Berdayakan Tukang Kebun Langganan Kita

Tukang kebun menabung di BTPN
Tukang kebun menabung di BTPN
Tukang kebun merupakan jenis pengusaha juga yang layak untuk diberdayakan.
Gambar diambil dari sini

Anda ingin punya tukang kebun pribadi seperti halnya pembantu rumah tangga di rumah? Sama, saya juga. Zaman sekarang ini, saya lebih sering menemukan keluarga yang punya asisten rumah tangga sebanyak 2-3 orang, tapi menemukan orang yang punya tukang kebun itu susahnya minta ampun.

 

Lha apakah orang nggak butuh tukang kebun untuk rumahnya? Pasti butuh. Rumah-rumah tapak pasti perlu tukang kebun, biarpun cuma punya halaman seuprit yang hanya cukup buat main gundu. Tukang kebun diperlukan untuk memotongi pohon-pohon yang dahannya sudah tumbuh sampai keluar pagar rumah dan daunnya berguguran mengotori jalan. Tukang kebun diperlukan untuk memangkas rumput secara manual dan kita pikir mesin pemotong rumput itu kemahalan. Tukang kebun diperlukan untuk menyabuti gulma yang liar dan kita curiga kalau di antara bebungaan itu bersembunyi seekor ular. Dan lain sebagainya.

 


Tapi tidak semua orang gampang menemukan tukang kebun. Mertua saya, contohnya, cuma sanggup menghonori satpam kompleks untuk jadi tukang kebun dadakan di halaman rumahnya. Sepupu saya, yang luas tanah rumahnya cuma sekitar 96 m2 dan halamannya cuma sedikit, kalang kabut waktu tukang kebun langganannya pulang kampung dan nampaknya nggak balik kota lagi. Tetangga saya, pengusaha yang rada parnoan, selalu punya ritual rutin saban kali mau manggil tukang kebun yang nomornya dia temukan dari googling. Alasannya, takut tukang kebunnya nyolong besi-besi yang ia geletakkan di garasi.

Baca Selengkapnya

CSR Favorit: Air Bersih

  Gegara risetnya Nielsen yang pernah saya tulis di sini, saya jadi iseng mengulik kenapa masyarakat lebih suka isu air bersih untuk jadi sarana amal orang-orang bermodal (baca: sarana buat jadi obyek CSR perusahaan). Air bersih mungkin sudah jadi konsumsi biasa dalam kehidupan kita sehari-hari yang nyaman, tapi ternyata ada saat-saat tertentu ketika air bersih … Baca Selengkapnya

Kegiatan CSR yang Ditunggu Masyarakat

Sewaktu dulu saya masih tinggal bareng orang tua dan menumpang baca koran langganan ayah saya, halaman Kompas yang paling sering saya lewatkan adalah halaman foto-foto seremonial dari perusahaan-perusahaan yang diliput Kompas. Kolomnya itu paling-paling cuma 1/3 halaman, isinya cuma enam foto dari enam perusahaan yang diliput. Kenapa saya lewatkan, karena isi fotonya biasanya begini: “Perusahaan X melakukan peringatan Hari Y dengan kegiatan amal Z”, atau “Perusahaan P memberikan sumbangan kepada korban bencana alam Q”, atau “Dalam rangka K, perusahaan L menyantuni panti asuhan M dengan sumbangan sebesar N.” Saya melihatnya itu bosan banget, kesannya perusahaannya sok pamer, dan bau formalitasnya sangat tajam.

Plus lagi kalau saya iseng-iseng tanya kepada karyawannya, “Itu boss lu kemaren ngapain masuk koran sambil salaman senyum-senyum ke kamera?” Pasti jawabannya, “Nggak tau (dan gw nggak mau tau jugak. Itu si boss tahu nama gw pun enggak.)” Begitulah kalau perusahaannya terlampau besar.

Baca Selengkapnya