Kegiatan CSR yang Ditunggu Masyarakat

Sewaktu dulu saya masih tinggal bareng orang tua dan menumpang baca koran langganan ayah saya, halaman Kompas yang paling sering saya lewatkan adalah halaman foto-foto seremonial dari perusahaan-perusahaan yang diliput Kompas. Kolomnya itu paling-paling cuma 1/3 halaman, isinya cuma enam foto dari enam perusahaan yang diliput. Kenapa saya lewatkan, karena isi fotonya biasanya begini: “Perusahaan X melakukan peringatan Hari Y dengan kegiatan amal Z”, atau “Perusahaan P memberikan sumbangan kepada korban bencana alam Q”, atau “Dalam rangka K, perusahaan L menyantuni panti asuhan M dengan sumbangan sebesar N.” Saya melihatnya itu bosan banget, kesannya perusahaannya sok pamer, dan bau formalitasnya sangat tajam.

Plus lagi kalau saya iseng-iseng tanya kepada karyawannya, “Itu boss lu kemaren ngapain masuk koran sambil salaman senyum-senyum ke kamera?” Pasti jawabannya, “Nggak tau (dan gw nggak mau tau jugak. Itu si boss tahu nama gw pun enggak.)” Begitulah kalau perusahaannya terlampau besar.

Baca Selengkapnya

Pak Boss Kepingin Kamera Profesional

Seorang teman yang kebetulan seorang kameramen senior di sebuah stasiun televisi, jadi pembicara sebuah seminar di sebuah kota di Indonesia. Panitianya kebetulan dari dinas pemerintahan, dan tamu yang diundang juga dari beberapa kantor dinas pemerintah lokal.

Setelah dia mengoceh beberapa saat tentang dasar-dasar membuat dokumentasi video, pada waktu coffee break, seorang peserta tanya bahwa kantornya ingin membeli kamera video. Sang pembicara ini dimintai rekomendasi merk kamera yang terbaik.

Teman saya tanya, kamera videonya mau dipakai untuk apa. Sang pegawai dinas itu tanya untuk shooting-shooting saja kalau ada keperluan. Teman saya tanya lagi, apa yang mau di-shooting? Pegawainya jawab, kalau ada tamu kenegaraan datang, mereka mau shooting. Kalau ada kunjungan kerja ke daerah-daerah, mereka mau shooting. Teman saya nyeringai campur bingung. Kamera untuk shooting Pak Presiden upacara dengan kamera untuk shooting Pak Tani sedang memacul sawah jelas beda jauh.

Baca Selengkapnya

Adu Pamer Kegiatan CSR

Sewaktu saya main ke hutan mangrove di Wonorejo (artikelnya bisa dilihat di sini), saya ketemu beberapa batang pohon bakau dituliskan bahwa pohon-pohon itu ditanam sebagai hasil CSR atas nama bank Anu atau perusahaan Anu. Waktu itu saya bergurau dengan suami saya, ini pasti akal-akalan karyawan perusahaannya, berlagak ngajakin nyalurin dana CSR-nya perusahaan dengan nanam pohon bakau, padahal aslinya karyawannya kepingin piknik bareng sembari dibayarin perusahaan. :-p

Gambar diambil dari sini
Gambar diambil dari sini

Berbahagialah perusahaan-perusahaan yang senang pamer-pamerkan hasil CSR-nya ke media massa, karena ternyata rakyat sangat menyukai perusahaan yang demikian. Saya iseng baca risetnya Nielsen (laporannya bisa diunduh di sini), yang menyurvei penduduk di seluruh dunia tentang bagaimana kesan mereka terhadap perusahaan dari produk atau jasa yang mereka pakai. Ternyata eh ternyata, kalau perusahaannya kedapatan mempunyai tanggung jawab sosial, mereka lebih dicintai oleh para konsumen. 52% responden riset ini bersedia membeli produk/jasa mereka, setidaknya setiap enam bulan sekali.  55% responden malah dengan senang hati mau bayar lebih untuk membeli itu. Ini artinya, kalau saya punya bisnis dan perusahaan saya melakukan CSR, setidaknya separuh penduduk bersedia beli produk saya.

Baca Selengkapnya