang mana sih tuh, kok pakai ada kelebihan pajak segala?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ih! Kantor pajak cabang mana sih tuh, kok pakai ada kelebihan pajak segala?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: - H -		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8494</link>

		<dc:creator><![CDATA[- H -]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 01:23:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8494</guid>

					<description><![CDATA[lols, kemarin nyokapku kelebihan bayar pajak sekitar 2.5jt, tapi diikhlasin buat orang pajaknya karena mereka berbelit-belit untuk balikin kelebihan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada juga temen mamaku yang kelebihan 8 dan 40 juta juga dilegoin buat orang pajak :(]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>lols, kemarin nyokapku kelebihan bayar pajak sekitar 2.5jt, tapi diikhlasin buat orang pajaknya karena mereka berbelit-belit untuk balikin kelebihan pajak.</p>
<p>ada juga temen mamaku yang kelebihan 8 dan 40 juta juga dilegoin buat orang pajak 🙁</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Admin @ Infokost.net		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8493</link>

		<dc:creator><![CDATA[Admin @ Infokost.net]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 19:10:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8493</guid>

					<description><![CDATA[Begini maksud saya. Pertama, saya tidak membela Gayus, tapi menyampaikan fakta berdasarkan apa yg saya tahu dan dengar dari rekan2 sejawat Gayus. Dalam posisinya, Gayus bisa melihat celah dan kelemahan yang ada pada suatu sistem perpajakan yang menguntungkan suatu Wajib Pajak (dan ini bukan zero sum game, di mana jika suatu pihak diuntungkan, maka pihak lain dirugikan -- yang dalam hal ini Jeng Vicky anggap adalah rakyat). Dalam posisinya itu, Gayus menguatkan apa yang sudah diketahui para Wajib Pajak mengenai apa yang seharusnya mereka bayar (itulah sebabnya mereka berpekara di pengadilan in the first place). Para WP tersebut mengajukan keberatan dengan pajak yang dianggap harus mereka bayar -- dan ini sangat sah. Perbedaan tafsir akuntansi akan mempengaruhi berapa besar yg seharusnya dibayar WP. Dan perbedaan tafsir inilah yang di-tantang WP di pengadilan. Mereka sudah tahu, dan seperti saya sampaikan di atas, Gayus menguatkan apa yang mereka ketahui itu sehingga para WP tsb bisa meyakinkan hakim bahwa mereka benar, dan hakim lah yang kemudian memutuskan perkara. Coba lihat dari kacamata ini: Seorang punya penyakit dan divonis oleh seorang dokter untuk melakukan perawatan tertentu. Orang tersebut kemudian mencari second opinion, dan setelah melakukan cek dan ricek, dokter lain memberikan diagnosa yang sangat menghemat biaya perawatan orang tersebut. Sebagai ungkapan terima kasih, sang pasien memberikan pembayaran lebih kepada sang dokter. Hypothetically speaking, para dokter tersebut bekerja di RS yang sama tempat seharusnya orang tadi menghabiskan uangnya untuk perawatan sesuai anjuran dokter pertama. Apakah artinya dokter pemberi second opinion mencuri uang pemasukan RS yang seharusnya lebih besar jika mengikuti anjuran dokter pertama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, agak ekstrem ya, kasih contohnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begini maksud saya. Pertama, saya tidak membela Gayus, tapi menyampaikan fakta berdasarkan apa yg saya tahu dan dengar dari rekan2 sejawat Gayus. Dalam posisinya, Gayus bisa melihat celah dan kelemahan yang ada pada suatu sistem perpajakan yang menguntungkan suatu Wajib Pajak (dan ini bukan zero sum game, di mana jika suatu pihak diuntungkan, maka pihak lain dirugikan &#8212; yang dalam hal ini Jeng Vicky anggap adalah rakyat). Dalam posisinya itu, Gayus menguatkan apa yang sudah diketahui para Wajib Pajak mengenai apa yang seharusnya mereka bayar (itulah sebabnya mereka berpekara di pengadilan in the first place). Para WP tersebut mengajukan keberatan dengan pajak yang dianggap harus mereka bayar &#8212; dan ini sangat sah. Perbedaan tafsir akuntansi akan mempengaruhi berapa besar yg seharusnya dibayar WP. Dan perbedaan tafsir inilah yang di-tantang WP di pengadilan. Mereka sudah tahu, dan seperti saya sampaikan di atas, Gayus menguatkan apa yang mereka ketahui itu sehingga para WP tsb bisa meyakinkan hakim bahwa mereka benar, dan hakim lah yang kemudian memutuskan perkara. Coba lihat dari kacamata ini: Seorang punya penyakit dan divonis oleh seorang dokter untuk melakukan perawatan tertentu. Orang tersebut kemudian mencari second opinion, dan setelah melakukan cek dan ricek, dokter lain memberikan diagnosa yang sangat menghemat biaya perawatan orang tersebut. Sebagai ungkapan terima kasih, sang pasien memberikan pembayaran lebih kepada sang dokter. Hypothetically speaking, para dokter tersebut bekerja di RS yang sama tempat seharusnya orang tadi menghabiskan uangnya untuk perawatan sesuai anjuran dokter pertama. Apakah artinya dokter pemberi second opinion mencuri uang pemasukan RS yang seharusnya lebih besar jika mengikuti anjuran dokter pertama? </p>
<p>Oh, agak ekstrem ya, kasih contohnya?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8491</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:29:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8491</guid>

					<description><![CDATA[Terima kasih, Mas Leo. Memang yang didapatkan Gayus hanya berupa &#034;biaya konsultasi&#034;, supaya perusahaan tersebut tidak membayar pajak dalam jumlah yang seharusnya. Tapi jumlah pajak yang seharusnya itu adalah jumlah yang mestinya dibayarkan sebagai pajak, yang alokasinya bisa digunakan untuk mendanai kesejahteraan rakyat. Mendanai kesejahteraan rakyat itu juga termasuk &#034;uang rakyat&#034; kan? Karena itu, pihak-pihak yang berkontribusi mencegah perusahaan membayar pajak pada jumlah yang seharusnya, secara tidak langsung juga berkontribusi menghilangkan uang rakyat. Karena jumlah modal yang diterima sebagai dana pembangunan adalah jumlah yang kurang dari semestinya. Begitu maksud saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih, Mas Leo. Memang yang didapatkan Gayus hanya berupa &quot;biaya konsultasi&quot;, supaya perusahaan tersebut tidak membayar pajak dalam jumlah yang seharusnya. Tapi jumlah pajak yang seharusnya itu adalah jumlah yang mestinya dibayarkan sebagai pajak, yang alokasinya bisa digunakan untuk mendanai kesejahteraan rakyat. Mendanai kesejahteraan rakyat itu juga termasuk &quot;uang rakyat&quot; kan? Karena itu, pihak-pihak yang berkontribusi mencegah perusahaan membayar pajak pada jumlah yang seharusnya, secara tidak langsung juga berkontribusi menghilangkan uang rakyat. Karena jumlah modal yang diterima sebagai dana pembangunan adalah jumlah yang kurang dari semestinya. Begitu maksud saya.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Cahya		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8492</link>

		<dc:creator><![CDATA[Cahya]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:29:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8492</guid>

					<description><![CDATA[Yah..., begitulah negeri ini, tapi rakyatnya kebanyakan diam saja tidak pernah menggugat, entah dengan perwakilan rakyatnya apa pernah menyuarakan suara yang ia wakilkan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yah&#8230;, begitulah negeri ini, tapi rakyatnya kebanyakan diam saja tidak pernah menggugat, entah dengan perwakilan rakyatnya apa pernah menyuarakan suara yang ia wakilkan?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Admin @ Infokost.net		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8490</link>

		<dc:creator><![CDATA[Admin @ Infokost.net]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:03:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8490</guid>

					<description><![CDATA[[quote]&lt;br /&gt;Gw pribadi nggak bisa habis pikir kenapa seorang tukang pajak bisa nekat-nekatnya nilep duit rakyat yang udah dikumpulin rame-rame buat bayar pajak (yang katanya buat kesejahteraan rakyat).&lt;br /&gt;[end-quote]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar meluruskan: Gayus ngga nilep duit rakyat. Dia mendapat uang sebagai jasa konsultasi. Perusahaan2 yang meminta pengembalian pajak &#034;dikonsultasikan&#034; oleh Gayus sehingga menang dalam sidang2 perpajakannya yg diputuskan oleh hakim independen. Kesalahan Gayus bukan dalam mencuri atau menggelapkan pajak, tapi karena tidak setia pada korpsnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>[quote]<br />Gw pribadi nggak bisa habis pikir kenapa seorang tukang pajak bisa nekat-nekatnya nilep duit rakyat yang udah dikumpulin rame-rame buat bayar pajak (yang katanya buat kesejahteraan rakyat).<br />[end-quote]</p>
<p>Sekedar meluruskan: Gayus ngga nilep duit rakyat. Dia mendapat uang sebagai jasa konsultasi. Perusahaan2 yang meminta pengembalian pajak &quot;dikonsultasikan&quot; oleh Gayus sehingga menang dalam sidang2 perpajakannya yg diputuskan oleh hakim independen. Kesalahan Gayus bukan dalam mencuri atau menggelapkan pajak, tapi karena tidak setia pada korpsnya.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: antok		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8488</link>

		<dc:creator><![CDATA[antok]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:26:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8488</guid>

					<description><![CDATA[padahal gaji udah besar sangat kok ptugas pajak masih kurang yaw&lt;br /&gt;sungguh terlllu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>padahal gaji udah besar sangat kok ptugas pajak masih kurang yaw<br />sungguh terlllu</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: darahbiroe		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8489</link>

		<dc:creator><![CDATA[darahbiroe]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:26:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8489</guid>

					<description><![CDATA[wah saya kira cuman ada di t4 q jalan ancur begitu&lt;br /&gt;wakkwkawka&lt;br /&gt;:D]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>wah saya kira cuman ada di t4 q jalan ancur begitu<br />wakkwkawka<br />😀</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Vicky Laurentina		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8485</link>

		<dc:creator><![CDATA[Vicky Laurentina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 01:25:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8485</guid>

					<description><![CDATA[Kalau gitu mestinya kita lewat jalan mana dan pakai kendaraan apa, kok semua-semua kecebur lobang? Ternyata jalan nggak di Bandung dan di Semarang sama aja bobroknya, apa kontraktor yang ngaspalin jalannya sama? Semprul itu kalau banteng aja bisa berendam di lobang itu, lama-lama kita beneran jalan mendingan pakai perahu jukung aja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tilep-tilepan pungutan jadi budaya? Apakah karena buat ndaftar jadi pegawai itu biayanya aja gede? Ngomong-ngomong, apa nggak takut nanti sakit perut gara-gara makan dari rejeki yang nggak halal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita bisa tetap jujur sampai mati ya. Males aja kalau mati gara-gara usus busuk lantaran makan nasi dari rejeki haram.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau gitu mestinya kita lewat jalan mana dan pakai kendaraan apa, kok semua-semua kecebur lobang? Ternyata jalan nggak di Bandung dan di Semarang sama aja bobroknya, apa kontraktor yang ngaspalin jalannya sama? Semprul itu kalau banteng aja bisa berendam di lobang itu, lama-lama kita beneran jalan mendingan pakai perahu jukung aja..</p>
<p>Kenapa tilep-tilepan pungutan jadi budaya? Apakah karena buat ndaftar jadi pegawai itu biayanya aja gede? Ngomong-ngomong, apa nggak takut nanti sakit perut gara-gara makan dari rejeki yang nggak halal?</p>
<p>Mudah-mudahan kita bisa tetap jujur sampai mati ya. Males aja kalau mati gara-gara usus busuk lantaran makan nasi dari rejeki haram.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		By: Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman		</title>
		<link>https://vickyfahmi.com/korban-tilep-pajak/#comment-8484</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sri Riyati Sugiarto &#38; Kristina Melani Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 00:53:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vickyfahmi.com/2010/04/03/nestapa-korban-tilep-pajak/#comment-8484</guid>

					<description><![CDATA[Jadi inget jalan ke stasiun tawang/kota lama di Semarang. Hampir aja nabrak motor lain karena motorku oleng masuk lubang. Itu lubang, banteng bisa berendam dengan nyaman. Terus ketutup rob (air laut yang naik ke jalan). Kalo mau ke pelabuhan tanjung mas, sebaiknya lewat Kaligawe, karna jalan lain rob-nya setinggi dengkul. Dan jangan pake motor. Pake perahu layar masih lebih masup akal. Kalo bisa bawa bibit lohan sekalian =p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru calon pegawai. Belom digaji (SK blm turun), udah mulai kerja dan *semoga selamanya* masih jujur. Itu karna aku merasa idup sederhana tanpa nilep udah cukup dan nggak terobsesi punya mobil (karna Semarang kayaknya lebih cocok kalo punya heli). Setahuku pas aku daftar ulang aja biaya periksa kesehatan/urin udah pake ditilep-padahal ama kolega sendiri. Pas aku tanya, &#034;Ya ampun mas masa surat begini aja seratus ribu? Saya kan juga alumni sini,&#034; Jawabnya malah, &#034;Ya nanti kalo sudah jadi pegawai kan Mbaknya juga dapet,&#034; Gimana itu ya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi inget jalan ke stasiun tawang/kota lama di Semarang. Hampir aja nabrak motor lain karena motorku oleng masuk lubang. Itu lubang, banteng bisa berendam dengan nyaman. Terus ketutup rob (air laut yang naik ke jalan). Kalo mau ke pelabuhan tanjung mas, sebaiknya lewat Kaligawe, karna jalan lain rob-nya setinggi dengkul. Dan jangan pake motor. Pake perahu layar masih lebih masup akal. Kalo bisa bawa bibit lohan sekalian =p</p>
<p>Aku baru calon pegawai. Belom digaji (SK blm turun), udah mulai kerja dan *semoga selamanya* masih jujur. Itu karna aku merasa idup sederhana tanpa nilep udah cukup dan nggak terobsesi punya mobil (karna Semarang kayaknya lebih cocok kalo punya heli). Setahuku pas aku daftar ulang aja biaya periksa kesehatan/urin udah pake ditilep-padahal ama kolega sendiri. Pas aku tanya, &quot;Ya ampun mas masa surat begini aja seratus ribu? Saya kan juga alumni sini,&quot; Jawabnya malah, &quot;Ya nanti kalo sudah jadi pegawai kan Mbaknya juga dapet,&quot; Gimana itu ya?</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
