Dampak Pencemaran Udara terhadap Asma dan Penyakit Jantung

pencemaran udara mobil

Keluarga saya senang menyetir jarak jauh. Di dalam keluarga kami, siapa yang kepingin nyetir mobil sendiri wajib paham otomotif. Minimal mengerti cara merawat mobil supaya mobilnya nyaman dipakai nyetir jarak jauh. Paham merawat mobil nggak hanya berupa tahu caranya mengganti ban atau oli mobil. Tapi merawat mobil juga termasuk menjaga mobil supaya tetap bersih ketika dipakai bepergian.

Di keluarga kami, mobil yang bersih bukan cuma berupa jok dan dashboard yang bersih dari remah-remah makanan. Tetapi mobil juga mesti bersih dari debu di udara. Debu ini memang kasat mata (saking kecil ukurannya, yang tidak sampai mencapai 2,5 mikron), tetapi jika terkontaminasi kuman akan bisa tercium terutama kalau menyalakan kipas angin AC di dalam mobil. Sebab, kuman yang nongkrong di dalam debu AC mobil bisa menjadi sumber pencemaran udara di dalam kabin dan akan menyebarkan bau yang tidak enak jika AC dinyalakan. Dalam skala akibat yang lebih berat, pencemaran udara di dalam kabin mobil bisa menimbulkan penyakit asma dan penyakit jantung.

Hah? Separah itu?

Konsep pencemaran udara di dalam kabin mobil memang jarang terdengar, apalagi polusi yang sampai bikin penyakit. Karena memang jarang ada wartawan menulis berita berbunyi, “Seseorang bernama Mawar meninggal terkena penyakit jantung di mobilnya gara-gara polusi,” iya kan? Tapi kalau kita mau merujuk ke peristiwa Brexit pada musim lebaran lalu, ketika banyak orang meninggal di dalam mobil¬†lantaran terlalu lama kemacetan di tol Brebes, mungkin sudah waktunya kita mikir, jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita berkendara. Salah milih rute? Salah milih waktu? Salah milih mobil? Salah merawat mobil?

Baca Selengkapnya