Liburan ke Ubud = Keliling Seluruh Indonesia

Kenapa turis-turis dari luar negeri bisa sampai betah berhari-hari di Bali, terutama di Ubud? Saya rasa, mungkin karena melihat Ubud berasa mirip tinggal di tanah aslinya Indonesia.

Maksud saya, kalau dibandingkan dengan Kuta saja, meskipun sebetulnya sama-sama masih di Bali, tetapi berada di pantai Kuta lebih terasa mirip berada di Hawaii, hang out di Kuta Square serasa lagi nongkrong di Singapore, dan macet di Jalan Legian serasa lagi macet di Jakarta, wkwkwk.. Tapi Ubud? Bangun pagi di Ubud masih mencium hawa yang segar, mungkin karena lokasinya yang masih di daerah persawahan. Adat dan budaya Bali masih dipertahankan oleh kebanyakan penduduk lokalnya, masih banyak penduduk yang mempertahankan bentuk rumah adat Bali-nya yang berupa wantilan-wantilan itu, dan ini yang membuat Ubud menjadi desa Bali kuno yang nampak eksotik bagi turis-turis dari luar negeri.

Wisata di Ubud nggak perlu lama-lama. Menginap dua malam aja sebetulnya udah cukup. Kecuali kalau kita memang fans berat kesenian dan kebudayaan Bali. Soalnya di Ubud, rasanya hampir di tiap gang ada aja penduduk yang menyulap rumahnya jadi tempat jualan lukisan atau patung bikinannya sendiri. Di tiap jalan pasti ada galeri, di tiap kilometer pasti ada museum yang isinya lukisan plus patung melulu. Plus lagi, kehidupan malam untuk acara seni budaya Bali ini jalan terus. Di pura-pura tertentu, saban malam mesti ada show tarian adat Bali, yang digilir mulai dari Barong, Legong, Pendet sampai Kecak. Saya sampai kepo, apa nggak capek ya penarinya tiap malam menari terus?
(Kalau lagi capek, apakah penarinya ngambil cuti? Kalau cuti, apakah penarinya pergi berlibur? Kalau penarinya liburan, liburan ke mana? Mosok liburannya ke Bali??)

Baca Selengkapnya